Skip to main content

Shahih Ibnu Khuzaimah 1635

صحيح ابن خزيمة 1635: نا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ، وَيَحْيَى بْنُ حَكِيمٍ قَالَا: ثنا عَبْدُ الْوَهَّابِ، ح وَثنا عِمْرَانُ بْنُ مُوسَى الْقَزَّازُ، ثنا عَبْدُ الْوَارِثِ قَالَا: نا أَيُّوبُ، ح وَثنا أَبُو هَاشِمٍ زِيَادُ بْنُ أَيُّوبَ، نا إِسْمَاعِيلُ يَعْنِي ابْنَ عُلَيَّةَ، أَخْبَرَنَا أَيُّوبُ، عَنْ أَبِي الْعَالِيَةِ الْبَرَاءِ قَالَ: أَخَّرَ ابْنُ زِيَادٍ الصَّلَاةَ، فَأَتَانِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الصَّامِتِ، فَأَلْقَيْتُ لَهُ كُرْسِيًّا، فَجَلَسَ عَلَيْهِ، فَذَكَرْتُ لَهُ صُنْعَ ابْنِ زِيَادٍ، فَعَضَّ عَلَى شَفَتَيْهِ، ثُمَّ ضَرَبَ يَدَهُ عَلَى فَخِذِي، وَقَالَ: إِنِّي سَأَلْتُ أَبَا ذَرٍّ كَمَا سَأَلَتْنِي، فَضَرَبَ فَخِذِي كَمَا ضَرَبْتُ فَخِذَكَ، وَقَالَ: إِنِّي سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمَا سَأَلَتْنِي، فَضَرَبَ فَخِذِي، كَمَا ضَرَبْتُ فَخِذَكَ، وَقَالَ: ” صَلِّ الصَّلَاةَ لِوَقْتِهَا، فَإِنْ أَدْرَكَتْكَ مَعَهُمْ فَصَلِّ، وَلَا تَقُلْ: إِنِّي قَدْ صَلَّيْتُ فَلَا أُصَلِّي “. هَذَا حَدِيثُ بُنْدَارٍ وَقَالَ يَحْيَى بْنُ حَكِيمٍ: فَعَضَّ عَلَى شَفَتَيْهِ

Shahih Ibnu Khuzaimah 1635: Muhammad bin Basyar dan Yahya bin Hakim memberitakan kepada kami dan berkata, “Kami menerima hadis ini dari Abdul Wahhab, Ha, Imran bin Musa Al Qazaz memberitakan kepada kami, Abdul Warits memberitakan kepada kami, mereka berkata, “Ayyub memberitakan kepada kami, Ha, Abu Hasyim Ziyad bin Ayyub memberitakan kepada kami, Ismail —maksudnya Ibnu Ulyah— memberitakan kepada kami, Ayyub memberitakan kepada kami, dari Abu Aliyah Al Bara yang telah berkata, “Pernah pada suatu ketika Ibnu Ziyad menunda waktu shalatnya. Tiba-tiba, Abdullah bin Shamit datang menemuiku, maka aku sediakan sebuah kursi untuk tempat duduknya seraya menyebutkan bahwa kursi tersebut adalah buatan Ibnu Ziyad, lalu Abdullah bin Shamit menggigit kedua bibirnya dan memukulkan tangannya ke pahaku seraya berkata, ‘Ketahuilah, aku pernah bertanya kepada Abu Dzar (seperti engkau bertanya kepadaku). Lalu Abu Dzar memukulkan tangannya ke pahaku sebagaimana aku memukul pahamu dan berkata, ‘Aku pernah bertanya kepada Rasulullah (seperti engkau bertanya kepadaku dan Rasulullah memukulkan tangannya ke pahaku sebagaimana aku memukul pahamu seraya bersabda, ‘Shalatlah tepat pada waktunya. Apabila kamu telah melaksanakan shalat berjama’ah, maka shalat sunnahlah sendirian dan janganlah berkata, ‘Aku telah shalat dan tidak perlu shalat lagi’.” Ini adalah hadis Bundar. Sementara itu, Yahya bin Hakim berkata, “Lalu ia menggigit kedua bibirnya.”

Shahih Ibnu Khuzaimah 1604

صحيح ابن خزيمة 1604: نا بِشْرُ بْنُ مُعَاذٍ الْعَقَدِيُّ، نا خَالِدُ بْنُ الْحَارِثِ، ح وَثنا بُنْدَارٌ، ثنا عُثْمَانُ يَعْنِي ابْنَ عُمَرَ قَالَا: ثنا ابْنُ أَبِي ذِئْبٍ – وَهَذَا حَدِيثُ خَالِدِ بْنِ الْحَارِثِ – عَنْ خَالِهِ وَهُوَ الْحَارِثُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ، عَنْ أَبِيهِ قَالَ: «كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْمُرُنَا بِالتَّخْفِيفِ، وَيَؤُمُّنَا بِالصَّافَّاتِ»

