Skip to main content

Sunan Daruquthni 3784

سنن الدارقطني 3784: نا أَبُو بَكْرٍ , نا الرَّبِيعُ بْنُ سُلَيْمَانَ , أنا الشَّافِعِيُّ , أنا مَالِكٌ , عَنْ رَبِيعَةَ , أَنَّ الْقَاسِمَ بْنَ مُحَمَّدٍ , وَعُرْوَةَ بْنَ الزُّبَيْرِ كَانَا يَقُولَانِ فِي الرَّجُلِ يَكُونُ عِنْدَهُ أَرْبَعُ نِسْوَةٍ فَيُطَلِّقُ إِحْدَاهُنَّ الْبَتَّةَ: «يَتَزَوَّجُ إِذَا شَاءَ وَلَا يَنْظُرُ أَنْ تَنْقَضِيَ عِدَّتُهَا»

Sunan Daruquthni 3784: Abu Bakar menceritakan kepada kami, Ar-Rabi’ bin Sulaiman menceritakan kepada kami, Asy-Syafi’i menceritakan kepada kami, Malik menceritakan kepada kami dari Rabi’ah bahwa Al Qasim bin Muhammad dan Urwah bin Az-Zubair berkata, “Seorang laki-laki yang memiliki empat istri bila sudah mentalak salah satunya dengan talak ba’in (tidak bisa rujuk lagi), maka ia boleh menikah dengan istri baru kapan saja ia mau, meski istri yang ditalak belum selesai masa iddah-nya.”

Sunan Daruquthni 3800

سنن الدارقطني 3800: نا أَبُو عَلِيٍّ الْمَالِكِيُّ , نا أَبُو حَفْصٍ , نا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ , نا عَلِيُّ بْنُ الْمُبَارَكِ , نا يَحْيَى بْنُ أَبِي كَثِيرٍ , أَنَّ عُمَرَ بْنَ مُعَتِّبٍ أَخْبَرَهُ , أَنَّ أَبَا حَسَنٍ مَوْلَى بَنِي نَوْفَلٍ أَخْبَرَهُ , قَالَ: [ص:480] اسْتَفْتَيْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ فِي عَبْدٍ تَحْتَهُ مَمْلُوكَةٌ فَطَلَّقَهَا تَطْلِيقَتَيْنِ ثُمَّ عُتِقَا جَمِيعًا , قَالَ: «يَخْطُبُهَا إِنْ شَاءَ , قَضَى بِذَلِكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ»

Sunan Daruquthni 3800: Abu Ali Al Maliki menceritakan kepada kami, Abu Hafash menceritakan kepada kami, Yahya bin Sa’id menceritakan kepada kami, Ali bin Al Mubarak menceritakan kepada kami, Yahya bin Abu Katsir menceritakan kepada kami, bahwa Umar bin Mu’attib mengabarkan kepadanya, Abu Hasan maula bani Naufal mengabarkan kepadanya, ia berkata: Aku pernah bertanya kepada Ibnu Abbas tentang seorang pria yang mempunyai budak wanita, lalu ia talak dua kali dan merdekakannya, maka ia menjawab, “Ia boleh kembali melamarnya kalau ia mau, seperti itulah Rasulullah SAW memberikan keputusan.”

Sunan Daruquthni 3785

سنن الدارقطني 3785: نا أَبُو بَكْرٍ النَّيْسَابُورِيُّ , نا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ بِشْرٍ , نا سُفْيَانُ , عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ مَوْلَى أَبِي طَلْحَةَ , عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ يَسَارٍ , عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ , عَنْ عُمَرَ , قَالَ: «يَنْكِحُ الْعَبْدُ امْرَأَتَيْنِ وَيُطَلِّقُ تَطْلِيقَتَيْنِ وَتَعْتَدُّ الْأَمَةُ حَيْضَتَيْنِ فَإِنْ لَمْ تَحِضْ فَشَهْرَيْنِ أَوْ شَهْرًا وَنِصْفًا»

Sunan Daruquthni 3785: Abu Bakar An-Naisaburi menceritakan kepada kami, Abdurrahman bin Bisyir menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, Muhammad bin Abdurrahman maula Abu Thalhah menceritakan kepada kami dari Sulaiman bin Yasar, dari Abdullah bin Utbah, dari Umar, dia berkata, “Seorang budak pria boleh menikahi dua wanita, baginya ada dua kali talak, istrinya mendapat dua kali haid sebagai iddah, jika tidak lagi haid maka iddah-nya dua bulan, atau sebulan setengah.”

