Skip to main content

Shahih Ibnu Khuzaimah 1593

صحيح ابن خزيمة 1593: أنا عِيسَى بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْغَافِقِيُّ، ثنا ابْنُ وَهْبٍ، عَنْ يَحْيَى بْنِ حُمَيْدٍ، عَنْ قُرَّةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ: أَخْبَرَنِي أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الصَّلَاةِ فَقَدْ أَدْرَكَهَا قَبْلَ أَنْ يُقِيمَ الْإِمَامُ صُلْبَهُ»

Shahih Ibnu Khuzaimah 1593: Isa bin Ibrahim Al Ghafiqi memberitakan kepada kami, Ibnu Wahab menceritakan kepada kami, dari Yahya bin Hamid, dari Qurrah bin Abdurrahman, dari Ibnu Syihab yang telah berkata, “Abu Salama bin Abdurrahman telah memberitakan hadis tersebut kepadaku, dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barangsiapa telah mendapatkan satu rakaat shalat, maka berarti ia telah mendapatkan shalat berjama’ah sebelum imam meluruskan tulang punggungnya’.”

Shahih Ibnu Khuzaimah 1594

صحيح ابن خزيمة 1594: قَالَ أَبُو بَكْرٍ: فِي خَبَرِ أَبِي مُوسَى: «فَإِنَّ الْإِمَامَ يَرْكَعُ قَبْلَكُمْ، وَيَرْفَعُ قَبْلَكُمْ» قَالَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «فَتِلْكَ بِتِلْكَ»

Shahih Ibnu Khuzaimah 1594: Abu Bakar telah berkata dalam hadis Abu Musa bahwasanya imam itu bangun dari ruku’nya sebelum makmum. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Yang itu (imam) mendahulu yang itu (makmum)”

Shahih Ibnu Khuzaimah 1595

صحيح ابن خزيمة 1595: نا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ، ثنا شُعْبَةُ، عَنْ يَعْلَى بْنِ عَطَاءٍ قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا عَلْقَمَةَ الْهَاشِمِيَّ قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: ” مَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ عَصَى اللَّهَ، وَمَنْ أَطَاعَ الْأَمِيرَ فَقَدْ أَطَاعَنِي، وَمَنْ عَصَا الْأَمِيرَ فَقَدْ عَصَانِي، إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ، فَإِذَا صَلَّى قَاعِدًا فَصَلُّوا قُعُودًا، وَإِذَا قَالَ: سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، فَقُولُوا: اللَّهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ، فَإِذَا وَافَقَ قَوْلُ أَهْلِ الْأَرْضِ قَوْلَ أَهْلِ السَّمَاءِ غُفِرَ لَهُ مَا مَضَى مِنْ ذَنْبِهِ، وَيَهْلِكُ كِسْرَى وَلَا كِسْرَى بَعْدُ، وَيَهْلِكُ قَيْصَرُ وَلَا وَقَيْصَرَ مِنْ بَعْدِهِ “

Shahih Ibnu Khuzaimah 1595: Muhammad bin Basyar memberitakan kepada kami, Muhammad bin Ja’far memberitakan kepada kami, Syu’bah memberitakan kepada kami, dari Ya’la bin ‘Atha yang telah berkata: Aku pernah mendengar Abu Alqamah Al Hasyimi berkata, Aku pernah mendengar Abu Hurairah berkata. “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barangsiapa patuh dan taat kepadaku, maka berarti ia telah patuh dan taat kepada Allah. Dan barangsiapa berbuat maksiat kepadaku, maka berarti ia telah berbuat maksiat kepada Allah Barangsiapa patuh dan taat kepada pemimpin, maka berarti ia telah patuh dan taat kepadaku Dan barangsiapa berbuat maksiat kepada pemimpin, maka berariti ia telah berbuat maksiat kepadaku Sesungguhnya imam itu adalah perisai. Apabila imam melaksanakan shalat sambil duduk, maka kalian pun ikut shalat sambil duduk Dan apabila imam mengucapkan, ‘sami’allahu liman hamidah’ (sesungguhnya Allah telah mendengar orang yang memuji nya), maka kalian jawab. ‘Allahumma rabbana wa lakul hamd’ (ya Allah ya Tuhan kami, segala puji bagi-Mu). Ketahuilah, apabila ucapan penduduk bumi (kaum muslimin yang sedang melaksanakan shalat berjama’ah) berbarengan dengan ucapan penghuni langit (para malaikat yang sedang shalat), maka dosanya yang telah lalu pasti akan diampuni. Kisra pasti akan hancur dan tidak ada lagi kisra sesudahnya Sesungguhnya kaisar akan musnah dan tidak ada kaisar lagi sesudahnya”

