Skip to main content

Sunan Daruquthni 3822

سنن الدارقطني 3822: نا أَبُو بَكْرٍ الشَّافِعِيُّ , نا مُحَمَّدُ بْنُ شَاذَانَ , نا مُعَلَّى , نا أَبُو بَكْرِ بْنُ عَيَّاشٍ , نا مُغِيرَةُ , حَدَّثَنِي قُثَمٌ مَوْلَى عَبَّاسٍ , قَالَ: «تَزَوَّجَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ جَعْفَرٍ ابْنَةَ عَلِيٍّ , وَامْرَأَةَ عَلِيٍّ النَّهْشَلِيَّةَ»

Sunan Daruquthni 3822: Abu Bakar Asy-Syafi’i menceritakan kepada kami, Muhammad bin Syadzan menceritakan kepada kami, Mu’alla menceritakan kepada kami, Abu Bakar bin Ayyasy menceritakan kepada kami, Mughirah menceritakan kepada kami, Qutsam maula Abbas menceritakan kepadaku, Abdullah bin Ja’far menikahi putri Ali dan istri Ali yang telah tua.”

Sunan Daruquthni 3838

سنن الدارقطني 3838: نا أَبُو بَكْرٍ الشَّافِعِيُّ , نا مُحَمَّدُ بْنُ شَاذَانَ , نا مُعَلَّى بْنُ مَنْصُورٍ , نا أَبُو عَوَانَةَ , عَنِ الشَّيْبَانِيِّ , عَنْ بَحْرِيَّةَ بِنْتِ هَانِئٍ الْأَعْوَرِ أَنَّهُ سَمِعَهَا , تَقُولُ: زَوَجَّهَا أَبُوهَا رَجُلًا وَهُوَ نَصْرَانِيُّ , وَزَوَّجَتْ نَفْسَهَا الْقَعْقَاعَ بْنَ شَوْرٍ فَجَاءَ أَبُوهَا إِلَى عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَأَرْسَلَ إِلَيْهَا وَوَجَدَ الْقَعْقَاعَ قَدْ بَاتَ عِنْدَهَا وَقَدِ اغْتَسَلَ فَجِئَ بِهِ إِلَى عَلِيٍّ وَإِنَّ عَلَيْهِ خَلُوقًا , فَقَالَ أَبُوهَا : فَضَحَتْنِي وَاللَّهِ مَا أَرَدْتُ هَذَا , قَالَ: أَتَرَى بِنَائِي يَكُونُ سِرًّا , فَارْتَفَعُوا إِلَى عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ , فَقَالَ: «دَخَلْتَ بِهَا؟» , قَالَ: «نَعَمْ» فَأَجَازَ نِكَاحَهَا نَفْسَهَا. بَحْرِيَّةُ مَجْهُولَةٌ

Sunan Daruquthni 3838: Abu Bakar Asy-Syafi’i menceritakan kepada kami, Muhammad bin Syadzan menceritakan kepada kami, Mu’alla bin Manshur menceritakan kepada kami, Abu Awanah menceritakan kepada kami dari Asy-Syaibani, dari Bahriyyah binti Hani’ Al A’war, ia mendengarnya berkata, “Ayahnya menikahkannya dengan seorang pria Nashrani, dan ia menikahkan dirinya sendiri dengan Al Qa’qa’ bin Saur. Ayahnya kemudian datang menemui Ali RA. Ia lalu mengutus orang dan mendapati Al Qa’qa’ sempat tidur dengannya dan mandi pula. Ia lantas dibawa menghadap Ali dan ia mendapat cercaan. Ayahnya berbicara, “Kamu telah mencoreng nama baikku, bukan itu yang aku inginkan.” Al Qa’qa’ berkata, “Apa Anda melihat aku tidur bersamanya secara rahasia?!” Mereka pun membawa masalah ini kepada Ali. Ali kemudian bertanya pada Al Qa’qa, “Kamu sudah bercampur dengannya?” Ia menjawabnya, “Sudah.” Maka Ali pun membolehkan pernikahannya. Bahriyyah adalah perawi majhul.

