Skip to main content

Shahih Ibnu Hibban 2006

صحيح ابن حبان 2006: أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ يَحْيَى بْنِ زُهَيْرٍ، بِتُسْتَرَ، قَالَ‏:‏ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ يَحْيَى بْنِ أَبِي بُكَيْرٍ الْكَرْمَانِيُّ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَبِي بُكَيْرٍ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ، قَالَ‏:‏ أَخْبَرَنَا دَاوُدُ بْنُ أَبِي هِنْدَ، وَغَيْرُهُ، عَنِ الشَّعْبِيِّ، قَالَ‏:‏ أَخْبَرَنِي وَرَّادٌ، أَنَّ مُعَاوِيَةَ كَتَبَ إِلَى الْمُغِيرَةِ‏:‏ أَنِ اكْتُبْ إِلَيَّ بِشَيْءٍ سَمِعْتَهُ مِنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَكَتَبَ إِلَيْهِ‏:‏ إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ حِينَ يَفْرُغُ مِنْ صَلاَتِهِ‏:‏ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ، وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، اللَّهُمَّ لاَ مَانِعَ لَمَّا أَعْطَيْتَ، وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلاَ يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ‏.‏قَالَ أَبُو حَاتِمٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ‏:‏ قَالَ لَنَا أَحْمَدُ بْنُ يَحْيَى بْنِ زُهَيْرٍ‏:‏ دَاوُدُ بْنُ أَبِي هِنْدَ، وَمُجَالِدٌ، عَنِ الشَّعْبِيِّ، وَأَنَا قُلْتُ‏:‏ وَغَيْرُهُ، لأَنَّ مُجَالِدًا تَبَرَّأْنَا مِنْ عُهْدَتِهِ فِي كِتَابِ الْمَجْرُوحِينَ‏.‏

Shahih Ibnu Hibban 2006: Ahmad bin Yahya bin Zuhair mengabarkan kepada kami di Tustar, dia berkata: Abdullah bin Muhammad bin Yahya bin Abi Bukair Al Kirmani mengabarkan kepada kami, dia berkata: Yahya bin Abi Bukair menceritakan kepada kami, dia berkata: Husyaim menceritakan kepada kami, dia berkata: Daud bin Abi Hindun dan lain-lainnya mengabarkan kepada kami dari Asy-Syabi, dia berkata: Warrad mengabarkan kepadaku bahwa Muawiyah menulis surat kepada Al Mughirah, “Tulislah untukku sesuatu yang pernah kamu dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Dia lalu menulis surat kepadanya, “Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah setelah selesai shalat membaca, ‘La ilaha illallahu wahdahu la syarika lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ala kulli syai’in qadiir, allaahumma laa maani’a limaa athaita, wa laa mu’thiya lima mana’ta wa laa yanfa’u dzal jaddi minkal jaddu’.” (Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, Yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya segala kerajaan dan bagi-Nya segala pujian. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ya Allah, tidak ada yang dapat menghalangi apa yang Engkau berikan dan tidak ada yang dapat memberi apa yang Engkau halangi. Tidak bermanfaat kekayaan bagi orang yang memilikinya [kecuali iman dan amal shalihnya], dan hanya dari-Mu kekayaan itu berasal). 390” [5:12] Abu Hatim RA berkata, “Ahmad bin Yahya bin Zuhair berkata kepada kami, “Daud bin Abi Hindun dan Mujalid (meriwayatkan) dari Asy-Sya’bi.” Saya katakan, “Juga selain dia, karena tentang Mujalid kami berlepas diri dari kebiasaannya, yang kami sebutkan dalam Al Majruhin.” 391