Sunan Daruquthni 3786

سنن الدارقطني 3786: نا أَبُو بَكْرٍ النَّيْسَابُورِيُّ , نا الْعَبَّاسُ بْنُ الْوَلِيدِ بْنِ مَزْيَدٍ , نا عُقْبَةُ بْنُ عَلْقَمَةَ , أَخْبَرَنِي مُسْلِمُ بْنُ خَالِدٍ , حَدَّثَنِي جَعْفَرُ بْنُ مُحَمَّدٍ , عَنْ أَبِيهِ , عَنْ جَدِّهِ , عَنْ حُسَيْنِ بْنِ عَلِيٍّ , أَنَّ عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ كَانَ يَقُولُ فِي الرَّجُلِ يَبْتَاعُ الْجَارِيَةَ فَيُصِيبُهَا ثُمَّ يَظْهَرُ عَلَى عَيْبٍ فِيهَا لَمْ يَكُنْ رَآهُ أَنَّ الْجَارِيَةَ تَلْزَمُهُ وَيُوضَعُ عَنْهُ قَدْرُ الْعَيْبِ , وَقَالَ: «لَوْ كَانَ كَمَا يَقُولُ النَّاسُ يَرُدُّهَا وَيَرُدُّ الْعَقْرَ كَانَ ذَلِكَ شِبْهَ الْإِجَارَةِ وَكَانَ الرَّجُلُ يُصِيبُهَا وَهُوَ يَرَى الْعَيْبَ لَمْ يَرُدِ الْعَقْرَ وَلَكِنَّهُ إِذَا أَصَابَهَا لَزِمَتْهُ الْجَارِيَةُ وَوُضِعَ عَنْهُ قَدْرُ الْعَيْبِ»

Sunan Daruquthni 3786: Abu Bakar An-Naisaburi menceritakan kepada kami, Abbas bin Al Walid bin Mazid menceritakan kepada kami, Muslim bin Khalid mengabarkan kepadaku, Ja’far bin Muhammad menceritakan kepadaku, dari ayahnya, dari kakeknya, dari Al Husain bin Ali bahwa Ali bin Abu Thalib RA pernah berkata, “Pria yang membeli seorang budak wanita lalu menyetubuhinya, kemudian terlihat ada cacatnya yang belum ia ketahui sebelumnya, maka ia tetap wajib membeli budak itu, tapi ia akan mendapat potongan harga akibat cacat tersebut.” Ali lanjut berkata, “Kalau keadaannya seperti kata orang, ia harus mengembalikannya dan mengembalikan barang, maka itu seperti sewa menyewa. Tapi jika ia sudah menyetubuhi budak tersebut maka ia harus mempertahankannya dan minta potongan harga akibat aib.”

Sunan Daruquthni 3787

سنن الدارقطني 3787: نا دَعْلَجُ بْنُ أَحْمَدَ , نا مُحَمَّدُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ زَيْدٍ , نا سَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ , عَنْ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ مُحَمَّدٍ , عَنْ جَعْفَرٍ , عَنْ مُحَمَّدٍ , عَنْ أَبِيهِ , أَنَّ عَلِيًّا قَالَ: «إِذَا ابْتَاعَ الْأَمَةَ ثُمَّ أَصَابَهَا ثُمَّ وَجَدَ بِهَا عَيْبًا بَعْدَ إِصَابَتِهِ أَخَذَ قِيمَةَ الْعَيْبِ» هَذَا مُرْسَلٌ.

