Skip to main content

Sunan Daruquthni 4316

سنن الدارقطني 4316: نا الْحُسَيْنُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ , نا أَبُو هِشَامٍ الرِّفَاعِيُّ , نا أَبُو بَكْرِ بْنُ عَيَّاشٍ , نا أَبُو حُصَيْنٍ , عَنْ أَبِي عَطِيَّةَ , قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى أَبِي مُوسَى , فَقَالَ: إِنَّ امْرَأَتِي وَرَمَ ثَدْيُهَا فَمَصَصْتُهُ فَدَخَلَ فِي حَلْقِي شَيْءٌ سَبَقَنِي , فَشَدَّدَ عَلَيْهِ أَبُو مُوسَى , فَأَتَى عَبْدَ اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ , فَقَالَ: «سَأَلْتَ أَحَدًا غَيْرِي؟» , قَالَ: نَعَمْ أَبَا مُوسَى فَشَدَّدَ عَلَيَّ , فَأَتَى أَبَا مُوسَى , فَقَالَ: «أَرَضِيعٌ هَذَا؟» , فَقَالَ أَبُو مُوسَى: لَا تَسْأَلُونِي مَا دَامَ هَذَا الْحَبْرُ بَيْنَ أَظْهُرِكُمْ

Sunan Daruquthni 4316: Al Husain bin Ismail menceritakan kepada kami, Abu Hisyam Ar-Rifa’i menceritakan kepada kami, Abu Bakar bin Ayyasy menceritakan kepada kami, Abu Hushain menceritakan kepada kami dari Abu Athiyyah, dia berkata, “Seorang laki-laki datang kepada Abu Musa lalu berkata, ‘Sesungguhnya payudara istriku bengkak, lalu aku mengisapnya, kemudian ada yang masuk ke dalam tenggorokanku.’ Abu Musa lantas berkata perkataan yang keras terhadapnya, kemudian laki-laki itu menemui Abdullah bin Mas’ud, maka dia pun berkata, ‘Apakah engkau telah menanyakan kepada orang lain?’ Ia menjawab, ‘Ya, Abu Musa, dan ia berkata perkataan yang keras terhadapku.’ Lalu Ibnu Mas’ud mendatangi Abu Musa, kemudian berkata, ‘Apakah orang ini masih menyusui?’ Abu Musa berkata, ‘Janganlah kalian bertanya kepadaku selama orang berilmu ini ada di tengah kalian’. ‘

Sunan Daruquthni 4301

سنن الدارقطني 4301: نا إِسْمَاعِيلُ بْنُ مُحَمَّدٍ الصَّفَّارُ , نا الْعَبَّاسُ بْنُ مُحَمَّدٍ , نا أَحْمَدُ بْنُ الْمُفَضَّلِ , بِهَذَا الْإِسْنَادِ مِثْلَهُ

Sunan Daruquthni 4301: Ismail bin Muhammad Ash-Shaffar menceritakan kepada kami, Al Abbas bin Muhammad menceritakan kepada kami, Ahmad bin Al Mufadhdhal menceritakan kepada kami, dengan isnad ini dan redaksi yang sama.

Sunan Daruquthni 4317

سنن الدارقطني 4317: نا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ , نا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ , نا طَلْحَةُ بْنُ يَحْيَى , عَنْ يُونُسَ , عَنِ ابْنِ شِهَابٍ , عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ , عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ , قَالَ: كَانَ يَقُولُ: «لَا رَضَاعَ بَعْدَ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ»

Sunan Daruquthni 4317: Abdullah bin Muhammad bin Abdul Aziz menceritakan kepada kami, Utsman bin Abu Syaibah menceritakan kepada kami, Thalhah bin Yahya menceritakan kepada kami dari Yunus, dari Ibnu Syihab, dari Ubaidullah, dari Ibnu Abbas, dia pernah berkata, “Tidak dianggap penyusuan setelah dua tahun sempurna.”

