Skip to main content

Sunan Daruquthni 3895

سنن الدارقطني 3895: نا يَحْيَى بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ صَاعِدٍ , نا مُحَمَّدُ بْنُ زُنْبُورٍ الْمَكِّيُّ , نا إِسْمَاعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ , نا ابْنُ أَرْدَكَ , عَنْ عَطَاءِ بْنِ أَبِي رَبَاحٍ , عَنِ ابْنِ مَاهَكَ , عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ , عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , قَالَ: ” ثَلَاثٌ جِدُّهُنَّ جِدٌّ وَهَزْلُهُنَّ جِدٌّ: النِّكَاحُ وَالطَّلَاقُ وَالرَّجْعَةُ “

Sunan Daruquthni 3895: Yahya bin Muhammad bin Sha’id menceritakan kepada kami, Muhammad bin Zunbur Al Makki menceritakan kepada kami, Ismail bin Ja’far menceritakan kepada kami, Ibnu Ardak menceritakan kepada kami dari Atha’ bin Abu Rabah, dari Ibnu Mahak, dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Tiga hal yang keseriusannya adalah serius dan main-mainnya adalah serius, yaitu: talak, nikah dan rujuk.”

Sunan Daruquthni 3896

سنن الدارقطني 3896: نا الْقَاضِي الْمَحَامِلِيُّ , نا أَحْمَدُ بْنُ الْوَلِيدِ , نا إِسْمَاعِيلُ , حَدَّثَنِي سُلَيْمَانُ , عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ حَبِيبِ بْنِ أَرْدَكَ , أَنَّهُ سَمِعَ عَطَاءً , يَقُولُ: أَخْبَرَنِي يُوسُفُ بْنُ مَاهَكَ , أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ , يُحَدِّثُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِثْلَهُ

Sunan Daruquthni 3896: Al Qadhi Al Mahamili menceritakan kepada kami, Ahmad bin Al Walid menceritakan kepada kami, Ismail menceritakan kepada kami, Sulaiman menceritakan kepadaku dari Abdurrahman bin Habib bin Ardak, bahwa ia mendengar Atha‘ berkata: Yusuf bin Mahan mengabarkan kepadaku, bahwa ia mendengar Abu Hurairah menceritakan dari Rasulullah SAW seperti itu.

Sunan Daruquthni 3881

سنن الدارقطني 3881: نا أَبُو بَكْرٍ , نا يُوسُفُ بْنُ سَعِيدٍ , نا حَجَّاجٌ , نا شُعْبَةُ , عَنْ حُمَيْدٍ الْأَعْرَجِ , وَابْنِ أَبِي نَجِيحٍ , عَنْ مُجَاهِدٍ , عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ , أَنَّهُ سُئِلَ عَنْ رَجُلٍ طَلَّقَ امْرَأَتَهُ مِائَةً , قَالَ: «عَصَيْتَ رَبَّكَ وَفَارَقْتَ امْرَأَتَكَ لَمْ تَتَّقِ اللَّهَ فَيُجْعَلْ لَكَ مَخْرَجًا»

Sunan Daruquthni 3881: Abu Bakar menceritakan kepada kami, Yusuf bin Sa’id menceritakan kepada kami, Hajjaj menceritakan kepada kami, Syu’bah menceritakan kepada kami dari Humaid Al A’raj dan Ibnu Abu Najih, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas, bahwa ia pernah ditanya tentang seorang laki-laki yang menalak istrinya dengan talak seratus, maka ia pun menjawab, “Engkau telah bermaksiat terhadap Rabb-mu, dan engkau telah menceraikan istrimu. Engkau tidak bertakwa kepada Allah, bagaimana mungkin Dia memberikan jalan keluar bagimu.”

Sunan Daruquthni 3897

سنن الدارقطني 3897: حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَحْمَدَ الْمَارَسْتَانِيُّ , نا الْقَاسِمُ بْنُ سَعِيدٍ , نا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ قَيْسٍ , نا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ سَعِيدٍ , نا عَمْرُو بْنُ خَالِدٍ , نا زَيْدُ بْنُ عَلِيٍّ , عَنْ آبَائِهِ أَنَّ رَجُلًا أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أُمِّي عَرَضَتْ عَلَيَّ قَرَابَةً لِي أَتَزَوَّجُهَا , فَقُلْتُ: هِيَ طَالِقٌ ثَلَاثًا إِنْ تَزَوَّجْتُهَا , فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «هَلْ كَانَ قَبْلَ ذَلِكَ مِنْ مِلْكٍ؟» , قَالَ: لَا , قَالَ: «لَا بَأْسَ فَتَزَوَّجْهَا»