Sunan Daruquthni 3787: Da’laj bin Ahmad menceritakan kepada kami, Muhammad bin Ali bin Zaid menceritakan kepada kami, Sa’id bin Manshur menceritakan kepada kami dari Abdul Aziz bin Muhammad, dari Ja’far, dari Muhammad, dari ayahnya, bahwa Ali berkata, “Jika seorang budak wanita sudah dibeli, lalu disetubuhi kemudian terlihat ada aib, maka ganti rugi boleh dimintai akibat cacat tersebut.” Hadis ini mursal.

Sunan Daruquthni 3788

سنن الدارقطني 3788: نا جَعْفَرُ بْنُ أَحْمَدَ الْوَاسِطِيُّ , نا مُوسَى بْنُ إِسْحَاقَ , نا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ , نا حَفْصُ بْنُ غِيَاثٍ , عَنْ جَعْفَرِ بْنِ مُحَمَّدٍ , عَنْ أَبِيهِ , عَنْ عَلِيِّ بْنِ حُسَيْنٍ , عَنْ عَلِيٍّ , قَالَ: «لَا يَرُدُّهَا وَلَكِنَّهَا تُكْسَرُ فَيَرُدُّ عَلَيْهِ قِيمَةَ الْعَيْبِ» , وَهَذَا أَيْضًا مُرْسَلٌ

Sunan Daruquthni 3788: Ja’far bin Ahmad Al Wasithi menceritakan kepada kami, Musa bin Ishaq menceritakan kepada kami, Abu Bakar bin Abu Syaibah menceritakan kepada kami, Hafash bin Ghiyats menceritakan kepada kami dari Ja’far bin Muhammad, dari ayahnya, dari Ali bin Al Hasain, dair Ali, dia berkata, “Ia tidak boleh mengembalikannya (budak wanita tadi) tetapi ia boleh minta ganti rugi dan mendapat ganti dari cacat tersebut.” Hadis ini juga mursal.

Sunan Daruquthni 3789

سنن الدارقطني 3789: نا جَعْفَرٌ , نا مُوسَى , نا أَبُو بَكْرٍ , نا شَرِيكٌ , عَنْ جَابِرٍ , عَنْ عَامِرٍ , عَنْ عُمَرَ , قَالَ: «إِذَا كَانَتْ ثَيِّبًا رُدَّ مَعَهَا نِصْفُ الْعُشْرِ وَإِنْ كَانَتْ بِكْرًا رُدَّ الْعُشْرُ». وَهَذَا مُرْسَلٌ , عَامِرٌ لَمْ يُدْرِكْ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ

Sunan Daruquthni 3789: Ja’far menceritakan kepada kami, Musa menceritakan kepada kami, Abu Bakar menceritakan kepada kami, Syarik menceritakan kepada kami dari Jabir, dari Amir, dari Umar, dia berkata, “Jika budak itu janda maka ia boleh mengembalikannya beserta 5 % harga, tapi jika perawan berarti 10 % harga.” Hadis ini juga mursal, karena Amir tidak pernah bertemu dengan Umar.

Sunan Daruquthni 3790

سنن الدارقطني 3790: نا دَعْلَجٌ , نا مُحَمَّدُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ زَيْدٍ , نا سَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ , نا هُشَيْمٌ , عَنْ جُوَيْبِرٍ , عَنِ الضَّحَّاكِ , أَنَّ عَلِيًّا , قَالَ: «إِذَا وَطِئَهَا وَجَبَتْ عَلَيْهِ وَإِذَا رَأَى عَيْبًا قَبْلَ أَنْ يَطَأَهَا فَإِنْ شَاءَ أَمْسَكَ وَإِنْ شَاءَ رَدَّ» هَذَا مُرْسَلٌ

Sunan Daruquthni 3790: Da’laj menceritakan kepada kami, Muhammad bin Ali bin Zaid menceritakan kepada kami, Sa’id bin Manshur menceritakan kepada kami, Hasyim menceritakan kepada kami dari Juwaibir, dari Adh-Dhahhak, bahwa Ali berkata, “Jika ia sudah mencampurinya maka ia wajib mempertahankannya, tapi jika ia melihat ada cacat sebelum mencampurinya, maka ia boleh memilih; mempertahankannya atau mengembalikannya (kepada penjual).” Hadis ini juga mursal