Sunan Daruquthni 4302

سنن الدارقطني 4302: نا إِبْرَاهِيمُ بْنُ حَمَّادٍ , نا عَلِيُّ بْنُ حَرْبٍ , نا زَيْدُ بْنُ الْحُبَابِ , نا عُمَرُ بْنُ عُثْمَانَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ سَعِيدٍ الْمَخْزُومِيُّ , حَدَّثَنِي أَبِي , عَنْ جَدِّي , أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَوْمَ فَتْحِ مَكَّةَ: ” أَرْبَعَةٌ لَا أُؤَمِّنُهُمْ فِي حَلٍّ وَلَا حَرَمٍ: الْحُوَيْرِثُ بْنُ نُقَيْدٍ , وَمَقِيسُ بْنُ ضَبَابَةَ , وَهِلَالُ بْنُ خَطَلٍ , وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَعْدِ بْنِ أَبِي سَرْحٍ ” , وَذَكَرَ بَاقِيَ الْحَدِيثِ

Sunan Daruquthni 4302: Ibrahim bin Hammad menceritakan kepada kami, Ali bin Harb menceritakan kepada kami, Zaid bin Al Hubab menceritakan kepada kami, Umar bin Utsman bin Abdurrahman bin Sa’id Al Makhzumi menceritakan kepada kami, ayahku menceritakan kepadaku, dari kakekku, bahwa Pada saat penaklukkan Makkah Rasulullah SAW bersabda, “Empat orang yang tidak aku lindungi, baik di tanah halal maupun di tanah haram: Al Huwairits bin Nuqaid, Miqyas bin Dhubabah, Hilal bin Khathal dan Abdullah bin Sa’d bin Abu Sarh.” Lalu ia menyebutkan sisa redaksi hadisnya.

Sunan Daruquthni 4318

سنن الدارقطني 4318: نا الْحُسَيْنُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ , وَإِبْرَاهِيمُ بْنُ دُبَيْسِ بْنِ أَحْمَدَ , وَغَيْرُهُمَا قَالُوا: نا أَبُو الْوَلِيدِ بْنُ بُرْدٍ الْأَنْطَاكِيُّ , نا الْهَيْثَمُ بْنُ جَمِيلٍ , نا سُفْيَانُ , عَنْ عَمْرِو بْنِ دِينَارٍ , عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ , قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَا رَضَاعَ إِلَّا مَا كَانَ فِي الْحَوْلَيْنِ». لَمْ يُسْنِدْهُ عَنِ ابْنِ عُيَيْنَةَ غَيْرُ الْهَيْثَمِ بْنِ جَمِيلٍ وَهُوَ ثِقَةٌ حَافِظٌ

Sunan Daruquthni 4318: Al Husain bin Ismail, Ibrahim bin Dubais bin Ahmad dan lainnya menceritakan kepada kami, mereka berkata: Abu Al Walid bin Burd Al Anthaki menceritakan kepada kami, Al Haitsam bin Jamil menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami dari Amr bin Dinar, dari Ibnu Abbas, Rasulullah SAW bersabda, “Tidak dianggap penyusuan kecuali dalam masa dua tahun (pertama)” Tidak ada yang menisbatkan kepada Ibnu Uyainah selain Al Haitsam bin Jamil, dia adalah perawi tsiqah lagi hafizh.

