Skip to main content

Musnad Syafi’i 287

مسند الشافعي 287: أَخْبَرَنَا مَالِكٌ، عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ، عَنْ أَبِيهِ، أَنَّ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَرَأَ بِذَلِكَ عَلَى الْمِنْبَرِ

Musnad Syafi’i 287: Malik mengabarkan kepada kami dari Hisyam bin Urwah. dari ayahnya bahwa Umar pernah membaca hal tersebut di atas mimbar. 293

Musnad Syafi’i 286

مسند الشافعي 286: أَخْبَرَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُحَمَّدٍ، حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ عَمْرِو بْنِ حَلْحَلَةَ، عَنْ أَبِي نُعَيْمٍ وَهْبَ بْنِ كَيْسَانَ، عَنْ حَسَنِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عَلِيِّ أَبِي طَالِبٍ أَنَّ عُمَرَ، كَانَ يَقْرَأُ فِي خُطْبَتِهِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ: إِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ حَتَّى بَلَغَ: {عَلِمَتْ نَفْسٌ مَا أَحَضَرَتْ} [التكوير: 14] ثُمَّ يَقْطَعُ السُّورَةَ

Musnad Syafi’i 286: Ibrahim bin Muhammad mengabarkan kepada kami, Muhammad bin Amr bin Halhalah menceritakan kepadaku dari Abu Nu’aim Wahb bin Kaisan, dari Hasan bin Muhammad bin Ali bin Abu Thalib bahwa Umar sering membaca surah “Idzasy-syamsu kuwwirat” sampai dengan firman-Nya “Alimat nafsum maa ahdharat” dalam khutbahnya di hari Jum’at, kemudian menghentikan bacaan surahnya,292

Musnad Syafi’i 285

مسند الشافعي 285: أَخْبَرَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُحَمَّدٍ، حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي بَكْرِ بْنِ حَزْمٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ سَعْدِ بْنِ زُرَارَةَ، عَنْ أُمِّ هِشَامٍ بِنْتِ حَارِثَةَ بْنِ النُّعْمَانِ، مِثْلَهُ. قَالَ إِبْرَاهِيمُ: وَلَا أَعْلَمُنِي إِلَّا سَمِعْتُ أَبَا بَكْرِ بْنَ حَزْمٍ يَقْرَأُ بِهَا يَوْمَ الْجُمُعَةِ عَلَى الْمِنْبَرِ قَالَ إِبْرَاهِيمُ: سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ أَبِي بَكْرٍ يَقْرَأُ بِهَا وَهُوَ يَوْمَئِذٍ قَاضٍ عَلَى الْمَدِينَةِ عَلَى الْمِنْبَرِ

Musnad Syafi’i 285: Ibrahim bin Muhammad mengabarkan kepada kami, ia mengatakan: Muhammad bin Abu Bakar bin Hazm menceritakan kepadaku dari Muhammad bin Abdurrahman bin Sa’d bin Zararah, dari Ummu Hisyam binti Haritsah bin An-Nu’man dengan redaksi yang semisal. Ibrahim berkata, “Tidak ada yang memberitahuku melainkan aku mendengar Abu Bakar bin Hazm membaca surah ini pada hari Jum’at di atas mimbar.” Ibrahim juga berkata, “Aku mendengar Muhammad bin Abu Bakar membacanya di atas mimbar, ketika itu ia menjabat sebagai qadhi Madinah.” 291

Musnad Syafi’i 284

مسند الشافعي 284: أَخْبَرَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُحَمَّدٍ، حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي بَكْرِ بْنِ حَزْمٍ، عَنْ خُبَيْبِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ إِسَافٍ، عَنْ أُمِّ هِشَامٍ بِنْتِ حَارِثَةَ بْنِ النُّعْمَانِ، أَنَّهَا سَمِعَتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ بِقَافْ وَهُوَ يَخْطُبُ عَلَى الْمِنْبَرِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ، وَإِنَّهَا لَمْ تَحْفَظْهَا إِلَّا مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَهُوَ عَلَى الْمِنْبَرِ لِكَثْرَةِ مَا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ بِهَا يَوْمَ الْجُمُعَةِ عَلَى الْمِنْبَرِ

