Skip to main content

Sunan Daruquthni 3529

سنن الدارقطني 3529: حَدَّثَنِي عُمَرُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ الْقَاسِمِ الْأَصْبَهَانِيُّ , نا مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ رَاشِدٍ , نا مُوسَى بْنُ عَامِرٍ , نا الْوَلِيدُ , قَالَ: قَالَ ابْنُ أَبِي ذِئْبٍ: أَخْبَرَنِي نَافِعٌ , عَنِ ابْنِ عُمَرَ , أَنَّ رَجُلًا زَوَّجَ ابْنَتَهُ بِكْرًا فَكَرِهَتْ ذَلِكَ , فَأَتَتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «فَرَدَّ نكاحها». لَا يُثْبَتُ هَذَا عَنِ ابْنِ أَبِي ذِئْبٍ , عَنْ نَافِعٍ , وَالصَّوَابُ حَدِيثُ ابْنِ أَبِي ذِئْبٍ , عَنْ عُمَرَ بْنِ حُسَيْنٍ وَقَدْ تَقَدَّمَ

Sunan Daruquthni 3529: Umar bin Muhammad bin Qasim Al Ashbahani menceritakan kepadaku, Muhammad bin Ahmad bin Rasyid menceritakan kepada kami, Musa bin Amir menceritakan kepada kami, Al Walid menceritakan kepada kami, dia berkata: Ibnu Abu Adz-Dzfb berkata: nafi‘ mengabarkan kepadaku dari Ibnu Umar bahwa ada seorang yang menikahkan putrinya yang masih gadis tapi putrinya tidak suka. Ia kemudian mendatangi Nabi SAW dan beliau pun menolak pernikahannya. Riwayat ini dianggap tidak terbukti diriwayatkan dari Ibnu Abu Adz-Dzib, dari nafi‘. Yang benar hadis Ibnu Abu Adz-Dzib diriwayatkan dari Umar bin Al Husain, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.

Sunan Daruquthni 3530

سنن الدارقطني 3530: نا الْحُسَيْنُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ , وَإِسْمَاعِيلُ بْنُ الْعَبَّاسِ الْوَرَّاقُ , قَالَا: نا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ زَنْجُوَيْهِ , نا جَعْفَرُ بْنُ عَوْنٍ , نا رَبِيعَةُ بْنُ عُثْمَانَ , عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ يَحْيَى بْنِ حَبَّانَ , عَنْ نَهَارٍ الْعَبْدِيِّ , عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ , أَنَّ رَجُلًا جَاءَ بِابْنَتِهِ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , فَقَالَ: هَذِهِ ابْنَتِي أَبَتْ أَنْ تَزَوَّجَ , فَقَالَ: «أَطِيعِي أَبَاكِ أَتَدْرِينَ مَا حَقَّ الزَّوْجُ عَلَى الزَّوْجَةِ؟ , لَوْ كَانَ بِأَنْفِهِ قُرْحَةٌ تَسِيلُ قَيْحًا وَصَدِيدًا لَحَسَتْهُ مَا أَدَّتْ حَقَّهُ» , فَقَالَتْ: وَالَّذِي بَعَثَكَ لَا نَكَحْتُ , فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَا تُنْكِحُوهُنَّ إِلَّا بِإِذْنِهِنَّ»

Sunan Daruquthni 3530: Al Husain bin Ismail dan Ismail bin Abbas Al Warraq menceritakan kepada kami, mereka berkata: Muhammad bin Malik bin Zanjawaih menceritakan kepada kami, Ja’far bin Aun menceritakan kepada kami, Rabi’ah bin Utsman menceritakan kepada kami dari Muhammad bin Yahya bin Habban, dari Nahar Al Abdi, dari Abu Sa’id Al Khudri, bahwa pernah ada seorang menghadap Rasulullah SAW bersama putrinya melapor, “Ini adalah anakku dan ia enggan menikah.” Rasulullah SAW kemudian berkata kepada anak ini, “Turutilah ayahmu. Tapi, tahukah engkau apa hak suami atas istrinya? Jika suami menderita kudis di hidung yang mengalirkan nanah dan si istri menjilatnya, tetap saja si istri dianggap belum sempurna menunaikan hak suami.” Si gadis itu lalu berkata, “Demi Allah yang mengutus Anda dengan kebenaran, aku tidak mau menikah.” Mendengar itu, Rasulullah SAW bersabda, “Jangan nikahkan mereka (para anak gadis) kecuali dengan izin mereka.”