Shahih Ibnu Khuzaimah 1604: Bisyr bin Mu’adz Al ‘Aqadi, Khalid bin Al Harits memberitakan kepada kami, Ha, Bundar memberitakan kepada kami, Utsman —maksudnya adalah Ibnu Umar— mereka berkata, Ibnu Abi Dzi’b menceritakan kepada kami, dan ini adalah hadis Khalid bin Al Harits, dari pamannya, yaitu Harits bin Abdurrahman, dari Salim bin Abdullah bin Umar, dari bapaknya yang berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa memerintahkan kami untuk meringankan shalat dalam berjama’ah dan mengimami kami dengan bacaan surat Ash-Shaffaat.”

Shahih Ibnu Khuzaimah 1620

صحيح ابن خزيمة 1620: نا أَحْمَدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحِيمِ الْبَرْقِيُّ ، ثنا ابْنُ أَبِي مَرْيَمَ، وَثنا نَافِعُ بْنُ يَزِيدَ، حَدَّثَنِي يَحْيَى بْنُ أَبِي سُلَيْمَانَ، عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي الْعِتَابِ، وَابْنُ الْمَقْبُرِيِّ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِذَا جِئْتُمْ وَنَحْنُ سُجُودٌ فَاسْجُدُوا، وَلَا تَعُدُّوهَا شَيْئًا، وَمَنْ أَدْرَكَ الرَّكْعَةَ فَقَدْ أَدْرَكَ الصَّلَاةَ» . قَالَ أَبُو بَكْرٍ: فِي الْقَلْبِ مِنْ هَذَا الْإِسْنَادِ، فَإِنِّي كُنْتُ لَا أَعْرِفُ يَحْيَى بْنَ أَبِي سُلَيْمَانَ بِعَدَالَةٍ وَلَا جَرْحٍ. قَالَ أَبُو بَكْرٍ: نَظَرْتُ فَإِذَا أَبُو سَعِيدٍ مَوْلَى بَنِي هَاشِمٍ قَدْ رَوَى عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي سُلَيْمَانَ هَذَا أَخْبَارًا ذَوَاتَ عَدَدٍ، قَالَ أَبُو بَكْرٍ: وَهَذِهِ اللَّفْظَةُ فَلَا تَعُدُّوهَا شَيْئًا مِنَ الْجِنْسِ الَّذِي بَيَّنْتُ فِي مَوَاضِعَ مِنْ كُتُبِنَا أَنَّ الْعَرَبَ تَنْفِي الِاسْمَ عَنِ الشَّيْءِ لِنَقْصِهِ عَنِ الْكَمَالِ وَالتَّمَامِ، وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – إِنْ صَحَّ عَنْهُ الْخَبَرُ – أَرَادَ بِقَوْلِهِ: «فَلَا تَعُدُّوهَا شَيْئًا» : أَيْ: لَا تَعُدُّوهَا سَجْدَةً تُجْزِئُ مِنْ فَرْضِ الصَّلَاةِ، لَمْ يُرِدْ: لَا تَعُدُّوهَا شَيْئًا، لَا فَرْضًا وَلَا تَطَوُّعًا

Shahih Ibnu Khuzaimah 1620: Ahmad bin Abdurrahim Al Barqi memberitakan kepada kami, Ibnu Abi Maryam menceritakan kepada kami, Nafi’ bin Yazid menceritakan kepada kami, Yahya bin Abi Sulaiman menceritakan kepadaku dari Yazid bin Abu Al ‘Itab dan Ibnu Al Maqburi, dari Abu Hurairah bahwasanya ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Apabila kalian telah tiba ke masjid dan mendapatkan kami sedang sujud, maka sujudlah kalian dan janganlah kalian anggap sujud kalian itu sebagai satu raka’at. Barangsiapa telah mendapatkan satu raka ‘at, maka sesungguhnya ia telah mendapat shalat’.” Abu Bakar berkata, “Di tengah sanad hadis tersebut di atas ada Yahya bin Abu Sulaiman yang tidak aku ketahui, apakah ia banyak celanya ataukah banyak pujiannya?” Abu Bakar berkata, “Aku melihat bahwasanya Abu Said, budak bani Hasyim itu telah meriwayatkan banyak hadis dari Yahya bin Abu Sulaiman.”