Musnad Syafi’i 284: Ibrahim bin Muhammad mengabarkan kepada kami, Abdullah bin Abu Bakar bin Hazm menceritakan kepadaku dari Khubaib bin Abdurrahman bin Isaf, dari Ummu Hisyam binti Haritsah bin An-Nu’man: Bahwa ia pernah mendengar Nabi membaca surah Qaf ketika beliau sedang berkhutbah di atas mimbarnya. Dan ia tidak hafal surah ini melainkan dari Nabi di hari Jum’at ketika beliau berada di atas mimbar, karena Nabi sering membaca surah ini di atas mimbarnya pada hari Jum’at. 290

Musnad Syafi’i 283

مسند الشافعي 283: أَخْبَرَنَا عَبْدُ الْمَجِيدِ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ، عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ قَالَ: ” قُلْتُ لِعَطَاءٍ: أَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُومُ عَلَى عَصًا إِذَا خَطَبَ؟ قَالَ: نَعَمْ، كَانَ يَعْتَمِدُ عَلَيْهَا اعْتِمَادًا “

Musnad Syafi’i 283: Abdul Majid bin Abdul Aziz mengabarkan kepada kami dari Ibnu Juraij, ia mengatakan: Aku pernah bertanya kepada Atha’, “Apakah dahulu Rasulullah berdiri dengan bertopang pada tongkat di saat berkhutbah?” Atha menjawab, “Ya, beliau bertopang pada tongkat dengan sebenar-benarnya.” 289

Musnad Syafi’i 282

مسند الشافعي 282: أَخْبَرَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُحَمَّدٍ، عَنْ صَالِحٍ، مَوْلَى التَّوْأَمَةِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ أَنَّهُمْ «كَانُوا يَخْطُبُونَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ خُطْبَتَيْنِ عَلَى الْمِنْبَرِ قِيَامًا يَفْصِلُونَ بَيْنَهُمَا بِجُلُوسٍ، حَتَّى جَلَسَ مُعَاوِيَةُ فِي الْخُطْبَةِ الْأُولَى فَخَطَبَ جَالِسًا وَخَطَبَ فِي الثَّانِيَةِ قَائِمًا»

Musnad Syafi’i 282: Ibrahim bin Muhammad mengabarkan kepada kami dari Shalih mantan budak At-Tauamah, dari Abu Hurairah , dari Nabi , Abu Bakar, Umar dan Utsman radhiyallahu ‘anhum: Bahwa mereka selalu melakukan khutbah pada hari Jum’at sebanyak 2 kali dengan berdiri. Mereka memisahkan di antara keduanya dengan duduk, hingga duduklah Muawiyah dalam khutbah pertamanya. Ia melakukan khutbah sambil duduk, dan pada khutbah yang kedua ia lakukan dengan berdiri. 288

Musnad Syafi’i 297

مسند الشافعي 297: أَخْبَرَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُحَمَّدٍ، حَدَّثَنِي سُهَيْلُ بْنُ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِذَا قَامَ أَحَدُكُمْ مِنْ مَجْلِسِهِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ ثُمَّ رَجَعَ إِلَيْهِ فَهُوَ أَحَقُّ بِهِ»

Musnad Syafi’i 297: Ibrahim bin Muhammad mengabarkan kepada kami, Suhail bin Abu Shalih menceritakan kepada kami, dari bapaknya dari Abu Hurairah , dari Nabi , “Jika salah seorang kalian berdiri dari tempat duduknya pada saat jum’atan, kemudian kembali kepadanya, maka ia yang lebih berhak akan hal itu.”303

Musnad Syafi’i 281

مسند الشافعي 281: أَخْبَرَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُحَمَّدٍ، حَدَّثَنِي عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ، عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِثْلَهُ

Musnad Syafi’i 281: Ibrahim bin Muhammad mengabarkan kepada kami, Ubaidillah bin Umar menceritakan kepadaku dari Nafi’, dari Ibnu Umar, dari Nabi SAW dengan redaksi yang semisal. 287

Musnad Syafi’i 264

مسند الشافعي 264: أَخْبَرَنَا الثِّقَةُ عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنِ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ، أَنَّ الْأَذَانَ، كَانَ أَوَّلُهُ لِلْجُمُعَةِ حِينَ يَجْلِسُ الْإِمَامُ عَلَى الْمِنْبَرِ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ، فَلَمَّا كَانَ [ص:62] خِلَافَةُ عُثْمَانَ وَكَثُرَ النَّاسُ أَمَرَ عُثْمَانُ بِأَذَانٍ ثَانٍ فَأُذِّنَ بِهِ، فَثَبَتَ الْأَمْرُ عَلَى ذَلِكَ وَكَانَ عَطَاءٌ يُنْكِرُ أَنْ يَكُونَ أَحْدَثَهُ عُثْمَانُ وَيَقُولُ: «أَحْدَثَهُ مُعَاوِيَةُ» ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Musnad Syafi’i 264: Orang yang dapat dipercaya mengabarkan kepada kami dari Az-Zuhri dari As-Sa’ib bin Yazid, bahwa kumandang adzan pada awalnya adalah untuk shalat jum’at pada zaman Rasulullah , Abu Bakar dan Umar, yaitu saat imam duduk di atas minbar, namun ketika kekhalifahan Utsman, dan banyaknya para jamaah, Utsman memerintahkan untuk mengumandangkan adzan kedua, lalu dikumandangkanlah adzan dan perintah tetap seperti itu. Dalam hal ini Atha’ mengingkari jika ada yang mengatakan bahwa Utsman telah membuat hal baru, dan ia berkata, “Mu’awiyah yang telah membuat hal baru.” Wallahu a’lam. 270

Musnad Syafi’i 248

مسند الشافعي 248: أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ، عَنْ أَبِي حَازِمٍ قَالَ: ” سَأَلُوا سَهْلَ بْنَ سَعْدٍ: مِنْ أَيِّ شَيْءٍ مِنْبَرُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ قَالَ: مَا بَقِيَ مِنَ النَّاسِ أَحَدٌ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي، مِنْ أَثْلِ الْغَابَةِ، عَمِلَهُ لَهُ فُلَانٌ مَوْلَى فُلَانَةَ، وَلَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ صَعِدَ عَلَيْهِ اسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ فَكَبَّرَ ثُمَّ قَرَأَ، ثُمَّ رَجَعَ، ثُمَّ نَزَلَ الْقَهْقَرَى فَسَجَدَ، ثُمَّ صَعِدَ فَقَرَأَ، ثُمَّ رَجَعَ، ثُمَّ نَزَلَ الْقَهْقَرَى، ثُمَّ سَجَدَ

Musnad Syafi’i 248: Sufyan mengabarkan kepada kami dari Abu Hazim, ia mengatakan: Ada segolongan orang memperdebatkan masalah mimbar, lalu mereka menanyakan kepada Sahl bin Sa’d, “Dari apakah mimbar Rasulullah dibuat?” Sahl menjawab, “Tiada seorang pun yang masih hidup lebih mengetahui mengenai mimbar itu selain diriku. Mimbar itu terbuat dari kayu hutan yang disebut kayu atsal, dibuat oleh si fulan maula fulanah. Dan sesungguhnya aku pernah melihat Rasulullah ketika naik ke atasnya menghadap ke arah kiblat, lalu bertakbir dan membaca (Al Qur’an), kemudian ruku, lalu turun dengan berjalan mundur, setelah itu beliau sujud, kemudian naik lagi dan membaca (Al Qur’an), lalu ruku; sesudah itu turun dengan berjalan mundur, kemudian sujud.”254