Skip to main content

Shahih Ibnu Khuzaimah 1798

صحيح ابن خزيمة 1798: نا أَبُو زُهَيْرٍ عَبْدُ الْمَجِيدِ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، نا الْمُقْرِئُ، ثنا سُلَيْمَانُ بْنُ الْمُغِيرَةِ، عَنْ حُمَيْدِ بْنِ هِلَالٍ، عَنْ أَبِي رِفَاعَةَ الْعَدَوِيِّ قَالَ: ” انْتَهَيْتُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَخْطُبُ، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ , رَجُلٌ غَرِيبٌ جَاءَ يَسْأَلُ عَنْ دِينِهِ , لَا يَدْرِي مَا دِينُهُ فَأَقْبَلَ إِلَيَّ وَتَرَكَ خُطْبَتَهُ , فَأُتِيَ بِكُرْسِيٍّ خَلَتْ قَوَائِمُهُ حَدِيدًا , – قَالَ حُمَيْدٌ: أُرَاهُ رَأَى خَشَبًا أَسْوَدَ حَسِبَهُ حَدِيدًا – , فَجَعَلَ يُعَلِّمُنِي مِمَّا عَلَّمَهُ اللَّهُ , ثُمَّ أَتَى خُطْبَتَهُ وَأَتَمَّ آخِرَهَا

Shahih Ibnu Khuzaimah 1798: Abu Zuhair Abdul Majid bin Ibrahim memberitakan kepada kami, Al Muqri memberitakan kepada kami, Sulaiman bin Al Mughirah memberitakan kepada kami, dari Hamid bin Hilal, dari Abu Rifa’ah Al Adawi yang telah berkata, “Suatu ketika, aku datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sedang berkhutbah. ‘Wahai Rasulullah, ‘seruku, ‘Ada seorang laki-laki asing yang datang untuk menanyakan tentang ajaran agamanya.’ mendengar seruanku itu, Rasulullah langsung menemuiku dan menunda khutbahnya. Kemudian sebuah kursi yang kaki penopangnya terbuat dari besi dibawakan untuk tempat beliau duduk. Hamid berkata, ‘Aku melihat kursi tersebut terbuat dari kayu hitam, sehingga diduga terbuat dari besi.’ lalu Rasulullah mengajarkan beberapa ilmu kepadaku. Setelah itu, beliau melanjutkan kembali khutbahnya hingga selesai.”

Shahih Ibnu Khuzaimah 1783

صحيح ابن خزيمة 1783: نا الْحُسَيْنُ بْنُ عِيسَى الْبِسْطَامِيُّ، نا أَنَسٌ يَعْنِي ابْنَ عِيَاضٍ، عَنْ جَعْفَرِ بْنِ مُحَمَّدٍ، ح، وَحَدَّثَنَا عُتْبَةُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ، أنا سُفْيَانُ، عَنْ جَعْفَرٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ فِي خُطْبَتِهِ , يَحْمَدُ اللَّهَ , وَيُثْنِي عَلَيْهِ بِمَا هُوَ لَهُ أَهْلٌ , ثُمَّ يَقُولُ: «مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ , وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ , إِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ , وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ , وَشَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا , وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ , وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ , وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ» , ثُمَّ يَقُولُ: «بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ كَهَاتَيْنِ» , وَكَانَ إِذَا ذَكَرَ السَّاعَةَ احْمَرَّتْ وَجْنَتَاهُ , وَعَلَا صَوْتُهُ , وَاشْتَدَّ غَضَبُهُ كَأَنَّهُ نَذِيرُ جَيْشٍ: «صَبَّحَتْكُمُ السَّاعَةُ وَمَسَّتْكُمْ» , ثُمَّ يَقُولُ: «مَنْ تَرَكَ مَالًا فَلِأَهْلِهِ , وَمَنْ تَرَكَ دَيْنًا أَوْ ضَيَاعًا فَإِلَيَّ أَوْ عَلَيَّ , وَأَنَا وَلِيُّ الْمُؤْمِنِينَ» . «هَذَا لَفْظُ حَدِيثِ ابْنِ الْمُبَارَكِ. وَلَفْظُ أَنَسِ بْنِ عِيَاضٍ مُخَالِفٌ لِهَذَا اللَّفْظِ»

