Skip to main content

Sunan Daruquthni 3946

سنن الدارقطني 3946: نا الْحُسَيْنُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ , وَمُحَمَّدُ بْنُ سُلَيْمَانَ النُّعْمَانِيُّ , قَالَا: نا أَبُو عُتْبَةَ أَحْمَدُ بْنُ الْفَرَجِ , نا بَقِيَّةُ بْنُ الْوَلِيدِ , نا أَبُو الْحَجَّاجِ الْمَهْرِيُّ , عَنْ مُوسَى بْنِ أَيُّوبَ الْغَافِقِيِّ , عَنْ عِكْرِمَةَ , عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ , قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَشْكُوا أَنَّ مَوْلَاهُ زَوَّجَهُ وَهُوَ يُرِيدُ أَنْ يُفَرِّقَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ , فَحَمِدَ اللَّهَ تَعَالَى وَأَثْنَى عَلَيْهِ ثُمَّ قَالَ: «مَا بَالُ قَوْمٌ يُزَوِّجُونَ عَبِيدَهُمْ إِمَاءَهُمْ ثُمَّ يُرِيدُونَ أَنْ يُفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ , أَلَا إِنَّمَا يَمْلِكُ الطَّلَاقَ مَنْ أَخَذَ بِالسَّاقِ»

Sunan Daruquthni 3946: Al Husain bin Ismail dan Muhammad bin Sulaiman An-Nu’mani menceritakan kepada kami, keduanya berkata: Abu Utbah Ahmad bin Al Faraj menceritakan kepada kami, Baqiyyah bin Al Walid menceritakan kepada kami, Abu Al Hajjaj Al Mahri menceritakan kepada kami dari Musa bin Ayyub Al Ghafiqi menceritakan kepada kami dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, dia berkata, “Seorang laki-laki datang kepada Nabi SAW melaporkan bahwa majikannya telah menikahkannya, dan (kini) majikannya hendak memisahkannya dari istrinya. Maka beliau memanjatkan puja dan puji kepada Allah Ta’ala, kemudian bersabda, ‘Mengapa orang-orang menikahkan hamba sahaya laki-laki dengan hamba perempuan mereka, kemudian mereka berkeinginan memisahkan mereka. Ketahuilah, sesungguhnya yang memegang talak adalah yang berhak memegang betis (yakni yang menikah)’.”

Sunan Daruquthni 3947

سنن الدارقطني 3947: نا أَبُو بَكْرٍ النَّيْسَابُورِيُّ , نا يُوسُفُ بْنُ سَعِيدٍ , نا مُوسَى بْنُ دَاوُدَ , نا ابْنُ لَهِيعَةَ , عَنْ مُوسَى بْنِ أَيُّوبَ , عَنْ عِكْرِمَةَ أَنَّ مَمْلُوكًا أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ نَحْوَهُ , فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّمَا الطَّلَاقُ لِمَنْ أَخَذَ بِالسَّاقِ» وَلَمْ يَذْكُرِ ابْنَ عَبَّاسٍ

Sunan Daruquthni 3947: Abu, Bakar An-Naisaburi menceritakan kepada kami, Yusuf bin Sa’id menceritakan kepada kami, Musa bin Daud menceritakan kepada kami, Ibnu Lahi’ah menceritakan kepada kami dari Musa bin Ayyub, dari Ikrimah, bahwa pernah seorang hamba sahaya datang kepada Nabi SAW, lalu dikemukakan hal yang serupa, maka Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya talak itu haknya orang yang berhak memegang betis.” tanpa menyebutkan Ibnu Abbas.

Sunan Daruquthni 3948

سنن الدارقطني 3948: نا مُحَمَّدُ بْنُ مَخْلَدٍ , نا إِسْحَاقُ بْنُ دَاوُدَ بْنِ عِيسَى الْمَرْوَزِيُّ , نا خَالِدُ بْنُ عَبْدِ السَّلَامِ الصَّدَفِيُّ , نا الْفَضْلُ بْنُ الْمُخْتَارِ , عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَوْهَبٍ , عَنْ عِصْمَةَ بْنِ مَالِكٍ , قَالَ: جَاءَ مَمْلُوكٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: إِنَّ مَوْلَايَ زَوَّجَنِي وَهُوَ يُرِيدُ أَنْ يُفَرِّقَ بَيْنِي وَبَيْنَ امْرَأَتِي , قَالَ: فَصَعِدَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: «يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّمَا الطَّلَاقُ لِمَنْ أَخَذَ بِالسَّاقِ»

