Skip to main content

Mustadrak Hakim 334

المستدرك 334: حَدَّثَنَا أَبُو الْعَبَّاسِ مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوبَ، أَنْبَأَ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ الْحَكَمِ، أَنْبَأَ ابْنُ وَهْبٍ، أَخْبَرَنِي مُعَاوِيَةُ بْنُ صَالِحٍ، وَحدثنا أَبُو النَّصْرِ مُحَمَّدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ يُوسُفَ الْفَقِيهُ، وَاللَّفْظُ لَهُ، ثنا عُثْمَانُ بْنُ سَعِيدٍ الدَّارِمِيُّ، ثنا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ صَالِحٍ، حَدَّثَنِي مُعَاوِيَةُ بْنُ صَالِحٍ، أَخْبَرَنِي رَبِيعَةُ بْنُ يَزِيدَ، عَنْ أَبِي إِدْرِيسَ الْخَوْلَانِيِّ، عَنْ يَزِيدَ بْنِ عَمِيرَةَ، أَنَّ مُعَاذَ بْنَ جَبَلٍ، لَمَّا حَضَرَتْهُ الْوَفَاةُ، قَالُوا: يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَوْصِنَا، قَالَ: أَجْلِسُونِي، ثُمَّ قَالَ: إِنَّ الْعِلْمَ وَالْإِيمَانَ مَكَانَهُمَا مَنِ الْتَمَسَهُمَا وَجَدَهُمَا، قَالَ ذَلِكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، وَالْتَمِسُوا الْعِلْمَ عِنْدَ أَرْبَعَةِ رَهْطٍ: عِنْدَ عُوَيْمِرٍ أَبِي الدَّرْدَاءِ، وَعِنْدَ سَلْمَانَ الْفَارِسِيِّ، وَعِنْدَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ، وَعِنْدَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَلَامٍ، فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ: «إِنَّهُ عَاشِرُ عَشَرَةٍ فِي الْجَنَّةِ» . «هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِ الشَّيْخَيْنِ، وَيَزِيدُ بْنُ عَمِيرَةَ السَّكْسَكِيُّ صَاحِبُ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ وَقَدْ شَهِدَ مَكْحُولٌ الدِّمَشْقِيُّ لِيَزِيدَ بِذَلِكَ، وَهُوَ مِمَّا يَسْتَشْهِدُ مَكْحُولٌ عَنْ يَزِيدَ مُتَابَعَةً لِأَبِي إِدْرِيسَ الْخَوْلَانِيِّ»

Al Mustadrak 334: Abu Al Abbas Muhammad bin Ya’qub menceritakan kepada kami, Muhammad bin Abdullah bin Al Hakam memberitakan (kepada kami), Ibnu Wahab memberitakan (kepada kami), Mu’awiyah bin Shalih mengabarkan kepadaku. Abu An-Nadhr Muhammad bin Muhammad bin Yusuf Al Faqih menceritakan kepada kami dengan redaksinya, Utsman bin Sa’id Ad-Darimi menceritakan kepada kami, Abdullah bin Shalih menceritakan kepada kami, Mu’awiyah bin Shalih menceritakan kepadaku, Rabi’ah bin Yazid mengabarkan kepadaku dari Abu Idris Al Khaulani, dari Yazid bin Umairah, bahwa ketika Mu’adz bin Jabal telah dekat ajalnya, mereka berkata, ”Wahai Abu Abdurrahman, berilah kami wasiat.” Dia lalu berkata, ”Dudukkanlah aku.” Kemudian dia berkata, “Sesungguhnya ilmu dan iman itu ada pada tempatnya, maka barangsiapa mencarinya, dia akan menemukannya.” Dia berkata demikian sebanyak tiga kali. (Dia berkata lagi), “Juga carilah ilmu pada empat orang (yaitu): Uwaimir Abu Ad-Darda’, Salman Al Farisi, Abdullah bin Mas’ud, dan Abdullah bin Salam, karena aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya dia (Abdullah bin Salam) merupakan yang kesepuluh di antara sepuluh (sahabat) yang (dijamin) masuk surga” Hadis shahih ini sesuai syarat Al Bukhari dan Muslim. Yazid bin Umairah As-Saksaki adalah sahabat Mu’adz bin Jabal. Makhul Ad-Dimasyqi telah menyaksikan (mengakui) bahwa Yazid memang demikian. Dialah yang meriwayatkan dari Yazid sebuah hadis sebagai syahid terhadap riwayat Abu Idris Al Khaulani.

