Skip to main content

Shahih Ibnu Khuzaimah 1502

صحيح ابن خزيمة 1502: نا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الدَّوْرَقِيُّ، وَسَلْمُ بْنُ جُنَادَةَ قَالَا: حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ قَالَ الدَّوْرَقِيُّ: ثنا الْأَعْمَشُ قَالَ: سَلْمٌ، عَنِ الْأَعْمَشِ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” إِذَا تَوَضَّأَ أَحَدُكُمْ ثُمَّ أَتَى الْمَسْجِدَ لَا يَنْهَزُهُ إِلَّا الصَّلَاةُ، لَا يُرِيدُ إِلَّا الصَّلَاةَ، فَإِذَا دَخَلَ الْمَسْجِدَ كَانَ فِي صَلَاةٍ مَا كَانَتِ الصَّلَاةُ هِيَ تَحْبِسُهُ، وَالْمَلَائِكَةُ يُصَلُّونَ عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فِي مَجْلِسِهِ الَّذِي صَلَّى فِيهِ، فَيَقُولُونَ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ، اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ، اللَّهُمَّ تُبْ عَلَيْهِ مَا لَمْ يُؤْذِ فِيهِ، مَا لَمْ يُحْدِثْ فِيهِ “

Shahih Ibnu Khuzaimah 1502: Ya’qub bin Ibrahim Ad-Dauraqi dan Salam bin Junadah menceritakan kepada kami, keduanya berkata: Abu Mu’awiyah menceritakan kepada kami, Ad-Dauraqi berkata: Al A’masy menceritakan kepada kami, Sallam berkata: dari Al A’masy, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apabila salah seorang di antara kamu berwudhu lalu pergi ke masjid tidak bermaksud kecuali shalat, tidak menginginkan kecuali shalat, maka apabila ia masuk ke masjid maka ia dalam keadaan shalat selama shalat itu mengikatnya, dan para malaikat akan bershalawat atas salah seorang di antara kamu selama ia masih berada di tempat duduknya yang dipergunakan shalat padanya, mereka mendoakan: ‘Ya Allah, ampunilah ia, ya Allah, kasihanilah ia, ya Allah, berilah taubat atas dirinya.’ Selama tidak berbuat kesalahan di dalamnya, selama tidak berhadats di dalamnya.”

Shahih Ibnu Khuzaimah 1518

صحيح ابن خزيمة 1518: أنا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الدَّوْرَقِيُّ، نا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ، ثنا أَبَانُ بْنُ يَزِيدَ، عَنْ بُدَيْلٍ الْعُقَيْلِيِّ، حَدَّثَنِي أَبُو عَطِيَّةَ رَجُلٌ مِنَّا وَثنا سَلْمُ بْنُ جُنَادَةَ، ثنا وَكِيعٌ، عَنْ أَبَانَ بْنِ يَزِيدَ الْعَطَّارِ، عَنْ بُدَيْلِ بْنِ مَيْسَرَةَ الْعُقَيْلِيِّ، عَنْ رَجُلٍ مِنْهُمْ يُكْنَى أَبَا عَطِيَّةَ وَهَذَا حَدِيثُ الدَّوْرَقِيِّ قَالَ: أَتَانَا مَالِكُ بْنُ الْحُوَيْرِثِ، فَحَضَرَتِ الصَّلَاةُ، فَقِيلَ لَهُ: تَقَدَّمْ قَالَ: لِيَؤُمَّكُمْ رَجُلٌ مِنْكُمْ، فَلَمَّا صَلَّوْا قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «إِذَا زَارَ الرَّجُلُ الْقَوْمَ فَلَا يَؤُمَّهُمْ، وَلْيَؤُمَّهُمْ رَجُلٌ مِنْهُمْ» وَفِي حَدِيثِ وَكِيعٍ قَالَ: «لِيَتَقَدَّمْ بَعْضُكُمْ، حَتَّى أُحَدِّثَكُمْ لِمَ لَا أَتَقَدَّمُ»