Sunan Daruquthni 3948: Muhammad bin Makhlad menceritakan kepada kami, Ishaq bin Daud bin Isa Al Marwazi menceritakan kepada kami, Khalid bin Abdussalam Ash-Shadafi menceritakan kepada kami, Al Fadhl bin Al Mukhtar menceritakan kepada kami dari Ubaidullah bin Mauhib, dari Ishmah bin Malik, dia berkata, “Seorang hamba sahaya datang kepada Nabi SAW lalu berkata, ‘Sesungguhnya majikanku telah menikahkanku, dan (kini) dia hendak memisahkanku dari istriku.’ Maka Rasulullah SAW naik ke atas mimbar lalu bersabda, ‘Wahai manusia, sesungguhnya talak itu haknya orang yang berhak memegang betis.

Sunan Daruquthni 3949

سنن الدارقطني 3949: نا الْحُسَيْنُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ , نا عَلِيُّ بْنُ شُعَيْبٍ ح وَنا عُثْمَانُ بْنُ جَعْفَرٍ اللَّبَّانُ , نا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ الْأَحْمَسِيُّ , قَالَا: نا عُمَرُ بْنُ شَبِيبٍ الْمُسْلِيُّ , نا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عِيسَى بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى , عَنْ عَطِيَّةَ الْعَوْفِيِّ , عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ , قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «طَلَاقُ الْأَمَةِ اثْنَتَانِ وَعِدَّتُهَا حَيْضَتَانِ».

Sunan Daruquthni 3949: Al Husain bin Ismail menceritakan kepada kami, Ali bin Syu’aib menceritakan kepada kami (h) Dan Utsman bin Ja’far Al-Labban menceritakan kepada kami, Muhammad bin Ismail Al Ahmusi menceritakan kepada kami, keduanya berkata: Umar bin Syabib Al Musli menceritakan kepada kami, Abdullah bin Isa bin Abdurrahman Ibnu Abu Laila menceritakan kepada kami dari ‘Athiyyah Al Aufi, dari Abdullah bin Umar, dia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Talaknya budak perempuan adalah dua, dan iddahnya adalah dua kali haid.”

Sunan Daruquthni 3950

سنن الدارقطني 3950: نا أَبُو بَكْرٍ النَّيْسَابُورِيُّ , نا سَعْدَانُ بْنُ نَصْرٍ , وَأَحْمَدُ بْنُ مَنْصُورٍ , قَالَا: نا عُمَرُ بْنُ شَبِيبٍ بِإِسْنَادِهِ مِثْلَهُ. تَفَرَّدَ بِهِ عُمَرُ بْنُ شَبِيبٍ مَرْفُوعًا وَكَانَ ضَعِيفًا , وَالصَّحِيحُ عَنِ ابْنِ عُمَرَ , مَا رَوَاهُ سَالِمٌ وَنَافِعٌ عَنْهُ مِنْ قَوْلِهِ

Sunan Daruquthni 3950: Abu Bakar An-Naisaburi menceritakan kepada kami, Sa’dan bin Nashr dan Ahmad bin Manshur menceritakan kepada kami, keduanya berkata: Umar bin Syabib menceritakan kepada kami dengan isnadnyadan redaksi yang sama. Umar bin Syabib meriwayatkannya sendirian secara marfu’. Dia juga seorang perawi dha’if. Yang benar dari Ibnu Umar adalah yang diriwayatkan oleh Salim dan Nafi’ darinya dari ucapannya.”

Sunan Daruquthni 3951

سنن الدارقطني 3951: حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ النَّيْسَابُورِيُّ , نا أَحْمَدُ بْنُ مَنْصُورٍ , وَأَحْمَدُ بْنُ يُوسُفَ السُّلَمِيُّ , قَالَا: نا عَبْدُ الرَّزَّاقِ , أنا مَعْمَرٌ , عَنِ الزُّهْرِيِّ , عَنْ سَالِمٍ , أَنَّ ابْنَ عُمَرَ كَانَ يَقُولُ فِي الْعَبْدِ تَكُونُ تَحْتَهُ الْحُرَّةُ , أَوِ الْحُرِّ تَكُونُ تَحْتَهُ الْأَمَةُ , قَالَ: «أَيُّهُمَا رُقَّ نَقَصَ الطَّلَاقُ بَرِقِّهِ , وَالْعُدَّةُ بِالنِّسَاءِ»

