Skip to main content

Shahih Ibnu Khuzaimah 1731

صحيح ابن خزيمة 1731: نا مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ بْنِ كُرَيْبٍ، نا حُسَيْنٌ يَعْنِي ابْنَ عَلِيٍّ الْجُعْفِيَّ، ثنا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ يَزِيدَ، عَنْ أَبِي الْأَشْعَثِ الصَّنْعَانِيِّ، عَنْ أَوْسِ بْنِ أَوْسٍ قَالَ: قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ , فِيهِ خُلِقَ آدَمُ , وَفِيهِ قُبِضَ , وَفِيهِ النَّفْخَةُ , وَفِيهِ الصَّعْقَةُ , فَأَكْثِرُوا عَلَيَّ مِنَ الصَّلَاةِ فِيهِ , فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ مَعْرُوضَةٌ عَلَيَّ» , قَالُوا: وَكَيْفَ تُعْرَضُ صَلَاتُنَا عَلَيْكَ وَقَدْ أَرِمْتَ؟ فَقَالَ: «إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ حَرَّمَ عَلَى الْأَرْضِ أَنْ تَأْكُلَ أَجْسَادَ الْأَنْبِيَاءِ» ،

Shahih Ibnu Khuzaimah 1731: Muhammad bin Al ‘Ala bin Kuraib memberitakan kepada kami, Husain —yaitu Ibnu Ali Al Ju’fi memberitakan kepada kami, Abdurrahman bin Yazid. Abdurrahman bin Yazid memberitakan kepada kami dari Abu Al Asy’ats Ash-Shan’ani, dari Aus bin Aus yang telah berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Sesungguhnya hari yang paling utama bagimu adalah hari jum’at. Pada hari itu, Nabi Adam diciptakan dan diwafatkan. Dan pada hari itu pula ruhnya ditiupkan serta hari kiamat terjadi. Oleh karena itu, perbanyaklah bershalawat kepadaku pada hari itu. Sesungguhnya shalawat kalian itu akan diperlihatkan kepadaku’.” Kemudian para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana mungkin shalawat kami kepada anda itu akan diperlihatkan, sedangkan anda sendiri telah hancur menjadi abu?” Lalu Rasulullah menjawab, “Ketahuilah, sesungguhnya Allah melarang tanah untuk memakan jasad para Nabi. “

Shahih Ibnu Khuzaimah 1732

صحيح ابن خزيمة 1732: نا مُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ، ثنا حُسَيْنُ بْنُ عَلِيٍّ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ يَزِيدَ بْنِ جَابِرٍ بِهَذَا الْإِسْنَادِ مِثْلَهُ , وَقَالَ: يَعْنُونَ: قَدْ بَلِيتَ

Shahih Ibnu Khuzaimah 1732: Muhammad bin Rafi’ memberitakan kepada kami, Husain bin Ali memberitakan kepada kami, dari Abdurrahman bin Yazid bin Jabir dengan sanad yang sama. Kemudian ia berkata, “Maksud ucapan para sahabat itu adalah bahwa ‘Jasad anda juga akan hancur di dalam tanah’.”

Shahih Ibnu Khuzaimah 1733

صحيح ابن خزيمة 1733: نا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ، نا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ، ثنا شُعْبَةُ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ زِيَادٍ قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ فِي الْجُمُعَةِ لَسَاعَةً لَا يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللَّهَ فِيهَا خَيْرًا إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ»

Shahih Ibnu Khuzaimah 1733: Muhammad bin Basyar memberitakan kepada kami, Muhammad bin Ja’far memberitakan kepada kami, Syu’bah menceritakan kepada kami dari Muhammad bin Ziyad yang telah berkata: “Aku pernah mendengar Abu Hurairah berkata, ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Ketahuilah bahwa sesungguhnya pada hari jum ’at itu ada suatu saat yang mana apabila ada seorang muslim yang memohonkan kebaikan kepada Allah, maka Allah pun akan memberikannya’.”

