Skip to main content

Shahih Ibnu Khuzaimah 1365

صحيح ابن خزيمة 1365: ثناه يُونُسُ، أَخْبَرَنَا ابْنُ وَهْبٍ، أَنَّ مَالِكًا حَدَّثَهُ، ح وَثنا الْحَسَنُ بْنُ مُحَمَّدٍ، ثنا الشَّافِعِيُّ مُحَمَّدُ بْنُ إِدْرِيسَ، عَنْ مَالِكٍ، ح وَثنا الرَّبِيعُ، عَنِ الشَّافِعِيِّ، عَنْ مَالِكٍ

Shahih Ibnu Khuzaimah 1365: Yunus menceritakan kepada kami, Ibnu Wahab mengabarkan kepada kami bahwa Malik menceritakan kepadanya (Ha’) dan Al Hasan bin Muhammad menceritakan kepada kami, Asy Syafi’i Muhammad bin Idris menceritakan kepada kami dari Malik (Ha’) dan Ar-Rabi’ menceritakan kepada kami dari Asy Syafi’i, dari Malik.

Shahih Ibnu Khuzaimah 1366

صحيح ابن خزيمة 1366: نا مُحَمَّدُ بْنُ مَعْمَرِ بْنِ رِبْعِيٍّ الْقَيْسِيُّ، ثنا عَمْرُو بْنُ خَلِيفَةَ الْبَكْرَاوِيُّ، ثنا أَشْعَثُ، عَنِ الْحَسَنِ، عَنْ أَبِي بَكْرَةَ: «أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى بِالْقَوْمِ صَلَاةَ الْمَغْرِبِ ثَلَاثَ رَكَعَاتٍ، ثُمَّ انْصَرَفَ، وَجَاءَ الْآخَرُونَ فَصَلِّي بِهِمْ ثَلَاثَ رَكَعَاتٍ، فَكَانَتْ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سِتٌّ رَكَعَاتٍ، وَلِلْقَوْمِ ثَلَاثٌ ثَلَاثٌ»

Shahih Ibnu Khuzaimah 1366: Syafi’i, dari Malik. 1368. Muhammad bin Ma’mar bin Rib’i Al Qaisi menceritakan kami, Amr bin Khalifah Al Bakrawi menceritakan kepada kami, Asy’ats menceritakan kepada kami dari Al Hasan, dari Abu Bakrah, bahwa Nabi Muhammad shalat Maghrib tiga rakaat berjamaah bersama sekelompok orang kemudian mereka pergi, lalu datang lagi kelompok yang lainnya maka beliau shalat berjamaah tersama mereka tiga rakaat lagi, kemudian Nabi shalat enam rakaat dan mereka tiga rakaat tiga rakaat.

Shahih Ibnu Khuzaimah 1367

صحيح ابن خزيمة 1367: ثنا أَحْمَدُ بْنُ مَنْصُورٍ الرَّمَادِيُّ، وَمُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى قَالَا: حَدَّثَنَا حَجَّاجُ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ: قَالَ ابْنُ جُرَيْجٍ: أَخْبَرَنِي يَعْلَى وَهُوَ ابْنُ مُسْلِمٍ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ: ” {إِنْ كَانَ بِكُمْ أَذًى مِنْ مَطَرٍ أَوْ كُنْتُمْ مَرْضَى} [النساء: 102] ” قَالَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ: «كَانَ جَرِيحًا»

Shahih Ibnu Khuzaimah 1367: Ahmad bin Manshur Ar-Ramadi dan Muhammad bin Yahya menceritakan kepada kami, keduanya berkata: Hajjaj bin Muhammad menceritakan kepada kami, ia berkata: Ibnu Juraij berkata: Ya’la mengabarkan kepadaku -dia adalah Ibnu Muslim-, dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, tentang ayat “Dan tidak ada dosa atasmu meletakkan senjatamu, jika kamu mendapat suatu kesusahan karena hujan atau karena sakit” (Qs. An-nisaa. [4]: 102), ia berkata, “Yakni pada waktu Abdurrahman bin Auf cedera akibat terluka.’’