Mustadrak Hakim 335

المستدرك 335: حَدَّثَنَا أَبُو الْعَبَّاسِ مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوبَ، أَنْبَأَ الْعَبَّاسُ بْنُ الْوَلِيدِ بْنِ مَزْيَدٍ الْبَيْرُوتِيُّ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ شُعَيْبِ بْنِ شَابُورَ، حَدَّثَنِي النُّعْمَانُ بْنُ الْمُنْذِرِ، عَنْ مَكْحُولٍ، قَالَ: وَجِعَ مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ يَوْمًا وَعِنْدَهُ يَزِيدُ بْنُ عَمِيرَةَ الزُّبَيْدِيُّ فَبَكَى عَلَيْهِ يَزِيدُ، فَقَالَ لَهُ مُعَاذٌ: مَا يُبْكِيكَ؟ قَالَ: يُبْكِينِي مَا كُنْتُ أَسْأَلُكَ كُلَّ يَوْمٍ يَنْقَطِعُ عَنِّي، فَقَالَ مُعَاذٌ: «إِنَّ الْعِلْمَ وَالْإِيمَانَ بَشَّاشَانِ قُمْ فَالْتَمِسْهُمَا» قَالَ يَزِيدُ: وَعِنْدَ مَنْ أَلْتَمِسُهُمَا؟ فَقَالَ مُعَاذٌ: ” عِنْدَ أَرْبَعَةِ نَفَرٍ: عِنْدَ عُوَيْمِرٍ أَبِي الدَّرْدَاءِ، وَعِنْدَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ، وَعِنْدَ سَلْمَانَ الْفَارِسِيِّ، وَعِنْدَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَلَامٍ، فَإِنَّهُ كَانَ يُقَالُ: إِنَّهُ عَاشِرُ عَشَرَةٍ فِي الْجَنَّةِ ” قَالَ يَزِيدُ: فَقُلْتُ: وَعِنْدَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ، فَقَالَ: «لَا تَسْأَلْهُ عَنْ شَيْءٍ فَإِنَّهُ عَنْكَ مَشْغُولٌ» . وَقَدْ رَوَى الزُّهْرِيُّ، عَنْ أَبِي إِدْرِيسَ طَرَفًا مِنْ هَذَا الْحَدِيثِ

Al Mustadrak 335: Abu Al Abbas Muhammad bin Ya’qub menceritakan kepada kami, Al Abbas bin Al Walid bin Mazid Al Bairuti memberitahukan (kepada kami), Muhammad bin Syu’aib bin Syabur menceritakan kepada kami, An-Nu’man bin Al Mundzir menceritakan kepadaku dari Makhul, dia berkata: Suatu hari Mu’adz merasa sakit, dan di sampingnya ada Yazid bin Umairah Az-Zubaidi. Yazid menangisi Mu’adz, maka Mu’adz bertanya kepadanya, “Apa yang membuatmu menangis?” Yazid menjawab, “Aku menangisimu karena aku selalu bertanya kepadamu tentang segala hal setiap hari dan tidak pernah berhenti.” Mu’adz lalu berkata, “Sesungguhnya ilmu dan iman selalu bersama, maka berdirilah dan carilah keduanya.” Yazid lalu bertanya, “Kepada siapakah aku harus mencarinya?” Mu’adz menjawab, “Kepada empat orang (yaitu) Uwaimir Abu Ad-Darda’, Abdullah bin Mas’ud, Salman Al Farisi, dan Abdullah bin Salam, karena telah disabdakan (Oleh Nabi ) bahwa dia (Abdullah bin Salam) merupakan orang yang kesepuluh dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga.” Yazid lalu bertanya, “Juga kepada Umar bin Khaththab?” Mu’adz menjawab, “Jangan kamu bertanya apa pun kepadanya, karena dia orang yang sibuk.” Az-Zuhri telah meriwayatkan beberapa bagian hadis ini dari Abu Idris:

Mustadrak Hakim 304

المستدرك 304: حَدَّثَنَاهُ أَبُو الطَّيِّبِ مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ الْحَسَنِ الْجَبْرِيُّ، ثنا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحِيمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ السُّلَمِيُّ، ثنا عَبْدَانُ بْنُ عُثْمَانَ، وَسَعْدُ بْنُ يَزِيدَ الْفَرَّاءُ، قَالَا: ثنا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ، عَنْ عَمْرِو بْنِ ثَابِتٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عَقِيلٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ، عَنْ أَبِيهِ، أَنَّ رَجُلًا أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيُّ الْبِلَادِ شَرٌّ؟ قَالَ: «لَا أَدْرِي» فَلَمَّا أَتَى جِبْرِيلُ مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: يَا جِبْرِيلُ أَيُّ الْبِلَادِ شَرٌّ؟ قَالَ: لَا أَدْرِي حَتَّى أَسْأَلَ رَبِّي، فَانْطَلَقَ جِبْرِيلُ فَمَكَثَ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَمْكُثَ ثُمَّ جَاءَ، فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ، سَأَلْتَنِي أَيُّ الْبِلَادِ شَرٌّ؟ وَإِنِّي قُلْتُ: لَا أَدْرِي، وَإِنِّي سَأَلْتُ رَبِّي أَيُّ الْبِلَادِ شَرٌّ؟ فَقَالَ: «أَسْوَاقُهَا» . «عَمْرُو بْنُ ثَابِتٍ هَذَا هُوَ ابْنُ أَبِي الْمِقْدَامِ الْكُوفِيُّ، وَلَيْسَ مِنْ شَرْطِ الشَّيْخَيْنِ، وَإِنَّمَا ذَكَرْتُهُ شَاهِدًا، وَرِوَايَةُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْمُبَارَكِ عَنْهُ حَتَّى حَثَّنِي عَلَى إِخْرَاجِهِ فَإِنِّي قَدْ عَلَوْتُ فِيهِ مِنْ وَجْهٍ لَا يُعْتَمَدُ»

Al Mustadrak 304: Abu Ath-Thayyib Muhammad bin Ahmad bin Al Hasan Al Jabari menceritakan kepada kami, Abu Abdillah Muhammad bin Abdurrahim bin Abdullah bin Mas’ud As-Sulami menceritakan kepada kami, Abdan bin Utsman dan Sa’ad bin Yazid Al Farra’ menceritakan kepada kami, keduanya berkata: Abdullah bin Al Mubarak menceritakan kepada kami dari Amr bin Tsabit, dari Abdullah bin Muhammad bin Aqil, dari Muhammad bin Jubair bin Muth’im, dari ayahnya, bahwa seorang laki-laki mendatangi Nabi dan bertanya, ”Wahai Rasulullah, negeri (kawasan) manakah yang paling jelek?” Beliau menjawab, ”Aku tidak tahu” Ketika Jibril datang kepadanya, beliau bertanya, ”Wahai Jibril, negeri manakah yang paling jeleki” Jibril menjawab, ”Aku tidak tahu, akan aku tanyakan dulu kepada Tuhanku.” Jibril pun berlalu untuk beberapa saat lamanya, kemudian dia datang lagi dan berkata, ”Wahai Muhammad, tadi kamu bertanya kepadaku tentang negeri yang paling jelek dan aku jawab tidak tahu. Tadi sudah aku tanyakan kepada Tuhanku, lalu Dia berfirman, ‘Pasar-pasarnya’.” Amr bin Tsabit di sini adalah Ibnu Abi Al Miqdam Al Kufi. Dia tidak termasuk dalam syarat Al Bukhari dan Muslim. Aku menyebutkannya hanya sebagai syahid. Riwayat Abdullah bin Al Mubarak darinya telah mendorongku untuk meriwayatkannya, tapi aku telah meriwayatkannya dengan sanad ali, karena jalur periwayatan yang tidak bisa dijadikan pegangan.