Shahih Ibnu Khuzaimah 1783: Husain bin Isa Al Busthami telah memberitakan sebuah hadis kepada kami, Anas bin Iyadh memberitakan kepada kami, dari Ja’lar bin Muhammad, Ha, Atabah bin Abdullah memberitakan kepada kami, Abdullah bin Mubarak memberitakan kepada kami, Sufyan memberitakan kepada kami, dari Ja’far, dari bapaknya, dari Jabir bin Abdullah bahwasanya ia berkata, ”Apabila sedang menyampaikan khutbah jum’at, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan memulainya dengan membaca tahmid (memuji Allah ) dengan bacaan: ‘Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah , maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. Sebaliknya, barangsiapa disesatkan oleh Allah , maka tidak ada yang dapat memberi petunjuk kepadanya. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya ucapan yang paling benar adalah Al Qur’an dan petunjuk yang paling baik adalah petunjuk Nabi Muhammad. Kemudian perkara yang paling buruk adalah sesuatu yang tidak dikenal, baik itu dalam Al Qur’an atau hadis Nabi dan segala sesuatu yang tidak dikenal, baik itu dalam Al Qur’an atau hadis Nabi, adalah bid’ah. Lalu setiap bid’ah itu pasti menyesatkan. Dan setiap yang menyesatkan itu tempatnya adalah di neraka.” Kemudian Rasulullah melanjutkan ucapannya, “Aku diutus (untuk menyiarkan ajaran Islam) dan jarak hari kiamat itu seperti dua jari ini” Apabila menyebut hari kiamat, maka kedua pipi Rasulullah akan memerah, suaranya akan bertambah tinggi, dan amarahnya akan memuncak. Sepertinya Rasulullah itu adalah seorang yang memberi peringatan kepada para tentara dengan ucapan, ‘Waspadalah, sesungguhnya hari kiamat telah semakin dekat’ setelah itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa meninggalkan harta benda, maka ketahuilah bahwa harta benda tersebut akan menjadi milik keluarganya. Sebaliknya, barangsiapa meninggalkan hutang maka aku yang mengurusnya, aku adalah orang yang mengurus perkara orang-orang mukmin.” Ini adalah hadis lafadz Ibnu Mubarak. Sementara lafadz Anas bin Iyadh itu sendiri berbeda dengan lafadz ini.

Shahih Ibnu Khuzaimah 1799

صحيح ابن خزيمة 1799: نا عَبْدَةُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْخُزَاعِيُّ، نا زَيْدٌ يَعْنِي ابْنَ الْحُبَابِ، عَنْ حُسَيْنٍ وَهُوَ ابْنُ وَاقِدٍ , حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ بُرَيْدَةَ، عَنْ أَبِيهِ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ , فَأَقْبَلَ الْحَسَنُ وَالْحُسَيْنُ عَلَيْهِمَا قَمِيصَانِ أَحْمَرَانِ يَعْثُرَانِ وَيَقُومَانِ , فَنَزَلَ فَأَخَذَهُمَا فَوَضَعَهُمَا بَيْنَ يَدَيْهِ , ثُمَّ قَالَ: ” صَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ {إِنَّمَا أَمْوَالَكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ} [التغابن: 15] رَأَيْتُ هَذَيْنِ فَلَمْ أَصْبِرْ “، ثُمَّ أَخَذَ فِي خُطْبَتِهِ .

