Skip to main content

Sunan Daruquthni 4484

سنن الدارقطني 4484: حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ النَّيْسَابُورِيُّ , نا إِسْمَاعِيلُ بْنُ حُصَيْنِ الْجُبَيْلِيُّ , نا عَمْرُو بْنُ هَاشِمٍ , عَنِ الْأَوْزَاعِيِّ , حَدَّثَنِي عَمْرُو بْنُ شُعَيْبٍ , عَنْ عَمْرِو بْنِ الشَّرِيدِ , عَنْ أَبِيهِ , أَنَّهُ بَاعَ مِنْ رَجُلٍ نَصِيبًا لَهُ مِنْ دَارٍ لَهُ فِيهَا شَرِيكٌ , فَقَالَ شَرِيكُهُ: أَنَا أَحَقُّ بِالْبَيْعِ مِنْ غَيْرِي , فَرُفِعَ ذَلِكَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , فَقَالَ: «الْجَارُ أَحَقُّ بِسَقَبِهِ»

Sunan Daruquthni 4484: Abu Bakar An-Naisaburi menceritakan kepada kami, Ismail bin Hushain Al Jubaili menceritakan kepada kami, Amr bin Hasyim menceritakan kepada kami dari Al Auza’i, Amr bin Syu’aib menceritakan kepadaku, dari Amr bin Asy-Syarid, dari ayahnya, bahwa dia pernah menjual kepada seseorang bagian miliknya dari suatu rumah yang dimiliki bersama seorang mitra, lalu mitranya itu berkata, ‘Aku lebih berhak terhadap penjualan itu daripada selainku.’ Hal itu kemudian diadukan kepada Nabi SAW, maka beliau pun bersabda, ‘Tetangga lebih berhak karena kedekatannya’.”

Sunan Daruquthni 4500

سنن الدارقطني 4500: نا أَبُو بَكْرٍ النَّيْسَابُورِيُّ , نا الْحَسَنُ بْنُ أَبِي الرَّبِيعِ , نا عَبْدُ الرَّزَّاقِ , عَنْ مَعْمَرٍ , عَنْ أَيُّوبَ , عَنْ عَمْرِو بْنِ دِينَارٍ , عَنْ هِشَامِ بْنِ يَحْيَى , عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ , أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , قَالَ: «إِذَا أَفْلَسَ الرَّجُلُ فَوَجَدَ الْبَائِعُ سِلْعَتَهُ بِعَيْنِهَا فَهُوَ أَحَقُّ بِهَا مِنَ الْغُرَمَاءِ»

Sunan Daruquthni 4500: Abu Bakar An-Naisaburi menceritakan kepada kami, Al Hasan bin Abu Ar-Rabi’ menceritakan kepada kami, Abdurrazzaq menceritakan kepada kami dari Ma’mar, dari Ayyub, dari Amr bin Dinar, dari Hisyam bin Yahya, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Bila seseorang bangkrut, lalu penjual mendapati barangnya masih utuh (pada orang yang bangkrut itu), maka dia lebih berhak terhadapnya daripada para pemberi utang.”

Sunan Daruquthni 4485

سنن الدارقطني 4485: نا صَاعِدُ بْنُ عَمْرِو بْنِ عَلِيٍّ، نا الْمُعْتَمِرُ بْنُ سُلَيْمَانَ , نا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الثَّقَفِيُّ , حَدَّثَنِي عَمْرُو بْنُ الشَّرِيدِ بْنِ سُوَيْدٍ , عَنْ أَبِيهِ , قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «الْجَارُ أَحَقُّ بِسَقَبِهِ» , قِيلَ: مَا السَّقَبُ؟ , قَالَ: «الْجِوَارُ»

Sunan Daruquthni 4485: Ibnu Sha’id menceritakan kepada kami, Amr bin Ali menceritakan kepada kami, Al Mu’tamir bin Sulaiman menceritakan kepada kami, Abdullah bin Abdurrahman AtsTsaqafi menceritakan kepada kami, Amr bin Asy-Syarid bin Suwaid menceritakan kepadaku, dari ayahnya, dia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Tetangga lebih berhak karena saqab (kedekatan)nya.” Ditanyakan, ‘Apa itu saqab?’. Beliau menjawab, ‘Bersebelahan’.”