Shahih Ibnu Khuzaimah 1636

صحيح ابن خزيمة 1636: نا أَبُو هَاشِمٍ زِيَادُ بْنُ أَيُّوبَ، وَأَحْمَدُ بْنُ مَنِيعٍ قَالَا: ثنا هُشَيْمٌ، أَخْبَرَنَا يَعْلَى بْنُ عَطَاءٍ، ح وَثنا بُنْدَارٌ، نا مُحَمَّدٌ، ح وَحَدَّثَنَا الصَّنْعَانِيُّ، ثنا خَالِدٌ قَالَا: ثنا شُعْبَةُ، وَثنا أَحْمَدُ بْنُ مَنِيعٍ، ثنا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ، أَخْبَرَنَا هِشَامُ بْنُ حَسَّانَ، وَشُعْبَةُ، وَشَرِيكٌ، ح وَثنا سَلْمُ بْنُ جُنَادَةَ، نا وَكِيعٌ، عَنْ سُفْيَانَ، كُلُّهُمْ عَنْ يَعْلَى بْنِ عَطَاءٍ، عَنْ جَابِرِ بْنِ يَزِيدَ بْنِ الْأَسْوَدِ، عَنْ أَبِيهِ، وَقَالَ هُشَيْمٌ – وَهَذَا حَدِيثُهُ – قَالَ: ثنا جَابِرُ بْنُ يَزِيدَ بْنِ الْأَسْوَدِ الْعَامِرِيُّ، عَنْ أَبِيهِ قَالَ: شَهِدْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَجَّتَهُ قَالَ: فَصَلَّيْتُ مَعَهُ صَلَاةَ الْفَجْرِ فِي مَسْجِدِ الْخَيْفِ يَعْنِي مَسْجِدَ مِنًى – فَلَمَّا قَضَى صَلَاتَهُ إِذَا هُوَ بِرَجُلَيْنِ فِي آخِرِ الْقَوْمِ وَلَمْ يُصَلِّيَا مَعَهُ، فَقَالَ: «عَلَيَّ بِهِمَا» ، فَأُتِيَ بِهِمَا تُرْعَدُ فَرَائِصُهُمَا، فَقَالَ: «مَا مَنَعَكُمَا أَنْ تُصَلِّيَا مَعَنَا؟» قَالَا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، كُنَّا قَدْ صَلَّيْنَا فِي رِحَالِنَا قَالَ: «فَلَا تَفْعَلَا إِذَا صَلَّيْتُمَا فِي رِحَالِكُمَا ثُمَّ أَتَيْتُمَا مَسْجِدَ جَمَاعَةٍ فَصَلِّيَا مَعَهُمْ، فَإِنَّهَا لَكُمْ نَافِلَةٌ» . وَقَالَ بُنْدَارٌ: «فَأَتَيْتُمَا الْإِمَامَ وَلَمْ يُصَلِّ» ، وَفِي حَدِيثِ وَكِيعٍ: «ثُمَّ جِئْتُمْ وَالنَّاسُ فِي الصَّلَاةِ» . وَزَادَ الصَّنْعَانِيُّ: وَالنَّاسُ يَأْخُذُونَ بِيَدِهِ، وَيَمْسَحُونَ بِهَا وُجُوهَهُمْ، فَإِذَا هِيَ أَبْرَدُ مِنَ الثَّلْجِ، وَأَطْيَبُ رِيحًا مِنَ الْمِسْكِ

Shahih Ibnu Khuzaimah 1636: Abu Hasyim Ziyad bin Ayyub dan Ahmad bin Mani’ memberitakan kepada kami dan berkata, “Husyaim memberitakan kepada kami, Ya’la bin ‘Atha memberitakan kepada kami, Ha, Bundar memberitakan kepada kami, Muhammad memberitakan kepada kami, Ha, Ash-Shan’ani memberitakan kepada kami, Khalid menceritakan kepada kami, dan berkata, ‘Syu’bah memberitakan kepada kami, Ahmad bin Mani’ memberitakan kepada kami, Yazid bin Harun memberitakan kepada kami, Hisyam bin Hasan memberitakan kepada kami, Syu’bah dan Syarik memberitakan kepada kami, Ha, Salm bin Junadah memberitakan kepada kami, Waki’ memberitakan kepada kami, dari Sufyan,semuanya dari Ya’la bin ‘Atha, dari Jabir bin Yazid bin Al Aswad, dari bapaknya. Sementara itu, Husyaim pernah berkata, ini adalah hadisnya. Lalu Husyaim juga berkata, ‘Jabir bin Yazid bin Al Aswad Al ‘Amiri telah menceritakan kepada kami sebuah hadis dari bapaknya yang berkata, ‘Aku pernah menemani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam melaksanakan ibadah haji. Kemudian kami melaksanakan shalat shubuh di masjid Al Khif, yaitu nama sebuah masjid di kota Mina. Usai melaksanakan ibadah shalat shubuh, tiba-tiba beliau melihat dua orang laki-laki dari rombongan lain yang belum melaksanakan shalat shubuh. Kemudian Rasulullah berkata, ‘Aku harus mengingatkan kedua orang laki-laki itu’ lalu beliau temui keduanya seraya berkata, ‘Mengapa kamu tidak melaksanakan shalat berjama’ah bersama kami? kedua orang laki-laki menjawab, ‘Wahai Rasulullah, tadi kami telah melaksanakan shalat shubuh di perjalanan. Lalu Rasulullah kembali berkata kepada keduanya, ‘Sebaiknya jangan kalian ulangi lagi tindakan kalian itu. Apabila kalian berdua telah melaksanakan shalat di perjalanan, lalu kalian berdua melihat kaum muslimin tengah melaksanakan shalat berjamaah di masjid, maka shalatlah kalian berdua bersama mereka, karena shalat kalian yang di perjalanan itu hukumnya menjadi sunnah’.” Lalu Bundar berkata, “lalu kalian berdua menemui imam yang belum shalat…” Sementara dalam hadis Waki’ disebutkan, “kemudian kalian tiba di masjid dan melihat kaum muslimin sedang melaksanakan shalat berjama’ah.” Kemudian Ash-Shan’ani menambahkan, “selanjutnya kaum muslimin memegang tangan Rasulullah dan selanjutnya mengusap wajah mereka dengan tangan tersebut, maka ternyata tangannya itu lebih dingin daripada salju dan lebih wangi daripada minyak kasturi.”