Shahih Ibnu Hibban 2022

صحيح ابن حبان 2022: أَخْبَرَنَا أَبُو يَعْلَى، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا دَاوُدُ بْنُ رُشَيْدٍ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ حَسَّانَ الْكِنَانِيِّ، عَنْ مُسْلِمِ بْنِ الْحَارِثِ بْنِ مُسْلِمٍ التَّمِيمِيِّ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ‏:‏ بَعَثَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَرِيَّةٍ، فَلَمَّا بَلَغْنَا الْمُغَارَ، اسْتَحْثَثْتُ فَرَسِي، فَسَبَقْتُ أَصْحَابِي، فَتَلَقَّانِي الْحَيُّ بِالرَّنِينِ، فَقُلْتُ‏:‏ قُولُوا‏:‏ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ تُحَرَّزُوا، فَقَالُوهَا، فَلاَمَنِي أَصْحَابِي، وَقَالُوا‏:‏ حُرِمْنَا الْغَنِيمَةَ بَعْدَ أَنْ رُدَّتْ بِأَيْدِينَا، فَلَمَّا قَدِمْنَا عَلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَخْبَرُوهُ بِمَا صَنَعْتُ، فَدَعَانِي، فَحَسَّنَ لِي مَا صَنَعْتُ، وَقَالَ‏:‏ أَمَا إِنَّ اللَّهَ قَدْ كَتَبَ لَكَ بِكُلِّ إِنْسَانٍ مِنْهُمْ كَذَا وَكَذَا‏.‏قَالَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ‏:‏ فَأَنَا نَسِيتُ الثَّوَابَ، قَالَ‏:‏ ثُمَّ قَالَ لِي‏:‏ إِنِّي سَأَكْتُبُ لَكَ كِتَابًا، وَأُوصِي بِكَ مَنْ يَكُونُ بَعْدِي مِنْ أَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ قَالَ‏:‏ فَكَتَبَ لِي كِتَابًا، وَخَتَمَ عَلَيْهِ، وَدَفَعَهُ إِلَيَّ وَقَالَ‏:‏ إِذَا صَلَّيْتَ الْمَغْرِبَ، فَقُلْ قَبْلَ أَنْ تُكَلِّمَ أَحَدًا‏:‏ اللَّهُمَّ أَجِرْنِي مِنَ النَّارِ سَبْعَ مَرَّاتٍ، فَإِنَّكَ إِنْ مُتَّ مِنْ لَيْلَتِكَ تِلْكَ كَتَبَ اللَّهُ لَكَ جَوَازًا مِنَ النَّارِ، وَإِذَا صَلَّيْتَ الصُّبْحَ فَقُلْ قَبْلَ أَنْ تُكَلِّمَ أَحَدًا‏:‏ اللَّهُمَّ أَجِرْنِي مِنَ النَّارِ سَبْعَ مَرَّاتٍ، فَإِنَّكَ إِنْ مُتَّ مِنْ يَوْمِكَ ذَلِكَ كَتَبَ اللَّهُ لَكَ جَوَازًا مِنَ النَّارِ قَالَ‏:‏ فَلَمَّا قَبَضَ اللَّهُ رَسُولَهُ، أَتَيْتُ أَبَا بَكْرٍ بِالْكِتَابِ، فَفَضَّهُ، فَقَرَأَهُ وَأَمَرَ لِي بِعَطَاءٍ وَخَتَمَ عَلَيْهِ، ثُمَّ أَتَيْتُ بِهِ عُمَرَ، فَقَرَأَهُ، وَأَمَرَ لِي، وَخَتَمَ عَلَيْهِ، ثُمَّ أَتَيْتُ بِهِ عُثْمَانَ، فَفَعَلَ مِثْلَ ذَلِكَ‏.‏قَالَ مُسْلِمُ بْنُ الْحَارِثِ‏:‏ تُوُفِّيَ الْحَارِثُ بْنُ مُسْلِمٍ فِي خِلاَفَةِ عُثْمَانَ، وَتَرَكَ الْكِتَابَ عِنْدَنَا، فَلَمْ يَزَلْ عِنْدَنَا حَتَّى كَتَبَ عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ إِلَى الْوَالِي بِبَلَدِنَا يَأْمُرُهُ بِإِشْخَاصِي إِلَيْهِ وَالْكِتَابَ، فَقَدِمْتُ عَلَيْهِ، فَفَضَّهُ، وَأَمَرَ لِي، وَخَتَمَ عَلَيْهِ، وَقَالَ‏:‏ أَمَا إِنِّي لَوْ شِئْتُ أَنْ يَأْتِيَكَ ذَلِكَ وَأَنْتَ فِي مَنْزِلِكَ فَعَلْتُ، وَلَكِنْ أَحْبَبْتُ أَنْ تُحَدِّثَنِي بِالْحَدِيثِ عَلَى وَجْهِهِ، قَالَ‏:‏ فَحَدَّثْتُهُ‏.‏

