Skip to main content

Shahih Ibnu Hibban 1488

صحيح ابن حبان 1488: أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ الْمُثَنَّى، حَدَّثَنَا أَبُو خَيْثَمَةَ، حَدَّثَنَا جَرِيرٌ، عَنِ الأَعْمَشِ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، قَالَ‏:‏ جَاءَتِ امْرَأَةٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَتْ‏:‏ يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ زَوْجِي صَفْوَانَ بْنَ الْمُعَطَّلِ يَضْرِبُنِي إِذَا صَلَّيْتُ، وَيُفَطِّرُنِي إِذَا صُمْتُ، وَلاَ يُصَلِّي صَلاَةَ الْفَجْرِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ، قَالَ‏:‏- وَصَفْوَانُ عِنْدَهُ- فَسَأَلَهُ عَمَّا قَالَتْ، فَقَالَ‏:‏ يَا رَسُولَ اللهِ أَمَّا قَوْلُهَا‏:‏ يَضْرِبُنِي إِذَا صَلَّيْتُ، فَإِنَّهَا تَقْرَأُ بِسُورَتِي وَقَدْ نَهَيْتُهَا عَنْهَا، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ‏:‏ لَوْ كَانَتْ سُورَةً وَاحِدَةً لَكَفَتِ النَّاسَ، قَالَ‏:‏ وَأَمَّا قَوْلُهَا‏:‏ يُفَطِّرُنِي إِذَا صُمْتُ، فَإِنَّهَا تَنْطَلِقُ فَتَصُومُ، وَأَنَا رَجُلٌ شَابٌّ وَلاَ أَصْبِرُ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَئِذٍ‏:‏ لاَ تَصُومُ امْرَأَةٌ إِلاَّ بِإِذْنِ زَوْجِهَا، قَالَ‏:‏ وَأَمَّا قَوْلُهَا‏:‏ لاَ أُصَلِّي حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ، فَإِنَّا أَهْلُ بَيْتٍ لاَ نَكَادُ نَسْتَيْقِظُ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ، فَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ‏:‏ فَإِذَا اسْتَيْقَظْتَ فَصَلِّ‏.‏

Shahih Ibnu Hibban 1488: Ahmad bin Ali bin Al Mutsanna telah mengabarkan kepada kami, Abu Khaitsamah telah menceritakan kepada kami, Jarir telah menceritakan kepada kami sebuah hadis dari Al A’masy dari Abu Shalih dari Abu Sa’id Al Khudri, ia berkata, Seorang wanita datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya suamiku yang bernama Shafwan bin Al Mu’aththil440 memukulku jika aku telah selesai mengerjakan shalat, ia menyuruhku berbuka (tidak puasa) jika aku telah mengerjakan puasa, ia tidak mengerjakan shalat Subuh hingga terbit matahari. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata sedangkan Shafwan sedang berada di sampingnya, kemudian Rasulullah menanyakan hal tersebut kepada Shafwan tentang apa yang telah dikatakan oleh istrinya, kemudian Shafwan berkata, “Wahai Rasulullah, adapun ucapannya bahwa ia memukulku pada saat aku telah selesai mengerjakan shalat, hal itu karena ia membaca dua surat sedangkan aku telah melarangnya”. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Jika hanya membaca satu surat saja, niscaya hal tersebut telah cukup bagi manusia”. Shafwan berkata, “Adapun ucapannya bahwa ia memenyuruhku untuk tidak berpuasa jika aku telah selesai puasa, karena dia merasa bebas kemudian dia puasa sedangkan aku masih berusia muda, dan aku tidak mampu menahan kesabaranku (untuk melakukan persetubuhan, penterj). Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika demikian, maka wanita tidak boleh berpuasa kecuali atas idzin suaminya.” Shafwan kembali berkata, “Adapun ucapannya bahwa aku tidak shalat hingga terbit matahari, karena kebiasaan anggota keluarga hampir tidak bangun tidur hingga terbit matahari”. Kemudian Rasulullah berkata, “Jika engkau telah bangun, maka shalatlah” 441.[78:1]