Sunan Daruquthni 3531

سنن الدارقطني 3531: نا أَبُو طَاهِرٍ الْقَاضِي مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ نا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى بْنِ سُلَيْمَانَ , نا أَبُو طَالِبٍ عَبْدُ الْجَبَّارِ بْنُ عَاصِمٍ , حَدَّثَنِي عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عَمْرٍو , عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ عِقَابٍ , وَأَبِي حَنِيفَةَ , عَنْ سِمَاكِ بْنِ حَرْبٍ , قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى عَلِيٍّ عَلَيْهِ السَّلَامُ , فَقَالَ: امْرَأَةٌ أَنَا وَلِيُّهَا تَزَوَّجَتْ بِغَيْرِ إِذْنِي , فَقَالَ عَلِيُّ عَلَيْهِ السَّلَامُ: «تَنْظُرُ فِيمَا صَنَعَتْ إِذَا كَانَتْ تَزَوَّجَتْ كُفُؤًا أَجَزْنَا ذَلِكَ لَهَا , وَإِنْ كَانَتْ تَزَوَّجَتْ مَنْ لَيْسَ لَهَا بِكُفُؤٍ جَعَلْنَا ذَلِكَ إِلَيْكَ»

Sunan Daruquthni 3531: Abu Thahir Al Qadhi Muhammad bin Ahmad mericeritakan kepada kami, Muhammad bin Yahya bin Sulaiman menceritakan kepada kami, Abu Thalib Abdul Jabbar bin Ashim menceritakan kepada kami, Abdullah bin Amr menceritakan kepadaku, dari Abdul Malik bin Aqqab dan Abu Hanifah, dari Simak bin Harb, dia berkata: Pernah ada seorang pria datang kepada Ali AS, lalu berkata, “Ada seorang wanita dan aku adalah walinya. Ia lalu menikah tanpa izin dariku.” Ali berkata, “Lihat dulu hasilnya, jika ia menikahi pria yang sekufu (sepadan dan sederajat), maka kami akan menetapkan pernikahannya. Tapi jika tidak maka kami akan menyerahkan wewenangnya kepadamu.”

Sunan Daruquthni 3532

سنن الدارقطني 3532: نا مُحَمَّدُ بْنُ مَخْلَدٍ , نا أَبُو أَحْمَدَ عَلِيُّ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْقُوهُسْتَانِيُّ نا إِسْحَاقُ بْنُ رَاهَوَيْهِ , أنا عِيسَى بْنُ يُونُسَ , عَنِ الْأَوْزَاعِيِّ , عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ مُرَّةَ , عَنِ الزُّهْرِيِّ , عَنْ أَبِي سَلَمَةَ , عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ , أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , قَالَ: «لَا تُنْكَحُ الْبِكْرُ حَتَّى تُسْتَأْذَنَ , وَلِلثَّيِّبِ نَصِيبٌ مِنْ أَمْرِهَا مَا لَمْ تَدْعُ إِلَى سَخْطَةٍ , فَإِنْ دَعَتْ إِلَى سَخْطَةٍ وَكَانَ أَوْلِيَاؤُهَا يَدْعُونَ إِلَى الرِّضَا رُفِعَ ذَلِكَ إِلَى السُّلْطَانِ». قَالَ إِسْحَاقُ: قُلْتُ لِعِيسَى: آخِرُ الْحَدِيثِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ , قَالَ: هَكَذَا الْحَدِيثُ فَلَا أَدْرِي

Sunan Daruquthni 3532: Muhammad bin Makhlad menceritakan kepada kami, Abu Ahmad bin Ali bin Ibrahim Al Quhustani menceritakan kepada kami, Ishaq bin Rahawaih menceritakan kepada kami, Isa bin Yunus menceritakan kepada kami dari Al Auza’i dari Ibrahim bin Murrah, dari Az-Zuhri, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Jangan menikahkan gadis sampai ia dimintai izin, dan bagi janda ada bagian mengenai urusannya selama ia tidak memilih keburukan (dalam hal suami – penerj). Bila ia memilih yang buruk dan para walinya memilihkan yang baik, maka itu dilaporkan kepada pihak berwenang.” Ishaq berkata, “Aku bertanya kepada Isa, ‘Apakah kalimat akhir hadis itu dari Nabi SAW?’.” Ia menjawab, “Demikianlah hadis ini diriwayatkan, aku sendiri tidak tahu.”