Shahih Ibnu Khuzaimah 1799: Abdah bin Abdullah Al Khuza’i memberitakan kepada kami, Zaid bin Hubab memberitakan kepada kami, dari Husain bin Waqid, Abdullah bin Buraidah menceritakan kepada ku, dari bapaknya yang telah berkata, “Suatu ketika, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berkhutbah, tiba-tiba Hasan dan Husain datang dengan mengenakan baju merah sambil berdiri, kemudian Rasulullah turun dari atas mimbar lalu memeluk keduanya, lalu beliau letakkan kedua cucu kesayangannya itu di depannya seraya berkata, ‘Maha Benar Allah dan rasul-Nya. Sesungguhnya harta benda dan anak-anakmu itu merupakan cobaan. Aku melihat kedua anak ini dan tidak sabar (untuk menciumnya). Lalu beliau mulai melanjutkan khuthbahnya.

Shahih Ibnu Khuzaimah 1784

صحيح ابن خزيمة 1784: نا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ، نا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ، نا شُعْبَةُ، عَنْ خُبَيْبِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ مَعْنٍ، عَنِ ابْنَةِ الْحَارِثَةِ بْنِ النُّعْمَانِ قَالَتْ: «مَا حَفِظْتُ ق إِلَّا مِنْ فِي رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , يُقْرَأُ بِهَا فِي كُلِّ جُمُعَةٍ , وَكَانَ تَنُّورُنَا وَتَنُّورُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاحِدًا» . قَالَ أَبُو بَكْرٍ: «ابْنَةُ الْحَارِثَةِ هَذِهِ هِيَ أُمُّ هِشَامٍ بِنْتُ حَارِثَةَ»

Shahih Ibnu Khuzaimah 1784: Muhammad bin Basyar memberitakan kepada kami, Muhammad bin Ja’far memberitakan kepada kami, Syu’bah memberitakan kepada kami, dari Khubaib bin Abdurrahman, dari Abdullah bin Muhammad bin Ma’n, dari anak perempuan Haritsah bin Nu’man yang telah berkata, “Sesungguhnya aku tidak akan dapat menghapal surat “qaaf’ kecuali dari mulut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang selalu membacanya dalam setiap khutbah jum’at. Sepertinya pencerahan kami dan pencerahan Rasulullah itu sama.” Abu Bakar telah berkata, “nama anak perempuan Haritsah bin Nu’man itu adalah Ummu Hisyam binti haritsah.”

Shahih Ibnu Khuzaimah 1800

صحيح ابن خزيمة 1800: نا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَعِيدٍ الْأَشَجُّ، وَزِيَادُ بْنُ أَيُّوبَ قَالَا: ثنا أَبُو تُمَيْلَةَ، ثنا حُسَيْنُ بْنُ وَاقِدٍ، نا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ بُرَيْدَةَ، عَنْ أَبِيهِ قَالَ: بَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ عَلَى الْمِنْبَرِ بِمِثْلِهِ. وَقَالَ: «فَلَمْ أَصْبِرْ حَتَّى نَزَلْتُ فَحَمَلْتُهُمَا» , وَلَمْ يَقُلْ: ثُمَّ أَخَذَ فِي خُطْبَتِهِ

Shahih Ibnu Khuzaimah 1800: Abdullah bin Said Al Asyaj dan Ziyad bin Ayyub memberitakan kepada kami dan keduanya berkata, “Abu Tumailah memberitakan kepada kami, Husein bin Waqid memberitakan kepada kami, Abdullah bin Buraidah memberitakan kepada kami, dari bapaknya yang telah berkata, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berkhutbah di atas mimbar …(sama seperti redaksi hadis di atas). Kemudian Rasulullah berkata, “Aku tidak sabar untuk menciumnya hingga aku turun dari mimbar dan menggendongnya’.” tetapi ia tidak mengatakan, “Kemudian mulai melanjutkan khuthbahnya.”