Shahih Ibnu Khuzaimah 1596

صحيح ابن خزيمة 1596: نا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الْأَعْلَى الصَّنْعَانِيُّ، ثنا الْمُعْتَمِرُ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَنَسٍ قَالَ: «كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ لَمْ نَزَلْ قِيَامًا حَتَّى نَرَاهُ قَدْ سَجَدَ»

Shahih Ibnu Khuzaimah 1596: Muhammad bin Abdul A’la Ash-Shan’ani memberitakan kepada kami, Al Mu’tamir memberitakan kepada kami, dari bapaknya, dari Anas yang berkata, “Apabila Rasulullah mengangkat kepalanya untuk bangun dari ruku, maka kami tetap berdiri hingga kami melihat beliau telah sujud.”

Shahih Ibnu Khuzaimah 1581

صحيح ابن خزيمة 1581: نا يُونُسُ بْنُ عَبْدِ الْأَعْلَى الصَّدَفِيُّ، نا ابْنُ وَهْبٍ، أَخْبَرَنِي يُونُسُ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، أَخْبَرَنِي سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيِّبِ، وَأَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «إِذَا أَمَّنَ الْإِمَامُ فَأَمِّنُوا، فَمَنْ وَافَقَ تَأْمِينُهُ تَأْمِينَ الْمَلَائِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ»

Shahih Ibnu Khuzaimah 1581: Yunus bin Abdul A’la Ash-Shadafi memberitakan kepada kami, Ibnu Wahab memberitakan kepada kami, Yunus memberitakan kepada kami, dari Ibnu Syihab, Said bin Al Musayyib dan Abu Salama bin Abdurrahman memberitakan kepada kami bahwasannya Abu Hurairah telah berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Apabila imam membaca amin, maka ikutlah membaca amin. Barangsiapa bacaan aminnya berbarengan dengan bacaan amin para malaikat, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni’.”

Shahih Ibnu Khuzaimah 1597

صحيح ابن خزيمة 1597: نا عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ، ثنا مَسْلَمَةُ بْنُ صَالِحٍ – وَفِي الْقَلْبِ مِنْهُ – عَنِ الْوَلِيدِ بْنِ سَرِيعٍ، عَنْ عَمْرِو بْنِ حُرَيْثٍ قَالَ: «صَلَّيْتُ خَلْفَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَكَانَ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ لَمْ يَحْنِ أَحَدُنَا ظَهْرَهُ حَتَّى نَرَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدِ اسْتَوَى سَاجِدًا»

Shahih Ibnu Khuzaimah 1597: Ali bin Hujrin memberitakan kepada kami, Maslamah bin Shalih memberitakan kepada kami, dari Al Walid bin Sari’, dari Amr bin Huraits yang telah berkata, “Pada suatu ketika, aku shalat di belakang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Ketika beliau bangun dari ruku, maka tidak ada seorang pun dari kami yang membalikkan punggungnya hingga kami melihat Rasulullah telah sujud.”

Shahih Ibnu Khuzaimah 1582

صحيح ابن خزيمة 1582: نا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ، نا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ، نا هِشَامُ بْنُ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ، عَنْ قَتَادَةَ، ح وَثنا بُنْدَارٌ، ثنا ابْنُ أَبِي عَدِيٍّ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي عَرُوبَةَ، ح وَثنا هَارُونُ بْنُ إِسْحَاقَ الْهَمْدَانِيُّ، ثنا عَبْدَةُ، عَنْ سَعِيدٍ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ يُونُسَ بْنِ جُبَيْرٍ، عَنْ حِطَّانَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الرَّقَاشِيِّ قَالَ: صَلَّى بِنَا أَبُو مُوسَى الْأَشْعَرِيُّ، فَلَمَّا انْفَتَلَ قَالَ: إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطَبَنَا فَبَيَّنَ لَنَا سُنَّتَنَا، وَعَلَّمَنَا صَلَاتَنَا، فَقَالَ: ” فَإِذَا كَبَّرَ الْإِمَامُ فَكَبِّرُوا، وَإِذَا قَالَ: {غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ} [الفاتحة: 7] فَقُولُوا: آمِينَ، يُحِبَّكُمُ اللَّهُ ” قَالَ أَبُو بَكْرٍ: «هَذَا الْخَبَرُ مِنْ بَابِ تَأْمِينِ الْمَأْمُومِ عِنْدَ فَرَاغِ الْإِمَامِ مِنْ قِرَاءَةِ فَاتِحَةِ الْكِتَابِ، وَإِنْ لَمْ يُؤَمِّنْ إِمَامُهُ جَهْلًا أَوْ نِسْيَانًا»

