Skip to main content

Shahih Ibnu Khuzaimah 1692

صحيح ابن خزيمة 1692: نا أَبُو يَحْيَى مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحِيمِ، أَخْبَرَنَا أَبُو عَاصِمٍ، بِمِثْلِهِ، وَقَالَ: «فَاحْفَظُوا أَبْصَارَكُمْ مِنْ عَوْرَاتِ الرِّجَالِ» فَذَكَرَ الْحَدِيثَ

Shahih Ibnu Khuzaimah 1692: Abu Yahya Muhammad bin Abdurrahim memberitakan kepada kami, Abu ‘Ashim memberitakan kepada kami seperti redaksi hadis di atas. Kemudian ia berkata, “Oleh karena itu, peliharalah pandangan mata kalian dari aurat kaum pria!” Lalu ia menyebutkan hadis tersebut.

Shahih Ibnu Khuzaimah 1693

صحيح ابن خزيمة 1693: نا بِشْرُ بْنُ مُعَاذٍ، ثنا بِشْرٌ يَعْنِي ابْنَ الْمُفَضَّلِ، ثنا عَبْدُ الرَّحْمَنِ وَهُوَ ابْنُ إِسْحَاقَ، عَنْ أَبِي حَازِمٍ، عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ قَالَ: كُنَّ النِّسَاءُ يُؤْمَرْنَ فِي الصَّلَاةِ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ لَا يَرْفَعْنَ رُءُوسَهُنَّ حَتَّى يَأْخُذَ الرِّجَالُ مَقَاعِدَهُمْ مِنْ قَبَاحَةِ الثِّيَابِ قَالَ أَبُو بَكْرٍ: خَبَرُ الثَّوْرِيِّ عَنْ أَبِي حَازِمٍ خَرَّجْتُهُ فِي كِتَابِ الْكَبِيرِ فِي أَبْوَابِ اللِّبَاسِ فِي الصَّلَاةِ

Shahih Ibnu Khuzaimah 1693: Bisyar maksudnya bin Muadz, Bisyr maksudnya Ibnu Al Mufadhdhal menceritakan kepada kami, Abdurrahman yaitu Ibnu Ishaq menceritakan kepada kami, dari Abu Hazim, dari Sahal bin Sa’ad yang telah berkata, “Sesungguhnya kaum wanita itu diperintahkan agar tidak mengangkat kepala mereka (dari sujud) hingga kaum pria duduk dalam posisi tegak karena sempitnya kain mereka.” Abu Bakar berkata, “hadis Ats-Tsauri dari Abu Hazim yang kami riwayatkan dalam kitab Al Kabir pada pembahasan tenang pakaian dalam shalat.

Shahih Ibnu Khuzaimah 1694

صحيح ابن خزيمة 1694: نا نَصْرُ بْنُ عَلِيٍّ الْجَهْضَمِيُّ، أَخْبَرَنَا نُوحٌ يَعْنِي ابْنَ قَيْسٍ الْحُدَّانِيَّ، ثنا عَمْرُو بْنُ مَالِكٍ، عَنْ أَبِي الْجَوْزَاءِ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: كَانَتْ تُصَلِّي خَلْفَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ امْرَأَةٌ حَسْنَاءُ مِنْ أَحْسَنِ النَّاسِ، فَكَانَ بَعْضُ الْقَوْمِ يَتَقَدَّمُ فِي الصَّفِّ الْأَوَّلِ لِئَلَّا يَرَاهَا، وَيَسْتَأْخِرُ بَعْضُهُمْ حَتَّى يَكُونَ فِي الصَّفِّ الْمُؤَخِّرِ، فَإِذَا رَكَعَ نَظَرَ مِنْ تَحْتِ إِبْطِهِ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي شَأْنِهَا {وَلَقَدْ عَلِمْنَا الْمُسْتَقْدِمِينَ مِنْكُمْ وَلَقَدْ عَلِمْنَا الْمُسْتَأْخِرِينَ} [الحجر: 24]

Shahih Ibnu Khuzaimah 1694: Nasr bin Ali Al Jahdhami memberitakan kepada kami, Nuh —yaitu Abu Qais Al Haddani— memberitakan kepada kami, Amr bin Malik memberitakan kepada kami, dari Abi Al Jauza’i, dari Ibnu Abbas yang telah berkata, “Pada suatu ketika ada seorang wanita cantik yang sedang melaksanakan shalat di belakang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian ada sebagian sahabat yang maju ke shaf yang pertama dengan tujuan agar mereka tidak melihat wanita tersebut, sedangkan sebagian lainnya malah mundur ke shaf belakang. Ketika ruku, maka mereka dapat melihatnya dari bawah ketiak mereka. Oleh karena itu, Allah menurunkan ayat yang berkaitan dengan hal: ‘Sesungguhnya kami mengetahui orang-orang yang berada di depan di antaramu dan kami pun mengetahui orang-orang yang berada di belakang [Al Hijr [15]: 24).