Shahih Ibnu Hibban 1489

صحيح ابن حبان 1489: أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ الْمُثَنَّى، حَدَّثَنَا أَبُو خَيْثَمَةَ، حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ الْقَطَّانُ، عَنِ ابْنِ عَجْلاَنَ، عَنْ عَاصِمِ بْنِ عُمَرَ بْنِ قَتَادَةَ، عَنْ مَحْمُودِ بْنِ لَبِيدٍ، عَنْ رَافِعِ بْنِ خَدِيجٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ‏:‏ أَصْبِحُوا بِالصُّبْحِ، فَإِنَّكُمْ كُلَّمَا أَصْبَحْتُمْ بِالصُّبْحِ كَانَ أَعْظَمَ لِأُجُورِكُمْ أَوْ لأَجْرِهَا‏.‏قَالَ أَبُو حَاتِمٍ‏:‏ أَمَرَ الْمُصْطَفَى صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالإِسْفَارِ لِصَلاَةِ الصُّبْحِ، لأَنَّ الْعِلَّةَ فِي هَذَا الأَمْرِ مُضْمَرَةٌ، وَذَلِكَ أَنَّ الْمُصْطَفَى صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَصْحَابَهُ كَانُوا يُغَلِّسُونَ بِصَلاَةِ الصُّبْحِ، وَاللَّيَالِي الْمُقْمِرَةُ إِذَا قَصَدَ الْمَرْءُ التَّغْلِيسَ بِصَلاَةِ الْفَجْرِ صَبِيحَتَهَا رُبَّمَا كَانَ أَدَاءُ صَلاَتِهِ بِاللَّيْلِ، فَأَمَرَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، بِالإِسْفَارِ بِمِقْدَارِ مَا يَتَيَقَّنُ أَنَّ الْفَجْرَ قَدْ طَلَعَ، وَقَالَ‏:‏ إِنَّكُمْ كُلَّمَا أَصْبَحْتُمْ يُرِيدُ بِهِ تَيَقَّنْتُمْ بِطُلُوعِ الْفَجْرِ، كَانَ أَعْظَمَ لِأُجُورِكُمْ مِنْ أَنْ تُؤَدُّوا الصَّلاَةَ بِالشَّكِّ‏.‏

Shahih Ibnu Hibban 1489: Ahmad bin Ali bin Al Mutsanna telah mengabarkan kepada kami, Abu Khaitsamah telah menceritakan kepada kami, Yahya bin Sa’id Al Qaththan telah menceritakan kepada kami sebuah hadis dari Ibnu Ajian dari Ashim dari Umar bin Qatadah dari Mahmud bin Al Walid dari Rafi’ bin Khadiz dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Lakukanlah shalat Shubuh pada waktu masih benar-benar Shubuh karena setiap kali kalian mengerjakan shalat subuh pada waktu masih benar-benar Shubuh, maka hal itu lebih besar pahalanya bagi kalian atau lebih besar pahalanya ”442 [45:1] Abu Hatim berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Memerintahkan untuk mengerjakan shalat Shubuh pada waktu mendekati terbitnya matahari, karena faktor penyebab (Illat) perintah ini tersembunyi, hal itu karena Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya mengerjakan shalat Shubuh pada saat masih gelap dan malam hari sedang purnama. Jika seseorang ingin mengerjakan shalat Shubuh pada saat masih gelap, niscaya pada malam itu akan terus terang benderang, maka kemungkinan ia mengerjakan shalatnya pada malam hari. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Memerintahkan shalat Shubuh pada saat terang benderang seukuran yang dapat diyakini bahwa fajar telah terbit, dan Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya jika kalian telah berada pada pagi hari, dengan hal itu kalian menginginkan secara yakin fajar telah datang dan hal itu lebih besar pahalanya bagi kalian daripada mengerjakan shalat yang diliputi keraguan.”