Shahih Ibnu Khuzaimah 1518: Ya’kub bin Ibrahim Ad-Dauraqi memberitakan kepada kami, Abdurrahman bin Mahdi memberitakan kepada kami, Aban bin Yazid menceritakan kepada kami, dari Badil Al Uqail dari Abu ‘Athiyah. salah seorang dari kami menceritakan kepadaku, Sallam bin Jinadah menceritakan kepada kami, Waki’ menceritakan kepada kami, dan Aban bin Yazid Al Athaar, dari Badil bin Maisarah Al Uqaili, dari seseorang yang diberi julukan Abu Athiyah, ini adalah hadis Ad-Dauraqi, bahwasanya ia berkata: Suatu hari, Malik bin Al Huwairits bertamu ke rumah kami, lak lama kemudian tiba waktu shalat, kemudian seseorang berkata kepadanya: “Wahai Malik, majulah menjadi imam dalam shalat jama’ah ini!” Tetapi Malik bin Al Huwairits menolak seraya berkata: “Sebaiknya salah seorang di antara kalian maju untuk menjadi imam shalat!” Akhirnya mereka pun shalat. Usai melaksanakan shalat, Malik bin Al Huwairits berkata: “Ketahuilah, sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Apabila seseorang berkunjung ke suatu kaum, maka janganlah ia menjadi imam bagi mereka. Tetapi, sebaiknya salah seorang dari merekalah yang maju menjadi imam’.” Dalam hadis riwayat Waki’ disebutkan: “Sebaiknya salah seorang di antara kalian maju menjadi imam, meskipun ia masih muda usianya. Bagaimana pun aku tidak akan mau maju menjadi imam.”

Shahih Ibnu Khuzaimah 1503

صحيح ابن خزيمة 1503: نا إِسْمَاعِيلُ بْنُ مُوسَى الْفَزَارِيُّ، ثنا إِبْرَاهِيمُ يَعْنِي ابْنَ سَعْدٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، وَالزُّهْرِيِّ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيِّبِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِذَا أُقِيمَتِ الصَّلَاةُ فَلَا تَأْتُوهَا وَأَنْتُمْ تَسْعَوْنَ ائْتُوهَا وَأَنْتُمْ تَمْشُونَ عَلَيْكُمُ السَّكِينَةُ، فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا، وَمَا فَاتَكُمْ فَاقْضُوا»

Shahih Ibnu Khuzaimah 1503: Ismail bin Musa Al Fazari memberitakan kepada kami, Ibrahim (Ibnu Sa’ad) memberitakan kepada kami dari bapaknya, dari Abu Salmah, dan Az-Zuhri dari Said bin Al Musayyib, dari Abu Hurairah bahwasanya ia pernah berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: “Apabila iqamat telah diserukan, maka janganlah kalian tergesa-gesa untuk pergi menuju ke tempat shalat. Pergi ke tempat shalat tersebut dengan berjalan. Kalian harus tetap tenang (untuk pergi ke tempat shalat). Kerjakan rakaat shalat sedapat kalian. Dan apabila kalian tertinggal, maka qadhalah shalat tersebut.”

Shahih Ibnu Khuzaimah 1519

صحيح ابن خزيمة 1519: نا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الدَّوْرَقِيُّ، ثنا ابْنُ أَبِي حَازِمٍ، أَخْبَرَنِي أَبِي، عَنْ سَهْلٍ، أَنَّهُ جَاءَهُ نَفَرٌ يَتَمَارَوْنَ فِي الْمِنْبَرِ مِنْ أَيِّ عُودٍ هُوَ، وَمَنْ عَمِلَهُ، فَقَالَ سَهْلٌ: أَمَا وَاللَّهِ إِنِّي لَأَعْرِفُ مِنْ أَيِّ عُودٍ هُوَ، وَمَنْ عَمِلَهُ، وَرَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوَّلَ يَوْمٍ قَامَ عَلَيْهِ، أَرْسَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى فُلَانَةَ قَالَ: إِنَّهُ لَيُسَمِّيهَا يَوْمَئِذٍ، وَنَسِيتُ اسْمَهَا: «أَنْ مُرِي غُلَامَكِ النَّجَّارَ يَعْمَلْ لِي أَعْوَادًا أُكَلِّمِ النَّاسَ عَلَيْهَا» ، فَعَمِلَ هَذِهِ الثَّلَاثَ الدَّرَجَاتِ مِنْ طَرْفَاءِ الْغَابَةِ، وَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ عَلَيْهِ فَكَبَّرَ، فَكَبَّرَ النَّاسُ خَلْفَهُ، ثُمَّ رَكَعَ، وَرَكَعَ النَّاسُ، ثُمَّ رَفَعَ، وَنَزَلَ الْقَهْقَرَى، ثُمَّ سَجَدَ فِي أَصْلِ الْمِنْبَرِ، ثُمَّ عَادَ حَتَّى فَرَغَ مِنْ آخِرِ صَلَاتِهِ، ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْهِمْ فَقَالَ: «إِنَّمَا صَنَعْتُ هَذَا لِتَأْتَمُّوا بِي، وَتَعَلَّمُوا صَلَاتِي»

