Skip to main content

Sunan Daruquthni 3833

سنن الدارقطني 3833: نا عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عُبَيْدٍ , نا ابْنُ أَبِي خَيْثَمَةَ , نا ابْنُ أَبِي رِزْمَةَ , ح وَنا مُحَمَّدُ بْنُ مَخْلَدٍ , نا الْحُسَيْنُ بْنُ شَدَّادِ بْنِ دَاوُدَ الْمَخْرَمِيُّ , نا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ أَبِي رِزْمَةَ , نا أَبِي , نا الْمُبَارَكُ بْنُ مُجَاهِدٍ , قَالَ: «مَشْهُورٌ عِنْدَنَا كَانَتِ امْرَأَةُ مُحَمَّدِ بْنِ عَجْلَانَ تَحْمِلُ وَتَضَعُ فِي أَرْبَعِ سِنِينَ , وَكَانَتْ تُسَمَّى حَامِلَةَ الْفِيلِ»

Sunan Daruquthni 3833: Ali bin Muhammad bin Ubaid menceritakan kepada kami, Ibnu Abu Khaitsamah menceritakan kepada kami, Ibnu Abu Rizmah menceritakan kepada kami (h) Muhammad bin Makhlad menceritakan kepada kami, Al Husain bin Syaddad bin Daud Al Makhrami menceritakan kepada kami, Muhammad bin Abdul Aziz bin Abu Rizmah menceritakan kepada kami, ayahku menceritakan kepada kami, Al Mubarak bin Mujahid menceritakan kepada kami, ia berkata, “Sudah terkenal di kalangan kami bahwa istri Muhammad bin Ajlan hamil selama empat tahun baru melahirkan. Itu dinamakan hamil gajah.”

Sunan Daruquthni 3834

سنن الدارقطني 3834: نا مُحَمَّدُ بْنُ مَخْلَدٍ , نا أَبُو شُعَيْبٍ صَالِحُ بْنُ عِمْرَانَ الدَّعَّاءُ , حَدَّثَنِي أَحْمَدُ بْنُ غَسَّانَ , نا هِشَامُ بْنُ يَحْيَى الْفَرَّاءُ الْمُجَاشِعِيُّ , قَالَ: بَيْنَمَا مَالِكُ بْنُ دِينَارٍ يَوْمًا جَالِسًا إِذْ جَاءَهُ رَجُلٌ فَقَالَ: يَا أَبَا يَحْيَى ادْعُ لِامْرَأَةٍ حُبْلَى مُنْذُ أَرْبَعِ سِنِينَ قَدْ أَصْبَحَتْ فِي كَرْبٍ شَدِيدٍ فَغَضِبَ مَالِكٌ وَأَطْبَقَ الصُّحُفَ , فَقَالَ: «مَا يَرَى الْقَوْمُ إِلَّا أَنَّا أَنْبِيَاءُ» , ثُمَّ قَرَأَ ثُمَّ دَعَا ثُمَّ قَالَ: «اللَّهُمَّ هَذِهِ الْمَرْأَةُ إِنْ كَانَ فِي بَطْنِهَا رِيحٌ فَأَخْرِجْهُ عَنْهَا السَّاعَةَ وَإِنْ كَانَ فِي بَطْنِهَا جَارِيَةٌ فَأَبْدِلْهَا بِهَا غُلَامًا فَإِنَّكَ تَمْحُو مَا تَشَاءُ [ص:502] وَتُثْبِتُ وَعِنْدَكَ أُمُّ الْكِتَابِ» , ثُمَّ رَفَعَ مَالِكٌ يَدَهُ وَرَفَعَ النَّاسُ أَيْدِيَهُمْ وَجَاءَ الرَّسُولُ إِلَى الرَّجُلِ , فَقَالَ: أَدْرِكِ امْرَأَتَكَ فَذَهَبَ الرَّجُلُ فَمَا حَطَّ مَالِكٌ يَدَهُ حَتَّى طَلَعَ الرَّجُلُ مِنْ بَابِ الْمَسْجِدِ عَلَى رَقَبَتِهِ غُلَامٌ جَعْدٌ قَطَطٌ ابْنُ أَرْبَعِ سِنِينَ قَدِ اسْتَوَتْ أَسْنَانُهُ مَا قُطِعَتْ سُرَارُهُ

