Skip to main content

Shahih Ibnu Khuzaimah 1389

صحيح ابن خزيمة 1389: نا سَعِيدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عُقْبَةَ، نا سُفْيَانُ، عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَائِشَةَ مِثْلَهُ

Shahih Ibnu Khuzaimah 1389: Sa’id bin Abdurrahman bin Uqbah menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami dari Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, dari Aisyah .dengan redaksi yang serupa.

Shahih Ibnu Khuzaimah 1390

صحيح ابن خزيمة 1390: ثنا يُوسُفُ بْنُ مُوسَى، ثنا جَرِيرٌ، عَنْ عَطَاءِ بْنِ السَّائِبِ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ: ” انْكَسَفَتِ الشَّمْسُ يَوْمًا عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِيُصَلِّيَ، فَقَامَ حَتَّى لَمْ يَكَدْ أَنْ يَرْكَعَ، ثُمَّ رَكَعَ حَتَّى لَمْ يَكَدْ يَرْفَعُ رَأْسَهُ، ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ فَلَمْ يَكَدْ أَنْ يَسْجُدَ، ثُمَّ سَجَدَ فَلَمْ يَكَدْ أَنْ يَرْفَعَ رَأْسَهُ، فَجَعَلَ يَنْفُخُ وَيَبْكِي، وَيَقُولُ: «رَبِّ، أَلَمْ تَعِدْنِي أَنْ لَا تُعَذِّبَهُمْ وَأَنَا فِيهِمْ؟ رَبِّ، أَلَمْ تَعِدْنِي أَنْ لَا تُعَذِّبَهُمْ وَنَحْنُ نَسْتَغْفِرُكَ؟» ، فَلَمَّا صَلَّى رَكْعَتَيْنِ انْجَلَتِ الشَّمْسُ، فَقَامَ فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ، وَقَالَ: «إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ فَإِذَا انْكَسَفَا فَافْزَعُوا إِلَى ذَكَرِ اللَّهِ» ، ثُمَّ قَالَ: ” لَقَدْ عُرِضَتْ عَلَيَّ الْجَنَّةُ حَتَّى لَوْ شِئْتُ تَعَاطَيْتُ قِطْفًا مِنْ قُطُوفُهَا، وَعُرِضَتْ عَلَيَّ النَّارُ فَجَعَلْتُ أَنْفُخُهَا، فَخِفْتُ أَنْ يَغْشَاكُمْ، فَجَعَلْتُ أَقُولُ: رَبِّ، أَلَمْ تَعِدْنِي أَنْ لَا تُعَذِّبَهُمْ وَأَنَا فِيهِمْ؟ رَبِّ، أَلَمْ تَعِدْنِي أَلَا تُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ؟، قَالَ: فَرَأَيْتُ فِيهَا الْحِمْيَرِيَّةَ السَّوْدَاءَ الطَّوِيلَةَ صَاحِبَةَ الْهِرَّةِ، كَانَتْ تَحْبِسُهَا فَلَمْ تُطْعِمْهَا وَلَمْ تَسْقِهَا وَلَا تَتْرُكُهَا تَأْكُلُ مِنْ خَشَاشِ الْأَرْضِ، فَرَأَيْتُهَا كُلَّمَا أَدْبَرَتْ نَهَشَتْهَا، وَكُلَّمَا أَقْبَلَتْ نَهَشَتْهَا فِي النَّارِ، وَرَأَيْتُ صَاحِبَ السِّبْتِيَّتَيْنِ أَخًا بَنِي دُعْدُعٍ، يُدْفَعُ فِي النَّارِ بِعَصًا ذِي شُعْبَتَيْنِ، وَرَأَيْتُ صَاحِبَ الْمِحْجَنِ فِي النَّارِ الَّذِي كَانَ يَسْرِقُ الْحَاجَّ بِمِحْجَنِهِ، وَيَقُولُ: إِنِّي لَا أَسْرِقُ إِنَّمَا يَسْرِقُ الْمِحْجَنُ، فَرَأَيْتُهُ فِي النَّارِ مُتَّكِئًا عَلَى مِحْجَنِهِ “