Shahih Ibnu Khuzaimah 1785

صحيح ابن خزيمة 1785: نا يُوسُفُ بْنُ مُوسَى، نا جَرِيرٌ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ أَبِي بَكْرٍ، عَنْ يَحْيَى بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، عَنْ أُمِّ هِشَامِ بِنْتِ حَارِثَةَ بْنِ النُّعْمَانِ قَالَتْ: «قَرَأْتُ ق وَالْقُرْآنِ الْمَجِيدِ مِنْ فِي رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , كَانَ يَقْرَؤُهَا كُلَّ جُمُعَةٍ عَلَى الْمِنْبَرِ إِذَا خَطَبَ النَّاسَ» . قَالَ أَبُو بَكْرٍ: «يَحْيَى بْنُ عَبْدِ اللَّهِ هَذَا هُوَ ابْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ سَعْدِ بْنِ زُرَارَةَ , نَسَبَهُ إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدٍ»

Shahih Ibnu Khuzaimah 1785: Yusuf bin Musa memberitakan kepada kami, Jarir memberitakan kepada kami, dari Muhammad bin Abu Bakar dari Yahya bin Abdullah, dari Ummu Hisyam binti Haritsah bin Nu’man yang telah berkata, “aku dapat menghapal surat qaaf wal qur’anil majid dari mulut Rasulullah yang senantiasa membacanya setiap khutbah jum’at di atas mimbar.” Abu Bakar berkata, “Yahya bin Abdullah adalah anak Abdurrahman bin Sa’ad bin Zirarah, keturunannya adalah Ibrahim bin Sa’ad.”

Shahih Ibnu Khuzaimah 1786

صحيح ابن خزيمة 1786: أنا عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ السَّعْدِيُّ، نا إِسْمَاعِيلُ يَعْنِي ابْنَ جَعْفَرٍ، نا شَرِيكٌ وَهُوَ ابْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي نَمِرٍ , عَنْ أَنَسٍ، أَنَّ رَجُلًا دَخَلَ الْمَسْجِدَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ مِنْ بَابٍ كَانَ نَحْوَ بَابِ الْقَضَاءِ , وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَائِمٌ عَلَى الْمِنْبَرِ يَخْطُبُ , فَاسْتَقْبَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَائِمًا , ثُمَّ قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلَكَتِ الْأَمْوَالُ , وَانْقَطَعَتِ السُّبُلُ , فَادْعُ اللَّهَ أَنْ يُغِيثَنَا قَالَ: فَرَفَعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَيْهِ , ثُمَّ قَالَ: «اللَّهُمَّ أَغِثْنَا , اللَّهُمَّ أَغِثْنَا , اللَّهُمَّ أَغِثْنَا» , قَالَ أَنَسٌ: وَلَا وَاللَّهِ مَا نَرَى فِي السَّمَاءِ مِنْ سَحَابٍ وَلَا قَزْعَةٍ , وَلَا مَا بَيْنَنَا وَبَيْنَ سَلْعٍ مِنْ بَيْتٍ وَلَا دَارٍ , فَطَلَعَتْ مِنْ وَرَائِهِ سَحَابَةٌ مِثْلُ التُّرْسِ , فَلَمَّا تَوَسَّطَتْ – يَعْنِي السَّمَاءَ – انْتَشَرَتْ , ثُمَّ أَمْطَرَتْ , قَالَ أَنَسٌ: فَلَا وَاللَّهِ مَا رَأَيْنَا الشَّمْسَ سَبْعًا , قَالَ: ثُمَّ دَخَلَ رَجُلٌ مِنْ ذَلِكِ الْبَابِ فِي الْجُمُعَةِ الْمُقْبِلَةِ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَائِمٌ يَخْطُبُ , فَاسْتَقْبَلَهُ قَائِمًا، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ , هَلَكَتِ الْأَمْوَالُ وَانْقَطَعَتِ السُّبُلُ , فَادْعُ اللَّهُ أَنْ يُمْسِكَهَا عَنَّا قَالَ: فَرَفَعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَيْهِ , ثُمَّ قَالَ: «اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا , وَلَا عَلَيْنَا , اللَّهُمَّ عَلَى الْآكَامِ وَالظِّرَابِ , وَبُطُونِ الْأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ» , قَالَ: فَأَقْلَعَتْ وَخَرَجْنَا نَمْشِي فِي الشَّمْسِ. قَالَ شَرِيكٌ: فَسَأَلْتُ أَنَسًا: أَهُوَ الرَّجُلُ الْأَوَّلُ؟ فَقَالَ: لَا أَدْرِي. قَالَ أَبُو بَكْرٍ: ” السَّلْعُ: جَبَلٌ “

