Skip to main content

Mustadrak Hakim 360

المستدرك 360: حَدَّثَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوبَ الْحَافِظُ، ثنا إِبْرَاهِيمُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ السَّعْدِيُّ، ثنا أَبُو عَاصِمٍ، عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ، عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي سُفْيَانَ، أَنَّهُ سَمِعَ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ، يَقُولُ: «قَيِّدُوا الْعِلْمَ بِالْكِتَابِ» . «وَكَذَلِكَ الرِّوَايَةُ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ صَحِيحٌ مِنْ قَوْلِهِ، وَقَدْ أُسْنِدَ مِنْ وَجْهٍ غَيْرِ مُعْتَمَدٍ، فَأَمَّا الرِّوَايَةُ مِنْ قَوْلِهِ»

Al Mustadrak 360: Abu Abdullah Muhammad bin Ya’qub Al Hafizh menceritakan kepada kami, Ibrahim bin Abdullah As-Sa’di menceritakan kepada kami, Abu Ashim menceritakan kepada kami dari Ibnu Juraij, dari Abdul Malik bin Abdullah bin Abu Sufyan, bahwa dia mendengar Umar bin Khaththab RA berkata, “Ikatlah (dokumentasikanlah) ilmu dengan tulisan.” Begitu pula riwayat dari Anas bin Malik yang memang benar merupakan perkataannya. Tapi dia diriwayatkan secara musnad dari jalur yang tidak bisa diandalkan. Riwayat tentang perkataannya adalah:

Mustadrak Hakim 345

المستدرك 345: أَخْبَرْنَاهُ مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ سَعِيدٍ الْوَاسِطِيُّ، ثنا أَزْهَرُ بْنُ مَرْوَانَ، ثنا عَبْدُ الْوَارِثِ بْنِ سَعِيدٍ، ثنا عَلِيُّ بْنُ الْحَكَمِ، عَنْ عَطَاءٍ، عَنْ رَجُلٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ سُئِلَ عَنْ عِلْمٍ فَكَتَمَهُ أَلْجَمَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِلِجَامٍ مِنْ نَارٍ» . «فَقُلْتُ لَهُ قَدْ أَخْطَأَ فِيهِ أَزْهَرُ بْنُ مَرْوَانَ أَوْ شَيْخُكُمُ ابْنُ أَحْمَدَ الْوَاسِطِيُّ، وَغَيْرُ مُسْتَبْعَدٍ مِنْهُمَا الْوَهْمُ» فَقَدْ حَدَّثَنَا بِالْحَدِيثِ أَبُو بَكْرِ بْنُ إِسْحَاقَ وَعَلِيُّ بْنُ حَمْشَاذَ قَالَا: ثنا إِسْمَاعِيلُ بْنُ إِسْحَاقَ الْقَاضِي، ثنا مُسْلِمُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، ثنا عَبْدُ الْوَارِثِ بْنُ سَعِيدٍ، عَنْ عَلِيِّ بْنِ الْحَكَمِ، عَنْ رَجُلٍ، عَنْ عَطَاءٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «مَنْ سُئِلَ عَنْ عِلْمٍ عِنْدَهُ فَكَتَمَهُ أَلْجَمَهُ اللَّهُ بِلِجَامٍ مِنْ نَارٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ» . «فَاسْتَحْسَنَهُ أَبُو عَلِيٍّ وَاعْتَرَفَ لِي بِهِ، ثُمَّ لَمَّا جَمَعْتُ الْبَابَ وَجَدْتُ جَمَاعَةً ذَكَرُوا فِيهِ سَمَاعَ عَطَاءٍ مِنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، وَوَجَدْنَا الْحَدِيثَ بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ لَا غُبَارَ عَلَيْهِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو»

Al Mustadrak 345: Muhammad bin Ahmad bin Sa’id Al Wasithi mengabarkannya kepada kami, Azhar bin Marwan menceritakan kepada kami, Abdul Warits bin Sa’id menceritakan kepada kami, Ali bin Al Hakam menceritakan kepada kami dan Atha, dan seorang laki-laki, dari Abu Hurairah, dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa ditanya tentang suatu ilmu lalu dia menyembunyikannya, maka pada Hari Kiamat Allah akan memasangkan tali kekang dari api padanya.” Aku lalu berkata kepadanya, “Azhar bin Marwan atau guru kalian, Ibnu Ahmad Al Wasithi, salah dalam meriwayatkannya.”: Kekeliruan yang terjadi pada keduanya tidak aneh, karena Abu Bakar bin Ishaq dan Ali bin Hamsyad telah meriwayatkan hadis ini kepada, kami, keduanya berkata: Ismail bin Ishaq Al Qadhi menceritakan kepada kami, Muslim bin Ibrahim menceritakan kepada kami, Abdul Warits bin Sa’id menceritakan kepada kami dari Ali bin Al Hakam, dari seorang laki-laki, dari Atha’, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, مَنْ سُئِلَ عَنْ عِلْمٍ عِنْدَهُ فَكَتَمَهُ أَلْجَمَهُ اللَّهُ بِلِجَامٍ مِنْ نَارٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ‘Barangsiapa ditanya tentang suatu ilmu yang dia miliki lalu dia menyembunyikannya, maka pada Hari Kiamat Allah akan memasangkan tali kekang dari api padanya ‘ Hadis ini dinilai hasan oleh Abu Ali, dan dia mengakuinya di hadapanku. Kemudian ketika aku menghimpun hadis-hadis seputar bab ini, aku mendapati sekelompok periwayat yang menyebutkan j bahwa Atha pernah mendengar dari Abu Hurairah, dan kami temukan hadisnya shahih dan tidak ber-illat dari Abdullah bin Amr.

