Skip to main content

Musnad Syafi’i 667

مسند الشافعي 666: أَخْبَرَنَا سَعِيدٌ، عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ، عَنْ عَمْرِو بْنِ دِينَارٍ، أَنَّ ابْنَ عُمَرَ، كَانَ يُجِيزُهُ

Musnad Syafi’i 666: Sa’id mengabarkan kepada kami dari Ibnu Juraij, dari Amr bin Dinar bahwa Ibnu Umar memperbolehkan hai tersebut. 667

Musnad Syafi’i 666

مسند الشافعي 665: أَخْبَرَنَا سَعِيدُ بْنُ سَالِمٍ، عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ، عَنْ عَطَاءٍ، أَنَّهُ سَمِعَ ابْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يَقُولُ: لَا نَرَى بِالسَّلَفِ بَأْسًا، الْوَرِقُ فِي الْوَرِقِ نَقْدًا

Musnad Syafi’i 665: Sa’id bin Salim mengabarkan kepada kami dari Ibnu Juraij, dari Atha’ bahwa ia pernah mendengar Ibnu Abbas berkata; “Kami tidak berpendapat bahwa salaf adalah sesuatu yang tidak dilarang, uang logam adalah dengan uang logam sebagai kontan.’666

Musnad Syafi’i 665

مسند الشافعي 664: أَخْبَرَنِي مَنْ، أُصَدِّقُهُ عَنْ سُفْيَانَ، أَنَّهُ قَالَ كَمَا قُلْتُ، وَقَالَ فِي الْأَجَلِ: إِلَى أَجْلٍ مَعْلُومٍ

Musnad Syafi’i 664: Orang yang kupercayai mengabarkan kepadaku dari Sufyan: Bahwa ia mengatakan seperti apa yang telah kukatakan; dan sehubungan dengan masalah waktu, ia berkata “Sampai batas waktu yang ditentukan. 665

Musnad Syafi’i 664

مسند الشافعي 663: أَخْبَرَنَا ابْنُ عُيَيْنَةَ، عَنِ ابْنِ أَبِي نَجِيحٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ كَثِيرٍ، عَنْ أَبِي الْمِنْهَالِ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدِمَ الْمَدِينَةَ وَهُمْ يُسْلِفُونَ فِي التَّمْرِ السَّنَةَ وَالسَّنَتَيْنِ، وَرُبَّمَا قَالَ: وَالثَّلَاثَ، فَقَالَ: «مَنْ أَسْلَفَ فَلْيُسْلِفْ فِي كَيْلٍ مَعْلُومٍ وَوَزْنٍ مَعْلُومٍ إِلَى أَجْلٍ مَعْلُومٍ» قَالَ: فَحَفِظْتُهُ كَمَا وَصَفْتُ مِنْ سُفْيَانَ مِرَارًا

Musnad Syafi’i 663: Ibnu Uyainah mengabarkan kepada kami dari Ibnu Abu Najih, dari Abdullah bin Katsir, dari Abu Al Minhal, dari Ibnu Abbas : Bahwa Rasulullah tiba di Madinah, sedangkan mereka biasa melakukan jual-beli dengan sistem salaf terhadap hasil buah- buahan (buah kurma) selama setahun sampai 2 tahun —barang kali ia mengatakan 3 tahun— lalu Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang melakukan transaksi salaf hendaklah dia melakukannya dalam takaran dan timbangan yang telah dimaklumi serta sampai batas waktu yang telah ditentukan.”664 Ia berkata, “Aku menghafalnya sebagaimana yang telah aku sifati dari Sufyan berulang kali.”

Musnad Syafi’i 663

مسند الشافعي 662: أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ، عَنْ أَيُّوبَ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ أَبِي حَسَّانَ الْأَعْرَجِ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: أَشْهَدُ أَنَّ السَّلَفَ الْمَضْمُونَ، إِلَى أَجْلٍ مُسَمًّى قَدْ أَحَلَّهُ اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ [ص:139] وَأَذِنَ فِيهِ، ثُمَّ قَالَ: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَى أَجْلٍ مُسَمًّى} [الْبَقَرَة: 282]

Musnad Syafi’i 662: Sufyan mengabarkan kepada kami, dari Ayub dari Qatadah dari Abu Hissan Al A’raj dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Aku bersaksi bahwa transaki salaf yang terjamin hingga waktu yang ditentukan telah dihalalkan oleh Allah Ta ala dalam kitab-Nya dan diizinkan di dalamnya, kemudian ia membaca, “Hai orang-orang yang beriman, jika kalian berutang dengan suatu utang hingga waktu yang ditentukan.” (Qs. Al Baqarah [2]: 282)

Musnad Syafi’i 662

مسند الشافعي 661: أَخْبَرَنَا ابْنُ عُيَيْنَةَ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ مَالِكِ بْنِ أَوْسٍ، عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِثْلَ مَعْنَى حَدِيثِ مَالِكٍ: حَتَّى يَأْتِيَ خَازِنِي. قَالَ: فَحَفِظْتُ، لَا شَكَّ فِيهِ

Musnad Syafi’i 661: Ibnu Uyainah mengabarkan kepada kami dari Ibnu Syihab, dari Malik bin Aus, dari Umar bin Al Khaththab, dari Nabi semisal dengan makna hadis Malik, dan ia berkata, “Apabila datang bendaharaku nanti.” Ia (Imam Asy-Syafi’i) berkata, “Maka aku hafal lagi tanpa ada keraguan.” 662

