Skip to main content

Shahih Ibnu Khuzaimah 1685

صحيح ابن خزيمة 1685: نا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى، نا مُحَمَّدُ بْنُ عُثْمَانَ يَعْنِي الدِّمَشْقِيَّ، ثنا سَعْدُ بْنُ بَشِيرٍ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ مُوَرِّقٍ، عَنْ أَبِي الْأَحْوَصِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بِمِثْلِهِ. وَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: وَإِنَّمَا قُلْتُ: وَلَا، هَلْ سَمِعَ قَتَادَةُ هَذَا الْخَبَرَ عَنْ أَبِي الْأَحْوَصِ لِرِوَايَةِ سُلَيْمَانَ التَّيْمِيِّ هَذَا الْخَبَرَ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَبِي الْأَحْوَصِ؛ لِأَنَّهُ أَسْقَطَ مُوَرِّقًا مِنَ الْإِسْنَادِ، وَهَمَّامٌ وَسَعِيدُ بْنُ بَشِيرٍ أَدْخَلَا فِي الْإِسْنَادِ مُوَرِّقًا، وَإِنَّمَا شَكَكْتُ أَيْضًا فِي صِحَّتِهِ لِأَنِّي لَا أَقِفُ عَلَى سَمَاعِ قَتَادَةَ هَذَا الْخَبَرَ مِنْ مُوَرِّقٍ

Shahih Ibnu Khuzaimah 1685: Muhammad bin Yahya memberitakan kepada kami, Muhammad bin Utsman —maksudnya Ad-Dimasqi— memberitakan kepada kami, Sa’ad bin Basyir menceritakan kepada kami, dari Qatadah, dari Muwarriq, dari Abi Al Ahwash, dari Abdullah yang menyatakan bahwasannya Rasulullah pernah bersabda seperti bunyi hadis di atas. Abu Bakar berkata, “menurut pendapatku adalah apakah Qatadah mendengar hadis ini dari Abi Al Ahwash atau tidak, sebagaimana hadis riwayat Sulaiman At-Taimi yang menerangkan bahwa hadis ini dari Qatadah melalui jalur Abi Al Ahwash. Hal itu disebabkan karena ia meniadakan Muwarriq dari sanadnya. Sementara Hammam dan Said bin Basyir memasukkan Muwarriq ke dalam sanadnya. Hanya saja aku meragukan keshahihannya, karena aku tidak mengetahui apakah Qatadah mendengar hadis ini dari Muwarriq atau tidak.

Shahih Ibnu Khuzaimah 1686

صحيح ابن خزيمة 1686: نا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ، حَدَّثَنِي عَمْرُو بْنُ عَاصِمٍ، ثنا هَمَّامٌ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ مُوَرِّقٍ الْعِجْلِيِّ، عَنْ أَبِي الْأَحْوَصِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «صَلَاةُ الْمَرْأَةِ فِي بَيْتِهَا أَعْظَمُ مِنْ صَلَاتِهَا فِي حُجْرَتِهَا»

Shahih Ibnu Khuzaimah 1686: Muhammad bin Basyar memberitakan kepada kami, Amr bin Ashim menceritakan kepada ku, Hammam memberitakan kepada kami, dari Qatadah, dari Muwarriq Al Ijli, dari Abi Al Ahwash, dari Abdullah yang telah mendengarnya langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah bersabda, “Shalatnya wanita di dalam rumah itu lebih besar pahalanya daripada shalatnya di dalam kamar. “

Shahih Ibnu Khuzaimah 1687

صحيح ابن خزيمة 1687: نا عِيسَى بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْغَافِقِيُّ، ثنا ابْنُ وَهْبٍ، عَنْ دَاوُدَ بْنِ قَيْسٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سُوَيْدٍ الْأَنْصَارِيِّ، عَنْ عَمَّتِهِ، امْرَأَةِ أَبِي حُمَيْدٍ السَّاعِدِيِّ أَنَّهَا جَاءَتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، إِنِّي أُحِبُّ الصَّلَاةَ مَعَكَ، فَقَالَ: «قَدْ عَلِمْتُ أَنَّكِ تُحِبِّينَ الصَّلَاةَ مَعِي، وَصَلَاتُكِ فِي بَيْتِكِ خَيْرٌ مِنْ صَلَاتِكِ فِي حُجْرَتِكِ، وَصَلَاتُكِ فِي حُجْرَتِكِ خَيْرٌ مِنْ صَلَاتِكِ فِي دَارِكِ، وَصَلَاتُكِ فِي دَارِكِ خَيْرٌ مِنْ صَلَاتِكِ فِي مَسْجِدِ قَوْمِكِ، وَصَلَاتُكِ فِي مَسْجِدِ قَوْمِكِ خَيْرٌ مِنْ صَلَاتِكِ فِي مَسْجِدِي» ، فَأَمَرَتْ، فَبُنِيَ لَهَا مَسْجِدٌ فِي أَقْصَى شَيْءٍ مِنْ بَيْتِهَا وَأَظْلَمِهِ، فَكَانَتْ تُصَلِّي فِيهِ حَتَّى لَقِيَتِ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ

Shahih Ibnu Khuzaimah 1687: Isa bin Ibrahim Al Ghafiqi memberitakan kepada kami, Ibnu Wahab menceritakan kepada kami, dari Daud bin Qais, dari Abdullah bin Suwaid Al Anshari, dari bibinya, yaitu istri Abu Hamid As-Saidi, yang menyatakan bahwasanya suatu ketika ia pernah menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “wahai Rasulullah, sebenarnya aku sangat ingin ikut shalat berjama’ah bersama anda.” Mendengar perkataannya itu, Rasulullah pun berkata, “wahai ibu, aku telah mengetahui bahwasanya anda ingin ikut shalat berjama’ah bersamaku. Akan tetapi ketauhilah bahwasanya shalat anda di kamar itu lebih baik daripada shalat di dalam rumah. Kemudian, shalat anda di dalam rumah itu lebih baik daripada shalat anda di tempat kediaman anda. Selanjutnya shalat di tempat kediaman anda itu lebih baik daripada shalat di masjid kaum anda. Sementara shalat di masjid kaum anda itu lebih baik daripada shalat di masjidku.” Akhirnya istri Abu Hamid As-Saidi itu meminta dibuatkan sebuah masjid (tempat shalat) di sudut rumahnya. Selanjutnya, ia pun senantiasa melaksanakan shalat di tempat shalat tersebut sampai meninggal dunia.

Shahih Ibnu Khuzaimah 1688

صحيح ابن خزيمة 1688: نا أَبُو مُوسَى، ثنا عَمْرُو بْنُ عَاصِمٍ، ثنا هَمَّامٌ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ مُوَرِّقٍ، عَنْ أَبِي الْأَحْوَصِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «صَلَاةُ الْمَرْأَةِ فِي مَخْدَعِهَا أَفْضَلُ مِنْ صَلَاتِهَا فِي بَيْتِهَا، وَصَلَاتُهَا فِي بَيْتِهَا أَفْضَلُ مِنْ صَلَاتِهَا فِي حُجْرَتِهَا»

Shahih Ibnu Khuzaimah 1688: Abu Musa memberitakan kepada kami, Amr bin Ashim menceritakan kepada kami, Hammam menceritakan kepada kami, dari Qatadah, dari Muwarriq, dari Abi Al Ahwash, dari Abdullah yang mendengar langsung hadis itu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang pernah bersabda, “Shalatnya wanita di dalam kamar tidurnya itu lebih baik daripada shalat di rumahnya. Sedangkan shalat di dalam rumahnya itu lebih baik daripada shalat dikamarnya.”

Shahih Ibnu Khuzaimah 1689

صحيح ابن خزيمة 1689: نا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى، نا مُحَمَّدُ بْنُ عِيسَى، نا أَبُو مُعَاوِيَةَ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ الْهَجَرِيِّ، عَنْ أَبِي الْأَحْوَصِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِنَّ أَحَبَّ صَلَاةٍ تُصَلِّيهَا الْمَرْأَةُ إِلَى اللَّهِ فِي أَشَدِّ مَكَانٍ فِي بَيْتِهَا ظُلْمَةً»

Shahih Ibnu Khuzaimah 1689: Muhammad bin Yahya memberitakan kepada kami, Muhammad bin Isa memberitakan kepada kami, Abu Mu’awiyah memberitakan kepada kami, dari Ibrahim Al Hijri, dari Abi Al Ahwash dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah bersabda, “Sesungguhnya shalat yang paling disukai Allah dari seorang wanita adalah shalat di tempat yang paling gelap dalam rumahnya.”

Shahih Ibnu Khuzaimah 1690

صحيح ابن خزيمة 1690: وَرَوَى عَبْدُ اللَّهِ بْنُ جَعْفَرٍ، وَفِي الْقَلْبِ مِنْهُ رَحِمَهُ اللَّهُ قَالَ: أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَمْرٍوِ، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ أَحَبَّ صَلَاةٍ تُصَلِّيهَا الْمَرْأَةُ إِلَى اللَّهِ أَنْ تُصَلِّيَ فِي أَشَدِّ مَكَانٍ مِنْ بَيْتِهَا ظُلْمَةً» . حَدَّثَنَاهُ عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ، نا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ جَعْفَرٍ

Shahih Ibnu Khuzaimah 1690: Abdullah bin Ja’far rahimahulluh telah meriwayatkan bahwasanya ia pernah berkata, “Muhammad bin Amr telah memberitakan sebuah hadis kepada kami, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah bahwasanya ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Sesungguhnya shalat yang paling disukai Allah dari seorang wanita adalah shalat di tempat yang paling gelap dalam rumahnya’.” Kami menerima hadis ini dari Ali bin Hajr, dari Abdullah bin Ja’far.