Mustadrak Hakim 330

المستدرك 330: حَدَّثَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْحُسَيْنُ بْنُ الْحَسَنِ بْنِ أَيُّوبَ، ثنا أَبُو حَاتِمٍ مُحَمَّدُ بْنُ إِدْرِيسَ الْحَنْظَلِيُّ، ثنا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ التِّنِّيسِيُّ، ثنا اللَّيْثُ، عَنْ يَزِيدَ بْنِ الْهَادِ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ، عَنْ خَالِدِ بْنِ مَعْدَانَ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَمْرٍو، عَنِ الْعِرْبَاضِ بْنِ سَارِيَةَ، مِنْ بَنِي سُلَيْمٍ مِنْ أَهْلِ الصُّفَّةِ، قَالَ: خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا فَقَامَ فَوَعَظَ النَّاسَ وَرَغَّبَهُمْ وَحَذَّرَهُمْ وَقَالَ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَقُولَ، ثُمَّ قَالَ: «اعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، وَأَطِيعُوا مَنْ وَلَّاهُ اللَّهُ أَمْرَكُمْ، وَلَا تُنَازِعُوا الْأَمْرَ أَهْلَهُ وَلَوْ كَانَ عَبْدًا أَسْوَدَ، وَعَلَيْكُمْ بِمَا تَعْرِفُونَ مِنْ سُنَّةِ نَبِيِّكُمْ وَالْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ، وَعَضُّوا عَلَى نَواجِذِكُمْ بِالْحَقِّ» . «هَذَا إِسْنَادٌ صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِهِمَا جَمِيعًا، وَلَا أَعْرِفُ لَهُ عِلَّةً، وَقَدْ تَابَعَ ضَمْرَةُ بْنُ حَبِيبٍ خَالِدَ بْنَ مَعْدَانَ عَلَى رِوَايَةِ هَذَا الْحَدِيثِ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَمْرٍو السُّلَمِيِّ»

Al Mustadrak 330: Abu Abdillah Al Husain bin Al Hasan bin Ayyub menceritakan kepada kami, Abu Hatim Muhammad bin Idris Al Hanzhali menceritakan kepada kami, Abdullah bin Yusuf At-Tinnisi menceritakan kepada kami, Al-Laits menceritakan kepada kami dari Yazid bin Al Hadi, dari Muhammad bin Ibrahim, dari Khalid bin Ma’dan, dari Abdurrahman bin Amr, dari Al Irbadh bin Sariyah, dari bani Sulaim —seorang Ahlush-Shuffah—, dia berkata: Rasulullah keluar menemui kami pada suatu hari, lalu memberi wejangan kepada massa, menganjurkan sekaligus memberi peringatan dan mengatakan beberapa hal, beliau bersabda, “Sembahlah Allah dan jangan sekutukan Dia dengan apa pun, taatilah orang-orang yang telah diserahi kepemimpinan oleh Allah, dan jangan menyelisihi orang-orang yang berwenang di dalamnya, sekalipun dia seorang budak berkulit hitam. Hendaknya kalian juga mengetahui (mempelajari) Sunnah Nabi kalian dan sunnah Khulafaurrasyidin yang mendapat petunjuk. Peganglah dia erat-erat dengan benar.” Sanad ini shahih sesuai syarat Al Bukhari dan Muslim, dan aku tidak mengetahui ada illat-nya. Dhamrah bin Habib memperkuat riwayat Khalid bin Ma’dan dengan meriwayatkannya dari Abdurrahman bin Amr As-Sulami.

