Skip to main content

Mustadrak Hakim 258

المستدرك 258: أَخْبَرَنَا أَبُو الْفَضْلِ الْحَسَنُ بْنُ يَعْقُوبَ الْعَدْلُ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الْوَهَّابِ، ثنا جَعْفَرُ بْنُ عَوْنٍ، أَنْبَأَ أَبُو حَيَّانَ يَحْيَى بْنُ سَعِيدِ بْنِ حَيَّانَ التَّيْمِيُّ تَيْمُ الرَّبَابِ، عَنْ يَزِيدَ بْنِ حَيَّانَ، قَالَ: شَهِدْتُ زَيْدَ بْنَ أَرْقَمَ وَبَعَثَ إِلَيْهِ عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ زِيَادٍ، فَقَالَ: مَا أَحَادِيثُ بَلَغَنِي عَنْكَ تُحَدِّثُ بِهَا عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَزْعُمُ أَنَّ لَهُ حَوْضًا فِي الْجَنَّةِ، فَقَالَ: حَدَّثَنَا ذَاكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَوَعَدْنَاهُ، فَقَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ شَيْخٌ قَدْ خَرِفْتَ، قَالَ: أَمَا إِنَّهُ سَمِعَتْهُ أُذُنَايَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْنِي وَسَمِعْتُهُ، يَقُولُ: «مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ» . وَمَا كَذَبْتُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Al Mustadrak 258: Abu Al Fadhl Hssan bin Ya’qub Al Adi mengabarkan kepada kami, Muhammad bin Abdul Wahhab menceritakan kepada kami, Jaf’ar bin Aun menceritakan kepada kami, Abu Hayyan Yahya bin Sa’id bin Hayyan At-Taimi Taim Ar-Rabab memberitakan (kepada kami) dari Yazid bin Hayyan, dia berkata: Aku pernah menyaksikan Zaid bin Arqam, dan ketika itu Ubaidillah bin Ziyad diutus kepadanya, dia berkata, ”Bagaimana dengan hadis- hadis yang telah sampai kepadaku dari engkau, yang berasal dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, engkau mendakwa bahwa Nabi memiliki telaga di surga?” Zaid berkata, ”Rasulullah memang menceritakannya kepada kami, dan kami telah meminta janji kepada beliau (agar dijadikan termasuk orang yang mendatanginya).” Ubadillah lalu berkata, ”Engkau bohong, karena engkau orang tua yang sudah pikun.” Zaid berkata, ”Aku benar telah mendengarnya sendiri dari Rasulullah dengan kedua telingaku. Aku juga pernah mendengar beliau bersabda, ‘Barangsiapa berdusta atas (nama)ku, maka silakan menempati tempat duduknya di neraka’. Oleh karena itu, aku tidak akan berdusta atas nama Rasulullah SAW.

Mustadrak Hakim 243

المستدرك 243: حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ أَحْمَدُ بْنُ سُلَيْمَانَ الْفَقِيهُ، بِبَغْدَادَ، ثنا الْحَسَنُ بْنُ مُكْرَمٍ، ثنا عُثْمَانُ بْنُ عُمَرَ، وَرَوْحُ بْنُ عُبَادَةَ، قَالَا: ثنا عِمْرَانُ بْنُ حُدَيْرٍ، عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ عُبَيْدٍ، قَالَ: سَمِعْتُ حُمْرَانَ بْنَ أَبَانَ، قَالَ: سَمِعْتُ عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ، وَكَانَ قَلِيلَ الْحَدِيثِ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «مَنْ عَلِمَ أَنَّ الصَّلَاةَ عَلَيْهِ حَقٌّ وَاجِبٌ دَخَلَ الْجَنَّةَ»

Al Mustadrak 243: Abu Bakar Ahmad bin Sulaiman Al Faqih menceritakan kepada kami di Baghdad, Hasan bin Mukram menceritakan kepada kami, Utsman bin Umar dan Rauh bin Ubadah menceritakan kepada kami, keduanya berkata: Imran bin Hudair menceritakan kepada kami dari Abdul Malik bin Ubaid, dia berkata: Aku pernah mendengar Humran bin Aban berkata: Aku pernah mendengar Utsman bin Affan yang hadisnya sedikit (meriwayatkan) dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, ”Barangsiapa mengetahui (menyatakan atau mengakui) bahwa shalat merupakan suatu kewajiban, maka dia akan masuk surga”

