Skip to main content

Sunan Daruquthni 3485

سنن الدارقطني 3485: نا أَبُو بَكْرٍ النَّيْسَابُورِيُّ , نا أَحْمَدُ بْنُ حَفْصٍ , حَدَّثَنِي أَبِي , حَدَّثَنِي إِبْرَاهِيمُ بْنُ طَهْمَانَ , عَنْ يُونُسَ بْنِ عُبَيْدٍ , عَنِ الْحَسَنِ , أَنَّهُ قَالَ فِي قَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى {فَلَا تَعْضُلُوهُنَّ أَنْ يَنْكِحْنَ أَزْوَاجَهُنَّ إِذَا تَرَاضَوْا بَيْنَهُمْ بِالْمَعْرُوفِ} [البقرة: 232] , قَالَ: حَدَّثَنَا مَعْقِلُ بْنُ يَسَارٍ الْمُزَنِيُّ أَنَّهَا نَزَلَتْ فِيهِ , قَالَ: ” كُنْتُ زَوَّجْتُ أُخْتًا لِي مِنْ رَجُلٍ فَطَلَّقَهَا حَتَّى انْقَضَتْ عِدَّتُهَا ثُمَّ جَاءَ يَخْطُبُهَا فَقُلْتُ لَهُ: زَوَّجْتُكَ وَفَرَشْتُكَ وَأَكْرَمْتُكَ فَطَلَّقْتَهَا ثُمَّ جِئْتُ تَخْطُبُهَا لَا وَاللَّهِ لَا تَعُودُ إِلَيْهَا أَبَدًا ” , قَالَ: «وَكَانَ الرَّجُلُ لَا بَأْسَ بِهِ وَكَانَتِ الْمَرْأَةُ تُرِيدُ أَنْ تَرْجِعَ إِلَيْهِ» , قَالَ: «فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى هَذِهِ الْآيَاتِ» , فَقُلْتُ: «الْآنَ أَفْعَلُ يَا رَسُولَ اللَّهِ، فَزَوَّجَهَا إِيَّاهُ». وَكَذَلِكَ رَوَاهُ عَبَّادُ بْنُ رَاشِدٍ , عَنِ الْحَسَنِ , وَسَعِيدٍ , عَنْ قَتَادَةَ , عَنِ الْحَسَنِ , عَنْ مَعْقِلٍ

Sunan Daruquthni 3485: Abu Bakar An-Naisaburi menceritakan kepada kami, Ahmad bin Hafash menceritakan kepada kami, Ayahku menceritakan kepadaku, Ibrahim bin Thahman menceritakan kepadaku, dari Yunus bin Ubaid, dari Al Hasan bahwa ia pernah mengomentari firman Allah, “Apabila kamu mentalak istri-istrimu, lalu habis masa iddahnya, maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal suaminya” (Qs. Al Baqarah [2]: 232) dia berkata: Ma’qil bin Yasir Al Muzani menceritakan kepada kami bahwa ayat ini turun mengenai kasusnya. Ia menceritakan bahwa aku pernah menikahkan seorang saudariku dengan seorang pria. Pria itu kemudian menceraikannya sampai habis masa iddah-nya. Ia lalu datang lagi melamar saudariku ini. Aku lalu berkata kepadanya, “Aku sudah menikahkan engkau dengannya dan aku muliakan engkau sebagai keluargaku, tapi engkau malah menceraikannya, sekarang engkau datang lagi melamarnya, demi Allah, engkau tidak akan bisa mendapatkannya lagi.” Ma’qil lanjut berkata, “Pria itu tidak terlalu terpukul, tapi saudariku amat ingin kembali kepada mantan suaminya ini. Maka, turunlah firman Allah (ayat di atas) dan aku langsung berkata, ‘Sekarang aku laksanakan ya Rasulullah.’ Setelah itu Ma’qil menikahkah saudarinya dengan mantan suaminya tersebut.” Demikian pula diriwayatkan oleh Abbad bin Rasyid, dari Al Hasan dan Sa’id, dari Qatadah, dari Al Hasan, dari Ma’qil.