Shahih Ibnu Khuzaimah 1605

صحيح ابن خزيمة 1605: نا أَبُو يَحْيَى مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحِيمِ الْبَزَّازُ أَخْبَرَنَا أَبُو أَحْمَدَ الزُّبَيْرِيُّ، ثنا عَبْدُ الْجَبَّارِ بْنُ الْعَبَّاسِ، عَنْ عَمَّارٍ الدُّهْنِيِّ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ التَّيْمِيِّ قَالَ: كَانَ أَبِي قَدْ تَرَكَ الصَّلَاةَ مَعَنَا، قُلْتُ: مَا لَكَ لَا تُصَلِّي مَعَنَا؟ قَالَ: إِنَّكُمْ تُخَفِّفُونَ الصَّلَاةَ قُلْتُ: فَأَيْنَ قَوْلُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ فِيكُمُ الضَّعِيفَ وَالْكَبِيرَ وَذَا الْحَاجَةِ» ؟ قَالَ: قَدْ سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ يَقُولُ ذَلِكَ، ثُمَّ صَلَّى بِنَا ثَلَاثَةَ أَضْعَافِ مَا تُصَلُّونَ

Shahih Ibnu Khuzaimah 1605: Abu Yahya Muhammad bin Abdurrahim Al Bazzar memberitakan kepada kami, Abu Ahmad Az-Zubairi memberitakan kepada kami, Abdul Jabbar bin Abbas memberitakan kepada kami, dari Ammar Ad-Duhni, dari Ibrahim At-Taimi yang berkata, “Pada suatu hari, ayahku memisahkan shalat dari kami. Lalu aku bertanya kepadanya, ‘Hai ayah, mengapa engkau tidak shalat berjama’ah bersama kami?’ lalu ayah menjawab, ‘Sepertinya kalian sangat meringankan shalat.’ aku berkata kepadanya, ‘Kalau begitu, di manakah posisi sabda Nabi yang berbunyi ‘Sesungguhnya di antara kalian ada orang yang lemah, tua, dan mempunyai kebutuhan yang mendesak’ Kemudian ayahku menjawab, ‘Memang benar aku pun pernah mendengar Abdullah bin Mas’ud berkata seperti itu.’ akhirnya ayahku ikut shalat bersama kami tiga kali lipat dari sebelumnya.”