Sunan Daruquthni 3533

سنن الدارقطني 3533: نا مُحَمَّدُ بْنُ مَخْلَدٍ , نا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ زَيْدٍ الْحَنَفِيُّ , نا عَبْدَانُ , نا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ , نا الْأَوْزَاعِيُّ , أَنَّ يَحْيَى بْنَ أَبِي كَثِيرٍ حَدَّثَهُ , أَنَّ أَبَا سَلَمَةَ حَدَّثَهُ , قَالَ: حَدَّثَنِي أَبُو هُرَيْرَةَ , فَقَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَا تُنْكَحُ الثَّيِّبُ حَتَّى تُسْتَأْمَرَ , وَلَا تُنْكَحُ الْبِكْرُ حَتَّى تُسْتَأْذَنَ وَإِذْنُهَا الصُّمُوتُ»

Sunan Daruquthni 3533: Muhammad bin Makhlad menceritakan kepada kami, Abdullah bin Muhammad bin Zaid Al Hanafi menceritakan kepada kami, Abdan menceritakan kepada kami, Abdullah bin Al Mubarak menceritakan kepada kami, Al Auza’i menceritakan kepada kami, bahwa Yahya bin Abu Katsir menceritakan kepadanya bahwa Abu Salamah menceritakan kepadanya, Abu Hurairah menceritakan kepadaku, Rasulullah SAW bersabda, “Jangan menikahkan janda sampai ia yang menyuruh dirinya sendiri dan jangan menikahkan gadis sampai ia mengizinkan dan izinnya adalah diam.”

Sunan Daruquthni 3534

سنن الدارقطني 3534: نا أَبُو بَكْرٍ النَّيْسَابُورِيُّ , نا أَبُو الْأَزْهَرِ , نا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ بْنِ سَعْدٍ , نا أَبِي , عَنِ ابْنِ إِسْحَاقَ , حَدَّثَنِي صَالِحُ بْنُ كَيْسَانَ , عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْفَضْلِ بْنِ عَيَّاشِ بْنِ أَبِي رَبِيعَةَ , عَنْ نَافِعِ بْنِ جُبَيْرٍ , عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ , أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , قَالَ: «الْأَيِّمُ أَوْلَى بِأَمْرِهَا , وَالْيَتِيمَةُ تَسْتَأْمِرُهَا فِي نَفْسِهَا وَإِذْنُهَا صُمَاتُهَا». تَابَعَهُ سَعِيدُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ صَالِحِ بْنِ كَيْسَانَ. وَخَالَفَهُمَا مَعْمَرٌ فِي إِسْنَادِهِ فَأَسْقَطَ مِنْهُ رَجُلًا , وَخَالَفَهُمَا أَيْضًا فِي مَتْنِهِ فَأَتَى بِلَفْظٍ آخَرَ وَهِمَ فِيهِ لِأَنَّ كُلِّ مَنْ رَوَاهُ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْفَضْلِ , وَكُلِّ مَنْ رَوَاهُ عَنْ نَافِعِ بْنِ جُبَيْرٍ مَعَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْفَضْلِ خَالَفُوا مَعْمَرًا وَاتِّفَاقُهُمْ عَلَى خِلَافِهِ دَلِيلٌ عَلَى وَهْمِهِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Sunan Daruquthni 3534: Abu Bakar An-Naisaburi menceritakan kepada kami, Abu Al Azhar menceritakan kepada kami, Ya’qub bin Ibrahim bin Sa’d menceritakan kepada kami, ayahku menceritakan kepada kami dari Ibnu Ishaq, Shalih bin Kaisan menceritakan kepadaku, dari Abdullah bin Al Fadhl bin Ayyasy bin Abu Rabi’ah, dari Nafi’ bin Jubair, dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Janda lebih berhak mengatur dirinya daripada walinya, dan gadis yatim diminta persetujuan dari dirinya. Persetujuannya adalah diamnya” Riwayat ini diperkuat oleh Sa’id bin Salamah, dari Shalih bin Kaisan. Tapi Ma’mar meriwayatkan berbeda dalam sanadnya, karena ia tidak menyebutkan satu nama. Ia juga meriwayatkan berbeda dalam redaksinya. Maka dari itu, ia meriwayatkan redaksi yang berbeda dari dugaan dirinya semata. Karena semua yang meriwayatkan dari Abdullah bin Al Fadhl dan semua yang meriwayatkan dari Nafi’ bin Jubair bersama Abdullah bin Al Fadhl berbeda dengan Ma’mar. Kesepakatan mereka berbeda dengan Ma’mar menunjukkan bahwa Ma’mar meriwayatkannya berdasarkan dugaan. Wallahu a ‘lam.