Sunan Daruquthni 3486

سنن الدارقطني 3486: نا أَبُو بَكْرٍ النَّيْسَابُورِيُّ , نا يَزِيدُ بْنُ سِنَانٍ , نا أَبُو عَامِرٍ الْعَقَدِيُّ , ح وَنا مُحَمَّدُ بْنُ عَمْرِو بْنِ الْبَخْتَرِيِّ , نا يَحْيَى بْنُ جَعْفَرٍ , نا أَبُو عَامِرٍ , نا عَبَّادُ بْنُ رَاشِدٍ , عَنِ الْحَسَنِ , حَدَّثَنِي مَعْقِلُ بْنُ يَسَارٍ , قَالَ: «كَانَتْ لِي أُخْتٌ فَخُطِبَتْ إِلَيَّ فَكُنْتُ أَمْنَعُهَا النَّاسَ فَأَتَانِي ابْنُ عَمٍّ لِي فَخَطَبَهَا فَأَنْكَحْتُهَا إِيَّاهُ فَاضْطَجَعَهَا مَا شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى ثُمَّ طَلَّقَهَا طَلَاقًا لَهُ رَجْعَةٌ ثُمَّ تَرَكَهَا حَتَّى انْقَضَتْ عِدَّتُهَا فَخَطَبَهَا مَعَ الْخُطَّابِ» , فَقُلْتُ: ” مَنَعْتُهَا النَّاسَ وَزَوَّجْتُكَ إِيَّاهَا ثُمَّ طَلَّقْتَهَا طَلَاقًا لَهُ رَجْعَةٌ ثُمَّ تَرَكْتَهَا حَتَّى انْقَضَتْ عِدَّتُهَا فَلَمَّا خُطِبَتْ إِلَيَّ أَتَيْتَنِي تَخْطُبُهَا مَعَ الْخُطَّابِ إِنِّي لَا أُزَوِّجُكُ أَبَدًا , فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى أَوْ قَالَ أُنْزِلَتْ {وَإِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ فَبَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَلَا تَعْضُلُوهُنَّ أَنْ يَنْكِحْنَ أَزْوَاجَهُنَّ} [البقرة: 232] , فَكَفَّرْتُ عَنْ يَمِينِي وَأَنْكَحْتُهَا إِيَّاهُ ” الْمَعْنَى قَرِيبٌ

Sunan Daruquthni 3486: Abu Bakar An-Naisaburi menceritakan kepada kami, Yazid bin Sinan menceritakan kepada kami, Abu Amir Al Aqadi menceritakan kepada kami, (h) dan Muhammad bin Amr bin Al Bukhturi menceritakan kepada kami, Yahya bin Ja’far menceritakan kepada kami, Abu Amir menceritakan kepada kami, Abbad bin Rasyid menceritakan kepada kami dari Al Hasan, Ma’qil bin Yasar menceritakan kepadaku, “Aku mempunyai seorang saudari. Ia dilamar melalui diriku dan aku sangat selektif untuk calon suaminya. Ketika anak pamanku datang melamarnya, aku pun menerima dan menikahkan mereka. Ia kemudian menggauli saudariku Masya Allah Ta‘ala, lalu ia menceraikannya dengan talak yang masih bisa rujuk. Tapi ia tidak merujuknya sampai habis masa iddah saudariku itu. Kemudian, ia datang lagi melamarnya layaknya pelamar yang kin. Aku lalu berkata kepadanya, ‘Aku menolak banyak lamaran untuk saudariku dan aku bersedia menikahkannya denganmu, lalu engkau ceraikan dia dan masih bisa rujuk dan engkau tidak merujuknya sampai habis masa iddah-nya. Sekarang, ketika ia boleh dilamar siapa pun engkau datang melamarnya lagi?! Jangan harap aku sudi menikahkanmu dengannya lagi.’ Maka turunlah firman Allah, ‘Apabila kamu mentalak istri-istrimu, lalu habis masa iddahnya, maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal suaminya. ‘ (Qs. Al Baqarah [2]: 232) Aku kemudian membayar kafarat sumpahku dan menikahkan lagi ia dengan saudariku.” Maknanya mirip dengan hadis sebelumnya.