Sunan Daruquthni 3823

سنن الدارقطني 3823: نا أَبُو بَكْرٍ , نا مُحَمَّدٌ , نا مُعَلَّى , نا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ , عَنْ أَيُّوبَ , [ص:497] عَنْ مُحَمَّدٍ , أَنَّ رَجُلًا مِنْ أَهْلِ مِصْرَ كَانَتْ لَهُ صُحْبَةٌ , يُقَالُ لَهُ: جَبَلَةُ «جَمَعَ بَيْنَ امْرَأَةِ رَجُلٍ وَابْنَةٍ مِنْ غَيْرِهَا». قَالَ أَيُّوبُ: وَكَانَ الْحَسَنُ يَكْرَهُهُ

Sunan Daruquthni 3823: Abu Bakar menceritakan kepada kami, Muhammad menceritakan kepada kami, Mu’alla menceritakan kepada kami, Hammad bin Zaid menceritakan kepada kami dari Ayyub, dari Muhammad bahwa ada seorang penduduk Mesir yang sempat menjadi sahabat Nabi SAW yang bernama Jabalah menikah dengan cara memadu seorang wanita dan anak tirinya.” Ayyub berkata, “Al Hasan tidak memakruhkan hal itu.”

Sunan Daruquthni 3839

سنن الدارقطني 3839: نا أَبُو بَكْرٍ الشَّافِعِيُّ , نا مُحَمَّدُ بْنُ شَاذَانَ , نا مُعَلَّى , نا ابْنُ لَهِيعَةَ , عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي جَعْفَرٍ , عَنْ نَافِعٍ , عَنِ ابْنِ عُمَرَ , قَالَ: «إِذَا كَانَ وَلِيُّ الْمَرْأَةِ مُضَارًّا فَوَلَّتْ رَجُلًا فَأَنْكَحَهَا فَنِكَاحُهُ جَائِرٌ»

Sunan Daruquthni 3839: Abu Bakar Asy-Syafi’i menceritakan kepada kami, Muhammad bin Syadzan menceritakan kepada kami, Mu’alla menceritakan kepada kami, Ibnu Lahi’ah menceritakan kepada kami dari Ubaidullah bin Abu Ja’far, dari Nafi’, dari Ibnu Umar, dia berkata, “Jika wali wanita keras kepala, maka ia boleh menyerahkan urusannya kepada orang lain untuk menikahkannya, dan pernikahannya sah.”

Sunan Daruquthni 3824

سنن الدارقطني 3824: نا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ , نا إِسْحَاقُ بْنُ الْحَسَنِ , نا أَبُو حُذَيْفَةَ , نا سُفْيَانُ , عَنْ حَبِيبِ بْنِ أَبِي ثَابِتٍ , عَنْ طَاوُسٍ , عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ , قَالَ: «الْخُلْعُ فُرْقَةٌ وَلَيْسَ بِطَلَاقٍ»

Sunan Daruquthni 3824: Muhammad bin Abdullah bin Ibrahim menceritakan kepada kami, Ishaq bin Al Hasan menceritakan kepada kami, Abu Hudzaifah menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami dan Habib bin Abu Tsabit, dari Thawus, dari Ibnu Abbas, dia berkata, “Khulu, itu perpisahan tapi bukan talak.”

Sunan Daruquthni 3840

سنن الدارقطني 3840: نا مُحَمَّدُ بْنُ مَخْلَدٍ , نا حَمَّادُ بْنُ الْحَسَنِ , نا أَبُو دَاوُدَ , نا شُعْبَةُ , عَنِ الشَّيْبَانِيِّ , قَالَ: كَانَ فِينَا امْرَأَةٌ يُقَالُ لَهَا: بَحْرِيَّةُ زَوَّجَتْهَا أُمُّهَا وَأَبُوهَا غَائِبٌ فَلَمَّا قَدِمَ أَبُوهَا أَنْكَرَ ذَلِكَ فَرُفِعَ ذَلِكَ إِلَى عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ «فَأَجَازَ النِّكَاحَ».

Sunan Daruquthni 3840: Muhammad bin Makhlad menceritakan kepada kami, Hammad bin Hasan menceritakan kepada kami, Abu Daud menceritakan kepada kami, Syu’bah menceritakan kepada kami dari Asy-Syaibani, dia berkata, “Dulu pernah ada di tengahtengah kami seorang wanita yang bernama Bahriyyah. Ia dinikahkan oleh ibunya sedang ayahnya tidak berada di tempat. Ketika ayahnya datang, ia langsung mengingkari hal itu. Ketika masalahnya dibawa kepada Ali bin Abu Thalib, maka ia pun membolehkan pernikahan tersebut.

Sunan Daruquthni 3825

سنن الدارقطني 3825: نا أَبُو بَكْرٍ الشَّافِعِيُّ , نا مُحَمَّدُ بْنُ شَاذَانَ , نا مُعَلَّى بْنُ مَنْصُورٍ , نا أَبُو عَوَانَةَ , عَنْ لَيْثٍ , عَنْ طَاوُسٍ , عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ «أَنَّهُ جَمَعَ بَيْنَ رَجُلٍ وَامْرَأَتِهِ بَعْدَ تَطْلِيقَتَيْنِ وَخُلْعٍ»

Sunan Daruquthni 3825: Abu Bakar Asy-Syafi’i, Muhammad bin Syadzan menceritakan kepada kami, Mu’alla bin Manshur menceritakan kepada kami, Abu Awanah menceritakan kepada kami dari Laits, dari Thawus, dari Ibnu Abbas, bahwa ia menyatukan kembali dalam ikatan pernikahan seorang suami dengan istrinya setelah dua kali talak dan satu kali khulu’.