Sunan Daruquthni 3535

سنن الدارقطني 3535: نا أَبُو بَكْرٍ النَّيْسَابُورِيُّ , نا أَحْمَدُ بْنُ مَنْصُورٍ , نا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ رَجَاءٍ , ح وَنا الْحُسَيْنُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ , نا شُعَيْبُ بْنُ أَيُّوبَ الصَّرِيفِينِيُّ , وَأَحْمَدُ بْنُ الْهَيْثَمِ بْنِ أَبِي دَاوُدَ الْبَصْرِيُّ , ح وَنا أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ سَعْدَانَ , نا شُعَيْبُ بْنُ أَيُّوبَ , قَالَا: نا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ رَجَاءٍ , نا سَعِيدُ بْنُ سَلَمَةَ بْنِ أَبِي الْحُسَامِ , نا صَالِحُ بْنُ كَيْسَانَ , عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْفَضْلِ , عَنْ نَافِعِ بْنِ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ , قَالَ: سَمِعْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ , يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «الْأَيِّمُ أَحَقُّ بِنَفْسِهَا مِنْ وَلِيِّهَا , وَالْيَتِيمَةُ تُسْتَأْذَنُ فِي نَفْسِهَا وَإِذْنُهَا السُّكُوتُ»

Sunan Daruquthni 3535: Abu Bakar An-Naisaburi menceritakan kepada kami, Ahmad bin Manshur menceritakan kepada kami, Abdullah bin Raja’ menceritakan kepada kami, (h) Al Husain bin Ismail menceritakan kepada kami, Syu’aib bin Ayyub Ash-Sharifmi menceritakan kepada kami, Ahmad bin Haitsam bin Abu Daud Al Bashri menceritakan kepada kami, (h) Ahmad bin Muhammad bin Sa’dan menceritakan kepada kami, Syu’aib bin Ayyub menceritakan kepada kami, keduanya berkata: Abdullah bin Raja’ menceritakan kepada kami, Sa’id bin Salamah bin Abu Al Husam menceritakan kepada kami, Shalih bin Kaisan menceritakan kepada kami dari Abdullah bin Al Fadhl, dari Nafi’ bin Jubair bin Muth’im, dia berkata: Aku mendengar Ibnu Abbas berkata: Rasulullah SAW bersabda, “Janda lebih berhak mengatur dirinya daripada walinya, dan gadis yatim dimintai persetujuan dari dirinya. Persetujuannya adalah diamnya.”

Sunan Daruquthni 3536

سنن الدارقطني 3536: نا الْمَحَامِلِيُّ , وَالنَّيْسَابُورِيُّ , قَالَا: نا أَحْمَدُ بْنُ مَنْصُورٍ , نا عَبْدُ الرَّزَّاقِ , عَنْ مَعْمَرٍ , عَنْ صَالِحِ بْنِ كَيْسَانَ , عَنْ نَافِعِ بْنِ جُبَيْرٍ , عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ , قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَيْسَ لِلْوَلِيِّ مَعَ الثَّيِّبِ أَمْرٌ , وَالْيَتِيمَةُ تُسْتَأْذَنُ وَصَمْتُهَا إِقْرَارُهَا»

Sunan Daruquthni 3536: Al Mahamili dan An-Naisaburi menceritakan kepada kami, keduanya berkata: Ahmad bin Manshur menceritakan kepada kami, Abdurrazzaq menceritakan kepada kami dari Ma’mar, dari Shalih bin Kaisan, dari Nafi’ bin Jubair, dari Ibnu Abbas, dia berkata: Rasulullah SAW bersabda, “Wali tidak punya hak apa-apa bila berhadapan dengan janda, sedangkan gadis yatim dimintai izin, dan diamnya berarti mengizinkan”