Mustadrak Hakim 259

المستدرك 259: حَدَّثَنِي أَبُو مَنْصُورٍ مُحَمَّدُ بْنُ الْقَاسِمِ الْعَتَكِيُّ، ثنا أَبُو سَهْلٍ حَسَنُ بْنُ سَهْلٍ اللَّبَّادُ، ثنا أَبُو صَالِحٍ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ صَالِحٍ، ثنا اللَّيْثُ، عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ، عَنْ خَالِدِ بْنِ أَبِي عِمْرَانَ، عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «مَنْ خَرَجَ مِنَ الْجَمَاعَةِ قِيدَ شِبْرٍ فَقَدْ خَلَعَ رِبْقَةَ الْإِسْلَامِ مِنْ عُنُقِهِ حَتَّى يُرَاجِعَهُ» قَالَ: «وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ عَلَيْهِ إِمَامُ جَمَاعَةٍ فَإِنَّ مَوْتَتَهُ مَوْتَةٌ جَاهِلِيَّةٌ» وَخَطَبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: ” يَا أَيُّهَا النَّاسُ، إِنِّي فَرَطٌ لَكُمْ عَلَى الْحَوْضِ، وَإِنَّ سَعَتَهُ مَا بَيْنَ الْكُوفَةِ إِلَى الْحَجَرِ الْأَسْوَدِ، وَآنِيَتُهُ كَعَدَدِ النُّجُومِ، وَإِنِّي رَأَيْتُ أُنَاسًا مِنْ أُمَّتِي لَمَّا دَنَوْا مِنِّي خَرَجَ عَلَيْهِمْ رَجُلٌ قَالَ: بِهِمْ عَنِّي، ثُمَّ أَقْبَلَتْ زُمْرَةٌ أُخْرَى فَفَعَلَ بِهِمْ كَذَلِكَ، فَلَمْ يَفْلِتْ مِنْهُمْ إِلَّا كَمَثَلِ النَّعَمِ ” فَقَالَ: أَبُو بَكْرٍ لِعَلِّي مِنْهُمْ يَا نَبِيَّ اللَّهِ، قَالَ: «لَا وَلَكِنَّهُمْ قَوْمٌ يَخْرُجُونَ بَعْدَكُمْ وَيَمْشُونَ الْقَهْقَرَى» . «هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِ الشَّيْخَيْنِ وَقَدْ حَدَّثَ بِهِ الْحَجَّاجُ بْنُ مُحَمَّدٍ أَيْضًا، عَنِ اللَّيْثِ وَلَمْ يُخَرِّجَاهُ»

Al Mustadrak 259: Abu Manshur Muhammad bin Al Qasim Al Ataki menceritakan kepadaku, Abu Sahi Hasan bin Sahi Al-Labbad menceritakan kepada kami, Abu Shalih Abdullah bin Shalih menceritakan kepada kami, Al-Laits menceritakan kepada kami dari Yahya bin Sa’id, dari Khalid bin Abu Imran, dari Nafi, dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Barangsiapa keluar dari jamaah meski sejarak satu jengkal, maka dia melepaskan ikatan Islam dari lehernya, sampai dia menariknya kembali” Nabi juga bersabda, ”Barangsiapa meninggal dalam keadaan tidak memiliki imam jamaah, berarti dia mati dalam keadaan Jahiliyah” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai manusia, sesungguhnya aku telah mendahului kalian di telaga yang luasnya (seperti jarak) antara Kufah dengan Hajar Aswad, bejana-bejananya seperti jumlah bintang-bintang, dan sesungguhnya aku melihat orang-orang dari umatku ketika mereka telah dekat denganku tiba-tiba ada seorang laki-laki yang keluar menemui mereka dengan berkata, ‘Ikutlah denganku.’ Kemudian datang lagi rombongan lain, dan dia juga melakukan hal seperti itu. Tidak satu pun dari mereka yang lepas kecuali seperti (lepasnya) unta-unta.” Abu Bakar lalu bertanya, ”Wahai Nabi Allah, mungkin aku termasuk dari mereka?” Beliau menjawab, ”Tidak, akan tetapi mereka adalah kaum yang keluar sesudah kalian dan berjalan dengan membelakangi dirinya (berjalan ke belakang).” Hadis ini shahih sesuai syarat Al Bukhari dan Muslim. Hajjaj bin Muhammad juga meriwayatkan hadis ini dari Al- Laits, tapi Al Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkannya.

