Skip to main content

Musnad Syafi’i 1259

مسند الشافعي 1259: أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ، عَنْ أَبِي الزِّنَادِ، عَنِ الْقَاسِمِ بْنِ مُحَمَّدٍ قَالَ: شَهِدْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ يُحَدِّثُ بِحَدِيثِ الْمُتَلَاعِنَيْنِ فَقَالَ لَهُ ابْنُ شَدَّادٍ: أَهِيَ الَّتِي قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَوْ كُنْتُ رَاجِمًا أَحَدًا بِغَيْرِ بَيِّنَةٍ رَجَمْتُهَا» ؟ فَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: لَا، تِلْكُ امْرَأَةٌ قَدْ أَعْلَنَتْ

Musnad Syafi’i 1259: Sufyan mengabarkan kepada kami dari Abu Az-Zinad, dari Al Qasim bin Muhammad, ia mengatakan: Bahwa ia pernah menyaksikan Ibnu Abbas menceritakan hadis tentang 2 orang yang berli’an. Maka Ibnu Syadad berkata kepadanya, “Apakah wanita tersebut adalah orang yang dikatakan oleh Nabi , ‘Seandainya aku merajam seseorang tanpa saksi, niscaya aku akan merajamnya?'” Ibnu Abbas menjawab, “Bukan, wanita itu yang telah mengakui dirinya.” 494

Musnad Syafi’i 1258

مسند الشافعي 1258: أَخْبَرَنَا سَعِيدُ بْنُ سَالِمٍ، عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ، أَخِي بَنِي سَاعِدَةَ أَنَّ رَجُلًا، مِنَ الْأَنْصَارِ جَاءَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَرَأَيْتَ رَجُلًا وَجَدَ مَعَ امْرَأَتِهِ رَجُلًا، أَيَقْتُلُهُ فَتَقْتُلُونَهُ، أَمْ كَيْفَ يَصْنَعُ؟ فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي شَأْنِهِ مَا ذُكِرَ فِي الْقُرْآنِ مِنْ أَمْرِ الْمُتَلَاعِنَيْنِ، قَالَ: فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «قَدْ قُضِيَ فِيكَ وَفِي امْرَأَتِكَ» . قَالَ: فَتَلَاعَنَا وَأَنَا شَاهِدٌ ثُمَّ فَارَقَهَا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَكَانَتْ سُنَّةٌ بَعْدَهُمَا أَنْ يُفَرَّقَ بَيْنَ الْمُتَلَاعِنَيْنِ، وَكَانَتْ حَامِلًا فَأَنْكَرَهَا، فَكَانَ ابْنُهَا يُدْعَى إِلَى أُمِّهِ

Musnad Syafi’i 1258: Sa’id bin Salim mengabarkan kepada kami dari Ibnu Juraij, dari Ibnu Syihab, dari Sahi bin Sa’d, saudara lelaki Bani Sa’idah: Bahwa seorang lelaki dari Anshar datang kepada Nabi , lalu berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah pendapatmu tentang seorang lelaki yang menjumpai istrinya bersama lelaki lain, lalu ia membunuhnya; apakah kalian akan balas membunuhnya, atau bagaimana yang harus ia perbuat?” Maka, Allah menurunkan sehubungan dengan masalah keduanya hal-hal yang disebut di dalam Al Qur’an menyangkut perkara 2 orang yang saling berli’an. Kemudian Rasulullah bersabda kepadanya, “Telah diputuskan masalah kamu dengan istrimu itu.” Sahi berkata, “Maka keduanya saling berli’an, sedangkan aku menyaksikan hal itu, kemudian lelaki itu menceraikan istrinya di hadapan Nabi . Maka, ketentuan Sunnah sesudah keduanya ialah menceraikan suami-istri yang saling berli’an. Wanita itu sedang hamil dan si suami mengingkarinya, maka anaknya dinisbatkan kepada ibunya.” 493

