Skip to main content

Shahih Ibnu Hibban 1686

صحيح ابن حبان 1686: أَخْبَرَنَا أَبُو خَلِيفَةَ، حَدَّثَنَا الْقَعْنَبِيُّ، عَنْ مَالِكٍ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَزِيدَ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ‏:‏ إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ، فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ‏.‏

Shahih Ibnu Hibban 1686: Abu Khalifah telah mengabaikan kepada kami» Al Qa’nabi telah menceritakan kepada kami sebuah hadis dari Malik dari Ibnu Syihab dari Atha bin Yazid dari Abu Sa’id Al Khudri bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila kalian mendengar muadzin (mengumandangkan adzan), maka ucapkanlah seperti apa yang diucapkan muadzin itu. ” 732 [25:1]

Shahih Ibnu Hibban 1687

صحيح ابن حبان 1687: أَخْبَرَنَا ابْنُ خُزَيْمَةَ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا بُنْدَارٌ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ الْقَطَّانُ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَمْرٍو، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنِي أَبِي، عَنْ جَدِّي، قَالَ‏:‏ كُنْتُ عِنْدَ مُعَاوِيَةَ، فَقَالَ الْمُؤَذِّنُ‏:‏ اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، فَقَالَ مُعَاوِيَةُ‏:‏ اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، فَقَالَ‏:‏ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ، فَقَالَ مُعَاوِيَةُ‏:‏ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ، فَقَالَ‏:‏ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، فَقَالَ مُعَاوِيَةُ‏:‏ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، فَقَالَ‏:‏ حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ، فَقَالَ مُعَاوِيَةُ‏:‏ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ، فَقَالَ‏:‏ حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ، فَقَالَ مُعَاوِيَةُ‏:‏ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ، فَقَالَ‏:‏ اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ، فَقَالَ مُعَاوِيَةُ‏:‏ اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ، ثُمَّ قَالَ‏:‏ هَكَذَا كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ‏.‏

Shahih Ibnu Hibban 1687: Ibnu Khuzaimah telah mengabarkan kepada kami, ia berkata, Bundar telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Yahya bin Sa’id Al Qaththan telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Muhammad bin Amr telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Ayahku telah menceritakan kepadaku sebuah hadis dari Kakekku, ia berkata, Pada saat aku bersama Muawiyah, muadzin (mengumandangkan adzan) berkata, Allaahu Akbar (Allah Maha Besar), Allaahu Akbar (Allah Maha Besar), maka Muawiyah berkata, Allaahu Akbar (Allah Maha Besar), Allaahu Akbar (Allah Maha Besar), kemudian Muadzin berkata, Asyhadu An Laa Ilaaha Illallahi (Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah), Muawiyah berkata, Asyhadu An Laa Ilaaha Illallahi (Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah), lalu muadzin berkata, Asyhadu Anna Muhammadan Rasuulullah (Aku Bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah), Muawiyah berkata, Asyhadu Anna Muhammadan Rasuulullah (Aku Bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah), kemudian muadzin berkata, Hayya Ala Ash-Shalaah (marilah kita shalat), dan Muawiyah mengucapkan, Laa Hawla wa Laa Quwwata lila Billaah (Tiada daya dan kekuatan kecuali milik Allah). Kemudian muadzin mengucapkan, Hayya Ala Al Falaah (mari menuju kemenangan), dan Muawiyah mengucapkan, Laa Hawla wa Laa Quwwata Illa Billaah (Tiada daya dan kekuatan kecuali milik Allah). Kemudian muadzin berkata, Allaahu Akbar (Allah Maha Besar), Allaahu Akbar (Allah Maha Besar), Laa Ilaaha Illallahi (tiada Tuhan selain Allah), maka Muawiyah berkata, Allaahu Akbar (Allah Maha Besar), Allaahu Akbar (Allah Maha Besar), Laa Ilaaha Illallahi (tiada Tuhan selain Allah). Lalu Muawiyah berkata, “Seperti inilah yang diucapkan Rasulullah SAW”. 733 [25:1]

