Skip to main content

Shahih Ibnu Hibban 1600

صحيح ابن حبان 1600: أَخْبَرَنَا الْحَسَنُ بْنُ سُفْيَانَ، حَدَّثَنَا هَارُونُ بْنُ سَعِيدِ بْنِ الْهَيْثَمِ، حَدَّثَنَا أَنَسُ بْنُ عِيَاضٍ، حَدَّثَنَا الْحَارِثُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي ذُبَابٍ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ مِهْرَانَ، مَوْلَى أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ‏:‏ أَحَبُّ الْبِلاَدِ إِلَى اللهِ مَسَاجِدُهَا، وَأَبْغَضُ الْبِلاَدِ إِلَى اللهِ أَسْوَاقُهَا‏.‏

Shahih Ibnu Hibban 1600: Al Hasan bin Sufyan telah mengabarkan kepada kami, Harun bin Sa’id bin Al Haitsam telah menceritakan kepada kami, Anas bin Iyadh telah menceritakan kepada kami, Harits bin Abdurrahman bin Abu Dzubab telah menceritakan kepada kami sebuah hadis dari Abdurrahman bin Mihran -hamba sahaya Abu Hurairah- dari Abu Hurairah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Tempat paling dicintai oleh Allah adalah Masjid, dan tempat paling dibenci Allah SWT. adalah pasar”603 [2:1]

Shahih Ibnu Hibban 1616

صحيح ابن حبان 1616: أَخْبَرَنَا عُمَرُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْهَمْدَانِيُّ، حَدَّثَنَا عِيسَى بْنُ حَمَّادٍ، أَخْبَرَنَا اللَّيْثُ بْنُ سَعْدٍ، حَدَّثَنِي أَبُو الزُّبَيْرِ، عَنْ جَابِرٍ، عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ‏:‏ إِنَّ خَيْرَ مَا رُكِبَتْ إِلَيْهِ الرَّوَاحِلُ مَسْجِدِي هَذَا، وَالْبَيْتُ الْعَتِيقُ‏.‏

Shahih Ibnu Hibban 1616: Umar626 bin Muhammad Al Hamdani telah mengabarkan kepada kami, Isa bin Hammad telah menceritakan kepada kami, Al Laits bin Sa’ad telah mengabarkan kepada kami, Abu Az-Zubair telah menceritakan kepadaku dari Jabir bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya tempat yang paling baik dikunjungi oleh orang yang sedang bepergian adalah Masjidku ini, dan Baitul Atieq.”,627 [32:3]

Shahih Ibnu Hibban 1585

صحيح ابن حبان 1585: أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ مُحَمَّدٍ الأَزْدِيُّ، حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، أَخْبَرَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ، أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ، عَنِ ابْنِ طَاوُسٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ‏:‏ مَنْ أَدْرَكَ مِنَ الْعَصْرِ رَكْعَةً قَبْلَ أَنْ تَغْرُبَ الشَّمْسُ فَقَدْ أَدْرَكَهَا، وَمَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الْفَجْرِ قَبْلَ أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ وَرَكْعَةً بَعْدَمَا تَطْلُعُ الشَّمْسُ فَقَدْ أَدْرَكَهَا‏.‏

Shahih Ibnu Hibban 1585: Abdullah bin Muhammad Al Azdi telah mengabarkan kepada kami, Ishaq bin Ibrahim telah mengabarkan kepada kami, Abdurrazzaq telah mengabarkan kepada kami, Ma’mar telah mengabarkan kepada kami sebuah hadis dari Ibnu577 Thawus dari Ayahnya dari Ibnu Abbas dari Abu Hurirah RA. dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Barangsiapa yang telah mendapatkan satu raka’at dari shalat Ashar sebelum matahari terbenam, maka ia telah mendapatkan shalat Ashar dan barangsiapa yang telah mendapatkan satu raka’at dari shalat Fajar sebelum matahari terbit dan satu raka’at setelah matahari terbit, maka ia telah mendapatkan shalat Fajar”.578 [43:3]

