Skip to main content

Musnad Syafi’i 1599

مسند الشافعي 1599: أَخْبَرَنَا مَالِكُ بْنُ أَنَسٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي بَكْرٍ، عَنْ أَبِيهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ فِي الْكِتَابُ، الَّذِي كَتَبَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِعَمْرِو بْنِ حَزْمٍ: «فِي النَّفْسِ مِائَةٌ مِنَ الْإِبِلِ»

Musnad Syafi’i 1599: Malik bin Anas mengabarkan kepada kami dari Abdullah bin Abu Bakar, dari ayahnya: Bahwa di dalam isi surat Rasulullah yang ditujukan kepada Amr bin Hazm mengenai membunuh jiwa diyatnya 100 ekor unta. 827

Musnad Syafi’i 1598

مسند الشافعي 1598: أَخْبَرَنَا إِبْرَاهِيمُ، عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ، عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ يَسَارٍ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَهَبَ إِلَى بِئْرِ جَمَلٍ لِحَاجَةٍ ثُمَّ أَقْبَلَ فَسَلَّمَ عَلَيْهِ رَجُلٌ فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيْهِ حَتَّى مَسَحَ يَدَهُ بِجِدَارٍ ثُمَّ رَدَّ عَلَيْهِ السَّلَامَ

Musnad Syafi’i 1598: Ibrahim mengabarkan kepada kami dari Yahya bin Sa’id, dari Sulaiman bin Yasar: Bahwa Nabi pergi ke sumur Jamal untuk membuang hajatnya, kemudian kembali; dan ada seorang lelaki mengucapkan salam kepada beliau, tetapi beliau tidak menjawabnya, melainkan mengusapkan tangannya ke tembok (untuk melakukan tayamum), setelah itu barulah beliau menjawab salamnya. 826

Musnad Syafi’i 1597

مسند الشافعي 1597: أَخْبَرَنَا الثِّقَةُ، عَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ الْحَمِيدِ، عَنْ مَنْصُورٍ، عَنْ مُجَاهِدٍ قَالَ: أَخْبَرَنِي مُصْعَبُ بْنُ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ، عَنْ أَبِيهِ، أَنَّهُ كَانَ إِذَا أَصَابَ ثَوْبَهُ الْمَنِيُّ إِنْ كَانَ رَطْبًا مَسَحَهُ، وَإِنْ كَانَ يَابِسًا حَتَّهُ ثُمَّ صَلَّى فِيهِ

Musnad Syafi’i 1597: Orang yang terpercaya mengabarkan kepada kami dari Jarir bin Abdul Hamid, dari Manshur, dari Mujahid bahwa Mush’ab bin Sa’d bin Abu Waqqash menceritakan kepadaku dari ayahnya: Bahwa Sa’d bin Abu Waqqash apabila kainnya terkena air mani, jika air maninya itu basah, maka diusapnya; dan bila kering, maka dikeriknya; kemudian ia shalat memakai kain itu. 825

Musnad Syafi’i 1596

مسند الشافعي 1596: أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ، عَنْ عَمْرِو بْنِ دِينَارٍ، وَابْنِ جُرَيْجٍ، كِلَاهُمَا يُخْبِرُهُ عَنْ عَطَاءٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّهُ قَالَ فِي الْمَنِيِّ يُصِيبُ الثَّوْبَ قَالَ: ” أَمِطْهُ عَنْكَ، قَالَ أَحَدُهُمَا: بِعُودٍ أَوْ إِذْخِرَةٍ، فَإِنَّمَا هُوَ بِمَنْزِلَةِ الْبُصَاقِ وَالْمُخَاطِ “

Musnad Syafi’i 1596: Sufyan mengabarkan kepada kami dari Amr bin Dinar dan Ibnu Juraij, keduanya mengabarkan hadis ini dari Atha’ bin Abu Rabbah, dari Ibnu Abbas bahwa ia pernah mengatakan sehubungan dengan masalah air mani yang mengenai kain, “Lenyapkanlah air mani itu darimu.” Salah satunya —antara Amr dan Ibnu Juraij— berkata, “Dengan kayu atau idzkir. Sesungguhnya air mani itu sama dengan air ludah dan dahak.” 824

Musnad Syafi’i 1595

مسند الشافعي 1595: أَخْبَرَنَا يَحْيَى بْنُ حَسَّانَ، عَنْ حَمَّادِ بْنِ سَلَمَةَ، عَنْ حَمَّادِ بْنِ أَبِي سُلَيْمَانَ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ، عَنْ عَلْقَمَةَ، وَالْأَسْوَدِ، عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: «كُنْتُ أَفْرُكُ الْمَنِيَّ مِنْ ثَوْبِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي فِيهِ»

Musnad Syafi’i 1595: Yahya bin Hisan mengabarkan kepada kami dari Hammad bin Sulaiman, dari Ibrahim, dari Alqamah dan Al Aswad, dari Aisyah , ia berkata, “Aku pernah mengerik bekas air mani Rasulullah , kemudian beliau shalat dengan memakai kain itu.” 823

