Skip to main content

Shahih Ibnu Khuzaimah 1797

صحيح ابن خزيمة 1797: نا سَعِيدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْمَخْزُومِيُّ، نا سُفْيَانُ، عَنِ ابْنِ عَجْلَانَ، عَنْ عِيَاضِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَعْدِ بْنِ أَبِي سَرْحٍ، أَنَّ أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ، دَخَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَمَرْوَانُ بْنُ الْحَكَمِ يَخْطُبُ , فَقَامَ يُصَلِّي , فَجَاءَ الْأَحْرَاسُ لِيُجْلِسُوهُ , فَأَبَى حَتَّى صَلَّى , فَلَمَّا انْصَرَفَ مَرْوَانُ أَتَيْنَاهُ , فَقُلْنَا لَهُ: يَرْحَمُكَ اللَّهُ , إِنْ كَادُوا لَيَفْعَلُونَ بِكَ قَالَ: مَا كُنْتُ لِأَتْرُكَهُمَا بَعْدَ شَيْءٍ رَأَيْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. ثُمَّ ذَكَرَ أَنَّ رَجُلًا جَاءَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ فِي هَيْئَةٍ بَذَّةٍ , فَأَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَتَصَدَّقُوا , فَمَا لَقَوْا ثِيَابًا , فَأَمَرَ لَهُ بِثَوْبَيْنِ , وَأَمَرَهُ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ , وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ , ثُمَّ جَاءَ يَوْمُ الْجُمُعَةِ الْأُخْرَى , وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ فَأَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَتَصَدَّقُوا , فَأَلْقَى رَجُلٌ أَحَدَ ثَوْبَيْهِ , فَصَاحَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , أَوْ زَجَرَهُ , وَقَالَ: «خُذْ ثَوْبَكَ» , ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ هَذَا دَخَلَ فِي هَيْئَةٍ بَذَّةٍ , فَأَمَرْتُ النَّاسَ أَنْ يَتَصَدَّقُوا , فَمَا لَقَوْا ثِيَابًا , فَأَمَرْتُ لَهُ بِثَوْبَيْنِ , ثُمَّ دَخَلَ الْيَوْمَ فَأَمَرْتُ أَنْ يَتَصَدَّقُوا , فَأَلْقَى هَذَا أَحَدَ ثَوْبَيْهِ» , ثُمَّ أَمَرَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ

Shahih Ibnu Khuzaimah 1797: Said bin Abdurrahman Al Makhzumi memberitakan kepada kami, Sufyan memberitakan kepada kami, dari Ibnu Ajalan, dari Iyadh bin Abdullah bin Sa’ad bin Abu Sarah bahwasanya pada hari jum’at Abu Said Al Khudri datang ke masjid ketika Marwan bin Hakam sedang berkhutbah, lalu Abu Said langsung berdiri untuk melaksanakan shalat sunnah tahiyyat masjid, Akan tetapi, tiba-tiba, para pengawal raja datang untuk menyuruhnya duduk, namun demikian Abu Said tidak bergeming hingga selesai melaksanakan shalat. Ketika Marwan selesai mengimami shalat kaum muslimin, kami pun datang menemui Abu Said seraya berkata kepadanya, ‘Semoga Allah senantiasa memberikan rahmat-Nya kepadamu hai Abu Said! Hampir saja para pengawal raja itu mengambil tindakan yang kurang baik terhadap dirimu.’ mendengar pernyataan kami, Abu Said Al Khudri menjawab, ‘Demi Allah, aku tidak akan meninggalkan shalat tahiyyat masjid yang dua rakaat itu setelah aku melihat langsung dari Rasulullah’. Selanjutnya Abu Said bercerita, ‘Suatu ketika, pada hari jum’at, seorang laki-laki dengan penampilan yang buruk datang ke masjid saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang menyampaikan khutbahnya. Kemudian Rasulullah memerintahkan para jama’ah untuk memberikan sedekah kepada laki-laki tersebut. Akan tetapi, ternyata para jama’ah tidak mempunyai baju yang banyak. Akhirnya Rasulullah memberinya dua helai pakaian. Setelah itu laki-laki tersebut diperintahkan untuk melaksanakan shalat sunnah dua rakaat, sedangkan Rasulullah melanjutkan khutbahnya. Pada hari jum’at berikutnya, laki-laki itu datang ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang menyampaikan khutbahnya. Lalu beliau memerintahkan kaum muslimin untuk mengeluarkan sedekahnya. Tiba-tiba laki-laki itu melemparkan salah satu baju (untuk disedekahkan). Akan tetapi Rasulullah mencegahnya untuk bersedekah dengan bajunya itu seraya berkata, ‘hai saudaraku, ambillah bajumu’ setelah itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘sesungguhnya laki-laki ini datang ke masjid dengan penampilan yang buruk. Lalu aku perintahkan kepada para jama’ah untuk memberikan sedekah kepadanya. Akan tetapi, ternyata mereka tidak mempunyai baju yang banyak. Akhirnya aku berikan dua baju kepadanya. Kemudian pada hari jum’at ini aku memerintahkan kaum muslimin untuk bersedekah dengan hartanya. Dan ternyata laki-laki tersebut melemparkan salah satu bajunya (untuk disedekahkan)” Akhirnya Rasulullah memerintahkan kepadanya untuk melakukan shalat sunah tahiyyatul masjid dua rakaat.

