Skip to main content

Sunan Daruquthni 3636

سنن الدارقطني 3636: نا أَبُو بَكْرٍ يُوسُفُ بْنُ يَعْقُوبَ بْنِ إِسْحَاقَ بْنِ بُهْلُولٍ , نا جَدِّي , نا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ نَافِعٍ مَوْلَى بَنِي مَخْزُومٍ , عَنِ الْمُغِيرَةِ بْنِ إِسْمَاعِيلَ بْنِ أَيُّوبَ بْنِ سَلَمَةَ , عَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ , عَنِ ابْنِ شِهَابٍ , عَنْ عُرْوَةَ , عَنْ عَائِشَةَ , أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنِ الرَّجُلِ يَتْبَعُ الْمَرْأَةَ حَرَامًا ثُمَّ يَنْكِحُ ابْنَتَهَا أَوْ يَتْبَعُ الِابْنَةَ ثُمَّ يَنْكِحُ أُمَّهَا , قَالَ: «لَا يُحَرِّمُ الْحَرَامُ الْحَلَالَ»

Sunan Daruquthni 3636: Abu Bakar bin Yusuf bin Ya’qub bin Ishaq bin Buhlul menceritakan kepada kami, kakekku menceritakan kepada kami, Abdullah bin Nafi’ maula bani Makhzum menceritakan kepada kami dari Al Mughirah bin Ismail bin Ayyub bin Salamah, dari Utsman bin Abdurrahman, dari Ibnu Syihab, dari Urwah, dari Aisyah bahwa Rasulullah SAW pernah ditanya tentang seorang pria yang selingkuh dengan seorang wanita kemudian menikahi anak gadis wanita itu, atau selingkuh dengan anaknya kemudian menikah dengan ibunya, beliau kemudian bersabda, “Yang haram tidak bisa mengharamkan yang halal”

Sunan Daruquthni 3621

سنن الدارقطني 3621: نا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ , نا عَبَّاسُ بْنُ الْوَلِيدِ النَّرْسِيُّ , نا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ , عَنْ أَيُّوبَ , عَنْ عِكْرِمَةَ , عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ , أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «تَزَوَّجَ مَيْمُونَةَ وَهُوَ مُحْرِمٌ».

Sunan Daruquthni 3621: Abdullah bin Muhammad menceritakan kepada kami, Abbas bin Abdul Walid AnNursi menceritakan kepada kami, Hammad bin Zaid menceritakan kepada kami dari Ayyub, dari ikrimah, dari Ibnu Abbas bahwa Nabi SAW menikahi Maimunah dalam keadaan berihram.

Sunan Daruquthni 3637

سنن الدارقطني 3637: نا الْحُسَيْنُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ , نا عَلِيُّ بْنُ أَحْمَدَ الْجَوَارِبِيُّ , نا إِسْحَاقُ بْنُ مُحَمَّدٍ , [ص:401] ح وَنا إِسْمَاعِيلُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ صَالِحٍ , نا جَعْفَرُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ سَامٍ , نا إِسْحَاقُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْفَرْوِيُّ , نا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ , عَنْ نَافِعٍ , عَنِ ابْنِ عُمَرَ , عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «لَا يُحَرِّمُ الْحَرَامُ الْحَلَالَ»

Sunan Daruquthni 3637: Al Husain bin Ismail menceritakan kepada kami, Ali bin Ahmad Al Jawaribi menceritakan kepada kami, Ishaq bin Muhammad menceritakan kepada kami, (h) Ismail bin Muhammad bin Shalih menceritakan kepada kami, Ja’far bin Ahmad bin Sam menceritakan kepada kami, Ishaq bin Muhammad Al Farwi menceritakan kepada kami, Abdullah bin Umar menceritakan kepada kami dari Nafi’, dari Ibnu Umar, dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Yang haram tidak bisa mengharamkan yang halal.”