Shahih Ibnu Khuzaimah 1368

صحيح ابن خزيمة 1368: ثنا بُنْدَارٌ، ثنا يَحْيَى، ثنا إِسْمَاعِيلُ، حَدَّثَنِي قَيْسٌ، عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ عُقْبَةَ بْنِ عَمْرٍو، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَا يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ، وَلَكِنَّهُمَا آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ، فَإِذَا رَأَيْتُمُوهَا فَصَلُّوا» قَالَ أَبُو بَكْرٍ: فِي قَوْلِهِ: «فَإِذَا رَأَيْتُمُوهَا فَصَلُّوا» دِلَالَةٌ عَلَى حُجَّةِ مَذْهَبِ الْمُزَنِيِّ رَحِمَهُ اللَّهُ فِي الْمَسْأَلَةِ الَّتِي خَالَفَهُ فِيهَا بَعْضُ أَصْحَابِنَا فِي الْحَالِفِ إِذَا كَانَ لَهُ امْرَأَتَانِ، فَقَالَ: إِذَا وَلَدْتُمَا وَلَدًا فَأَنْتُمَا طَالِقَتَانِ قَالَ الْمُزَنِيُّ: إِذَا وَلَدَتْ إِحْدَاهُمَا وَلَدًا طُلِّقَتَا إِذِ الْعِلْمُ مُحِيطٌ أَنَّ الْمَرْأَتَيْنِ لَا تَلِدَانِ جَمِيعًا وَلَدًا وَاحِدًا، وَإِنَّمَا تَلِدُ وَاحِدًا امْرَأَةٌ وَاحِدَةٌ، فَقَوْلُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِذَا رَأَيْتُمُوهَا فَصَلُّوا» ، إِنَّمَا أَرَادَ إِذَا رَأَيْتُمْ كُسُوفَ إِحْدَاهُمَا فَصَلُّوا، إِذِ الْعِلْمُ مُحِيطٌ أَنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَا يَنْكَسِفَانِ فِي وَقْتٍ وَاحِدٍ، كَمَا لَا تَلِدُ امْرَأَتَانِ وَلَدًا وَاحِدًا

Shahih Ibnu Khuzaimah 1368: Abu Thahir mengabarkan kepada kami, Abu Bakar menceritakan kepada kami, Bundar menceritakan kepada kami, Yahya menceritakan kepada kami, Ismail menceritakan kepada kami, Qais menceritakan kepadaku dari Abu Mas’tid Uqbah bin Amr, dari Nabi Muhammad , beliau bersabda, “Sesungguhnya matahari dan bulan tidak terjadi gerhana karena kematian seseorang, akan tetapi keduanya adalah dua tanda diantar a tanda-tanda kekuasaan Allah . Apabila kalian menyaksikan kedua gerhana tersebut maka shalatlah. ” Abu Bakar berkata: Sabda Nabi yang berbunyi.’ “Maka apabila kalian menyaksikan kedua gerhana tersebut maka Shalatlah” merupakan sebuah dalil bagi Madzhab Al Muzani dalam masalah yang ditentang oleh sebagian sahabat kami, yaitu dalam masalah pria yang bersumpah pada saat memiliki dua orang istri, ia berkata, “Apabila kalian berdua melahirkan anak laki-laki, maka kalian berdua aku cerai”. Al Muzani berkata, “Apabila salah satu dari istri tersebut melahirkan lelaki maka kedua-duanya terkena cerai, karena diketahui bahwa dua orang wanita tidak dapat melahirkan satu anak, akan tetapi satu anak dilahirkan oleh satu wanita.” Maka sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Apabila kalian menyaksikan kedua gerhana tersebut maka Shalatlah” bermakna apabila kalian melihat salah satu gerhana, maka shalatlah! Karena ilmu pengetahuan menetapkan bahwa matahari dan bulan tidak akan terjadi gerhana dalam satu waktu sebagaimana halnya dua orang wanita tidak melahirkan seorang anak.

Shahih Ibnu Khuzaimah 1369

صحيح ابن خزيمة 1369: نا مُوسَى بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْمَسْرُوقِيُّ، ثنا أَبُو أُسَامَةَ، عَنْ بُرَيْدٍ يَعْنِي ابْنَ عَبْدِ اللَّهِ، عَنْ أَبِي بُرْدَةَ، عَنْ أَبِي مُوسَى قَالَ: خُسِفَتِ الشَّمْسُ فِي زَمَنِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَامَ فَزِعًا يَخْشَى أَنْ تَكُونَ السَّاعَةُ، فَقَامَ حَتَّى أَتَى الْمَسْجِدَ، فَقَامَ يُصَلِّي بِأَطْوَلِ قِيَامٍ وَرُكُوعٍ وَسُجُودٍ رَأَيْتُهُ يَفْعَلُهُ فِي صَلَاةٍ قَطُّ، ثُمَّ قَالَ: «إِنَّ هَذِهِ الْآيَاتِ الَّتِي يُرْسِلُ اللَّهُ لَا تَكُونُ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ، وَلَكِنَّ اللَّهَ يُرْسِلُهَا يُخَوِّفُ بِهَا عِبَادَهُ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْهَا شَيْئًا فَافْزَعُوا إِلَى ذِكْرِهِ، وَدُعَائِهِ، وَاسْتِغْفَارِهِ»