Sunan Daruquthni 3487

سنن الدارقطني 3487: نا أَبُو بَكْرٍ النَّيْسَابُورِيُّ , نا أَبُو الْأَزْهَرِ , نا رَوْحٌ , عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي عَرُوبَةَ , عَنْ قَتَادَةَ , عَنِ الْحَسَنِ , عَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ , قَالَ: «كَانَتْ لِي أُخْتٌ تَحْتَ رَجُلٍ فَطَلَّقَهَا ثُمَّ خَلَا عَنْهَا حَتَّى إِذَا انْقَضَتْ عِدَّتُهَا , ثُمَّ جَاءَ يَخْطُبُهَا» , فَحَمَى مَعْقِلٌ عَنْ ذَلِكَ وَقَالَ: ” خَلَا عَنْهَا وَهُوَ يَقْدِرُ عَلَيْهَا فَحَالَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا , فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى {وَإِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ فَبَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَلَا تَعْضُلُوهُنَّ} [البقرة: 232] ” الْآيَةَ

Sunan Daruquthni 3487: Abu Bakar An-Naisaburi menceritakan kepada kami, Abu Al Azhar menceritakan kepada kami, Rauh menceritakan kepada kami dari Sa’id bin Abu Arubah, dari Qatadah, dari Al Hasan, dari Ma’qil bin Yasar, dia berkata, “Aku punya seorang saudari yang dinikahi seorang pria. Ia kemudian menceraikan saudariku dan membiarkannya sampai habis masa iddah-nya. Setelah itu ia datang lagi melamarnya. Namun Ma’qil enggan menerima lamarannya lagi dan ia berkata, ‘Dia sudah menyia-nyiakan kesempatan padahal ia bisa merujuknya waktu itu. Sekarang, mustahil mereka bersatu lagi.’ Lalu turunlah ayat, ‘Apabila kamu mentalak istri-istrimu, lalu habis masa iddahnya, maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal suaminya’.” (Qs. Al Baqarah [2]: 232)

Sunan Daruquthni 3488

سنن الدارقطني 3488: نا مُحَمَّدُ بْنُ مَخْلَدٍ , نا عَبَّاسُ بْنُ مُحَمَّدٍ , نا مُحَمَّدُ بْنُ الصَّلْتِ , نا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ سُلَيْمَانَ بْنِ الْغَسِيلِ , عَنْ عَمَّتِهِ سَكِينَةَ بِنْتِ حَنْظَلَةَ قَالَتِ: اسْتَأْذَنَ عَلَيَّ مُحَمَّدُ بْنُ عَلِيٍّ وَلَمْ تَنْقَضِ عِدَّتِي مِنْ مَهْلَكِ زَوْجِي , فَقَالَ: قَدْ عَرَفْتِ قَرَابَتِي مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَرَابَتِي مِنْ عَلِيٍّ وَمَوْضِعِي فِي الْعَرَبِ , قُلْتُ: غَفَرَ اللَّهُ لَكَ يَا أَبَا جَعْفَرٍ إِنَّكَ رَجُلٌ يُؤْخَذُ عَنْكَ تَخْطُبُنِي فِي عِدَّتِي , قَالَ: إِنَّمَا أَخْبَرْتُكِ لِقَرَابَتِي مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمِنْ عَلِيٍّ وَقَدْ دَخَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى أُمِّ سَلَمَةَ وَهِيَ مُتَأَيِّمَةٌ مِنْ أَبِي سَلَمَةَ , فَقَالَ: «لَقَدْ عَلِمْتِ أَنِّي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَخِيرَتُهُ وَمَوْضِعِي فِي قَوْمِي» كَانَتْ تِلْكَ خُطْبَتُهُ

