Skip to main content

Sunan Daruquthni 3468

سنن الدارقطني 3468: نا مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ أَبِي الثَّلْجِ , نا عُمَرُ بْنُ شَبَّةَ , نا غُنْدَرٌ , نا مَعْمَرٌ , عَنِ الزُّهْرِيِّ , أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا إِدْرِيسَ الْخَوْلَانِيَّ , أَنَّهُ سَمِعَ عُبَادَةَ بْنَ الصَّامِتِ , يَقُولُ: بَايَعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي رَهْطٍ , فَقَالَ: ” أُبَايِعُكُمْ عَلَى أَنْ لَا تُشْرِكُوا بِاللَّهِ شَيْئًا , وَلَا تَسْرِقُوا , وَلَا تَزْنُوا , وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ , وَلَا تَأْتُوا بِبُهْتَانٍ تَفْتَرُونَهُ بَيْنَ أَيْدِيكُمْ وَأَرْجُلِكُمْ , وَلَا تَعْصُونِي فِي مَعْرُوفٍ , فَمَنْ وَفَّى مِنْكُمْ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ [ص:303] تَعَالَى , وَمَنْ أَصَابَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا يَعْنِي: فَأُقِيمَ عَلَيْهِ الْحَدُّ فَهُوَ لَهُ طُهُورٌ , وَمَنْ سَتَرَهُ اللَّهُ تَعَالَى فَذَلِكَ إِلَى اللَّهِ , إِنْ شَاءَ عَذَّبَهُ , وَإِنْ شَاءَ غَفَرَ لَهُ “.

Sunan Daruquthni 3468: Muhammad bin Ahmad bin Abu Ats-Tsalj menceritakan kepada kami, Umar bin Syabbah menceritakan kepada kami, Ghundar menceritakan kepada kami, Ma’mar menceritakan kepada kami dari Az-Zuhri, bahwa ia mendengar Abu Idris Al Khaulani menceritakan, ia mendengar Ubadah bin Ash-Shamit berkata, “Aku pernah membai’at Rasulullah SAW bersama serombongan teman, ketika itu beliau bersabda, ‘Aku membai’at kalian untuk tidak menyekutukan Allah dengan apa pun, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak sendiri, tidak menyebarkan fitnah dan berita bohong antara kaki dan tangan kalian, tidak mendurhakai aku dalam kebaikan. Barangsiapa yang menepati bai’at ini maka Allah akan memberinya pahala. Tapi siapa yang melanggar lalu dihukum gara-garanya maka itu akan menjadi penghapus dosa bagi dirinya. Sedangkan yang melanggar dan Allah sembunyikan kesalahannya, maka urusannya di tangan Allah, jika mau Dia akan mengadzabnya, tapi jika tidak, Dia akan mengampuninya’.”

Sunan Daruquthni 3469

سنن الدارقطني 3469: نا أَبُو سَهْلِ بْنُ زِيَادٍ , نا عَبْدُ الْكَرِيمِ بْنُ الْهَيْثَمِ , نا أَبُو الْيَمَانِ , نا شُعَيْبٌ , عَنِ الزُّهْرِيِّ , أنا أَبُو إِدْرِيسَ عَائِذُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ , أَنَّ عُبَادَةَ بْنَ الصَّامِتِ وَقَدْ شَهِدَ بَدْرًا وَهُوَ أَحَدُ النُّقَبَاءِ لَيْلَةَ الْعَقَبَةِ أَخْبَرَهُ , أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ نَحْوَهُ , فَقَالَ فِيهِ: «وَمَنْ أَصَابَ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ فَعُوقِبَ بِهِ فِي الدُّنْيَا فَهُوَ لَهُ كَفَّارَةٌ»

Sunan Daruquthni 3469: Abu Sahl bin Ziyad menceritakan kepada kami, Abdul Karim bin Al Haitsam menceritakan kepada kami, Abul Yaman menceritakan kepada kami, Syu’aib menceritakan kepada kami dari Az-Zuhri, Abu Idris A’idzullah bin Abdullah menceritakan kepada kami, bahwa Ubadah bin Ash-Shamit yang turut serta dalam perang Badar serta salah seorang yang ikut dalam bai’at Aqabah mengabarkan bahwa Rasulullah SAW berkata seperti redaksi tadi. Selanjutnya beliau bersabda, “Dan siapa saja yang melanggar salah satu dari yang telah disebutkan tadi lalu ia dihukum karenanya maka itu adalah penghapus dosa bagi dirinya.”

