Skip to main content

Shahih Ibnu Hibban 1701

صحيح ابن حبان 1701: أَخْبَرَنَا أَبُو يَعْلَى، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي بَكْرٍ الْمُقَدَّمِيُّ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ زُرَيْعٍ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا هِشَامٌ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ‏:‏ إِذَا لَمْ تَجِدُوا إِلاَّ مَرَابِضَ الْغَنَمِ، وَمَعَاطِنَ الإِبِلِ، فَصَلُّوا فِي مَرَابِضِ الْغَنَمِ، وَلاَ تُصَلُّوا فِي أَعْطَانِ الإِبِلِ‏.‏

Shahih Ibnu Hibban 1701: Abu Ya’la telah mengabarkan kepada kami, ia berkata, Muhammad bin Abu Bakr Al Muqaddami telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Yazid bin Zurai’, ia berkata, Hisyam telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Muhammad dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau bersabda, “Jika kalian tidak menemukan (tempat lain) selain kandang kambing dan tempat menderumnya (kandang) unta, maka shalatlah di kandang kambing. Dan janganlah shalat di kandang unta.”748 [35:2]

Shahih Ibnu Hibban 1717

صحيح ابن حبان 1717: أَخْبَرَنَا أَبُو يَعْلَى، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا أَبُو خَيْثَمَةَ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنْ إِسْرَائِيلَ، عَنْ سِمَاكٍ، عَنْ عِكْرِمَةَ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ‏:‏ لَمَّا وُجِّهَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الْكَعْبَةِ قَالُوا‏:‏ كَيْفَ بِمَنْ مَاتَ مِنْ إِخْوَانِنَا وَهُمْ يُصَلُّونَ نَحْوَ بَيْتِ الْمَقْدِسِ‏؟‏ فَأَنْزَلَ اللَّهُ جَلَّ وَعَلاَ‏:‏ ‏{‏وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ‏}‏‏.‏

Shahih Ibnu Hibban 1717: Abu Ya’la telah mengabarkan kepada kami, ia berkata, Abu Khaitsamah telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Waki’ telah menceritakan kepada kami sebuah hadis dari Isra’il dari Simak dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata, Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diperintahkan menghadap ke arah Ka’bah, mereka bertanya, Bagaimana dengan saudara-saudara kita yang telah meninggal dunia, sementara mereka selama ini melaksanakan shalat dengan menghadap ke arah Bait Al Maqdis?’ Maka Allah Jalla wa menurunkan ayat, “Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan iman kalian.”773

Shahih Ibnu Hibban 1702

صحيح ابن حبان 1702: أَخْبَرَنَا الْحَسَنُ بْنُ سُفْيَانَ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ، قَالَ‏:‏ أَخْبَرَنَا يُونُسُ بْنُ عُبَيْدٍ، عَنِ الْحَسَنِ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مُغَفَّلٍ، قَالَ‏:‏ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ‏:‏ صَلُّوا فِي مَرَابِضِ الْغَنَمِ، وَلاَ تُصَلُّوا فِي مَعَاطِنِ الإِبِلِ، فَإِنَّهَا خُلِقَتْ مِنَ الشَّيَاطِينِ‏.‏قَالَ أَبُو حَاتِمٍ‏:‏ قَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّهَا خُلِقَتْ مِنَ الشَّيَاطِينِ أَرَادَ بِهِ أَنَّ مَعَهَا الشَّيَاطِينَ وَهَكَذَا قَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ‏:‏ فَلْيَدْرَأْهُ مَا اسْتَطَاعَ، فَإِنْ أَبَى فَلْيُقَاتِلْهُ، فَإِنَّهُ شَيْطَانٌ ثُمَّ قَالَ فِي خَبَرِ صَدَقَةَ بْنِ يَسَارٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ‏:‏ فَلْيُقَاتِلْهُ، فَإِنَّ مَعَهُ الْقَرِينَ‏.‏

Shahih Ibnu Hibban 1702: Al Hasan bin Sufyan telah mengabarkan kepada kami, ia berkata, Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Husyaim telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Yunus bin Ubaid telah menceritakan kepada kami sebuah hadis dari Al Hasan dari Abdullah bin Mughaffal, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Shalatlah kalian di kandang kambing, tapi janganlah kalian shalat dikandang unta, karena sesungguhnya unta diciptakan dari syetan”749 [35:2] Abu Hatim berkata, “Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam فَإِنَّهَا خُلِقَتْ مِنَ الشَّيَاطِينِ (karena sesungguhnya unta diciptakan dari setan). Maksudnya, adalah unta selalu disertai setan. ”Demikian pula sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam فَلْيَدْرَأْهُ مَا اسْتَطَاعَ، فَإِنْ أَبَى فَلْيُقَاتِلْهُ، فَإِنَّهُ شَيْطَانٌ “Maka Maka hendaknya ia menolaknya sebisa mungkin. Jika ia membangkang, maka hendaknya ia membunuhnya Karena sesungguhnya ia (selalu disertai) setan.” Kemudian beliau bersabda -dalam hadis yang menjelaskan sedekah (zakat) Ibnu Yasar yang diriwayatkan Ibnu Umar-: فَإِنَّ مَعَهُ الْقَرِينَ‏