Sunan Daruquthni 4303

سنن الدارقطني 4303: نا مُحَمَّدُ بْنُ مَخْلَدٍ , نا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ , حَدَّثَنِي صَالِحُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ التِّرْمِذِيُّ , حَدَّثَنِي يَحْيَى بْنُ زَكَرِيَّا بْنِ أَبِي زَائِدَةَ , عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ أَبِي الْقَاسِمِ , عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ , عَنْ أَبِيهِ , عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ , قَالَ: كَانَ تَمِيمٌ الدَّارِيُّ , وَعَدِيُّ بْنُ بَدَّاءٍ وَكَانَا يَخْتَلِفَانِ إِلَى مَكَّةَ بِالتِّجَارَةِ فَخَرَجَ رَجُلٌ مِنْ بَنِي سَهْمٍ فَتُوُفِّيَ بِأَرْضٍ لَيْسَ بِهَا مُسْلِمٌ , فَأَوْصَى إِلَيْهِمَا فَدَفَعَا تَرِكَتَهُ إِلَى أَهْلِهِ وَحَبَسَا جَامًا مِنْ فِضَّةٍ مُخَوَّصًا بِالذَّهَبِ , «فَاسْتَحْلَفَهُمَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا كَتَمْتُمَا وَلَا اطَّلَعْتُمَا» , ثُمَّ عُرِفَ الْجَامُ بِمَكَّةَ , فَقَالُوا: اشْتَرَيْنَاهُ مِنْ عَدِيِّ بْنِ بَدَّاءٍ وَتَمِيمٍ , فَقَدِمَ رَجُلَانِ مِنْ أَوْلِيَاءِ السَّهْمِيِّ فَحَلَفَا بِاللَّهِ أَنَّ هَذَا الْجَامَ لِلسَّهْمِيِّ وَلَشَهَادَتُهُمَا أَحَقُّ مِنْ شَهَادَتِهِمَا {وَمَا اعْتَدَيْنَا إِنَّا إِذًا لَمِنَ الظَّالِمِينَ} [المائدة: 107] , فَأَخَذُوا الْجَامَ وَفِيهِمْ نَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ

Sunan Daruquthni 4303: Muhammad bin Makhlad menceritakan kepada kami, Abdullah bin Ahmad bin Hanbal menceritakan kepada kami, Shalih bin Abdullah At-Tirmidzi menceritakan kepadaku, Yahya bin Zakariyya bin Abu Za’idah menceritakan kepadaku, dari Muhammad Abu Al Qasim, dari Abdul Malik bin Sa’id Ibnu Jubair, dari ayahnya, dari Ibnu Abbas, dia berkata, “Tamim Ad-Dari dan Adi bin Badda’ pernah bersama-sama pergi berniaga ke Makkah, 1alu seorang laki-laki dari bani Sahm berangkat pula, kemudian dia (hampir) meninggal di suatu tempat yang tidak ada muslimnya, maka ia berwasiat kepada keduanya, lalu keduanya menyerahkan harta peninggalannya kepada keluarganya, sementara mereka berdua menyembunyikan guci perak yang disepuh emas. Rasulullah SAW kemudian meminta keduanya bersumpah, bahwa kalian berdua tidak menyembunyikan dan tidak memakan. ‘Kemudian guci itu diketahui ada di Makkah, mereka pun berkata, ‘Kami membelinya dari Adi bin Badda’ dan Tamim.’ Lalu dua laki-laki dari wali orang Sahm itu datang, kemudian keduanya bersumpah dengan menyebut nama Allah, bahwa guci itu milik orang Sahm itu, dan bahwa kesaksian mereka lebih layak diterima daripada kesaksian kedua orang itu (Adi dan Tamim). ‘Kami tidak melanggar batas, jika demikian berarti kami termasuk orang-orang yang zhalim.’ (Qs. Al Maa’idah [5]: 107) Lalu mereka mengambil guci tersebut. Berkenaan dengan mereka itu turunlah ayat ini.”

Sunan Daruquthni 4319

سنن الدارقطني 4319: نا أَبُو رَوْقٍ الْهَمْدَانِيُّ , نا أَحْمَدُ بْنُ رَوْحٍ , نا سُفْيَانُ , عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ , عَنِ ابْنِ عُمَرَ , قَالَ: سَمِعْتُ عُمَرَ , يَقُولُ: «لَا رَضَاعَ إِلَّا فِي الْحَوْلَيْنِ فِي الصِّغَرِ»

Sunan Daruquthni 4319: Abu Rauq Al Hamdani menceritakan kepada kami, Ahmad bin Rauh menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami dari Abdullah bin Dinar, dari Ibnu Umar, dia berkata, Aku mendengar Umar berkata, “Tidak ada penyusuan kecuali dalam dua tahun sewaktu kecil.”