Sunan Daruquthni 4486

سنن الدارقطني 4486: حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ النَّيْسَابُورِيُّ , وَمُحَمَّدُ بْنُ مَخْلَدٍ , وَآخَرُونَ قَالُوا: نا عَلِيُّ بْنُ حَرْبٍ , نا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ إِدْرِيسَ , عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ , عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ , عَنْ جَابِرٍ , قَالَ: ” قَضَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الشُّفْعَةِ فِي كُلِّ شِرْكٍ لَمْ يُقْسَمْ: رَبْعَةٌ أَوْ حَائِطٌ لَا يَحِلُّ لَهُ أَنْ يَبِيعَهُ حَتَّى يَسْتَأْذِنَ شَرِيكَهُ “. وَقَالَ ابْنُ مَخْلَدٍ: «حَتَّى يُؤَذِنَ شَرِيكَهُ , فَإِنْ شَاءَ أَخَذَ وَإِنْ شَاءَ تَرَكَ , فَإِنْ بَاعَهُ وَلَمْ يُؤْذِنْهُ فَهُوَ أَحَقُّ بِهِ» , لَمْ يَقُلْ: يُقْسَمُ فِي هَذَا الْحَدِيثِ إِلَّا ابْنُ إِدْرِيسَ وَهُوَ مِنَ الثِّقَاتِ الْحُفَّاظِ

Sunan Daruquthni 4486: Abu Bakar An-Naisaburi, Muhammad bin Makhlad dan lainnya menceritakan kepada kami, mereka berkata: Ali bin Harb menceritakan kepada kami, Abdullah bin Idris menceritakan kepada kami dari Ibnu Juraij, dari Abu Az-Zubair, dari Jabir, dia berkata, “Rasulullah SAW pernah memutuskan tentang syuf’ah (pengambilan hak dari mitra baru secara paksa) pada setiap kemitraan yang belum dibagi, baik itu tempat tinggal atau pun kebun, yaitu tidak boleh dijual hingga diizinkan oleh mitranya.” Ibnu Makhlad menyebutkan (dalam redaksi yang dikemukakannya), “Sehingga mitranya mengizinkan. Bila mau dia boleh mengambilnya, dan bila mau dia boleh meninggalkannya. Bila mitranya itu menjualnya sebelum diizinkan, maka dia lebih berhak terhadapnya.” Tidak ada yang menyebutkan redaksi “yang belum dibagi” dalam hadis ini selain Ibnu Idris, dan dia termasuk perawi tsiqah lagi hafizh.

Sunan Daruquthni 4487

سنن الدارقطني 4487: نا أَحْمَدُ بْنُ عِيسَى بْنِ السُّكَيْنِ , نا إِسْحَاقُ بْنُ رُزَيْقٍ , نا إِبْرَاهِيمُ بْنُ خَالِدٍ , نا الثَّوْرِيُّ , عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ مَيْسَرَةَ الطَّائِفِيِّ , عَنْ عَمْرِو بْنِ الشَّرِيدِ , أَنَّ أَبَا رَافِعٍ سَامَهُ سَعْدٌ بِبَيْتٍ لَهُ , فَقَالَ لَهُ سَعْدٌ: مَا أَنَا بِزَائِدِكَ عَلَى أَرْبَعِمِائَةِ مِثْقَالٍ فَقَالَ لَهُ أَبُو رَافِعٍ: لَوْلَا أَنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «الْجَارُ أَحَقُّ بِصَقَبِهِ» , وَالصَّقْبُ الْقُرْبُ , مَا أَعْطَيْتُكَ

Sunan Daruquthni 4487: Ahmad bin Isa bin As-Sukain menceritakan kepada kami, Ishaq bin Ruzaiq menceritakan kepada kami, Ibraim bin Khalid menceritakan kepada kami, Ats-Tsauri menceritakan kepada kami dari Ibrahim bin Maisarah Ath-Thaifi, dari Amr bin AsySyarid, bahwa Abu Rafi’ pernah ditawari Sa’d tentang harga rumahnya, Sa’d berkata kepadanya, ‘Aku tidak akan menambahimu dari empat ratus mitsqal.’ Abu Rafi’ berkata, ‘Seandainya aku tidak mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Tetangga lebih berhak karena tsaqab (kedekatan)nya — ash-shaqab adalah kedekatan— tentu aku tidak akan berikan kepadamu’.”

Sunan Daruquthni 4488

سنن الدارقطني 4488: نا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ , نا أَحْمَدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْمَوْصِلِيُّ , وَإِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْمَرْوَزِيُّ , وَغَيْرُهُمَا قَالُوا: نا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدٍ , عَنْ أَبِيهِ , عَنِ الْقَاسِمِ بْنِ مُحَمَّدٍ , عَنْ عَائِشَةَ , قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ»

Sunan Daruquthni 4488: Abdullah bin Muhammad bin Abdul Aziz menceritakan kepada kami, Ahmad bin Ibrahim Al Maushili, Ishaq bin Ibrahim Al Marwazi dan lainnya menceritakan kepada kami, mereka berkata: Ibrahim bin Sa’d menceritakan kepada kami dari ayahnya, dari Al Qasim bin Muhammad, dari Aisyah, dia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Barangsiapa mengada-ada dalam perkara (agama) kami ini sesuatu yang bukan berasal darinya, maka dia tidak diterima.”

