Skip to main content

Sunan Daruquthni 4536

سنن الدارقطني 4536: حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ النَّيْسَابُورِيُّ , نا مُحَمَّدُ بْنُ إِشْكَابَ , وَالْعَبَّاسُ بْنُ مُحَمَّدٍ , وَمُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الْمَلِكِ الْوَاسِطِيُّ , قَالُوا: نا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ بْنِ سَعْدٍ , نا أَبِي , عَنْ صَالِحٍ , عَنِ ابْنِ شِهَابٍ , أَخْبَرَنِي عُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ , أَنَّ زَيْنَبَ بِنْتَ أَبِي سَلَمَةَ أَخْبَرَتْهُ , أَنَّ أُمَّ سَلَمَةَ زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخْبَرَتْهَا , عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ سَمَعَ صَوْتَ خُصُومٍ بِبَابِ حُجْرَتِهِ فَخَرَجَ إِلَيْهِمْ , فَقَالَ: «إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ وَإِنَّهُ يَأْتِينِي الْخَصْمُ فَلَعَلَّ بَعْضَكُمْ أَنْ يَكُونَ أَبْلَغَ مِنْ بَعْضٍ فَأَحْسَبُ أَنَّهُ صَادِقٌ فَأَقْضِي لَهُ بِذَلِكَ , فَمَنْ قَضَيْتُ لَهُ بِحَقِّ مُسْلِمٍ فَإِنَّمَا هِيَ قِطْعَةٌ مِنَ النَّارِ فَلْيَأْخُذْهَا أَوْ لِيَتْرُكْهَا». تَابَعَهُ مَعْمَرٌ , وَيُونُسُ , وَعَقِيلٌ , وَشُعَيْبٌ , وَاللَّيْثُ , عَنِ الزُّهْرِيِّ

Sunan Daruquthni 4536: Abu Bakar An-Naisaburi menceritakan kepada kami, Muhammad bin Asykab, Al Abbas bin Muhammad dan Muhammad bin Abdul Malik Al Wasithi menceritakan kepada kami, mereka berkata: Ya’qub bin Ibrahim bin Sa’d menceritakan kepada kami, ayahku menceritakan kepada kami dari Shalih, dari Ibnu Syihyab, Urwah bin Az-Zubair mengabarkan kepadaku, bahwa Zainab binti Abu Salamah mengabarkan kepadanya, bahwa Ummu Salamah, istri Nabi SAW, mengabarkan kepadanya, dari Rasulullah SAW, bahwa ketika beliau mendengar suara orang bertengkar di pintu kamarnya, maka beliau keluar menemui mereka lalu berkata, “Sesungguhnya aku ini manusia, dan persengketaan diajukan kepadaku. Mungkin sebagian lebih lihai (mengemukakan argumen) daripada yang lainnya, sehingga aku mengira bahwa dialah yang benar, lalu aku memenangkannya. Barangsiapa yang aku menangkan dengan mengambil hak seorang muslim, maka sesungguhnya aku telah memberikan sepotong api neraka kepadanya. Karena itu, silakan dia menerimanya atau meninggalkannya.” Ma’mar, Yunus, Uqail, Syu’aib dan Al-Laits menguatkannya dari riwayat Az-Zuhri.

Sunan Daruquthni 4521

سنن الدارقطني 4521: نا أَبُو عُبَيْدٍ الْقَاسِمُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ , نا إِبْرَاهِيمُ بْنُ رَاشِدٍ , نا دَاوُدُ بْنُ مِهْرَانَ , عَنْ أَيُّوبَ السَّخْتِيَانِيِّ , وَيَعْقُوبَ بْنِ عَطَاءٍ , عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ , عَنْ أَبِيهِ , عَنْ جَدِّهِ , أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ ضَالَّةِ الْإِبِلِ , فَقَالَ: «مَعَهَا سِقَاؤُهَا وَحِذَاؤُهَا تَرِدُ الْمَاءَ وَتُصِيبُ الشَّجَرَ فَلَا تَعَرَّضْ لَهَا» , وَسُئِلَ عَنْ ضَالَّةِ الْغَنَمِ , فَقَالَ: «لَكَ أَوْ لِأَخِيكَ أَوْ لِلذِّئْبِ فَخُذْهَا»