Sunan Daruquthni 3897: Abdullah bin Ahmad Al Maristani menceritakan kepada kami, Al Qasim bin Sa’id menceritakan kepada kami, Abdurrahman bin Qais menceritakan kepada kami, Abdurrahman bin Sa’id Al Qaisi menceritakan kepada kami, Amr bin Khalid menceritakan kepada kami, Zaid bin Ali menceritakan kepada kami dari para leluhurnya, bahwa seorang laki-laki pernah datang kepada Nabi SAW lalu berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku telah mengajukan seorang wanita kerabatnya untuk aku nikahi, lalu aku berkata, ‘Dia ditalak tiga bila aku menikahinya’.” Nabi SAW berkata, “Apakah sebelumnya ada kepemilikan?” Ia menjawab, “Tidak.” Beliau pun bersabda, ””Tidak apa-apa, nikahilah dia.”

Sunan Daruquthni 3882

سنن الدارقطني 3882: نا دَعْلَجٌ , نا الْحَسَنُ بْنُ سُفْيَانَ , نا حَبَّانُ , نا ابْنُ الْمُبَارَكِ , أنا سَيْفٌ , عَنْ مُجَاهِدٍ , قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ مِنْ قُرَيْشٍ إِلَى ابْنِ عَبَّاسٍ , فَقَالَ: يَا ابْنَ عَبَّاسٍ إِنِّي طَلَّقْتُ امْرَأَتِي ثَلَاثًا وَأَنَا غَضْبَانُ , فَقَالَ: ” إِنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يَحِلَّ لَكَ مَا حُرِّمَ عَلَيْكَ عَصَيْتَ رَبَّكَ وَحُرِّمَتْ عَلَيْكَ امْرَأَتُكَ , إِنَّكَ لَمْ تَتَّقِ اللَّهَ فَيُجْعَلْ لَكَ مَخْرَجًا , ثُمَّ قَرَأَ {إِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ فَطَلِّقُوهُنَّ لِعِدَّتِهِنَّ} [الطلاق: 1] طَاهِرًا مِنْ غَيْرِ جِمَاعٍ “. قَالَ سَيْفٌ: وَلَيْسَ طَاهِرًا مِنْ غَيْرِ جِمَاعٍ فِي التِّلَاوَةِ وَلَكِنَّهُ تَفْسِيرُهُ

Sunan Daruquthni 3882: Da’laj menceritakan kepada kami, Al Hasan bin Sufyan menceritakan kepada kami, Habban menceritakan kepada kami, Ibnu Al Mubarak menceritakan kepada kami, Saif mengabarkan kepada kami dari Mujahid, dia menutuikan, “Seorang laki-laki Quraisy datang kepada Ibnu Abbas lalu berkata, ‘Wahai Ibnu Abbas. Sesungguhnya aku telah menalak istriku tiga kali ketika aku sedang marah.’ Ibnu Abbas berkata, ‘Sesungguhnya Ibnu Abbas tidak dapat menghalalkan bagimu apa yang diharamkan atasmu. Engkau telah bermaksiat terhadap Rabb-mu, dan engkau telah mengharamkan istrimu untuk dirimu. Sesungguhnya engkau tidak bertakwa kepada Allah, lalu bagaimana mungkin Dia membeiimu jalan keluar.’ Selanjutnya Ibnu Abbas membaca, ‘Apabila kamu menceraikan istri-istrimu maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddah (yang wajar), yaitu dalam keadaan suci yang tidak ada persetubuhan (padanya).” Saif berkata: “Redaksi ‘yaitu dalam keadaan suci yang tidak ada persetubuhan (padanya)’ tidak termasuk bacaannya (bukan merupakan ayat), akan tetapi itu merupakan penafsirannya.”