Shahih Ibnu Khuzaimah 1621

صحيح ابن خزيمة 1621: نا أَحْمَدُ بْنُ عَبْدَةَ، نا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ، أَخْبَرَنَا أَبُو حَازِمٍ، وَثنا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الدَّوْرَقِيُّ، ثنا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ أَبِي حَازِمٍ، عَنْ أَبِيهِ، وَثنا عَبْدُ الْجَبَّارِ بْنُ الْعَلَاءِ، ثنا سُفْيَانُ قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا حَازِمٍ، عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ، وَثنا يُونُسُ بْنُ عَبْدِ الْأَعْلَى الصَّدَفِيُّ، أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ، أَنَّ مَالِكًا، حَدَّثَهُ، عَنْ أَبِي حَازِمِ بْنِ دِينَارٍ، عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ إِلَى بَنِي عَمْرِو بْنِ عَوْفٍ لِيُصْلِحَ بَيْنَهُمْ، فَحَانَتِ الصَّلَاةُ، وَجَاءَ الْمُؤَذِّنُ إِلَى أَبِي بَكْرٍ، فَقَالَ: أَتُصَلِّي بِالنَّاسِ فَأُقِيمَ؟ فَقَالَ: «نَعَمْ» ، فَصَلَّى أَبُو بَكْرٍ، فَجَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالنَّاسُ فِي الصَّلَاةِ، فَتَخَلَّصَ حَتَّى وَقَفَ فِي الصَّفِّ، فَصَفَّقَ النَّاسُ، وَكَانَ أَبُو بَكْرٍ لَا يَلْتَفِتُ فِي صَلَاتِهِ، فَلَمَّا أَكْثَرَ النَّاسُ التَّصْفِيقَ الْتَفَتَ فَرَأَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَأَشَارَ إِلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنِ امْكُثْ مَكَانَكَ، فَرَفَعَ أَبُو بَكْرٍ يَدَيْهِ، فَحَمِدَ اللَّهَ عَلَى مَا أَمَرَهُ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ ذَلِكِ، ثُمَّ اسْتَأْخَرَ أَبُو بَكْرٍ حَتَّى اسْتَوَى فِي الصَّفِّ، وَتَقَدَّمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَصَلَّى، فَلَمَّا انْصَرَفَ قَالَ: «يَا أَبَا بَكْرٍ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَثْبُتَ إِذْ أَمَرْتُكَ؟» فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: مَا كَانَ لِابْنِ أَبِي قُحَافَةَ أَنْ يُصَلِّيَ بَيْنَ يَدَيْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَا لِي رَأَيْتُكُمْ أَكْثَرْتُمُ التَّصْفِيقَ؟ مَنْ نَابَهُ شَيْءٌ فِي صَلَاتِهِ فَلْيُسَبِّحْ؛ فَإِنَّهُ إِذَا سَبَّحَ الْتُفِتَ إِلَيْهِ، وَإِنَّمَا التَّصْفِيقُ لِلنِّسَاءِ» . هَذَا حَدِيثُ يُونُسَ بْنِ عَبْدِ الْأَعْلَى. قَالَ أَبُو بَكْرٍ: فِي هَذَا الْخَبَرِ دَلَالَةٌ عَلَى أَنَّ الْمُصَلِّيَ إِذَا سُبِّحَ بِهِ فَجَائِزٌ لَهُ أَنْ يَلْتَفِتَ إِلَى الْمُسَبِّحِ لِيَعْلَمَ الْمُصَلِّي الَّذِي نَابَ الْمُسَبِّحَ، فَيَفْعَلَ مَا يَجِبُ عَلَيْهِ

Shahih Ibnu Khuzaimah 1621: Ahmad bin Abadah memberitakan kepada kami, Hamad bin Zaid memberitakan kepada kami, Abu Hazim memberitakan kepada kami, Ya’kub bin Ibrahim Ad-Dauraqi memberitakan kepada kami, Abdul Aziz bin Abu Hazim memberitakan kepada kami, dari bapaknya, Abdul Jabbar bin Al’ Ala memberitakan kepada kami, Sufyan memberitakan kepada kami dan berkata, “Aku pernah mendengar Abu Hazim meriwayatkan hadis dari Sahal bin Sa’ad, Yunus bin Abdul A’la Ash-Shadafi menceritakan kepada kami, Abdullah bin Wahab memberitakan kepada kami bahwasanya Malik telah bercerita kepadanya dari Abu Hazim bin Dinar dan dari Sahal bin Sa’ad bahwasanya pada suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pergi menemui keluarga besar Amr bin Auf untuk mendamaikan perselisihan yang terjadi di antara mereka. Tak lama kemudian datang waktu shalat, lalu sang muadzin datang menemui Abu Bakar seraya berkata, ‘Wahai Abu Bakar, anda menjadi imam dan saya yang akan mengumandangkan qamat.’ lalu Abu Bakar menjawab, ‘Baiklah.’ akhirnya Abu Bakar bersedia menjadi imam shalat bagi kaum muslimin. Tak berapa lama kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di masjid ketika kaum muslimin sedang melaksanakan shalat berjama’ah, lalu beliau segera menempati barisan dalam shalat jama’ah tersebut. Kemudian para jama’ah shalat lainnya bertepuk tangan. Tetapi Abu Bakar tidak memalingkan wajahnya ke belakang dalam shalat. Akan tetapi ketika makin banyak jama’ah yang bertepuk tangan, maka akhirnya Abu Bakar pun menoleh ke belakang. Ternyata ia melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang ikut shalat berjama’ah di belakangnya. Namun demikian, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi isyarat kepadanya untuk tetap di tempatnya menjadi imam shalat. Akhirnya Abu Bakar mengangkat kedua tangannya seraya memuji kepada Allah atas sikap dan perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap dirinya dalam shalat berjama’ah tersebut. Tak lama kemudian, Abu Bakar mundur ke belakang untuk bergabung bersama kaum muslimin dalam barisan shalat. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maju untuk menjadi imam dalam shalat tersebut. Usai melaksanakan shalat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada Abu Bakar, ‘Hai Abu Bakar, mengapa kamu tidak tetap berada di tempatmu (sebagai imam) manakala aku perintahkan?’ mendengar pertanyaan itu, Abu Bakar segera menjawab dengan penuh kerendahan hati, ‘Hai Rasulullah, tidak pantas bagi anak Abu Quhafa ini untuk shalat di depan (menjadi imam) utusan Allah.’ selanjutnya Rasulullah pun bertanya kepada jama’ah shalat, ‘Wahai kaum muslimin sekalian, mengapa kalian saling bertepuk tangan dalam shalat? Barangsiapa merasa terganggu (dengan perbuatan imam) dalam shalatnya, maka ia dapat bertasbih (mengucapkan subhanallahu). Karena apabila ia bertasbih, maka imam akan menoleh kepadanya. Ketahuilah, sesungguhnya tepuk tangan itu hanya untuk kaum perempuan.” Ini adalah hadis Yunus bin Abdul A’la Abu Bakar berkata, “Hadis ini menunjukkan bahwasanya apabila makmum bertasbih dalam shalat berjama’ah, maka dibolehkan bagi imam untuk menoleh kepadanya untuk mengetahui permasalahannya hingga ia melakukan apa yang harus dilakukan.”