Shahih Ibnu Hibban 1688

صحيح ابن حبان 1688: أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَلِيٍّ الصَّيْرَفِيُّ، بِالْبَصْرَةِ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ حَبِيبِ بْنِ عَرَبِيٍّ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ، قَالَ‏:‏ أَخْبَرَنَا مُجَمِّعُ بْنُ يَحْيَى، قَالَ‏:‏ جَلَسْتُ إِلَى أَبِي أُمَامَةَ بْنِ سَهْلٍ، فَجَاءَ الْمُؤَذِّنُ فَقَالَ‏:‏ اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، فَقَالَ أَبُو أُمَامَةَ مِثْلَ ذَلِكَ، فَقَالَ‏:‏ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ، فَقَالَ أَبُو أُمَامَةَ مِثْلَ ذَلِكَ، فَقَالَ‏:‏ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، فَقَالَ أَبُو أُمَامَةَ مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ الْتَفَتَ إِلَيَّ، فَقَالَ‏:‏ هَكَذَا حَدَّثَنِي مُعَاوِيَةُ عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ‏.‏

Shahih Ibnu Hibban 1688: Muhammad bin Ali Ash-Shairafi di kota Bashrah telah mengabarkan kepada kami, ia berkata, Yahya bin Habib bin Arabi telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Yazid bin Hanin telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Mujamma’ bin Yahya telah mengabarkan kepada kami, ia berkata, Aku duduk disamping Abu Umamah bin Sahal,kemudian muadzin datang lalu (mengumandangkan adzan) berkata, Allaahu Akbar (Allah Maha Besar), Allaahu Akbar (Allah Maha Besar), kemudian Abu Umamah berkata seperti ucapan muadzin tersebut. Lalu muadzin berkata, Asyhadu An Laa Ilaaha Ulallahi (Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah), kemudian Abu Umamah berkata seperti ucapan muadzin tersebut. Lalu muadzin berkata, Asyhadu Anna Muhammadan Rasuulullah (Aku Bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah), kemudian Abu Umamah berkata seperti ucapan muadzin tersebut. Kemudian ia menoleh dan memandang kepadaku dan berkata, “Itulah yang diceritakan oleh Muawiyah kepadaku dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” 734 [12:5]

Shahih Ibnu Hibban 1689

صحيح ابن حبان 1689: أَخْبَرَنَا ابْنُ خُزَيْمَةَ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَيَّاشٍ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا شُعَيْبُ بْنُ أَبِي حَمْزَةَ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْكَدِرِ، عَنْ جَابِرٍ، قَالَ‏:‏ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ‏:‏ مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ النِّدَاءَ‏:‏ اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ، وَالصَّلاَةِ الْقَائِمَةِ، آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ، وَابْعَثْهُ الْمَقَامَ الْمَحْمُودَ الَّذِي وَعَدْتَهُ، إِلاَّ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ‏.‏

Shahih Ibnu Hibban 1689: Ibnu Khuzaimah telah mengabarkan kepada kami, ia berkata, Muhammad bin Yahya telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Ali bin Ayyas telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Syu’aib bin Abu Hamzah telah menceritakan kepada kami dari Muhammad bin Ali Al Munkadir, ia berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa berdo’a saat mendengar kumandang adzan, “Ya Allah, Tuhan pemilik seruan yang sempurna ini dan (pemilik) shalat yang hendak didirikan! Berikan kepada Muhammad Al Wasilah dan keutamaan. Bangkitkanlah ia pada maqam (kedudukan) yang Engkau janjikan. ”, maka pastilah ia akan mendapatkan syafa’at pada hari kiamat. “735 [2:1]

Shahih Ibnu Hibban 1690

صحيح ابن حبان 1690: أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْحَسَنِ بْنِ قُتَيْبَةَ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا حَرْمَلَةُ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ، قَالَ‏:‏ أَخْبَرَنِي حَيْوَةُ بْنُ شُرَيْحٍ، قَالَ‏:‏ أَخْبَرَنِي كَعْبُ بْنُ عَلْقَمَةَ، أَنَّهُ سَمِعَ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو، أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ‏:‏ إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ، ثُمَّ صَلُّوا عَلَيَّ، فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا، ثُمَّ سَلُوا لِيَ الْوَسِيلَةَ، فَإِنَّهَا مَرْتَبَةٌ فِي الْجَنَّةِ، لاَ تَنْبَغِي إِلاَّ لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللهِ، وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ، فَمَنْ سَأَلَ اللَّهَ لِيَ الْوَسِيلَةَ حَلَّتْ عَلَيْهِ الشَّفَاعَةُ‏.‏