Sunan Daruquthni 4304

سنن الدارقطني 4304: نا أَحْمَدُ بْنُ إِسْحَاقَ بْنِ بُهْلُولٍ , نا الْحُسَيْنُ بْنُ الْحَكَمِ بْنِ مُسْلِمٍ الْوَشَّاءُ , نا الْحَسَنُ بْنُ الْحُسَيْنِ الْعُرَنِيُّ , نا أَبُو كُدَيْنَةَ يَحْيَى بْنُ الْمُهَلَّبِ , عَنْ عَطَاءِ بْنِ السَّائِبِ , عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ , عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ , قَالَ: كَانَ تَمِيمٌ الدَّارِيُّ , وَعَدِيُّ يَخْتَلِفَانِ إِلَى مَكَّةَ فَخَرَجَ مَعَهُمَا فَتًى مِنْ بَنِي سَهْمٍ فَتُوُفِّيَ بِأَرْضٍ لَيْسَ بِهَا مُسْلِمٌ , فَأَوْصَى إِلَيْهِمَا فَدَفَعَا تَرِكَتَهُ إِلَى أَهْلِهِ وَحَبَسَا جَامًا مِنْ فِضَّةٍ مُخَوَّصًا بِالذَّهَبِ , «فَاسْتَحْلَفْهُمَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِاللَّهِ مَا كَتَمْتُمَا وَلَا اطَّلَعْتُمَا» ثُمَّ وُجِدَ الْجَامُ بِمَكَّةَ , قَالُوا: اشْتَرَيْنَاهُ مِنْ عَدِيٍّ وَتَمِيمٍ , فَجَاءَ رَجُلَانِ مِنْ وَرَثَةِ السَّهْمِيِّ فَحَلَفَا أَنَّ هَذَا الْجَامَ لِلسَّهْمِيِّ وَلَشَهَادَتُهُمَا أَحَقُّ مِنْ شَهَادَتِهِمَا {وَمَا اعْتَدَيْنَا إِنَّا إِذًا لِمَنِ الظَّالِمِينَ} [المائدة: 107] , فَأَخَذُوا الْجَامَ وَفِيهِمْ نَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ

Sunan Daruquthni 4304: Ahmad bin Ishaq bin Buhlul menceritakan kepada kami, Al Husain bin Al Hakam bin Muslim Al Wasysya” menceritakan kepada kami, Al Hasan bin Al Husain Al Urani menceritakan kepada kami, Abu Kudainah Yahya bin Al Muhallab menceritakan kepada kami dari Atha’ bin As-Sa’ib, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas, dia berkata, “Tamim Ad-Dari dan Adi pernah berangkat bersama ke Makkah, lalu berangkat pula bersama mereka berdua seorang pemuda dari bani Sahm, lalu pemuda itu (hampir) meninggal di suatu tempat yang tidak ada muslimnya. Maka dia pun berwasiat kepada keduanya, lalu keduanya menyerahkan harta peninggalan pemuda itu kepada keluarganya dan menyembunyikan sebuah guci perak yang disepuh emas. Lalu Rasulullah SAW meminta mereka berdua bersumpah dengan menyebut nama Allah, bahwa kalian bedua tidak menyembunyikan dan tidak memakan. Kemudian, guci tersebut ditemukan di Makkah, mereka berkata, ‘Kami membelinya dari Adi dan Tamim.’ Lalu dua orang dari ahli waris orang Sahm datang, lalu bersumpah, bahwa guci itu milik orang Sahm tersebut, dan bahwa kesaksian mereka berdua lebih layak diterima daripada kesaksian kedua orang itu (Adi dan Tamim), {dan kami tidak melanggar batas, sebab bila demikian berarti kami termasuk orang-orang yang zhalim}. (Qs. Al Maa’idah [5]: 107) Lalu mereka mengambil guci tersebut. Berkenaan dengan mereka, turunlah ayat ini.