Musnad Syafi’i 661

مسند الشافعي 660: أَخْبَرَنَا مَالِكٌ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ مَالِكِ بْنِ أَوْسِ بْنِ الْحَدَثَانِ، أَنَّهُ الْتَمَسَ صَرْفًا بِمِائَةِ دِينَارٍ، قَالَ: فَدَعَانِي طَلْحَةُ بْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ فَتَرَاوَضْنَا حَتَّى اصْطَرَفَ مِنِّي وَأَخَذَ الذَّهَبَ قَلَّبَهَا فِي يَدِهِ ثُمَّ قَالَ: حَتَّى يَأْتِيَ خَازِنِي، أَوْ حَتَّى تَأْتِيَ خَازِنَتِي مِنَ الْغَابَةِ قَالَ الشَّافِعِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: أَنَا شَكَكْتُ، وَعُمَرُ يَسْمَعُ فَقَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: وَاللَّهِ لَا تُفَارِقْهُ حَتَّى تَأْخُذَ مِنْهُ، ثُمَّ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ رِبًا إِلَّا هَاءَ وَهَاءَ، وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ رِبًا إِلَّا هَاءَ وَهَاءَ، وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ رِبًا إِلَّا هَاءَ وَهَاءَ، وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ رِبًا إِلَّا هَاءَ وَهَاءَ» قَالَ الشَّافِعِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: قَرَأْتُهُ عَلَى مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ صَحِيحًا لَا شَكَّ فِيهِ، ثُمَّ طَالَ عَلَيَّ الزَّمَانُ فَلَمْ أَحْفَظْهُ حِفْظًا، فَشَكَكْتُ فِي خَازِنَتِي أَوْ خَازِنِي، وَغَيْرِي يَقُولُ عَنْهُ: خَازِنِي

Musnad Syafi’i 660: Malik mengabarkan kepada kami dari Ibnu Syihab, dari Malik bin Aus bin Al Hadatsan bahwa ia berusaha untuk menukar 100 dinar. Malik bin Aus melanjutkan kisahnya: Kemudian Thalhah bin Ubaidillah memanggilku, lalu kami saling menawar hingga ia mau menukarnya dariku; dan ia mengambil emas, lalu membolak- balikkannya di tangannya. Kemudian ia berkata, “Tunggulah sampai datang bendaharaku atau bendaharawatiku dari hutan.” [Asy-Syafi’i RA berkata, “Aku ragu.”] Saat itu Umar mendengarnya, maka ia berkata, “Demi Allah, janganlah kamu tinggalkan dia sebelum kamu menerima darinya.” Setelah itu Umar mengatakan bahwa Rasulullah pernah bersabda, “Emas dengan emas adalah riba kecuali secara serah-terima, jewawut dengan jewawut adalah riba kecuali secara serah-terima, buah-buahan dengan kurma adalah riba kecuali secara serah-terima, dan gandum dengan gandum adalah riba kecuali secara serah-terima.” Asy-Syafi’i berkata, “Aku menerimanya dari Imam Malik dalam keadaan benar tanpa ragu. Kemudian setelah masa berlalu, aku tidak hafal lagi hingga aku ragu apakah khaazinii atau khaazinatii. Sedangkan selain aku mengatakan khaazinii.” 661

Musnad Syafi’i 660

مسند الشافعي 659: أَخْبَرَنَا ابْنُ عُيَيْنَةَ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ طَاوُسٍ، عَنْ أَبِيهِ قَالَ: ” خَيَرَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا بَعْدَ الْبَيْعِ فَقَالَ الرَّجُلُ: عَمَّرَكَ اللَّهُ، مِمَّنْ أَنْتَ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «امْرُؤٌ مِنْ قُرَيْشٍ» . قَالَ: وَكَانَ أَبِي يَحْلِفُ: مَا الْخِيَارُ إِلَّا بَعْدَ الْبَيْعِ “

Musnad Syafi’i 659: Ibnu Uyainah mengabarkan kepada kami dari Abdullah bin Thawus, dari ayahnya, ia mengatakan: Rasulullah berkhiyar terhadap seorang lelaki sesudah transaksi jual-beli, maka lelaki itu bertanya, “Semoga Allah memperpanjang usiamu. Dari kalangan manakah Anda?” Rasulullah SAW menjawab, “Seseorang dari kalangan kabilah Quraisy. Lelaki itu berkata, “Dahulu ayahku sering mengatakan, ‘Tidak ada khiyar itu melainkan sesudah penjualan’.” 660

Musnad Syafi’i 643

مسند الشافعي 643: أَخْبَرَنَا سَعِيدٌ، عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ، عَنْ عِكْرِمَةَ مَوْلَى ابْنِ عَبَّاسٍ يَقُولُ: «أَنْزَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ضَبُعًا صَيْدًا وَقَضَى فِيهَا كَبْشًا»

Musnad Syafi’i 643: Sa’id mengabarkan kepada kami dari Ibnu Juraij, dari Atha’, dari Ikrimah mantan budak Ibnu Abbas, ia berkata, “Diajukan kepada Rasulullah kasus dubuk yang diburu (dibunuh), dan beliau memutuskan bahwa dendanya adalah seekor domba.” 643

Musnad Syafi’i 642

مسند الشافعي 642: أَخْبَرَنَا سَعِيدٌ، عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ، عَنْ عَطَاءٍ، أَنَّهُ سَمِعَ ابْنَ عَبَّاسٍ، يَقُولُ: «فِي الضَّبُعِ كَبْشٌ»

Musnad Syafi’i 642: Sa’id mengabarkan kepada kami dari Ibnu Juraij, dari Atha’ bahwa ia pernah mendengar Ibnu Abbas berkata, “Membunuh dubuk (hyena) dendanya adalah seekor domba.” 642