Shahih Ibnu Khuzaimah 1519: Ya’kub bin Ibrahim Ad-Dauraqi memberitakan kepada kami, Ibnu Abu Hazim menceritakan kepada kami, Bapakku memberitakan kepada kami, dari Sahal bahwa Suatu ketika ada beberapa orang yang sedang mengamat-amati mimbar, mereka lalu bertanya: “Dari kayu apa mimbar ini terbuat? Siapakah orang yang membuatnya?” Sahal menjawab: “Sungguh aku tidak tahu, dari kayu apa mimbar ini terbuat dan siapa pembuatannya. Namun, aku pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari dibuatnya mimbar tersebut datang menemui seorang perempuan yang namanya aku sendiri lupa. Kemudian beliau memerintahkan anak lelaki perempuan itu yang merupakan tukang kayu untuk membuatkan sebuah mimbar dari beberapa belah kayu. Lalu tukang kayu tersebut membuatkan mimbar tiga tingkat dari kayu-kayu hutan. Selain itu, aku juga pernah melihat Rasulullah berdiri melaksanakan shalat di atas mimbar tersebut. Beliau bertakbir yang kemudian diikuti oleh kaum muslimin di belakangnya. Beliau ruku dan para jamaah pun ikut ruku bersama beliau. Kemudian beliau berdiri dari ruku dan setelah itu bersujud di atas mimbar. Lalu beliau mengulanginya kembali hingga selesailah shalatnya. Akhirnya beliau mendekati kaum muslimin yang mengikuti shalat di belakangnya seraya berkata: “Sengaja aku melakukan ini agar kalian mengikutiku dan mengetahui cara shalatku.”

Shahih Ibnu Khuzaimah 1504

صحيح ابن خزيمة 1504: نا بُنْدَارٌ، نا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ، ح ثنا عَمْرُو بْنُ عَلِيٍّ، نا يَحْيَى يَعْنِي ابْنَ سَعِيدٍ قَالَا: ثنا شُعْبَةُ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ مُهَاجِرٍ، عَنْ أَبِي الشَّعْثَاءِ الْمُحَارِبِيِّ قَالَ: كُنَّا مَعَ أَبِي هُرَيْرَةَ فِي الْمَسْجِدِ، فَأَذَّنَ مُؤَذِّنٌ، فَقَامَ رَجُلٌ فَخَرَجَ، فَقَالَ: «أَمَّا هَذَا فَقَدْ عَصَى أَبَا الْقَاسِمِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ» وَقَالَ بُنْدَارٌ: «فَقَدْ خَالَفَ أَبَا الْقَاسِمِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ»

Shahih Ibnu Khuzaimah 1504: Bundar memberitakan kepada kami, Muhammad bin Ja’far memberitakan kepada kami, ha, sementara Amr bin Ali menceritakan kepada kami, Yahya (Ibnu Sa’id) memberitakan kepada kami, lalu keduanya (Amr bin Ali dan Yahya) berkata: Syu’bah menceritakan kepada kami, dari Ibrahim bin Muhajir dari Abu Sya’tsa Al Muharibi bahwasanya ia berkata, “pada suatu ketika, kami sedang bersama Abu Hurairah di dalam masjid, tak lama kemudian seorang muadzin mengumandangkan adzan, lalu ada seorang laki-laki yang keluar dari masjid. Akhirnya Abu Hurairah berkata, ‘Ketahuilah sesungguhnya orang yang keluar dari masjid itu telah berbuat maksiat kepada Rasulullah ‘, “Kemudian Bundar pun berkata, “Laki-laki tersebut telah menyalahi ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. “

Shahih Ibnu Khuzaimah 1520

صحيح ابن خزيمة 1520: نا عَبْدُ الْجَبَّارِ بْنُ الْعَلَاءِ، ثنا سُفْيَانُ، عَنْ أَبِي حَازِمٍ، وَذَكَرَ الْحَدِيثَ وَلَمْ يَقُلْ: «إِنَّمَا صَنَعْتُ هَذَا لِتَأْتَمُّوا بِي، وَتَعَلَّمُوا صَلَاتِي»

Shahih Ibnu Khuzaimah 1520: Abdul Jabbar bin ‘Ala, Sufyan memberitakan kepada kami dari Abu Hazim seraya menyebutkan hadisnya tanpa mengatakan, “Sengaja aku melakukan ini agar kalian mengikutiku dan mengetahui cara shalatku “