Shahih Ibnu Hibban 2022: Abu Ya’la mengabarkan kepada kami, dia berkata: Daud bin Rusyaid menceritakan kepada kami, dia berkata: Al Walid bin Muslim menceritakan kepada kami dari Abdurrahman bin Hassan Al Kinani, dari Muslim bin Al Harits bin Muslim At-Tamimi, dari ayahnya, dia berkata, “Rasulullah mengirim kami dalam sariyyah (detasemen). Setelah kami sampai di target penyerangan, aku menghentak kudaku sehingga aku mendahului teman-temanku. Aku lalu bertemu dengan orang-orang kampung (yang hendak diserang) dengan teriakan keras mereka. Aku lalu berkata, “Ucapkanlah, ilaha illallah’, maka kalian akan dijaga (aman)” Mereka pun mengucapkannya. Teman-temanku kemudian mencelaku dan berkata, “Kita tidak jadi mendapatkan ghanimah (harta rampasan perang) yang hampir kita dapatkan.” Setelah kami sampai di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka memberitahu beliau tentang peristiwa tersebut. Beliau lalu memanggilku dan menganggap baik perbuatanku. Beliau kemudian bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mencatat (pahala) untukmu, yaitu untuk setiap orangnya ini dan .itu” Abdurrahman berkata, “Aku lupa pahalanya.” Dia (ayahnya) melanjutkan perkataannya, “Kemudian beliau bersabda kepadaku, ‘Aku akan menulis untukmu sebuah surat yang menjadi wasiatku bagi Imam-Imam kaum muslim yang datang sesudahku’. Beliau pun menulis surat tersebut untukku dan memberinya stempel, lalu menyerahkannya kepadaku, kemudian bersabda, ‘Bila kamu telah (selesai) shalat Maghrib, bacalah doa ini sebanyak 7 kali sebelum kamu berbicara dengan seseorang, “Allaahumma ajirnii minan-naar(Ya Allah, selamatkanlah aku dari neraka). Apabila kamu telah (selesai) shalat Subuh, bacalah doa ini sebanyak 7 kali sebelum kamu berbicara dengan seseorang, “Allaahumma ajirnii minan-naar”. (Ya Allah, selamatkanlah aku dari neraka). Apabila kamu meninggal pada hari itu, Allah akan memberimu pahala bebas dari neraka’. Setelah Rasulullah wafat, aku mendatangi Abu Bakar dan menyerahkan surat tersebut kepadanya. Dia lalu membukanya dan membacanya. Setelah itu dia menyuruh memberikanku hadiah, kemudian memberi stempel pada surat tersebut. Aku lalu membawa surat tersebut kepada Umar. Dia pun membacanya, lalu menyuruh memberikan hadiah kepadaku. Kemudian dia memberi stempel pada surat tersebut. Aku lalu menemui Utsman dengan membawa surat tersebut. Dia pun melakukan hal yang sama (seperti yang dilakukan Abu Bakar dan Umar).” Muslim bin Al Harits berkata, “Al Harits bin Muslim wafat pada masa pemerintahan Utsman, dan dia meninggalkan surat tersebut kepada kami. Surat tersebut tetap ada pada kami, sampai Umar bin Abdul Aziz menulis surat kepada gubernur di wilayah kami, yang menyuruhnya memerintahkan kami menghadapnya dengan membawa surat tersebut. Aku pun menghadap kepadanya. Dia membuka surat tersebut, kemudian menyuruh memberikan hadiah untukku. Setelah itu dia memberi stempel pada surat tersebut, lalu berkata, ‘Sebenarnya kalau aku mau, hadiah tersebut akan sampai ke rumahmu saat kamu sedang berada di rumahmu. Tapi aku ingin kamu menceritakan kepadaku tentang hadis tersebut sesuai aslinya”. Muslim bin Al Harits berkata, “Aku pun menceritakan hadis tersebut kepadanya.”

Shahih Ibnu Hibban 2038

صحيح ابن حبان 2038: أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ سَلْمٍ، حَدَّثَنَا حَرْمَلَةُ، حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ، أَخْبَرَنِي عَمْرُو بْنُ الْحَارِثِ، أَنَّ أَبَا عُشَّانَةَ، حَدَّثَهُ أَنَّهُ سَمِعَ عُقْبَةَ بْنَ عَامِرٍ، يُحَدِّثُ عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ‏:‏ الْقَاعِدُ عَلَى الصَّلاَةِ كَالْقَانِتِ، وَيُكْتَبُ مِنَ الْمُصَلِّينَ مِنْ حِينِ يَخْرُجُ مِنْ بَيْتِهِ حَتَّى يَرْجِعَ إِلَى بَيْتِهِ‏.‏قَالَ أَبُو حَاتِمٍ‏:‏ أَبُو عُشَّانَةَ اسْمُهُ حَيُّ بْنُ يُؤْمِنَ الْمَعَافِرِيُّ، مِنْ ثِقَاتِ أَهْلِ مِصْرَ‏.‏