Shahih Ibnu Khuzaimah 1582: Muhammad bin Basyar memberitakan kepada kami, Yahya bin said memberitakan kepada kami, Hisyam bin Abu Abdullah memberitakan kepada kami, dari Qatadah, Ha, Bundar memberitakan kepada kami, Ibnu Abu Addi memberitakan kepada kami, dari Said bin Abu Arubah, Ha, Harun bin Ishak Al Hamdani memberitakan kepada kami, Abdah memberitakan kepada kami, dari Said, dari Qatadah, dari Yunus bin Zubair, dari Hiththan bin Abdullah Ar-Raqqasyi bahwasanya ia berkata: Pada suatu hari, kami shalat berjama’ah bersama Abu Musa Al ‘Asy’ari, usai melaksanakan shalat, Abu Musa Al ‘Asy’ari berkata, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berceramah di hadapan kami. Beliau menerangkan sunnahnya dan mengajarkan kami tentang shalat. Beliau bersabda, ‘Apabila imam bertakbir, maka ikutlah kalian bertakbir. Dan apabila imam membaca ‘ghairil magdhubi ‘alaihim wa ladh dhalliin’, maka ucapkanlah amin’. Mudah-mudahan Allah tetap mencintai kalian’,”

Shahih Ibnu Khuzaimah 1598

صحيح ابن خزيمة 1598: نا أَحْمَدُ بْنُ عَبْدَةَ، وَثنا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ، نا مُحَمَّدُ بْنُ زِيَادٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَوْ أَبُو الْقَاسِمِ عَلَيْهِ السَّلَامُ: «أَمَّا يَخْشَى الَّذِي يَرْفَعُ رَأْسَهُ قَبْلَ الْإِمَامِ أَنْ يُحَوِّلَ اللَّهُ رَأْسَهُ رَأْسَ حِمَارٍ؟»

Shahih Ibnu Khuzaimah 1598: Ahmad bin Abdah memberitakan kepada kami, Hamad bin Zaid menceritakan kepada kami, Muhammad bin Ziyad memberitakan kepada kami, dari Abu Hurairah yang berkata, “Rasulullah telah bersabda, ‘Tidak takutkah orang yang mengangkat kepalanya mendahului imam bahwa Allah akan mengubah kepalanya dengan kepala keledai?”

Shahih Ibnu Khuzaimah 1567

صحيح ابن خزيمة 1567: نا أَحْمَدُ بْنُ الْمِقْدَامِ، ثنا مُلَازِمُ بْنُ عَمْرٍو، حَدَّثَنِي جَدِّي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ بَدْرٍ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَلِيِّ بْنِ شَيْبَانَ، عَنْ أَبِيهِ، عَلِيِّ بْنِ شَيْبَانَ – وَكَانَ أَحَدَ الْوَفْدِ – قَالَ: صَلَّيْنَا خَلْفَهُ يَعْنِي النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَضَى نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصَّلَاةَ، فَرَأَى رَجُلًا فَرْدًا يُصَلِّي خَلْفَ الصَّفِّ، فَوَقَفَ عَلَيْهِ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى قَضَى صَلَاتَهُ، ثُمَّ قَالَ لَهُ: «اسْتَقْبِلْ صَلَاتَكَ، فَلَا صَلَاةَ لِفَرْدٍ خَلْفَ الصَّفِّ»

Shahih Ibnu Khuzaimah 1567: Ahmad bin Al Miqdam memberitakan kepada kami, Mulazim bin Amr memberitakan kepada kami, Abdullah bin Badar kakekku memberitakan kepada kami, dari Abdurrahman bin Ali bin Syaiban, dari bapaknya, Ali bin Syaiban, salah seorang utusan, yang telah berkata, “Pada suatu hari, kami melaksanakan shalat di belakang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika selesai melaksanakan shalat, Rasulullah melihat seorang laki-laki yang sedang Shalat di belakang barisan (shaf) kemudian Rasulullah menunggu laki-laki itu hingga menuntaskan shalatnya. Setelah itu, Rasulullah pun berkata kepadanya, ‘Ulangilah shalatmu! Tidak sah shalatnya seseorang yang berdiri di belakang barisan’.”