Shahih Ibnu Khuzaimah 1734

صحيح ابن خزيمة 1734: قَالَ أَبُو بَكْرٍ: فِي خَبَرِ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ ? عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، ح، وَخَبَرِ سَعِيدِ بْنِ الْحَارِثِ: «لَا يُوَافِقُهَا» , قَالَ فِي خَبَرِ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ: «مُؤْمِنٌ وَهُوَ يُصَلِّي , فَيَسْأَلُ اللَّهَ شَيْئًا إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ» وَقَالَ فِي خَبَرِ سَعِيدِ بْنِ الْحَارِثِ: «لَا يُوَافِقُهَا مُسْلِمٌ وَهُوَ فِي صَلَاةٍ يَسْأَلُ اللَّهَ خَيْرًا إِلَّا آتَاهُ إِيَّاهُ»

Shahih Ibnu Khuzaimah 1734: Abu Bakar pernah berkata, “Pada hadis Muhammad bin Ibrahim, dari Abu Salamah, dan dari Abu Hurairah dan pada hadis Said bin Harits disebutkan, ‘laa yuwafiquha’ Abu Bakar juga berkata dalam hadis Muhammad bin Ibrahim, “(yaitu) seorang mukmin yang shalat dan ia memohon sesuatu kepada Allah, maka Allah pasti akan mengabulkannya.” Abu Bakar pun berkata dalam hadis Said bin Harits, “Seorang muslim yang memohon suatu kebaikan kepada Allah, maka Allah pasti akan mengabulkannya.”

Shahih Ibnu Khuzaimah 1735

صحيح ابن خزيمة 1735: نا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الدَّوْرَقِيُّ، وَزِيَادُ بْنُ أَيُّوبَ قَالَا: حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ، أَخْبَرَنَا أَيُّوبُ، ح، وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ، نا عَبْدُ الْوَهَّابِ، نا أَيُّوبُ، عَنْ مُحَمَّدٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ أَبُو الْقَاسِمِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ فِي الْجُمُعَةِ لَسَاعَةً لَا يُوَافِقُهَا مُسْلِمٌ قَائِمٌ يُصَلِّي يَسْأَلُ اللَّهَ فِيهَا خَيْرًا إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ» , وَقَالَ بِيَدِهِ: «يُقَلِّلُهَا وَيُزَهِّدُهَا» . وَقَالَ بُنْدَارٌ: وَقَالَ بِيَدِهِ , قُلْنَا: يُزَهِّدُهَا يُقَلِّلُهَا. لَيْسَ فِي خَبَرِ ابْنِ عُلَيَّةَ «إِيَّاهُ»

Shahih Ibnu Khuzaimah 1735: Ya’kub bin Ibrahim Ad-Dauraqi dan Ziyad bin Ayub memberitakan kepada kami, keduanya berkata, “Ismail menceritakan kepada kami, Ayub memberitakan kepada kami, Ha, Muhammad bin Basyar memberitakan kepada kami, Abdul Wahhab memberitakan kepada kami, Ayub memberitakan kepada kami, dari Muhammad, dari Abu Hurairah yang berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Sesungguhnya pada hari jum’at itu ada suatu saat, apabila ada seorang muslim yang melaksanakan shalat jum’at lalu ia memohon suatu kebaikan kepada Allah, maka Allah pasti akan memberikannya’. “

Shahih Ibnu Khuzaimah 1736

صحيح ابن خزيمة 1736: نا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الدَّوْرَقِيُّ، نا مُحَمَّدُ بْنُ عُبَيْدٍ، نا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ بْنِ الْحَارِثِ التَّيْمِيِّ، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: جِئْتُ الطُّورَ , فَلَقِيتُ هُنَاكَ كَعْبَ الْأَحْبَارِ , فَحَدَّثْتُهُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , وَحَدَّثَ عَنِ التَّوْرَاةِ , فَمَا اخْتَلَفْنَا , حَتَّى مَرَرْتُ بِيَوْمِ الْجُمُعَةِ , قُلْتُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «فِي كُلِّ جُمُعَةٍ سَاعَةٌ لَا يُوَافِقُهَا مُؤْمِنٌ وَهُوَ يُصَلِّي , فَيَسْأَلُ اللَّهَ شَيْئًا إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ» , فَقَالَ كَعْبٌ: بَلْ فِي كُلِّ سَنَةٍ , فَقُلْتُ: مَا كَذَلِكَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَجَعَ فَتَلَا، ثُمَّ قَالَ: صَدَقَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , فِي كُلِّ يَوْمِ جُمُعَةٍ. ثُمَّ ذَكَرَ الْحَدِيثَ بِطُولِهِ مَعَ قِصَّةِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَلَامٍ

Shahih Ibnu Khuzaimah 1736: Ya’kub bin Ibrahim Ad Dauruqi memberitakan kepada kami, Muhammad bin Ubaid memberitakan kepada kami, Muhammad bin Ishak memberitakan kepada kami, dari Muhammad bin Ibrahim bin Harits Al Taimi, dan Abu Salamah bin Abdurrahman, dari Abu Hurairah yang pernah berkata, “aku pernah mengunjungi gunung Sinar Kemudian di sana aku bertemu denguii pendeta Ka’ab. Lalu aku menceritakan kepadanya tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ajaran-ajarannya Setelah itu, pendeta ka’ab pun bercerita kepadaku tentang taurat dan ajaran-ajarannya. Tak lama kemudian, kami berbeda pendapat tentang sesuatu hingga aku sampai pada pembahasan tentang hari jum’at. Aku katakan kepadanya, ‘hai pendeta Ka’ab, ketahuilah bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Setiap hari jum’at ada suatu saat di mana seorang mukmin yang melaksanakan shalat jum’at berdoa dan memohon suatu kebaikan kepada Allah, maka Allah pasti akan mengabulkannya’. lalu ka’ab berkata, ‘tidak. Doa dan permohonannya itu hanya dikabulkan pada setiap tahun saja.’ aku tetap bersikeras seraya berkata kepadanya, ‘tidak. Begitulah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang menyatakan bahwa doa orang mukmin yang melaksanakan shalat jum’at pasti akan dikabulkan pada setiap hari jum’at).’ Akhirnya pendeta Ka’ab ini pulang ke rumahnya. Di sana ia membuka dan membaca kembali kitab sucinya. Setelah itu ia kembali menemuiku dan berkata, ‘benarlah apa yang disabdakan oleh Rasulullah bahwa doa orang mukmin yang melaksanakan shalat akan dikabulkan pada setiap hari jum’at’.” kemudian ia menceritakan hadis itu secara panjang lebar dengan disertai kisah Abdullah bin Salam.

Shahih Ibnu Khuzaimah 1737

صحيح ابن خزيمة 1737: نا أَحْمَدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ وَهْبٍ، نا عَمِّي، أَخْبَرَنِي مَخْرَمَةُ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي بُرْدَةَ بْنِ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ قَالَ: قَالَ لِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ: أَسَمِعْتَ أَبَاكَ يُحَدِّثُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي شَأْنِ سَاعَةِ الْجُمُعَةِ؟ قَالَ: قُلْتُ: نَعَمْ , سَمِعْتُهُ يَقُولُ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «هِيَ مَا بَيْنَ أَنْ يَجْلِسَ الْإِمَامُ عَلَى الْمِنْبَرِ إِلَى أَنْ تُقْضَى الصَّلَاةُ» . نا أَحْمَدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ , نا عَمِّي , حَدَّثَنِي مَيْمُونُ بْنُ يَحْيَى وَهُوَ ابْنُ أَخِي مَخْرَمَةَ , عَنْ مَخْرَمَةَ , عَنْ أَبِيهِ بِهَذَا الْإِسْنَادِ مِثْلِهِ سَوَاءً

Shahih Ibnu Khuzaimah 1737: Ahmad bin Abdurrahman bin Wahab memberitakan kepada kami, pamanku memberitakan kepada kami, Makhramah memberitakan kepada kami, dari bapaknya, dari Abu Burdah bin Abu Musa Al Asy’ari yang telah berkata: Abdullah bin Umar pernah bertanya kepadaku, ‘Hai Abu Burdah, pernahkah kamu mendengar bapakmu menceritakan sebuah hadis yang didengarnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang saat (dikabulkannya doa) di hari jum’at?” aku menjawab: ya. Aku pernah mendengar ayahku berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘(Saat doa yang dikabulkan) itu adalah antara khatib duduk di atas mimbar hingga shalat jum ‘at dilaksanakan’.” Ahmad bin Abdurrahman memberitakan kepada kami, pamanku memberitakan kepada kami, Maimun bin Yahya —yaitu anak saudaraku Makhramah— memberitakan kepada kami, dari Makhramah, dari bapaknya dengan sanad yang sama.