Shahih Ibnu Khuzaimah 1786: Ali bin Hujr As-Saidi memberitakan kepada kami, Ismail bin Ja’far memberitakan kepada kami, Syarik bin Abdullah bin Abu Namir memberitakan kepada kami dari Anas bahwasanya pada suatu ketika di hari jum’at ada seorang laki-laki yang masuk ke dalam masjid melalui pintu yang menuju ke arah Daarul Qadhay kebetulan saat itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berdiri di atas mimbar untuk menyampaikan khutbah jum’at kepada kaum muslimin. Lalu laki-laki tersebut menghadap Rasulullah sambil berdiri seraya berkata, “Wahai Rasulullah, harta benda kami telah musnah dan harapan kami telah sirna. Maka, mohonkanlah kepada Allah agar menurunkan hujan kepada kami yang sedang dilanda kekeringan!” Mendengar permohonan orang tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam langsung mengangkat kedua tangannya seraya berseru, ”ya Allah ya Tuhan kami’, tolonglah kami! Ya Allah ya Tuhan kami, tolonglah kami! Ya Allah ya Tuhan kami, tolonglah kami!” Anas berkata, “Demi Allah, saat itu kami tidak melihat awan tebal. Kemudian tidak ada satu rumah pun antara kami dan bukit. Akan tetapi, tiba-tiba, awan menjadi tebal —seperti tameng— telah muncul dari balik bukit. Ketika berada di tengah langit, maka awan tersebut mulai berpencar dan menurunkan hujan yang deras. Demi Allah, mulai hari itu hingga tujuh hari berikutnya, kami tidak pernah lagi melihat matahari (karena hujan turun terus menerus).” Pada hari jum’at berikutnya, laki-laki tersebut datang lagi dan masuk ke dalam masjid melalui pintu yang sama. Kemudian ia menghadap kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang saat itu sedang berkhutbah sambil berkata, “Wahai Rasulullah, harta benda kami kini telah musnah dan harapan kami pun telah sirna (akibat hujan yang turun terus menerus). Oleh karena itu, mohonkanlah kepada Allah agar menghentikan curah hujan yang dapat membahayakan jiwa kami!” Mendengar permohonan laki-laki itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali mengangkat kedua tangannya dan berdoa, “Ya Allah ya Tuhan kami, curahkanlah air hujan tersebut ke arah sekitar kami akan tetapi hujan tersebut tidak membahayakan kami! Ya Allah ya Tuhan kami, curahkanlah air hujan itu di atas gunung-gunung, bukit-bukit, jurang-jurang, dan tempat pertanian kami! ” Tak lama kemudian hujan berhenti dan kami pun pulang dari masjid dengan berjalan kaki di bawah terik sinar matahari.” Syarik berkata, “Aku pernah bertanya kepada Anas, ‘Apakah orang yang memohon untuk dihentikan hujan itu adalah orang pertama yang sama?’ Anas menjawab, “Aku tidak tahu.” Abu Bakar berkata, “As-Sila’ itu adalah gunung.

