Skip to main content

Musnad Syafi’i 1087

مسند الشافعي 1087: أَخْبَرَنَا مَالِكٌ، عَنْ رَبِيعَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ يَزِيدَ، مَوْلَى الْمُنْبَعِثِ، عَنْ زَيْدِ بْنِ خَالِدٍ الْجُهَنِيِّ، أَنَّهُ قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَأَلَهُ عَنِ اللُّقَطَةِ فَقَالَ: «اعْرِفْ عِفَاصَهَا وَوِكَاءَهَا ثُمَّ عَرِّفْهَا سَنَةً، فَإِنْ جَاءَ صَاحِبُهَا وَإِلَّا فَشَأْنَكَ بِهَا»

Musnad Syafi’i 1087: Malik mengabarkan kepada kami dari Rabi’ah bin Abu Abdurrahman, dari Yazid maula Munba’its, dari Zaid bin Khalid Al Juhani, bahwa ia pernah mengatakan: Seorang lelaki datang kepada Rasulullah SAW, lalu bertanya mengenai masalah barang temuan, maka beliau menjawab, “Perlihatkanlah kantong dan tali pengikat barang itu, kemudian umumkanlah selama setahun. Jika pemiliknya datang —berikanlah kepadanya—, jika tidak ada yang datang, maka terserah kamu.”335

Musnad Syafi’i 1071

مسند الشافعي 1071: أَخْبَرَنَا مَالِكٌ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، أَنَّ صَفْوَانَ بْنَ أُمَيَّةَ، هَرَبَ مِنَ الْإِسْلَامِ ثُمَّ جَاءَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَهِدَ حُنَيْنًا وَالطَّائِفَ مُشْرِكًا، وَامْرَأَتُهُ مَسْلَمَةٌ، وَاسْتَقَرَّ عَلَى النِّكَاحِ قَالَ ابْنُ شِهَابٍ: وَكَانَ بَيْنَ إِسْلَامِ صَفْوَانَ وَامْرَأَتِهِ نَحْوٌ مِنْ شَهْرٍ

Musnad Syafi’i 1071: Malik mengabarkan kepada kami dari Ibnu Syihab: Shafwan bin Umayah lari dari Islam, kemudian datang kepada Nabi dan mengikuti perang Hunain serta perang Thaif, sedangkan ia masih musyrik; demikian pula istrinya, ia masih tetap dalam ikatan nikah. Ibnu Syihab berkata, “Antara Islamnya Shafwan dan istrinya terdapat jarak waktu kurang lebih sebulan.” 319

Musnad Syafi’i 1086

مسند الشافعي 1086: أَخْبَرَنَا مَالِكٌ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ بَيْعِ الْوَلَاءِ وَعَنْ هِبَتِهِ

Musnad Syafi’i 1086: Malik mengabarkan kepada kami dari Abdullah bin Dinar, dari Ibnu Umar : Rasulullah telah melarang memperjualbelikan wala’ dan menghibahkannya. 334

Musnad Syafi’i 1070

مسند الشافعي 1070: أَخْبَرَنَا ابْنُ عُيَيْنَةَ، عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ، عَنْ عَطَاءٍ، عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «لَا تُعْمِرُوا، وَلَا تُرْقِبُوا، فَمَنْ أُعْمِرَ شَيْئًا أَوْ أُرْقِبَهُ فَهُوَ سَبِيلُ الْمِيرَاثِ»

Musnad Syafi’i 1070: Ibnu Uyainah mengabarkan kepada kami dari Ibnu Juraij, dari Atha’, dari Jabir , bahwa Rasulullah pernah bersabda, “Janganlah kalian melakukan ‘umra; jangan pula melakukan ruqba. Barangsiapa yang memberikan sesuatu secara ‘umra atau ruqba, maka hal itu merupakan jalan untuk mewarisi”318

Musnad Syafi’i 1085

مسند الشافعي 1085: أَخْبَرَنَا مَالِكٌ، عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِنَّمَا الْوَلَاءُ لِمَنْ أَعْتَقَ»

Musnad Syafi’i 1085: Malik mengabarkan kepada kami dari Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, dari Aisyah bahwa Rasulullah telah bersabda, “Sesungguhnya al wala'(hak perwalian) itu bagi orang yang memerdekakan”.333

Musnad Syafi’i 1084

مسند الشافعي 1084: أَخْبَرَنَا أَنَسُ بْنُ عِيَاضٍ، عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «لَا تُحَرِّمُ الْمَصَّةُ وَلَا الْمَصَّتَانِ»

Musnad Syafi’i 1084: Anas bin lyadh mengabarkan kepada kami dari Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, dari Abdullah bin Zubair bahwa Nabi telah bersabda, “Sekali sedot dan 2 kali sedot tidak dapat menjadikan mahram”332