Sunan Daruquthni 3951: Abu Bakar An-Naisaburi menceritakan kepada kami, Ahmad bin Manshur dan Ahmad bin Yusuf As-Sulami menceritakan kepada kami, keduanya berkata: Abdurrazzaq menceritakan kepada kami, Ma’mar mengabarkan kepada kami dari AzZuhri, dari Salim, bahwa Ibnu Umar berkata tentang budak laki-laki yang mempunyai istri wanita merdeka atau laki-laki merdeka yang mempunyai istri wanita sahaya, “Budak mana pun yang merdeka, maka talaknya berkurang dengan status kemerdekaannya, sedangkan iddah-nya adalah sesuai dengan status si wanita.”

Sunan Daruquthni 3952

سنن الدارقطني 3952: نا أَبُو بَكْرٍ , نا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ , نا أَبُو صَالِحٍ , نا اللَّيْثُ , حَدَّثَنِي عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ خَالِدٍ , عَنِ ابْنِ شِهَابٍ , عَنْ سَالِمٍ , وَنَافِعٍ , أَنَّ ابْنَ عُمَرَ , كَانَ يَقُولُ: «طَلَاقُ الْعَبْدِ الْحُرَّةَ تَطْلِيقَتَانِ وَعِدَّتُهَا ثَلَاثَةُ قُرُوءٍ , وَطَلَاقُ الْحُرِّ الْأَمَةَ تَطْلِيقَتَانِ وَعِدَّتُهَا عِدَّةُ الْأَمَةِ حَيْضَتَانِ»

Sunan Daruquthni 3952: Abu Bakar menceritakan kepada kami, Muhammad bin Ishaq menceritakan kepada kami, Abu Shalih menceritakan kepada kami, Al-Laits menceritakan kepada kami, Abdurrahman Ibnu Khalid menceritakan kepadaku dari bin Syihab, dari Salim dan Nafi’, bahwa Ibnu Umar berkata, “Talaknya budak laki-laki terhadap istrinya yang merdeka adalah dua talak, dan iddah-nya tiga kali suci. Sedangkan talaknya laki-laki merdeka terhadap istrinya yang sahaya adalah dua talak, dan iddah-nya adalah iddah hamba sahaya, yaitu dua kali haid.”

Sunan Daruquthni 3953

سنن الدارقطني 3953: نا أَبُو بَكْرٍ النَّيْسَابُورِيُّ , نا عَلِيُّ بْنُ الْحَسَنِ بْنِ أَبِي عِيسَى , نا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْوَلِيدِ , نا سُفْيَانُ , ح وَنا أَبُو بَكْرٍ , نا أَحْمَدُ بْنُ مَنْصُورٍ , نا يَزِيدُ بْنُ أَبِي حَكِيمٍ , نا سُفْيَانُ , نا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ , وَإِسْمَاعِيلُ بْنُ أُمَيَّةَ , عَنْ نَافِعٍ , عَنِ ابْنِ عُمَرَ , قَالَ: «إِذَا كَانَتِ الْحُرَّةُ تَحْتَ الْمَمْلُوكِ فَطَلَاقُهَا تَطْلِيقَتَانِ وَعِدَّتُهَا ثَلَاثُ حِيَضٍ , وَإِذَا كَانَتِ الْمَمْلُوكَةُ تَحْتَ الْحُرِّ فَطَلَاقُهَا تَطْلِيقَتَانِ وَالْعُدَّةُ عَلَى النِّسَاءِ»

Sunan Daruquthni 3953: Abu Bakar An-Naisaburi menceritakan kepada kami, Ali bin Al Husain bin Abu Isa menceritakan kepada kami, Abdullah bin Al Walid menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami (h) Dan Abu Bakar menceritakan kepada kami, Ahmad bin Manshur menceritakan kepada kami, Yazid bin Abu Hakim menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, Ubaidullah bin Umar dan Ismail bin Umayyah menceritakan kepada kami dari Nafi’, dari Ibnu Umar, dia berkata, “Bila wanita merdeka diperistri oleh laki-laki sahaya, maka talaknya adalah dua talak dan iddahnya tiga kali haid. Dan bila wanita sahaya diperistri oleh laki-laki merdeka maka talaknya adalah dua talak dan iddah-nya adalah sesuai dengan status wanita.”