Sunan Daruquthni 4521: Abu Ubaid Al Qasim bin Ismail menceritakan kepada kami, Ibrahim bin Rasyid menceritakan kepada kami, Daud bin Mihran menceritakan kepada kami dari Abu Ayyub As-Sikhtiyani dan Ya’qub bin Atha‘, dari Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, bahwa Rasulullah SAW pernah ditanya tentang unta yang tersesat, beliau pun bersabda, ‘Ia dibekali dengan tempat air dan sepatunya, dia biasa mendatangi tempat minum dan memakan daun pepohonan, maka janganlah menghalangi.’ Beliau juga pernah ditanya tentang kambing yang tersesat, beliau pun bersabda, ‘(Itu bisa menjadi) milikmu, atau milik saudaramu, atau milik srigala. Karena itu, silakan mengambilnya’.”

Sunan Daruquthni 4537

سنن الدارقطني 4537: نا أَبُو بَكْرٍ النَّيْسَابُورِيُّ , نا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ بِشْرِ بْنِ الْحَكَمِ , نا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ , عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ , عَنْ أَبِيهِ , عَنْ زَيْنَبَ بِنْتِ أُمِّ سَلَمَةَ , عَنْ أُمِّهَا , قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّكُمْ تَخْتَصِمُونَ إِلَيَّ وَلَعَلَّ بَعْضَكُمْ أَنْ يَكُونَ أَلْحَنَ بِحُجَّتِهِ مِنْ بَعْضٍ , وَإِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ أَقْضِي عَلَى نَحْوِ مَا أَسْمَعُ , فَمَنْ قَضَيْتُ لَهُ بِشَيْءٍ مِنْ حَقِّ أَخِيهِ فَلَا يَأْخُذْ مِنْهُ شَيْئًا فَإِنَّمَا أَقْطَعُ لَهُ قِطْعَةً مِنْ نَارً». قَالَ أَبُو بَكْرٍ فِي حَدِيثِ الزُّهْرِيِّ: «فَلْيَأْخُذْهَا أَوْ لِيَتْرُكْهَا» , وَفِي حَدِيثِ هِشَامٍ: «فَلَا يَأْخُذْ مِنْهُ شَيْئًا» , وَهِشَامٌ وَإِنْ كَانَ ثِقَةً فَإِنَّ الزُّهْرِيَّ أَحْفَظُ مِنْهُ وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Sunan Daruquthni 4537: Abu Bakar An-Naisaburi menceritakan kepada kami, Abdurrahman bin Bisyr bin Al Hakam menceritakan kepada kami, Yahya bin Sa’id menceritakan kepada kami dari Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, dari Zainab binti Ummu Salamah, dari ibunya, dia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Sesungguhnya kalian mengadukan perkara kepadaku, dan bisa jadi sebagian kalian lebih lihai mengungkapkan argumentasinya daripada yang lain. Namun aku ini manusia, aku memutuskan berdasarkan apa yang aku dengar. Barangsiapa yang aku menangkan dengan sesuatu dari hak saudaranya, maka janganlah dia menerimanya sedikit pun dari itu, karena sesungguhnya aku telah memberinya potongan dari api neraka” Abu Bakar berkata dalam hadis Az-Zuhri, “Maka silakan dia menerimanya atau meninggalkannya.” dalam hadis Hisyam disebutkan, “Maka janganlah dia mengambil apa pun darinya.” Walaupun Hisyam perawi tsiqah, namun Az-Zuhri lebih hafal daripadanya. Wallahu a lam.

Sunan Daruquthni 4522

سنن الدارقطني 4522: نا أَحْمَدُ بْنُ الْحُسَيْنِ بْنِ مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ الْجُنَيْدِ , نا الْحَسَنُ بْنُ عَرَفَةَ , نا هُشَيْمٌ , عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ يَحْيَى , عَنْ حَبَّانَ بْنِ أَبِي جَبَلَةَ , قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «كُلُّ أَحَدٍ أَحَقُّ بِمَالِهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ»

Sunan Daruquthni 4522: Ahmad bin Al Husain bin Muhammad bin Ahmad bin Al Junaid menceritakan kepada kami, Al Hasan bin Arafah menceritakan kepada kami, Husyaim menceritakan kepada kami dari Abdurrahman bin Yahya, dari Habban bin Abu Jabalah, dia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Setiap orang lebih berhak terhadap hartanya daripada orang tuanya, anaknya dan manusia lainnya’.’