Shahih Ibnu Khuzaimah 1637

صحيح ابن خزيمة 1637: نا مُحَمَّدُ بْنُ هِشَامٍ، وَيَحْيَى بْنُ حَكِيمٍ، وَهَذَا، حَدِيثُ يَحْيَى قَالَا: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ، نا شُعْبَةُ، عَنْ أَيُّوبَ، عَنْ أَبِي الْعَالِيَةِ الْبَرَاءِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الصَّامِتِ، عَنْ أَبِي ذَرٍّ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «كَيْفَ أَنْتَ إِذَا بَقِيَتَ فِي قَوْمٍ يُؤَخِّرُونَ الصَّلَاةَ عَنْ وَقْتِهَا؟» فَقَالَ لَهُ: ” صَلِّ الصَّلَاةَ لِوَقْتِهَا، فَإِذَا أَدْرَكْتَهُمْ لَمْ يُصَلُّوا فَصَلِّ مَعَهُمْ، وَلَا تَقُلْ: إِنِّي قَدْ صَلَّيْتُ، فَلَا أُصَلِّي “، لَمْ يَقُلْ بُنْدَارٌ: «صَلِّ الصَّلَاةَ لِوَقْتِهَا»

Shahih Ibnu Khuzaimah 1637: Muhammad bin Hisyam dan Yahya bin Hakim memberitakan kepada kami, —dan ini adalah hadis Yahya bin Hakim—. Kemudian Muhammad bin Hisyam d$ui Yahya bin Hakim berkata, “Muhammad bin Ja’far telah memberitakan sebuah hadis kepada kami, Syu’bah memberitakan kepada kami, dari Ayyub, dari Abu Aliyah Al Bara, dari Abdullah bin Shamit, dari Abu Dzar dari Nabi Muhammad bahwasanya beliau telah bersabda, “Bagaimana tindakanmu jika kamu berada di suatu masyarakat yang sering menunda shalat tepat pada waktunya? Maka ketahuilah, tetaplah kamu shalat tepat pada waktunya. Dan apabila kamu melihat mereka belum melaksanakan shalat, maka shalatlah bersama mereka dan jangan kamu ucapkan, ‘Sebenarnya aku tadi telah melaksanakan shalat sendirian, maka sekarang aku tidak ikut shalat berjama’ah’.” Kemudian Bundar tidak berkata, “laksanakanlah shalat tepat pada waktunya!”

Shahih Ibnu Khuzaimah 1606

صحيح ابن خزيمة 1606: نا عَبْدُ الْجَبَّارِ بْنُ الْعَلَاءِ، نا سُفْيَانُ، عَنِ ابْنِ إِسْحَاقَ، ح وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عِيسَى، ثنا سَلَمَةُ، حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ، ح وَثنا بُنْدَارٌ، ثنا ابْنُ أَبِي عَدِيٍّ قَالَ: أَنْبَأَ مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ، حَدَّثَنِي سَعِيدُ بْنُ أَبِي هِنْدَ، عَنْ مُطَرِّفٍ قَالَ: دَخَلْتُ عَلَى عُثْمَانَ بْنِ أَبِي الْعَاصِ، فَقَالَ: كَانَ آخِرُ مَا عَهِدَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ بَعَثَنِي عَلَى الطَّائِفِ فَقَالَ: «يَا عُثْمَانُ تَجَوَّزْ فِي الصَّلَاةِ، وَاقْدُرِ النَّاسَ بِأَضْعَفِهِمْ؛ فَإِنَّ فِيهِمُ الْكَبِيرَ وَالضَّعِيفَ وَالسَّقِيمَ وَذَا الْحَاجَةِ»

Shahih Ibnu Khuzaimah 1606: Abdul Jabbar bin Al ‘Ala memberitakan kepada kami, Sufyan memberitakan kepada kami, dari Ibnu Ishak, Ha, Muhammad bin Isa memberitakan kepada kami, Salama memberitakan kepada kami, Muhammad bin Ishak menceritakan kepadaku, Ha, Bundar menceritakan kepada kami, Ibnu Abi Addi memberitakan kepada kami,dan berkata, “Muhammad bin Ishak memberitakan kepada kami, Said bin Abi Hind memberitakan kepada kami, dari Muthraf yang telah berkata, ‘Pada suatu hari aku menemui Utsman bin Abi Al ‘Ash yang telah mengatakan bahwa akhir perintah yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bebankan kepadaku saat mengutusku ke Thaif adalah sabdanya yang berbunyi, ‘Hai Utsman, kerjakanlah yang wajib saja dalam shalat dan perhatikanlah jama’ahmu! Karena di antara mereka ada yang lanjut usia, lemah, sakit, dan mempunyai kebutuhan yang mendesak’.”