Shahih Ibnu Khuzaimah 1782

صحيح ابن خزيمة 1782: وَفِي خَبَرِ الْحَكَمِ بْنِ حَزَنٍ ? عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «فَحَمِدَ اللَّهَ , وَأَثْنَى عَلَيْهِ كَلِمَاتٍ طَيِّبَاتٍ خَفِيفَاتٍ مُبَارَكَاتٍ»

Shahih Ibnu Khuzaimah 1782: Selanjutnya dalam hadis Hakam bin Huzn dari Nabi Muhammad bahwasanya Rasulullah memuji Allah dengan beberapa kalimat yang indah dan singkat.

Shahih Ibnu Khuzaimah 1798

صحيح ابن خزيمة 1798: نا أَبُو زُهَيْرٍ عَبْدُ الْمَجِيدِ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، نا الْمُقْرِئُ، ثنا سُلَيْمَانُ بْنُ الْمُغِيرَةِ، عَنْ حُمَيْدِ بْنِ هِلَالٍ، عَنْ أَبِي رِفَاعَةَ الْعَدَوِيِّ قَالَ: ” انْتَهَيْتُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَخْطُبُ، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ , رَجُلٌ غَرِيبٌ جَاءَ يَسْأَلُ عَنْ دِينِهِ , لَا يَدْرِي مَا دِينُهُ فَأَقْبَلَ إِلَيَّ وَتَرَكَ خُطْبَتَهُ , فَأُتِيَ بِكُرْسِيٍّ خَلَتْ قَوَائِمُهُ حَدِيدًا , – قَالَ حُمَيْدٌ: أُرَاهُ رَأَى خَشَبًا أَسْوَدَ حَسِبَهُ حَدِيدًا – , فَجَعَلَ يُعَلِّمُنِي مِمَّا عَلَّمَهُ اللَّهُ , ثُمَّ أَتَى خُطْبَتَهُ وَأَتَمَّ آخِرَهَا

Shahih Ibnu Khuzaimah 1798: Abu Zuhair Abdul Majid bin Ibrahim memberitakan kepada kami, Al Muqri memberitakan kepada kami, Sulaiman bin Al Mughirah memberitakan kepada kami, dari Hamid bin Hilal, dari Abu Rifa’ah Al Adawi yang telah berkata, “Suatu ketika, aku datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sedang berkhutbah. ‘Wahai Rasulullah, ‘seruku, ‘Ada seorang laki-laki asing yang datang untuk menanyakan tentang ajaran agamanya.’ mendengar seruanku itu, Rasulullah langsung menemuiku dan menunda khutbahnya. Kemudian sebuah kursi yang kaki penopangnya terbuat dari besi dibawakan untuk tempat beliau duduk. Hamid berkata, ‘Aku melihat kursi tersebut terbuat dari kayu hitam, sehingga diduga terbuat dari besi.’ lalu Rasulullah mengajarkan beberapa ilmu kepadaku. Setelah itu, beliau melanjutkan kembali khutbahnya hingga selesai.”