Musnad Syafi’i 1594

مسند الشافعي 1594: أَخْبَرَنَا ابْنُ عُيَيْنَةَ، عَنْ مَنْصُورٍ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ، عَنْ هَمَّامِ بْنِ الْحَارِثِ، عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: «كُنْتُ أَفْرُكُ الْمَنِيَّ مِنْ ثَوْبِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ»

Musnad Syafi’i 1594: Ibnu Uyainah mengabarkan kepada kami dari Manshur, dari Ibrahim bin Hammam bin Harits, dari Aisyah, ia berkata, “Aku pernah mengerik bekas air mani dari kain Rasulullah .”822

Musnad Syafi’i 1593

مسند الشافعي 1593: أَخْبَرَنَا ابْنُ عُلَيَّةَ، عَنْ عَلِيِّ بْنِ زَيْدِ بْنِ جُدْعَانَ، عَنِ الْقَاسِمِ بْنِ رَبِيعَةَ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «أَلَا إِنَّ فِي قَتْلِ الْعَمْدِ الْخَطَإِ بِالسَّوْطِ وَالْعَصَا مِائَةً مِنَ الْإِبِلِ مُغَلَّظَةً، مِنْهَا أَرْبَعُونَ خَلِفَةً فِي بُطُونِهَا أَوْلَادُهَا»

Musnad Syafi’i 1593: Ibnu Uyainah mengabarkan kepada kami dari Ali bin Zaid, dari Ibnu Jud’an, dari Al Qasim bin Rabi’ah, dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah telah bersabda, “Ingatlah bahwa dalam kasus pembunuhan sengaja tetapi tersalah (keliru) dengan memakai cambuk dan tongkat, diyatnya diberatkan 100 ekor unta, 40 ekor di antaranya unta khilfah yang di dalam perutnya terdapat anaknya (sedang mengandung).” 821

Musnad Syafi’i 1592

مسند الشافعي 1592: أَخْبَرَنَا ابْنُ عُيَيْنَةَ، عَنْ عَمْرِو بْنِ دِينَارٍ، عَنْ طَاوُسٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: «مَنْ قُتِلَ فِي عِمِّيَّةٍ فِي رِمِّيَّا تَكُونُ بَيْنَهُمْ بِحِجَارَةٍ أَوْ جَلْدٍ بِالسَّوْطِ أَوْ ضَرْبٍ بِعَصًا فَهُوَ خَطَأٌ، عَقْلُهُ عَقْلُ الْخَطَإِ، وَمَنْ قُتِلَ عَمْدًا فَهُوَ قَوَدُ يَدِهِ، فَمَنْ حَالَ دُونَهُ فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللَّهِ وَغَضَبُهِ، لَا يُقْبَلُ مِنْهُ صَرْفٌ وَلَا عَدْلٌ»

Musnad Syafi’i 1592: Ibnu Uyainah mengabarkan kepada kami dari Amr bin Dinar, dari Thawus, dari Nabi SAW bahwa beliau pernah bersabda, “Barangsiapa yang terbunuh dalam keadaan misteri di antara mereka dengan batu atau didera dengan cambuk atau dipukul dengan tongkat, maka hal itu dikategorikan pembunuhan tersalah, dan diyatnya ialah diyat pembunuhan tersalah. Barangsiapa yang terbunuh dengan sengaja, maka pembunuhnya di-qishash dengan tangan terikat, dan barangsiapa yang menghalang-halangi hukuman qishash, maka atas dirinya laknat Allah dan kemurkaan-Nya, amal wajib dan amal sunahnya tidak diterima.”820

Musnad Syafi’i 1575

مسند الشافعي 1575: سَمِعْتُ الرَّبِيعَ، يَقُولُ: «مَاتَ الشَّافِعِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ سَنَةَ أَرْبَعٍ وَمِائَتَيْنِ فِي آخِرِ يَوْمٍ مِنْ رَجَبٍ» ، وَسُئِلَ عَنْ سِنِّهِ فَقَالَ: «نَيِّفٌ وَخَمْسُونَ سَنَةً»

Musnad Syafi’i 1575: Aku pernah mendengar Ar-Rabi’ bin Sulaiman berkata, “Imam Asy-Syafi’i wafat pada tahun 204 hijriyah di akhir bulan Rajab.” Ia ditanya mengenai usia Imam Asy-Syafi’i, maka ia menjawab, “50 tahun lebih.”

Musnad Syafi’i 1574

مسند الشافعي 1574: سَمِعْتُ الرَّبِيعَ، يَقُولُ: سَمِعْتُ الشَّافِعِيَّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ: «لَوْلَا مَالِكٌ وَسُفْيَانُ لَذَهَبَ عِلْمُ الْحِجَازِ»

Musnad Syafi’i 1574: Aku mendengar Ar-Rabi’ mengatakan bahwa ia pernah mendengar Imam Asy-Syafi’i berkata, “Seandainya tidak ada Malik dan Sufyan, niscaya akan hilanglah ilmu Hijaz.”803