Musnad Syafi’i 1257

مسند الشافعي 1257: أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ أَبِي ذِئْبٍ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ، أَنَّ عُوَيْمِرًا، جَاءَ إِلَى عَاصِمٍ فَقَالَ: أَرَأَيْتَ لَوْ أَنَّ رَجُلًا وَجَدَ مَعَ امْرَأَتِهِ رَجُلًا فَقَتَلَهُ، أَتَقْتُلُونَهُ؟ سَلْ لِي يَا عَاصِمُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَسَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَكَرِهَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَسَائِلَ وَعَابَهَا، فَرَجَعَ عَاصِمٌ إِلَى عُوَيْمِرٍ فَأَخْبَرَهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَرِهَ الْمَسَائِلَ وَعَابَهَا، فَقَالَ عُوَيْمِرٌ: وَاللَّهِ لَآتِيَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَجَاءَ وَقَدْ نَزَلَ الْقُرْآنُ خِلَافَ عَاصِمٍ، فَسَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: «قَدْ نَزَلَ فِيكُمَا الْقُرْآنُ» . فَتَقَدَّمَا فَتَلَاعَنَا ثُمَّ قَالَ: كَذَبْتُ عَلَيْهَا إِنْ أَمْسَكْتُهَا، فَفَارَقَهَا وَمَا أَمَرَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَمَضَتْ سُنَّةُ الْمُتَلَاعِنَيْنِ. وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «انْظُرُوهَا، فَإِنْ جَاءَتْ بِهِ أُحَيْمِرَ قَصِيرًا كَأَنَّهُ وَحَرَةٌ فَلَا أَحْسِبُهُ إِلَّا قَدْ كَذَبَ عَلَيْهَا، وَإِنْ جَاءَتْ بِهِ أَسْحَمَ، أَعْيَنَ، ذَا أَلْيَتَيْنِ، فَلَا أَحْسِبُهُ إِلَّا قَدْ صَدَقَ عَلَيْهَا» . فَجَاءَتْ بِهِ عَلَى النَّعْتِ الْمَكْرُوهِ. سَمِعْتُ إِبْرَاهِيمَ بْنِ سَعْدٍ يُحَدِّثُ عَنْ أَبِيهِ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيِّبِ وَعُبَيْدِ اللَّهِ بْنُ عُتْبَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِنْ جَاءَتْ بِهِ أَشْقَرَ سَبِطًا فَهُوَ لِزَوْجِهَا، وَإِنْ جَاءَتْ بِهِ أُدَيْعِجَ فَهُوَ لِلَّذِي يَتَّهِمُهُ “. قَالَ: فَجَاءَتْ بِهِ أُدَيْعِجَ