Shahih Ibnu Hibban 2038: Abdullah bin Muhammad bin Salm mengabarkan kepada kami,Hannalah menceritakan kepada kami, Ibnu Wahb menceritakan kepada kami, Amr bin Al Hants mengabarkan kepadaku, bahwa Abu Usysyanah menceritakan kepadanya: Dia mendengar Uqbah bin Amir menceritakan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda, “Orang yang duduk (dalam rangka menunggu) shalat adalah seperti orang yang beribadah. Dia akan dicatat (mendapat pahala) termasuk orang yang shalat, sejak keluar dari rumahnya sampai kembali pulang.”435 [1:2] Abu Hatim berkata, “Abu Usysyanah namanya adalah Hayyu bin Yu‘min Al Ma’afiri, salah seorang perawi tsiqah dari Mesir.“

Shahih Ibnu Hibban 2007

صحيح ابن حبان 2007: أَخْبَرَنَا الْحَسَنُ بْنُ سُفْيَانَ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللهِ بْنُ مُعَاذِ بْنِ مُعَاذٍ الْعَنْبَرِيُّ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا أَبِي، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ عُمَيْرٍ، قَالَ‏:‏ سَمِعْتُ وَرَّادًا، كَاتَبَ الْمُغِيرَةِ، يُحَدِّثُ، أَنَّ الْمُغِيرَةَ بْنَ شُعْبَةَ، كَتَبَ إِلَى مُعَاوِيَةَ‏:‏ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا قَضَى صَلاَتَهُ، فَسَلَّمَ، قَالَ‏:‏ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ، وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، اللَّهُمَّ لاَ مَانِعَ لَمَّا أَعْطَيْتَ، وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلاَ يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ‏.‏أَخْبَرَنَا الْحَسَنُ فِي عَقِبِهِ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللهِ بْنُ مُعَاذٍ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا أَبِي، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنِ الْحَكَمِ، عَنِ الْقَاسِمِ بْنِ مُخَيْمِرَةَ، عَنْ وَرَّادٍ، عَنِ الْمُغِيرَةِ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، مِثْلَ ذَلِكَ‏.‏

Shahih Ibnu Hibban 2007: Al Hasan bin Sufyan mengabarkan kepada kami, dia berkata: Ubaidillah bin Mu’adz bin Mu’adz Al Anbari menceritakan kepada kami, dia berkata: Ayahku menceritakan kepada kami, dia berkata: Syu’bah menceritakan kepada kami dari Abdul Malik bin Umair, dia berkata: Aku mendengar Warrad, sekretaris Al Mughirah, menceritakan: Al Mughirah bin Syu’bah menulis surat kepada Muawiyah (yang menyebutkan) bahwa Rasulullah bila selesai shalat mengucapkan salam, lalu membaca, “La ilaha illallahu wahdahu la syarika lah, lakul mulku wa lahul hamdu wa huwa ala kulli syai’in qadiir. Allaahumma laa maani’a limaa a’thaita, wa laa mu’thiya lima mana’ta walaayanfa’u dzaljaddi minkal jaddu.” (Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, Yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya segala kerajaan dan bagi-Nya segala pujian. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ya Allah, tidak ada yang dapat menghalangi apa yang Engkau berikan dan tidak ada yang dapat memberi apa yang Engkau halangi. Tidak bermanfaat kekayaan bagi orang yang memilikinya (kecuali iman dan amal shalihnya), dan hanya dari-Mu kekayaan itu berasal. 392 Al Hasan mengabarkan kepada kami setelahnya, dia berkata: Ubaidillah bin Mu’adz menceritakan kepada kami, dia berkata: Ayahku menceritakan kepada kami, dia berkata: Syubah menceritakan kepada kami dari Al Hakam, dari Al Qasim bin Mukhaimirah, dari Warrad, dari Al Mughirah, dari Nabi , dengan redaksi serupa. 393 [5:12]