Sunan Daruquthni 4489

سنن الدارقطني 4489: نا مُحَمَّدُ بْنُ الْحُسَيْنِ الْحَرَّانِيُّ , نا الْقَاسِمُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْفَارِقِيُّ , نا سَهْلُ بْنُ صُقَيْرٍ , نا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدٍ , عَنِ الزُّهْرِيِّ , عَنِ الْقَاسِمِ بْنِ مُحَمَّدٍ , عَنْ عَائِشَةَ , قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ صَنَعَ فِي مَالِهِ مَا لَيْسَ فِي كِتَابِ اللَّهِ فَهُوَ مَرْدُودٌ». قَوْلُهُ: عَنِ الزُّهْرِيِّ خَطَأٌ قَبِيحٌ

Sunan Daruquthni 4489: Muhammad bin Al Husain Al Harrani menceritakan kepada kami, Al Qasim bin Abdurrahman Al Fariqi menceritakan kepada kami, Sahl bin Shuqair menceritakan kepada kami, Ibrahim bin Sa’d menceritakan kepada kami dari Az-Zuhri, dari Al Qasim bin Muhammad, dari Aisyah, dia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Barangsiapa berbuat terhadap hartanya yang tidak ada dasarnya di dalam Kitabullah, maka dia tertolak”.” Ucapannya “dari Az-Zuhri” ada kesalahan yang fatal.

Sunan Daruquthni 4490

سنن الدارقطني 4490: نا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ , نا عَبْدُ الْأَعْلَى بْنُ حَمَّادٍ , نا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ مُحَمَّدٍ , عَنْ عَبْدِ الْوَاحِدِ بْنِ أَبِي عَوْنٍ , عَنْ سَعْدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ , عَنِ الْقَاسِمِ , عَنْ عَائِشَةَ , أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , قَالَ: «مَنْ فَعَلَ أَمْرًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ مَرْدُودٌ»

Sunan Daruquthni 4490: Abdullah bin Muhammad bin Abdul Aziz menceritakan kepada kami, Abdul A’la bin Hammad menceritakan kepada kami, Abdul Aziz bin Muhammad menceritakan kepada kami dari Abdul Wahid bin Abu Aun, dari Sa’d bin Ibrahim, dari Al Qasim bin Muhammad, dari Aisyah, bahwa Nabi SAW bersabda, “Barangsiapa melakukan suatu perkara yang tidak kami perintahkan, maka perkara itu tidak diterima.”

Sunan Daruquthni 4491

سنن الدارقطني 4491: نا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ , نا هَارُونُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ ح وَنا الْحُسَيْنُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ , نا عَلِيُّ بْنُ مُسْلِمٍ , قَالَا: نا أَبُو عَامِرٍ , نا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ جَعْفَرٍ هُوَ الْمُخَرِّمِيُّ , عَنْ سَعْدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ , عَنِ الْقَاسِمِ بْنِ مُحَمَّدٍ , عَنْ عَائِشَةَ , أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , قَالَ: «مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ»

Sunan Daruquthni 4491: Abdullah bin Muhammad menceritakan kepada kami, Harun bin Abdullah menceritakan kepada kami (h) Al Husain bin Ismail menceritakan kepada kami, Ali bin Muslim menceritakan kepada kami, keduanya berkata: Abu Amir menceritakan kepada kami, Abdullah bin Ja’far —yaitu Al Makhrami,— menceritakan kepada kami dari Sa’d bin Ibrahim, dari Al Qasim bin Muhammad, dari Aisyah, bahwa Nabi SAW bersabda, “Barangsiapa melakukan suatu amal yang tidak kami perintahkan, maka amal itu tidak diterima.”

Sunan Daruquthni 4492

سنن الدارقطني 4492: نا أَحْمَدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ بْنِ أَبِي الرِّجَالِ , نا أَبُو أُمَيَّةَ مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ , نا يَحْيَى بْنُ صَالِحٍ الْوُحَاظِيُّ , نا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ مُحَمَّدٍ , ثنا زُفَرُ بْنُ عَقِيلٍ الْفِهْرِيُّ , قَالَ: سَمِعْتُ الْقَاسِمَ بْنَ مُحَمَّدٍ , يَقُولُ: سَمِعْتُ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا , تَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «كُلُّ أَمْرٍ لَمْ يَكُنْ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ»

Sunan Daruquthni 4492: Ahmad bin Ibrahim bin Abu Ar-Rijal menceritakan kepada kami, Abu Umayyah Muhammad bin Ibrahim menceritakan kepada kami, Yahya bin Shalih Al Wuhazhi menceritakan kepada kami, Abdul Aziz bin Muhammad menceritakan kepada kami, Zufar bin Aqil Al Fihri menceritakan kepada kami, dia berkata: Aku mendengar Al Qasim bin Muhammad berkata: Aku mendengar Aisyah RA berkata, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Setiap perkara yang tidak kami perintahkan, maka perkara itu tidak diterima.”