Sunan Daruquthni 3834: Muhammad bin Makhlad menceritakan kepada kami, Abu Syu’aib Shalih bin Imran Ad-Da‘i menceritakan kepada kami, Ahmad bin Ghassan menceritakan kepadaku, Hisyam bin Yahya Al Farra’ Al Mujasyi’i menceritakan kepada kami, ia berkata: Ketika Malik bin Dinar sedang duduk-duduk, tiba-tiba ada seorang pria mendatanginya dan berkata, “Ya Abu Yahya, berdoalah untuk seorang wanita yang hamil sejak empat tahun. Aku ini sedang ditimpa kesusahan yang amat sangat.” Mendengar itu, Malik marah lalu menutup mushaf. Ia berkata, “Orang-orang ini seolah menganggap aku nabi.” Ia kemudian membaca (ayat-ayat Al Qur’an) lalu berdoa, “Ya Allah, sekiranya yang ada dalam perut wanita ini adalah angin, maka keluarkanlah saat ini juga. Tapi kalau yang dikandungnya adalah anak perempuan maka jadikanlah ia anak laki-laki, sesungguhnya Engkau yang menghapus dan menetapkan, dan Engkau memiliki Ummul kitab.” Malik lantas mengangkat tangannya demikian pula orang ramai. Seorang utusan datang kepada pria yang mengadu tadi dan berkata, “Temuilah istrimu.” Ia lalu pergi dan belum juga Malik meletakkan tangannya sampai orang itu muncul di pintu masjid. Di lututnya ada seorang anak laki-laki yang berambut ikal agak panjang, sama seperti anak yang sudah berumur empat tahun, dan gigi-giginya juga sudah rata.”

Sunan Daruquthni 3835

سنن الدارقطني 3835: نا الْقَاسِمُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ , نا الْعَبَّاسُ بْنُ مُحَمَّدٍ , نا مُحَمَّدُ بْنُ مُصْعَبٍ , قَالَ: سَمِعْتُ الْأَوْزَاعِيَّ , يَقُولُ: «عِنْدَنَا هَهُنَا امْرَأَةٌ تَحِيضُ غُدْوَةً وَتَطْهُرُ عَشِيَّةً»

Sunan Daruquthni 3835: Al Qasim bin Ismail menceritakan kepada kami, Abbas bin Muhammad menceritakan kepada kami, Muhammad bin Mush’ab menceritakan kepada kami, dia berkata: Aku mendengar Al Auza‘i berkata, “Di sini kami memiliki seorang wanita yang haid pada pagi hari lalu sorenya sudah suci lagi.”

Sunan Daruquthni 3836

سنن الدارقطني 3836: نا عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ الْمِصْرِيُّ , نا إِسْمَاعِيلُ بْنُ مَحْمُودٍ النَّيْسَابُورِيُّ , حَدَّثَنِي عُمَرُ بْنُ الْمُتَوَكِّلِ , حَدَّثَنِي أَحْمَدُ بْنُ مُوسَى الضَّبِّيُّ , [ص:503] حَدَّثَنِي عَبَّادُ بْنُ عَبَّادٍ الْمُهَلَّبِيُّ , قَالَ: «أَدْرَكْتُ فِينَا يَعْنِي الْمَهَالِبَةَ امْرَأَةً صَارَتْ جَدَّةً وَهِيَ بِنْتُ ثَمَانِ عَشْرَةَ سَنَةً , وَلَدَتْ لِتِسْعِ سِنِينَ ابْنَةً، فَوَلَدَتِ ابْنَتُهَا لِتِسْعِ سِنِينَ، فَصَارَتْ هِيَ جَدَّةً وَهِيَ بِنْتُ ثَمَانِ عَشْرَةَ سَنَةً»

Sunan Daruquthni 3836: Ali bin Muhammad Al Mishri menceritakan kepada kami, Ismail bin Mahmud AnNaisaburi menceritakan kepada kami, Umair bin Al Mutawakkil menceritakan kepadaku, Ahmad bin Musa Adh-Dhabbi menceritakan kepadaku, Ibad bin Ibad Al Muhallabi menceritakan kepadaku, ia berkata, “Di kami (orang-orang Mahalabah) aku menemukan seorang wanita yang sudah menjadi nenek, tapi terlihat usianya masih delapan belas tahun. Ia memiliki anak perempuan pada usia 9 tahun, lalu anaknya itu mempunyai anak juga pada usia 9 tahun. Jadilah ia nenek di usianya yang kedelapan belas.”