Shahih Ibnu Khuzaimah 1783

صحيح ابن خزيمة 1783: نا الْحُسَيْنُ بْنُ عِيسَى الْبِسْطَامِيُّ، نا أَنَسٌ يَعْنِي ابْنَ عِيَاضٍ، عَنْ جَعْفَرِ بْنِ مُحَمَّدٍ، ح، وَحَدَّثَنَا عُتْبَةُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ، أنا سُفْيَانُ، عَنْ جَعْفَرٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ فِي خُطْبَتِهِ , يَحْمَدُ اللَّهَ , وَيُثْنِي عَلَيْهِ بِمَا هُوَ لَهُ أَهْلٌ , ثُمَّ يَقُولُ: «مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ , وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ , إِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ , وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ , وَشَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا , وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ , وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ , وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ» , ثُمَّ يَقُولُ: «بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ كَهَاتَيْنِ» , وَكَانَ إِذَا ذَكَرَ السَّاعَةَ احْمَرَّتْ وَجْنَتَاهُ , وَعَلَا صَوْتُهُ , وَاشْتَدَّ غَضَبُهُ كَأَنَّهُ نَذِيرُ جَيْشٍ: «صَبَّحَتْكُمُ السَّاعَةُ وَمَسَّتْكُمْ» , ثُمَّ يَقُولُ: «مَنْ تَرَكَ مَالًا فَلِأَهْلِهِ , وَمَنْ تَرَكَ دَيْنًا أَوْ ضَيَاعًا فَإِلَيَّ أَوْ عَلَيَّ , وَأَنَا وَلِيُّ الْمُؤْمِنِينَ» . «هَذَا لَفْظُ حَدِيثِ ابْنِ الْمُبَارَكِ. وَلَفْظُ أَنَسِ بْنِ عِيَاضٍ مُخَالِفٌ لِهَذَا اللَّفْظِ»

Shahih Ibnu Khuzaimah 1783: Husain bin Isa Al Busthami telah memberitakan sebuah hadis kepada kami, Anas bin Iyadh memberitakan kepada kami, dari Ja’lar bin Muhammad, Ha, Atabah bin Abdullah memberitakan kepada kami, Abdullah bin Mubarak memberitakan kepada kami, Sufyan memberitakan kepada kami, dari Ja’far, dari bapaknya, dari Jabir bin Abdullah bahwasanya ia berkata, ”Apabila sedang menyampaikan khutbah jum’at, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan memulainya dengan membaca tahmid (memuji Allah ) dengan bacaan: ‘Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah , maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. Sebaliknya, barangsiapa disesatkan oleh Allah , maka tidak ada yang dapat memberi petunjuk kepadanya. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya ucapan yang paling benar adalah Al Qur’an dan petunjuk yang paling baik adalah petunjuk Nabi Muhammad. Kemudian perkara yang paling buruk adalah sesuatu yang tidak dikenal, baik itu dalam Al Qur’an atau hadis Nabi dan segala sesuatu yang tidak dikenal, baik itu dalam Al Qur’an atau hadis Nabi, adalah bid’ah. Lalu setiap bid’ah itu pasti menyesatkan. Dan setiap yang menyesatkan itu tempatnya adalah di neraka.” Kemudian Rasulullah melanjutkan ucapannya, “Aku diutus (untuk menyiarkan ajaran Islam) dan jarak hari kiamat itu seperti dua jari ini” Apabila menyebut hari kiamat, maka kedua pipi Rasulullah akan memerah, suaranya akan bertambah tinggi, dan amarahnya akan memuncak. Sepertinya Rasulullah itu adalah seorang yang memberi peringatan kepada para tentara dengan ucapan, ‘Waspadalah, sesungguhnya hari kiamat telah semakin dekat’ setelah itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa meninggalkan harta benda, maka ketahuilah bahwa harta benda tersebut akan menjadi milik keluarganya. Sebaliknya, barangsiapa meninggalkan hutang maka aku yang mengurusnya, aku adalah orang yang mengurus perkara orang-orang mukmin.” Ini adalah hadis lafadz Ibnu Mubarak. Sementara lafadz Anas bin Iyadh itu sendiri berbeda dengan lafadz ini.