Shahih Ibnu Khuzaimah 1568

صحيح ابن خزيمة 1568: قَالَ أَبُو بَكْرٍ: ” وَفِي أَخْبَارِ وَابِصَةَ بْنِ مَعْبَدٍ: رَأَى رَجُلًا صَلَّى خَلْفَ الصَّفِّ وَحْدَهُ، فَأَمَرَهُ أَنْ يُعِيدَ الصَّلَاةَ وَاحْتَجَّ بَعْضُ أَصْحَابِنَا وَبَعْضُ مَنْ قَالَ بِمَذْهَبِ الْعِرَاقِيِّينَ فِي إِجَازَةِ صَلَاةِ الْمَأْمُومِ خَلْفَ الصَّفِّ وَحْدَهُ بِمَا هُوَ بَعِيدُ الشَّبَهِ مِنْ هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ ، احْتَجُّوا بِخَبَرِ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّهُ صَلَّى وَامْرَأَةٌ خَلْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَجَعَلَهُ عَنْ يَمِينِهِ، وَالْمَرْأَةَ خَلْفَ ذَلِكَ، فَقَالُوا: إِذَا جَازَ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تَقُومَ خَلْفَ الصَّفِّ وَحْدَهَا، جَازَ صَلَاةُ الْمُصَلِّي خَلْفَ الصَّفِّ وَحْدَهُ وَهَذَا الِاحْتِجَاجُ عِنْدِي غَلَطٌ؛ لِأَنَّ سُنَّةَ الْمَرْأَةِ أَنْ تَقُومَ خَلْفَ الصَّفِّ وَحْدَهَا إِذَا لَمْ تَكُنْ مَعَهَا امْرَأَةٌ أُخْرَى، وَغَيْرُ جَائِزٍ لَهَا أَنْ تَقُومَ بِحِذَاءِ الْإِمَامِ وَلَا فِي الصَّفِّ مَعَ الرِّجَالِ، وَالْمَأْمُومُ مِنَ الرِّجَالِ إِنْ كَانَ وَاحِدًا، فَسُنَّتُهُ أَنْ يَقُومَ عَنْ يَمِينِ إِمَامِهِ، وَإِنْ كَانُوا جَمَاعَةً قَامُوا فِي صَفٍّ خَلْفَ الْإِمَامِ حَتَّى يَكْمُلَ الصَّفُّ الْأَوَّلُ، وَلَمْ يَجُزْ لِلرَّجُلِ أَنْ يَقُومَ خَلْفَ الْإِمَامِ وَالْمَأْمُومُ وَاحِدٌ، وَلَا خِلَافَ بَيْنَ أَهْلِ الْعِلْمِ أَنَّ هَذَا الْفِعْلَ لَوْ فَعَلَهُ فَاعِلٌ – فَقَامَ خَلْفَ إِمَامٍ وَمَأْمُومٍ قَدْ قَامَ عَنْ يَمِينِهِ – خِلَافُ سُنَّةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَإِنْ كَانُوا قَدِ اخْتَلَفُوا فِي إِيجَابِ إِعَادَةِ الصَّلَاةِ، وَالْمَرْأَةُ إِذَا قَامَتْ خَلْفَ الصَّفِّ وَلَا امْرَأَةَ مَعَهَا وَلَا نِسْوَةَ فَاعِلَةٌ مَا أُمِرَتْ بِهِ وَمَا هُوَ سُنَّتُهَا فِي الْقِيَامِ، وَالرَّجُلُ إِذَا قَامَ فِي الصَّفِّ وَحْدَهُ فَاعِلٌ مَا لَيْسَ مِنْ سُنَّتِهِ، إِذْ سُنَّتُهُ أَنْ يَدْخُلَ الصَّفَّ فَيَصْطَفَّ مَعَ الْمَأْمُومِينَ، فَكَيْفَ يَكُونُ أَنْ يُشَبَّهَ مَا زُجِرَ الْمَأْمُومُ عَنْهُ – مِمَّا هُوَ خِلَافُ سُنَّتِهِ فِي الْقِيَامِ – بِفِعْلِ امْرَأَةٍ فَعَلَتْ مَا أُمِرَتْ بِهِ مِمَّا هُوَ سُنَّتُهَا فِي الْقِيَامِ خَلْفَ الصَّفِّ وَحْدَهَا؟ فَالْمُشَبِّهُ الْمَنْهِيَّ عَنْهُ بِالْمَأْمُورِ بِهِ مُغَفَّلٌ بَيِّنُ الْغَفْلَةِ مُشَبِّهٌ بَيْنَ فِعْلَيْنِ مُتَضَادَّيْنِ، إِذْ هُوَ مُشَبِّهٌ مَنْهِيًّا عَنْهُ بِمَأَمْورٍ بِهِ، فَتَدَبَّرُوا هَذِهِ اللَّفْظَةَ يَبِنْ لَكُمْ بِتَوْفِيقِ خَالِقِنَا حُجَّةُ مَا ذَكَرْنَا. وَزَعَمَ مُخَالِفُونَا مِنَ الْعِرَاقِيِّينَ فِي هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ أَنَّ الْمَرْأَةَ لَوْ قَامَتْ فِي الصَّفِّ مَعَ الرِّجَالِ حَيْثُ أُمِرَ الرَّجُلُ أَنْ يَقُومَ أَفْسَدَتْ صَلَاةَ مَنْ عَنْ يَمِينِهَا، وَمَنْ عَنْ شِمَالِهَا، وَالْمُصَلِّي خَلْفَهَا، وَالرَّجُلُ مَأْمُورٌ عِنْدَهُمْ أَنْ يَقُومَ فِي الصَّفِّ مَعَ الرِّجَالِ، فَكَيْفَ يُشَبَّهُ فِعْلُ امْرَأَةٍ – لَوْ فَعَلَتْ أَفْسَدَتْ صَلَاةَ ثَلَاثَةٍ مِنَ الْمُصَلِّينَ – بِفِعْلِ مَنْ هُوَ مَأْمُورٌ بِفِعْلِهِ؟ إِذَا فَعَلَهُ لَا يُفْسِدُ فِعْلُهُ صَلَاةَ أَحَدٍ “