Shahih Ibnu Khuzaimah 1787

صحيح ابن خزيمة 1787: نا عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ، نا إِسْمَاعِيلُ يَعْنِي ابْنَ جَعْفَرٍ، ثنا حُمَيْدٌ، عَنْ أَنَسٍ، وَحَدَّثَنَا أَبُو مُوسَى مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى , وَعَلِيُّ بْنُ الْحُسَيْنِ الدِّرْهَمِيُّ قَالَا: ثنا خَالِدٌ وَهُوَ ابْنُ الْحَارِثِ , ثنا حُمَيْدٌ قَالَ: سُئِلَ أَنَسٌ: هَلْ كَانَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ؟ قَالَ: قِيلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ: يَا رَسُولَ اللَّهِ , قَحَطَ الْمَطَرُ , وَأَجْدَبَتِ الْأَرْضُ , وَهَلَكَ الْمَالُ , قَالَ: فَرَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى رَأَيْتُ بَيَاضَ إِبْطَيْهِ , فَاسْتَسْقَى وَمَا نَرَى فِي السَّمَاءِ سَحَابَةً , قَالَ: فَمَا قَضَيْنَا الصَّلَاةَ حَتَّى إِنَّ الشَّابَّ الْقَرِيبَ الْمَنْزِلِ لَيُهِمُّهُ الرُّجُوعُ إِلَى أَهْلِهِ مِنْ شِدَّةِ الْمَطَرِ , فَدَامَتْ جُمُعَةً , فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ , تَهَدَّمَتِ الْبُيُوتُ , وَاحْتُبِسَتِ الرُّكْبَانُ , فَتَبَسَّمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ بِيَدِهِ: «اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا , وَلَا عَلَيْنَا» , فَكُشِطَتْ عَنِ الْمَدِينَةِ. ” هَذَا لَفْظُ حَدِيثِ خَالِدِ بْنِ الْحَارِثِ، غَيْرَ أَنَّ أَبَا مُوسَى قَالَ: قَحَطَ الْمَطَرُ “

Shahih Ibnu Khuzaimah 1787: Ali bin Hujr memberitakan kepada kami, Ismail bin Ja’far, Hamid menceritakan kepada kami, dari Anas, Abu Musa Muhammad bin Al Mutsanna dan Ali bin Husain Ad-Dirhami menceritakan kepada kami, Lalu keduanya berkata, “Khalid bin Harits menceritakan kepada kami, Hamid menceritakan kepada kami dan berkata, “Suatu ketika, Anas ditanya, ‘Apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya (ketika berdoa dalam khutbah jum’at)?’ Anas menjawab, “Pada hari jum’at itu seseorang berkata, ‘Wahai Rasulullah, tolonglah kami! Hujan tidak pernah turun, tanah mulai mengering, dan harta benda kami telah habis (karena musim paceklik yang panjang)’.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya hingga aku dapat melihat kedua ketiak beliau yang putih dan setelah itu beliau memohon hujan turun. Tak lama kemudian, kami melihat awan hitam yang membawa hujan telah muncul. Anas berkata, “Usai melaksanakan shalat jum’at, hujan belum berhenti. Dan bahkan orang yang rumahnya dekat dengan masjid tidak dapat kembali ke rumah karena derasnya hujan yang turun. Kemudian beberapa orang sahabat berseru, ‘wahai Rasulullah, rumah-rumah kami nyaris hancur (karena hujan yang deras) dan orang-orang tidak dapat mengendarai kendaraannya.’ mendengar seruan para sahabat tersebut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tersenyum seraya mengangkat kedua tangannya dan berdoa, ‘Ya Allah ya Tuhan kami, turunkanlah hujan di sekitar kami dan janganlah engkau jadikan hujan itu dapat membahayakan kami!’ tak lama kemudian awan hitam mulai bergeser dari kota Madinah. Ini adalah hadis lafadz Khalid bin Harits, hanya saja Abu Musa juga berkata, “Hujan tidak kunjung turun.”

Shahih Ibnu Khuzaimah 1772

صحيح ابن خزيمة 1772: أَنَّ سَلْمَ بْنَ جُنَادَةَ، حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنِ ابْنِ أَبِي ذِئْبٍ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنِ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ قَالَ: «كَانَ الْأَذَانُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , وَأَبِي بَكْرٍ , وَعُمَرَ أَذَانَيْنِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ , حَتَّى كَانَ زَمَنُ عُثْمَانَ , فَكَثُرَ النَّاسُ , فَأَمَرَ بِالْأَذَانِ الْأَوَّلِ بِالزَّوْرَاءِ»

Shahih Ibnu Khuzaimah 1772: Salm bin Junadah dan Waki’ pernah menceritakan sebuah hadis kepada kami yang didengarnya dari Ibnu Abu Zi’b, dari Az-Zuhri, dari Saib bin Yazid yang telah berkata, “dahulu adzan shalat jum’at pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, dan Umar itu dua kali. Kemudian pada masa Utsman bin Affan dan kaum muslimin sudah mulai banyak, maka khalifah Utsman bin Affan memeriniahkan adzan sekali lagi dari dalam masjid.