Shahih Ibnu Hibban 1601

صحيح ابن حبان 1601: أَخْبَرَنَا عُمَرُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْهَمْدَانِيُّ، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ سَعْدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ، حَدَّثَنِي عَمِّي، حَدَّثَنَا أَبِي، عَنْ صَالِحِ بْنِ كَيْسَانَ، عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ‏:‏ أَخْبَرَ أَنَّ الْمَسْجِدَ كَانَ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَبْنِيًّا مِنْ لَبِنٍ، وَسَقْفُهُ الْجَرِيدُ، وَعُمُدُهُ خَشَبُ النَّخْلِ، فَلَمْ يَزِدْ فِيهِ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، وَزَادَ فِيهِ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، وَبَنَاهُ عَلَى بُنْيَانِهِ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، بِاللَّبِنِ، وَالْجَرِيدِ، وَأَعَادَ عُمُدَهُ خَشَبًا، ثُمَّ غَيَّرَهُ عُثْمَانُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَزَادَ فِيهِ زِيَادَةً كَبِيرَةً، وَبَنَى جِدَارَهُ بِالْحِجَارَةِ الْمَنْقُوشَةِ، وَجَعَلَ عُمُدَهُ مِنْ حِجَارَةٍ مَنْقُوشَةٍ، وَسَقَّفَهُ بِالسَّاجِ‏.‏

Shahih Ibnu Hibban 1601: Umar bin Muhammad Al Hamdani telah mengabarkan kepada kami, Abdullah bin Sa’ad bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami, Pamanku telah menceritakan kepada kami, Ayahku telah menceritakan kepadaku sebuah hadis dari Shalih604 bin Kaisan bin Nafi’ dari Ibnu Umar bahwa ia telah diberitahu bahwa, Masjid pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dibangun dengan batu bata, atapnya dengan pelepah kurma, dan tiangnya dengan batang pohon kurma. Abu Bakar RA tidak menambahnya sedikit pun. Umar RA menambahnya dan membangun masjid seperti bangunan di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan batu bata dan pelepah kurma, dan mengganti tiangnya dengan kayu. Selanjutnya, Utsman RA mengubahnya dan melakukan penambahan yang banyak. Ia membangun dindingnya dengan batu yang diukir dan dibuat pola tertentu. Ia menjadikan tiangnya dari batu yang diukir dan atapnya dari kayu jati”. 605 [46:5]

Shahih Ibnu Hibban 1617

صحيح ابن حبان 1617: أَخْبَرَنَا الْفَضْلُ بْنُ الْحُبَابِ الْجُمَحِيُّ، حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ بَشَّارٍ الرَّمَادِيُّ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ عُمَيْرٍ، قَالَ‏:‏ سَمِعْتُ قَزَعَةَ، يَقُولُ‏:‏ سَمِعْتُ أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ، يَقُولُ‏:‏ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ‏:‏ لاَ تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلاَّ إِلَى ثَلاَثَةِ مَسَاجِدَ‏:‏ الْمَسْجِدُ الْحَرَامُ، وَالْمَسْجِدُ الأَقْصَى، وَمَسْجِدِي هَذَا‏.‏

Shahih Ibnu Hibban 1617: Al Fadhal bin Al Hubbab Al Jumahi telah mengabarkan kepada kami, Ibrahim bin Bayar Ar-Ramadi telah menceritakan kepada kami, Sufyan telah menceritakan kepada kami, Abdul Malik bin Umair telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Aku mendengar Qaza’ah berkata, Aku mendengar Abu Sa’id Al Khudri berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah bersusah payah dalam bepergian kecuali ke tiga masjid, yaitu Masjidil Haram, Masjidil Aqsha, dan masjidku ini (Masjid Nabawi).”628 [32:3]

Shahih Ibnu Hibban 1586

صحيح ابن حبان 1586: أَخْبَرَنَا أَبُو يَعْلَى، حَدَّثَنَا أَبُو خَيْثَمَةَ، حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ مُحَمَّدٍ، حَدَّثَنَا شَيْبَانُ، عَنْ يَحْيَى، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ، أَخْبَرَهُ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ‏:‏ إِذَا أَدْرَكَ أَحَدُكُمْ أَوَّلَ سَجْدَةٍ مِنَ الصُّبْحِ قَبْلَ أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ فَلْيُتِمَّ صَلاَتَهُ، وَإِذَا أَدْرَكَ أَوَّلَ سَجْدَةٍ مِنْ صَلاَةِ الْعَصْرِ قَبْلَ أَنْ تَغْرُبَ الشَّمْسُ فَلْيُتِمَّ صَلاَتَهُ‏.‏

Shahih Ibnu Hibban 1586: Abu Ya’la telah mengabarkan579 kepada kami, Abu580 Khaitsamah telah menceritakan kepada kami, Husain bin Muhammad telah menceritakan kepada kami, Syaiban telah menceritakan581 kepada kami sebuah hadis dari Yahya dari Abu Salamah, bahwa Abu Hurairah telah menceritakan kepadanya, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Apabila salah seorang di antara kalian telah mendapatkan satu sujud (satu raka ’at) dari shalat Ashar sebelum matahari terbenam, maka hendaklah ia menyempurnakan shalatnya. Dan apabila ia mendapatkan satu sujud (satu raka’at) dari shalat shalat Shubuh sebelum matahari terbit, maka hendaklah ia menyempurnakan shalatnya'”582 [43:3]