Sunan Daruquthni 3622

سنن الدارقطني 3622: نا عَبْدُ اللَّهِ , نا عَبْدُ الْأَعْلَى بْنُ حَمَّادٍ , نا وُهَيْبٌ ح وَنا عَبْدُ اللَّهِ , نا بِشْرُ بْنُ هِلَالٍ , نا عَبْدُ الْوَارِثِ , قَالَا: نا أَيُّوبُ بِإِسْنَادِهِ مِثْلَهُ سَوَاءً

Sunan Daruquthni 3622: Abdullah menceritakan kepada kami, Abdul A’la bin Hammad menceritakan kepada kami, Wuhaib menceritakan kepada kami, (h) Abdullah menceritakan kepada kami, Bisyir bin Hilal menceritakan kepada kami, Abdul Warits menceritakan kepada kami, mereka berdua berkata: Ayyub menceritakan kepada kami dengan sanad dan redaksi yang sama.

Sunan Daruquthni 3638

سنن الدارقطني 3638: نا الْحُسَيْنُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ , ثنا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ شَبِيبٍ , حَدَّثَنِي إِبْرَاهِيمُ بْنُ الْمُنْذِرِ , نا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ نَافِعٍ , حَدَّثَنَا الْمُغِيرَةُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْمَخْزُومِيُّ , عَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الزُّهْرِيِّ , عَنِ ابْنِ شِهَابٍ , عَنْ عُرْوَةَ , عَنْ عَائِشَةَ , قَالَتْ: سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ رَجُلٍ زَنَى بِامْرَأَةٍ فَأَرَادَ أَنْ يَتَزَوَّجَهَا أَوِ ابْنَتَهَا , قَالَ: «لَا يُحَرِّمُ الْحَرَامُ الْحَلَالَ إِنَّمَا يُحَرِّمُ مَا كَانَ بِنِكَاحٍ»

Sunan Daruquthni 3638: Al Husain bin Ismail menceritakan kepada kami, Abdullah bin Syabib menceritakan kepada kami, Ibrahim bin Al Mundzir menceritakan kepada kami, Abdullah bin Nafi’ menceritakan kepada kami, Al Mughirah bin Abdurrahman Al Makhzumi menceritakan kepada kami dari Utsman bin Abdurrahman Az-Zuhri, dari Ibnu Syihab, dari Urwah, dari Aisyah RA, dia berkata: Rasulullah SAW pernah ditanya tentang seorang pria yang berzina dengan seorang wanita, lalu ia ingin menikahinya atau anak gadisnya, beliau bersabda, “Yang haram tidak bisa mengharamkan yang halal. Sesungguhnya yang haram (menjadi mahram), kalau melalui pernikahan (yang benar).”

Sunan Daruquthni 3623

سنن الدارقطني 3623: نا عَبْدُ اللَّهِ , عَنْ عَبَّاسُ بْنُ الْوَلِيدِ , نا دَاوُدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ , قَالَ: سَمِعْتُ عَمْرَو بْنَ دِينَارٍ , عَنْ جَابِرِ بْنِ زَيْدٍ أَبِي الشَّعْثَاءِ , أَنَّهُ سَمِعَ ابْنَ عَبَّاسٍ , يَقُولُ: «تَزَوَّجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ مُحْرِمٌ»

Sunan Daruquthni 3623: Abdullah bin Abbas bin Al Walid menceritakan kepada kami, Daud bin Abdurrahman menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku pernah mendengar Amr bin Dinar, dari Jabir bin Zaid Abu Asy-Sya’tsa’ bahwa ia mendengar Ibnu Abbas berkata, “Nabi SAW menikah dalam keadaan berihram.”

Sunan Daruquthni 3639

سنن الدارقطني 3639: نا أَبُو حَامِدٍ مُحَمَّدُ بْنُ هَارُونَ , نا إِسْحَاقُ بْنُ أَبِي إِسْرَائِيلَ , نا خَلَفُ بْنُ خَلِيفَةَ , عَنْ أَبِي هَاشِمٍ الرُّمَّانِيِّ , عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ , قَالَ: سُئِلَ ابْنُ عَبَّاسٍ عَنِ الرَّجُلِ وَالْمَرْأَةِ يُصِيبُ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِنَ الْآخَرِ حَرَامًا ثُمَّ يَبْدُو لَهُمَا فَيَتَزَوَّجَانِ؟ , قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: «كَانَ أَوَّلَهُ سِفَاحٌ وَآخِرَهُ نِكَاحٌ»

Sunan Daruquthni 3639: Abu Hamid Muhammad bin Harun menceritakan kepada kami, Ishaq bin Abu Isra’il menceritakan kepada kami, Khalaf bin Khalifah menceritakan kepada kami dari Abu Hasyim Ar-Rummani, dari Sa’id bin Jubair, dia berkata: Ibnu Abbas pernah ditanya tentang seorang pria yang berzina dengan wanita, lalu mereka sadar dan menikah, Ibnu Abbas menjawab, “Yang pertama itu sifah (zina) dan yang kedua itu nikah.”