Sunan Daruquthni 3470

سنن الدارقطني 3470: نا أَحْمَدُ بْنُ الْعَلَاءِ , نا أَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ أَبِي السَّفَرِ , نا حَجَّاجُ بْنُ مُحَمَّدٍ , عَنْ يُونُسَ بْنِ أَبِي إِسْحَاقَ , عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ , عَنْ أَبِي جُحَيْفَةَ , عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ , قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ أَذْنَبَ فِي هَذِهِ الدُّنْيَا ذَنْبًا فَعُوقِبَ بِهِ فَاللَّهُ أَكْرَمُ مِنْ أَنْ يُثَنِّيَ عُقُوبَتَهُ عَلَى عَبْدِهِ , وَمَنْ أَذْنَبَ فِي هَذِهِ الدُّنْيَا ذَنْبًا فَسَتَرَهُ اللَّهُ تَعَالَى عَلَيْهِ وَعَفَا عَنْهُ فَاللَّهُ أَكْرَمُ مِنْ أَنْ يَعُودَ فِي شَيْءٍ قَدْ عَفَا عَنْهُ»

Sunan Daruquthni 3470: Ahmad bin Al Ala’ menceritakan kepada kami, Abu Ubaidah bin Abu As-Safar menceritakan kepada kami, Hajjaj bin Muhammad menceritakan kepada kami dari Yunus bin Abu Ishaq, dari Abu Ishaq, dari Abu Juhaifah, dari Ali RA, dia berkata: Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang melakukan satu dosa di dunia lalu mendapat hukuman lantaran dosa tersebut, maka Allah Maha Mulia, dan Dia tidak mungkin mengulangi hukumannya kedua kali kepada hamba-Nya itu. Sedangkan orang yang berbuat dosa kemudian Allah rahasiakan perbuatannya dan mengampuninya, maka Allah Maha Mulia untuk menarik kembali sesuatu yang telah Ia ampuni.