Shahih Ibnu Hibban 1602

صحيح ابن حبان 1602: أَخْبَرَنَا أَبُو خَلِيفَةَ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا مُسَدَّدُ بْنُ مُسَرْهَدٍ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا مُلاَزِمُ بْنُ عَمْرٍو، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنِي عَبْدُ اللهِ بْنُ بَدْرٍ، عَنْ قَيْسِ بْنِ طَلْقٍ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ‏:‏ خَرَجْنَا سِتَّةُ وَفْدٍ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَمْسَةٌ مِنْ بَنِي حَنِيفَةَ، وَالسَّادِسُ رَجُلٌ مِنْ ضُبَيْعَةَ بْنِ رَبِيعَةَ، حَتَّى قَدِمْنَا عَلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَبَايَعْنَاهُ، وَصَلَّيْنَا مَعَهُ، وَأَخْبَرْنَاهُ أَنَّ بِأَرْضِنَا بِيعَةً لَنَا، وَاسْتَوْهَبْنَاهُ مِنْ فَضْلِ طَهُورِهِ، فَدَعَا بِمَاءٍ فَتَوَضَّأَ مِنْهُ، وَتَمَضْمَضَ ثُمَّ صَبَّهُ لَنَا فِي إِدَاوَةٍ، ثُمَّ قَالَ‏:‏ اذْهَبُوا بِهَذَا الْمَاءِ، فَإِذَا قَدِمْتُمْ بَلَدَكُمْ فَاكْسِرُوا بِيعَتَكُمْ، ثُمَّ انْضَحُوا مَكَانَهَا مِنْ هَذَا الْمَاءِ، وَاتَّخِذُوا مَكَانَهَا مَسْجِدًا، فَقُلْنَا‏:‏ يَا رَسُولَ اللهِ، الْبَلَدُ بَعِيدٌ، وَالْمَاءُ يَنْشَفُ، قَالَ‏:‏ فَأَمِدُّوهُ مِنَ الْمَاءِ، فَإِنَّهُ لاَ يَزِيدُهُ إِلاَّ طِيبًا، فَخَرَجْنَا فَتَشَاحَحْنَا عَلَى حَمْلِ الإِدَاوَةِ، أَيُّنَا يَحْمِلُهَا، فَجَعَلَهَا رَسُولُ اللهِ، لِكُلِّ رَجُلٍ مِنَّا يَوْمًا وَلَيْلَةً، فَخَرَجْنَا بِهَا حَتَّى قَدِمْنَا بَلَدَنَا، فَعَمِلْنَا الَّذِي أَمَرَنَا، وَرَاهِبُ ذَلِكَ الْقَوْمِ رَجُلٌ مِنْ طَيِّئٍ فَنَادَيْنَاهُ بِالصَّلاَةِ فَقَالَ الرَّاهِبُ‏:‏ دَعْوَةُ حَقٍّ ثُمَّ هَرَبَ فَلَمْ يُرَ بَعْدُ‏.‏

Shahih Ibnu Hibban 1602: Abu Khalifah telah mengabarkan kepada kami, ia berkata, Musadad bin Musarhad telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Mulazim bin Amr telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Abdullah bin Badar telah menceritakan kepadaku dari Qais bin Thalq dari Ayahnya, ia berkata, Kami berenam sebagai utusan pergi menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lima orang dari kami berasal dari Bani Hanifah dan yang satu lagi adalah seorang lelaki yang berasal dari keluarga Dhab’ah bin Rabi’ah. Ketika bertemu dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kami langsung melakukan bai’at dan shalat bersama beliau. Kami pun telah mengabarkan kepada beliau bahwa di daerah kami terdapat sebuah bangunan gereja dan gereja tersebut telah kami beli dengan uang dari hasil bumi. Kemudian beliau mengambil air, berwudhu dan berkumur, lalu memuntahkannya dalam sebuah wadah untuk kami, kemudian beliau berkata, “Pulanglah dengan membawa air ini, dan jika kalian telah sampai ke tempat kalian, maka robohkan gereja kalian kemudian siramkan air ini ke tanah bekas gereja lalu bangunlah diatasnya sebuah masjid” Lalu kami bertanya, “Wahai Rasulullah, tempat kami sangatlah jauh, dan air ini akan habis karena kering” kemudian beliau berkata, “Kalau begitu tambahkan air lagi, karena air tersebut tidak bertambah kecuali dengan bertambahnya keberkahan.'” Kami berselisih siapa di antara kami yang pantas membawa air tersebut pulang, akhirnya Rasul turun tangan dan memberi tugas kepada setiap orang untuk membawanya sehari semalam secara bergantian. Akhirnya kami pergi dengan membawa air tersebut Sesampainya di tempat kami, kami langsung melakukan apa yang diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kebetulan pendeta yang ada berasal dari Thayyi’. Ketika kami mengajaknya shalat, pendeta itu menjawab, “Sebuah ajakan kebenaran.”, kemudian ia pergi dan tidak kembali lagi. 606 [3:65]