Shahih Ibnu Khuzaimah 1695

صحيح ابن خزيمة 1695: نا أَبُو مُوسَى، نا نُوحُ بْنُ قَيْسٍ الْحُدَّانِيُّ، فَذَكَرَ الْحَدِيثَ بِهَذَا الْمَعْنَى، ناه الْفَضْلُ بْنُ يَعْقُوبَ، نا نُوحٌ، عَنْ عَمْرِو بْنِ مَالِكٍ، بِنَحْوِهِ

Shahih Ibnu Khuzaimah 1695: Abu Musa memberitakan kepada kami, Nuh bin Qais Al Haddani memberitakan kepada kami dengan redaksi yang sama. Fadhil bin Ya’kub memberitakan kepada kami, Nuh memberitakan kepada kami, dari Amr bin Malik yang sama redaksinya.

Shahih Ibnu Khuzaimah 1696

صحيح ابن خزيمة 1696: نا أَحْمَدُ بْنُ عَبْدَةَ، نا حَمَّادٌ يَعْنِي ابْنَ يَزِيدَ، ح وَثنا عَبْدُ الْجَبَّارِ بْنُ الْعَلَاءِ، نا سُفْيَانُ كِلَاهُمَا، عَنْ يَحْيَى، ح وَحَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ خَشْرَمٍ، أَخْبَرَنَا ابْنُ عُيَيْنَةَ قَالَ: حَدَّثَنِي يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ، عَنْ عَمْرَةَ قَالَتْ: سَمِعْتُ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا تَقُولُ: لَوْ رَأَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا أَحْدَثَ النِّسَاءُ بَعْدَهُ لَمَنَعَهُنَّ الْمَسَاجِدَ كَمَا مُنِعَتْ نِسَاءُ بَنِي إِسْرَائِيلَ، فَقُلْتُ: مَا هَذِهِ؟ أَوَ مُنِعَتْ نِسَاءُ بَنِي إِسْرَائِيلَ؟ قَالَتْ: نَعَمْ. هَذَا حَدِيثُ عَبْدِ الْجَبَّارِ. وَقَالَ أَحْمَدُ فِي حَدِيثِهِ: قُلْتُ لِعَمْرَةَ: وَمُنِعَ نِسَاءُ بَنِي إِسْرَائِيلَ؟

Shahih Ibnu Khuzaimah 1696: Ahmad bin Abadah memberitakan kepada kami, Hamad -yaitu Ibnu Yazid- memberitakan kepada kami, Ha, Abdul Jabbar bin Al ‘Ala menceritakan kepada kami, Sufyan mcncerilakan kepada kami, keduanva menerima hadis lersebul dari Yahya, Ha, Ali bin Khasyram memberitakan kepada kami, Ibnu Uyainah memberitakan kepada kami,dati berkata: Yahya bin Said memberitakan kepada kami, dari Amrah bahwasanya ia berkata, ‘Aku pernah mendengar Aisyah berkata, ‘Seandainya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat apa yang terjadi pada kaum wanita sepeninggalan beliau, maka sebelumnya beliau pasti telah melarang kaum wanita untuk pergi ke masjid sebagaimana kaum wanita bani Isra’il.’ aku bertanya kepada Aisyah, ‘Apakah benar kaum wanita bani Isra’il telah dilarang (untuk pergi ke tempat ibadah mereka)?’ Aisyah pun menjawab, ‘Ya, mereka dahulu telah dilarang untuk pergi ke tempat ibadah mereka’.” Ini adalah hadis Abdul Jabbar. Imam Ahmad pernah berkata dalam hadisnya, “Aku pernah berkata kepada Amrah, ‘wanita kaum bani Isra’il telah dilarang (untuk pergi ke tempat ibadah mereka).”

Shahih Ibnu Khuzaimah 1681

صحيح ابن خزيمة 1681: نا يُونُسُ بْنُ عَبْدِ الْأَعْلَى، أَخْبَرَنَا ابْنُ وَهْبٍ، أَخْبَرَنَا عَمْرُو بْنُ الْحَارِثِ، أَنَّ دَرَّاجًا أَبَا السَّمْحِ حَدَّثَهُ عَنِ السَّائِبِ مَوْلَى أُمِّ سَلَمَةَ، عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ، زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «خَيْرُ مَسَاجِدِ النِّسَاءِ قَعْرُ بُيُوتِهِنَّ»

Shahih Ibnu Khuzaimah 1681: Yunus bin Abdul A’la memberitakan kepada kami, Ibnu Wahab memberitakan kepada kami, Amr bin Harits memberitakan kepada kami bahwa Darraj Abu Sama menceritakan hadis itu dari Saib, budak Ummu Salamah, dari Ummu Salamah istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dari Nabi Muhammad bahwasanya beliau telah bersabda, “sebaik-baik tempat shalatnya kaum wanita adalah di dalam rumahnya.”