Sunan Daruquthni 3471

سنن الدارقطني 3471: حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ زِيَادٍ النَّيْسَابُورِيُّ , نا أَحْمَدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ وَهْبٍ , حَدَّثَنِي عَمِّي , حَدَّثَنِي يُونُسُ بْنُ يَزِيدَ , عَنِ ابْنِ شِهَابٍ , عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ , عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , أَخْبَرَتْهُ ” أَنَّ النِّكَاحَ كَانَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ عَلَى أَرْبَعَةِ أَنْحَاءٍ , فَنِكَاحُ النَّاسِ الْيَوْمَ يَخْطُبُ الرَّجُلُ إِلَى الرَّجُلِ ابْنَتَهُ فَيُصْدِقُهَا ثُمَّ يَنْكِحُهَا , قَالَ: وَنِكَاحٌ آخَرُ كَانَ الرَّجُلُ يَقُولُ لِامْرَأَتِهِ إِذَا طَهُرَتْ مِنْ طَلْعَتِهَا: أَرْسِلِي إِلَى فُلَانٍ فَاسْتَبْضِعِي مِنْهُ , وَاعْتَزَلَهَا زَوْجُهَا لَا يَمَسُّهَا أَبَدًا حَتَّى يَسْتَبِينَ حَمْلُهَا مِنْ ذَلِكَ الرَّجُلِ الَّذِي تَسْتَبْضِعُ مِنْهُ , فَإِذَا تَبَيَّنَ حَمْلُهَا أَصَابَهَا زَوْجُهَا إِذَا أَحَبَّ , وَإِنَّمَا يَصْنَعُ ذَلِكَ رَغْبَةً فِي نَجَابَةِ الْوَلَدِ , كَانَ هَذَا النِّكَاحُ يُسَمَّى نِكَاحَ الِاسْتِبْضَاعِ ” , قَالَتْ: ” وَنِكَاحٌ آخَرُ يَجْتَمِعُ الرَّهْطُ دُونَ الْعَشْرَةِ فَيَدْخُلُونَ عَلَى الْمَرْأَةِ كُلُّهُمْ يُصِيبُهَا , فَإِذَا حَمَلَتْ وَضَعَتْ وَمَرَّتْ لَيَالِي بَعْدَ أَنْ تَضَعَ حَمْلَهَا أَرْسَلَتْ إِلَيْهِمْ فَلَمْ يَسْتَطِعْ رَجُلٌ مِنْهُمْ أَنْ يَمْتَنِعَ حَتَّى يَجْتَمِعُوا عِنْدَهَا , فَتَقُولُ لَهُمْ: قَدْ عَرَفْتُمُ الَّذِي كَانَ مِنْ أَمْرِكُمْ , وَقَدْ وَلَدَتْهُ وَهُوَ ابْنُكَ يَا فُلَانُ , فَتُسَمِّي مَنْ أَحَبَّتْ مِنْهُمْ بِاسْمِهِ فَيُلْحَقُ بِهِ وَلَدُهَا لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يَمْتَنِعَ مِنْهُ الرَّجُلُ , وَنِكَاحٌ رَابِعٌ يَجْتَمِعُ النَّاسُ الْكَثِيرُ فَيَدْخُلُونَ عَلَى الْمَرْأَةِ لَا تَمْتَنِعُ مِمَّنْ جَاءَهَا وَهُنَّ الْبَغَايَا , كُنَّ يَنْصِبْنَ عَلَى أَبْوَابِهِنَّ رَايَاتٍ تَكُنْ عَلَمًا , فَمَنْ أَرَادَهُنَّ دَخَلَ عَلَيْهِنَّ , فَإِذَا حَمَلَتْ إِحْدَاهُنَّ فَوَضَعَتْ حَمْلَهَا جَمَعُوا لَهَا وَدَعَوُا الْقَافَةَ لَهُمْ ثُمَّ أَلْحَقُوا وَلَدَهَا بِالَّذِي يَرَوْنَ، فَالْتَاطَهُ وَدَعَاهُ ابْنَهُ لَا يَمْتَنِعُ مِنْ ذَاكَ , فَلَمَّا بَعَثَ اللَّهُ مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْحَقِّ هَدَمَ نِكَاحَ أَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ كُلِّهِ إِلَّا نِكَاحَ أَهْلِ الْإِسْلَامِ الْيَوْمَ “