Musnad Syafi’i 1083

مسند الشافعي 1083: أَخْبَرَنَا مَالِكٌ، عَنْ نَافِعٍ، عَنْ صَفِيَّةَ بِنْتِ أَبِي عُبَيْدٍ، أَنَّهَا أَخْبَرَتْهُ أَنَّ حَفْصَةَ أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَرْسَلَتْ بِعَاصِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَعْدٍ إِلَى أُخْتِهَا فَاطِمَةَ بِنْتِ عُمَرَ تُرْضِعُهُ عَشْرَ رَضَعَاتٍ لِيَدْخُلَ عَلَيْهَا وَهُوَ صَغِيرٌ يَرْضَعُ، فَفَعَلَتْ فَكَانَ يَدْخُلُ عَلَيْهَا

Musnad Syafi’i 1083: Malik mengabarkan kepada kami dari Nafi’, dari Shafiyah binti Abu Ubaid, ia pernah mengabarkan kepadanya: Bahwa Hafshah Ummul Mukminin menyodorkan Ashim bin AbduUah bin Sa’ad kepada saudara perempuannya yang bernama Fathimah binti Amr untuk menyusukannya sebanyak 10 kali susuan agar dapat bebas masuk ke dalam rumahnya, sedangkan dia masih kecil dan memerlukan penyusuan; maka Fatimah menyusukannya. Karena itulah Ashim bisa masuk bebas ke dalam rumahnya 331

Musnad Syafi’i 1082

مسند الشافعي 1082: أَخْبَرَنَا مَالِكٌ، عَنْ نَافِعٍ، أَنَّ سَالِمَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ، أَخْبَرَهُ أَنَّ عَائِشَةَ زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرْسَلَتْ بِهِ وَهُوَ يَرْضَعُ إِلَى أُخْتِهَا أُمِّ كُلْثُومٍ فَأَرْضَعَتْهُ ثَلَاثَ رَضَعَاتٍ ثُمَّ مَرِضَتْ فَلَمْ تُرْضِعْهُ غَيْرَ ثَلَاثِ رَضَعَاتٍ، فَلَمْ أَكُنْ أَدْخُلُ عَلَى عَائِشَةَ مِنْ أَجْلِ أَنَّ أُمَّ كُلْثُومٍ لَمْ تَكْمُلْ لِي عَشْرَ رَضَعَاتٍ

Musnad Syafi’i 1082: Malik menceritakan kepada kami dari Nafi’ bahwa Salim bin Abdullah pernah mengabarkan kepadanya bahwa Aisyah -istri Nabi – pernah mengirim utusan kepadanya, sedangkan ia telah menyusu kepada saudara perempuan Aisyah, yaitu Ummu Kaltsum, yang menyusukannya sebanyak 3 kali susuan. Lalu Ummu Kaltsum sakit, maka ia tidak dapat menyusukannya selain dari 3 kali itu. (Salim bin Abdullah berkata), “Maka aku tidak berani masuk menemui Aisyah karena Ummu Kaltsum tidak menyempurnakan susuannya kepadaku sebanyak 10 kali susuan.” 330

Musnad Syafi’i 1081

مسند الشافعي 1081: أَخْبَرَنَا مَالِكٌ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي بَكْرِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ حَزْمٍ، عَنْ عَمْرَةَ بِنْتِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّهَا قَالَتْ: ” كَانَ فِيمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فِي الْقُرْآنِ عَشْرُ رَضَعَاتٍ مَعْلُومَاتٍ يُحَرِّمْنَ، ثُمَّ نُسِخْنَ بِخَمْسٍ مَعْلُومَاتٍ، فَتُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُنَّ مِمَّا يُقْرَأُ مِنَ الْقُرْآنِ

Musnad Syafi’i 1081: Malik mengabarkan kepada kami dari Abdullah bin Abu Bakar bin Muhammad bin Amr bin Hazm, dari Umrah binti Abdurrahman, dari Aisyah Ummul Mukminin yang menceritakan: Pada mulanya di antara apa yang diturunkan oleh Allah dalam Al Qur’an ialah 10 kali menyusu yang telah dimaklumi dapat menjadikan mahram, kemudian di-nasakh (direvisi) dengan 5 kali menyusu yang dimaklumi. Lalu Rasulullah wafat, sedangkan 5 kali menyusu itu masih tetap merupakan bagian yang dibaca dari Al Qur’an. 329

Musnad Syafi’i 1080

مسند الشافعي 1080: أَخْبَرَنَا مَالِكٌ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ سَهْلَةَ بِنْتَ سُهَيْلٍ أَنْ تُرْضِعَ سَالِمًا خَمْسَ رَضَعَاتٍ، فَتَحْرُمَ بِهِنَّ

Musnad Syafi’i 1080: Malik mengabarkan kepada kami dari Ibnu Syihab, dari Urwah bin Zubair: Rasulullah pernah memerintahkan Sahlah binti Suhail agar menyusui Salim sebanyak 5 kali susuan, maka ia menjadi mahram mereka. 328