Shahih Ibnu Khuzaimah 1568: Abu Bakar berkata, “Pada hadis Wabishah bin Muid bahwasanya ia pernah melihat seorang laki-laki yang shalat di belakang barisan seorang diri. Lalu ia meminta laki-laki tersebut untuk mengulangi shalatnya.” Beberapa orang sahabat kami berdalih dan sebagian orang lagi berpendapat dengan mazhabnya para ulama Irak dalam hal boleh tidaknya makmum melaksanakan shalat sendirian di belakang barisan yang mana hal tersebut jauh persamaannya dari masalah ini. Mereka berdalih dengan menggunakan hadis Anas bin Malik bahwasanya ia dan seseorang pernah melaksanakan shalat di belakang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu Rasulullah memindahkannya ke sisi kanannya, sementara perempuan tersebut di belakangnya. Kemudian mereka berkata, ”Apabila perempuan itu dibolehkan untuk shalat di belakang sendirian, maka makmum lelaki pun seharusnya boleh juga shalat sendirian di belakang barisan (shaf).” Menurut hematku dalil dan hujjah ini keliru, karena disunnahkan bagi perempuan untuk shalat sendirian di belakang jika tidak ada perempuan lain yang menjadi imam. Selain itu, tidak dibolehkan bagi seorang perempuan untuk berdiri di samping imam dan bukan di barisan bersama makmum laki- laki. Kemudian, apabila makmum laki-laki itu sendirian, maka sunnahnya adalah ia berdiri di samping kanan imam. Dan apabila makmum laki-laki itu banyak, maka mereka berdiri di belakang imam hingga barisan (shaf) pertama itu sempurna. Lalu tidak diperkenankan bagi makmum laki-laki seorang diri untuk berdiri di belakang imam. Dan para ulama —dalam hal ini— tidak ada perbedaan pendapat, yaitu manakala seorang makmum berdiri di sebelah kanan imam, meskipun mereka berbeda pendapat tentang keharusan untuk mengulangi shalatnya. Para ulama irak yang berbeda pendapat dengan kami dalam masalah ini menduga bahwa perempuan yang shalat dalam satu barisan bersama para makmum laki-laki itu akan membatalkan shalatnya orang yang berada di sebelah kanan, sebelah kiri, dan belakangnya. Menurut pandangan mereka makmum laki-laki itu harus berdiri pada barisan shalat kaum laki-laki pula. Bagaimana mungkin terjadi tindakan seorang makmum perempuan dapat merusak shalatnya tiga orang makmum laki-laki.