Sunan Daruquthni 3488: Muhammad bin Makhlad menceritakan kepada kami, Abbas bin Muhammad menceritakan kepada kami, Muhammad bin Ash-Shalt menceritakan kepada kami, Abdurrahman bin Sulaiman bin Al Ghasil menceritakan kepada kami dari bibinya Sakinah binti Hanzhalah, dia berkata: Muhammad bin Ali pernah minta izin masuk menemuiku dan pada saat itu aku masih dalam masa iddah setelah suamiku meninggal. Ia berkata, “Kau tahu kan, hubunganku dengan Rasulullah SAW dan Ali, serta kedudukan di kalangan bangsa Arab.” Aku lalu berkata kepadanya, “Semoga Allah mengampunimu wahai Abu Ja’far, engkau orang yang menjadi panutan dan sekarang engkau melamarku di masa iddah-ku belum habis?” Ia menjawab, “Aku hanya mengabarkan kepadamu hubunganku dengan Rasulullah SAW dan Ali. Bukankah Rasulullah SAW juga pernah menemui Ummu Salamah setelah ia baru saja ditinggal mati Abu Salamah dan beliau berkata, ‘Engkau sudah tahu bahwa aku ini utusan Allah dan manusia pilihannya serta kedudukanku di kaumku” Itu adalah bentuk pinangan darinya.

Sunan Daruquthni 3489

سنن الدارقطني 3489: نا مُحَمَّدُ بْنُ مَخْلَدٍ , نا أَبُو وَائِلَةَ الْمَرْوَزِيُّ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ الْحُسَيْنِ مِنْ وَلَدِ بِشْرِ بْنِ الْمُحْتَفِزِ , نا الزُّبَيْرُ بْنُ بَكَّارٍ , نا خَالِدُ بْنُ الْوَضَّاحِ , عَنْ أَبِي الْخَصِيبِ , عَنْ هِشَامٍ , عَنْ عُرْوَةَ , عَنْ أَبِيهِ , عَنْ عَائِشَةَ , قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” لَا بُدَّ فِي النِّكَاحِ مِنْ أَرْبَعَةٍ: الْوَلِيِّ وَالزَّوْجِ وَالشَّاهِدَيْنِ ” أَبُو الْخَصِيبِ مَجْهُولٌ وَاسْمُهُ: نَافِعُ بْنُ مَيْسَرَةَ

Sunan Daruquthni 3489: Muhammad bin Makhlad menceritakan kepada kami, Abu Wa’ilah Al Mirwazi Abdurrahman bin Al Husain —salah seorang pria dari keturunan Bisyir bin Muhtafiz— menceritakan kepada kami, Az-Zubair bin Bakkar menceritakan kepada kami, Khalid bin Al Wadhdhah menceritakan kepada kami dari Abu Al Khushaib, dari Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, dari Aisyah, dia berkata: Rasulullah SAW bersabda, “Dalam nikah itu harus ada empat orang, yaitu: wali, suami, dan dua orang saksi.” Abu Khushaib adalah perawi majhul. Dia bernama Nafi’ bin Maisarah.

Sunan Daruquthni 3490

سنن الدارقطني 3490: نا أَبُو بَكْرٍ النَّيْسَابُورِيُّ , نا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ , نا رَوْحٌ , نا ابْنُ جُرَيْجٍ , أَخْبَرَنِي عَبْدُ الْحَمِيدِ بْنُ جُبَيْرِ بْنِ شَيْبَةَ , عَنْ عِكْرِمَةَ بْنِ خَالِدٍ , قَالَ: جَمَعَتِ الطَّرِيقُ رَكْبًا فَجَعَلَتِ امْرَأَةٌ مِنْهُمْ ثَيِّبٌ أَمْرَهَا بِيَدِ رَجُلٍ غَيْرِ وَلِيٍّ فَأَنْكَحَهَا فَبَلَغَ ذَلِكَ عُمَرَ «فَجَلَدَ النَّاكِحَ وَالْمُنْكِحَ وَرَدَّ نِكَاحَهَا»