Shahih Ibnu Khuzaimah 1505

صحيح ابن خزيمة 1505: نا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الدَّوْرَقِيُّ، ثنا أَبُو مُعَاوِيَةَ، ثنا الْأَعْمَشُ، ح وَثنا هَارُونُ بْنُ إِسْحَاقَ، ثنا ابْنُ فُضَيْلٍ، عَنِ الْأَعْمَشِ، عَنْ إِسْمَاعِيلَ بْنِ رَجَاءٍ، ح وَثنا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الْأَعْلَى الصَّنْعَانِيُّ، ثنا يَزِيدُ يَعْنِي ابْنَ زُرَيْعٍ، ثنا شُعْبَةُ، نا إِسْمَاعِيلُ بْنُ رَجَاءٍ، ح وَثنا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، ثنا ابْنُ عُلَيَّةَ، نا شُعْبَةُ، نا إِسْمَاعِيلُ بْنُ رَجَاءٍ، ح وَثنا أَبُو عُثْمَانَ، وَسَلْمُ بْنُ جُنَادَةَ قَالَا: ثنا وَكِيعٌ قَالَ أَبُو عُثْمَانَ: ثنا فِطْرُ بْنُ خَلِيفَةَ، وَقَالَ سَلْمٌ، عَنْ فِطْرٍ، وَعَنْ إِسْمَاعِيلَ بْنِ رَجَاءٍ، عَنْ أَوْسِ بْنِ ضَمْعَجٍ، عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللَّهِ، فَإِنْ كَانُوا فِي الْقِرَاءَةِ سَوَاءً فَأَعْلَمُهُمْ بالسُّنَّةِ، فَإِنْ كَانُوا في السُّنَّةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ فِي الْهِجْرَةِ، فَإِنْ كَانُوا فِي الْهِجْرَةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ سِنًّا» هَذَا حَدِيثُ أَبِي مُعَاوِيَةَ، وَفِي حَدِيثِ شُعْبَةَ: «أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللَّهِ، وَأَقْدَمُهُمْ قِرَاءَةً» وَلَيْسَ فِي حَدِيثِهِ: «أَعْلَمَهُمْ بِالسُّنَّةِ»

Shahih Ibnu Khuzaimah 1505: Ya’kub bin Ibrahim Ad-Dauraqi memberitakan kepada kami, Abu Mu’awiyah menceritakan kepada kami. Al A’masy menceritakan kepada kami, ha, sedangkan Harun bin Ishak menceritakan kepada kami, Ibnu Fudhail menceritakan kepada kami dari Al A’masy, dari Ismail bin Raja, ha, Muhammad bin Abdul A’la Ash-Shan’ani menceritakan kepada kami, Yazid (Ibnu Zurai’) menceritakan kepada kami, Syu’bah menceritakan kepada kami, Ismail bin Raja memberitakan kepada kami, hay sementara itu, Ya’kub bin Ibrahim menceritakan kepada kami, Ibnu Aliyah menceritakan kepada kami, Syu’bah memberitakan kepada kami, Ismail bin Raja memberitakan kepada kami, ha, Abu Utsman dan Salam bin Junadah memberitakan kepada kami, kemudian kedua orang tersebut (Abu Utsman dan Salam bin Junadah) berkata, “Waki’ memberitakan kepada kami”, Abu Utsman berkata, “Fithr bin Khalifah memberitakan kepada kami.” Salam berkata, “Kami menerima hadis itu dari Fithr, dari Ismail bin Raja’, dari Aus bin Sham’aj, dan dari Ibnu Mas’ud bahwasanya ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: “Orang yang paling layak menjadi imam untuk kaumnya adalah orang yang paling pintar bacaan Al Qur’annya. Apabila bacaan Al Qur’an mereka sama, maka orang yang paling mengetahui tentang sunnah di antara merekalah yang paling layak menjadi imam. Apabila pengetahuan mereka tentang Sunnah sama, maka orang yang paling dahulu berhijrah ke kota Madinah di antara merekalah yang paling layak menjadi imam. Apabila hijrah mereka ke kota Madinah sama, maka orang yang lebih tua di antara merekalah yang paling layak menjadi imam.” Hadis ini adalah hadis dari Abu Mu’awiyah. Sedangkan dalam hadis Syu’bah disebutkan: “(Orang yang paling berhak menjadi imam untuk kaumnya) adalah orang yang paling baik bacaan Al Qur’annya dan orang yang paling dahulu membacanya di antara mereka.” Bukan “yang paling tahu tentang Sunnah”.