Shahih Ibnu Khuzaimah 1691

صحيح ابن خزيمة 1691: نا أَحْمَدُ بْنُ عَبْدَةَ، ثنا عَبْدُ الْعَزِيزِ، ثنا الْعَلَاءُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «خَيْرُ صُفُوفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا، وَشَرُّهَا آخِرُهَا، وَخَيْرُ صُفُوفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا، وَشَرُّهَا أَوَّلُهَا» نا أَبُو مُوسَى مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى، حَدَّثَنِي الضَّحَّاكُ بْنُ مَخْلَدٍ، أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ، حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي بَكْرٍ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيِّبِ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ، إِذَا سَجَدَ الرِّجَالُ فَاحْفَظُوا أَبْصَارَكُنَّ» ، قُلْتُ لِعَبْدِ اللَّهِ: مِمَّ ذَاكَ؟ قَالَ: مِنْ ضِيقِ الْأُزُرِ

Shahih Ibnu Khuzaimah 1691: Ahmad bin Abadah memberitakan kepada kami, Abdul Aziz memberitakan kepada kami, Al ‘Ala bin Abdurrahman menceritakan kepada kami, dari bapaknya, dari Abu Hurairah yang telah berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Sebaik-baik shaf kaum pria adalah di depan dan seburuk-buruknya adalah di belakang. Sebaliknya, sebaik-baik shaf kaum wanita itu adalah di dibelakang dan seburuk-buruknya adalah di depan.” Abu Musa bin Al Mutsanna memberitakan kepada kami, Adh-Dhahhak bin Mukhallad memberitakan kepada kami, Sufyan memberitakan kepada kami, Abdullah bin Abu Bakar menceritakan kepada kami, dari Said bin Musayyab, dari Abu Said Al Khudri yang telah berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, ‘Wahai kaum wanita, apabila kaum pria itu sedang sujud dalam shalat, maka peliharalah pandangan kalian!’ aku bertanya kepada Abdullah, ‘mengapa demikian?’ Abdullah menjawab, ‘Karena sempitnya sarung yang dikenakan’.”

Shahih Ibnu Khuzaimah 1692

صحيح ابن خزيمة 1692: نا أَبُو يَحْيَى مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحِيمِ، أَخْبَرَنَا أَبُو عَاصِمٍ، بِمِثْلِهِ، وَقَالَ: «فَاحْفَظُوا أَبْصَارَكُمْ مِنْ عَوْرَاتِ الرِّجَالِ» فَذَكَرَ الْحَدِيثَ

Shahih Ibnu Khuzaimah 1692: Abu Yahya Muhammad bin Abdurrahim memberitakan kepada kami, Abu ‘Ashim memberitakan kepada kami seperti redaksi hadis di atas. Kemudian ia berkata, “Oleh karena itu, peliharalah pandangan mata kalian dari aurat kaum pria!” Lalu ia menyebutkan hadis tersebut.

Shahih Ibnu Khuzaimah 1661

صحيح ابن خزيمة 1661: نا يُوسُفُ بْنُ مُوسَى، نا جَرِيرٌ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ الشَّيْبَانِيِّ، عَنْ عَدِيِّ بْنِ ثَابِتٍ، عَنْ زِرِّ بْنِ حُبَيْشٍ، عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ تَفَلَ تُجَاهَ الْقِبْلَةِ جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَتَفْلَتُهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ، وَمَنْ أَكَلَ مِنْ هَذِهِ الْبَقْلَةِ الْخَبِيثَةِ فَلَا يَقْرَبَنَّ مَسْجِدَنَا»

Shahih Ibnu Khuzaimah 1661: Yusuf bin Musa memberitakan kepada kami, Jarir memberitakan kepada kami, dari Abu Ishak Asy-Syaibani, dari Addi bin Tsabit, dari Zirr bin Hubaisy, dari Huzaifah yang berkata, “Rasulullah pernah bersabda, ‘Barangsiapa yang meludah ke arah kiblat, maka pada hari kiamat kelak mendapatkan ludahnya itu berada tepat di depan matanya. Dan barangsiapa makan sayuran yang buruk ini (bawang putih), maka janganlah mendekati masjid kami.”

Shahih Ibnu Khuzaimah 1677

صحيح ابن خزيمة 1677: نا بُنْدَارٌ، نا يَحْيَى، نا مُحَمَّدُ بْنُ عَمْرٍو، ح وَثنا أَبُو سَعِيدٍ الْأَشَجُّ، ثنا ابْنُ إِدْرِيسَ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ عَمْرٍو، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «لَا تَمْنَعُوا إِمَاءَ اللَّهِ مَسَاجِدَ اللَّهِ وَلْيَخْرُجْنَ إِذَا خَرَجْنَ تَفِلَاتٍ»

Shahih Ibnu Khuzaimah 1677: Bundar memberitakan kepada kami, Yahya memberitakan kepada kami, Muhammad bin Amr memberitakan kepada kami, Ha, Abu Said Al Asyaj memberitakan kepada kami, Ibnu Idris menceritakan kepada kami, Muhammad bin Amr menceritakan kepada kami, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, “Dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau telah bersabda, ‘Janganlah kalian cegah kaum wanita pergi ke masjid Dan apabila hendak pergi ke masjid, maka sebaiknya mereka keluar dari rumah sambil meludah’ “