Sunan Daruquthni 3471: Abu Bakar bin Abdullah bin Muhammad bin Ziyad An-Naisaburi menceritakan kepada kami, Ahmad bin Abdurrahman bin Wahab menceritakan kepada kami, pamanku menceritakan kepadaku, Yunus bin Yazid menceritakan kepadaku, dari Ibnu Syihab, dari Urwah bin Az-Zubair, dari Aisyah istri Nabi SAW yang menginformasikan kepadanya, “Nikah pada masa jahiliyah ada empat macam, yaitu: Pertama, nikah seperti orang sekarang ini, yakni seorang pria melamar putri pria lain lalu ia memberinya mahar dan menikahinya. Ia lanjut berkata: Kedua, seorang suami berkata pada istrinya yang baru saja suci dari haid, “Pergilah ke si fulan dan bersetubuhlah dengannya.” Setelah itu, suaminya tidak menyentuhnya lagi sampai jelas ia hamil dari laki-laki yang menyetubuhinya tadi. Jika kehamilannya sudah jelas barulah si suami menyentuhnya jika mau. Itu dilakukan hanya untuk mendapatkan anak. Nikah ini dinamakan nikah istibdha‘ (nikah minta disetubuhi). Ketiga, para rombongan selain dari karib kerabat berkumpul lalu semuanya masuk menemui sang wanita dan masingmasing menyetubuhinya. Bila wanita itu hamil dan telah berlalu beberapa malam dari kelahiran bayinya, ia lantas mendatangi semua laki-laki yang pernah menggaulinya. Mereka tidak boleh menolak kehadiran wanita ini ketika mengumpulkan mereka semua di hadapannya. Setelah itu ia berkata kepada mereka, “Kalian sudah tahu apa yang kalian perbuat padaku, dan ini adalah anaknya si Fulan.” Ia lalu menentukan siapa yang menjadi ayah dari anak itu, dan yang disebut tidak berhak menolak dan jadilah anak itu anaknya. Keempat, orang-orang berkumpul dan datang menemui satu orang perempuan yang tidak boleh menolak siapa pun yang datang. Mereka adalah para pelacur yang biasanya menancapkan bendera di depan pintu rumah-rumah mereka sebagai tanda. Siapa saja yang menginginkan dirinya tinggal masuk menemuinya. Jika ia hamil dan melahirkan, maka para pria yang pernah menidurinya dikumpulkan dan dipanggillah para ahli qafah (ahli melihat nasab) selanjutnya mereka yang menentukan siapa bapak dari anak itu, lalu yang ditunjuk akan mengangkat anak itu dan memanggilnya sebagai anaknya. Keputusan itu tidak bisa ditolak. Setelah Allah mengutus Muhammad SAW dengan membawa kebenaran, maka nikah orang-orang jahiliyah ini pun dihapus dan tinggallah pernikahan Islami seperti sekarang ini.”

Sunan Daruquthni 3472

سنن الدارقطني 3472: نا أَبُو بَكْرٍ النَّيْسَابُورِيُّ , نا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ , نا أَصْبَغُ بْنُ الْفَرَجِ , أَخْبَرَنِي ابْنُ وَهْبٍ , عَنْ يُونُسَ , أَخْبَرَهُ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ , أَخْبَرَهُ عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ أَنَّ عَائِشَةَ أَخْبَرَتْهُ , أَنَّ النِّكَاحَ كَانَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ عَلَى أَرْبَعَةِ أَنْحَاءٍ , وَذَكَرَ الْحَدِيثَ نَحْوَهُ. قَالَ مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ: لَمْ يَرْوِهِ إِلَّا ابْنُ وَهْبٍ , زَعَمُوا أَنَّ يَحْيَى بْنَ مَعِينٍ حِينَ حَدَّثَهُ بِهِ أَصْبَغُ بَرَكَ مِنَ الْفَرَحِ , وَقَالَ أَصْبَغُ فِي حَدِيثِهِ: «أَرْسِلِي إِلَى فُلَانٍ فَاسْتَبْضِعِي مِنْهُ وَيَعْتَزِلُهَا زَوْجُهَا وَلَا يَمَسُّهَا أَبَدًا حَتَّى يَتَبَيَّنَ حَمْلُهَا مِنْ ذَلِكَ الرَّجُلُ الَّذِي تَسْتَبْضِعُ مِنْهُ , فَإِذَا تَبَيَّنَ حَمْلُهَا أَصَابَهَا زَوْجُهَا إِذَا أَحَبَّ , وَإِنَّمَا يَصْنَعُ ذَلِكَ رَغْبَةً فِي نَجَابَةِ الْوَلَدِ , فَكَانَ هَذَا النِّكَاحُ يُسَمَّى نِكَاحَ الِاسْتِبْضَاعِ» , وَقَالَ الصَّاغَانِيُّ: وَقَدْ رَوَاهُ غَيْرُ أَصْبَغَ , نا عُثْمَانُ بْنُ صَالِحٍ , نا ابْنُ وَهْبٍ , عَنْ يُونُسَ بِهَذَا الْإِسْنَادِ , إِلَّا أَنَّهُ قَالَ: «أَرْسِلِي إِلَى فُلَانٍ وَاسْتَرْضِعِي مِنْهُ , وَاعْتَزَلَهَا زَوْجُهَا لَا يَمَسُّهَا أَبَدًا حَتَّى يَسْتَبِينَ حَمْلُهَا مِنْ ذَلِكَ الرَّجُلِ الَّذِي تَسْتَرْضِعُ مِنْهُ , وَكَانَ هَذَا يُسَمَّى نِكَاحَ الِاسْتِبْضَاعِ» , قَالَ مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ: وَهُوَ الصَّوَابُ , وَقَالَ: ” فَلَمَّا بَعَثَ اللَّهُ مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْحَقِّ هَدَمَ نِكَاحَ الْجَاهِلِيَّةِ