Shahih Ibnu Hibban 2023

صحيح ابن حبان 2023: أَخْبَرَنَا الْفَضْلُ بْنُ الْحُبَابِ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ الْمَدِينِيِّ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ بْنِ سَعْدٍ، حَدَّثَنَا أَبِي، عَنِ ابْنِ إِسْحَاقَ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنِي يَزِيدُ بْنُ يَزِيدَ بْنِ جَابِرٍ، عَنِ الْقَاسِمِ بْنِ مُخَيْمِرَةَ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ يَعِيشَ، عَنْ أَبِي أَيُّوبَ، قَالَ‏:‏ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ‏:‏ مَنْ قَالَ إِذَا أَصْبَحَ‏:‏ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، عَشْرَ مَرَّاتٍ، كُتِبَ لَهُ بِهِنَّ عَشْرُ حَسَنَاتٍ، وَمُحِيَ بِهِنَّ عَنْهُ عَشْرُ سَيِّئَاتٍ، وَرُفِعَ لَهُ بِهِنَّ عَشْرُ دَرَجَاتٍ، وَكُنَّ لَهُ عَدْلَ عَتَاقَةِ أَرْبَعِ رِقَابٍ، وَكُنَّ لَهُ حَرَسًا مِنَ الشَّيْطَانِ حَتَّى يُمْسِيَ، وَمَنْ قَالَهُنَّ إِذَا صَلَّى الْمَغْرِبَ دُبُرَ صَلاَتِهِ فَمِثْلُ ذَلِكَ حَتَّى يُصْبِحَ‏.‏أَخْبَرَنَا الْفَضْلُ بْنُ الْحُبَابِ، فِي عَقِبِهِ، حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ الْمَدِينِيِّ، حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، حَدَّثَنَا أَبِي، عَنِ ابْنِ إِسْحَاقَ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنِي يَزِيدُ بْنُ يَزِيدَ بْنِ جَابِرٍ، عَنْ مَكْحُولٍ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ يَعِيشَ، عَنْ أَبِي أَيُّوبَ، قَالَ‏:‏ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ‏:‏ مَنْ قَالَ دُبُرَ صَلاَتِهِ إِذَا صَلَّى‏:‏ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ، وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، كُتِبَ لَهُ بِهِنَّ عَشْرُ حَسَنَاتٍ، وَمُحِيَ عَنْهُ بِهِنَّ عَشْرُ سَيِّئَاتٍ، وَرُفِعَ لَهُ بِهِنَّ عَشْرُ دَرَجَاتٍ، وَكُنَّ لَهُ عِتْقَ عَشْرِ رِقَابٍ، وَكُنَّ لَهُ حَرَسًا مِنَ الشَّيْطَانِ حَتَّى يُمْسِيَ، وَمَنْ قَالَهُنَّ حِينَ يُمْسِي كَانَ لَهُ مِثْلُ ذَلِكَ حَتَّى يُصْبِحَ‏.‏قَالَ أَبُو حَاتِمٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ‏:‏ سَمِعَ هَذَا الْخَبَرَ يَزِيدُ بْنُ يَزِيدَ بْنِ جَابِرٍ، عَنْ مَكْحُولٍ، وَالْقَاسِمِ بْنِ مُخَيْمِرَةَ، جَمِيعًا وَهُمَا طَرِيقَانِ مَحْفُوظَانِ‏.‏

Shahih Ibnu Hibban 2023: Al Fadhl bin Al Hubab mengabarkan kepada kami, dia berkata: Ali bin Al Madini menceritakan kepada kami, dia berkata: Ya’qub bin Ibrahim bin Sa’d menceritakan kepada kami, ayahku menceritakan kepada kami dari Ibnu Ishaq, dia berkata: Yazid bin Yazid bin Jabir menceritakan kepadaku dari Al Qasim bin Mukhaimirah, dari Abdullah bin Ya’isy, dari Abu Ayyub, dia berkata: Rasulullah bersabda, “Siapa yang pada pagi hari (setelah shalat Subuh) membaca, ‘La ilaha illallahu wahdahu la syarika lah, lahul mulku wa lahul hamdu wahuwa ala kulli syai’in qadiir’. (Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, Yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya segala kerajaan dan bagi-Nya segala pujian. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu) sebanyak 10 kali akan mendapat pahala 10 kebaikan, dilebur darinya 10 keburukan, diangkat derajatnya 10 derajat, mendapat pahala yang sebanding dengan memerdekakan empat budak, dan dijaga dari syetan hingga sore hari. Siapa saja yang membacanya setelah shalat Maghrib, akan mendapat pahala demikian sampai pagi. “414 Al Fadhl bin Al Hubab mengabarkan kepada kami setelah menyebutkannya, Ali bin Al Madini menceritakan kepada kami, Ya’qub bin Ibrahim menceritakan kepada kami, ayahku menceritakan kepada kami dari Ibnu Ishaq, dia berkata: Yazid bin Yazid bin Jabir menceritakan kepadaku dari Makhul, dari Abdullah bin Ya’isy, dari Abu Ayyub, dia berkata: Rasulullah bersabda, “Siapa saja yang setelah selesai shalat membaca, ‘La ilaha illallahu wahdahu la syarika lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ala kulli syai’in qadiir’ sebanyak 10 kali, akan mendapat pahala 10 kebaikan dan dilebur darinya 10 keburukan, kemudian diangkat derajatnya 10 derajat, dan mendapat pahala yang sebanding dengan memerdekakan sepuluh budak dan akan dijaga dari syetan hingga sore hari. Siapa saja yang membacanya pada sore hari, akan mendapat pahala yang demikian sampai pagi.”415 [1:2] Abu Hatim RA berkata, “Yazid bin Yazid bin Jabir mendengar Khabar ini dari Makhul dan Al Qasim bin Mukhaimirah sekaligus. Dua jalur ini sama-sama mahfuzh (terjaga validitasnya).”