Mustadrak Hakim 244

المستدرك 244: حَدَّثَنَا مُكْرَمُ بْنُ أَحْمَدَ الْقَاضِي، بِبَغْدَادَ، ثنا أَبُو إِسْمَاعِيلَ مُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ السُّلَمِيُّ، ثنا أَيُّوبُ بْنُ سُلَيْمَانَ بْنِ بِلَالٍ، حَدَّثَنِي أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي أُوَيْسٍ، عَنْ سَلْمَانَ بْنِ بِلَالٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ يَسَارٍ الْأَعْرَجِ، أَنَّهُ سَمِعَ سَالِمَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ، يُحَدِّثُ، عَنْ أَبِيهِ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: ” ثَلَاثَةٌ لَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ: الْعَاقُّ بوَالِدَيْهِ، وَالدَّيُّوثُ، وَرَجِلَةُ النِّسَاءِ «.» هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحُ الْإِسْنَادِ وَلَمْ يُخَرِّجَاهُ، وَالْقَلْبُ إِلَى رِوَايَةِ أَيُّوبَ بْنِ سُلَيْمَانَ أَمْيَلُ حَيْثُ لَمْ يَذْكُرْ فِي إِسْنَادِهِ عُمَرَ “

Al Mustadrak 244: Mukram bin Ahmad Al Qadhi menceritakan kepada kami di Baghdad, Abu Ismail Muhammad bin Ismail As-Sulami menceritakan kepada kami, Ayyub bin Sulaiman bin Bilal menceritakan kepada kami, Abu Bakar bin Abu Uwais menceritakan Kepadaku dari Sulaiman bin Bilal, dari Ubaidillah bin Yasar Al A’raj, bahwa dia pernah mendengar Salim bin Abdullah bin Umar menceritakan dari ayahnya, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, ”Ada tiga orang yang tidak akan masuk surga, yaitu orang yang durhaka terhadap kedua orang tuanya, dayyuts (orang yang tidak mempunyai rasa cemburu), dan perempuan yang menyerupai laki-laki” Sanad hadis ini shahih, tapi Al Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkannya. Pembalikan kepada riwayat Ayyub bin Sulaiman adalah lebih tepat karena dalam sanadnya tidak disebutkan nama Umar.

Mustadrak Hakim 260

المستدرك 260: حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ إِسْحَاقَ، ثنا أَبُو الْمُثَنَّى، وَمُحَمَّدُ بْنُ أَيُّوبَ، قَالَا: ثنا مُسَدَّدٌ، ثنا خَالِدُ بْنُ الْحَارِثِ، ثنا حُمَيْدٌ، عَنْ أَنَسٍ، قَالَ: دَخَلْتُ عَلَى عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ زِيَادٍ وَهُمْ يَتَرَاجَعُونَ فِي ذِكْرِ الْحَوْضِ، قَالَ: فَقَالَ: جَاءَكُمْ أَنَسٌ، قَالَ: يَا أَنَسُ مَا تَقُولُ فِي الْحَوْضِ؟ قَالَ: قُلْتُ: «مَا حَسِبْتُ أَنِّي أَعِيشُ حَتَّى أَرَى مِثْلَكُمْ يَمْتَرُونَ فِي الْحَوْضِ، لَقَدْ تَرَكْتُ بَعْدِي عَجَائِزَ مَا تُصَلِّي وَاحِدَةٌ مِنْهُنَّ صَلَاةً إِلَّا سَأَلْتَ رَبَّهَا أَنْ يُورِدَهَا حَوْضَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ» . «هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِ الشَّيْخَيْنِ وَلَمْ يُخَرِّجَاهُ وَلَهُ عَنْ حُمَيْدٍ شَاهِدٌ صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِهِمَا»