Sunan Daruquthni 3624

سنن الدارقطني 3624: نا مُحَمَّدُ بْنُ مَخْلَدٍ , نا أَحْمَدُ بْنُ مَنْصُورِ بْنِ سَيَّارٍ , نا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ بْنِ سَعْدٍ , نا أَبِي , عَنْ صَالِحٍ , حَدَّثَنِي ابْنُ شِهَابٍ , أَخْبَرَنِي عُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ , أَنَّهُ سَأَلَ عَائِشَةَ عَنْ قَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى {وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثَلَاثَ وَرُبَاعَ} [النساء: 3] , قَالَتْ: «يَا ابْنَ أَخِي هِيَ الْيَتِيمَةُ تَكُونُ فِي حَجْرِ وَلِيِّهَا تُشْرِكُهُ فِي مَالِهِ وَيُعْجِبُهُ مَالُهَا وَجَمَالُهَا فَيُرِيدُ وَلِيُّهَا أَنْ يَتَزَوَّجَهَا بِغَيْرِ أَنْ يُقْسِطَ فِي صَدَاقِهَا مَا يُعْطِيهَا مَا يُعْطِيهَا غَيْرُهُ , فَنُهُوا عَنْ أَنْ يَنْكِحُوهُنَّ أَوْ يَبْلُغُوا لَهُنَّ أَعْلَى سُنَّتِهِنَّ فِي الصَّدَاقِ وَأُمِرُوا أَنْ يَنْكِحُوا مَا طَابَ لَهُمْ مِنَ النِّسَاءِ سِوَاهُنَّ» , قَالَ عُرْوَةُ: قَالَتْ عَائِشَةُ: ” ثُمَّ إِنَّ النَّاسَ اسْتَفْتَوْا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَ هَذِهِ الْآيَةِ فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى {وَيَسْتَفْتُونَكَ فِي النِّسَاءِ قُلِ اللَّهُ يُفْتِيكُمْ فِيهِنَّ وَمَا يُتْلَى عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ فِي يَتَامَى النِّسَاءِ اللَّاتِي لَا تُؤْتُونَهُنَّ مَا كُتِبَ لَهُنَّ وَتَرْغَبُونَ أَنْ تَنْكِحُوهُنَّ} [النساء: 127] وَذَكَرَ اللَّهُ تَعَالَى [ص:395] أَنَّهُ يُتْلَى عَلَيْكُمْ مِنَ الْكِتَابِ الْآيَةَ الْأُولَى , قَالَ اللَّهُ تَعَالَى {وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ} [النساء: 3] ” , قَالَتْ عَائِشَةُ: ” وَقَوْلُ اللَّهِ تَعَالَى فِي الْآيَةِ الْأُخْرَى {وَتَرْغَبُونَ أَنْ تَنْكِحُوهُنَّ} [النساء: 127] ” , قَالَتْ: «فَنُهُوا أَنْ يَنْكِحُوا مَنْ رَغِبُوا فِي مَالِهِ وَجَمَالِهِ مِنْ يَتَامَى النِّسَاءِ إِلَّا بِالْقِسْطِ مِنْ أَجْلِ رَغْبَتِهِمْ عَنْهُنَّ إِذَا كُنَّ قَلِيلَاتِ الْمَالِ وَالْجَمَالِ». تَابَعَهُ شُعَيْبُ بْنُ أَبِي حَمْزَةَ , وَعُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي زِيَادٍ , وَإِسْحَاقُ بْنُ يَحْيَى الْكَلْبِيُّ , عَنِ الزُّهْرِيِّ , عَنْ عُرْوَةَ. وَرَوَاهُ يُونُسُ بْنُ يَزِيدَ عَنِ الزُّهْرِيِّ