Mustadrak Hakim 320

المستدرك 320: أَخْبَرَنَا أَبُو مُحَمَّدٍ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ إِسْحَاقَ بْنِ الْخُرَاسَانِيِّ الْعَدْلُ، بِبَغْدَادَ، ثنا يَحْيَى بْنُ جَعْفَرِ بْنِ الزِّبْرِقَانِ، ثنا أَبُو دَاوُدَ سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ، ثنا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ، عَنْ ثَابِتٍ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: كَانَ أَخَوَانِ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَانَ أَحَدُهُمَا يَأْتِي النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْآخَرُ يَحْتَرِفُ، فَشَكَا الْمُحْتَرِفُ أَخَاهُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: «لَعَلَّكَ تُرْزَقُ بِهِ» . «هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِ مُسْلِمٍ وَرُوَاتُهُ عَنْ آخِرِهِمْ أَثْبَاتٌ ثِقَاتٌ، وَلَمْ يُخَرِّجَاهُ»

Al Mustadrak 320: Abu Muhammad Abdullah bin Ishaq bin Al Khurasani Al Adi mengabarkan kepada kami di Baghdad, Yahya bin Ja’far bin Az-Zabarqan menceritakan kepada kami, Abu Daud Sulaiman bin Daud menceritakan kepada kami, Hammad bin Salamah menceritakan kepada kami dari Tsabit, dari Anas bin Malik, dia berkata: Pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ada dua orang bersaudara, dan salah seorang dari keduanya mendatangi Nabi (untuk menuntut ilmu), sedangkan yang satunya lagi bekerja. Orang yang bekerja lalu mengadukan saudaranya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau bersabda, “Bisa jadi kamu diberi rezeki karena sebab dia” Hadis ini shahih sesuai syarat Muslim. Para periwayatnya dari yang terakhir merupakan periwayat yang tsabat tsiqah, tapi Al Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkannya.

Mustadrak Hakim 305

المستدرك 305: حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ حَمْشَاذَ الْعَدْلُ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ غَالِبٍ، ثنا عَبْدُ الصَّمَدِ بْنُ النُّعْمَانِ، ثنا عَمْرُو بْنُ ثَابِتٍ، فَذَكَرَهُ بِنَحْوِهِ. «وَعَبْدُ الصَّمَدِ بْنُ النُّعْمَانِ لَيْسَ مِنْ شَرْطِ هَذَا الْكِتَابِ» وَلِهَذَا الْحَدِيثِ شَاهِدٌ آخَرُ مِنْ حَدِيثِ ابْنِ عُمَرَ

Al Mustadrak 305: Ali bin Hamasyad Al Adi menceritakan kepada kami, Muhammad bin Ghalib menceritakan kepada kami, Abdushshamad bin An-Nu’man menceritakan kepada kami, Amr bin Tsabit menceritakan kepada kami. Dia lalu menyebutkannya dengan redaksi yang serupa. Abdushshamad bin An-Nu’man bukanlah termasuk syarat dalam kitab ini. Hadis ini memiliki syahid lain dari hadis Ibnu Umar, yaitu:

Mustadrak Hakim 306

المستدرك 306: حَدَّثَنَاهُ أَبُو حَفْصٍ عُمَرُ بْنُ مُحَمَّدٍ التُّجِيبِيُّ، بِمَكَّةَ، فِي دَارِ أَبِي بَكْرِ الصِّدِّيقِ، ثنا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ، ثنا إِسْحَاقُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ، ثنا جَرِيرٌ، عَنْ عَطَاءِ بْنِ السَّائِبِ، عَنْ مُحَارِبِ بْنِ دِثَارٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الْبِقَاعِ خَيْرٌ؟ فَقَالَ: «لَا أَدْرِي» فَقَالَ: أَيُّ الْبِقَاعِ شَرٌّ؟ فَقَالَ: «لَا أَدْرِي» فَقَالَ: سَلْ رَبَّكَ، قَالَ: فَلَمَّا نَزَلَ جِبْرِيلُ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” إِنِّي سُئِلْتُ أَيُّ الْبِقَاعِ خَيْرٌ وَأَيُّ الْبِقَاعِ شَرٌّ؟ فَقُلْتُ: لَا أَدْرِي ” فَقَالَ: جِبْرِيلُ: وَأَنَا لَا أَدْرِي حَتَّى أَسْأَلَ رَبِّي، قَالَ: فَانْتَفَضَ جِبْرِيلُ انْتِفَاضَةً كَادَ أَنْ يُصْعَقَ مِنْهَا مُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ اللَّهُ: يَا جِبْرِيلُ يَسْأَلُكَ مُحَمَّدٌ أَيُّ الْبِقَاعِ خَيْرٌ؟ فَقُلْتَ: لَا أَدْرِي، فَسَأَلَكَ أَيُّ الْبِقَاعِ شَرٌّ فَقُلْتَ: لَا أَدْرِي، وَإِنَّ خَيْرَ الْبِقَاعِ الْمَسَاجِدُ، وَشَرَّ الْبِقَاعِ الْأَسْوَاقُ “

Al Mustadrak 306: Abu Hafsh Umar bin Muhammad At-Tujibi menceritakan kepada kami di Makkah, di rumah Abu Bakar Shiddiq, Ali bin Abdul Aziz menceritakan kepada kami, Ishaq bin Ismail menceritakan kepada kami, Jarir menceritakan kepada kami dari Atha bin As-Saib, dari Muharib bin Ditsar, dari Ibnu Umar, dia berkata: Seorang laki-laki mendatangi Nabi dan bertanya, ”Wahai Rasulullah, tempat apakah yang paling baik?” Beliau menjawab, ”Aku tidak tahu” Dia bertanya lagi, ”Kawasan (tempat) apakah yang paling jelek?” Beliau menjawab, ”Aku tidak tahu” Laki-laki itu bertanya lagi, ”Tanyakanlah kepada Tuhanmu.” Ibnu Umar lebih lanjut berkata: Ketika Jibril turun, Rasulullah bertanya, ”Tadi aku ditanya tentang tempat yang paling baik dan tempat yang paling buruk, lalu aku menjawab tidak tahu.” Jibril lalu berkata, ”Aku juga tidak tahu, akan aku tanyakan dulu kepada Tuhanku.” ‘ Ibnu Umar berkata lagi: Jibril lalu bergetar dengan sekali getar, hingga Muhammad hampir saja pingsan. Allah kemudian berfirman, ”Wahai Jibril, Muhammad bertanya kepadamu tentang tempat yang paling baik dan kamu menjawab tidak tahu, dia juga bertanya kepadamu tentang tempat yang paling buruk dan kamu menjawab tidak tahu (Ketahuilah) bahwa tempat (kawasan) yang paling baik adalah masjid-masjid dan tempat yang paling buruk adalah pasar-pasar.”

Mustadrak Hakim 307

المستدرك 307: حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ إِسْحَاقَ الْفَقِيهُ، وَعَلِيُّ بْنُ حَمْشَاذَ، قَالَا: ثنا بِشْرُ بْنُ مُوسَى، ثنا الْحُمَيْدِيُّ، ثنا سُفْيَانُ، ثنا ابْنُ جُرَيْجٍ، وَحدثنا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ بْنُ يَعْقُوبَ، ثنا يَحْيَى بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ يَحْيَى، ثنا مُسَدَّدٌ، ثنا سُفْيَانُ، وَأَخْبَرَنِي مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ عُمَرَ، ثنا أَحْمَدُ بْنُ سَلَمَةَ، ثنا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ بِشْرٍ، ثنا سُفْيَانُ، عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ، عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «يُوشِكُ النَّاسُ أَنْ يَضْرِبُوا أَكْبَادَ الْإِبِلِ فَلَا يَجِدُونَ عَالِمًا أَعْلَمَ مِنْ عَالِمِ الْمَدِينَةِ» . «هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِ مُسْلِمٍ، وَلَمْ يُخَرِّجَاهُ، وَقَدْ كَانَ ابْنُ عُيَيْنَةَ رُبَّمَا يَجْعَلُهُ رِوَايَةً»