Al Mustadrak 260: Abu Bakar bin Ishaq menceritakan kepada kami, Abu Al Mutsanna dan Muhammad bin Ayyub menceritakan kepada kami, keduanya berkata: Musaddad menceritakan kepada kami, Khalid bin Al Harits menceritakan kepada kami, Humaid menceritakan kepada kami dari Anas, dia berkata: Aku masuk menemui Ubaidillah bin Ziyad ketika mereka sedang membahas tentang telaga. Ubaidillah lalu berkata: Anas telah datang menemui kalian. Ubaidillah bertanya, ”Wahai Anas, apa pendapatmu tentang telaga (Al Kautsar)?” Anas lalu berkata: Aku pun menjawab, ”Aku tidak menduga masih bisa hidup hingga aku bisa melihat kalian yang ragu-ragu tentang telaga. Aku telah meninggalkan setelahku wanita-wanita tua renta yang tidak seorang dari mereka shalat kecuali dia meminta kepada Tuhannya agar bisa sampai ke telaga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Hadis ini shahih sesuai syarat Al Bukhari dan Muslim, tetapi keduanya tidak meriwayatkannya.

Mustadrak Hakim 245

المستدرك 245: أَخْبَرَنَا أَبُو الْحَسَنِ عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ أَحْمَدَ التَّاجِرُ، بِبَغْدَادَ، ثنا أَبُو إِسْمَاعِيلَ مُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ السُّلَمِيُّ، ثنا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ صَالِحٍ، حَدَّثَنِي مُعَاوِيَةُ بْنُ صَالِحٍ، وَأَخْبَرَنِي إِبْرَاهِيمُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ الْقَارِئُ، ثنا الْحَسَنُ بْنُ سُفْيَانَ، ثنا حَرْمَلَةُ بْنُ يَحْيَى، أَنْبَأَ ابْنُ وَهْبٍ، أَخْبَرَنِي مُعَاوِيَةُ بْنُ صَالِحٍ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنِ النَّوَّاسِ بْنِ سَمْعَانَ، صَاحِبِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: ” ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا عَلَى كَتِفَيَّ الصِّرَاطِ سُورَانِ فِيهِمَا أَبْوَابٌ مُفَتَّحَةٌ، وَعَلَى الْأَبْوَابِ سُتُورٌ مُرْخَاةٌ، وَعَلَى الصِّرَاطِ دَاعٍ يَدْعُو يَقُولُ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اسْلُكُوا الصِّرَاطَ جَمِيعًا وَلَا تَعْوَجُّوا، وَدَاعٍ يَدْعُو عَلَى الصِّرَاطِ، فَإِذَا أَرَادَ أَحَدُكُمْ فَتْحَ شَيْءٍ مِنْ تِلْكَ الْأَبْوَابِ، قَالَ: وَيْلَكَ لَا تَفْتَحْهُ فَإِنَّكَ إِنْ تَفْتَحْهُ تَلِجْهُ، فَالصِّرَاطُ: الْإِسْلَامُ، وَالسُّتُورُ: حُدُودُ اللَّهِ، وَالْأَبْوَابُ الْمُفَتَّحَةُ مَحَارِمُ اللَّهِ، وَالدَّاعِي الَّذِي عَلَى رَأْسِ الصِّرَاطِ كِتَابُ اللَّهِ، وَالدَّاعِي مِنْ فَوْقُ وَاعِظُ اللَّهِ يَذْكُرِ فِي قَلْبِ كُلِّ مُسْلِمٍ «.» هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِ مُسْلِمٍ وَلَا أَعْرِفُ لَهُ عِلَّةً وَلَمْ يُخَرِّجَاهُ “