Shahih Ibnu Khuzaimah 1799

صحيح ابن خزيمة 1799: نا عَبْدَةُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْخُزَاعِيُّ، نا زَيْدٌ يَعْنِي ابْنَ الْحُبَابِ، عَنْ حُسَيْنٍ وَهُوَ ابْنُ وَاقِدٍ , حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ بُرَيْدَةَ، عَنْ أَبِيهِ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ , فَأَقْبَلَ الْحَسَنُ وَالْحُسَيْنُ عَلَيْهِمَا قَمِيصَانِ أَحْمَرَانِ يَعْثُرَانِ وَيَقُومَانِ , فَنَزَلَ فَأَخَذَهُمَا فَوَضَعَهُمَا بَيْنَ يَدَيْهِ , ثُمَّ قَالَ: ” صَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ {إِنَّمَا أَمْوَالَكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ} [التغابن: 15] رَأَيْتُ هَذَيْنِ فَلَمْ أَصْبِرْ “، ثُمَّ أَخَذَ فِي خُطْبَتِهِ .

Shahih Ibnu Khuzaimah 1799: Abdah bin Abdullah Al Khuza’i memberitakan kepada kami, Zaid bin Hubab memberitakan kepada kami, dari Husain bin Waqid, Abdullah bin Buraidah menceritakan kepada ku, dari bapaknya yang telah berkata, “Suatu ketika, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berkhutbah, tiba-tiba Hasan dan Husain datang dengan mengenakan baju merah sambil berdiri, kemudian Rasulullah turun dari atas mimbar lalu memeluk keduanya, lalu beliau letakkan kedua cucu kesayangannya itu di depannya seraya berkata, ‘Maha Benar Allah dan rasul-Nya. Sesungguhnya harta benda dan anak-anakmu itu merupakan cobaan. Aku melihat kedua anak ini dan tidak sabar (untuk menciumnya). Lalu beliau mulai melanjutkan khuthbahnya.

Shahih Ibnu Khuzaimah 1784

صحيح ابن خزيمة 1784: نا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ، نا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ، نا شُعْبَةُ، عَنْ خُبَيْبِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ مَعْنٍ، عَنِ ابْنَةِ الْحَارِثَةِ بْنِ النُّعْمَانِ قَالَتْ: «مَا حَفِظْتُ ق إِلَّا مِنْ فِي رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , يُقْرَأُ بِهَا فِي كُلِّ جُمُعَةٍ , وَكَانَ تَنُّورُنَا وَتَنُّورُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاحِدًا» . قَالَ أَبُو بَكْرٍ: «ابْنَةُ الْحَارِثَةِ هَذِهِ هِيَ أُمُّ هِشَامٍ بِنْتُ حَارِثَةَ»

Shahih Ibnu Khuzaimah 1784: Muhammad bin Basyar memberitakan kepada kami, Muhammad bin Ja’far memberitakan kepada kami, Syu’bah memberitakan kepada kami, dari Khubaib bin Abdurrahman, dari Abdullah bin Muhammad bin Ma’n, dari anak perempuan Haritsah bin Nu’man yang telah berkata, “Sesungguhnya aku tidak akan dapat menghapal surat “qaaf’ kecuali dari mulut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang selalu membacanya dalam setiap khutbah jum’at. Sepertinya pencerahan kami dan pencerahan Rasulullah itu sama.” Abu Bakar telah berkata, “nama anak perempuan Haritsah bin Nu’man itu adalah Ummu Hisyam binti haritsah.”

Shahih Ibnu Khuzaimah 1800

صحيح ابن خزيمة 1800: نا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَعِيدٍ الْأَشَجُّ، وَزِيَادُ بْنُ أَيُّوبَ قَالَا: ثنا أَبُو تُمَيْلَةَ، ثنا حُسَيْنُ بْنُ وَاقِدٍ، نا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ بُرَيْدَةَ، عَنْ أَبِيهِ قَالَ: بَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ عَلَى الْمِنْبَرِ بِمِثْلِهِ. وَقَالَ: «فَلَمْ أَصْبِرْ حَتَّى نَزَلْتُ فَحَمَلْتُهُمَا» , وَلَمْ يَقُلْ: ثُمَّ أَخَذَ فِي خُطْبَتِهِ

Shahih Ibnu Khuzaimah 1800: Abdullah bin Said Al Asyaj dan Ziyad bin Ayyub memberitakan kepada kami dan keduanya berkata, “Abu Tumailah memberitakan kepada kami, Husein bin Waqid memberitakan kepada kami, Abdullah bin Buraidah memberitakan kepada kami, dari bapaknya yang telah berkata, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berkhutbah di atas mimbar …(sama seperti redaksi hadis di atas). Kemudian Rasulullah berkata, “Aku tidak sabar untuk menciumnya hingga aku turun dari mimbar dan menggendongnya’.” tetapi ia tidak mengatakan, “Kemudian mulai melanjutkan khuthbahnya.”