Sunan Daruquthni 4538

سنن الدارقطني 4538: نا أَبُو مُحَمَّدِ بْنُ صَاعِدٍ , نا عَبْدُ الْجَبَّارِ بْنُ الْعَلَاءِ , وَأَبُو عُبَيْدِ اللَّهِ الْمَخْزُومِيُّ , وَمُحَمَّدُ بْنُ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْمُقْرِئُ وَاللَّفْظُ لِعَبْدِ الْجَبَّارِ , قَالُوا: نا سُفْيَانُ عَنِ الزُّهْرِيِّ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا , قَالَتْ: دَخَلَ عَلَيَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ مَسْرُورًا , فَقَالَ: ” أَلَمْ تَرِي يَا عَائِشَةُ أَنَّ مُجَزِّزًا الْمُدْلِجِيَّ دَخَلَ عَلَيَّ فَرَأَى أُسَامَةَ , وَزَيْدًا وَعَلَيْهِمَا قَطِيفَةً قَدْ غَطَّيَا رُءُوسَهُمَا وَبَدَتْ أَقْدَامُهُمَا , فَقَالَ: هَذِهِ الْأَقْدَامُ بَعْضُهَا مِنْ بَعْضٍ “

Sunan Daruquthni 4538: Abu Muhammad bin Sha’id menceritakan kepada kami, Abdul Jabbar bin Al Ala’, Abu Ubaidullah Al Makhzumi dan Muhammad bin Abu Abdurrahman Al Muqri — lafazhnya dari Abdul Jabbar— menceritakan kepada kami, mereka berkata: Sufyan menceritakan kepada kami dari Az-Zuhri, dari Urwah, dari Aisyah RA, dia berkata: Pada suatu hari, Nabi SAW masuk ke tempatku dengan gembira, lalu beliau berkata, “Tahukah engkau wahai Aisyah, tadi Mujazziz Al Mudliji datang ke tempatku, lalu dia melihat Usamah dan Zaid, saat keduanya telah ditutupi dengan kain pada kepala (yakni tubuh bagian atas) mereka, sementara kaki mereka masih menonjol, kemudian dia berkata, ‘Sesungguhnya kaki-kaki ini sebagiannya dari sebagian yang lain’.” (yakni yang seorang berasal dari yang seorang lagi).

Sunan Daruquthni 4523

سنن الدارقطني 4523: نا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ , نا إِسْحَاقُ بْنُ أَبِي إِسْرَائِيلَ , نا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ , عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ , عَنْ يَزِيدَ , قَالَ سُفْيَانُ: وَأَنَا لِحَدِيثِ يَحْيَى أَحْفَظُ , قَالَ سُفْيَانُ: فَذَكَرْتُهُ لِرَبِيعَةَ بْنِ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ , فَحَدَّثَنِي عَنْ يَزِيدَ مَوْلَى الْمُنْبَعِثِ , عَنْ زَيْدِ بْنِ خَالِدٍ , قَالَ: أَتَى رَجُلٌ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , فَقَالَ: مَا تَقُولُ فِي ضَالَّةِ الْإِبِلِ؟ , فَغَضِبَ وَاحْمَرَّتْ وَجْنَتَاهُ , فَقَالَ: «مَا لَهُ وَلَهَا مَعَهَا الْحَذَّاءُ وَالسِّقَاءُ تَرِدُ الْمَاءَ وَتَأْكُلُ مِنَ الشَّجَرِ حَتَّى يَأْتِيَهَا رَبُّهَا» , قَالَ: فَضَالَةُ الْغَنَمِ؟ , قَالَ: «خُذْهَا هِيَ لَكَ أَوْ لِأَخِيكَ أَوْ لِلذِّئْبِ»