Mustadrak Hakim 331

المستدرك 331: حَدَّثَنَاهُ أَبُو الْحَسَنِ أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْعَنْبَرِيُّ، ثنا عُثْمَانُ بْنُ سَعِيدٍ الدَّارِمِيُّ، وَأَخْبَرَنَا أَبُو بَكْرٍ مُحَمَّدُ بْنُ الْمُؤَمَّلِ، ثنا الْفَضْلُ بْنُ مُحَمَّدٍ، قَالَا: ثنا أَبُو صَالِحٍ، عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ صَالِحٍ، وَأَخْبَرَنَا أَبُو بَكْرٍ أَحْمَدُ بْنُ جَعْفَرٍ الْقَطِيعِيُّ، ثنا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ، حَدَّثَنِي أَبِي، ثنا عَبْدُ الرَّحْمَنِ يَعْنِي ابْنَ مَهْدِيٍّ، عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ صَالِحٍ، عَنْ ضَمْرَةَ بْنِ حَبِيبٍ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَمْرٍو السُّلَمِيِّ، أَنَّهُ سَمِعَ الْعِرْبَاضَ بْنَ سَارِيَةَ، قَالَ: وَعَظَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَوْعِظَةً ذَرَفَتْ مِنْهَا الْعُيُونُ، وَوَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوبُ، فَقُلْنَا: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ هَذَا لَمَوْعِظَةُ مُوَدَّعٍ فَإِذًا تَعْهَدُ إِلَيْنَا، قَالَ: «قَدْ تَرَكْتُكُمْ عَلَى الْبَيْضَاءِ لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا لَا يَزِيغُ عَنْهَا بَعْدِي إِلَّا هَالِكٌ، وَمَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِمَا عَرَفْتُمْ مِنْ سُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ مِنْ بَعْدِي، وَعَلَيْكُمْ بِالطَّاعَةِ وَإِنْ كَانَ عَبْدًا حَبَشِيًّا عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ» . فَكَانَ أَسَدُ بْنُ وَدَاعَةَ يَزِيدُ فِي هَذَا الْحَدِيثِ «فَإِنَّ الْمُؤْمِنَ كَالْجَمَلِ الْأَنْفِ حَيْثُ مَا قِيدَ انْقَادَ» . وَقَدْ تَابَعَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَمْرٍو عَلَى رِوَايَتِهِ، عَنِ الْعِرْبَاضِ بْنِ سَارِيَةَ ثَلَاثَةٌ مِنَ الثِّقَاتِ الْأَثْبَاتِ مِنْ أَئِمَّةِ أَهْلِ الشَّامِ

Al Mustadrak 331: Abu Al Hasan Ahmad bin Muhammad Al Anbari menceritakan kepada kami, Utsman bin Sa’id Ad-Darimi menceritakan kepada kami. Abu Bakar Muhammad bin Al Mu’ammal mengabarkan kepada kami, Al Fadhl bin Muhammad menceritakan kepada kami, keduanya berkata: Abu Shalih menceritakan kepada kami dari Mu’awiyah bin Shalih. Abu Bakar Ahmad bin Ja’far Al Qathi’i menceritakan kepada kami, Abdullah bin Ahmad bin Hanbal menceritakan kepada kami, ayahku menceritakan kepadaku, Abdurrahman —yaitu Ibnu Mahdi – menceritakan kepada kami dari Mu’awiyah bin Shalih, dari Dhamrah bin Habib, dari Abdurrahman bin Amr As-Sulami, bahwa dia mendengar Al Irbadh bin Sariyah berkata: Rasulullah memberi wejangan kepada kami, yang membuat kami meneteskan air mata dan menggetarkan hati. Kami lalu berkata, ”Wahai Rasulullah, sungguh ini merupakan nasihat perpisahan, maka apakah yang akan engkau wasiatkan kepada kami?” Beliau menjawab, ”Aku telah meninggalkan kalian di atas putih, malamnya seperti siangnya, tidak melenceng darinya setelahku kecuali dia akan binasa. Barangsiapa di antara kalian ada yang masih hidup setelahku, maka dia akan melihat banyak terjadinya perselisihan. Oleh karena itu, berpeganglah dengan apa yang kalian ketahui dari Sunnahku dan Sunnah Khulafaurrasyidin yang mendapat petunjuk setelahku. Tetaplah taat sekalipun kalian dipimpin oleh seorang budak Habsyi, peganglah dia dengan erat-erat.” Asad bin Wada’ah memberi tambahan pada hadis ini, ”Karena seorang mukmin adalah seperti unta jinak yang akan j menurut kemana saja dia dituntun.” Riwayat Abdurrahman bin Amr dari Al Irbadh bin Sariyah ini j diperkuat dengan oleh riwayat tiga periwayat tsiqah yang termasuk para imam negeri Syam, diantaranya Hajar bin Hajar Al Kala’i.