Shahih Ibnu Khuzaimah 1390: Yusuf bin Musa menceritakan kepada kami, Jarir menceritakan kepada kami, dari Atha’ bin As-Sa’ib, dari ayahnya, dari Abdullah bin Amr, ia berkata: Pada suatu hari di zaman Rasulullah terjadi gerhana matahari, maka Rasulullah berdiri untuk mengerjakan shalat. Beliau kemudian berdiri sampai seakan-akan tidak akan ruku, lalu ruku sampai seakan-akan tidak akan mengangkat kepalanya, kemudian mengangkat kepalanya sampai seakan-akan tidak akan Sujud, lalu sujud sampai seakan-akan tidak akan mengangkat kepalanya, kemudian mengangkat kepalanya sampai seakan-akan tidak akan sujud, lantas sujud sampai seakan-akan tidak akan mengangkat kepalanya. Setelah itu beliau menghembuskan nafas dan menangis, beliau berdoa, “Ya Allah, bukankah Engkau telah menjanjikan kepadaku agar tidak mengadzab mereka sementara aku berada di tengah-tengah mereka? Tuhanku bukankah Engkau telah menjanjikan aku untuk tidak mengadzab mereka sedang kami memohon ampunan kepada-Mu?” Takala beliau selesai shalat dua rakaat maka matahari terang kembali, maka beliau berdiri dan memuji Allah serta mengagungkan-Nya dan berkata, “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah, apabila keduanya mengalami gerhana maka segeralah berdzikir kepada Allah” Setelah itu beliau berkata, “Diperlihatkan kepadaku surga sehingga jika aku menghendaki niscaya aku akan memetik satu tandan dari tandan-tandan yang ada di dalamnya. Aku juga diperlihatkan neraka maka aku menghembuskannya karena aku takut akan menimpamu semua sehingga aku mengucapkan, ‘Ya Tuhanku, bukankah Engkau telah menjanjikan kepadaku untuk tidak mengadzab mereka sementara aku berada di tengah-tengah mereka? Tuhanku, bukankah Engkau berjanji untuk tidak mengadzab mereka sedang mereka meminta ampun kepada-Mu?’.” Beliau berkata, “Aku melihat di dalamnya seorang perempuan hitam yang tinggi dari Humairiyyah pemilik kucing yang dikurungnya tanpa diberi makan serta tidak menuntunnya atau membiarkannya memakan serangga. Aku melihat dirinya tatkala menghadap kebelakang kucing itu menggigitnya dan takala menghadap kedepan iapun menggigitnya di dalam api neraka. Aku juga melihat sahabat orang Yahudi sekutu bani Da’da’ yang diceburkan kedalam neraka dengan tongkat yang memiliki dua cabang, serta aku melihat di neraka pemilik tongkat yang bengkok yang selalu mencuri barang-barang jamaah haji dengan tongkat bengkoknya, ia berkata, ‘Aku tidak mencuri akan tetapi yang mencuri adalah tongkat bengkok ini,’ maka aku melihatnya sedang bersandar pada tongkat bengkoknya.”

Shahih Ibnu Khuzaimah 1391

صحيح ابن خزيمة 1391: ثنا أَبُو مُوسَى مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى، ثنا مُؤَمَّلٌ، ثنا سُفْيَانُ، عَنْ يَعْلَى بْنِ عَطَاءٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو، وَعَنْ عَطَاءِ بْنِ السَّائِبِ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ: ” انْكَسَفَتِ الشَّمْسُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَطَالَ الْقِيَامَ حَتَّى قِيلَ: لَا يَرْكَعُ، ثُمَّ رَكَعَ فَأَطَالَ الرُّكُوعَ حَتَّى قِيلَ: لَا يَرْفَعُ، ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ فَأَطَالَ الْقِيَامَ حَتَّى قِيلَ: لَا يَسْجُدُ، ثُمَّ سَجَدَ فَأَطَالَ السُّجُودَ حَتَّى قِيلَ: لَا يَرْفَعُ، ثُمَّ رَفَعَ فَجَلَسَ حَتَّى قِيلَ: لَا يَسْجُدُ، ثُمَّ سَجَدَ، ثُمَّ قَامَ فَفَعَلَ فِي الْأُخْرَى مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ أَمْحَصَتِ الشَّمْسُ “

Shahih Ibnu Khuzaimah 1391: Abu Musa Muhammad bin Al Mutsanna menceritakan kepada kami, Mu’ammal menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami dari Ya’la bin Atha’, dari ayahnya, dari Abdullah bin Amr. dan dari Atha’ bin As-Sa’ib, dari ayahnya, dari Abdullah, dari Amr, ia berkata, “Pada zaman Rasulullah terjadi gerhana matahari, maka Rasulullah berdiri mengerjakan shalat Beliau berdiri lama sehingga dikatakan beliau tidak akan ruku, kemudian ruku dengan ruku yang lama sehingga dikatakan beliau tidak akan mengangkat kepala, lalu mengangkat kepalanya dan duduk sehingga dikatakan beliau tidak akan sujud, kemudian sujud, lalu berdiri dan mengerjakan pada rakaat selanjutnya seperti apa yang telah dikerjakannya itu. lalu matahari terang kembali.”