Sunan Daruquthni 3821

سنن الدارقطني 3821: نا عُمَرُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ عَلِيٍّ الْجَوْهَرِيُّ , نا سَعِيدُ بْنُ مَسْعُودٍ , نا النَّضْرُ بْنُ شُمَيْلٍ , نا شُعْبَةُ , عَنْ سُلَيْمَانَ يَعْنِي الشَّيْبَانِيَّ , وَالْمُغِيرَةِ , وَحُصَيْنٍ , قَالُوا: سَمِعْنَا الشَّعْبِيَّ , قَالَ: قَالَتْ عَائِشَةُ بِنْتُ طَلْحَةَ: إِنْ تَزَوَّجْتُ مُصْعَبَ بْنَ الزُّبَيْرِ فَهُوَ عَلَيَّ كَظَهْرِ أَبِي , فَسَأَلَتْ عَنْ ذَلِكَ «فَأُمِرَتْ أَنْ تُعْتِقَ رَقَبَةً وَتَتَزَوَّجَهُ»

Sunan Daruquthni 3821: Umar bin Ahmad bin Ali Al Jauhari menceritakan kepada kami, Sa’id bin Mas’ud menceritakan kepada kami, An-Nadhar bin Syumail menceritakan kepada kami, Syu’bah menceritakan kepada kami dari Sulaiman —yaitu Asy-Syaibani—, Al Mughirah dan Hushain, mereka berkata: Kami mendengar Asy-Sya’bi berkata, “Aisyah binti Thalhah berkata, ‘Jika aku menikah dengan Mush’ab bin Az-Zubair maka ia akan jadi seperti punggung ayahku (kalimat zhihar).’ Ketika ia bertanya tentang hal itu maka ia disuruh membebaskan seorang budak lalu mengawini Mush’ab.”

Sunan Daruquthni 3837

سنن الدارقطني 3837: نا أَبُو بَكْرٍ الشَّافِعِيُّ , نا مُحَمَّدُ بْنُ شَاذَانَ , نا مُعَلَّى بْنُ مَنْصُورٍ , نا ابْنُ إِدْرِيسَ , عَنِ الشَّيْبَانِيِّ , عَنْ بَحْرِيَّةَ بِنْتِ هَانِئِ بْنِ قَبِيصَةَ , قَالَتْ: زَوَّجْتُ نَفْسِي الْقَعْقَاعَ بْنَ شَوْرٍ وَبَاتَ عِنْدِي لَيْلَةً , وَجَاءَ أَبِي مِنَ الْأَعْرَابِ فَاسْتَعْدَى عَلِيًّا وَجَاءَتْ رُسُلُهُ فَانْطَلَقُوا بِهِ إِلَيْهِ , فَقَالَ: «أَدْخَلَتْ بِهَا؟» , قَالَ: نَعَمْ , فَأَجَازَ النِّكَاحَ

Sunan Daruquthni 3837: Abu Bakar Asy-Syafi’i menceritakan kepada kami, Muhammad bin Syadzan menceritakan kepada kami, Mu’alla bin Manshur menceritakan kepada kami, Ibnu Idris menceritakan kepada kami dari Asy-Syaibani, dari Bahriyyah binti Hani’ bin Qabishah, dia berkata: Aku pernah menikahkan diriku dengan Al Qa’qa’ bin Saur, dan ia pernah tidur denganku satu malam. Ayahku yang datang dari kalangan orang-orang Arab badui minta tolong kepada Ali, lalu datanglah utusan Ali membawa suamiku menghadap. Ali bertanya kepadanya, “Apa engkau sudah menyetubuhinya?” Ia menjawab, “Ya.” Maka Ali pun membolehkan pernikahan itu.

Sunan Daruquthni 3822

سنن الدارقطني 3822: نا أَبُو بَكْرٍ الشَّافِعِيُّ , نا مُحَمَّدُ بْنُ شَاذَانَ , نا مُعَلَّى , نا أَبُو بَكْرِ بْنُ عَيَّاشٍ , نا مُغِيرَةُ , حَدَّثَنِي قُثَمٌ مَوْلَى عَبَّاسٍ , قَالَ: «تَزَوَّجَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ جَعْفَرٍ ابْنَةَ عَلِيٍّ , وَامْرَأَةَ عَلِيٍّ النَّهْشَلِيَّةَ»

Sunan Daruquthni 3822: Abu Bakar Asy-Syafi’i menceritakan kepada kami, Muhammad bin Syadzan menceritakan kepada kami, Mu’alla menceritakan kepada kami, Abu Bakar bin Ayyasy menceritakan kepada kami, Mughirah menceritakan kepada kami, Qutsam maula Abbas menceritakan kepadaku, Abdullah bin Ja’far menikahi putri Ali dan istri Ali yang telah tua.”