Mustadrak Hakim 332

المستدرك 332: حَدَّثَنَا أَبُو زَكَرِيَّا يَحْيَى بْنُ مُحَمَّدٍ الْعَنْبَرِيُّ، ثنا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْعَبْدِيُّ، ثنا مُوسَى بْنُ أَيُّوبَ النَّصِيبِيُّ، وَصَفْوَانُ بْنُ صَالِحٍ الدِّمَشْقِيُّ، قَالَا: ثنا الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ الدِّمَشْقِيُّ، ثنا ثَوْرُ بْنُ يَزِيدَ، حَدَّثَنِي خَالِدُ بْنُ مَعْدَانَ، حَدَّثَنِي عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَمْرٍو السُّلَمِيُّ، وَحُجْرُ بْنُ حُجْرٍ الْكَلَاعِيُّ، قَالَا: أَتَيْنَا الْعِرْبَاضَ بْنَ سَارِيَةَ وَهُوَ مِمَّنْ نَزَلَ فِيهِ {وَلَا عَلَى الَّذِينَ إِذَا مَا أَتَوْكَ لِتَحْمِلَهُمْ قُلْتَ لَا أَجِدُ مَا أَحْمِلُكُمْ عَلَيْهِ تَوَلَّوْا وَأَعْيُنُهُمْ تُفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ حَزَنًا أَلَّا يَجِدُوا مَا يُنْفِقُونَ} [التوبة: 92] فَسَلَّمْنَا وَقُلْنَا أَتَيْنَاكَ زَائِرِينَ وَمُقْتَبِسِينَ، فَقَالَ الْعِرْبَاضُ: صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصُّبْحَ ذَاتَ يَوْمٍ، ثُمَّ أَقْبَلْ عَلَيْنَا فَوَعَظَنَا مَوْعِظَةً بَلِيغَةً ذَرَفَتْ مِنْهَا الْعُيُونُ، وَوَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوبُ، فَقَالَ قَائِلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، كَأَنَّهَا مَوْعِظَةُ مُوَدَّعٍ فَمَا تَعْهَدُ إِلَيْنَا؟ فَقَالَ: «أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ، وَإِنْ كَانَ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ، فَتَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ» وَمِنْهُمْ يَحْيَى بْنُ أَبِي الْمُطَاعِ الْقُرَشِيُّ

Al Mustadrak 332: Abu Zakaria Yahya bin Muhammad Al Anbari menceritakan kepada kami, Abu Abdillah Muhammad bin Ibrahim Al Abdi menceritakan kepada kami, Musa bin Ayyub An-Nashibi dan Shafwan bin Shalih Ad-Dimasyqi menceritakan kepada kami, keduanya berkata: Al Walid bin Muslim Ad-Dimasyqi menceritakan kepada kami, Tsaur bin Yazid menceritakan kepada kami, Khalid bin Ma’dan menceritakan kepadaku, Abdurrahman bin Amr As-Sulami dan Hajar bin Hajar Al Kala’i menceritakan kepadaku, keduanya berkata: Aku menemui Al Irbadh bin Sariyah. Dia salah seorang sahabat yang diturunkan ayat tentangnya, “Dan tiada (pula dosa) atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata, ‘Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu ‘, lalu mereka kembali, sedangkan mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan’.” Kami kemudian mengucapkan salam kepadanya dan berkata kepadanya, ”Kami datang menemui untuk berkunjung dan menimba ilmu.” Al Irbadh berkata, “Rasulullah pernah shalat Subuh mengimami kami pada suatu hari. Kemudian beliau menghadap ke arah kami dan berpidato dengan dengan memberi wejangan serius yang menyebabkan air mata menetes dan hati bergetar. Lalu ada seseorang berkata, ‘Wahai Rasulullah, seakan-akan ini wejangan perpisahan, maka apakah yang engkau, wasiatkan kepada kami?’ Beliau bersabda, ‘Aku berwasiat kepada kalian agar senantiasa bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat, sekalipun (kalian dipimpin) oleh seorang budak Habsyi, karena barangsiapa di antara kalian ada yang masih hidup sesudahku, maka dia akan melihat banyak perselisihan. Oleh karena itu, berpegang teguhlah dengan Sunnahku dan Sunnah Khulafaurrasyidin yang mendapat petunjuk Peganglah erat-erat dan gigitlah dengan gigi-gigi geraham, serta berhati-hatilah dengan perkara baru yang sengaja dibuat dalam agama, karena setiap perkara baru yang sengaja dibuat dalam agama itu adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat” Di antara mereka (yang memperkuat hadis Abdullah bin Amr) adalah Yahya bin Abu Al Mutha’ Al Qurasyi:

Mustadrak Hakim 333

المستدرك 333: حَدَّثَنَا أَبُو الْعَبَّاسِ مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوبَ، ثنا أَحْمَدُ بْنُ عِيسَى بْنِ زَيْدٍ التِّنِّيسِيُّ، ثنا عَمْرُو بْنُ أَبِي سَلَمَةَ التِّنِّيسِيُّ، أَنْبَأَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْعَلَاءِ بْنِ زَبْرٍ، عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي الْمُطَاعِ، قَالَ: سَمِعْتُ الْعِرْبَاضَ بْنَ سَارِيَةَ السُّلَمِيَّ، يَقُولُ: قَامَ فِينَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ غَدَاةٍ فَوَعَظَنَا مَوْعِظَةً، وَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوبُ، وَذَرَفَتْ مِنْهَا الْأَعْيُنُ، قَالَ: فَقُلْنَا: يَا رَسُولَ اللَّهِ قَدْ وَعَظْتَنَا مَوْعِظَةَ مُوَدَّعٍ فَاعْهَدْ إِلَيْنَا، قَالَ: ” عَلَيْكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ – أَظُنُّهُ قَالَ: وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ -، وَسَتَرَى مِنْ بَعْدِي اخْتِلَافًا شَدِيدًا – أَوْ كَثِيرًا – فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ، عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَالْمُحْدَثَاتِ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ «.» وَمِنْهُمْ مَعْبَدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ هِشَامٍ الْقُرَشِيُّ وَلَيْسَ الطَّرِيقُ إِلَيْهِ مِنْ شَرْطِ هَذَا الْكِتَابِ فَتَرَكْتُهُ وَقَدِ اسْتَقْصَيْتُ فِي تَصْحِيحِ هَذَا الْحَدِيثِ بَعْضَ الِاسْتِقْصَاءِ عَلَى مَا أَدَّى إِلَيْهِ اجْتِهَادِي وَكُتِبَ فِيهِ، كَمَا قَالَ إِمَامُ أَئِمَّةِ الْحَدِيثِ شُعْبَةُ فِي حَدِيثِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَطَاءٍ، عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ لَمَّا طَلَبَهُ بِالْبَصْرَةِ وَالْكُوفَةِ وَالْمَدِينَةِ وَمَكَّةَ، ثُمَّ عَادَ الْحَدِيثُ إِلَى شَهْرِ بْنِ حَوْشَبٍ فَتَرَكَهُ، ثُمَّ قَالَ شُعْبَةُ: لَأَنْ يَصِحَّ لِي مِثْلُ هَذَا عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ أَحَبَّ إِلَيَّ مِنْ وَالِدِي وَوَلَدِي وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ، وَقَدْ صَحَّ هَذَا الْحَدِيثُ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِهِ أَجْمَعِينَ “

Al Mustadrak 333: Abu Al Abbas Muhammad bin Ya’qub menceritakan kepada kami, Ahmad bin Isa bin Zaid At-Tinnisi menceritakan kepada kami, Amr bin Abu Salamah At-Tinnisi menceritakan kepada kami, Abdullah bin Al Ala bin Zaid memberitakan (kepada kami) dari Yahya bin Abu Al Matha’, dia berkata: Aku mendengar Al Irbadh bin Sariyah As-Sulami berkata, “Pada suatu hari Rasulullah berdiri di tengah-tengah kami, lalu beliau memberi wejangan yang menggetarkan hati dan meneteskan air mata.” Lebih lanjut dia berkata: Kami lalu bertanya, ”Wahai Rasulullah, engkau memberi wejangan perpisahan kepada kami, maka apakah yang akan engkau wasiatkan kepada kami?” Beliau menjawab, “Hendaklah kalian bertakwa kepada Allah —aku menduga beliau juga bersabda: Mendengar dan taat—. Setelakku nanti, kalian akan melihat perselisihan hebat atau banyak Oleh karena itu, berpegang teguhlah dengan Sunnahku dan sunnah para khalifah yang diberi petunjuk. Gigitlah dengan geraham kuat-kuat (yaitu peganglah erat-erat) dan berhati-hatilah dengan perkara yang dibuat-buat dalam agama, karena setiap bid’ah adalah sesat.” Di antara mereka adalah Ma’bad bin Abdullah bin Hisyam Al Qurasyi. Akan tetapi karena jalur periwayatannya tidak termasuk dalam syarat kitab ini, maka aku tidak meriwayatkannya. Aku telah meneliti untuk hadis ini sesuai ijtihadku. Hadis ini ditulis oleh imam para imam hadis, Syu’bah, tentang hadis Abdullah bin Atha’ dari Uqbah bin Amir. Dia mencarinya di Bashrah, Kufah, Madinah, serta Makkah, dan ternyata hadis tersebut kembali pada Syahr bin Hausyab, maka dia meninggalkannya. Syu’bah lalu berkata, “Seandainya hadis ini benar-benar sah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka itu lebih aku cintai daripada orang tuaku, anakku, dan seluruh manusia.” Tapi memang hadis ini shahih. Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada Nabi Muhammad beserta seluruh keluarganya.