Shahih Ibnu Khuzaimah 1622

صحيح ابن خزيمة 1622: نا الْقَاسِمُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عَبَّادِ بْنِ عَبَّادٍ الْمُهَلَّبِيُّ، وَأَبُو طَالِبٍ زَيْدُ بْنُ أَخْزَمَ الطَّائِيُّ، وَمُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى الْأَزْدِيُّ قَالُوا: ثنا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ دَاوُدَ، نا سَلَمَةُ بْنُ نُبَيْطٍ، عَنْ نُعَيْمِ بْنِ أَبِي هِنْدَ، عَنْ نُبَيْطِ بْنِ شَرِيطٍ، عَنْ سَالِمِ بْنِ عُبَيْدٍ قَالَ: مَرِضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأُغْمِيَ عَلَيْهِ، ثُمَّ أَفَاقَ فَقَالَ: «أَحَضَرَتِ الصَّلَاةُ؟» قُلْنَا: نَعَمْ قَالَ: «مُرُوا بِلَالًا فَلْيُؤَذِّنْ، وَمُرُوا أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ بِالنَّاسِ» ، ثُمَّ أُغْمِيَ عَلَيْهِ ثُمَّ أَفَاقَ فَقَالَ: ” أَحَضَرَتِ الصَّلَاةُ؟ قُلْنَا: نَعَمْ قَالَ: مُرُوا بِلَالًا فَلْيُؤَذِّنْ، وَمُرُوا أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ بِالنَّاسِ “، ثُمَّ أُغْمِيَ عَلَيْهِ، ثُمَّ أَفَاقَ، فَقَالَتْ عَائِشَةُ: إِنَّ أَبِي رَجُلٌ أَسِيفٌ، فَلَوْ أَمَرْتَ غَيْرَهُ، ثُمَّ أَفَاقَ فَقَالَ: «أَحَضَرَتِ الصَّلَاةُ» ؟ قُلْنَا: نَعَمْ، فَقَالَ: «مُرُوا بِلَالًا فَلْيُؤَذِّنْ، وَمُرُوا أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ بِالنَّاسِ» قَالَتْ عَائِشَةُ: إِنَّ أَبِي رَجُلٌ أَسِيفٌ، فَلَوْ أَمَرْتَ غَيْرَهُ، فَقَالَ: «إِنَّكُنَّ صَوَاحِبَاتُ يُوسُفَ، مُرُوا بِلَالًا فَلْيُؤَذِّنْ، وَمُرُوا أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ بِالنَّاسِ» ، ثُمَّ أُغْمِيَ عَلَيْهِ، فَأَمَرُوا بِلَالًا فَأَذَّنَ، وَأَقَامَ، وَأَمَرُوا أَبَا بَكْرٍ أَنْ يُصَلِّيَ بِالنَّاسِ، ثُمَّ أَفَاقَ فَقَالَ: «أُقِيمَتِ الصَّلَاةُ؟» قُلْتُ: نَعَمْ قَالَ: «جِيئُونِي بِإِنْسَانٍ أَعْتَمِدُ عَلَيْهِ» ، فَجَاءُوا بِبَرِيرَةَ، وَرَجُلٍ آخَرَ، فَاعْتَمَدَ عَلَيْهِمَا، ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الصَّلَاةِ، فَأُجْلِسَ إِلَى جَنْبِ أَبِي بَكْرٍ، فَذَهَبَ أَبُو بَكْرٍ يَتَنَحَّى، فَأَمْسَكَهُ حَتَّى فَرَغَ مِنَ الصَّلَاةِ. هَذَا حَدِيثُ الْقَاسِمِ بْنِ مُحَمَّدٍ