Shahih Ibnu Khuzaimah 1773

صحيح ابن خزيمة 1773: نا مُحَمَّدُ بْنُ شَوْكَرِ بْنِ رَافِعٍ الْبَغْدَادِيُّ، نا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، ثنا أَبِي، عَنِ ابْنِ إِسْحَاقَ، حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ التَّيْمِيُّ، عَنْ عِمْرَانَ بْنِ أَبِي يَحْيَى، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ، عَنْ أَبِي أَيُّوبَ الْأَنْصَارِيِّ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «مَنِ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَمَسَّ مِنْ طِيبٍ إِنْ كَانَ عِنْدَهُ , وَلَبِسَ مِنْ أَحْسَنِ ثِيَابِهِ , ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الْمَسْجِدِ , فَيَرْكَعُ إِنْ بَدَا لَهُ , وَلَمْ يُؤْذِ أَحَدًا , ثُمَّ أَنْصَتَ إِذَا خَرَجَ إِمَامُهُ حَتَّى يُصَلِّيَ كَانَ كَفَّارَةً لِمَا بَيْنَهَا وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ الْأُخْرَى» . قَالَ أَبُو بَكْرٍ: هَذَا مِنَ الْجِنْسِ الَّذِي أَقُولُ: إِنَّ الْإِنْصَاتَ عِنْدَ الْعَرَبِ قَدْ يَكُونُ الْإِنْصَاتُ عَنْ مُكَالَمَةِ بَعْضِهِمْ بَعْضًا دُونَ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ , وَدُونَ ذِكْرِ اللَّهِ وَالدُّعَاءِ , كَخَبَرِ أَبِي هُرَيْرَةَ: كَانُوا يَتَكَلَّمُونَ فِي الصَّلَاةِ فَنَزَلَتْ: {وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا} [الأعراف: 204] ، فَإِنَّمَا زُجِرُوا فِي الْآيَةِ عَنْ مُكَالَمَةِ بَعْضِهِمْ بَعْضًا , وَأُمِرُوا بِالْإِنْصَاتِ عِنْدَ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ: الْإِنْصَاتِ عَنْ كَلَامِ النَّاسِ لَا عَنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ وَالتَّسْبِيحِ وَالتَّكْبِيرِ وَالذِّكْرِ وَالدُّعَاءِ , إِذِ الْعِلْمُ مُحِيطٌ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يُرِدْ بِقَوْلِهِ: «ثُمَّ أَنْصَتَ إِذَا خَرَجَ الْإِمَامُ حَتَّى يُصَلِّيَ» أَنْ يُنْصِتَ شَاهِدُ الْجُمُعَةِ فَلَا يُكَبِّرَ مُفْتَتِحًا لِصَلَاةِ الْجُمُعَةِ , وَلَا يُكَبِّرَ لِلرُّكُوعِ , وَلَا يُسَبِّحَ فِي الرُّكُوعِ , وَلَا يَقُولَ: رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ بَعْدَ رَفْعِ الرَّأْسِ مِنَ الرُّكُوعِ , وَلَا يُكَبِّرَ عِنْدَ الْإِهْوَاءِ إِلَى السُّجُودِ , وَلَا يُسَبِّحَ فِي السُّجُودِ , وَلَا يَتَشَهَّدَ فِي الْقُعُودِ , وَهَذَا لَا يَتَوَهَّمُهُ مَنْ يَعْرِفُ أَحْكَامَ اللَّهِ وَدِينَهُ , فَالْعِلْمُ مُحِيطٌ أَنَّ مَعْنَى الْإِنْصَاتِ فِي هَذَا الْخَبَرِ: عَنْ مُكَالَمَةِ النَّاسِ , وَعَنْ كَلَامِ النَّاسِ , لَا عَمَّا أُمِرَ الْمُصَلِّي مِنَ التَّكْبِيرِ وَالْقِرَاءَةِ وَالتَّسْبِيحِ وَالذِّكْرِ الَّذِي أُمِرَ بِهِ فِي الصَّلَاةِ , فَهَكَذَا مَعْنَى خَبَرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – إِنْ ثَبَتَ -: «وَإِذَا قَرَأَ فَأَنْصِتُوا» : أَيْ: أَنْصِتُوا عَنْ كَلَامِ النَّاسِ. وَقَدْ بَيَّنْتُ مَعْنَى الْإِنْصَاتِ وَعَلَى كَمْ مَعْنًى يَنْصَرِفُ هَذَا اللَّفْظُ فِي الْمَسْأَلَةِ الَّتِي أَمْلَيْتُهَا فِي الْقِرَاءَةِ خَلْفَ الْإِمَامِ “