Sunan Daruquthni 3791

سنن الدارقطني 3791: نا أَبُو عَلِيٍّ الْمَالِكِيُّ , نا أَبُو حَفْصٍ عَمْرُو بْنُ عَلِيٍّ , نا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ , نا ثَوْرُ بْنُ يَزِيدَ , قَالَ: سَمِعْتُ رَجَاءَ بْنَ حَيْوَةَ , قَالَ: سُئِلَ عَمْرُو بْنُ الْعَاصِ عَنْ عِدَّةِ أُمِّ وَلَدٍ فَقَالَ: «لَا تَلْبَسُوا عَلَيْنَا دِينَنَا إِنْ تَكُنْ أَمَةً فَإِنْ عِدَّتَهَا عِدَّةُ حُرَّةٍ». وَرَوَاهُ سُلَيْمَانُ بْنُ مُوسَى , عَنْ رَجَاءِ بْنِ حَيْوَةَ , عَنْ قَبِيصَةَ بْنِ ذُؤَيْبٍ , عَنْ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ مَوْقُوفًا أَيْضًا. وَرَفَعَهُ قَتَادَةُ , وَمَطَرٌ الْوَرَّاقُ. وَالْمَوْقُوفُ أَصَحُّ وَقَبِيصَةُ لَمْ يَسْمَعْ مِنْ عَمْرٍو.

Sunan Daruquthni 3791: Abu Ali Al Maliki menceritakan kepada kami, Abu Hafash Amr bin Ali menceritakan kepada kami, Yahya bin Sa’id menceritakan kepada kami, Tsaur bin Yazid menceritakan kepada kami, Aku mendengar Raja’ bin Haiwah berkata: Amr bin Al Ash ditanya tentang seorang budak wanita yang menjadi Ummu Walad, ia menjawab, “Jangan mengelabui agama kami, kalau ia budak maka iddah-nya sama dengan iddah wanita merdeka.” Diriwayatkan pula oleh Sulaiman bin Musa, dari Raja bin Haiwah, dari Qabishah bin Dzu’aib, dari Amr’ bin Al Ash secara mauquf. Qatadah dan Mathar bin Warraq meriwayatkannya secara marfu’, tapi yang mauquf lebih shahih, dan Qabishah tidak pernah mendengar dari Amr.

Sunan Daruquthni 3792

سنن الدارقطني 3792: نا أَبُو عُبَيْدٍ الْقَاسِمُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ , نا أَحْمَدُ بْنُ الْمِقْدَامِ , نا يَزِيدُ بْنُ زُرَيْعٍ , نا سَعِيدٌ , عَنْ قَتَادَةَ , وَمَطَرٍ , عَنْ رَجَاءِ بْنِ حَيْوَةَ , عَنْ قَبِيصَةَ بْنِ ذُؤَيْبٍ , أَنَّ عَمْرَو بْنَ الْعَاصِ , قَالَ: ” لَا تَلْبَسُوا عَلَيْنَا سُنَّةَ نَبِيِّنَا: عِدَّتُهَا عِدَّةُ الْمُتَوَفَّى عَنْهَا زَوْجُهَا أَرْبَعَةُ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا “. [ص:478]

Sunan Daruquthni 3792: Abu Ubaid Al Qasim bin Ismail menceritakan kepada kami, Ahmad bin Al Miqdam menceritakan kepada kami, Yazid bin Zurai’ menceritakan kepada kami, Sa’id menceritakan kepada kami dari Qatadah dan Mathar, dari Raja’ bin Haiwah, dari Qabishah bin Dzu’aib bahwa Amr bin Al Ash berkata, “Jangan mengelabui Sunnah Nabi kami, iddah-nya sama dengan iddah wanita yang ditinggal mati suami, yaitu empat bulan sepuluh hari.”