Shahih Ibnu Khuzaimah 1697

صحيح ابن خزيمة 1697: نا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى، نا عَبْدُ الصَّمَدِ بْنُ عَبْدِ الْوَارِثِ، ثنا الْمُسْتَمِرُّ بْنُ الرَّيَّانِ الْإِيَادِيُّ، ثنا أَبُو نَضْرَةَ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَكَرَ الدُّنْيَا فَقَالَ: «إِنَّ الدُّنْيَا خَضِرَةٌ حُلْوَةٌ، فَاتَّقُوهَا، وَاتَّقُوا النِّسَاءَ» ، ثُمَّ ذَكَرَ نِسْوَةً ثَلَاثًا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ: امْرَأَتَيْنِ طَوِيلَتَيْنِ تُعْرَفَانِ، وَامْرَأَةً قَصِيرَةً لَا تُعْرَفُ، فَاتَّخَذَتْ رِجْلَيْنِ مِنْ خَشَبٍ، وَصَاغَتْ خَاتَمًا، فَحَشَتْهُ مِنْ أَطْيَبِ الطِّيبِ الْمِسْكِ، وَجَعَلَتْ لَهُ غُلْفًا، فَإِذَا مَرَّتِ الْمَسْجِدَ أَوْ بِالْمَلَأِ قَالَتْ بِهِ فَفَتَحَتْهُ، فَفَاحَ رِيحُهُ قَالَ الْمُسْتَمِرُّ بِخِنْصَرِهِ الْيُسْرَى، فَأَشْخَصَهَا دُونَ أَصَابِعِهِ الثَّلَاثِ شَيْئًا، وَقَبَضَ الثَّلَاثَ

Shahih Ibnu Khuzaimah 1697: Muhammad bin Yahya memberitakan kepada kami, Abdul Shamad bin Abdul Warits memberitakan kepada kami, Musta’mir bin Rayyan Al Ayadi memberitakan kepada kami, Abu Nadhrah memberitakan kepada kami, dari Abu Said Al Khudri bahwasanya suatu hari Rasulullah menerangkan tentang dunia dengan sabdanya, “Sesungguhnya dunia itu hijau dan indah. Oleh karena itu, jauhilah ia dan jauhilah kaum wanita!” Kemudian Rasulullah pun menyebutkan tiga orang perempuan dari bani Isra il, dua orang wanita yang bertubuh tinggi yang dikenal dan seorang wanita yang bertubuh pendek yang tidak dikenal. Kemudian wanita yang bertubuh pendek ini membuat dua kaki dari bambu dan mengenakan cincin yang dibaluri dengan minyak wangi yang harum semerbak. Apabila ia melewati masjid atau orang lain, maka aromanya pasti akan tersebar ke mana-mana. Mustamir berkata dengan menggunakan jari telunjuk kirinya seraya membukanya dan menggenggam tiga jari lainnya,

Shahih Ibnu Khuzaimah 1682

صحيح ابن خزيمة 1682: نا الْحَسَنُ بْنُ مُحَمَّدٍ الزَّعْفَرَانِيُّ، ثنا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ، ح وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ، عَنْ يَزِيدَ، أَخْبَرَنَا الْعَوَّامُ بْنُ حَوْشَبٍ، حَدَّثَنِي حَبِيبُ بْنُ أَبِي ثَابِتٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَا تَمْنَعُوا نِسَاءَكُمُ الْمَسَاجِدَ، وَبُيُوتُهُنَّ خَيْرٌ لَهُنَّ» ، فَقَالَ ابْنٌ لِعَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ: بَلَى وَاللَّهِ، لَنَمْنَعُهُنَّ، فَقَالَ ابْنُ عُمَرَ: تَسْمَعُنِي أُحَدِّثُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَتَقُولُ مَا تَقُولُ؟ جَمِيعَهُمَا لَفْظًا وَاحِدًا. وَثنا الْحَسَنُ بْنُ مُحَمَّدٍ، نا إِسْحَاقُ بْنُ يُوسُفَ الْأَزْرَقُ، ثنا الْعَوَّامُ بِهَذَا الْإِسْنَادِ بِنَحْوِهِ