Shahih Ibnu Khuzaimah 1506

صحيح ابن خزيمة 1506: نا بُنْدَارٌ، نا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ، ثنا شُعْبَةُ، حَدَّثَنِي قَتَادَةُ، وَثنا بُنْدَارٌ، ثنا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي عَرُوبَةَ، وَهِشَامٍ، وَثنا بُنْدَارٌ، ثنا ابْنُ أَبِي عَدِيٍّ، عَنْ سَعِيدٍ، وَهِشَامٍ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ أَبِي نَضْرَةَ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِذَا كَانُوا ثَلَاثَةً فَلْيَؤُمَّهُمْ أَحَدُهُمْ، وَأَحَقُّهُمْ بِالْإِمَامَةِ أَقْرَؤُهُمْ» نا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى، نا عَبْدُ الْغَفَّارِ بْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ، ثنا شُعْبَةُ بِهَذَا الْإِسْنَادِ بِنَحْوِهِ

Shahih Ibnu Khuzaimah 1506: Bundar memberitakan kepada kami, Yahya bin Said memberitakan kepada kami, Syu’bah menceritakan kepada kami, Qatadah menceritakan kepadaku, Bundar menceritakan kepada kami, sementara itu, Ibnu Abi ‘Adi menceritakan kepada kami dari Sa’id dan Hisyam dari Qatadah dari Abu Nadhrah, dari Abu Said Al Khudri, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Apabila ada tiga orang, maka sebaiknya salah seorang di antara mereka menjadi imam. Sedangkan orang yang paling berhak menjadi imam di antara mereka adalah orang yang paling baik bacaan Al Qur’annya.” Muhammad bin Yahya menceritakan kepada kami, Abdul Ghaffar bin Ubaidillah menceritakan kepada kami, Syu’bah menceritakan kepada kami dengan isnad seperti ini.

Shahih Ibnu Khuzaimah 1491

صحيح ابن خزيمة 1491: نا عِيسَى بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْغَافِقِيُّ الْمِصْرِيُّ، نا ابْنُ وَهْبٍ، عَنْ عَمْرِو بْنِ الْحَارِثِ، أَنَّ أَبَا يُونُسَ وَهُوَ سُلَيْمُ بْنُ جُبَيْرٍ حَدَّثَهُ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” كُلُّ نَفْسٍ كُتِبَ عَلَيْهَا الصَّدَقَةُ كُلَّ يَوْمٍ طَلَعَتْ فِيهِ الشَّمْسُ، فَمِنْ ذَلِكَ: أَنْ تَعْدِلَ بَيْنَ الِاثْنَيْنِ صَدَقَةٌ، وَأَنْ تُعِينَ الرَّجُلَ عَلَى دَابَّتِهِ وَتَحْمِلَهُ عَلَيْهَا صَدَقَةٌ، وَتُمِيطُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ صَدَقَةٌ، وَمِنْ ذَلِكَ أَنْ تُعِينَ الرَّجُلَ عَلَى دَابَّتِهِ وَتَحْمِلَهُ عَلَيْهَا، وَتُرْفَعَ مَتَاعَهُ عَلَيْهَا صَدَقَةٌ، وَالْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ خُطْوَةٍ تَمْشِي بِهَا إِلَى الصَّلَاةِ صَدَقَةٌ “

Shahih Ibnu Khuzaimah 1491: Isa bin Ibrahim Al Ghafiqi Al Mishri menceritakan kepada kami, lbnu Wahab menceritakan kepada kami dari Amr bin Al Harits bahwa Abu Yunus -yaitu Sulaim bin Jubair- menceritakan hadis kepadanya dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. ‘Setiap jiwa telah ditulis atasnya sedekah setiap hari selama matahari terbit, di antaranya: mendamaikan antara dua orang adalah sedekah, menolong seseorang dengan binatang tunggangannya dan membawanya di atasnya adalah sedekah, menghilangkan bahaya dari jalan adalah sedekah, di antaranya juga yaitu menolong seseorang dengan binatang tunggangannya dan membawanya serta menaikkan barang-barangnya di atas tunggangannya adalah sedekah, kata-kata yang baik adalah sedekah dan setiap langkah menuju shalat adalah sedekah.”

Shahih Ibnu Khuzaimah 1492

صحيح ابن خزيمة 1492: نا الْحُسَيْنُ، ثنا ابْنُ الْمُبَارَكِ، أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ، عَنْ هَمَّامِ بْنِ مُنَبِّهٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «الْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ خُطْوَةٍ تَمْشِيهَا إِلَى الصَّلَاةِ صَدَقَةٌ»

Shahih Ibnu Khuzaimah 1492: Al Husain menceritakan kepada kami, Ibnu Al Mubarak menceritakan kepada kami, Ma’mar mengabarkan kepada kami dari Hammam bin Munabbih, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Kata-kata yang baik adalah sedekah dan setiap langkah menuju shalat adalah sedekah.”