Sunan Daruquthni 3838

سنن الدارقطني 3838: نا أَبُو بَكْرٍ الشَّافِعِيُّ , نا مُحَمَّدُ بْنُ شَاذَانَ , نا مُعَلَّى بْنُ مَنْصُورٍ , نا أَبُو عَوَانَةَ , عَنِ الشَّيْبَانِيِّ , عَنْ بَحْرِيَّةَ بِنْتِ هَانِئٍ الْأَعْوَرِ أَنَّهُ سَمِعَهَا , تَقُولُ: زَوَجَّهَا أَبُوهَا رَجُلًا وَهُوَ نَصْرَانِيُّ , وَزَوَّجَتْ نَفْسَهَا الْقَعْقَاعَ بْنَ شَوْرٍ فَجَاءَ أَبُوهَا إِلَى عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَأَرْسَلَ إِلَيْهَا وَوَجَدَ الْقَعْقَاعَ قَدْ بَاتَ عِنْدَهَا وَقَدِ اغْتَسَلَ فَجِئَ بِهِ إِلَى عَلِيٍّ وَإِنَّ عَلَيْهِ خَلُوقًا , فَقَالَ أَبُوهَا : فَضَحَتْنِي وَاللَّهِ مَا أَرَدْتُ هَذَا , قَالَ: أَتَرَى بِنَائِي يَكُونُ سِرًّا , فَارْتَفَعُوا إِلَى عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ , فَقَالَ: «دَخَلْتَ بِهَا؟» , قَالَ: «نَعَمْ» فَأَجَازَ نِكَاحَهَا نَفْسَهَا. بَحْرِيَّةُ مَجْهُولَةٌ

Sunan Daruquthni 3838: Abu Bakar Asy-Syafi’i menceritakan kepada kami, Muhammad bin Syadzan menceritakan kepada kami, Mu’alla bin Manshur menceritakan kepada kami, Abu Awanah menceritakan kepada kami dari Asy-Syaibani, dari Bahriyyah binti Hani’ Al A’war, ia mendengarnya berkata, “Ayahnya menikahkannya dengan seorang pria Nashrani, dan ia menikahkan dirinya sendiri dengan Al Qa’qa’ bin Saur. Ayahnya kemudian datang menemui Ali RA. Ia lalu mengutus orang dan mendapati Al Qa’qa’ sempat tidur dengannya dan mandi pula. Ia lantas dibawa menghadap Ali dan ia mendapat cercaan. Ayahnya berbicara, “Kamu telah mencoreng nama baikku, bukan itu yang aku inginkan.” Al Qa’qa’ berkata, “Apa Anda melihat aku tidur bersamanya secara rahasia?!” Mereka pun membawa masalah ini kepada Ali. Ali kemudian bertanya pada Al Qa’qa, “Kamu sudah bercampur dengannya?” Ia menjawabnya, “Sudah.” Maka Ali pun membolehkan pernikahannya. Bahriyyah adalah perawi majhul.

Sunan Daruquthni 3823

سنن الدارقطني 3823: نا أَبُو بَكْرٍ , نا مُحَمَّدٌ , نا مُعَلَّى , نا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ , عَنْ أَيُّوبَ , [ص:497] عَنْ مُحَمَّدٍ , أَنَّ رَجُلًا مِنْ أَهْلِ مِصْرَ كَانَتْ لَهُ صُحْبَةٌ , يُقَالُ لَهُ: جَبَلَةُ «جَمَعَ بَيْنَ امْرَأَةِ رَجُلٍ وَابْنَةٍ مِنْ غَيْرِهَا». قَالَ أَيُّوبُ: وَكَانَ الْحَسَنُ يَكْرَهُهُ

Sunan Daruquthni 3823: Abu Bakar menceritakan kepada kami, Muhammad menceritakan kepada kami, Mu’alla menceritakan kepada kami, Hammad bin Zaid menceritakan kepada kami dari Ayyub, dari Muhammad bahwa ada seorang penduduk Mesir yang sempat menjadi sahabat Nabi SAW yang bernama Jabalah menikah dengan cara memadu seorang wanita dan anak tirinya.” Ayyub berkata, “Al Hasan tidak memakruhkan hal itu.”

Sunan Daruquthni 3839

سنن الدارقطني 3839: نا أَبُو بَكْرٍ الشَّافِعِيُّ , نا مُحَمَّدُ بْنُ شَاذَانَ , نا مُعَلَّى , نا ابْنُ لَهِيعَةَ , عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي جَعْفَرٍ , عَنْ نَافِعٍ , عَنِ ابْنِ عُمَرَ , قَالَ: «إِذَا كَانَ وَلِيُّ الْمَرْأَةِ مُضَارًّا فَوَلَّتْ رَجُلًا فَأَنْكَحَهَا فَنِكَاحُهُ جَائِرٌ»

Sunan Daruquthni 3839: Abu Bakar Asy-Syafi’i menceritakan kepada kami, Muhammad bin Syadzan menceritakan kepada kami, Mu’alla menceritakan kepada kami, Ibnu Lahi’ah menceritakan kepada kami dari Ubaidullah bin Abu Ja’far, dari Nafi’, dari Ibnu Umar, dia berkata, “Jika wali wanita keras kepala, maka ia boleh menyerahkan urusannya kepada orang lain untuk menikahkannya, dan pernikahannya sah.”