Shahih Ibnu Hibban 1490

صحيح ابن حبان 1490: أَخْبَرَنَا حَامِدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ شُعَيْبٍ، حَدَّثَنَا سُرَيْجُ بْنُ يُونُسَ، حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ، وَمُحَمَّدُ بْنُ يَزِيدَ، عَنِ ابْنِ إِسْحَاقَ، عَنْ عَاصِمِ بْنِ عُمَرَ بْنِ قَتَادَةَ، عَنْ مَحْمُودِ بْنِ لَبِيدٍ، عَنْ رَافِعِ بْنِ خَدِيجٍ، قَالَ‏:‏ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ‏:‏ أَسْفِرُوا بِالْفَجْرِ، فَإِنَّهُ أَعْظَمُ لِلأَجْرِ‏.‏

Shahih Ibnu Hibban 1490: Hamid bin Muhammad bin Syuaib telah mengabarkan kepada kami, Suraij bin Yunus telah menceritakan kepada kami, Yazid bin Harun dan Muhammad bin Yazid telah menceritakan kepada kami sebuah hadis dari Ibnu Ishaq bin Ashim bin Umar bin Qatadah dari Mahmud bin Labid dari Rafi bin Khadij, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Lakukanlah (shalat) Fajar pada saat mendekati terbitnya matahari, karena sesungguhnya hal tersebut sangat besar pahalanya’. ” 443 [45:1]

Shahih Ibnu Hibban 1491

صحيح ابن حبان 1491: أَخْبَرَنَا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ بْنِ إِسْمَاعِيلَ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عُمَرَ الْعَدَنِيُّ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَجْلاَنَ، عَنْ عَاصِمِ بْنِ عُمَرَ بْنِ قَتَادَةَ، عَنْ مَحْمُودِ بْنِ لَبِيدٍ، عَنْ رَافِعِ بْنِ خَدِيجٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَنَّهُ قَالَ‏:‏ أَسْفِرُوا بِصَلاَةِ الصُّبْحِ، فَإِنَّهُ أَعْظَمُ لِلأَجْرِ أَوْ قَالَ‏:‏ أَعْظَمُ لِأُجُورِكُمْ‏.‏قَالَ أَبُو حَاتِمٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ‏:‏ أَرَادَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، بِقَوْلِهِ‏:‏ أَسْفِرُوا فِي اللَّيَالِي الْمُقْمِرَةِ الَّتِي لاَ يَتَبَيَّنُ فِيهَا وُضُوحُ طُلُوعِ الْفَجْرِ، لِئَلاَّ يُؤَدِّي الْمَرْءُ صَلاَةَ الصُّبْحِ إِلاَّ بَعْدَ التَّيَقُّنِ بِالإِسْفَارِ بِطُلُوعِ الْفَجْرِ، فَإِنَّ الصَّلاَةَ إِذَا أُدِّيَتْ كَمَا وَصَفْنَا، كَانَ أَعْظَمَ لِلأَجْرِ مِنْ أَنْ تُصَلَّى عَلَى غَيْرِ يَقِينٍ مِنْ طُلُوعِ الْفَجْرِ‏.‏

Shahih Ibnu Hibban 1491: Ishaq bin Ibrahim bin Isma’il telah mengabarkan kepada kami, ia berkata, Ibnu Abu Umar Al Adani telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Sufyan telah menceritakan kepada kami sebuah hadis dari Muhammad bin Ajian dari Ashim bin Umar bin Qatadah dari Mahmud bin Labid dari Rafi’ bin Khadij dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda, “Lakukanlah (shalat) Shubuh pada saat mendekati terbitnya matahari, karena sesungguhnya hal tersebut sangat besar pahalanya bagi kalian.” Atau ia berkata, “Sangat besar pahalanya bagi kalian”444 . [7:5] Abu Hatim RA berkata, “Maksud ucapan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kalian harus berada pada terang fajar yaitu pada malam purnama yang tidak akan jelas dan kelihatan datangnya fajar agar manusia tidak mengerjakan shalat Shubuh kecuali setelah yakin datangnya fajar dengan terangnya langit, karena jika mengerjakan shalat subuh pada waktu yang telah kami sebutkan niscaya pahalanya jauh lebih besar daripada orang yang mengerjakan shalat pada saat dirinya tidak yakin tentang terbitnya fajar.” 445