Sunan Daruquthni 3624: Muhammad bin Makhlad menceritakan kepada kami, Ahmad bin Manshur bin Sayyar menceritakan kepada kami, Ya’qub bin Ibrahim bin Sa’ad menceritakan kepada kami, ayahku menceritakan kepada kami dari Shalih, Ibnu Syihab menceritakan kepadaku, Urwah bin Az-Zubair mengabarkan kepadaku bahwa ia pernah bertanya kepada Aisyah tentang firman Allah SWT, “Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat.” (Qs. An-Nisaa’ [4]: 3) dia berkata, “Keponakanku, maksudnya adalah gadis yatim yang berada dalam pemeliharaan walinya dan menyertainya dalam masalah harta, dan walinya ini tertarik dengan harta dan kecantikannya, lalu walinya ingin menikahinya tanpa membayar mahar yang pantas untuknya. Yang ia beri adalah apa yang biasa diberikan kepada anak seusianya. Oleh karena itu, dilaranglah menikahi mereka seperti itu, kecuali kalau bisa membayar mahar mereka sesuai usia tertinggi bila mereka menikah. Selanjutnya wali-wali ini diperintahkan untuk menikahi wanitawanita lain yang baik menurut mereka.” Urwah berkata: Aisyah kemudian berkata: Kemudian orang-orang meminta fatwa kepada Rasulullah SAW setelah turunnya ayat ini, maka Allah menurunkan ayat, “Dan mereka meminta fatwa kepadamu tentang para wanita. Katakanlah, ‘Allah memberi fatwa kepadamu tentang mereka, dan apa yang dibacakan kepadamu dalam Al Quran (juga memfatwakan) tentang Para wanita yatim yang kamu tidak memberikan kepada mereka apa yang ditetapkan untuk mereka, $edang kamu ingin mengawini mereka dan tentang anak-anak yang masih dipandang lemah. Dan (Allah menyuruh kamu) supaya kamu mengurus anak-anak yatim secara adil. Dan kebajikan apa saja yang kamu kerjakan, maka sesungguhnya Allah Maha mengetahuinya.’ (Qs. An-Nisaa” [4]: 127) Allah Ta’ala kemudian menyebutkan bahwa telah dibacakan kepadamu dalam Al Qur’an ayat pertama.” Aisyah berkata: Allah SWT berfirman, “Dan kamu ingin mengawini mereka. ” Mereka dilarang menikahi wanita yang disenangi harta dan kecantikannya, kecuali kalau bisa membayar mereka dengan adil, padahal kalau saja para wanita itu tidak cantik dan tidak banyak harta mereka pun tidak ingin menikahinya. Hadis ini diperkuat oleh Syu’aib bin Abu Hamzah dan Ubaidullah bin Abu Ziyad serta Ishaq bin Yahya Al Kalbi dari Az-Zuhri dari Urwah. Hadis ini diriwayatkan pula oleh Yunus bin Zaid dari Az-Zuhri.

Sunan Daruquthni 3640

سنن الدارقطني 3640: نا أَبُو بَكْرٍ الشَّافِعِيُّ , نا مُحَمَّدُ بْنُ شَاذَانَ , نا مُعَلَّى , نا حَفْصُ بْنُ غِيَاثٍ , عَنْ لَيْثٍ , عَنْ حَمَّادٍ , عَنْ إِبْرَاهِيمَ , عَنْ عَلْقَمَةَ , عَنْ عَبْدِ اللَّهِ , قَالَ: «لَا يَنْظُرُ اللَّهُ إِلَى رَجُلٍ نَظَرَ إِلَى فَرْجِ امْرَأَةٍ وَابْنَتِهَا» مَوْقُوفٌ لَيْثٌ وَحَمَّادٌ ضَعِيفَانِ

Sunan Daruquthni 3640: Abu Bakar Asy-Syafi’i menceritakan kepada kami, Muhammad bin Syadzan menceritakan kepada kami, Mu’alla menceritakan kepada kami, Hafash bin Ghiyats rnenceritakan kepada kami dari Laits, dari Hammad, dari Ibrahim, dari Alqamah, dari Abdullah, dia berkata, “Allah tidak akan melihat (maksudnya Allah murka -penerj) kepada orang yang melihat kemaluan seorang wanita (menyetubuhinya) tapi kemudian juga melihat kemaluan anak wanita itu (kawin pula sama anaknya).” Hadis ini mauquf, karena Laits dan Hammad yang ada dalam sanadnya dinilai dha‘if.