Shahih Ibnu Khuzaimah 1392

صحيح ابن خزيمة 1392: ثنا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى، ثنا أَبُو نُعَيْمٍ، ثنا زُهَيْرٌ، عَنِ الْحَسَنِ بْنِ الْحُرِّ، عَنْ رَجُلٍ يُدْعَى حَنَشًا، عَنْ عَلِيٍّ، ح وَثنا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى، وَيُوسُفُ بْنُ مُوسَى قَالَا: ثنا أَحْمَدُ بْنُ يُونُسَ، نا زُهَيْرٌ، نا الْحَسَنُ بْنُ الْحُرِّ، حَدَّثَنِي الْحَكَمُ، عَنْ رَجُلٍ يُدْعَى حَنَشًا، عَنْ عَلِيٍّ قَالَ مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى – وَهَذَا حَدِيثُ أَحْمَدَ – قَالَ: كَسَفَتِ الشَّمْسُ فَصَلَّى عَلِيٌّ بِالنَّاسِ، فَذَكَرَ الْحَدِيثَ، وَقَالَا: قَامَ فِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ، فَفَعَلَ كَفِعْلِهِ فِي الرَّكْعَةِ الْأُولَى، ثُمَّ جَلَسَ يَدْعُو وَيَرْغَبُ حَتَّى انْكَشَفَتِ الشَّمْسُ، ثُمَّ حَدَّثَهُمْ «أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ كَذَلِكَ يَفْعَلُهُ» قَالَ يُوسُفُ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَلَ كَذَلِكَ “

Shahih Ibnu Khuzaimah 1392: Muhammad bin Yahya menceritakan kepada kami, Abu Nu’aim menceritakan kepada kami, Zuhair menceritakan kepada kami dari Al Hasan bin Al Hur, dari seorang laki-laki yang dipanggil dengan Hanasy, dari Ali (Ha’) dan Muhammad bin Yahya dan Yusuf bin Musa menceritakan kepada kami, keduanya berkata: Ahmad bin Yunus menceritakan kepada kami, Zuhair menceritakan kepada kami, Al Hasan bin Al Hur menceritakan kepada kami, Al Hakam menceritakan kepadaku dari seorang laki-laki yang dipanggil dengan Hanasy, dari Ali, ia berkata: Muhammad bin Yahya, -Ini adalah hadis Ahmad-, ia berkata, “Ketika terjadi gerhana matahari Ali shalat mengimami orang-orang lalu dia menyebutkati redaksi hadisnya. Selanjutnya keduanya berkata, ‘Dia berdiri pada rakaat kedua dan mengerjakan seperti yang dikerjakannya pada rakaat pertama, lalu duduk dan berdoa serta bermunajat sampai matahari terang kembali. Setelah itu dia bercerita kepada mereka bahwa begitulah yang telah dilakukan oleh Rasulullah ’.” Yusuf berkata, “Rasulullah melakukannya seperti itu.”

Shahih Ibnu Khuzaimah 1393

صحيح ابن خزيمة 1393: ثنا مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ بْنِ كُرَيْبٍ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ بِشْرٍ، أَخْبَرَنَا هِشَامٌ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَائِشَةَ، فَذَكَرَ الْحَدِيثَ فِي قِصَّةِ كُسُوفِ الشَّمْسِ، وَقَالَ: فَلَمَّا تَجَلَّتْ قَامَ – يَعْنِي النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فَخَطَبَ النَّاسَ فَحَمِدَ اللَّهَ، وَأَثْنَى عَلَيْهِ، ثُمَّ قَالَ: «إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَا يُخْسَفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ، وَلَا لِحَيَاتِهِ، يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ، وَاللَّهِ إِنْ مِنْ أَحَدٍ أَغْيَرَ مِنَ اللَّهِ أَنْ يَزْنِيَ عَبْدُهُ أَوْ أَمَتُهُ، يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ، وَاللَّهِ – أَوْ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ -، لَوْ تَعْلَمُونَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيلًا وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا، أَلَا هَلْ بَلَّغْتُ؟»

Shahih Ibnu Khuzaimah 1393: Muhammad bin Al Ala’ bin Kuraib menceritakan kepada kami, Muhammad bin Bisyir menceritakan kepada kami, Hisyam mengabarkan kepada kami dari ayahnya, dari Aisyah dengan menyebutkan hadis tentang kisah terjadinya gerhana matahari dan ia berkata, “Tatkala matahari telah terang kembali maka beliau -yaitu Nabi – berdiri kemudian berkhutbah di hadapan orang-orang, lantas beliau memuji Allah dan mengagungkan-Nya, lalu berkata ‘Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda kekuasaan Allah dan keduanya tidaklah mengalami gerhana karena karena kematian atau hidupnya seseorang. Wahai umat Muhammad, demi Allah, tida ada yang lebih cemburu daripada Allah ketika budak laki-laki dan perempuan miliknya berzina, wahai umat Muhammad -atau demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya- jika kamu mengetahui apa yang aku ketahui niscaya kamu akan sedikit tertawa dan banyak menangis, ketahuilah bukankah aku telah menyampaikan?’.”