Shahih Ibnu Khuzaimah 1785

صحيح ابن خزيمة 1785: نا يُوسُفُ بْنُ مُوسَى، نا جَرِيرٌ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ أَبِي بَكْرٍ، عَنْ يَحْيَى بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، عَنْ أُمِّ هِشَامِ بِنْتِ حَارِثَةَ بْنِ النُّعْمَانِ قَالَتْ: «قَرَأْتُ ق وَالْقُرْآنِ الْمَجِيدِ مِنْ فِي رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , كَانَ يَقْرَؤُهَا كُلَّ جُمُعَةٍ عَلَى الْمِنْبَرِ إِذَا خَطَبَ النَّاسَ» . قَالَ أَبُو بَكْرٍ: «يَحْيَى بْنُ عَبْدِ اللَّهِ هَذَا هُوَ ابْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ سَعْدِ بْنِ زُرَارَةَ , نَسَبَهُ إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدٍ»

Shahih Ibnu Khuzaimah 1785: Yusuf bin Musa memberitakan kepada kami, Jarir memberitakan kepada kami, dari Muhammad bin Abu Bakar dari Yahya bin Abdullah, dari Ummu Hisyam binti Haritsah bin Nu’man yang telah berkata, “aku dapat menghapal surat qaaf wal qur’anil majid dari mulut Rasulullah yang senantiasa membacanya setiap khutbah jum’at di atas mimbar.” Abu Bakar berkata, “Yahya bin Abdullah adalah anak Abdurrahman bin Sa’ad bin Zirarah, keturunannya adalah Ibrahim bin Sa’ad.”

Shahih Ibnu Khuzaimah 1770

صحيح ابن خزيمة 1770: نا إِسْمَاعِيلُ بْنُ مُوسَى الْفَزَارِيُّ، أَخْبَرَنَا إِبْرَاهِيمُ يَعْنِي ابْنَ سَعْدٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، وَالزُّهْرِيِّ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيِّبِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِذَا أُقِيمَتِ الصَّلَاةُ فَلَا تَأْتُوهَا وَأَنْتُمْ تَسْعَوْنَ , وَأْتُوهَا وَأَنْتُمْ تَمْشُونَ عَلَيْكُمُ السَّكِينَةُ , فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا , وَمَا فَاتَكُمْ فَاقْضُوا»

Shahih Ibnu Khuzaimah 1770: Ismail bin Musa Al Fazari memberitakan kepada kami, Ibrahim bin Sa’ad memberitakan kepada kami, dari bapaknya, dari Abu Salama dan Az-Zuhri, dari Said bin Musayyib, dari Abu Hurairah yang telah berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: “Apabila adzan shalat telah dikumandangkan, maka janganlah kalian tergesa-gesa untuk melaksanakannya. Datangilah tempat shalat sambil berjalan kaki dengan penuh ketenangan. Kerjakanlah rakaat shalat yang kalian dapatkan dan sempurnakanlah rakaat shalat yang tertinggal!”