Sunan Daruquthni 3490: Abu Bakar An-Naisaburi menceritakan kepada kami, Muhammad bin Ishaq menceritakan kepada kami, Rauh menceritakan kepada kami, Ibnu Juraij menceritakan kepada kami, Abdul Hamid bin Jubair bin Syaibah menceritakan kepadaku, dari Ikrimah bin Khalid, dia berkata, “Pernah ada satu rombongan melakukan perjalanan. Di antara mereka ada seorang wanita janda yang berada di bawah pengawasan seorang laki-laki yang bukan walinya. Lalu ia menikahkan wanita itu dengan seseorang. Ketika berita itu sampai ke telinga Umar, maka ia menghukum cambuk yang menikahi dan yang menikahkannya, serta membatalkan pernikahan tadi.”

Sunan Daruquthni 3491

سنن الدارقطني 3491: نا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْبَزَّارُ , وَإِسْمَاعِيلُ بْنُ الْعَبَّاسِ الْوَرَّاقُ , قَالَا: نا عُمَرُ بْنُ شَبَّةَ , نا بَكْرُ بْنُ بَكَّارٍ , نا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحْرِزٍ , عَنْ قَتَادَةَ , عَنِ الْحَسَنِ , عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ , عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ , قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَا نِكَاحَ إِلَّا بِوَلِيٍّ وَشَاهِدَيْ عَدْلٍ»

Sunan Daruquthni 3491: Ya’qub bin Ibrahim Al Bazzar dan Ismail bin Abbas Al Warraq menceritakan kepada kami, mereka berkata: Umar bin Syabbah menceritakan kepada kami, Bakar bin Bakkar menceritakan kepada kami, Abdullah bin Muhriz menceritakan kepada kami dari Qatadah, dari Al Hasan, dari Imran bin Hushain, dari Abdullah bin Mas’ud, dia berkata: Rasulullah SAW bersabda, “Nikah tidak sah kecuali jika menyertakan wali dan dua orang saksi yang adil.”

Sunan Daruquthni 3492

سنن الدارقطني 3492: نا الْحُسَيْنُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ , نا أَبُو خُرَاسَانَ مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ السَّكَنِ ح وَنا مُحَمَّدُ بْنُ مَخْلَدٍ , وَمُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحُسَيْنِ الْعَلَّافُ , وَعُثْمَانُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ السَّمَّاكِ , قَالُوا: نا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي سَعْدٍ , قَالَا: نا إِسْحَاقُ بْنُ هِشَامٍ التَّمَّارُ , نا ثَابِتُ بْنُ زُهَيْرٍ , نا نَافِعٌ , عَنِ ابْنِ عُمَرَ , قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَا نِكَاحَ إِلَّا بِوَلِيٍّ وَشَاهِدَيْ عَدْلٍ»

Sunan Daruquthni 3492: Al Husain bin Ismail menceritakan kepada kami, Abu Khurasan Muhammad bin Ahmad bin As-Sakan menceritakan kepada kami, (h) Muhammad bin Makhlad menceritakan kepada kami, dan Muhammad bin Abdullah bin Al Husain Al Allaf, serta Utsman bin Ahmad bin As-Sammak, mereka berkata: Abdullah bin Abu Sa’d menceritakan kepa.da kami, mereka berkata: Ishaq bin Hisyam At-Tammar menceritakan kepada kami, Tsabit bin Zuhair menceritakan kepada kami, Nafi’ menceritakan kepada kami dari Ibnu Umar, dia berkata: Rasulullah SAW bersabda, “Nikah tidak sah kecuali jika menyertakan wali dan dua orang saksi yang adil.?