Al Mustadrak 245: Abu Hasan Ubaidillah bin Ahmad At-Tajir mengabarkan kepada kami di Baghdad, Abu Ismail Muhammad bin Ismail As-Sulami menceritakan kepada kami, Abdullah bin Shalih menceritakan kepada kami, Muawiyah bin Shalih menceritakan kepadaku. Ibrahim bin Ismail Al Qari’ menceritakan kepada kami, Hasan bin Sufyan menceritakan kepada kami, Harmalah bin Yahya menceritakan kepada kami, Ibnu Wahab memberitakan (kepada kami), Muawiyah bin Shalih mengabarkan kepadaku dari Abdurrahman bin Jubair bin Nufair, dari ayahnya, dari An-Nawwas bin Sam’an, seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, ”Allah membuat perumpamaan jalan yang lurus, di atas dua bahu jalan ada dua tembok yang padanya terdapat pintu-pintu yang terbuka, di atas pintu-pintu terdapat tirai-tirai yang kendor, dan di atas jalan ada orang yang menyeru, ‘Wahai manusia, laluilah jalan ini semuanya dan jangan membelot’. Di atas jalan ada orang yang menyeru. Apabila salah seorang dari kalian ada yang hendak membuka salah satu dari pintu-pintu tersebut maka si penyeru tersebut akan berkata, ‘Celaka kamu, jangan kamu buka, karena jika kamu buka maka kamu akan terperosok ke dalamnya’. Jalannya adalah Islam, tirai-tirainya adalah hukum-hukum Allah, dan pintu- pintu yang terbuka adalah hal hal yang diharamkan Allah’ Orang yang menyeru di atas jalan adalah kitab Allah, dan yang menyeru dari atas adalah Allah, yang memberi nasihat untuk mengingatkan hati setiap muslim’.” Hadis ini shahih atas syarat Muslim. Sepengetahuanku, hadis ini tidak ber -Ulat. Tapi Al Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkannya.

Mustadrak Hakim 246

المستدرك 246: أَخْبَرَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ إِسْحَاقَ الْفَقِيهُ، وَعَلِيُّ بْنُ حَمْشَاذَ الْعَدْلُ، قَالَا: أَنْبَأَ عُبَيْدُ بْنُ شَرِيكٍ الْبَزَّارُ، ثنا ابْنُ أَبِي مَرْيَمَ، أَخْبَرَنِي نَافِعُ بْنُ يَزِيدَ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ السَّائِبِ، أَنَّ عَبْدَ الْحَمِيدِ بْنَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَزْهَرَ، حَدَّثَهُ، عَنْ أَبِيهِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَزْهَرَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «إِنَّمَا مَثَلُ الْعَبْدِ الْمُؤْمِنِ حِينَ يُصِيبُهُ الرَّعْدُ وَالْحُمَّى، كَمَثَلِ حَدِيدَةٍ تَدْخُلُ النَّارَ فَيَذْهَبُ خَبَثُهَا وَيَبْقَى طِيبُهَا» . «هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحُ الْإِسْنَادِ، وَلَمْ يُخَرِّجَاهُ وَالَّذِي عِنْدِي أَنَّهُمَا تَرَكَاهُ لِتَفَرُّدِ عَبْدِ الْحَمِيدِ، عَنْ أَبِيهِ بِالرِّوَايَةِ»

Al Mustadrak 246: Abu Bakar bin Ishaq Al Faqih dan Ali bin Hamsyad Al Adi mengabarkan kepada kami, keduanya berkata: Ubaid bin Syarik Al Bazzar memberitakan (kepada kami), Ibnu Abi Maryam menceritakan kepada kami, Nafi bin Yazid mengabarkan kepadaku dari Abdullah bin Abdurrahman As-Sa’ib, bahwa Abdul Hamid bin Abdurrahman bin Azhar menceritakan kepadanya dari ayahnya Abdurrahman bin Azhar, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Sesungguhnya perumpamaan seorang mukmin ketika dia terkena petir dan terserang demam adalah seperti sebiji besi yang masuk ke dalam api, lalu bagian-bagian yang kotor hilang dan tinggallah yang bersihnya” Sanad hadis ini shahih, tapi Al Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkannya Menurutku, keduanya tidak meriwayatkan hadisnya karena hanya Abdul Hamid yang meriwayatkannya dari ayahnya.