Shahih Ibnu Khuzaimah 1773: Muhammad bin Syaukar bin Rafi’ Al Baghdadi, Ya’kub bin Ibrahim memberitakan kepada kami,bapakku menceritakan kepada kami, dari Ibnu Ishak, Muhammad bin Ibrahim At-Taimi memberitakan kepada ku, dari Imran bin Abu Yahya, dari Abdullah bin Ka’ab bin Malik, dari Abu Ayyub Al Anshari yang berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barangsiapa mandi pada hari jum’at, lalu memakai minyak wangi, dan mengenakan pakaian yang terbaik, kemudian ia pergi ke masjid serta melaksanakan shalat sunnah tahiyatul masjid, ia tidak mengganggu jama’ah lain, dan mendengarkan apabila imam (khatib) keluar (untuk berkhutbah) hingga shalat jum ’at dilaksanakan, maka hal itu akan menjadi penghapus dosa antara hari jum’at ini dan hari jum’at selanjutnya’.” Abu Bakar berkata, “Ungkapan ini termasuk dari jenis yang aku maksudkan bahwa mendengarkan itu menurut orang arab adalah mendengarkan pembicaraan yang satu dengan yang lainnya tanpa membaca Al Qur’an, berzikir, ataupun berdoa. Sebagaimana disebutkan dalam hadis Abu Hurairah, ‘Dulu kaum muslimin selalu berbicara dalam shalat hingga turun ayat yang berbunyi: “Apabila Al Qur’an itu dibacakan, maka dengarkanlah dengan baik”. ‘Dalam ayat ini jelas bahwasanya mereka dilarang untuk berbicara antara satu dengan yang lain dan diperintahkan untuk mendengarkan bacaan Al Qur’an, bertasbih, bertakbir, dan berdoa. Karena diketahui bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak bermaksud dengan sabdanya kemudian ia diam dan mendengarkan apabila imam keluar (untuk berkhutbah) hingga shalat dilaksanakan’, itu agar orang yang hadir dalam shalat jum’at itu diam dan tidak bertakbir ketika iftitah (membuka) shalat, atau ketika ruku, atau tidak bertasbih ketika ruku, tidak membaca ‘rabbana walakalhamd’ setelah mengangkat kepala dari ruku, tidak bertakbir ketika akan sujud, tidak bertasbih ketika sujud, dan tidak membaca doa tasyahud saat duduk. Dan telah diketahui pula bahwa arti inshaat (diam dan mendengarkan) dalam hadis ini adalah tidak berbicara dengan orang lain dan bukan tidak boleh untuk bertakbir, membaca doa, bertasbih, dan berzikir yang diperintahkan dalam shalat. Demikianlah arti hadis Nabi Muhammad — jika benar— Apabila dibacakan ayat Al Qur’an, maka dengarkanlah’, yaitu tidak berbicara dengan orang lain. Selain itu, kami telah menerangkan pula arti kata Al Inshaat dan macam-macamnya dalam bab Al Qiraa’ah khalfal Imam.