Shahih Ibnu Hibban 1492

صحيح ابن حبان 1492: أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ يَحْيَى بْنِ زُهَيْرٍ، بِتُسْتَرَ، حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الدَّوْرَقِيُّ، حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ الأَزْرَقُ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ، عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ مَرْثَدٍ، عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ بُرَيْدَةَ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ‏:‏ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ، فَسَأَلَهُ عَنْ وَقْتِ الصَّلاَةِ، فَقَالَ‏:‏ صَلِّ مَعَنْا هَذَيْنِ الْوَقْتَيْنِ، فَلَمَّا زَالَتِ الشَّمْسُ، صَلَّى الظُّهْرَ، ثُمَّ صَلَّى الْعَصْرَ وَالشَّمْسُ مُرْتَفِعَةٌ بَيْضَاءُ حَيَّةٌ، وَصَلَّى الْمَغْرِبَ حِينَ غَابَتِ الشَّمْسُ، وَصَلَّى الْعِشَاءَ حِينَ غَابَ الشَّفَقُ، وَصَلَّى الْفَجْرَ بِغَلَسٍ، فَلَمَّا كَانَ مِنَ الْغَدِ أَمَرَ بِلاَلاً فَأَبْرَدَ بِالظُّهْرِ، فَأَنْعَمَ أَنْ يُبْرِدَ بِهَا، وَأَمَرَهُ فَأَقَامَ الْعَصْرَ وَالشَّمْسُ حَيَّةٌ أَخَّرَهَا فَوْقَ الَّذِي كَانَ أَوَّلَ مَرَّةٍ، وَأَمَرَهُ فَأَقَامَ الْمَغْرِبَ قَبْلَ مَغِيبِ الشَّفَقِ، وَأَمَرَهُ فَأَقَامَ الْعِشَاءَ بَعْدَمَا ذَهَبَ ثُلُثُ اللَّيْلِ، وَأَمَرَهُ فَأَقَامَ الْفَجْرَ، فَأَسْفَرَ بِهَا، ثُمَّ قَالَ‏:‏ أَيْنَ السَّائِلُ عَنْ وَقْتِ الصَّلاَةِ‏؟‏ قَالَ‏:‏ أَنَا يَا رَسُولَ اللهِ، قَالَ‏:‏ وَقْتُ صَلاَتِكُمْ بَيْنَ مَا رَأَيْتُمْ‏.‏

Shahih Ibnu Hibban 1492: Ahmad bin Yahya bin Zuhair Batustar telah mengabarkan kepada kami, Ya’qub bin Ibrahim Ad-Dauraqi telah menceritakan kepada kami, Ishaq Al Azraqi telah menceritakan kepada kami, Sufyan Ats-Tsauri telah menceritakan kepada kami sebuah hadis dari Alqamah bin Martsad dari Sulaiman bin Buraidah dari Ayahnya, ia berkata, “Seorang lelaki datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Kemudian ia bertanya tentang waktu shalat. Kemudian Nabi menjawab, ‘Kerjakan shalat bersama kami dalam dua hari ini’. Maka, ketika matahari tergelincir, ia mengerjakan shalat Zhuhur kemudian mengerjakan shalat Ashar, saat itu matahari sangat tinggi, putih dan masih terang. Tak lama kemudian, Rasulullah mengerjakan shalat Maghrib ketika terbenam matahari. Kemudian beliau mengerjakan shalat Isya ketika awan-awan merah di langit menghilang. Lalu beliau mengerjakan shalat Shubuh pada saat hari masih gelap. Ketika keesokan harinya, beliau memerintahkan Bilal mengerjakan shalat Zhuhur pada saat hari mulai dingin (saat panas sudah sedikit mendingin dan tidak terlalu menyengat, penerj). Dan memerintahkan Bilal, kemudian Bilal mengerjakan shalat Ashar saat matahari meninggi, ia mengakhirkan shalat Ashar ini dari yang kemarin. Kemudian memerintahkan kembali, maka bilal mengerjakan shalat Maghrib sebelum awan merah di langit menghilang. Lalu memerintahkannya, maka Bilal mengerjakan shalat Isya’ setelah hilang sepertiga malam, dan memerintahkannya, kemudian Bilal mengerjakan shalat Fajar pada saat mendekati terbitnya matahari. Lalu beliau bertanya, ‘Mana orang yang bertanya tentang waktu shalat?’ lelaki itu menjawab, ‘Aku wahai Rasulullah’. Kemudian beliau bersabda, ‘Waktu shalat kalian adalah di antara (dua waktu) yang telah kalian lihat’. 446 [45:1]