Shahih Ibnu Hibban 1718

صحيح ابن حبان 1718: أَخْبَرَنَا الْحَسَنُ بْنُ سُفْيَانَ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا حَبَّانُ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ، عَنْ شُعْبَةَ، عَنْ أَبِي عِمْرَانَ الْجَوْنِيِّ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ الصَّامِتِ، عَنْ أَبِي ذَرٍّ، قَالَ‏:‏ أَوْصَانِي خَلِيلِي بِثَلاَثٍ‏:‏ اسْمَعْ وَأَطِعْ وَلَوْ لِعَبْدٍ مُجَدَّعِ الأَطْرَافِ، وَإِذَا صَنَعْتَ مَرَقَةً فَأَكْثِرْ مَاءَهَا، ثُمَّ انْظُرْ إِلَى أَهْلِ بَيْتٍ مِنْ جِيرَانَكَ فَأَصِبْهُمْ مِنْهُ بِمَعْرُوفٍ، وَصَلِّ الصَّلاَةَ لِوَقْتِهَا، فَإِنْ وَجَدْتَ الإِمَامَ قَدْ صَلَّى فَقَدْ أَحْرَزْتَ صَلاَتَكَ، وَإِلاَّ فَهِيَ نَافِلَةٌ‏.‏

Shahih Ibnu Hibban 1718: Al Hasan bin Sufyan telah mengabarkan kepada kami, ia berkata, Hibban telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Abdullah telah mengabarkan kepada kami sebuah hadis dari Syu’bah dari Abu Imran Al Jauni dari Abdullah bin Ash-Shamit dari Abu Dzarr, ia berkata, “Kekasihku (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, -penerj) mewasiatkan kepadaku tiga hal, Dengar dan taatlah kamu, meskipun terhadap seorang hamba sahaya yang anggota tubuhnya terpotong! Jika kamu membuat sayur, maka perbanyak air (kuah) nya. Kemudian lihatlah ke arah tetanggamu. Berikanlah air kuah itu kepada mereka dengan santunan! Dan laksanakanlah shalat pada awal waktunya. Kemudian, jika kamu mendapatkan imam telah melaksanakan shalat, maka berarti kamu telah memelihara shalatmu. Namun jika tidak, berarti shalatmu adalah sunnah.”774 [69:3]

Shahih Ibnu Hibban 1703

صحيح ابن حبان 1703: أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْحَسَنِ بْنِ قُتَيْبَةَ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا حَرْمَلَةُ بْنُ يَحْيَى، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ، قَالَ‏:‏ أَخْبَرَنَا أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ، أَنَّ مُحَمَّدَ بْنَ حَمْزَةَ بْنِ عَمْرٍو الأَسْلَمِيَّ، حَدَّثَهُ أَنَّ أَبَاهُ حَمْزَةَ، قَالَ‏:‏ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ‏:‏ عَلَى ظَهْرِ كُلِّ بَعِيرٍ شَيْطَانٌ، فَإِذَا رَكِبْتُمُوهَا فَسَمُّوا اللَّهَ وَلاَ تَقْصُرُوا عَنْ حَاجَاتِكُمْ‏.‏

Shahih Ibnu Hibban 1703: Muhammad bin Al Hasan bin Qutaibah telah mengabarkan kepada kami, ia berkata, Harmalah bin Yahya telah menceritakan kepada kami ia berkata, Ibnu Wahab telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Usamah bin Zaid telah mengabarkan kepada kami bahwa Muhammad bin Hamzah bin Umar Al Aslami telah menceritakan kepadanya bahwa ayahnya750 , Hamzah, telah menceritakan kepadanya, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Di atas punggung setup unta terdapat setan. Maka apabila menaikinya, bacalah bismillah dan jangan melalaikan kebutuhan-kebutuhan kalian”751 [35:2]