Sunan Daruquthni 3954

سنن الدارقطني 3954: نا أَبُو بَكْرٍ , نا الرَّبِيعُ , نا الشَّافِعِيُّ , نا مَالِكٌ , عَنْ نَافِعٍ , عَنِ ابْنِ عُمَرَ , قَالَ: «إِذَا طَلَّقَ الْعَبْدُ امْرَأَتَهُ ثِنْتَيْنِ فَقَدْ حُرِّمَتْ عَلَيْهِ حَتَّى تَنْكِحَ زَوْجًا غَيْرَهُ حُرَّةً كَانَتْ أَوْ أَمَةً , عِدَّةُ الْحُرَّةِ ثَلَاثُ حِيَضٍ , وَعِدَّةُ الْأَمَةِ حَيْضَتَانِ»

Sunan Daruquthni 3954: Abu Bakar menceritakan kepada kami, Ar-Rabi’ menceritakan kepada kami, AsySyafi’i menceritakan kepada kami, Malik menceritakan kepada kami dari Nafi’, dari Ibnu Umar, dia berkata, “(Bila) seorang hamba sahaya laki-laki menjatuhkan talak dua kepada istrinya, maka istrinya itu menjadi haram baginya kecuali setelah menikah dengan suami lainnya, baik wanita itu merdeka maupun hamba sahaya. Iddah-nya wanita merdeka adalah tiga kali haid, sedangkan iddah-nya wanita sahaya adalah dua kali haid.”

Sunan Daruquthni 3955

سنن الدارقطني 3955: نا أَبُو بَكْرٍ , نا أَبُو الْأَزْهَرِ , نا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ نُمَيْرٍ , نا عُبَيْدُ اللَّهِ , عَنْ نَافِعٍ , عَنِ ابْنِ عُمَرَ فِي «الْأَمَةِ تَكُونُ تَحْتَ الْحُرِّ تَبِينُ بِتَطْلِيقَتَيْنِ وَتَعْتَدُّ حَيْضَتَيْنِ , وَإِذَا كَانَتِ الْحُرَّةُ تَحْتَ الْعَبْدِ بَانَتْ بِتَطْلِيقَتَيْنِ وَتَعْتَدُّ ثَلَاثَ حِيَضٍ». وَكَذَلِكَ رَوَاهُ اللَّيْثُ بْنُ سَعْدٍ , وَابْنُ جُرَيْجٍ , وَغَيْرُهُمَا عَنْ نَافِعٍ , عَنِ ابْنِ عُمَرَ مَوْقُوفًا وَهَذَا هُوَ الصَّوَابُ. وَحَدِيثُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عِيسَى , عَنْ عَطِيَّةَ , عَنِ ابْنِ عُمَرَ , عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُنْكَرٌ غَيْرُ ثَابِتٍ مِنْ وَجْهَيْنِ , أَحَدُهُمَا: أَنَّ عَطِيَّةَ ضَعِيفٌ , وَسَالِمٌ وَنَافِعٌ أَثْبَتُ مِنْهُ وَأَصَحُّ رِوَايَةً , وَالْوَجْهُ الْآخَرُ أَنَّ عَمْرَو بْنَ شَبِيبٍ ضَعِيفُ الْحَدِيثِ لَا يُحْتَجُّ بِرِوَايَتِهِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Sunan Daruquthni 3955: Abu Bakar menceritakan kepada kami, Abu Al Azhar menceritakan kepada kami, Abdullah bin Numair menceritakan kepada kami, Ubaidullah menceritakan kepada kami dari Nafi’, dari Ibnu Umar, tentang budak perempuan yang diperistri oleh laki-laki merdeka, “Ia menjadi haram dengan dua talak, dan iddah-nya dua kali haid. Dan bila wanita merdeka diperistri oleh laki-laki sahaya, maka menjadi haram dengan dua talak, dan iddah-nya tiga kali haid.” Demikian juga yang diriwayatkan oleh Al-Laits bin Sa’d, Ibnu Juraij dan yang lainnya dari Nafi’, dari Ibnu Umar secara mauquf, dan inilah yang benar. Sedangkan hadis Abdullah bin Isa dari Athiyyah, dari Ibnu Umar, dari Nabi SAW adalah hadis mungkar dan tidak valid dilihat dari dua segi: Pertama, Athiyyah adalah perawi dha’if, sedangkan Salim dan Nafi’ lebih valid daripadanya dan lebih shahih riwayatnya. Kedua, hadis Umar bin Syabib dha‘if riwayatnya tidak dapat dijadikan argumen. Wallahu a’lam.