Musnad Syafi’i 1257: Abdullah bin Nafi’ mengabarkan kepada kami dari Muhammad bin Abu Dzi’b, dari Ibnu Syihab, dari Sahi bin Sa’d: Bahwa Uwaimir datang kepada Ashim, lalu berkata, “Bagaimanakah pendapatmu bila ada seorang lelaki menjumpai istrinya bersama lelaki lain, lalu ia membunuhnya? Apakah mereka akan balas membunuhnya? Tanyakanlah, hai Ashim, kepada Rasulullah demi aku.” Maka Ashim menanyakan hal itu kepada Rasulullah , dan ternyata beliau tidak menyukai pertanyaan itu, bahkan mencelanya. Maka Ashim kembali kepada Uwaimir, lalu menceritakan kepadanya bahwa Nabi benci terhadap pertanyaan itu dan mencelanya. Uwaimir berkata, “Demi Allah, aku benar-benar akan datang sendiri kepada Rasulullah .” Maka ia datang, sedangkan Al Qur’an telah diturunkan sepeninggal Ashim; lalu Uwaimir bertanya kepada Rasulullah , dan beliau menjawab, “Allah telah menurunkan Al Qur’an mengenai masalah kamu berdua” Kemudian 2 orang yang bersangkutan dihadapkan, dan keduanya saling berli’an. Kemudian Uwaimir berkata, “Aku dusta terhadapnya bila aku merujuknya.” Lalu Uwaimir menceraikannya, padahal Nabi tidak memerintahkannya; maka seperti itulah ketentuan bagi 2 orang yang berli’an. Rasulullah bersabda, “Perhatikanlah oleh kalian, jika dia melahirkan anak yang berkulit merah lagi pendek seperti waharah, maka aku menduga tiada lain dia telah berdusta terhadap istrinya Jika si istri melahirkan bayinya dengan berkulit hitam, bermata lebar dan pantat yang besar, maka aku menduga tiada lain dia benar terhadapnya.” Dan, ternyata wanita itu melahirkan bayi dalam bentuk yang tidak disukai. Aku pemah mendengar Ibrahim bin Sa’d menceritakan sebuah hadis dari ayahnya, dari Sa’id bin Musayyab dan Ubaidillah bin Abdullah bin Utbah bahwa Nabi telah bersabda, “Jika dia melahirkan anak dengan rambut yang pirang lagi lurus, maka anak itu dari suaminya; dan jika ternyata anaknya hitam lagi berambut keriting maka anak itu dari orang yang dituduhnya ” Ternyata dia melahirkan anak yang berkulit hitam. 493

Musnad Syafi’i 1256

مسند الشافعي 1256: أَخْبَرَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدٍ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ، أَخْبَرَهُ قَالَ: جَاءَ عُوَيْمِرٌ الْعَجْلَانِيُّ إِلَى عَاصِمِ بْنِ عَدِيٍّ فَقَالَ: يَا عَاصِمَ بْنَ عَدِيٍّ، سَلْ لِي رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ رَجُلٍ وَجَدَ مَعَ امْرَأَتِهِ رَجُلًا فَيَقْتُلُهُ، أَيُقْتَلُ بِهِ أَمْ كَيْفَ يَصْنَعُ؟ فَسَأَلَ عَاصِمٌ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَعَابَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَسَائِلَ، فَلَقِيَهُ عُوَيْمِرٌ فَقَالَ: مَا صَنَعْتَ؟ قَالَ: صَنَعْتُ إِنَّكَ لَمْ تَأْتِنِي بِخَيْرٍ، سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَابَ الْمَسَائِلَ، فَقَالَ عُوَيْمِرٌ: وَاللَّهِ لَآتِيَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَأَسْأَلَنَّهُ، فَأَتَاهُ فَوَجَدَهُ قَدْ أُنْزِلَ عَلَيْهِ فِيهِمَا، فَدَعَاهُمَا فَلَاعَنَ بَيْنَهُمَا، فَقَالَ عُوَيْمِرٌ: لَإِنِ انْطَلَقْتُ بِهَا لَقَدْ كَذَبْتُ عَلَيْهَا، فَفَارَقَهَا قَبْلَ أَنْ يَأْمُرَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «انْظُرُوهَا، فَإِنْ جَاءَتْ بِهِ أَسْحَمَ، أَدْعَجَ، عَظِيمَ الْإِلْيَتَيْنِ فَلَا أُرَاهُ إِلَّا قَدْ صَدَقَ، وَإِنْ جَاءَتْ بِهِ أُحَيْمِرَ كَأَنَّهُ وَحَرَةٌ فَلَا أُرَاهُ إِلَّا كَاذِبًا» . فَجَاءَتْ بِهِ عَلَى النَّعْتِ الْمَكْرُوهِ قَالَ ابْنُ شِهَابٍ: فَصَارَتْ سُنَّةُ الْمُتَلَاعِنَيْنِ