Sunan Daruquthni 3472: Abu Bakar An-Naisaburi menceritakan kepada kami, Muhammad bin Ishaq menceritakan kepada kami, Ashbagh bin Al Faraj menceritakan kepada kami, Ibnu Wahab menceritakan kepadaku, dari Yunus, dia mengabarkan kepadanya, dari Ibnu Syihab, dia mengabarkan kepadanya, dari Urwah bin Az-Zubair bahwa Aisyah mengabarkan kepadanya bahwa nikah pada masa jahiliyah itu ada empat macam. Selanjutnya dia menyebutkan redaksi hadis yang sama. Muhammad bin Ishaq berkata, “Hanya Ibnu Wahab yang meriwayatkan hadis ini. Mereka menyangka bahwa Yahya bin Ma’in ketika disampaikan hadis ini kepadanya oleh Ashbagh berlutut karena gembira. Dalam riwayat Ashbagh disebutkan dengan redaksi, “Pergilah ke Fulan dan mintalah disetubuhi olehnya.” Setelah itu suaminya menjauhinya dan tidak pernah menyentuhnya sampai terbukti dirinya hamil dari lelaki yang menyetubuhinya tadi. Jika ia telah terbukti hamil barulah suaminya menggaulinya kembali bila mau. Hal itu dilakukan agar mendapat keturunan,- maka dari itu nikah tersebut disebut nikah istibdha’. Ash-Shaghani berkata: Selain Ashbagh, Utsman bin Shalih juga meriwayatkan hadis ini, dia menceritakan kepada kami, Ibnu Wahab menceritakan kepada kami dari Yunus dengan sanad yang sama. Hanya saja bunyi- redaksinya, “Pergilah ke Fulan dan mintalah persusuan darinya.” Kemudian suaminya menjauhinya tidak menyentuhnya sedikit pun sampai jelas kehamilannya dari lelaki tadi. Ini disebut nikah istibdha’. Muhammad bin Ishaq berkata, “Inilah yang benar”, dan ia berkata, “Tatkala Allah mengutus Muhammad SAW membawa kebenaran, maka nikah jahiliyah ini pun dihancurkan.”

Sunan Daruquthni 3473

سنن الدارقطني 3473: نا أَبُو بَكْرٍ النَّيْسَابُورِيُّ , نا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى النَّيْسَابُورِيُّ , نا أَبُو غَسَّانَ مَالِكُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ , نا عَبْدُ السَّلَامِ بْنُ حَرْبٍ , عَنْ إِسْحَاقَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي فَرْوَةَ , عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ , عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ , عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ , قَالَ: كَانَ الْبَدَلُ فِي الْجَاهِلِيَّةِ أَنْ يَقُولَ الرَّجُلُ لِلرَّجُلِ تَنْزِلُ عَنِ امْرَأَتِكَ وَأَنْزَلُ لَكَ عَنِ امْرَأَتِي وَأَزِيدُكَ , قَالَ: فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى {وَلَا أَنْ تُبَدَّلَ بِهِنَّ مِنْ أَزْوَاجٍ وَلَوْ أَعْجَبَكَ حُسْنُهُنَّ} [الأحزاب: 52] , قَالَ: فَدَخَلَ عُيَيْنَةُ بْنُ حِصْنٍ الْفَزَارِيُّ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعِنْدَهُ عَائِشَةُ , فَدَخَلَ بِغَيْرِ إِذْنٍ , فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «يَا عُيَيْنَةُ فَأَيْنَ الِاسْتِئْذَانُ؟» , فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا اسْتَأْذَنْتُ عَلَى رَجُلٍ مِنْ مُضَرَ مُنْذُ أَدْرَكْتُ , قَالَ: مَنْ هَذِهِ الْحُمَيْرَا الَّتِي إِلَى جَنْبِكَ؟ , قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «هَذِهِ عَائِشَةُ أُمُّ الْمُؤْمِنِينَ» , قَالَ: أَفَلَا أَنْزِلُ لَكَ عَنْ أَحْسَنِ الْخَلْقِ؟ , فَقَالَ: «يَا عُيَيْنَةُ إِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ ذَلِكَ» , قَالَ: فَلَمَّا أَنْ خَرَجَ قَالَتْ عَائِشَةُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ هَذَا؟ , قَالَ: «أَحْمَقُ مُطَاعٌ , وَإِنَّهُ عَلَى مَا تَرَيْنَ لِسَيِّدُ قَوْمِهِ»