Shahih Ibnu Hibban 1493

صحيح ابن حبان 1493: أَخْبَرَنَا أَبُو يَعْلَى، حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ يَحْيَى الْأُمَوِيُّ، حَدَّثَنِي أَبِي، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ‏:‏ صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصُّبْحَ، فَغَلَّسَ بِهَا، ثُمَّ صَلَّى الْغَدَاةَ فَأَسْفَرَ بِهَا، ثُمَّ قَالَ‏:‏ أَيْنَ السَّائِلُ عَنْ وَقْتِ صَلاَةِ الْغَدَاةِ‏؟‏ فِيمَا بَيْنَ صَلاَتِي أَمْسِ وَالْيَوْمِ‏.‏

Shahih Ibnu Hibban 1493: Abu Ya’la telah mengabarkan kepada kami, Sa’id bin Yahya Al Umawi telah menceritakan kepada kami, Ayahku telah menceritakan kepadaku sebuah hadis dari Muhammad bin Amr dari Abu Salamah dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan shalat Shubuh bersama kami pada saat hari masih gelap. Kemudian beliau mengerjakan shalat Shubuh (dihari berikutnya) pada saat mendekati terbitnya matahari. Kemudian beliau Nabi bertanya, “Mana orang yang bertanya tentang waktu shalat Shubuh? ” yaitu waktu dua shalat (Shubuh) ku pada hari kemarin dan hari ini-. 447 [45:1]

Shahih Ibnu Hibban 1494

صحيح ابن حبان 1494: أَخْبَرَنَا ابْنُ خُزَيْمَةَ، حَدَّثَنَا الرَّبِيعُ بْنُ سُلَيْمَانَ، أَخْبَرَنَا ابْنُ وَهْبٍ، أَخْبَرَنِي أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ، أَنَّ ابْنَ شِهَابٍ أَخْبَرَهُ، أَنَّ عُمَرَ بْنَ عَبْدِ الْعَزِيزِ كَانَ قَاعِدًا عَلَى الْمِنْبَرِ فَأَخَّرَ الصَّلاَةَ شَيْئًا، فَقَالَ عُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ، أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ جِبْرِيلَ قَدْ أَخْبَرَ مُحَمَّدًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِوَقْتِ الصَّلاَةِ، فَقَالَ لَهُ عُمَرُ‏:‏ أَعْلَمُ مَا تَقُولُ يَا عُرْوَةُ، فَقَالَ عُرْوَةُ‏:‏ سَمِعْتُ بَشِيرَ بْنَ أَبِي مَسْعُودٍ، يَقُولُ‏:‏ سَمِعْتُ أَبَا مَسْعُودٍ الأَنْصَارِيَّ، يَقُولُ‏:‏ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ‏:‏ نَزَلَ جِبْرِيلُ فَأَخْبَرَنِي بِوَقْتِ الصَّلاَةِ، فَصَلَّيْتُ مَعَهُ، ثُمَّ صَلَّيْتُ مَعَهُ، ثُمَّ صَلَّيْتُ مَعَهُ، ثُمَّ صَلَّيْتُ مَعَهُ، ثُمَّ صَلَّيْتُ مَعَهُ فَحَسَبَ بِأَصَابِعِهِ خَمْسَ صَلَوَاتٍ، وَرَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي الظُّهْرَ حِينَ تَزُولُ الشَّمْسُ، وَرُبَّمَا أَخَّرَهَا حِينَ يَشْتَدُّ الْحَرُّ، وَرَأَيْتُهُ يُصَلِّي الْعَصْرَ وَالشَّمْسُ مُرْتَفِعَةٌ بَيْضَاءُ قَبْلَ أَنْ تَدْخُلَهَا الصُّفْرَةُ، فَيَنْصَرِفُ الرَّجُلُ مِنَ الصَّلاَةِ، فَيَأْتِي ذَا الْحُلَيْفَةِ قَبْلَ غُرُوبِ الشَّمْسِ، وَيُصَلِّي الْمَغْرِبَ حِينَ تَسْقُطُ الشَّمْسُ، وَيُصَلِّي الْعِشَاءَ حِينَ يَسْوَدُّ الْأُفُقُ، وَرُبَّمَا أَخَّرَهَا حَتَّى يَجْتَمِعُ النَّاسُ، وَصَلَّى الصُّبْحُ بِغَلَسٍ، ثُمَّ صَلَّى مَرَّةً أُخْرَى فَأَسْفَرَ بِهَا، ثُمَّ كَانَتْ صَلاَتُهُ بَعْدَ ذَلِكَ بِالْغَلَسِ، حَتَّى مَاتَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَعُدْ إِلَى أَنْ يُسْفِرَ‏.‏