Shahih Ibnu Hibban 1719

صحيح ابن حبان 1719: أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ مُحَمَّدٍ الأَزْدِيُّ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، قَالَ‏:‏ أَخْبَرَنَا مَرْحُومُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ الْقُرَشِيُّ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا أَبُو عِمْرَانَ الْجَوْنِيُّ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ الصَّامِتِ، عَنْ أَبِي ذَرٍّ، قَالَ‏:‏ قَالَ لِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ‏:‏ صَلِّ الصَّلاَةَ لِوَقْتِهَا، فَإِنْ أَتَيْتَ الْقَوْمَ وَقَدْ صَلَّوْا كُنْتَ قَدْ أَحْرَزْتَ صَلاَتَكَ، وَإِنْ لَمْ يَكُونُوا صَلَّوْا صَلَّيْتَ مَعَهُمْ، وَكَانَتْ لَكَ نَافِلَةً‏.‏

Shahih Ibnu Hibban 1719: Abdullah bin Muhammad Al Azdi telah mengabarkan kepada kami, ia berkata, Ishaq bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Marhum bin Abdul Aziz al Qurasyi telah mengabarkan kepada kami, ia berkata, Abu Imran Al Jauni telah menceritakan kepada kami sebuah hadis dari Abdullah bin Ash- Shamit dari Abu Dzarr, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku, “Laksanakanlah shalat pada awal waktunya Kemudian jika kamu datang kepada sekelompok kaum dan mereka telah melaksanakan shalat, maka berarti kamu telah memelihara shalatmu Namun jika mereka belum melaksanakan shalat, maka shalatlah (kembali) bersama mereka. Dan shalat (yang kedua) menjadi shalat sunnah bagimu.”, 775

Shahih Ibnu Hibban 1704

صحيح ابن حبان 1704: أَخْبَرَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ إِدْرِيسَ الأَنْصَارِيُّ، قَالَ‏:‏ أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ أَبِي بَكْرٍ، عَنْ مَالِكٍ، عَنْ أَبِي بَكْرِ بْنِ عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ يَسَارٍ، أَنَّهُ قَالَ‏:‏ كُنْتُ أَسِيرُ مَعَ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ بِطَرِيقِ مَكَّةَ، فَلَمَّا خَشِيتُ الصُّبْحَ نَزَلْتُ فَأَوْتَرْتُ، فَقَالَ‏:‏ أَلَيْسَ لَكَ فِي رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُسْوَةٌ‏؟‏ فَقُلْتُ‏:‏ بَلَى وَاللَّهِ، قَالَ‏:‏ فَإِنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُوتِرُ عَلَى الْبَعِيرِ‏.‏قَالَ أَبُو حَاتِمٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ‏:‏ لَوْ كَانَ الزَّجْرُ عَنِ الصَّلاَةِ فِي أَعْطَانِ الإِبِلِ لأَجَلِ أَنَّهَا خُلِقَتْ مِنَ الشَّيَاطِينِ لَمْ يُصَلِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الْبَعِيرِ، إِذْ مُحَالٌ أَنْ لاَ تَجُوزَ الصَّلاَةُ فِي الْمَوَاضِعِ الَّتِي قَدْ يَكُونُ فِيهَا الشَّيْطَانُ، ثُمَّ تَجُوزُ الصَّلاَةُ عَلَى الشَّيْطَانِ نَفْسِهِ، بَلْ مَعْنَى قَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ‏:‏ إِنَّهَا خُلِقَتْ مِنَ الشَّيَاطِينِ أَرَادَ بِهِ أَنَّ مَعَهَا الشَّيَاطِينُ عَلَى سَبِيلِ الْمُجَاوَرَةِ وَالْقُرْبِ‏.‏

Shahih Ibnu Hibban 1704: Al Husain bin Idris Al Anshari telah mengabarkan kepada kami, ia berkata, Ahmad bin Abu Bakr telah menceritakan kepada kami sebuah hadis dari Malik dari Abu Bakr bin Umar bin Abdurrahman bin Umar bin Al Khaththab dari Sa’id bin Y asar bahwa ia berkata, Aku berjalan bersama Abdullah bin Umar melewati jalan Makkah. Ketika aku khawatir waktu Shubuh (akan tiba), aku pun turun lalu melaksanakan shalat witir. Kemudian ia berkata, Apakah pada diri Rasulullah tidak ada teladan yang baik untukmu?”. Aku menjawab, Demi Allah! Iya.” Ia berkata, “Sungguh, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan shalat witir di atas unta.” 752 [35:2] Abu Hatim RA berkata, Seandainya larangan shalat di kandang unta semata-mata karena unta diciptakan dari setan, niscaya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan melaksanakan shalat di atas unta. Karena mustahil dikatakan, Shalat tidak boleh dilakukan di tempat-tempat yang menjadi hunian setan. Kemudian dikatakan, Shalat boleh dilakukan di atas tubuh setan. Bahkan makna dari sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam إِنَّهَا خُلِقَتْ مِنَ الشَّيَاطِينِ adalah, “Sesungguhnya unta selalu didampingi setan dalam posisi yang sangat dekat dan akrab.”753