Mustadrak Hakim 247

المستدرك 247: أَخْبَرَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ إِسْحَاقَ، وَعَلِيُّ بْنُ حَمْشَاذَ، قَالَا: ثنا عُبَيْدُ بْنُ شَرِيكٍ، ثنا ابْنُ أَبِي مَرْيَمَ، أَخْبَرَنِي نَافِعٌ، حَدَّثَنِي خَالِدُ بْنُ يَزِيدَ، أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا الزُّبَيْرِ الْمَكِّيَّ، يُحَدِّثُ، عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ: دَخَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى بَعْضِ أَهْلِهِ وَهُوَ وَجِعٌ بِهِ الْحُمَّى، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «أُمُّ مِلْدَمٍ» قَالَتِ امْرَأَةٌ: نَعَمْ، فَلَعَنَهَا اللَّهُ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَا تَلْعَنِيهَا فَإِنَّهَا تَغْسِلُ – أَوْ تُذْهِبُ – ذُنُوبَ بَنِي آدَمَ كَمَا يُذْهِبُ الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ» . «هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِ مُسْلِمٍ، وَلَا أَعْرِفُ لَهُ عِلَّةً وَلَمْ يُخَرِّجَاهُ»

Al Mustadrak 247: Abu Bakar bin Ishaq dan Ali bin Hamsyad mengabarkan kepada kami, keduanya berkata: Ubaid bin Syarik menceritakan kepada kami, Ibnu Abi Maryam menceritakan kepada kami, Nafi mengabarkan kepadaku, Khalid bin Yazid menceritakan kepadaku bahwa dia pernah mendengar Abu Az-Zubair Al Makki menceritakan dari Jabir bin Abdullah, dia berkata, ”Suatu ketika Nabi masuk menemui sebagian keluarganya, saat itu beliau sedang terserang demam panas, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Ummu Mildam (demam)’. Seorang wanita lalu berkata, ”Betul.” Dia lalu melaknatnya. Nabi lalu bersabda, ‘Jangan kamu melaknatnya, karena dia membasuh atau menghilangkan dosa-dosa anak Adam, seperti api (ubupan) yang menghilangkan bagian-bagian kotor dari besi’.” Hadis ini shahih sesuai syarat Muslim. Sejauh yang kami ketahui, hadis ini tidak ber-illat, tapi Al Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkannya.

Mustadrak Hakim 248

المستدرك 248: حَدَّثَنَا أَبُو إِسْحَاقَ إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ يَحْيَى، وَأَبُو الْحَسَنِ بْنُ أَبِي الْقَاسِمِ الْعَدَوِيُّ، قَالَا: ثنا أَبُو بَكْرٍ مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ، ثنا أَحْمَدُ بْنُ حَفْصِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، حَدَّثَنِي أَبِي، حَدَّثَنِي إِبْرَاهِيمُ بْنُ طَهْمَانَ، عَنِ الْحَجَّاجِ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، أَنَّهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” الْأَخِلَّاءُ ثَلَاثَةٌ: فَإِمَّا خَلِيلٌ فَيَقُولُ لَكَ: مَا أَعْطَيْتَ، وَمَا أَمْسَكْتَ فَلَيْسَ لَكَ فَذَلِكَ مَالُكَ، وَإِمَّا خَلِيلٌ فَيَقُولُ: أَنَا مَعَكَ حَتَّى تَأْتِيَ بَابَ الْمَلِكِ، ثُمَّ أَرْجِعُ وَأَتْرُكُكَ، فَذَلِكَ أَهْلُكَ وَعَشِيرَتُكَ يُشَيِّعُونَكَ حَتَّى تَأْتِيَ قَبْرَكَ، ثُمَّ يَرْجِعُونَ فَيَتْرُكُونَكَ، وَإِمَّا خَلِيلٌ فَيَقُولُ: أَنَا مَعَكَ حَيْثُ دَخَلْتَ وَحَيْثُ خَرَجْتَ فَذَلِكَ عَمَلُكَ فَيَقُولُ: وَاللَّهِ لَقَدْ كُنْتَ مِنْ أَهْوَنِ الثَّلَاثَةِ عَلِيَّ «.» هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِ الشَّيْخَيْنِ وَلَمْ يُخَرِّجَاهُ، فَقَدِ احْتَجَّا جَمِيعًا بِالْحَجَّاجِ بْنِ الْحَجَّاجِ وَلَا أَعْرِفُ لَهُ عِلَّةً وَلَمْ يُخَرِّجَاهُ عَلَى هَذِهِ السِّيَاقَةِ وَلَهُ شَاهِدٌ قَدْ خَرَّجَاهُ “