Shahih Ibnu Khuzaimah 1369: Musa bin Abdurrahman Al Masruqi menceritakan kami, Abu Usamah menceritakan kepada kami dari Buraid yaitu Ibnu Abdullah dari Abu Musa berkata, “Ketika gerhana matahari terjadi pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bangun dan terperanjat karena takut Hari Kiamat terjadi. Beliau kemudian terdiri lalu terjalan menuju masjid. Setelah ihi beliau bangkit lalu shalat sambil terdiri, ruku, dan sujud terlama yang pernah aku lihat dalam shalat beliau, kemudian beliau bersabda, ‘Sesungguhnya tanda-tanda yang Allah kirimkan ini tidaklah dikarenakan kematian seseorang atau kelahirannya, akan tetapi Allah mengirimnya untuk menakuti hamba-Nya, maka apabila kalian melihat salah satu dari kedua gerhana tersebut, bergegaslah untuk mengingat-Nya, berdoa kepada-Nya, dan memohon ampun kepada-Nya.’.”

Shahih Ibnu Khuzaimah 1370

صحيح ابن خزيمة 1370: نا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بَزِيعٍ، أَخْبَرَنَا أَبُو بَحْرٍ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عُثْمَانَ الْبَكْرَاوِيُّ، ثنا سَعِيدُ بْنُ أَبِي عَرُوبَةَ، عَنْ حَمَّادٍ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ، عَنْ عَلْقَمَةَ، عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ: انْكَسَفَتِ الشَّمْسُ على عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ النَّاسُ: إِنَّمَا انْكَسَفَتْ لِمَوْتِ إِبْرَاهِيمَ، فَقَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَخَطَبَ النَّاسَ، فَقَالَ: «إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَاحْمَدُوا اللَّهَ، وَكَبِّرُوا، وَسَبِّحُوا، وَصَلُّوا حَتَّى يَنْجَلِيَ كُسُوفُ أَيِّهِمَا انْكَسَفَ» قَالَ: ثُمَّ نَزَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ

Shahih Ibnu Khuzaimah 1370: Muhammad bin Abdullah bin Bazi’ menceritakan kami, Abu Bahr Abdurrahman bin Utsman Al Bakrawi, Sa.id bin Abu Arubah menceritakan kepada kami dari Hammad, dari Ibrahim, dari Alqamah, Ibnu Mas’ud, ia berkata, “Ketika gerhana matahari terjadi pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka orang-orang pun berkata, ‘Sesungguhnya gerhana ini teradi karena kematian Ibrahim.’ Mendengar itu, Rasulullah berkata diatas mimbar beliau berkhutbah di depan masa, ’Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda kekuasaan Allah, apabila kal’ian melihatnya, maka ucapkanlah tahmid, takbir, lalu tasbih lalu shalatlah hingga ia kembali normal’.” Ia lanjut berkata, “Setelah itu Rasulullah turun lalu teliau shalat dua rakaat.”

Shahih Ibnu Khuzaimah 1371

صحيح ابن خزيمة 1371: ثنا بُنْدَارٌ، ثنا سَالِمُ بْنُ نُوحٍ، ثنا سَعِيدُ بْنُ إِيَاسٍ أَبُو مَسْعُودٍ الْجُرَيْرِيُّ، عَنْ حَيَّانَ بْنِ عُمَيْرٍ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ سَمُرَةَ قَالَ: «بَيْنَمَا أَرْتَمِي بِأَسْهُمٍ لِي عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذِ انْكَسَفَتِ الشَّمْسُ، فَنَبَذْتُهَا وَانْطَلَقْتُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَانْتَهَيْتُ وَهُوَ قَائِمٌ رَافِعٌ يَدَيْهِ يُسَبِّحُ، وَيُكَبِّرُ، وَيَحْمَدُ، وَيَدْعُو حَتَّى انْجَلَتْ، وَقَرَأَ سُورَتَيْنِ، وَرَكَعَ رَكْعَتَيْنِ»

Shahih Ibnu Khuzaimah 1371: Bundar menceritakan kepada kami, Salim bin Nuh menceritakan kepada kami, Sa’id bin Iyas Abu Mas’ud Al Jurairi menceritakan kepada kami, dari Hayyan bin Umair, dari Abdurrahman bin Samurah, ia berkata, “Ketika aku sedang melepaskan anak panahku (berburu) pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba terjadi gerhana matahari maka aku lalu melemparkan anak panahku dan beranjak menemani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika aku sampai, beliau sedang berdiri, mengangkat kedua tangannya sambil mengucap kalimat tasbih, takbir dan tahmid serta berdoa sehingga matahari tampak jelas kembali, beliau membaca dua surah dan mengerjakan dua ruku.”