Sunan Daruquthni 3625

سنن الدارقطني 3625: نا أَبُو بَكْرٍ النَّيْسَابُورِيُّ , نا يُونُسُ بْنُ عَبْدِ الْأَعْلَى , نا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ , أَخْبَرَنِي يُونُسُ , عَنِ ابْنِ شِهَابٍ , أَخْبَرَنِي عُرْوَةُ , أَنَّهُ سَأَلَ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا عَنْ قَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى عَزَّ وَجَلَّ {وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى} [النساء: 3] , قَالَتْ: «يَا ابْنَ أُخْتِي هِيَ الْيَتِيمَةُ تَكُونُ فِي حَجْرِ وَلِيِّهَا فَتُشَارِكُهُ فِي مَالِهِ وَيُعْجِبُهُ مَالُهَا وَجَمَالُهَا فَيُرِيدُ وَلِيُّهَا أَنْ يَتَزَوَّجَهَا بِغَيْرِ أَنْ يُقْسِطَ فِي صَدَاقِهَا فَيُعْطِيهَا مِثْلَ مَا يُعْطَى غَيْرُهُ , فَنُهُوا أَنْ يَنْكِحُوهُنَّ إِلَّا أَنْ يُقْسِطُوا لَهُنَّ وَيَبْلُغُوا لَهُنَّ أَعْلَى سُنَّتِهِنَّ مِنَ الصَّدَاقِ وَأُمِرُوا أَنْ يَنْكِحُوا مَا طَابَ لَهُمْ مِنَ النِّسَاءِ» , فَقَالَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا: ” وَقَوْلُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فِي الْآيَةِ الْأُخْرَى {وَتَرْغَبُونَ أَنْ تَنْكِحُوهُنَّ} [النساء: 127] رَغْبَةُ أَحَدِكُمْ عَنْ يَتِيمَتِهِ الَّتِي تَكُونُ فِي حِجْرِهِ تَكُونُ قَلِيلَةَ الْمَالِ وَالْجَمَالِ فَنُهُوا أَنْ يَنْكِحُوا مَا رَغِبُوا فِي مَالِهَا وَجَمَالِهَا فِي يَتَامَى النِّسَاءِ إِلَّا بِالْقِسْطِ مِنْ أَجْلِ رَغْبَتِهِمْ عَنْهُنَّ “

Sunan Daruquthni 3625: Abu Bakar An-Naisaburi menceritakan kepada kami, Yunus bin Abdul A’la menceritakan kepada kami, Abdullah bin Wahab menceritakan kepada kami, Yunus mengabarkan kepadaku, dari Ibnu Syihab, Urwah menceritakan kepadaku, bahwa ia bertanya kepada Aisyah RA tentang firman Allah Azza wa Jalla “Dan jika kamu takut tidak dapat berbuat adil terhadap para anak yatim, maka nikahilah wanita-wanita (lain) yang kamu sukai dua” (Qs. An-Nisaa’ [4]: 3) ia berkata, “Keponakanku, dia adalah gadis yatim yang berada dalam pemeliharaan walinya. Hartanya bercampur dengan harta walinya, sementara walinya ini tertarik dengan harta dan kecantikannya, lalu ia ingin menikahinya tanpa membayar maharnya dengan adil. Ia ingin memberinya sebagaimana halnya wanita lain. Maka para wali tersebut dilarang menikahi mereka (gadis-gadis yatim) kecuali kalau mereka mau membayar mahar dengan adil dan memberikan harga yang paling tinggi untuk mereka dalam hal mahar. Para wali ini juga diperintahkan untuk menikahi wanita lain saja yang mereka anggap baik.” Aisyah berkata lagi, “Adapun firman Allah, ‘Dan kamu ingin menikahi mereka,” (Qs. AnNisaa’ [4]: 127) artinya keinginan salah seorang dari kalian untuk menikahi gadis yatim yang berada dalam pemeliharaannya tapi hartanya sedikit dan kurang cantik. Maka dilaranglah menikahi wanita karena hartanya banyak dan rupanya cantik kecuali dengan membayar mahar yang adil (pantas) karena mereka melakukan hal yang bertolak-belakang dengan wanita yang memiliki sedikit harta dan kurang cantik.”