Shahih Ibnu Hibban 1494: Ibnu Khuzaimah telah mengabarkan kepada kami, Ar- Rubai’ bin Sulaiman telah menceritakan kepada kami, Ibnu Wahab telah mengabarkan kepada kami, Usamah bin Zaid telah mengabarkan kepadaku bahwa Ibnu Syihab telah mengabarkan kepadanya bahwa Umar bin Abdul Aziz pada saat ia duduk diatas mimbar, kemudian ia mengakhirkan shalat (shalat Ashar, ), lalu Urwah bin Az-Zubair berkata, “Apakah engkau tidak mengetahui bahwa Jibril telah mengabarkan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang waktu shalat?”. Umar berkata kepadanya, “Beritahukan kepadaku apa yang akan engkau katakan wahai Urwah.” Kemudian Urwah berkata, Aku mendengar Basyir bin Abu Mas’ud berkata, Aku mendengar Abu Mas’ud Al Anshari berkata, Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Malaikat Jibril datang kemudian memberitahukan kepadaku tentang waktu shalat, lalu aku shalat bersamanya, kemudian aku shalat bersamanya, kemudian aku shalat bersamanya, kemudian aku shalat bersamanya, kemudian aku shalat bersamanya.” Abu Mas’ud menghitung dengan jarinya lima kali shalat. Dan aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan shalat Zhuhur pada saat matahari tergelincir (condong kearah barat), dan beberapa ksili ia mengakhirkan shalat Zhuhur pada saat panas sangat menyengat. Dan aku melihatnya mengerjakan shalat Ashar saat itu matahari sangat tinggi, putih dan masih terang sebelum matahari berwarna kuning (terbenam), setelah shalat, laki-laki mengerjakan perjalanan kembali dan sampai di kotab Dzul Hulaifah sebelum matahari terbenam dan ia mengerjakan shalat Maghrib pada saat matahari sudah hilang, la mengerjakan shalat Isya pada saat ufuk langit telah menghitam dan terkadang mengakhiri hingga manusia berkumpul. Ia mengerjakan shalat Shubuh pada saat hari masih gelap kemudian mengerjakan shalat sekali lagi yang lain kemudian mengerjakan shalat Shubuh pada saat mendekati terbitnya matahari, kemudian setelah itu, ia mengerjakan shalat pada saat hari masih gelap hingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal ia tidak lagi mengulangi shalat Shubuh hingga saat mendekati terbitnya matahari”. 448 [45:1]

Shahih Ibnu Hibban 1495

صحيح ابن حبان 1495: أَخْبَرَنَا أَبُو يَعْلَى، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ يَحْيَى الْأُمَوِيُّ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنِي أَبِي، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَمْرٍو، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ‏:‏ صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَغَلَّسَ بِهَا، ثُمَّ صَلَّى الْغَدَ فَأَسْفَرَ بِهَا، ثُمَّ قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ‏:‏ أَيْنَ السَّائِلُ عَنْ وَقْتِ صَلاَةِ الْغَدَاةِ‏؟‏ فِيمَا بَيْنَ صَلاَتِي أَمْسِ وَالْيَوْمِ‏.‏