Sunan Daruquthni 3493

سنن الدارقطني 3493: نا أَبُو حَامِدٍ مُحَمَّدُ بْنُ هَارُونَ الْحَضْرَمِيُّ , نا سُلَيْمَانُ بْنُ عُمَرَ بْنِ خَالِدٍ الرَّقِّيُّ , نا عِيسَى بْنُ يُونُسَ , عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ , عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ مُوسَى , عَنِ الزُّهْرِيِّ , عَنْ عُرْوَةَ , عَنْ عَائِشَةَ , قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَا نِكَاحَ إِلَّا بِوَلِيٍّ وَشَاهِدَيْ عَدْلٍ فَإِنْ تَشَاجَرُوا فَالسُّلْطَانُ وَلِيُّ مَنْ لَا وَلِيَّ لَهُ». تَابَعَهُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ يُونُسَ , عَنْ عِيسَى بْنِ يُونُسَ مِثْلَهُ سَوَاءً. وَكَذَلِكَ رَوَاهُ سَعِيدُ بْنُ خَالِدٍ , أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرِو بْنِ عُثْمَانَ، وَيَزِيدُ بْنُ سِنَانٍ , وَنُوحُ بْنُ دَرَّاجٍ , وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ حَكِيمٍ أَبُو بَكْرٍ , عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ , عَنْ أَبِيهِ , عَنْ عَائِشَةَ قَالُوا فِيهِ: «شَاهِدَيْ عَدْلٍ». وَكَذَلِكَ رَوَاهُ ابْنُ أَبِي مُلَيْكَةَ , عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا

Sunan Daruquthni 3493: Abu Hamid Muhammad bin Harun Al Hadhrami menceritakan kepada kami, Sulaiman bin Umar bin Khalid Ar-Raqqi menceritakan kepada kami, Isa bin Yunus menceritakan kepada kami, dari Ibnu Juraij, dari Sulaiman bin Musa, dari Az-Zuhri, dari Urwah, dari Aisyah, dia berkata: Rasulullah SAW bersabda, “Nikah tidak sah kecuali jika menyertakan wali dan dua orang saksi yang adil. Jika mereka berselisih maka penguasa adalah wali bagi yang tidak mempunyai wali” Hadis ini diperkuat dengan riwayat Abdurrahman bin Yunus dari Isa bin Yunus dengan redaksi yang sama seperti tadi. Demikian pula riwayat Sa’id bin Khalid bahwa Abdullah bin Amr bin Utsman, Yazid bin Sinan, Nuh bin Darraj dan Abdullah bin Hakim Abu Bakar, dari Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, dari Aisyah. Semuanya meriwayatkan lafazh “dua orang saksi yang adil”. Demikian pula riwayat Ibnu Abu Mulaikah dari Aisyah RA.

Sunan Daruquthni 3494

سنن الدارقطني 3494: نا أَبُو ذَرٍّ أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ أَبِي بَكْرٍ نا أَحْمَدُ بْنُ الْحُسَيْنِ بْنِ عَبَّادٍ النَّسَائِيُّ , نا مُحَمَّدُ بْنُ يَزِيدَ بْنِ سِنَانٍ , نا أَبِي , عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ , عَنْ أَبِيهِ , عَنْ عَائِشَةَ , قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَا نِكَاحَ إِلَّا بِوَلِيٍّ وَشَاهِدَيْ عَدْلٍ»

Sunan Daruquthni 3494: Abu Dzar Ahmad bin Muhammad bin Abu Bakar menceritakan kepada kami, Muhammad bin Al Husain bin Abbad An-Nasa’i menceritakan kepada kami, Muhammad bin Yazid bin Sinan menceritakan kepada kami, ayahku menceritakan kepada kami dari Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, dari Aisyah, dia berkata: Rasulullah SAW bersabda, “Nikah tidak sah kecuali jika menyertakan wali dan dua saksi yang adil”