Al Mustadrak 307: Abu Bakar bin Ishaq Al Faqih dan Ali bin Hamsyad menceritakan kepada kami, keduanya berkata: Bisyr bin Musa menceritakan kepada kami, Al Humaidi menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, Ibnu Juraij menceritakan kepada kami. Abu Abdillah bin Ya’qub menceritakan kepada kami, Yahya bin Muhammad bin Yahya menceritakan kepada kami, Musaddad menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami. Muhammad bin Ahmad bin Umar mengabarkan kepadaku, Ahmad bin Salamah menceritakan kepada kami, Abdurrahman bin Bisyr menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami dari Ibnu Juraij, dari Abu Az-Zubair, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Hampir saja orang-orang memukul hati-hati unta (yakni melakukan perjalanan cepat) hingga mereka tidak mendapatkan orang yang lebih pandai dari ulama Madinah.” Hadis ini shahih sesuai syarat Muslim, tapi keduanya tidak meriwayatkannya. Bisa jadi Ibnu Uyainah menjadikannya sebagai riwayat.

Mustadrak Hakim 308

المستدرك 308: كَمَا حَدَّثَنَاهُ أَبُو بَكْرٍ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْجَرَّاحِيُّ، بِمَرْوَ، ثنا عَبْدَانُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عِيسَى الْحَافِظُ، ثنا عَبْدُ الْجَبَّارِ بْنُ الْعَلَاءِ، وَمُحَمَّدُ بْنُ مَيْمُونٍ، قَالَا: ثنا سُفْيَانُ، عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ، عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، رِوَايَةً، قَالَ: «يُوشِكُ النَّاسُ أَنْ يَضْرِبُوا أَكْبَادَ الْإِبِلِ» الْحَدِيثَ. ” وَلَيْسَ هَذَا مِمَّا يُوهِنُ الْحَدِيثَ فَإِنَّ الْحُمَيْدِيَّ هُوَ الْحَكَمُ فِي حَدِيثِهِ لِمَعْرِفَتِهِ بِهِ وَكَثْرَةِ مُلَازَمَتِهِ لَهُ وَقَدْ كَانَ ابْنُ عُيَيْنَةَ، يَقُولُ: نَرَى هَذَا الْعَالِمَ مَالِكَ بْنَ أَنَسٍ “

Al Mustadrak 308: Abu Bakar Muhammad bin Abdullah Al Jarahi menceritakan kepada kami di Marwa, Abdan bin Muhammad bin Isa Al Hafizh menceritakan kepada kami, Abdul Jabbar bin Al Ala’ dan Muhammad bin Maimun menceritakan kepada kami, keduanya berkata: Sufyan menceritakan kepada kami dari Ibnu Juraij, dari Abu Az-Zubair, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah, yang merupakan suatu riwayat, dia berkata, ”Hampir saja orang-orang memukul hati-hati unta.” Riwayat ini tidak melemahkan hadis ini, karena Al Humaidi adalah orang yang teliti dalam mengamati suatu hadis, dan sering menetap untuk mendapatkan hadis. Ibnu Uyainah berkata, ”Kami memandang bahwa yang dimaksud ulama Madinah tersebut adalah Malik bin Anas.”