Sunan Daruquthni 3898

سنن الدارقطني 3898: نا أَبُو مُحَمَّدِ بْنُ صَاعِدٍ , نا يَحْيَى بْنُ عَبْدِ الْبَاقِي الْأَذَنِيُّ ح. وَنا عُثْمَانُ بْنُ أَحْمَدَ الدَّقَّاقُ , نا يَحْيَى بْنُ عَبْدِ الْبَاقِي الْأَذَنِيُّ , نا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْقَاسِمِ الصَّنْعَانِيُّ , نا عَمْرُو بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ فَلَاحٍ الصَّنْعَانِيُّ , نا مُحَمَّدُ بْنُ عُيَيْنَةَ , عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْوَلِيدِ الْوَصَّافِيِّ , وَصَدَقَةَ بْنِ أَبِي عِمْرَانَ , عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ , عَنْ أَبِيهِ , عَنْ جَدِّهِ , قَالَ: طَلَّقَ بَعْضُ آبَائِي امْرَأَتَهُ أَلْفًا فَانْطَلَقَ بَنُوهُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أَبَانَا طَلَّقَ أُمَّنَا أَلْفًا فَهَلْ لَهُ مِنْ مَخْرَجٍ؟ , فَقَالَ: «إِنَّ أَبَاكُمْ لَمْ يَتَّقِ اللَّهَ فَيَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ مَخْرَجًا , بَانَتْ مِنْهُ بِثَلَاثٍ عَلَى غَيْرِ السُّنَّةِ , وَتِسْعُمِائَةٌ وَسَبْعَةٌ وَتِسْعُونَ إِثْمٌ فِي عُنُقِهِ». رُوَاتُهُ مَجْهُولُونَ وَضُعَفَاءُ إِلَّا شَيْخُنَا وَابْنُ عَبْدِ الْبَاقِي

Sunan Daruquthni 3898: Abu Muhammad bin Sha’id menceritakan kepada kami, Yahya bin Abdul Baqi Al Adzani menceritakan kepada kami, (h) Dan Utsman bin Ahmad Ad-Daqqaq menceritakan kepada kami, Yahya bin Abdul Baqi Al Adzani menceritakan kepada kami, Muhammad bin Abdullah bin Al Qashim Ash-Shan’ani menceritakan kepada kami, Amr bin Abdullah bin Falah Ash-Shan’ani menceritakan kepada kami, Muhammad bin Uyainah menceritakan kepada kami dari Abdullah bin Al Walid Al Washafi dan Shadaqah bin Abu Imran, dari Ibrahim bin Ubaidullah bin Ubadah bin Ash-Shamit, dari ayahnya, dari kakeknya, dia berkata, “Salah seorang leluhurku menalak istrinya dengan talak seribu, lalu anak-anaknya menemui Rasulullah SAW, mereka berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya ayah kami telah menalak ibu kami dengan seribu talak, apakah ada jalan keluarnya?’ Beliau bersabda, ‘Sesungguhnya ayah kalian itu tidak bertakwa kepada Allah, lalu bagaimana Allah akan memberikan jalan keluar dari masalahnya. Wanita itu telah bain darinya dengan tiga talak yang tidak sesuai sunnah, sedangkan yang sembilan ratus sembilan tujuh adalah dosa di lehernya’.” Para perawinya tidak dikenal dan lemah, kecuali syaikh kami dan Ibnu Abdul Baqi.

Sunan Daruquthni 3883

سنن الدارقطني 3883: قَالَ: نا ابْنُ الْمُبَارَكِ , أنا سُفْيَانُ , عَنْ عَمْرِو بْنِ مُرَّةَ , عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ , قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى ابْنِ عَبَّاسٍ , فَقَالَ: إِنِّي طَلَّقْتُ امْرَأَتِي أَلْفًا , قَالَ: «أَمَّا ثَلَاثٌ فَتُحَرِّمُ عَلَيْكَ امْرَأَتَكَ وَبَقِيَّتُهُنَّ وِزْرٌ اتَّخَذْتَ آيَاتِ اللَّهِ هُزُوًا».

Sunan Daruquthni 3883: Dia berkata: Ibnu Al Mubarak menceritakan kepada kami, Sufyan mengabarkan kepada kami dari Amr bin Murrah, dari Sa’id bin Jubair, dia berkata, “Seorang laki-laki pernah datang kepada Ibnu Umar lalu berkata, ‘Sesungguhnya aku telah menalak istriku dengan seribu talak.’ Ibnu Abbas berkata, ‘Tiga saja telah mengharamkan istrimu bagimu, sedangkan sisanya adalah dosa, (karena) engkau telah mengolok-olok ayat-ayat Allah’.”