Shahih Ibnu Hibban 1618

صحيح ابن حبان 1618: أَخْبَرَنَا عُمَرُ بْنُ سَعِيدِ بْنِ سِنَانٍ، أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ أَبِي بَكْرٍ، عَنْ مَالِكٍ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ دِينَارٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ‏:‏ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَأْتِي قُبَاءَ رَاكِبًا، وَمَاشِيًا‏.‏

Shahih Ibnu Hibban 1618: Umar bin Sa id bin Sinan telah mengabarkan kepada kami, Ahmad bin Abu Bakar meceritakan kepada kami sebuah hadis dan Malik dan Abdullah bin Dinar dari Umar, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi masjid Quba dengan berkendaraan dan berjalan kaki” 629 [323]

Shahih Ibnu Hibban 1587

صحيح ابن حبان 1587: أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ الْحَسَنِ بْنِ عَبْدِ الْجَبَّارِ الصُّوفِيُّ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ مَعِينٍ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا غُنْدَرٌ، عَنْ شُعْبَةَ، عَنْ زَيْدِ بْنِ مُحَمَّدٍ، قَالَ‏:‏ سَمِعْتُ نَافِعًا يُحَدِّثُ عَنِ ابْنِ عُمَرَ، عَنْ حَفْصَةَ، قَالَتْ‏:‏ كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا طَلَعَ الْفَجْرُ لاَ يُصَلِّي إِلاَّ رَكْعَتَيِ الْفَجْرِ‏.‏

Shahih Ibnu Hibban 1587: Ahmad bin Al Hasan bin Abdul Jabbar As-Sufi telah mengabarkan kepada kami, ia berkata, Yahya bin Ma’in telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Gundar telah menceritakan kepada kami sebuah hadis dari Syu’bah dari Zaid bin Muhammad, ia berkata, Aku telah mendengar Nafi’ menceritakan sebuah hadis dari Ibnu Umar dari Hafsah, ia berkata, “Jika fajar telah terbit, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak shalat kecuali dua raka’at fajar.” 583 [8:5]

Shahih Ibnu Hibban 1603

صحيح ابن حبان 1603: أَخْبَرَنَا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ بْنِ إِسْمَاعِيلَ، بِبُسْتَ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ مَهْدِيٍّ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ، قَالَ‏:‏ أَخْبَرَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ، قَالَ‏:‏ أَخْبَرَنِي عَمْرُو بْنُ دِينَارٍ، أَنَّهُ سَمِعَ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللهِ، يَقُولُ‏:‏ لَمَّا بُنِيَتِ الْكَعْبَةُ، ذَهَبَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْعَبَّاسُ يَنْقُلاَنِ الْحِجَارَةَ، فَقَالَ الْعَبَّاسُ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ‏:‏ ضَعْ إِزَارَكَ عَلَى عَاتِقِكَ مِنَ الْحِجَارَةِ، قَالَ‏:‏ فَفَعَلَ، فَخَرَّ إِلَى الأَرْضِ، وَطَمَحَتْ عَيْنَاهُ إِلَى السَّمَاءِ، ثُمَّ قَامَ، فَقَالَ‏:‏ إِزَارِي إِزَارِي، فَشَدَّ عَلَيْهِ إِزَارَهُ‏.‏

Shahih Ibnu Hibban 1603: Ishaq bin Ibrahim bin Isma’il di Busta telah mengabarkan kepada kami, ia berkata, Husain bin Mahdi telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Abdurrazzaq telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Ibnu Juraij telah mengabarkan kepada kami, ia berkata, Amr bin Dinar telah mengabarkan kepadaku, bahwa ia telah mendengar Jabir bin Abdullah berkata, Ketika Ka’bah sedang dibangun, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta Abbas pergi memindahkan bebatuan. Abbas memberi saran kepada Nabi, “Baginda, bawalah batu itu dengan menggunakan kain diatas pundak Baginda”, beliaupun melakukannya, namun beliau malah tersungkur ke tanah, lalu menengadahkan pandangannya ke langit, lalu beliau bangun dan berkata, “Sarungku, sarungku.” 607. Lalu ia menguatkan ikatan sarungnya. 608 [1:4]