Sunan Daruquthni 3521

سنن الدارقطني 3521: نا دَعْلَجُ بْنُ أَحْمَدَ , نا الْخَضِرُ بْنُ دَاوُدَ , نا الْأَثْرَمُ , قَالَ: ذَكَرْتُ لِأَبِي عَبْدِ اللَّهِ حَدِيثَ شُعَيْبِ بْنِ إِسْحَاقَ , عَنِ الْأَوْزَاعِيِّ , عَنْ عَطَاءٍ , عَنْ جَابِرٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , فَقَالَ: حَدَّثَنَاهُ أَبُو الْمُغِيرَةِ , عَنِ الْأَوْزَاعِيِّ , عَنْ عَطَاءٍ مُرْسَلًا , مِثْلَ هَذَا عَنْ جَابِرٍ كَالْمُنْكِرِ أَنْ يَكُونَ

Sunan Daruquthni 3521: Da’laj bin Ahmad menceritakan kepada kami, Al Khadhir bin Daud menceritakan kepada kami, Al Atsram menceritakan kepada kami, dia berkata: Ketika aku menyebutkan hadis Syu’aib bin Ishaq dari Al Auza’i dari Atha‘ dari Jabir, dari Nabi SAW kepada Abu Abdullah, ia berkata, “Hadis itu diriwayatkan kepada kami oleh Abu Al Mughirah, dari Al Auza’i, dari Atha’ secara mursal. Seperti ini biasanya mungkar datangnya dari Jabir.

Sunan Daruquthni 3537

سنن الدارقطني 3537: نا عُثْمَانُ بْنُ أَحْمَدَ الدَّقَّاقُ , نا أَبُو سَعِيدٍ الْهَرَوِيُّ يَحْيَى بْنُ مَنْصُورٍ , نا سُوَيْدُ بْنُ نَصْرٍ , نا ابْنُ الْمُبَارَكِ , عَنْ مَعْمَرٍ , حَدَّثَنِي صَالِحُ بْنُ كَيْسَانَ , عَنْ نَافِعِ بْنِ جُبَيْرٍ , عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ , أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , قَالَ: «لَيْسَ لِلْوَلِيِّ مَعَ الثَّيِّبِ أَمْرٌ , وَالْيَتِيمَةُ تُسْتَأْمَرُ وَصَمْتُهَا رِضَاهَا». كَذَا رَوَاهُ مَعْمَرٌ , عَنْ صَالِحٍ وَالَّذِي قَبْلَهُ أَصَحُّ فِي الْإِسْنَادِ وَالْمَتْنِ , لِأَنَّ صَالِحًا لَمْ يَسْمَعْهُ مِنْ نَافِعِ بْنِ جُبَيْرٍ وَإِنَّمَا سَمِعَهُ مِنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْفَضْلِ عَنْهُ , اتَّفَقَ عَلَى ذَلِكَ ابْنُ إِسْحَاقَ وَسَعِيدُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ صَالِحٍ , سَمِعْتُ النَّيْسَابُورِيَّ , يَقُولُ: الَّذِي عِنْدِي أَنَّ مَعْمَرًا أَخْطَأَ فِيهِ

Sunan Daruquthni 3537: Utsman bin Ahmad Ad-Daqqaq menceritakan kepada kami, Abu Sa’id Al Harawi, Yahya bin Manshur menceritakan kepada kami, Suwaid bin Nashar menceritakan kepada kami, Ibnu Al Mubarak menceritakan kepada kami dari Ma’mar, Shalih bin Kaisan menceritakan kepadaku, dari Nafi’ bin Jubair, dari Ibnu Abbas bahwa Nabi SAW bersabda, “Tidak ada kewenangan bagi wali bila berhadapan dengan janda, sedangkan gadis yatim dimintai perintahnya, dan diamnya berarti menerima.” Demikian riwayat Ma’mar dari Shalih, namun riwayat sebelumnya lebih shahih dari segi sanad dan matan, karena Shalih tidak pernah mendengar langsung dari Nafi’ bin Jubair. Ia biasanya mendengar dari Abdullah bin Al Fadhl dari Nafi’. Ibnu Ishaq dan Sa’id bin Salamah sepakat akan hal itu, dari Shalih. Aku mendengar An-Naisaburi berkata, “Yang aku tahu Ma’mar salah dalam hal ini.”