Shahih Ibnu Khuzaimah 1372

صحيح ابن خزيمة 1372: نا أَحْمَدُ بْنُ الْمِقْدَامِ الْعِجْلِيُّ، ثنا يَزِيدُ يَعْنِي ابْنَ زُرَيْعٍ، نا يُونُسُ، عَنِ الْحَسَنِ، عَنْ أَبِي بَكْرَةَ قَالَ: كُنَّا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَانْكَسَفَتِ الشَّمْسُ، فَقَامَ إِلَى الْمَسْجِدِ يَجُرُّ رِدَاءَهُ مِنَ الْعَجَلَةِ، وَلَاثَ إِلَيْهِ النَّاسُ، فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَمَا تُصَلُّونَ، فَلَمَّا كُشِفَ عَنْهَا خَطَبَنَا فَقَالَ: «إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ يُخَوِّفُ اللَّهُ بِهِمَا عِبَادَهُ، وَإِنَّهُمَا لَا يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ مِنَ النَّاسِ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْهُمَا شَيْئًا فَصَلُّوا، وَادْعُوا حَتَّى يَنْكَشِفَ مَا بِكُمْ»

Shahih Ibnu Khuzaimah 1372: Ahmad bin Al Miqdam Al Ijli menceritakan kepada kami, Yazid -yaitu lbnu Zurai’- menceritakan kepada kami, Yunus menceritakan kepada kami dari Al Hasan, dari Abu Bakrah. ia berkata. “Ketika kami sedang bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba terjadi gerhana matahari, maka beliau pergi ke masjid sambil menghempaskan selendangnya karena tergesa-gesa dan orang-orang berlindung kepadanya. Lalu beliau shalat dua rakaat sebagaimana kamu shalat. Tatkala matahari terang kembali, beliau kemudian terkhutbah di hadapan kami, beliau berkata. “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah yang dengan keduanya Allah menakut-nakuti hamba-Nya. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang dan apabila kamu melihat terjadi sesuatu pada salah satu dari keduanya maka shalatlah dan berdoalah sehingga apa yang kamu alami tersingkap.”

Shahih Ibnu Khuzaimah 1373

صحيح ابن خزيمة 1373: نا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى، ثنا أَبُو نُعَيْمٍ، ثنا شَيْبَانُ، عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو: «إِنَّهُ لَمَّا كَسَفَتِ الشَّمْسُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نُودِيَ أَنَّ الصَّلَاةَ جَامِعَةً» ، فَذَكَرَ الْحَدِيثَ. قَالَ أَبُو بَكْرٍ: وَهَكَذَا رَوَاهُ مُعَاوِيَةُ بْنُ سَلَامٍ أَيْضًا، عَنْ يَحْيَى، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو

Shahih Ibnu Khuzaimah 1373: Muhammad bin Yahya menceritakan kepada kami, Abu Na’im menceritakan kepada kami, Syaiban menceritakan kepada kami dari Yahya bin Abu Katsir, dari Abu Salamah, dari Abdullah bin Amr, bahwa tatkala terjadi gerhana matahari pada masa Rasulullah diserukan shalat berjamaah, lalu dia menyebutkan redaksi hadisnya. Abu Bakar berkata, “Seperti inilah Mu’awiyah bin Salam juga meriwayatkan dari Yahya, dari Abu Salamah, dari Abdullah bin Amr.”

Shahih Ibnu Khuzaimah 1374

صحيح ابن خزيمة 1374: وَرَوَاهُ الْحَجَّاجُ الصَّوَّافُ قَالَ: ثنا يَحْيَى، ثنا أَبُو سَلَمَةَ، حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَمْرٍو، ثناه مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى، حَدَّثَنِي أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي الْأَسْوَدِ، أَخْبَرَنَا حُمَيْدُ بْنُ الْأَسْوَدِ، عَنْ حَجَّاجٍ الصَّوَّافِ قَالَ: سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ يَحْيَى يَقُولُ: حَجَّاجٌ الصَّوَّافُ مَتِينٌ، يُرِيدُ أَنَّهُ ثِقَةٌ حَافِظٌ

Shahih Ibnu Khuzaimah 1374: Al Hajjaj Ash-Shawwaf menceritakan, ia berkata: Yahya menceritakan kepada kami, Abu Salamah menceritakan kepada kami, Abdullah bin Amr menceritakan kepadaku. Muhammad bin Yahya menceritakannya kepada kami, Abu Bakar bin Abu Al Aswad menceritakannya kepadaku, Humaid bin Al Aswad mengabarkan kepada kami dari Hajjaj Ash-Shawwaf. ia berkata: Aku mendengar Muhammad bin Yahya berkata: Hajjaj bin Ash-Shawwaf adalah perawi kuat, yang dimaksudkannya yaitu, ia orang yang terpercaya dan kuat hafalannya.