Mustadrak Hakim 334

المستدرك 334: حَدَّثَنَا أَبُو الْعَبَّاسِ مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوبَ، أَنْبَأَ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ الْحَكَمِ، أَنْبَأَ ابْنُ وَهْبٍ، أَخْبَرَنِي مُعَاوِيَةُ بْنُ صَالِحٍ، وَحدثنا أَبُو النَّصْرِ مُحَمَّدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ يُوسُفَ الْفَقِيهُ، وَاللَّفْظُ لَهُ، ثنا عُثْمَانُ بْنُ سَعِيدٍ الدَّارِمِيُّ، ثنا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ صَالِحٍ، حَدَّثَنِي مُعَاوِيَةُ بْنُ صَالِحٍ، أَخْبَرَنِي رَبِيعَةُ بْنُ يَزِيدَ، عَنْ أَبِي إِدْرِيسَ الْخَوْلَانِيِّ، عَنْ يَزِيدَ بْنِ عَمِيرَةَ، أَنَّ مُعَاذَ بْنَ جَبَلٍ، لَمَّا حَضَرَتْهُ الْوَفَاةُ، قَالُوا: يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَوْصِنَا، قَالَ: أَجْلِسُونِي، ثُمَّ قَالَ: إِنَّ الْعِلْمَ وَالْإِيمَانَ مَكَانَهُمَا مَنِ الْتَمَسَهُمَا وَجَدَهُمَا، قَالَ ذَلِكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، وَالْتَمِسُوا الْعِلْمَ عِنْدَ أَرْبَعَةِ رَهْطٍ: عِنْدَ عُوَيْمِرٍ أَبِي الدَّرْدَاءِ، وَعِنْدَ سَلْمَانَ الْفَارِسِيِّ، وَعِنْدَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ، وَعِنْدَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَلَامٍ، فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ: «إِنَّهُ عَاشِرُ عَشَرَةٍ فِي الْجَنَّةِ» . «هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِ الشَّيْخَيْنِ، وَيَزِيدُ بْنُ عَمِيرَةَ السَّكْسَكِيُّ صَاحِبُ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ وَقَدْ شَهِدَ مَكْحُولٌ الدِّمَشْقِيُّ لِيَزِيدَ بِذَلِكَ، وَهُوَ مِمَّا يَسْتَشْهِدُ مَكْحُولٌ عَنْ يَزِيدَ مُتَابَعَةً لِأَبِي إِدْرِيسَ الْخَوْلَانِيِّ»

Al Mustadrak 334: Abu Al Abbas Muhammad bin Ya’qub menceritakan kepada kami, Muhammad bin Abdullah bin Al Hakam memberitakan (kepada kami), Ibnu Wahab memberitakan (kepada kami), Mu’awiyah bin Shalih mengabarkan kepadaku. Abu An-Nadhr Muhammad bin Muhammad bin Yusuf Al Faqih menceritakan kepada kami dengan redaksinya, Utsman bin Sa’id Ad-Darimi menceritakan kepada kami, Abdullah bin Shalih menceritakan kepada kami, Mu’awiyah bin Shalih menceritakan kepadaku, Rabi’ah bin Yazid mengabarkan kepadaku dari Abu Idris Al Khaulani, dari Yazid bin Umairah, bahwa ketika Mu’adz bin Jabal telah dekat ajalnya, mereka berkata, ”Wahai Abu Abdurrahman, berilah kami wasiat.” Dia lalu berkata, ”Dudukkanlah aku.” Kemudian dia berkata, “Sesungguhnya ilmu dan iman itu ada pada tempatnya, maka barangsiapa mencarinya, dia akan menemukannya.” Dia berkata demikian sebanyak tiga kali. (Dia berkata lagi), “Juga carilah ilmu pada empat orang (yaitu): Uwaimir Abu Ad-Darda’, Salman Al Farisi, Abdullah bin Mas’ud, dan Abdullah bin Salam, karena aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya dia (Abdullah bin Salam) merupakan yang kesepuluh di antara sepuluh (sahabat) yang (dijamin) masuk surga” Hadis shahih ini sesuai syarat Al Bukhari dan Muslim. Yazid bin Umairah As-Saksaki adalah sahabat Mu’adz bin Jabal. Makhul Ad-Dimasyqi telah menyaksikan (mengakui) bahwa Yazid memang demikian. Dialah yang meriwayatkan dari Yazid sebuah hadis sebagai syahid terhadap riwayat Abu Idris Al Khaulani.