Shahih Ibnu Khuzaimah 1771

صحيح ابن خزيمة 1771: نا أَبُو مُوسَى، نا أَبُو عَامِرٍ، نا ابْنُ أَبِي ذِئْبٍ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنِ السَّائِبِ وَهُوَ ابْنُ يَزِيدَ قَالَ: «كَانَ النِّدَاءُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ فِي الْقُرْآنِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ إِذَا خَرَجَ الْإِمَامُ , وَإِذَا قَامَتِ الصَّلَاةُ فِي زَمَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ , حَتَّى كَانَ عُثْمَانُ , فَكَثُرَ النَّاسُ , فَأَمَرَ بِالنِّدَاءِ الثَّالِثِ عَلَى الزَّوْرَاءِ , فَثَبَتَ حَتَّى السَّاعَةِ» . قَالَ أَبُو بَكْرٍ: فِي قَوْلِهِ وَإِذَا قَامَتِ الصَّلَاةُ: يُرِيدُ النِّدَاءَ الثَّانِيَ الْإِقَامَةَ , وَالْأَذَانُ وَالْإِقَامَةُ يُقَالُ لَهُمَا: أَذَانَانِ , أَلَمْ تَسْمَعِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلَاةٌ» ؟ وَإِنَّمَا أَرَادَ: بَيْنَ كُلِّ أَذَانٍ وَإِقَامَةٍ. وَالْعَرَبُ قَدْ تُسَمِّي الشَّيْئَيْنِ بِاسْمِ الْوَاحِدِ إِذَا قَرَنَتْ بَيْنَهُمَا , قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: {وَلِأَبَوَيْهِ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا السُّدُسُ} [النساء: 11] ، وَقَالَ: {وَوَرِثَهُ أَبَوَاهُ فَلِأُمِّهِ الثُّلُثُ} [النساء: 11] وَإِنَّمَا هُمَا أَبٌ وَأُمٌّ , فَسَمَّاهُمَا اللَّهُ أَبَوَيْنِ , وَمِنْ هَذَا الْجِنْسِ خَبَرُ عَائِشَةَ: كَانَ طَعَامُنَا عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْأَسْوَدَيْنِ: التَّمْرَ وَالْمَاءَ. وَإِنَّمَا السَّوَادُ لِلتَّمْرِ خَاصَّةً دُونَ الْمَاءِ , فَسَمَّتْهُمَا عَائِشَةُ: الْأَسْوَدَيْنِ , لَمَّا قَرَنَتْ بَيْنَهُمَا , وَمِنْ هَذَا الْجِنْسِ قِيلَ: سُنَّةُ الْعُمَرَيْنِ , وَإِنَّمَا أُرِيدَ أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ , لَا كَمَا تَوَهَّمَ مَنْ ظَنَّ أَنَّهُ أُرِيدَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ , وَعُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ , وَالدَّلِيلُ عَلَى أَنَّهُ أَرَادَ بِقَوْلِهِ: وَإِذَا قَامَتِ الصَّلَاةُ: النِّدَاءَ الثَّانِيَ الْمُسَمَّى إِقَامَةً

Shahih Ibnu Khuzaimah 1771: Abu Musa memberitakan kepada kami, Abu Amir memberitakan kepada kami, Ibnu Abu Zi’b memberitakan kepada kami, dari Az-Zuhri, dari Saib bin Yazid yang telah berkata, “pada mulanya panggilan adzan pada hari jum’at yang disebutkan Allah dalam Al Qur’an itu dikumandangkan manakala imam keluar (untuk Berkhutbah). Demikianlah adzan shalat jum’at itu dikumandangkan pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, dan Umar bin Khathab, kemudian, pada masa pemerintahan Utsman bin Affan, ketika kaum muslimin bertambah banyak, maka khalifah Utsman bin Affan memerintahkan panggilan ketiga dari dalam masjid dan kini tetap berlaku sampai sekarang. Abu Bakar memberi komentar tentang sabda Nabi yang berbunyi, “Apabila adzan shalat telah dikumandangkan”, yang dimaksudkan adalah panggilan kedua yaitu iqamat. Dengan demikian, adzan dan iqamat itu disebut juga dengan istilah “adzanaani” (dua adzan). Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Antara dua adzan itulah shalat (didirikan)”. Selain itu, orang arab sering menamakan dua hal dengan menggunakan satu nama yang dikaitkan antara keduanya. Allah telah berfirman, “Bagian setiap orang dari kedua orangtuanya itu adalah seperenam. ” Dan juga dalam ayat yang lainnya, t(kedua orangtuanya memperoleh warisan. Sedangkan bagian untuk ibunya adalah sepertiga. ” Yang dimaksud dengan kedua orangtua itu adalah bapak dan ibu, maka Allah cukup menyebutkannya dengan “abawaini”, yang artinya adalah kedua orangtua. Di antara contoh yang lainnya adalah hadis Aisyah yang berbunyi, “pada saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup, maka makanan kami adalah aswadaini, yaitu kurma dan air.” Sebenarnya yang dimaksud dengan as-Sawaad itu adalah khusus untuk buah kurma tanpa air. Akan tetapi, Aisyah sengaja menyebutnya aswadaini, karena ia mengaitkan keduanya. Contoh lainnya yang sama adalah sunnah Umaraini. Yang dimaksud dengan Umaraini dalam lafadz ini adalah Abu Bakar dan Umar, dan bukannya Umar bin Khathab dan Umar bin Abdul Aziz. Hal ini menunjukkan bahwasanya maksud hadis Rasulullah yang berbunyi, “apabila adzan shalat telah dikumandangkan”, adalah panggilan yang kedua yaitu iqamat.