Shahih Ibnu Hibban 1495: Abu Ya la telah mengabarkan kepada kami, ia berkata, Sa id bin Yahya Al Umawi telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Ayahku telah menceritakan kepadaku, ia berkata, Muhammad bin Amr telah menceritakan kepada kami sebuah hadis dari Abu Salamah dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan shalat Shubuh bersama kami pada saat hari masih gelap. Kemudian Nabi mengeijakan shalat Shubuh (dihari berikutnya) pada saat mendekati terbitnya matahari. Kemudian beliau bertanya, “Mana orang yang bertanya tentang waktu shalat Shubuh? ” yaitu waktu dua shalat (Shubuh) ku pada hari kemarin dan hari ini. ”449 [7:5]

Shahih Ibnu Hibban 1496

صحيح ابن حبان 1496: أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ سَلْمٍ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا الأَوْزَاعِيُّ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنِي نَهِيكُ بْنُ يَرِيمَ، عَنْ مُغِيثِ بْنِ سُمَيٍّ، قَالَ‏:‏ صَلَّى بِنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ الزُّبَيْرِ الْغَدَاةَ فَغَلَّسَ، فَالْتَفَتُّ إِلَى ابْنِ عُمَرَ فَقُلْتُ‏:‏ مَا هَذِهِ الصَّلاَةُ‏؟‏ قَالَ‏:‏ هَذِهِ صَلاَتُنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَأَبِي بَكْرٍ، وَعُمَرَ رِضْوَانُ اللهِ عَلَيْهِمَا، فَلَمَّا قُتِلَ عُمَرُ أَسْفَرَ بِهَا عُثْمَانُ رِضْوَانُ اللهِ عَلَيْهِ‏.‏

Shahih Ibnu Hibban 1496: Abdullah bin Muhammad bin Salm telah mengabarkan kepada kami, ia berkata, Abdurrahman bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Al Walid bin Muslim telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Al Awza’i telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Nahik bin Yarim450 telah menceritakan kepadaku sebuah hadis dari Mughits bin Suma, ia berkata, Kami melaksanakan shalat Shubuh bersama Abdullah bin Az-Zubair pada saat hari masih gelap, kemudian aku menemui Ibnu Umar dan berkata kepadanya, “Shalat apa ini.” Ia berkata, “Inilah shalat kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, dan Umar ridhwaanullahi. Pada saat Umar terbunuh, Utsman ridhwaanullahi mengerjakan shalat Shubuh pada saat mendekati terbitnya matahari.” 451 [7:5]

Shahih Ibnu Hibban 1465

صحيح ابن حبان 1465: أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ عُمَيْرِ بْنِ يُوسُفَ، بِدِمَشْقَ، حَدَّثَنَا يُونُسُ بْنُ عَبْدِ الأَعْلَى، حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ بَكْرٍ، عَنِ الأَوْزَاعِيِّ، حَدَّثَنِي إِسْمَاعِيلُ بْنُ عُبَيْدِ اللهِ، حَدَّثَتْنِي كَرِيمَةُ بِنْتُ الْحَسْحَاسِ الْمُزَنِيَّةُ، قَالَتْ‏:‏ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ، وَهُوَ فِي بَيْتِ أُمِّ الدَّرْدَاءِ يَقُولُ‏:‏ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ‏:‏ ثَلاَثٌ مِنَ الْكُفْرِ بِاللَّهِ‏:‏ شَقُّ الْجَيْبِ، وَالنِّيَاحَةُ، وَالطَّعْنُ فِي النَّسَبِ‏.‏

Shahih Ibnu Hibban 1465: Ahmad bin Umair bin Yusuf di Damaskus telah mengabarkan kepada kami, ia berkata, Yunus bin Abdul A’la telah menceritakan kepada kami, ia berkata, “Bisyr bin Bakr telah menceritakan kepada kami sebuah hadis dari Al Auza’i, ia berkata, Isma’il bin Ubaidillah telah menceritakan kepadaku, ia berkata, Karimah binti Al Hashas Al Muzaniyyah telah menceritakan kepadaku, ia berkata, “Aku mendengar Abu Hurairah yang saat itu berada di rumah Ummu Ad-Darda berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tiga perkara yang termasuk kufur kepada Allah; merobek kerah baju, meratapi kematian dan mencela nasab seseorang.”409[25:3]