Sunan Daruquthni 3826

سنن الدارقطني 3826: نا يَحْيَى بْنُ صَاعِدٍ , نا بُنْدَارٌ , نا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ غُنْدَرٌ , نا ابْنُ جُرَيْجٍ , عَنْ عَطَاءٍ , قَالَ: جَاءَتِ امْرَأَةٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَشْكُو زَوْجَهَا , فَقَالَ: «رُدِّي عَلَيْهِ حَدِيقَتَهُ» , قَالَتْ: «نَعَمْ وَزِيَادَةً» , قَالَ: «أَمَّا الزِّيَادَةُ فَلَا» خَالَفَهُ الْوَلِيدُ , عَنِ ابْنِ جُرَيْجِ , أَسْنَدَهُ عَنْ عَطَاءٍ , عَنِ ابْنِ عَبَّاسِ. وَالْمُرْسَلُ أَصَحُّ

Sunan Daruquthni 3826: Yahya bin Sha’id menceritakan kepada kami, Bundar menceritakan kepada kami, Muhammad bin Ja’far, Ghundar menceritakan kepada kami, Ibnu Juraij menceritakan kepada kami dari Atha‘ dia berkata: Pernah ada seorang wanita yang datang kepada Nabi SAW mengadukan suaminya. Beliau kemudian berkata, “Kembalikan kebun yang ia berikan (sebagai mahar).” Ia menjawab, “Ya, bahkan akan aku tambahi.” Beliau berkata, “Yang lebih tidak perlu. Al Walid dalam hal ini meriwayatkan hadis yang berbeda dari Ibnu Juraij. Ia meriwayatkan hadis ini secara musnad kepada Atha‘, dari Ibnu Abbas. Tapi yang lebih shahih adalah mursal.

Sunan Daruquthni 3827

سنن الدارقطني 3827: نا ابْنُ صَاعِدٍ , نا أَبُو عُبَيْدِ اللَّهِ الْمَخْزُومِيُّ , نا سُفْيَانُ , عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ , عَنْ أَبِيهِ , عَنْ جُمْهَانَ مَوْلَى الْأَسْلَمِيِّ , عَنْ أُمِّ بَكْرَةَ الْأَسْلَمِيَّةِ , أَنَّهَا اخْتَلَعَتْ مِنْ زَوْجِهَا فِي زَمَانِ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ , فَقَالَ عُثْمَانُ: «هِيَ تَطْلِيقَةٌ إِلَّا أَنْ يَكُونَا سَمَّيَا شَيْئًا فَهُوَ عَلَى مَا سَمَّيَاهُ»

Sunan Daruquthni 3827: Ibnu Sha’id menceritakan kepada kami, Abu Ubaidullah Al Makhzumi menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami dari Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, dari Jumhan maula Al Aslami, dari Ummu Bakarah Al Aslamiyah bahwa ia pernah meng-khulu’ suaminya pada masa Utsman bin Affan dan Utsman berkata kepadanya, “Ia sama dengan talak, kecuali kalau keduanya (suami istri) mensyaratkan sesuatu, maka harus sesuai dengan yang mereka syaratkan itu.”

Sunan Daruquthni 3828

سنن الدارقطني 3828: ثنا أَحْمَدُ بْنُ الْعَبَّاسِ الْبَغَوِيُّ , نا أَحْمَدُ بْنُ مَنْصُورٍ , نا حَبَّانُ بْنُ هِلَالٍ , نا هَمَّامٌ , عَنْ مَطَرٍ , عَنْ ثَابِتٍ , عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ رَبَاحٍ , [ص:499] أَنَّ عُمَرَ قَالَ فِي الْمُخْتَلِعَةِ: «يَخْتَلِعُ بِمَا دُونَ عِقَاصِ رَأْسِهَا»

Sunan Daruquthni 3828: Ahmad bin Al Abbas Al Baghawi menceritakan kepada kami, Ahmad bin Manshur menceritakan kepada kami, Hibban bin Hilal menceritakan kepada kami, Hammam menceritakan kepada kami dari Mathar, dari Tsabit, dari Abdullah bin Rabah, bahwa Umar pernah berkata tentang wanita yang melakukan khulu’, “Ia boleh melakukan khulu’ lebih murah dari jalinan rambutnya.”