Shahih Ibnu Khuzaimah 1721

صحيح ابن خزيمة 1721: نا مُحَمَّدُ بْنُ مَعْمَرٍ الْقَيْسِيُّ، ثنا أَبُو عَاصِمٍ، عَنْ إِسْحَاقَ بْنِ عُثْمَانَ بِنَحْوِهِ , وَلَمْ يَقُلْ: «لَا تُشْرِكْنَ بِاللَّهِ شَيْئًا»

Shahih Ibnu Khuzaimah 1721: Muhammad bin Ma’mar Al Qaisi memberitakan kepada kami, Abu Ashim menceritakan kepada kami, dari Ishak bin Utsman sama seperti bunyi hadis di atas. Hanya saja ia tidak menyatakan, “Janganlah kalian menyekutukan Allah.”

Shahih Ibnu Khuzaimah 1706

صحيح ابن خزيمة 1706: نا سَلْمُ بْنُ جُنَادَةَ، ثنا وَكِيعٌ، عَنْ مِسْعَرٍ، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ الْقِبْطِيَّةِ، عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ قَالَ: كُنَّا إِذَا صَلَّيْنَا خَلْفَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَشَارَ أَحَدُنَا إِلَى أَخِيهِ بِيَدِهِ , عَنْ يَمِينِهِ , وَعَنْ شِمَالِهِ , فَلَمَّا صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَا بَالُ أَحَدِكُمْ يَفْعَلُ هَذَا كَأَنَّهَا أَذْنَابُ خَيْلٍ شُمُسٍ؟ إِنَّمَا يَكْفِي أَحَدَكُمْ – أَوْ – أَلَا يَكْفِي أَحَدَكُمْ أَنْ يَقُولَ هَكَذَا؟» وَوضَعَ يَدَهُ عَلَى فَخِذِهِ الْيُمْنَى , وَأَشَارَ بِأُصْبُعِهِ , ثُمَّ سَلَّمَ عَلَى أَخِيهِ مَنْ عَنِ يَمِينِهِ , وَمَنْ عَنْ شِمَالِهِ

Shahih Ibnu Khuzaimah 1706: Salm bin Junadah memberitakan kepada kami, Waki’ menceritakan kepada kami, dari Mis’ar, dari Ubaidillah bin Al Qibthiyyah, dari Jabir bin Samrah bahwasanya ia berkata, “Ketika kami shalat di belakang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba salah seorang di antara kami menunjuk kepada temannya yang ada di sebelah kanan dan kiri dengan tangannya. Usai melaksanakan shalat, maka Rasulullah bertanya, Mengapa salah seorang di antara kalian melakukan hal itu (yaitu menunjuk temannya yang berada di sebelah kanan dan kiri dengan tangannya)? Bukankah tindakan itu seperti ekor kuda matahari? Sebenarnya (A) cukup baginya untuk mengucapkan —seraya beliau meletakkan tangan di atas paha kanannya dan menunjuk dengan jari tangannya— ‘as-salamu alaikum wa rahmatullahi wa barakaatu ’ kepada saudaranya yang ada di sebelah kanan dan kirinya.”