Sunan Daruquthni 4523: Abdullah bin Muhammad bin Abdul Aziz menceritakan kepada kami, Ishaq bin Abu Israil menceritakan kepada kami, Sufyan bin Uyainah menceritakan kepada kami dari Yahya bin Sa’id, dari Yazid —Sufyan berkata, namun aku lebih hafal tentang hadis Yahya,— Sufyan berkata: Aku menyebutkannya kepada Rabi’ah bin Abu Abdurrahman, lalu dia menceritakan dari Yazid maula Al Munba’its, dari Zaid bin Khalid, dia berkata, “Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah SAW lalu berkata, ‘Bagaimana menurutmu tentang unta yang tersesat?’ Beliau marah dan kedua belah pipinya memerah lalu berkata, ”Ada apa denganmu dan unta itu? Bersamanya ada sepatu dan tempat minum. Dia bisa pergi ke tempat air dan makan dedaunan pohon hingga ditemukan pemiliknya.’ Orang itu berkata lagi, ‘Bagaimana dan kambing yang tersesat?’ Beliau menjawab, ‘Silakan mengambilnya. Dia bisa menjadi milikmu, atau milik saudaramu, atau milik srigala’.”

Sunan Daruquthni 4539

سنن الدارقطني 4539: نا أَبُو بَكْرٍ النَّيْسَابُورِيُّ , نا أَحْمَدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ وَهْبٍ , نا عَمِّي , أَخْبَرَنِي يُونُسُ , وَاللَّيْثُ , عَنِ ابْنِ شِهَابٍ , عَنْ عُرْوَةَ , عَنْ عَائِشَةَ , قَالَتْ: دَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَسْرُورًا فَرِحًا , فَقَالَ: ” أَلَمْ تَرِي أَنَّ مُجَزِّزًا الْمُدْلِجِيَّ وَنَظَرَ إِلَى أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ مُضْطَجِعًا مَعَ أَبِيهِ , فَقَالَ: هَذِهِ أَقْدَامٌ بَعْضُهَا مِنْ بَعْضٍ ” , وَكَانَ مُجَزِّزٌ قَائِفًا

Sunan Daruquthni 4539: Abu Bakar An-Naisaburi menceritakan kepada kami, Ahmad bin Abdurrahman bin Wahb menceritakan kepada kami, pamanku menceritakan kepada kami, Yunus dan AlLaits mengabarkan kepadaku, dari Ibnu Syihab, dari Urwah, dari Aisyah, dia berkata: Rasulullah SAW pernah datang ke tempatku dalam keadaan riang gembira, lalu beliau bersabda, “Tahukah engkau, bahwa Mujazziz Al Mudliji telah melihat Usamah bin Zaid yang tengah terlentang bersama ayahnya, lalu dia berkata, ‘Sesungguhnya kaki-kaki ini sebagiannya dari sebagian yang lain’. ” Mujazziz adalah seorang ahli garis keturunan.