Sunan Daruquthni 3473: Abu Bakar An-Naisaburi menceritakan kepada kami, Muhammad bin Yahya AnNaisaburi menceritakan kepada kami, Abu Ghassan Malik bin Ismail menceritakan kepada kami, Abdussalam bin Harb menceritakan kepada kami dari Ishaq bin Abdullah bin Abu Farwah, dari Zaid bin Aslam, dari Atha‘ bin Yasar, dari Abu Hurairah, dia berkata, “Nikah badal dalam jahiliyah adalah seorang pria berkata pada pria lain, ‘Serahkan istrimu kepadaku dan aku akan menyerahkan istriku kepadamu bahkan aku tambah.’ Lalu turanlah ayat, ‘Tidak halal bagimu mengawini perempuan-perempuan sesudah itu dan tidak boleh (pula) mengganti mereka dengan istri-istri (yang lain), meskipun kecantikannya menarik hatimu.’ (Qs. Al Ahzaab [33]: 52). Kemudian masuklah Uyainah bin Hishn Al Fazari menemui Rasulullah SAW dan waktu itu beliau bersama Aisyah. Uyainah masuk tanpa minta izin terlebih dahulu. Rasulullah SAW kemudian berkata kepadanya, ‘Wahai Uyainah, mana permintaan izinmu? Ia menjawab, ‘Wahai Rasulullah, aku belum pernah minta izin menemui siapa pun sejak aku dewasa.’ Ia berkata lagi, ‘Siapa wanita berpipi kemerahan yang ada di samping Anda itu?’ Beliau menjawab, ‘Itu adalah Aisyah Ummul Mukminin.’ Ia berkata kepada Rasulullah, ‘Bolehkah aku serahkan kepada Anda makhluk terbaik?’ Beliau menjawab, ‘Wahai Uyainah, Allah telah mengharamkan itu.” Setelah Uyainah keluar, Aisyah bertanya, ‘Wahai Rasulullah, siapa orang itu?’ Beliau menjawab, Si bodoh yang ditaati. Meski ia seperti yang kamu lihat tadi, tapi ia pemimpin bagi kaumnya’.”

Sunan Daruquthni 3474

سنن الدارقطني 3474: نا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُبَشِّرٍ , نا أَحْمَدُ بْنُ سِنَانٍ , نا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ , نا إِسْرَائِيلُ , عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ , عَنْ أَبِي بُرْدَةَ , عَنْ أَبِيهِ , أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , قَالَ: «لَا نِكَاحَ إِلَّا بِوَلِيٍّ»

Sunan Daruquthni 3474: Ali bin Abdullah bin Mubasysyir menceritakan kepada kami, Ahmad bin Sinan menceritakan kepada kami, Abdurrahman bin Mahdi menceritakan kepada kami, Isra’il menceritakan kepada kami dari Abu Ishaq, dari Abu Burdah, dari ayahnya bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Nikah tidak sah kecuali jika disertai wali.”