Shahih Ibnu Hibban 1690: Muhammad bin Al Hasan bin Qutaibah telah mengabarkan kepada kami, ia berkata, Harmalah telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Ibnu Wahab telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Haywah bin Syuraih telah menceritakan kepadaku, ia berkata, Ka’ab bin Alqamah telah menceritakan kepadaku bahwa ia mendengar Abdurrahman bin Jubair bin Nufair dari Abdullah bin Amr bahwa ia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila kalian mendengar muadzin, maka ucapkanlah seperti yang diucapkannya, kemudian bershalawatlah kepadaku, karena barangsiapa yang bershalawat sekali kepadaku, maka Allah membalasnya sepuluh kali kepadanya, kemudian mintalah kepada Allah untukku Al Washilah, karena sungguh ia adalah kedudukan yang tinggi di syurga yang tidak patut (diraih) kecuali oleh seorang hamba dan kalangan hamba- hamba Allah. Dan aku berharap akulah orangnya. Maka barangsiapa yang memohon Al Washilah kepada Allah untukku, niscaya ia berhak mendapatkan syafa’at” 736 [2:1]

Shahih Ibnu Hibban 1691

صحيح ابن حبان 1691: أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ الْمُثَنَّى، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الدَّوْرَقِيُّ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا الْمُقْرِئُ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ أَبِي أَيُّوبَ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا كَعْبُ بْنُ عَلْقَمَةَ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ جُبَيْرٍ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو، قَالَ‏:‏ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ‏:‏ إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا كَمَا يَقُولُ، وَصَلُّوا عَلَيَّ، فَإِنَّهُ لَيْسَ أَحَدٌ يُصَلِّي عَلَيَّ صَلاَةً، إِلاَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا، وَسَلُوا لِيَ الْوَسِيلَةَ، فَإِنَّ الْوَسِيلَةَ مَنْزِلَةٌ فِي الْجَنَّةِ، وَلاَ تَنْبَغِي أَنْ تَكُونَ إِلاَّ لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللهِ، وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ، وَمَنْ سَأَلَهَا لِي، حَلَّتْ لَهُ شَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ‏.‏

Shahih Ibnu Hibban 1691: Ahmad bin Ali bin Al Mutsanna, ia berkata, Ahmad bin Ibrahim Ad-Dauraqi telah mengabaikan kepada kami- ia berkata, Al Muqri telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Sa’id bin Abi Ayydb telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Ka’ab bin Alqamah telah menceritakan kepada, kami dari Abdurrahman bin Jubair dari Abdullah bin Amr, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila kalian mendengar muadzin, maka ucapkanlah seperti yang diucapkannya kemudian bershalawatlah kepadaku, karena tidak ada seorangpun yang bershalawat sekali kepadaku, kecuali Allah akan membalasnya sepuluh kali lipat kepadanya, kemudian mintalah kepada Allah untukku Al Washilah, karena sungguh ia adalah kedudukan yang tinggi di syurga yang tidak patut (diraih) kecuali oleh seorang hamba dan kalangan hamba-hamba Allah Dan aku berharap akulah orangnya. Maka barangsiapa yang memohon Al Washilah kepada Allah untukku, niscaya ia berhak mendapatkan syafa’atku pada hari qiyamat.”737 [2:1]

Shahih Ibnu Hibban 1692

صحيح ابن حبان 1692: أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ مُحَمَّدٍ الأَزْدِيُّ، حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، حَدَّثَنَا الْمُقْرِئُ، حَدَّثَنَا حَيْوَةُ بْنُ شُرَيْحٍ، أَخْبَرَنِي كَعْبُ بْنُ عَلْقَمَةَ، أَنَّهُ سَمِعَ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ، أَنَّهُ سَمِعَ عَبْدَ اللهِ بْنَ عَمْرٍو، أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ‏:‏ إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ، وَصَلُّوا عَلَيَّ، فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا، ثُمَّ سَلُوا لِيَ الْوَسِيلَةَ، فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِي الْجَنَّةِ، لاَ تَنْبَغِي إِلاَّ لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللهِ، وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ، فَمَنْ سَأَلَ اللَّهَ لِيَ الْوَسِيلَةَ، حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ‏.‏