Shahih Ibnu Khuzaimah 1394

صحيح ابن خزيمة 1394: قَالَ أَبُو بَكْرٍ: وَفِي خَبَرِ ابْنِ مَسْعُودٍ: «أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ خَطَبَ أَيْضًا قَبْلَ الصَّلَاةِ» . فَيَنْبَغِي لِلْإِمَامِ فِي الْكُسُوفِ أَنْ يَخْطُبَ قَبْلَ الصَّلَاةِ وَبَعْدَهَا

Shahih Ibnu Khuzaimah 1394: Abu Bakar berkata, “Dan di dalam hadis bin Mas’ud bahwa Nabi juga berkbutbah sebelum shalat, maka dari itu searang imam wajib berkhutbah sebelum shalat dan sesudahnya.”

Shahih Ibnu Khuzaimah 1395

صحيح ابن خزيمة 1395: ثنا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى، ثنا أَبُو نُعَيْمٍ، عَنِ الْأَسْوَدِ بْنِ قَيْسٍ، حَدَّثَنِي ثَعْلَبَةُ بْنُ عَبَّادٍ الْعَبْدِيُّ مِنْ أَهْلِ الْبَصْرَةِ، أَنَّهُ شَهِدَ خُطْبَةً يَوْمًا لِسَمُرَةَ بْنَ جُنْدُبٍ، فَذَكَرَ فِي خُطْبَتِهِ قَالَ سَمُرَةُ بْنُ جُنْدُبٍ: بَيْنَا أَنَا يَوْمًا وَغُلَامٌ مِنَ الْأَنْصَارِ نَرْمِي غَرَضًا لَنَا، عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى إِذَا كَانَتِ الشَّمْسُ قَيْدَ رُمْحَيْنِ، أَوْ ثَلَاثَةٍ فِي غَيْرِ النَّاظِرِينَ مِنَ الْأُفُقِ اسْوَدَّتْ حَتَّى كَأَنَّهَا تَنُّومَةٌ، فَقَالَ أَحَدُنَا [ص:326] لِصَاحِبِهِ: انْطَلِقْ بِنَا إِلَى الْمَسْجِدِ، فَوَاللَّهِ لَيُحْدِثَنَّ شَأْنُ هَذِهِ الشَّمْسِ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أُمَّتِهِ حَدَثًا، فَدَفَعْنَا إِلَى الْمَسْجِدِ، فَإِذَا هُوَ بَارِزٌ، فَوَافَقْنَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ خَرَجَ إِلَى النَّاسِ قَالَ: فَاسْتَقْدَمَ فَصَلَّى بِنَا كَأَطْوَلِ مَا قَامَ بِنَا فِي صَلَاةٍ قَطُّ، لَا يُسْمَعُ لَهُ صَوْتٌ، ثُمَّ رَكَعَ بِنَا كَأَطْوَلِ مَا رَكَعَ بِنَا فِي صَلَاةٍ قَطُّ، وَلَا يُسْمَعُ لَهُ صَوْتٌ، ثُمَّ سَجَدَ بِنَا كَأَطْوَلِ مَا سَجَدَ بِنَا فِي صَلَاةٍ قَطُّ، لَا يُسْمَعُ لَهُ صَوْتٌ قَالَ: ثُمَّ فَعَلَ فِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ مِثْلَ ذَلِكَ قَالَ: فَوَافَقَ تَجَلِّي الشَّمْسِ جُلُوسَهُ فِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ قَالَ: فَسَلَّمَ فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ، وَشَهِدَ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَشَهِدَ أَنَّهُ عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، ثُمَّ قَالَ: «أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ رَسُولُ اللَّهِ، فَأُذَكِّرُكُمْ بِاللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ أَنِّي قَصَرْتُ عَنْ شَيْءٍ مِنْ تَبْلِيغِ رِسَالَاتِ رَبِّي لَمَا أَجَبْتُمُونِي حَتَّى أُبَلِّغَ رِسَالَاتِ رَبِّي كَمَا يَنْبَغِي لَهَا أَنْ تُبَلَّغَ، وَإِنَّ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ أَنِّي قَدْ بَلَّغْتُ رِسَالَاتِ رَبِّي لَمَا أَخْبَرْتُمُونِي» قَالَ: فَقَامَ النَّاسُ، فَقَالُوا: شَهِدْنَا أَنَّكَ قَدْ بَلَّغْتَ رِسَالَاتِ رَبِّكَ، وَنَصَحْتَ لِأُمَّتِكَ، وَقَضَيْتَ الَّذِي عَلَيْكُ قَالَ: ثُمَّ سَكَتُوا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ رِجَالًا يَزْعُمُونَ أَنَّ كُسُوفَ هَذِهِ الشَّمْسِ، وَكُسُوفَ هَذَا الْقَمَرِ، وَزَوَالَ هَذِهِ النُّجُومِ عَنْ مَطَالِعِهَا لِمَوْتِ رِجَالٍ عُظَمَاءٍ مِنْ أَهْلِ الْأَرْضِ، وَأَنَّهُمْ كَذَبُوا، وَلَكِنَّهَا آيَاتٌ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ، يَفْتِنُ بِهَا عِبَادَهُ لِيَنْظُرَ مَنْ يُحْدِثُ مِنْهُمْ تَوْبَةً، وَاللَّهِ لَقَدْ رَأَيْتُ مُنْذَ قُمْتُ أُصَلِّي مَا أَنْتُمْ لَاقُونَ فِي دُنْيَاكُمْ وَآخِرَتِكُمْ، وَإِنَّهُ وَاللَّهِ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَخْرُجَ ثَلَاثُونَ كَذَّابًا آخِرُهُمُ الْأَعْوَرُ [ص:327] الدَّجَّالُ مَمْسُوحُ الْعَيْنِ الْيُسْرَى كَأَنَّهَا عَيْنُ أَبِي يَحْيَى – أَوْ تَحْيَا – لِشَيْخٍ مِنَ الْأَنْصَارِ، وَإِنَّهُ مَتَى خَرَجَ فَإِنَّهُ يَزْعُمُ أَنَّهُ اللَّهُ، فَمَنْ آمَنَ بِهِ وَصَدَّقَهُ وَاتَّبَعَهُ، فَلَيْسَ يَنْفَعُهُ صَالِحٌ مِنْ عَمَلٍ سَلَفَ، وَمَنْ كَفَرَ بِهِ، وَكَذَّبَه فَلَيْسَ يُعَاقَبُ بِشَيْءٍ مِنْ عَمَلِهِ سَلَفَ، وَإِنَّهُ سَيَظْهَرُ عَلَى الْأَرْضِ كُلِّهَا إِلَّا الْحَرَمَ وَبَيْتَ الْمَقْدِسِ، وَإِنَّهُ يحصر الْمُؤْمِنِينَ فِي بَيْتِ الْمَقْدِسِ، فَيُزَلْزَلُونَ زِلْزَالًا شَدِيدًا قَالَ: فَيَهْزِمُهُ اللَّهُ وَجُنُودَهُ، حَتَّى أَنَّ جِذْمَ الْحَائِطِ وَأَصْلَ الشَّجَرَةِ لَيُنَادِي: يَا مُؤْمِنُ هَذَا كَافِرٌ يَسْتَتِرُ بِي، تَعَالَ اقْتُلْهُ قَالَ: وَلَنْ يَكُونَ ذَلِكَ كَذَلِكَ حَتَّى تَرَوْا أُمُورًا يَتَفَاقَمُ شَأْنُهَا فِي أَنْفُسِكُمْ، تَسْأَلُونَ بَيْنَكُمْ هَلْ كَانَ نَبِيُّكُمْ ذَكَرَ لَكُمْ مِنْهَا ذِكْرًا، وَحَتَّى تَزُولَ جِبَالٌ عَنْ مَرَاثِيهَا عَلَى أَثَرِ ذَلِكَ الْقَبْضُ، وَأَشَارَ بِيَدِهِ ” قَالَ: ثم شَهِدْتُ خُطْبَةً أُخْرَى قَالَ: فَذَكَرَ هَذَا الْحَدِيثَ مَا قَدَّمَ كَلِمَةً، وَلَا أَخَّرَهَا عَنْ مَوْضِعَهَا. قَالَ أَبُو بَكْرٍ: ” هَذِهِ اللَّفْظَةُ الَّتِي فِي هَذَا الْخَبَرِ لَا يُسْمَعُ لَهُ صَوْتٌ مِنَ الْجِنْسِ الَّذِي أَعْلَمَنَا أَنَّ الْخَبَرَ الَّذِي يَجِبُ قَبُولُهُ خَبَرُ مَنْ يُخْبِرِ بِكَوْنِ الشَّيْءِ، لَا مَنْ يَنْفِي، وَعَائِشَةُ قَدْ خَبَّرَتْ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَهَرَ بِالْقِرَاءَةِ، فَخَبَرُ عَائِشَةَ يَجِبُ قَبُولُهُ؛ لِأَنَّهَا حَفِظَتْ جَهْرَ الْقِرَاءَةِ، وَإِنْ لَمْ يَحْفَظْهَا غَيْرُهَا، وَجَائِزٌ أَنْ يَكُونَ سَمُرَةُ كَانَ فِي صَفٍّ بَعِيدٍ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْقِرَاءَةِ، فَقَوْلُهُ: «لَا يُسْمَعُ لَهُ صَوْتٌ» : أَيْ لَمْ أَسْمَعْ صَوْتًا عَلَى مَا بَيَّنْتُهُ قَبْلُ أَنَّ الْعَرَبَ، تَقُولُ: لَمْ يَكُنْ كَذَا، لِمَا لَمْ يُعْلَمْ كَوْنُهُ “