Sunan Daruquthni 4320

سنن الدارقطني 4320: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مَنْصُورٍ , نا عَمْرُو بْنُ عَلِيٍّ , نا مُعَاذُ بْنُ هِشَامٍ ح وثنا أَبُو حَامِدِ بْنُ هَارُونَ نا يَعْقُوبُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ بْنِ حَمَّادِ بْنِ زَيْدٍ , نا مُعَاذُ بْنُ هِشَامٍ , حَدَّثَنِي أَبِي , عَنْ قَتَادَةَ ح وَنا الْقَاسِمُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ بُلْبُلٍ أَبُو أَحْمَدَ , نا الْحَسَنُ بْنُ سَلَّامٍ , نا عَفَّانُ , نا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ , عَنْ قَتَادَةَ , عَنْ أَبِي الْخَلِيلِ , عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَارِثِ , عَنْ أُمِّ الْفَضْلِ , أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنِ الْمَصَّةِ الْوَاحِدَةِ أَتُحَرِّمُ؟ , قَالَ: «لَا». وَقَالَ أَبُو حَامِدٍ: إِنَّ رَجُلًا مِنْ بَنِي عَامِرِ بْنِ صَعْصَعَةَ قَالَ: يَا نَبِيَّ اللَّهِ أَتُحَرِّمُ الرَّضْعَةُ الْوَاحِدَةُ؟ , قَالَ: «لَا»

Sunan Daruquthni 4320: Muhammad bin Manshur menceritakan kepada kami, Amr bin Ali menceritakan kepada kami, Mu’adz bin Hisyam menceritakan kepada kami (h) Abu Hamid bin Harun menceritakan kepada kami, Ya’qub bin Ismail bin Hammad bin Zaid menceritakan kepada kami, Mu’adz bin Hisyam menceritakan kepada kami, ayahku menceritakan kepadaku, dari Qatadah (h) Al Qasim bin Abdullah bin Abdurrahman bin Bulbul Abu Ahmad menceritakan kepada kami, Al Hasan bin Salam menceritakan kepada kami, Affan menceritakan kepada kami, Hammad bin Salamah menceritakan kepada kami dari Qatadah, dari Abu Al Khalil, dari Abdullah bin Al Harits, dari Ummu Al Fadhl, bahwa Rasulullah SAW pernah ditanya tentang satu isapan (penyusuan), apakah itu mengharamkan (menyebabkan jadi mahram)? Beliau menjawab, “Tidak.” Abu Hamid berkata, bahwa seorang laki-laki dari bani Amir bin Sha’sha’ah berkata, “Wahai Nabiyullah, apakah satu penyusuan mengharamkan?” Beliau menjawab, ‘Tidak.”