Shahih Ibnu Khuzaimah 1707

صحيح ابن خزيمة 1707: أنا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى، ثنا سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ الْهَاشِمِيُّ، أَخْبَرَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدٍ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ: أَخْبَرَنِي مَحْمُودُ بْنُ الرَّبِيعِ الْأَنْصَارِيُّ، أَنَّهُ عَقِلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , وَعَقِلَ مَجَّةً مَجَّهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ دَلْو مِنْ بِئْرٍ كَانَتْ فِي دَارِهِمْ فِي وَجْهِهِ , فَزَعَمَ مَحْمُودٌ أَنَّهُ سَمِعَ عِتْبَانَ بْنَ مَالِكٍ الْأَنْصَارِيُّ , وَكَانَ مِمَّنْ شَهِدَ بَدْرًا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: كُنْتُ أُصَلِّي لِقَوْمِي بَنِي سَالِمٍ , فَكَانَ يَحُولُ بَيْنِي وَبَيْنَهُمْ وَادٍ إِذَا جَاءَتِ الْأَمْطَارُ , قَالَ: فَشَقَّ عَلَيَّ أَنْ أَجْتَازَهُ قِبَلَ مَسْجِدِهِمْ , فَجِئْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , فَقُلْتُ لَهُ: إِنِّي قَدْ أَنْكَرْتُ مِنْ بَصَرِي , وَإِنَّ الْوَادِيَ الَّذِي يَحُولُ بَيْنِي وَبَيْنَ قَوْمِي يَسِيلُ إِذَا جَاءَتِ الْأَمْطَارُ , فَيَشُقُّ عَلَيَّ أَنْ أَجْتَازَهُ , فَوَدِدْتُ أَنَّكَ تَأْتِيَنِي فَتُصَلِّي مِنْ بَيْتِي مُصَلًّى أَتَّخِذُهُ مُصَلًّى , فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «سَأَفْعَلُ» , فَغَدَا عَلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبُو بَكْرٍ بَعْدَ مَا امْتَدَّ النَّهَارُ , فَاسْتَأْذَنَ عَلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَذِنْتُ لَهُ , فَلَمْ يَجْلِسْ حَتَّى قَالَ: «أَيْنَ تُحِبُّ أَنْ أُصَلِّيَ لَكَ فِي بَيْتِكَ؟» , فَأَشَرْتُ لَهُ إِلَى الْمَكَانِ الَّذِي أُحِبُّ أَنْ أُصَلِّيَ فِيهِ , فَقَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَبَّرَ , وَصَفَفْنَا وَرَاءَهُ فَرَكَعَ رَكْعَتَيْنِ , ثُمَّ سَلَّمَ , وَسَلَّمْنَا حِينَ سَلَّمَ

Shahih Ibnu Khuzaimah 1707: Muhammad bin Yahya memberitakan kepada kami, Sulaiman bin Daud Al Hasyimi memberitakan kepada kami, Ibrahim bin Sa’ad memberitakan kepada kami, dari Ibnu Syihab yang telah berkata, “Mahmud bin Rabi Al Anshari telah memberitakan sebuah hadis kepadaku bahwasanya ia telah membasuhkan air ludah yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam semburkan pada wajahnya. Mahmud menduga bahwasanya ia telah mendengar Ataban bin Malik Al Anshari, salah seorang sahabat yang ikut serta dalam perang badar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, berkata, ‘Dulu aku pernah menjadi imam bagi masyarakatku. Bani Salim. Sementara jika turun hujan, maka akan ada lembah yang membatasi antara tempat tinggalku dengan tempat tinggal mereka, hingga sulit bagiku untuk mendatangi masjid mereka. Oleh karena itu, maka aku datang menemui Rasulullah dan berkata kepadanya, ‘Wahai Rasulullah, mataku sekarang mulai berkurang penglihatannya, sedangkan jika hujan turun, maka akan ada lembah yang menghalangi tempat tinggalku dengan tempat tinggal masyarakatku. Tentunya sulit bagiku untuk menyeberangi lembah tersebut agar aku dapat sampai ke masjid mereka. Oleh karena itu, aku berharap agar anda sudi datang ke tempat kediamanku dan melaksanakan shalat di sana.’ Mendengar permintaanku itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akhirnya menjawab, ‘Baiklah’. Esok harinya, Rasulullah dan Abu Bakar tiba di rumahku di siang hari. Lalu Rasulullah mengetuk pintu rumahku dan aku pun membukakan untuknya. Sebelum duduk di tempat yang disiapkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, ‘Hai Atban, di manakah tempat dudukku?’ maka aku pun menunjukkan kepadanya sebuah tempat untuk beliau shalat. Kemudian Rasulullah berdiri untuk shalat dan mulai mengucapkan takbir ‘Allahu akbar’. Akhirnya kami pun segera membuat shaf di belakangnya. Selanjutnya Rasulullah melaksanakan shalat dua rakaat dan setelah itu mengucapkan salam. Lalu kami pun ikut mengucapkan salam seperti ucapan salamnya.”