Shahih Ibnu Khuzaimah 1622: Qasim bin Muhammad bin Abbad bin Abbad Al Mahlabi dan Abu Thalib Zaid bin Ahzam Ath-Thai serta Muhammad bin Yahya Al Azdi memberitakan kepada kami dan berkata, “Abdullah bin Daud menceritakan kepada kami, Salama bin Nubaith menceritakan kepada kami, dari Nu’aim bin Abu Hind memberitakan kepada kami, dari Nubaith bin Syarith, dari Salim bin Ubaid, dia berkata, ‘Ketika menderita sakit keras, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sering mengalami pingsan dan setelah itu siuman kembali. Kemudian beliau bertanya, ‘Apakah waktu shalat telah tiha?’ kami menjawab, ‘ya, waktu shalat telah tiba hai Rasulullah.’ Selanjutnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Suruhlah Bilal untuk mengumandangkan adzan dan Abu Bakar untuk menjadi imam!’ usai mengucapkan perintah itu, Rasulullah pun jatuh pingsan. Setelah itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam siuman kembali dan bertanya, ‘Apakah waktu shalat telah tiba?’ kami menjawab, ‘ya, waktu shalat telah tiba hai Rasulullah.’ lalu beliau berkata, ‘Suruhlah Bilal untuk mengumandangkan adzan dan Abu Bakar untuk menjadi imam!’ usai mengucapkan kata-kata itu, Rasulullah pun langsung jatuh pingsan. Tak berapa lama kemudian beliau siuman kembali. Kemudian Aisyah, istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, berkata, “Wahai Rasulullah, ayahku itu adalah orang yang mudah sedih. Alangkah baiknya, jika anda memerintahkan orang selain dirinya.” Lalu Rasulullah jatuh pingsan dan selanjutnya berkata, ‘apakah waktu shalat telah tiba?’ kami menjawab, ‘ya, waktu shalat telah tiba hai Rasulullah.’ kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Suruhlah Bilal untuk mengumandangkan adzan dan Abu Bakar untuk menjadi imam!’ lalu Aisyah berkata kepada Rasulullah, ‘Hai Rasulullah, ayahku adalah orang yang mudah sedih. Alangkah baiknya jika anda memerintahkan orang selain dirinya.’ mendengar perkataan Aisyah itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam langsung menjawab, ‘Kalian, hai kaum perempuan, adalah para pendamping Nabi yusuf! Suruhlah Bilal untuk mengumandangkan adzan dan Abu Bakar untuk menjadi imam!’ setelah itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam langsung jatuh pingsan. Kemudian para sahabat segera memerintahkan Bilal untuk mengumandangkan adzan dan iqamat. Setelah itu, mereka pun meminta Abu Bakar untuk menjadi imam shalat. Tak lama kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah siuman dan kembali bertanya, ‘Apakah telah dikumandangkan iqamat untuk shalat?’ aku menjawab, ‘ya, iqamat untuk shalat telah dikumandangkan.’ lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Tolong, suruhlah kemari seseorang untuk menopang tubuhku!’ kemudian para sahabat memanggil Barirah dan seorang laki-laki lainnya untuk menopang tubuh Rasulullah ke tempat shalat. Setelah itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diletakkan di samping Abu Bakar yang sedang berdiri menjadi imam shalat. Ketika merasakan kehadiran Rasulullah di sampingnya, Abu Bakar bergegas untuk mundur ke belakang. Akan tetapi, ternyata, Rasulullah malah menahan dirinya agar tetap di tempat hingga shalat selesai.” Ini adalah hadis Qasim bin Muhammad.

Shahih Ibnu Khuzaimah 1638

صحيح ابن خزيمة 1638: نا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الدَّوْرَقِيُّ، وَمُحَمَّدُ بْنُ هِشَامٍ قَالَا: ثنا أَبُو بَكْرِ بْنُ عَيَّاشٍ، ثنا عَاصِمٌ، وَقَالَ مُحَمَّدٌ: عَنْ عَاصِمٍ، عَنْ زِرِّ بْنِ حُبَيْشٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَعَلَّكُمْ سَتُدْرِكُونَ أَقْوَامًا يُصَلُّونَ الصَّلَاةَ لِغَيْرِ وَقْتِهَا، فَإِنْ أَدْرَكْتُمُوهُمْ فَصَلُّوا فِي بُيُوتِكُمْ لَلْوَقْتِ الَّذِي تَعْرِفُونَ، ثُمَّ صَلُّوا مَعَهُمْ، وَاجْعَلُوهَا سُبْحَةً»

Shahih Ibnu Khuzaimah 1638: Ya’kub bin Ibrahim Ad-Dauraqi dan Muhammad bin Hisyam memberitakan kepada kami,mereka berdua berkata, “Abu Bakar bin ‘Iyas memberitakan kepada kami, ‘Ashim memberitakan kepada kami, dan Muhammad berkata: ‘Aku mendengar hadis tersebut dari ‘Ashim, dari Zirr bin Hubaisy, dari Abdullah bin Mas’ud yang telah berkata, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, ‘Suatu saat kalian mungkin akan bertemu dengan masyarakat muslim yang melaksanakan shalat bukan pada waktunya. Apabila kalian bertemu dengan mereka, maka shalatlah tepat pada waktunya di rumah kalian. Setelah itu, shalatlah berjama’ah bersama mereka dan jadikanlah shalat tersebut sebagai shalat tasbih (bagi kalian).”