Musnad Syafi’i 1256: Ibrahim bin Sa’d mengabarkan kepada kami dari Ibnu Syihab, dari Sahl bin Sa’d, ia mengatakan: Uwaimir Al Ajlani datang kepada Ashim bin Adi, lalu ia berkata, “Hashim bin Adi, tanyakanlah kepada Rasulullah demi aku mengenai hukum seorang lelaki yang menjumpai istrinya bersama lelaki lain, lalu ia membunuhnya; apakah ia dihukum mati karenanya, atau bagaimana?” Maka Ashim menanyakan hal itu kepada Rasulullah , tetapi ternyata beliau mencela pertanyaan tersebut. Kemudian Uwaimir menemuinya dan berkata, “Apakah yang telah kamu lakukan?” Ashim menjawab, “Aku telah melakukannya, ternyata engkau datang kepadaku bukan dengan membawa kebaikan. Aku telah menanyakan masalah itu kepada Rasulullah , tetapi beliau membenci pertanyaanku.” Uwaimir berkata, “Demi Allah, aku benar-benar akan datang kepada Rasulullah dan menanyakan hal itu kepada beliau.” Lalu ia datang dan menjumpai beliau dalam keadaan telah menerima wahyu mengenai keduanya. Maka Nabi memanggil kedua orang yang bersangkutan, lalu dilaksanakan li’an (saling melaknat) di antara keduanya. Uwaimir berkata, “Seandainya aku pulang dengan membawa wanita ini, berarti aku dusta terhadapnya.” Lalu ia menceraikannya sebelum Rasulullah memerintahkannya. Kemudian beliau bersabda, “Perhatikanlah oleh kalian bila si wanita itu melahirkan bayi dengan kulit hitam dan mata yang jernih serta kedua pantatnya besar, maka aku berpendapat bahwa si lelaki itu benar. Jika ternyata si wanita itu melahirkan bayi dengan kulit merah seakan-akan waharah, maka aku berpendapat bahwa si lelaki itu dusta.” Ternyata bayi yang lahir persis seperti gambaran yang tidak disukai. Ibnu Syihab mengatakan bahwa hal tersebut menjadi ketentuan hukum bagi suami-istri yang saling meli’an. 491

Musnad Syafi’i 1255

مسند الشافعي 1255: أَخْبَرَنَا مَالِكٌ قَالَ: حَدَّثَنِي ابْنُ شِهَابٍ، أَنَّ سَهْلَ بْنَ سَعْدٍ السَّاعِدِيَّ، أَخْبَرَهُ أَنَّ عُوَيْمِرًا الْعَجْلَانِيَّ جَاءَ إِلَى عَاصِمِ بْنِ عَدِيٍّ الْأَنْصَارِيِّ فَقَالَ لَهُ: أَرَأَيْتَ يَا عَاصِمُ لَوْ أَنَّ رَجُلًا وَجَدَ مَعَ امْرَأَتِهِ رَجُلًا، أَيَقْتُلُهُ فَتَقْتُلُونَهُ، أَمْ كَيْفَ يَفْعَلُ؟ سَلْ لِي يَا عَاصِمُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ذَلِكَ، فَسَأَلَ عَاصِمٌ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ذَلِكَ، فَكَرِهَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَسَائِلَ وَعَابَهَا حَتَّى كَبُرَ عَلَى عَاصِمٍ مَا سَمِعَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَلَمَّا رَجَعَ عَاصِمٌ إِلَى أَهْلِهِ جَاءَهُ عُوَيْمِرٌ فَقَالَ: يَا عَاصِمُ، مَاذَا قَالَ لَكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ فَقَالَ عَاصِمٌ لِعُوَيْمِرٍ: لَمْ تَأْتِنِي بِخَيْرٍ، قَدْ كَرِهَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَسْأَلَةَ الَّتِي سَأَلْتُهُ عَنْهَا، فَقَالَ عُوَيْمِرٌ: وَاللَّهِ لَا أَنْتَهِي حَتَّى أَسْأَلَهُ عَنْهَا، فَأَقْبَلَ عُوَيْمِرٌ حَتَّى أَتَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَسَطَ النَّاسِ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَرَأَيْتَ رَجُلًا وَجَدَ مَعَ امْرَأَتِهِ رَجُلًا، أَيَقْتُلُهُ فَتَقْتُلُونَهُ، أَمْ كَيْفَ يَفْعَلُ؟ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «قَدْ أَنْزَلَ اللَّهُ فِيكَ وَفِي صَاحِبَتِكَ، فَاذْهَبْ فَأْتِ بِهَا» . فَقَالَ سَهْلُ بْنُ سَعْدٍ: فَتَلَاعَنَا، وَأَنَا مَعَ النَّاسِ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَلَمَّا فَرَغَا مِنْ تَلَاعُنِهِمَا قَالَ عُوَيْمِرٌ: كَذَبْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنْ أَمْسَكْتُهَا، فَطَلَّقَهَا ثَلَاثًا قَبْلَ أَنْ يَأْمُرَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ابْنُ شِهَابٍ: فَكَانَتْ تِلْكَ سُنَّةُ الْمُتَلَاعِنَيْنِ