Mustadrak Hakim 309

المستدرك 309: حَدَّثَنَا أَبُو الْعَبَّاسِ مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوبَ، أَنْبَأَ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ الْحَكَمِ، أَنْبَأَ ابْنُ وَهْبٍ، أَخْبَرَنَا أَبُو صَخْرٍ، عَنْ سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: ” مَنْ جَاءَ مَسْجِدَنَا هَذَا يَتَعَلَّمُ خَيْرًا أَوْ يُعَلِّمُهُ فَهُوَ كَالْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَمَنْ جَاءَ بِغَيْرِ هَذَا كَانَ كَالرَّجُلِ يَرَى الشَّيْءَ يُعْجِبُهُ وَلَيْسَ لَهُ وَرُبَّمَا قَالَ: يَرَى الْمُصَلِّينَ وَلَيْسَ مِنْهُمْ، وَيَرَى الذَّاكِرِينَ وَلَيْسَ مِنْهُمْ “

Al Mustadrak 309: Abu Al Abbas Muhammad bin Ya’qub menceritakan kepada kami, Muhammad bin Abdullah bin Abdul Hakam mengabarkan kepada kami, Ibnu Wahab mengabarkan kepada kami, Abu Shakhr mengabarkan kepada kami dari Sa’id Al Maqburi, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, ”Barangsiapa mendatangi masjid kami ini untuk mempelajari kebaikan atau mengajarkannya, maka dia seperti orang yang berjihad di jalan Allah. (Sedangkan) barangsiapa datang untuk selain tujuan ini, maka dia seperti orang yang melihat sesuatu yang membuatnya kagum tapi bukan miliknya.” Terkadang beliau bersabda, ”Seperti orang yang melihat orang-orang sedang shalat, tapi dia sendiri tidak termasuk dari mereka (tidak ikut shalat). (Juga) seperti orang yang melihat orang- orang yang sedang berdzikir, tapi dia sendiri tidak termasuk dari mereka”

Mustadrak Hakim 310

المستدرك 310: حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَاقَ الْخُزَاعِيُّ، ثنا أَبُو يَحْيَى عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ زَكَرِيَّا بْنِ أَبِي مَسَرَّةَ، ثنا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يَزِيدَ الْمُقْرِئُ، ثنا حَيْوَةُ بْنُ شُرَيْحٍ، أَخْبَرَنِي أَبُو صَخْرٍ، أَنَّ سَعِيدَ الْمَقْبُرِيَّ، أَخْبَرَهُ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ، يَقُولُ: إِنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ: «مَنْ دَخَلَ مَسْجِدَنَا هَذَا لِيَتَعَلَّمَ خَيْرًا أَوْ يُعَلِّمَهُ كَانَ كَالْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَمَنْ دَخَلَهُ بِغَيْرِ ذَلِكَ كَانَ كَالنَّاظِرِ إِلَى مَا لَيْسَ لَهُ» . «هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِ الشَّيْخَيْنِ، فَقَدِ احْتَجَّا بِجَمِيعِ رُوَاتِهِ ثُمَّ لَمْ يُخَرِّجَاهُ، وَلَا أَعْلَمُ لَهُ عِلَّةً بَلْ لَهُ شَاهِدٌ ثَالِثٌ عَلَى شَرْطِهِمَا جَمِيعًا»

Al Mustadrak 310: Abdullah bin Muhammad bin Ishaq Al Khuza’i menceritakan kepada kami, Abu Yahya Abdullah bin Ahmad bin Zakaria bin Abu Masarrah menceritakan kepada kami, Abdullah bin Yazid Al Muqri menceritakan kepada kami, Haiwah bin Syuraih menceritakan kepada kami, Abu Shakhr mengabarkan kepadaku bahwa Sa’id Al Maqburi mengabarkan kepadanya, bahwa dia pernah mendengar Abu Hurairah berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Barangsiapa memasuki masjid kami untuk belajar kebaikan (ilmu agama) atau untuk mengajarkannya, maka dia seperti orang yang berjihad di jalan Allah. (Sedangkan) barangsiapa memasukinya untuk tujuan selain itu, maka dia seperti melihat sesuatu yang bukan miliknya” Hadis ini shahih sesuai syarat Al Bukhari dan Muslim. Keduanya sama-sama berhujjah dengan seluruh periwayatnya, tapi tidak meriwayatkannya. Sejauh yang aku ketahui, hadis ini tidak ber-illat namun justru memiliki hadis syahid ketiga yang sesuai syarat keduanya.