Shahih Ibnu Khuzaimah 1395: Muhammad bin Yahya menceritakan kepada kami, Abu Na’im menceritakan kepada kami dari Al Aswad bin Qais, Tsa’labah bin Abbad Al Abdi dari penduduk Bashrah menceritakan kepadaku, bahwa suatu hari ia menyaksikan khutbah Samurah bin Jundub, dia berkata: Pada suatu hari aku dan seorang anak dari kaum Anshar sedang memandang awan di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tatkala matahari hampir mencapai dua tombak atau tiga tombak yang tak dapat dilihat di ufuk, tiba-tiba awan tersebut berubah menjadi hitam seakan-akan ia seperti tannumah, maka salah seorang dari kami berkata kepada temannya, “Mari kita pergi ke masjid, demi Allah, mereka pasti menceritakan keadaan matahari yang sekarang ini kepada Rasulullah akan terjadi sesuatu pada umatnya.” Kami kemudian beranjak ke masjid dan tiba-tiba Nabi muncul bersamaan dengan kami saat beliau hendak keluar menjumpai orang-orang. Perawi bercerita, “Nabi kemudian maju ke depan, lalu shalat mengimami kami sambil berdiri lama yang tidak pernah beliau lakukan sekali pun di dalam shalatnya bersama kami sebelumnya dan suara beliau ketika itu tidak terdengar. Setelah itu beliau ruku bersama kami dengan ruku yang tidak pernah beliau lakukan sekali pun di dalam rukunya ketika shalat bersama kami sebelumnya, dan suara beliau ketika itu tidak terdengar. Beliau kemudian sujud dengan kami dengan sujud yang tidak pernah sekali pun beliau lakukan di dalam sujudnya ketika shalat bersama kami sebelumnya, dan suara beliau ketika itu tidak terdengar.” Perawi berkata, “Kemudian beliau mengerjakan pada rakaat kedua sama seperti itu.” Perawi berkata, “Matahari kemudian terang kembali bertepatan dengan duduknya beliau pada rakaat yang kedua.” Perawi berkata, “Kemudian beliau mengucap salam lalu memuji Allah serta mengagungkan-Nya, lantas bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, kemudian bersabda, ‘Wahai sekalian manusia, sesungguhnya aku adalah manusia sebagai utusan Allah, maka aku telah mengingatkanmu akan perintah Allah. Apabila kamu melihatku telah menyia-nyiakan sedikit pun dari kewajiban menyampaikan risalah Tuhanku maka beritahukanlah aku, sampai aku menyampaikan risalah Tuhanku tersebut sebagaimana mestinya, dan apabila kamu melihat aku telah menyampaikan risalah Tuhanku maka beritahulah aku’.” Perawi berkata, “Setelah itu orang-orang berdiri, lalu mereka berseru, ‘Kami menjadi saksi bahwa engkau telah menyampaikan risalah Tuhanmu, dan telah menasehati umat serta menjalankan kewajiban yang dibebankan atas dirimu’.” Perawi berkata, “Kemudian mereka diam.” Perawi berkata, “Rasulullah kemudian bersabda, ‘Amma ba’du, sesungguhnya banyak orang yang menyangka bahwa gerhana matahari dan gerhana bulan serta tenggelamnya bintang ini dari tempat terbitnya terjadi karena kematian seseorang yang agung dari penduduk bumi. Sesungguhnya mereka telah berdusta, bahkan gerhana adalah salah satu tanda kekuasaan Allah untuk menguji hamba-hamba-Nya, agar Dia dapat melihat siapa yang memperbaharui tobatnya. Demi Allah, aku telah melihat sejak berdiri untuk shalat, apa-apa yang akan kamu alami di duniamu dan di akhiratmu, dan sesungguhnya demi Allah, tidak akan terjadi Hari Kiamat sehingga keluar tiga puluh orang pendusta dan yang terakhir dari mereka adalah Dajjal yang buta sebelah matanya seakan-akan seperti matanya Abu Yahya atau Tahya, seorang syaikh dari kaum Anshar. Dan seandainya ia keluar lalu mengaku bahwa dirinya adalah Allah, maka barangsiapa yang beriman kepadanya dan mempercayainya serta mengikutinya niscaya amal shalihnya yang terdahulu tidak bermanfaat dan barangsiapa yang mengingkari dan mendustainya maka dia tidak akan diadzab sedikit pun dengan perbuatannya yang telah berlalu. Sesungguhnya ia akan menampakkan diri di seluruh penjuru bumi kecuali di Haram dan di Baitul Maqdis. Ia akan mengepung kamu muslimin di Baitul Maqdis kemudian mereka akan ditimpa guncangan yang dahsyat’.” Beliau lanjut bersabda, “Allah dan pasukan-Nya akan menghancurkan (mengalahkan) mereka, sampai-sampai apabila mereka bernaung di balik tembok atau pepohonan maka akan diserukan, “Wahai mukmin, ini ada orang kafir yang bernaung di belakangku, mari bunuhlah ia’,” Beliau lanjut berkata, “Keadaan itu tidak akan terjadi seperti itu sehingga kamu menyaksikan perkara-perkara menjadi berat keadaannya pada dirimu dan kamu saling bertanya di antara kamu, apakah nabimu telah menjelaskannya dengan suatu penjelasan kepadamu dan sehingga gunung-gunung luluh dari akarnya karena bekas cengkraman tersebut.” Beliau lalu memberi isyarat dengan tangannya. Perawi berkata, “Kemudian aku menyaksikan khutbah yang lain.” Selanjutnya ia berkata, “Lalu dia menyebutkan redaksi hadisnya tanpa mengedepankan atau mengakhirkan satu kata dari tempatnya.” Abu bakar berkata, “Lafazh’ dan suara beliau ketika itu tidak terdengar’ yang terdapat dalam hadis ini termasuk bagian dari bentuk lafazh yang telah diterangkan sebelumnya bahwa hadis yang harus diterima adalah hadis yang menjelaskan tentang kepastian terjadinya sesuatu bukan yang menafikannya. Aisyah telah menceritakan bahwa Nabi pernah mengeraskan suaranya ketika membaca surah. Oleh karena itu, hadis riwayat Aisyah wajib diterima, karena ia mengetahui benar tentang bacaan keras yang dilakukan beliau meskipun yang lainnya tidak mengetahuinya. Boleh jadi Samurah saat itu berada di barisan yang jauh dari Nabi ketika beliau membacanya, sehingga ia berkata, ‘suara beliau ketika itu tidak terdengar.’ Maksudnya, aku tidak mendengar suara sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya bahwa bangsa Arab berkata, ‘Hal itu terjadi karena faktor ketidaktahuannya akan kejadian tersebut’.”