Sunan Daruquthni 4524

سنن الدارقطني 4524: نا أَبُو بَكْرٍ النَّيْسَابُورِيُّ , نا يُونُسُ بْنُ عَبْدِ الْأَعْلَى , نا ابْنُ وَهْبٍ , أَخْبَرَنِي عَمْرُو بْنُ الْحَارِثِ , وَهِشَامُ بْنُ سَعْدٍ , عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ , عَنْ أَبِيهِ , عَنْ جَدِّهِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ , أَنَّ رَجُلًا مِنْ مُزَيْنَةَ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , فَقَالَ: كَيْفَ تَرَى يَا رَسُولَ اللَّهِ فِي حَرِيسَةِ الْجَبَلِ؟ , قَالَ: «هِيَ وَمِثْلُهَا وَالنَّكَالُ لَيْسَ فِي شَيْءٍ مِنَ الْمَاشِيَةِ قَطْعٌ إِلَّا مَا أَوَاهُ الْمُرَاحُ فَبَلَغَ ثَمَنَ الْمِجَنِّ فَفِيهِ قَطْعُ الْيَدِ , وَمَا لَمْ يَبْلُغْ ثَمَنَ الْمِجَنِّ فَفِيهِ غَرَامَتُهُ وَجَلَدَاتُ نَكَالٍ» , قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ تَرَى فِي الثَّمَرِ الْمُعَلَّقِ؟ , قَالَ: «هُوَ وَمِثْلُهُ مَعَهُ وَالنَّكَالُ وَلَيْسَ فِي شَيْءٍ مِنَ الثَّمَرِ الْمُعَلَّقِ قَطْعٌ إِلَّا مَا أَوَاهُ الْجَرِينُ فَمَا أُخِذَ مِنَ الْجَرِينِ فَبَلَغَ ثَمَنَ الْمِجَنِّ فَفِيهِ الْقَطْعُ , وَمَا لَمْ يَبْلُغْ ثَمَنَ الْمِجَنِّ فَفِيهِ غَرَامَتُهُ وَجَلَدَاتُ نَكَالٍ» , قَالَ: فَكَيْفَ تَرَى فِيمَا يُوجَدُ فِي الطَّرِيقِ الْمِيتَاءِ وَفِي الْقَرْيَةِ الْمَسْكُونَةِ؟ , قَالَ: «عَرِّفْهُ سَنَةً فَإِنْ جَاءَ بَاغِيهِ فَادْفَعْهُ إِلَيْهِ وَإِلَّا فَشَأْنُكَ بِهِ فَإِنْ جَاءَ طَالِبُهَا يَوْمًا مِنَ الدَّهْرِ فَأَدِّهَا إِلَيْهِ وَمَا كَانَ فِي الطَّرِيقِ غَيْرِ الْمِيتَاءِ وَالْقَرْيَةِ غَيْرِ الْمَسْكُونَةِ، فَفِيهِ وَفِي الرِّكَازِ الْخُمُسُ» , قَالَ: كَيْفَ تَرَى فِي ضَالَّةِ الْغَنَمِ؟ , قَالَ: «طَعَامٌ مَأْكُولٌ لَكَ أَوْ لِأَخِيكَ أَوْ لِلذِّئْبِ احْبِسْ عَلَى أَخِيكَ ضَالَّتَهُ» , قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ تَرَى فِي ضَالَّةِ الْإِبِلِ؟ , قَالَ: «مَا لَكَ وَلَهَا مَعَهَا سِقَاؤُهَا وَحِذَاؤُهَا , وَلَا يُخَافُ عَلَيْهَا الذِّئْبَ , تَأْكُلُ الْكَلَأَ وَتَرِدُ الْمَاءَ دَعْهَا حَتَّى يَأْتِيَ طَالِبُهَا»

Sunan Daruquthni 4524: Abu Bakar An-Naisaburi menceritakan kepada kami, Yunus bin Abdul A’la menceritakan kepada kami, Ibnu Wahb menceritakan kepada kami, Amr bin Al Harits dan Hisyam bin Sa’d mengabarkan kepadaku, dari Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, —yakni Abdullah bin Amr bin Al Ash,— bahwa seorang laki-laki dari Muzainah datang kepada Nabi SAW lalu berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana menurutmu tentang ternak bukit?” Beliau menjawab, “ternak bukit dan yang sama dengannya ada sanksi hukuman. Tidak ada hukuman potong tangan dalam kasus (pencurian) ternak kecuali yang dikandangkan dan nilainya mencapai harga baju besi, maka untuk itu berlaku hukum potong tangan. Adapun yang tidak mencapai nilai baju besi, maka dikenakan denda di samping hukuman cambuk.‘ Dia berkata lagi, “Wahai Rasulullah, bagaimana dan buah yang masih menggantung?” Beliau menjawab, “Dan yang sama dengannya ada sanksi dihukuman. Tidak ada hukum potong tangan dalam kasus (pencurian) buah-buahan kecuali yang telah dimasukkan ke dalam gudang (tempat penyimpanan) dan nilainya mencapai harga baju besi, maka itu berlaku hukum potong tangan. Adapun yang tidak mencapai nilai baju besi, dikenakan denda di samping hukuman cambuk.” Orang itu berkata lagi, “Bagaimana menurutmu tentang yang ditemukan di jalanan bersama (di dalam pemukiman) dan di dalam desa yang dihuni?” Beliau menjawab, “Umumkanlah selama satu tahun. Bila pemiliknya datang maka serahkanlah kepadanya, jika tidak, maka terserah padamu. Jika pada suatu hari pemiliknya datang, maka serahkanlah kepadanya. Sedangkan yang ditemukan di tempat selain jalanan bersama dan di desa yang tidak dihuni, maka untuk itu dan rikaz (penemuan harta terpendam) harus dikeluarkan seperlimanya.” Orang itu berkata lagi, “Bagaimana menurutmu tentang domba yang tersesat?” Beliau menjawab, “Itu adalah makanan untukmu, saudaramu, atau srigala. Tahanlah ternak saudaramu yang hilang.” Orang itu berkata lagi, “Bagaimana menurutmu tentang unta yang tersesat?” Beliau menjawab, ”Ada apa denganmu dan unta itu? Dia itu dibekali dengan sepatu dan tempat minum, dan tidak dikhawatirkan diterkam srigala. Dia bisa makan rerumputan dan mendatangi tempat air sendiri. Biarkanlah dia sampai pencarinya datang.”