Shahih Ibnu Khuzaimah 1682: Hasan bin Muhammad Az-Za’farani memberitakan kepada kami, Yazid bin Harun memberitakan kepada kami, Ha, Muhammad bin Rafi’ memberitakan kepada kami dari Yazid, Awwam bin Hausyab menceritakan kepada kami, Habib bin Abu Tsabit memberitakan kepada kami, dari Ibnu Umar yang telah berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, ‘Janganlah kalian menghalangi istri-istri kalian untuk pergi ke masjid. Namun demikian, rumah mereka itu sebenarnya lebih baik untuk tempat shalat mereka’.” Anak laki-laki Abdullah bin Umar pernah berkata, “Demi Allah, janganlah dicegah mereka (untuk pergi ke masjid)” Kemudian Ibnu Umar pun berkata, “sebaiknya, kamu dengarkan terlebih dulu aku meriwayatkan hadis dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setelah itu, maka ungkapkanlah apa yang menjadi pendapatmu.” Kedua-duanya adalah satu ungkapan. Hasan bin Muhammad menceritakan kepada kami, Ishak bin Yusuf Al Azraq memberitakan kepada kami, Awwam menceritakan kepada kami dengan sanad yang sama.”

Shahih Ibnu Khuzaimah 1698

صحيح ابن خزيمة 1698: نا عَبْدُ الْجَبَّارِ بْنُ الْعَلَاءِ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، ثنا الْأَعْمَشُ، عَنْ عُمَارَةَ وَهُوَ ابْنُ عُمَيْرٍ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ يَزِيدَ، أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ، كَانَ إِذَا رَأَى النِّسَاءَ قَالَ: أَخِّرُوهُنَّ حَيْثُ جَعَلَهُنَّ اللَّهُ، وَقَالَ: إِنَّهُنَّ مَعَ بَنِي إِسْرَائِيلَ يَصْفُفْنَ مَعَ الرِّجَالِ، كَانَتِ الْمَرْأَةُ تَلْبَسُ الْقَالِبَ فَتَطَالُ لِخَلِيلِهَا، فَسُلِّطَتْ عَلَيْهِنَّ الْحَيْضَةُ، وَحُرِّمَتْ عَلَيْهِنَّ الْمَسَاجِدُ. وَكَانَ عَبْدُ اللَّهِ إِذَا رَآهُنَّ قَالَ: أَخِّرُوهُنَّ حَيْثُ جَعَلَهُنَّ اللَّهُ. قَالَ أَبُو بَكْرٍ: الْخَبَرُ مَوْقُوفٌ غَيْرُ مُسْنَدٍ

Shahih Ibnu Khuzaimah 1698: Abdul Jabbar bin Al ‘Ala memberitakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, Al ‘Amasy memberitakan kepada kami, dari Imarah —yaitu Ibnu Amir— dari Abdurrahman bin Yazid bahwasannya apabila Abdullah bin Mas’ud melihat kaum wanita berada di shaf shalat, maka ia pasti akan berkata, “Tempatkanlah kaum wanita itu di belakang sebagaimana yang telah Allah perintah! Sesungguhnya pada zaman bani Isra’ il mereka itu satu barisan (shaf) bersama kaum pria. Ada seorang wanita di antara mereka yang mengenakan perhiasan. Lalu mereka mendapatkan haidh. Oleh karena itu, mereka dilarang ke masjid.” Apabila Abdullah melihat kaum wanita di masjid, maka ia akan berkata, “Tempatkanlah mereka di belakang seperti yang telah diperintahkan Allah.” Abu Bakar berkata, “hadis ini adalah mauquf tidak bersanad.”

Shahih Ibnu Khuzaimah 1683

صحيح ابن خزيمة 1683: نا أَبُو مُوسَى، نا عَمْرُو بْنُ عَاصِمٍ، ثنا هَمَّامٌ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ مُوَرِّقٍ، عَنْ أَبِي الْأَحْوَصِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِنَّ الْمَرْأَةَ عَوْرَةٌ، فَإِذَا خَرَجَتِ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ، وَأَقْرَبُ مَا تَكُونُ مِنْ وَجْهِ رَبِّهَا وَهِيَ فِي قَعْرِ بَيْتِهَا»

Shahih Ibnu Khuzaimah 1683: Abu Musa memberitakan kepada kami, Amr bin Ashim memberitakan kepada kami, Hammam memberitakan kepada kami, dari Qatadah, dari Muwarriq, dari Abi Al Ahwash,dari Abdullah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah bersabda, “Sesungguhnya wanita itu aurat. Apabila ia keluar dari rumah, maka setan pasti akan menyertainya. Sedangkan tempat yang terdekat bagi wanita dengan Tuhannya adalah di dalam rumah.”