Mustadrak Hakim 335

المستدرك 335: حَدَّثَنَا أَبُو الْعَبَّاسِ مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوبَ، أَنْبَأَ الْعَبَّاسُ بْنُ الْوَلِيدِ بْنِ مَزْيَدٍ الْبَيْرُوتِيُّ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ شُعَيْبِ بْنِ شَابُورَ، حَدَّثَنِي النُّعْمَانُ بْنُ الْمُنْذِرِ، عَنْ مَكْحُولٍ، قَالَ: وَجِعَ مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ يَوْمًا وَعِنْدَهُ يَزِيدُ بْنُ عَمِيرَةَ الزُّبَيْدِيُّ فَبَكَى عَلَيْهِ يَزِيدُ، فَقَالَ لَهُ مُعَاذٌ: مَا يُبْكِيكَ؟ قَالَ: يُبْكِينِي مَا كُنْتُ أَسْأَلُكَ كُلَّ يَوْمٍ يَنْقَطِعُ عَنِّي، فَقَالَ مُعَاذٌ: «إِنَّ الْعِلْمَ وَالْإِيمَانَ بَشَّاشَانِ قُمْ فَالْتَمِسْهُمَا» قَالَ يَزِيدُ: وَعِنْدَ مَنْ أَلْتَمِسُهُمَا؟ فَقَالَ مُعَاذٌ: ” عِنْدَ أَرْبَعَةِ نَفَرٍ: عِنْدَ عُوَيْمِرٍ أَبِي الدَّرْدَاءِ، وَعِنْدَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ، وَعِنْدَ سَلْمَانَ الْفَارِسِيِّ، وَعِنْدَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَلَامٍ، فَإِنَّهُ كَانَ يُقَالُ: إِنَّهُ عَاشِرُ عَشَرَةٍ فِي الْجَنَّةِ ” قَالَ يَزِيدُ: فَقُلْتُ: وَعِنْدَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ، فَقَالَ: «لَا تَسْأَلْهُ عَنْ شَيْءٍ فَإِنَّهُ عَنْكَ مَشْغُولٌ» . وَقَدْ رَوَى الزُّهْرِيُّ، عَنْ أَبِي إِدْرِيسَ طَرَفًا مِنْ هَذَا الْحَدِيثِ

Al Mustadrak 335: Abu Al Abbas Muhammad bin Ya’qub menceritakan kepada kami, Al Abbas bin Al Walid bin Mazid Al Bairuti memberitahukan (kepada kami), Muhammad bin Syu’aib bin Syabur menceritakan kepada kami, An-Nu’man bin Al Mundzir menceritakan kepadaku dari Makhul, dia berkata: Suatu hari Mu’adz merasa sakit, dan di sampingnya ada Yazid bin Umairah Az-Zubaidi. Yazid menangisi Mu’adz, maka Mu’adz bertanya kepadanya, “Apa yang membuatmu menangis?” Yazid menjawab, “Aku menangisimu karena aku selalu bertanya kepadamu tentang segala hal setiap hari dan tidak pernah berhenti.” Mu’adz lalu berkata, “Sesungguhnya ilmu dan iman selalu bersama, maka berdirilah dan carilah keduanya.” Yazid lalu bertanya, “Kepada siapakah aku harus mencarinya?” Mu’adz menjawab, “Kepada empat orang (yaitu) Uwaimir Abu Ad-Darda’, Abdullah bin Mas’ud, Salman Al Farisi, dan Abdullah bin Salam, karena telah disabdakan (Oleh Nabi ) bahwa dia (Abdullah bin Salam) merupakan orang yang kesepuluh dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga.” Yazid lalu bertanya, “Juga kepada Umar bin Khaththab?” Mu’adz menjawab, “Jangan kamu bertanya apa pun kepadanya, karena dia orang yang sibuk.” Az-Zuhri telah meriwayatkan beberapa bagian hadis ini dari Abu Idris:

Mustadrak Hakim 336

المستدرك 336: حَدَّثَنَاهُ عَلِيُّ بْنُ حَمْشَاذَ الْعَدْلُ، ثنا عُبَيْدُ بْنُ شَرِيكٍ، ثنا نُعَيْمُ بْنُ حَمَّادٍ، ثنا الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ، ثنا ابْنُ عَجْلَانَ، حَدَّثَنِي ابْنُ شِهَابٍ، عَنْ أَبِي إِدْرِيسَ الْخَوْلَانِيِّ، عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: الْعِلْمُ وَالْإِيمَانُ مَكَانَهُمَا مَنِ ابْتَغَاهُمَا وَجَدَهُمَا “

Al Mustadrak 336: Ali bin Hamsyad Al Adl menceritakan kepada kami, Ubaid bin Syarik menceritakan kepada kami, Nu’aim bin Hammad menceritakan kepada kami, Al Walid bin Muslim menceritakan kepada kami, Ibnu Ajian menceritakan kepada kami, Ibnu Syihab menceritakan kepadaku dari Abu Idris Al Khaulani, dari Mu’adz bin Jabal , dia berkata, “Ilmu dan iman ada tempatnya, maka barangsiapa mencarinya, pasti akan menemukannya.”