Shahih Ibnu Hibban 1720

صحيح ابن حبان 1720: أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ الْفَضْلِ السِّجِسْتَانِيُّ، بِدِمَشْقَ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ الْبُخَارِيُّ، حَدَّثَنَا أَبُو الْمُنْذِرِ إِسْمَاعِيلُ بْنُ عُمَرَ، عَنْ مَالِكٍ، عَنْ أَبِي حَازِمٍ، عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ، قَالَ‏:‏ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ‏:‏ سَاعَتَانِ تُفْتَحُ فِيهِمَا أَبْوَابُ السَّمَاءِ‏:‏ عِنْدَ حُضُورِ الصَّلاَةِ، وَعِنْدَ الصَّفِّ فِي سَبِيلِ اللهِ‏.‏

Shahih Ibnu Hibban 1720: Ahmad bin Muhammad bin Al Fadhl As-Sijistani mengabarkan kepada kami di Damaskus, dia berkata: Muhammad bin Ismail Al Bukhari menceritakan kepada kami, Abu Al Mundzir Ismail bin Umar menceritakan kepada kami dari Malik, dari Abu Hazim, dari Sahi bin Sa’d, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada dua waktu yang di dalamnya pintu-pintu langit terbuka, yaitu ketika masuk waktu shalat dan ketika berada dalam shaf dijalan Allah”1 [3:1]

Shahih Ibnu Hibban 1705

صحيح ابن حبان 1705: أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ السَّامِيُّ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ الْجَعْدِ، قَالَ‏:‏ أَخْبَرَنَا شُعْبَةُ، عَنْ قَتَادَةَ، قَالَ‏:‏ سَمِعْتُ أَبَا الْمَلِيحِ يُحَدِّثُ عَنْ أَبِيهِ، أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ‏:‏ لاَ يَقْبَلُ اللَّهُ صَلاَةً بِغَيْرِ طُهُورٍ، وَلاَ صَدَقَةً مِنْ غُلُولٍ‏.‏

Shahih Ibnu Hibban 1705: Muhammad bin Abdurrahman As-Sami telah mengabarkan kepada kami, ia berkata, Ali bin Al Ja’d telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Syu’bah telah menceritakan kepada kami sebuah hadis dari Qatadah, ia berkata, Aku mendengar Abu Al Malih menceritakan dari ayahnya bahwa ia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah tidak akan menerima shalat (yang dilakukan) tanpa bersuci dan tidak akan menerima sedekah dari hasil korupsi (pengkhianatan).754[1:4]

Shahih Ibnu Hibban 1690

صحيح ابن حبان 1690: أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْحَسَنِ بْنِ قُتَيْبَةَ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا حَرْمَلَةُ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ، قَالَ‏:‏ أَخْبَرَنِي حَيْوَةُ بْنُ شُرَيْحٍ، قَالَ‏:‏ أَخْبَرَنِي كَعْبُ بْنُ عَلْقَمَةَ، أَنَّهُ سَمِعَ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو، أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ‏:‏ إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ، ثُمَّ صَلُّوا عَلَيَّ، فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا، ثُمَّ سَلُوا لِيَ الْوَسِيلَةَ، فَإِنَّهَا مَرْتَبَةٌ فِي الْجَنَّةِ، لاَ تَنْبَغِي إِلاَّ لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللهِ، وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ، فَمَنْ سَأَلَ اللَّهَ لِيَ الْوَسِيلَةَ حَلَّتْ عَلَيْهِ الشَّفَاعَةُ‏.‏

Shahih Ibnu Hibban 1690: Muhammad bin Al Hasan bin Qutaibah telah mengabarkan kepada kami, ia berkata, Harmalah telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Ibnu Wahab telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Haywah bin Syuraih telah menceritakan kepadaku, ia berkata, Ka’ab bin Alqamah telah menceritakan kepadaku bahwa ia mendengar Abdurrahman bin Jubair bin Nufair dari Abdullah bin Amr bahwa ia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila kalian mendengar muadzin, maka ucapkanlah seperti yang diucapkannya, kemudian bershalawatlah kepadaku, karena barangsiapa yang bershalawat sekali kepadaku, maka Allah membalasnya sepuluh kali kepadanya, kemudian mintalah kepada Allah untukku Al Washilah, karena sungguh ia adalah kedudukan yang tinggi di syurga yang tidak patut (diraih) kecuali oleh seorang hamba dan kalangan hamba- hamba Allah. Dan aku berharap akulah orangnya. Maka barangsiapa yang memohon Al Washilah kepada Allah untukku, niscaya ia berhak mendapatkan syafa’at” 736 [2:1]