Shahih Ibnu Khuzaimah 1396

صحيح ابن خزيمة 1396: نا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى، نا عَبْدُ الرَّزَّاقِ، أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ عُرْوَةَ، عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: خَسَفَتِ الشَّمْسُ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَصَلَّى بِالنَّاسِ، فَذَكَرَ الْحَدِيثَ، وَقَالَ فِي آخِرِهِ: ثُمَّ انْصَرَفَ، فَقَالَ: «إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَا تَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ، وَلَكِنَّهُمَا آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَافْزَعُوا إِلَى الصَّلَاةِ» وَهَذَا قَوْلُ الزُّهْرِيِّ قَالَ: وَزَادَ فِيهِ هِشَامٌ: «إِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَتَصَدَّقُوا، وَصَلُّوا»

Shahih Ibnu Khuzaimah 1396: Muhammad bin Yahya menceritakan kepada kami, Abdurrazzaq menceritakan kepada kami, Ma’mar mengabarkan kepada kami dari Az-Zuhri, dari Urwah, dari Aisyah, ia berkata, “Ketika gerhana matahari terjadi di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau shalat mengimami orang-orang, lalu dia menyebutkan redaksi hadisnya.” Ia lanjut berkata di akhir hadisnya, “Kemudian beliau berpaling lalu berkata, ‘Sesungguhnya matahari dan bulan tidak mengalami gerhana lantaran kematian atau kehidupan seseorang, akan tetapi keduanya adalah dua tanda kekuasaan Allah. Apabila kamu melihat hal tersebut, maka segeralah shalat’.” Ini adalah perkataan Az-Zuhri. Ia Juga berkata, “Hisyam menambahkan di dalamnya, ‘Apabila kamu melihat hal tersebut maka bersedekahlah dan shalatlah’.”