Musnad Syafi’i 1255: Malik mengabarkan kepada kami, ia mengatakan: Ibnu Syihab menceritakan kepadaku bahwa Sahi bin Sa’d As-Sa’idi mengabarkan kepadanya: Uwaimir Al Ajlani datang kepada Ashim bin Adi Al Anshari, lalu ia berkata kepadanya, “Bagaimana pendapatmu, hai Ashim, jika seorang lelaki menjumpai istrinya bersama lelaki lain, lalu ia membunuhnya; apakah mereka akan membunuhnya pula, atau apa yang harus dilakukan? Tanyakanlah untukku, hai Ashim, kepada Rasulullah mengenai masalah tersebut.” Lalu Ashim bertanya kepada Rasulullah mengenai hal itu, tetapi beliau benci dengan pertanyaan tersebut dan mencelanya, hingga terasa berat oleh Ashim apa yang ia dengar dari Rasulullah . Ketika Ashim kembali kepada keluarganya, datanglah Uwaimir dan berkata, “Hai Ashim, apakah yang telah dikatakan oleh Rasulullah ?” Ashim menjawab, “Kamu datang kepadaku bukan dengan membawa kebaikan. Rasulullah benci terhadap pertanyaan yang aku ajukan itu.” Maka Uwaimir berkata, “Demi Allah, aku tidak akan berhenti sebelum menanyakannya.” Lalu Uwaimir berangkat hingga sampai kepada Rasulullah di tengah orang-orang banyak, lalu ia berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah pendapatmu tentang seorang lelaki yang menjumpai istrinya bersama lelaki lain, kemudian ia membunuhnya; apakah kalian akan balas membunuhnya pula, ataukah bagaimana?” Nabi menjawab, “Allah telah menurunkan wahyu mengenai masalahmu dan teman wanitamu itu. Maka, sekarang berangkatlah dan datangkanlah dia kepadaku.” Sahi bin Sa’d melanjutkan kisahnya: Maka keduanya saling melaknat, sedangkan aku dan orang-orang bersama Rasulullah Ketika keduanya telah selesai dari saling melaknat. Umair berkata, “Aku dusta terhadapnya, wahai Rasulullah, jika aku merujuknya.” Maka Uwaimir menceraikannya dengan 3 kali thalak sebelum Rasulullah memerintahkannya.” Ibnu Syihab berkata, “Demikianlah ketentuan hukum menyangkut kedua orang yang saling melaknat.”490

Musnad Syafi’i 1254

مسند الشافعي 1254: أَخْبَرَنَا ابْنُ عُيَيْنَةَ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنِ الرَّبِيعِ بْنِ سَبْرَةَ، عَنْ أَبِيهِ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ نِكَاحِ الْمُتْعَةِ