Sunan Daruquthni 3475

سنن الدارقطني 3475: نا دَعْلَجُ بْنُ أَحْمَدَ , عَنِ ابْنِ خُزَيْمَةَ , قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا مُوسَى , يَقُولُ: كَانَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ يُثْبِتُ حَدِيثَ إِسْرَائِيلَ , عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ , وَيَقُولُ: إِنَّمَا فَاتَنِي مِنْ حَدِيثِ سُفْيَانَ , عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ مَا فَاتَنِي اتِّكَالًا مِنِّي عَلَى حَدِيثِ إِسْرَائِيلَ.

Sunan Daruquthni 3475: Da’laj bin Ahmad menceritakan kepada kami dari Ibnu Khuzaimah, dia berkata: Aku mendengar Abu Musa berkata: Abdurrahman bin Mahdi menguatkan hadis Isra’il dari Abu Ishaq, dia berkata, “Tak masalah aku kehilangan hadis Sufyan dari Abu Ishaq, karena aku sudah mempercayai riwayat Isra’il.”

Sunan Daruquthni 3476

سنن الدارقطني 3476: نا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ الْحَسَنِ الْهَمْدَانِيُّ الْقَاضِي , نا يَحْيَى بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَاهَانَ , نا مُحَمَّدُ بْنُ مَخْلَدٍ السَّعْدِيُّ , نا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ , عَنْ إِسْرَائِيلَ , مِثْلَ قَوْلِ ابْنِ سِنَانٍ , قَالَ مُحَمَّدُ بْنُ مَخْلَدٍ: فَقِيلَ لِعَبْدِ الرَّحْمَنِ: إِنَّ شُعْبَةَ , وَسُفْيَانَ يُوَقِّفَانِهِ عَلَى أَبِي بُرْدَةَ , فَقَالَ: إِسْرَائِيلُ , عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ سُفْيَانَ , وَشُعْبَةَ.

Sunan Daruquthni 3476: Abdurrahman bin Al Hasan Al Hamadzani Al Qadhi menceritakan kepada kami, Yahya bin Abdullah bin Mahan menceritakan kepada kami, Muhammad bin Makhlad AsSa’di menceritakan kepada kami, Abdurrahman bin Mahdi menceritakan kepada kami dari Isra’il seperti perkataan Ibnu Sinan. Muhammad bin Makhlad berkata: Abdurrahman pernah ditanya, “Syu’bah dan Sufyan meriwayatkan hadis tersebut secara mauquf kepada Abu Burdah.” Ia menjawab, “Israel dari Abu Ishaq lebih aku sukai daripada Sufyan dan Syu’bah.”

Sunan Daruquthni 3461

سنن الدارقطني 3461: نا إِبْرَاهِيمُ بْنُ حَمَّادٍ , نا الْحَسَنُ بْنُ عَرَفَةَ , نا مَرْوَانُ بْنُ مُعَاوِيَةَ , نا فُضَيْلُ بْنُ غَزْوَانَ , عَنِ ابْنِ أَبِي نُعْمٍ , عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ , عَنْ أَبِي الْقَاسِمِ نَبِيِّ التَّوْبَةِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , قَالَ: «مَنْ قَذَفَ عَبْدَهُ وَهُوَ بَرِيءٌ مِمَّا قَالَ أُقِيمَ عَلَيْهِ الْحَدُّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثَمَانِينَ»

Sunan Daruquthni 3461: Ibrahim bin Hammad menceritakan kepada kami, Al Hasan bin Arafah menceritakan kepada kami, Marwan bin Mu’awiyah menceritakan kepada kami, Fudhail bin Ghazwan menceritakan kepada kami dari Ibnu Abu Nu’m, dari Abu Hurairah, dari Abul Qasim nabi At-Taubah SAW, beliau bersabda, “Siapa saja yang menuduh budaknya (melakukan kejahatan) padahal ia tidak melakukannya, maka di Hari Kiamat dilaksanakan hukuman cambuk atas dirinya sebanyak delapan puluh kali cambuk.”