Sunan Daruquthni 4305

سنن الدارقطني 4305: نا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ , وَأَحْمَدُ بْنُ الْحُسَيْنِ بْنِ الْجُنَيْدِ , قَالَا: نا الْحَسَنُ بْنُ عَرَفَةَ , نا عَبْدُ الرَّحِيمِ بْنُ سُلَيْمَانَ , عَنْ مُجَالِدٍ , عَنِ الشَّعْبِيِّ , عَنْ جَابِرٍ , قَالَ: أُتِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَهُودِيٍّ وَيَهُودِيَّةٍ قَدْ زَنَيَا , فَقَالَ لِلْيَهُودِ: «مَا يَمْنَعُكُمَا أَنْ تُقِيمُوا عَلَيْهِمَا الْحَدَّ؟» , فَقَالُوا: كُنَّا نَفْعَلُ إِذْ كَانَ ذَلِكَ فِينَا فَلَمَّا ذَهَبَ مُلْكُنَا فَلَا نَجْتَرِئُ عَلَى الْفِعْلِ , فَقَالَ لَهُمُ: «ائْتُونِي بِأَعْلَمَ رَجُلَيْنِ فِيكُمْ» , فَأَتَوْهُ بِابْنَيْ صُورِيَا فَقَالَ لَهُمَا: «أَنْتُمْ أَعْلَمُ مَنْ وَرَاءَكُمَا» , قَالَا: يَقُولُونَ , قَالَ: «فَأَنْشُدُكُمَا بِاللَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ التَّوْرَاةَ عَلَى مُوسَى كَيْفَ تَجِدُونَ حَدَّهُمْ فِي التَّوْرَاةِ؟» , فَقَالَا: الرَّجُلُ مَعَ الْمَرْأَةِ زِنْيَةٌ , وَفِيهِ عُقُوبَةٌ , وَالرَّجُلُ عَلَى بَطْنِ الْمَرْأَةِ زِنْيَةٌ , وَفِيهِ عُقُوبَةٌ , فَإِذَا شَهِدَ أَرْبَعَةٌ أَنَّهُمْ رَأَوْهُ يُدْخِلُهُ فِيهَا كَمَا يَدْخُلُ الْمِيلُ فِي الْمُكْحُلَةِ رُجِمَ , قَالَ: «ائْتُونِي بِالشُّهُودِ» , فَشَهِدَ أَرْبَعَةٌ فَرَجَمَهُمَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. تَفَرَّدَ بِهِ مُجَالِدٌ , عَنِ الشَّعْبِيِّ وَلَيْسَ بِالْقَوِيِّ

Sunan Daruquthni 4305: Abdullah bin Muhammad bin Abdul Aziz dan Ahmad bin Al Husain bin Al Junaid menceritakan kepada kami, keduanya berkata: Al Hasan bin Arafah menceritakan kepada kami, Abdurrahim bin Sulaiman menceritakan kepada kami dari Mujalid, dari Asy-Sya’bi, dari Jabir, dia berkata, Dihadapkan kepada Nabi SAW seorang laki-laki Yahudi dan seorang perempuan Yahudi yang telah berzina. Lalu beliau berkata kepada kaum Yahudi, “Apa yang menghalangi kalian untuk melaksanakan hukuman atas mereka berdua?” Mereka menjawab, “Kami telah melaksanakan ketika (kekuasaan) itu berada di antara kami. Ketika kekuasaan kami telah sirna, maka kami tidak lagi dapat melaksanakan.” Beliau berkata lagi kepada mereka, “Datangkan kepadaku dua orang paling berilmu di antara kalian.” Lalu mereka mendatangkan dua anak Shuriya, lalu beliau berkata kepada keduanya, “Kalian berdua lebih berilmu daripada yang di belakang kalian.” Keduanya menjawab, “(Begitulah) kata mereka.” Beliau berkata lagi, “Aku persumpahkan kalian kepada Allah yang telah menurunkan Taurat kepada Musa, bagaimana yang kalian temukan di dalam Taurat tentang hukuman mereka?” Keduanya menjawab, “Laki-laki bersama perempuan adalah perzinaan, dan itu ada sanksinya. Laki-laki yang berada di atas perut perempuan adalah perzinaan, dan itu ada sanksinya. Bila ada empat orang bersaksi bahwa mereka melihatnya memasukkannya sebagaimana pena celak dimasukkan ke dalam tinta celak, maka dia dirajam.” Beliau berkata, “Datangkan para saksi kepadaku.” Lalu bersaksilah empat orang, kemudian Nabi SAW merajam kedua orang tadi. Mujalid meriwayatkannya sendirian dari Asy-Sya’bi, sementara dia adalah perawi yang dinilai tidak kuat.