Musnad Syafi’i 1254: Ibnu Uyainah mengabarkan kepada kami dari Az-Zuhri, dari Ar-Rabi’ bin Sabrah, dari ayahnya, ia berkata, ”Rasulullah melarang nikah mut’ah.”489

Musnad Syafi’i 1253

مسند الشافعي 1253: وَأَخْبَرَنَا مَالِكٌ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ، وَالْحَسَنِ، ابْنَيْ مُحَمَّدِ بْنِ عَلِيٍّ، عَنْ أَبِيهِمَا، عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ مُتْعَةِ النِّسَاءِ يَوْمَ خَيْبَرَ، وَعَنْ أَكْلِ لُحُومِ الْحُمُرِ الْإِنْسِيَّةِ

Musnad Syafi’i 1253: Dan Malik mengabarkan kepada kami dari Ibnu Syihab dari Abdullah dan Al Hasan -keduanya anak Muhammad bin Ali- dari Ali bin Abu Thalib RA: Bahwa Nabi telah melarang menikahi wanita secara mut’ah pada saat perang Khaibar, juga (melarang makan) daging keledai jinak. 488

Musnad Syafi’i 1252

مسند الشافعي 1252: أَخْبَرَنَا ابْنُ عُيَيْنَةَ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ، وَالْحَسَنِ، ابْنَيْ مُحَمَّدِ بْنِ عَلِيٍّ قَالَ: وَكَانَ الْحَسَنُ أَرْضَاهُمَا، عَنْ أَبِيهِمَا، عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ

Musnad Syafi’i 1252: Ibnu Uyainah mengabarkan kepada kami dari Az-Zuhri, dari Abdullah dan Al Hasan putra Muhammad bin Ali, ia mengatakan: Al Hasan percaya kepada keduanya, dari ayah keduanya, dari Ali bin Abu Thalib .487

Musnad Syafi’i 1235

مسند الشافعي 1235: أَخْبَرَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُحَمَّدٍ، وَغَيْرُهُ، عَنْ جَعْفَرِ بْنِ مُحَمَّدٍ، عَنْ أَبِيهِ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَهَنَ دِرْعَهُ عِنْدَ أَبِي الشَّحْمِ الْيَهُودِيِّ

Musnad Syafi’i 1235: Ibrahim bin Muhammad dan lain-lain mengabarkan kepada kami dari Ja’far bin Muhammad, dari ayahnya: Nabi pernah menggadaikan baju besinya kepada Abu Asy-Syahm, seorang Yahudi.

Musnad Syafi’i 1234

مسند الشافعي 1234: أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ، عَنِ ابْنِ أَبِي ذِئْبٍ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيِّبِ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «لَا يُغْلَقُ الرَّهْنُ الرَّهْنَ مِنْ صَاحِبِهِ الَّذِي رَهَنَهُ، لَهُ غُنْمُهُ وَعَلَيْهِ غُرْمُهُ» وَقَدْ أَخْبَرَنِي غَيْرُ وَاحِدٍ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي أُنَيْسَةَ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنِ ابْنِ الْمُسَيِّبِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِثْلَ حَدِيثِ ابْنِ أَبِي ذِئْبٍ

Musnad Syafi’i 1234: Muhammad bin Ismail bin Abu Fudaik mengabarkan kepada kami dari Ibnu Abu Dzi’b, dari Ibnu Syihab, dari Sa’id bin Al Musayyab bahwa Rasulullah pernah bersabda, “Transaksi gadai tidak menutup pemilik barang dari barang yang digadaikannya, ialah yang menebusnya, dan dia pula yang menanggung dendanya”469 Telah menceritakan kepada kami bukan hanya seorang dari kalangan ahlul ‘ilmi, dari Yahya bin Abu Unaisah, dari Ibnu Syihab, dari Ibnu Al Musayyab, dari Abu Hurairah , dari Nabi semisal dengan hadis Ibnu Abu Dzi’b.