Shahih Ibnu Khuzaimah 1381

صحيح ابن خزيمة 1381: حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، حَدَّثَنَا ابْنُ عُلَيَّةَ، حَدَّثَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ، عَنْ عَطَاءٍ، ح وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ هِشَامٍ، حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ يَعْنِي ابْنَ عُلَيَّةَ، أَخْبَرَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ، عَنْ عَطَاءٍ قَالَ: سَمِعْتُ عُبَيْدَ بْنَ عُمَيْرٍ يُحَدِّثُ قَالَ: أَخْبَرَنِي مَنْ أُصَدِّقُ قَالَ: فَظَنَنْتُ أَنَّهُ يُرِيدُ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّهَا قَالَتْ: كَسَفَتِ الشَّمْسُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَامَ بِالنَّاسِ قِيَامًا شَدِيدًا، يَقُومُ بِالنَّاسِ، ثُمَّ يَرْكَعُ، ثُمَّ يَقُومُ، ثُمَّ يَرْكَعُ، فَرَكَعَ رَكْعَتَيْنِ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ ثَلَاثُ رَكَعَاتٍ، فَرَكَعَ الثَّالِثَةَ ثُمَّ سَجَدَ، حَتَّى إِنَّ رِجَالًا يَوْمَئِذٍ لَيُغْشَى عَلَيْهِمْ، حَتَّى سِجَالِ الْمَاءِ لَيُصَبُّ عَلَيْهِمْ مِمَّا قَامَ بِهِمْ، يَقُولُ إِذَا كَبَّرَ: «اللَّهُ أَكْبَرُ» ، فَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ قَالَ: «سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ» ، فَلَمْ يَنْصَرِفْ حَتَّى تَجَلَّتِ الشَّمْسُ، فَقَامَ فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ، وَقَالَ: «إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَا يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ، وَلَكِنَّهُمَا آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ يُخَوِّفُكُمْ بِهِمَا، فَإِذَا كَسَفَا فَافْزَعُوا إِلَى اللَّهِ حَتَّى يَنْجَلِيَا»

Shahih Ibnu Khuzaimah 1381: Ya’qub bin Ibrabim menceritakan kepada kami, Ibnu Ulayyah menceritakan kepada kami, Ibnu Juraij menceritakan kepada kami dari Atha’ (Ha’) Muhammad bin Hisyam menceritakan kepada kami, Ismail -yaitu Ibnu Ulayyah- menceritakan kepada kami, Ibnu Juraij mengabarkan kepada kami dari Atha’, ia berkata: Aku mendengar Ubaid bin Umair menceritakan, ia berkata: Orang yang aku percaya mengabarkan kepada kami, ia berkata: Aku mengira bahwa yang ia maksud adalah Aisyah, dia berkata, “Ketika terjadi gerhana matahari di masa Rasulullah beliau shalat mengimami orang-orang sambil berdiri dalam waktu yang lama. Beliau mengimami orang-orang, kemudian ruku, lalu berdiri, kemudian ruku maka beliau ruku dengan dua ruku dan pada setiap satu rakaat tiga ruku. Selanjutnya beliau raku yang ketiga, lalu sujud sampai sampai beberapa orang pada saat itu jatuh pingsan hingga harus disirami air agar tersadar. Beliau ketika bertakbir mengucapkan, “Allahu Akbar,” dan ketika mengangkat kepalanya, “Sami’allahu liman hamidah,” serta beliau tidak berpaling sampai matahari terang kembali. Lalu beliau berdiri dengan memuji Allah serta mengagungkan-Nya dan berkata, “Sesungguhnya matahari dan bulan tidaklah mengalami gerhana karena kematian seseorang dan bukan pula karena hidupnya, akan tetapi keduanya adalah tanda kekuasaan Allah yang dengan keduanya Allah menakut-nakuti kamu, apabila keduanya mengalami gerhana maka bersegeralah kembali kepada Allah sampai keduanya terang kembali”

Shahih Ibnu Khuzaimah 1397

صحيح ابن خزيمة 1397: ثنا أَبُو الْأَزْهَرِ، وَكَتَبْتُهُ مِنْ أَصْلِهِ قَالَ: ثنا يُونُسُ يَعْنِي ابْنَ مُحَمَّدٍ الْمُؤَدِّبِ، ثنا فُلَيْحٌ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبَّادِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِ، عَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ أَبِي بَكْرٍ، أَنَّهَا قَالَتْ: خَسَفَتِ الشَّمْسُ زَمَانَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَذَكَرَ الْحَدِيثَ بِطُولِهِ، وَقَالَ: «فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَافْزَعُوا إِلَى الصَّلَاةِ، وَإِلَى ذِكْرِ اللَّهِ، وَالصَّدَقَةِ»

Shahih Ibnu Khuzaimah 1397: Abu Al Azhar -dan aku telah menulisnya dari aslinya- menceritakan kepada kami, ia berkata: Yunus -yaitu Ibnu Muhammad Al Mu’addib- menceritakan kepada kami, Fulaih menceritakan kepada kami dari Muhammad bin Abbad bin Abdullah bin Az-Zubair, dari Asma’ binti Abu Bakar, ia berkata, “Ketika gerhana matahari terjadi di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia lalu menyebutkan redaksi hadisnya secara lengkap, dan dia Juga berkata. ‘Apabila kamu melihat hal tersebut maka segeralah shalat dan terdzikir kepada Allah serta bersedekah’.”