Al Mustadrak 248: Abu Ishaq Ibrahim bin Muhammad bin Yahya dan Abu Hasan bin Abu Qasim Al Adawi menceritakan kepada kami, keduanya berkata: Abu Bakar Muhammad bin Ishaq menceritakan kepada kami, Ahmad bin Hafsh bin Abdullah menceritakan kepada kami, ayahku menceritakan kepadaku, Ibrahim bin Thahman menceritakan kepadaku dari Al Hajjaj, dari Qatadah, dari Anas bin Malik, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Kekasih itu ada tiga (yaitu): yang berkata kepadamu, ‘Aku tidak akan memberi dan tidak pula akan memegang’, maka dia bukan milikmu, tapi dia justru yang memiliki. Kekasih yang berkata, ‘Aku akan bersamamu sampai kamu tiba di pintu sang raja, kemudian aku akan pulang dan meninggalkanmu’, maka dia adalah keluargamu dan handaitaulanmu yang akan mengiringimu sampai kamu tiba di kuburanmu, kemudian mereka pulang dan meninggalkanmu. Setelah itu kekasih yang berkata, ‘Aku akan selalu bersamamu kemanapun kamu masuk dan kemanapun kamu keluar’, maka itu adalah amalmu’.” Anas berkata, ”Demi Allah, engkau adalah di antara yang paling ringan bagiku.” Hadis ini shahih sesuai syarat Al Bukhari dan Muslim, tapi keduanya tidak meriwayatkannya. Keduanya sama-sama berhujjah dengan Hajjaj bin Hajjaj. Aku tidak mengetahui ada illat-nya., tapi keduanya tidak meriwayatkannya dengan redaksi ini. Hadis ini memiliki syahid yang diriwayatkan oleh Al Bukhari dan Muslim.

Mustadrak Hakim 249

المستدرك 249: حَدَّثَنَاهُ عَلِيُّ بْنُ عِيسَى، ثنا إِبْرَاهِيمُ بْنُ أَبِي طَالِبٍ، ثنا ابْنُ أَبِي عُمَرَ، ثنا سُفْيَانُ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي بَكْرِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ حَزْمٍ، سَمِعَ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ، يَبْلُغُ بِهِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: ” يَتْبَعُ الْمُؤْمِنَ بَعْدَ مَوْتِهِ ثَلَاثَةٌ: أَهْلُهُ، وَمَالُهُ، وَعَمَلُهُ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى وَاحِدَةٌ، يَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ، وَيَبْقَى عَمَلُهُ “. وَقَدْ تَابَعَ عِمْرَانُ الْقَطَّانُ الْحَجَّاجَ فَسَاقَ الْحَدِيثَ بِطُولِهِ.

Al Mustadrak 249: Ali bin Isa menceritakannya kepada kami, Ibrahim bin Abi Thalib menceritakan kepada kami, Ibnu Abi Umar menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami dari Abdullah bin Abu Bakar bin Muhammad bin Amr bin Hazm, dia mendengar Anas bin Malik menyampaikan sesuatu yang dia dengar dari Rasulullah SAW, “Ada tiga hal yang akan mengiring seorang mukmin setelah kematiannya, (yaitu): keluarganya, hartanya, dan amalnya. Kedua hal akan pulang dan yang satu tetap tinggal. Keluarganya dan hartanya akan pulang, sementara amalnya tetap bersamanya.”. Hadis ini diperkuat oleh imran Al Qaththan Al Hajjaj. Dia lalu menuturkan hadis ini dengan redaksinya yang panjang.