Shahih Ibnu Hibban 1692: Abdullah bin Muhammad Al Azdi telah mengabarkan kepada kami, ia berkata, Ishaq bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami, ia berkata Al-Muqri telah menceritakan kepada kami, ia berkata Haywah bin Syuraih telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Ka’ab bin Alqamah telah mengabarkan kepadaku bahwa ia mendengar Abdurrahman bin Jubair bin Nufair bahwa ia mendengar Abdullah bin Amr bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Apabila kalian mendengar muadzin, maka ucapkanlah seperti yang diucapkannya. kemudian bershalawatlah kepadaku, karena barangsiapa yang bershalawat sekali kepadaku, maka Allah akan membalasnya sepuluh kali lipat kepadanya, kemudian mintalah kepada Allah untukku Al Washilah, karena sungguh ia adalah kedudukan yang tinggi di syurga yang tidak patut (diraih) kecuali oleh seorang hamba dan kalangan hamba-hamba Allah Dan aku berharap akulah orangnya Maka barangsiapa yang memohon Al Washilah kepada Allah untukku, niscaya ia berhak mendapatkan syafa’at”738. [2:1]

Shahih Ibnu Hibban 1693

صحيح ابن حبان 1693: أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ بْنِ الْجُنَيْدِ، بِبُسْتَ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ، حَدَّثَنَا اللَّيْثُ، عَنِ الْحُكَيْمِ بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ قَيْسٍ، عَنْ عَامِرِ بْنِ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ‏:‏ مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ الْمُؤَذِّنَ‏:‏ وَأَنَا أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا، وَبِالإِسْلاَمِ دِينًا، وَبِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَسُولاً، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ‏.‏

Shahih Ibnu Hibban 1693: Muhammad bin Abdullah bin Al Junaid di kota Busta telah mengabarkan kepada kami, ia berkata, Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami, Al Laits telah menceritakan kepada kami sebuah hadis dari Al Hukaim bin Abdullah bin Qais dari Amir bin Sa’ad bin Abu Waqqash dari Ayahnya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa ketika mendengar muadzin ia mengucapkan, Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang pantas disembah kecuali Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu seorang hamba dan Rasul-Nya dan aku (bersaksi) ridha bahwa Allah sebagai Tuhan, Islam adalah agama yang benar dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang Rasul, maka diampuni dosanya yang telah lalu. “739 [2:1]

Shahih Ibnu Hibban 1694

صحيح ابن حبان 1694: أَخْبَرَنَا الْحَسَنُ بْنُ سُفْيَانَ، قَالَ‏:‏ أَخْبَرَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ، عَنِ ابْنِ الْهَادِ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ، عَنْ عَامِرِ بْنِ سَعْدٍ، عَنِ الْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ، أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ‏:‏ ذَاقَ طَعْمَ الإِيمَانِ مَنْ رَضِيَ بِاللَّهِ رَبًّا، وَبِالإِسْلاَمِ دِينًا، وَبِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَبِيًّا‏.‏

Shahih Ibnu Hibban 1694: Al Hasan bin Sufyan telah mengabarkan kepada kami, ia berkata, Qutaibah bin Sa’id telah mengabarkan kepada kami, ia berkata, Al Laits telah menceritakan kepada kami sebuah hadis dari Ibnu Al Had dari Muhammad bin Ibrahim dari Amir bin Sa’ad dari Al Abbas bin Abdul Muthallib bahwa ia telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Manisnya iman (akan dapat dirasakan) bagi orang yang ridha bahwa Allah sebagai Tuhan, Islam adalah agama yang benar dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang Nabi”.740 [2:1]

Shahih Ibnu Hibban 1695

صحيح ابن حبان 1695: أَخْبَرَنَا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ بْنِ إِسْمَاعِيلَ بِبُسْتَ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا أَبُو الطَّاهِرِ بْنِ السَّرْحِ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ، عَنْ حُيَيِّ بْنِ عَبْدِ اللهِ، عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْحُبُلِيِّ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو، أَنَّ رَجُلاً قَالَ‏:‏ يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ الْمُؤَذِّنِينَ يَفْضُلُونَنَا، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ‏:‏ قُلْ كَمَا يَقُولُونَ فَإِذَا انْتَهَيْتَ فَسَلْ تُعْطَهْ‏.

Shahih Ibnu Hibban 1695: Ishaq bin Ibrahim bin Isma’il di Bust telah mengabarkan kepada kami, ia berkata, Abu Ath-Thahir bin As-Sarah telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Ibnu Wahab telah menceritakan kepada kami sebuah hadis dari Huyay bin Abdullah dari Abu Abdurrahman Al Hubuli dari Abdullah bin Amr bahwa seorang laki-laki berkata, Wahai Rasulullah, sungguh para muadzin memiliki keutamaan melebihi kita (yang bukan muadzin). Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Ucapkan seperti yang ia ucapkan, bila telah selesai memohonlah kepada Allah niscaya Dia akan mengabulkan permohonanmu.”741 [1:2]