Mustadrak Hakim 321

المستدرك 321: أَخْبَرَنَا أَبُو بَكْرٍ مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ حَاتِمٍ الدَّارَبَرْدِيُّ، بِمَرْوٍ، ثنا أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عِيسَى الْقَاضِي، ثنا أَبُو مَعْمَرٍ، ثنا عَبْدُ الْوَارِثِ، عَنِ الْحُسَيْنِ، عَنِ ابْنِ بُرَيْدَةَ، أَنَّ مُعَاوِيَةَ، خَرَجَ مِنْ حَمَّامِ حِمْصَ، فَقَالَ لِغُلَامِهِ: ائْتِنِي لُبْسَتَيَّ فَلَبِسَهُمَا، ثُمَّ دَخَلَ مَسْجِدَ حِمْصَ فَرَكَعَ رَكْعَتَيْنِ، فَلَمَّا فَرَغَ إِذَا هُوَ بِنَاسٍ جُلُوسٌ، فَقَالَ لَهُمْ: مَا يُجْلِسُكُمْ؟ قَالُوا: صَلَّيْنَا صَلَاةَ الْمَكْتُوبَةِ ثُمَّ قَصَّ الْقَاصُّ، فَلَمَّا فَرَغَ قَعَدْنَا نَتَذَاكَرُ سُنَّةَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ مُعَاوِيَةُ: مَا مِنْ رَجُلٍ أَدْرَكَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَقَلَّ حَدِيثًا عَنْهُ مِنِّي، إِنِّي سَأُحَدِّثُكُمْ بِخَصْلَتَيْنِ حَفِظْتُهُمَا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا مِنْ رَجُلٍ يَكُونُ عَلَى النَّاسِ فَيَقُومُ عَلَى رَأْسِهِ الرِّجَالُ يُحِبُّ أَنْ تَكْثُرَ الْخُصُومُ عِنْدَهُ فَيَدْخُلَ الْجَنَّةَ، قَالَ: وَكُنْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا فَدَخَلَ الْمَسْجِدَ فَإِذَا هُوَ بِقَوْمٍ فِي الْمَسْجِدِ قُعُودٍ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَا يُقْعِدُكُمْ؟» قَالُوا: صَلَّيْنَا الصَّلَاةَ الْمَكْتُوبَةَ، ثُمَّ قَعَدْنَا نَتَذَاكَرُ كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ اللَّهَ إِذَا ذَكَرَ شَيْئًا تَعَاظَمَ ذِكْرُهُ» . «هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِ الشَّيْخَيْنِ، وَقَدْ سَمِعَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ بُرَيْدَةَ الْأَسْلَمِيُّ مِنْ مُعَاوِيَةَ غَيْرَ حَدِيثٍ»

Al Mustadrak 321: Abu Bakar Muhammad bin Ahmad bin Hatim Ad-Darabardi mengabarkan kepada kami di Marwa, Ahmad bin Muhammad bin Isa Al Qadhi menceritakan kepada kami, Abu Ma’mar menceritakan kepada kami, Abdul Warits menceritakan kepada kami dari Al Husain, dari Ibnu Buraidah, bahwa Mu’awiyah pemah keluar dari kamar mandi Himsh, lalu berkata kepada pembantunya, ”Bawakan kepadaku kedua pakaianku.” Setelah pembantunya membawakannya, dia pun memakainya, kemudian masuk ke masjid Himsh, lalu shalat dua rakaat. Seusai shalat ternyata ada sekelompok orang sedang duduk-duduk, maka dia bertanya kepada mereka, ”Apa yang membuat kalian duduk-duduk?” Mereka menjawab, ”Kami shalat fardhu, kemudian ada orang yang menuturkan sesuatu, dan setelah dia selesai kami duduk untuk membahas Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Mu’awiyah lalu berkata, ‘Tidak seorang pun yang pemah menemui Nabi yang lebih sedikit hadisnya dariku. Sungguh, akan kututurkan kepada kalian tentang dua hal yang telah aku hapal dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu, ‘Tidak seorang pun yang berada di tengah massa lalu orang-orang berdiri menyambutnya sedang dia suka musuh-musuhnya banyak di sisinya (karena tidak suka disambut) melainkan dia akan masuk surga’.” Mu’awiyah lanjut berkata, “Aku juga pernah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau masuk masjid, dan ternyata di masjid ada sekelompok orang sedang duduk-duduk, maka Nabi bertanya kepada mereka, ‘Apa yang membuat kalian duduk-duduk?’ Mereka menjawab, ‘Kami shalat fardhu, lalu duduk untuk membahas Kitab Allah serta Sunnah Nabi-Nya .” Rasulullah lalu bersabda, “Sesungguhnya Allah apabila mengingat sesuatu maka Dia akan membesar-besarkannya.” Hadis ini shahih sesuai syarat Al Bukhari dan Muslim. Abdullah bin Buraidah Al Aslami mendengar dari Mu’awiyah lebih dari sekali.