Sunan Daruquthni 3899

سنن الدارقطني 3899: نا مُحَمَّدُ بْنُ مَخْلَدٍ , نا أَحْمَدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْحَدَّادُ , نا أَبُو الصَّلْتِ إِسْمَاعِيلُ بْنُ أَبِي أُمَيَّةَ الدَّارِعُ ح. وَنا عَبْدُ الْبَاقِي بْنُ قَانِعٍ , نا عَبْدُ الْوَارِثِ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْعَسْكَرِيُّ , نا إِسْمَاعِيلُ بْنُ أَبِي أُمَيَّةَ , نا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ , نا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ صُهَيْبٍ , عَنْ أَنَسٍ , قَالَ: سَمِعْتُ مُعَاذَ بْنَ جَبَلٍ , قَالَ: قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «يَا مُعَاذُ مَنْ طَلَّقَ فِي بِدْعَةٍ وَاحِدَةٍ أَوِ اثْنَتَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا أَلْزَمْنَاهُ بِدْعَتَهُ». إِسْمَاعِيلُ بْنُ أَبِي أُمَيَّةَ الْقُرَشِيُّ ضَعِيفٌ مَتْرُوكُ الْحَدِيثِ

Sunan Daruquthni 3899: Muhammad bin Makhlad menceritakan kepada kami, Ahmad bin Abdullah Al Haddad menceritakan kepada kami, Abu Ash-Shalt Ismail bin Abu Umayyah Adz-Dzari’ menceritakan kepada kami (h) Abdul Baqi bin Qani’ menceritakan kepada kami, Abdul Warits bin Ibrahim Al Askari menceritakan kepada kami, Ismail bin Abu Umayyah menceritakan kepada kami, Hammad bin Zaid menceritakan kepada kami, Abdul Aziz bin Shuhaib menceritakan kepada kami dari Anas, dia berkata: Aku mendengar Mu’adz bin Jabal berkata, “Rasulullah SAW bersabda kepadaku, “Wahai Mu’adz, barangsiapa menalak satu, dua atau tiga dengan cara bid’ah, maka kami tetapkan bid’ahnya’.” Isma’il bin Abu Umayyah Al Qurasyi adala perawi dha’if, dan hadisnya ditinggalkan.

Sunan Daruquthni 3884

سنن الدارقطني 3884: نا ابْنُ صَاعِدٍ , نا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الدَّوْرَقِيُّ , نا عَبْدُ الرَّحْمَنِ , نا سُفْيَانُ , بِإِسْنَادِهِ مِثْلَهُ

Sunan Daruquthni 3884: Ibnu Sha’id menceritakan kepada kami, Ya’qub bin Ibrahim Ad-Dauraqi menceritakan kepada kami, Abdurrahman menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, dengan isnadnya seperti itu.

Sunan Daruquthni 3900

سنن الدارقطني 3900: نا أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ سَعِيدٍ , نا أَحْمَدُ بْنُ يَحْيَى الصُّوفِيُّ , نا إِسْمَاعِيلُ بْنُ أُمَيَّةَ الْقُرَشِيُّ , نا عُثْمَانُ بْنُ مَطَرٍ , عَنْ عَبْدِ الْغَفُورِ , عَنْ أَبِي هَاشِمٍ , عَنْ زَاذَانَ , عَنْ عَلِيٍّ , قَالَ: سَمِعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا طَلَّقَ الْبَتَّةَ فَغَضِبَ , وَقَالَ: «تَتَّخِذُونَ آيَاتِ اللَّهِ هُزُوًا , أَوْ دِينَ اللَّهِ هُزُوًا وَلَعِبًا , مَنْ طَلَّقَ الْبَتَّةَ أَلْزَمْنَاهُ ثَلَاثًا لَا تَحِلُّ لَهُ حَتَّى تَنْكِحَ زَوْجًا غَيْرَهُ». إِسْمَاعِيلُ بْنُ أَبِي أُمَيَّةَ هَذَا كُوفِيُّ ضَعِيفُ الْحَدِيثِ

Sunan Daruquthni 3900: Ahmad bin Muhammad bin Sa’id menceritakan kepada kami, Ahmad bin Yahya Ash-Shufi menceritakan kepada kami, Ismail bin Abu Umayyah Al Qurasyi menceritakan kepada kami, Utsman bin Mathar menceritakan kepada kami dari Abdul Ghafur, dari Abu Hasyim, dari Zadzan, dari Ali, dia berkata, “Nabi SAW mendengar seorang laki-laki menalak tuntas istrinya, maka beliau pun marah dan berkata, ‘Kalian menjadikan ayatayat Allah sebagai olok-olokan, atau agama Allah sebagai olokan dan permainan. Barangsiapa menalak tiga (istrinya) maka kami tetapkan tiga (talak), wanita itu tidak halal lagi baginya sehingga ia menikah lagi dengan laki-laki lainnya”.” Ismail bin Abu Umayyah ini adalah orang Kufah, yang hadisnya dinilai lemah.