Sunan Daruquthni 4540

سنن الدارقطني 4540: حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ , نا أَحْمَدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ , نا ابْنُ وَهْبٍ , نا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدٍ , عَنِ الزُّهْرِيِّ , عَنْ عُرْوَةَ , عَنْ عَائِشَةَ , قَالَتْ: دَخَلَ قَائِفٌ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَاهِدٌ وَأُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ , وَزَيْدُ بْنُ حَارِثَةَ مُضْطَجِعَانِ , فَقَالَ: هَذِهِ الْأَقْدَامُ بَعْضُهَا مِنْ بَعْضٍ , قَالَتْ: «فَتَبَسَّمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَعْجَبَهُ فَأَخْبَرَ بِهِ عَائِشَةَ». قَالَ إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدٍ: وَكَانَ زَيْدٌ أَحْمَرَ أَشْقَرَ أَبْيَضَ وَكَانَ أُسَامَةُ مِثْلَ اللَّيْلِ

Sunan Daruquthni 4540: Abu Bakar menceritakan kepada kami, Ahmad bin Abdurrahman menceritakan kepada kami, Ibnu Wahb menceritakan kepada kami, Ibrahim bin Sa’d menceritakan kepada kami dari Az-Zuhri, dari Urwah, dari Aisyah, dia berkata, “Seorang ahli garis keturunan datang dan Rasulullah SAW pun ada, sementara Usamah bin Zaid dan Zaid bin Haritsah tengah terlentang, lalu dia berkata, ‘Sesungguhnya kaki-kaki ini sebagiannya dari sebagian yang lain.’ Lalu Rasulullah SAW pun tersenyum dan gembira, kemudian beliau memberitahukan kepada Aisyah tentang itu.” Ibrahim bin Sa’d berkata, “Zaid itu merah, coklat, putih, sedangkan Usamah seperti malam.”

Sunan Daruquthni 4525

سنن الدارقطني 4525: نا أَحْمَدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ بْنِ حَبِيبٍ الرَّزَّادُ , نا أَبُو عُتْبَةَ أَحْمَدُ بْنُ الْفَرَجِ , نا بَقِيَّةُ بْنُ الْوَلِيدِ , نا مُبَشِّرُ بْنُ عُبَيْدٍ , عَنِ الْحَجَّاجِ بْنِ أَرْطَاةَ , عَنِ الْحَكَمِ بْنِ عُتَيْبَةَ , عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى , عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ , قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَيْسَ لِقَاتِلٍ وَصِيَّةٌ». مُبَشِّرُ بْنُ عُبَيْدٍ مَتْرُوكُ الْحَدِيثِ يَضَعُ الْحَدِيثَ

Sunan Daruquthni 4525: Ahmad bin Ibrahim bin Habib Ar-Razzad menceritakan kepada kami, Abu Utbah Ahmad bin Al Faraj menceritakan kepada kami, Baqiyyah bin Al Walid menceritakan kepada kami, Mubasysyir bin Ubaid menceritakan kepada kami dari Al Hajjaj bin Arthah, dari Al Hakam bin Utaibah, dari Abdurrahman bin Abu Laila, dari Ali bin Abu Thalib: Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada wasiat bagi pembunuh.” Mubasysyir bin Ubaid hadisnya ditinggalkan, dan dia suka memalsukan hadis.