Shahih Ibnu Hibban 2039

صحيح ابن حبان 2039: أَخْبَرَنَا ابْنُ قُتَيْبَةَ، حَدَّثَنَا حَرْمَلَةُ بْنُ يَحْيَى، حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ، حَدَّثَنِي حُيَيُّ بْنُ عَبْدِ اللهِ الْمَعَافِرِيُّ، عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْحُبُلِيِّ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو، قَالَ‏:‏ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ‏:‏ مَنْ رَاحَ إِلَى مَسْجِدِ جَمَاعَةٍ، فَخُطْوَتَاهُ خُطْوَةٌ تَمْحُو سَيِّئَةً، وَخَطْوَةٌ تَكْتُبُ حَسَنَةً، ذَاهِبًا وَرَاجِعًا‏.‏قَالَ أَبُو حَاتِمٍ‏:‏ الْعَرَبُ تُضِيفُ الْفِعْلَ إِلَى الأَمْرِ، كَمَا تُضِيفُ إِلَى الْفَاعِلِ، وَرُبَّمَا أَضَافَتِ الْفِعْلَ إِلَى الْفِعْلِ نَفْسِهِ كَمَا تُضِيفُهُ إِلَى الأَمْرِ فَإِخْبَارُ ابْنِ عَمْرٍو أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَلَقَ رَأْسَهُ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ، أَرَادَ بِهِ أَنَّ الْحَالِقَ فَعَلَ ذَلِكَ بِهِ لاَ نَفْسُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأُضِيفَ الْفِعْلُ إِلَى الأَمْرِ، كَمَا يُضَافُ ذَلِكَ إِلَى الْفَاعِلِ، وَفِي خَبَرِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو، الَّذِي ذَكَرْنَاهُ خُطْوَةٌ تَمْحُو سَيِّئَةً، أَضَافَ الْفِعْلَ إِلَى الْفِعْلِ، لاَ أَنَّ الْخُطْوَةَ تَمْحُو السَّيِّئَةَ نَفْسَهَا، وَلَكِنَّ اللَّهَ جَلَّ وَعَلاَ هُوَ الَّذِي يَتَفَضَّلُ عَلَى عَبْدِهِ بِذَلِكِ‏.‏

Shahih Ibnu Hibban 2039: Ibnu Qutaibah mengabarkan kepada kami, Harmalah bin Yahya menceritakan kepada kami, Ibnu Wahb menceritakan kepada kami, Huyay bin Abdullah Al Ma’afiri menceritakan kepadaku dari Abu Abdurrahman Al Hubuli, dari Abdullah bin Amr, dia berkata: Nabi bersabda, “Siapa saja yang berangkat pada sore hari menuju masjid jamaah (masjid yang digunakan untuk shalat jamaah), maka dengan kedua langkahnya, setiap langkah akan menghapus keburukan (dosa) dan langkah satunya lagi menulis kebaikan, baik ketika berangkat maupun pulangnya” 436 [1:2] Abu Hatim berkata, “Orang-orang Arab menyandarkan perbuatan pada perintah sebagaimana menyandarkan pada pelakunya. Terkadang juga menyandarkan perbuatan pada perbuatan itu sendiri sebagaimana menyandarkan kepada perintah. Riwayat Ibnu Amr, bahwa Nabi mencukur rambut kepalanya pada haji Wada’, maksudnya adalah tukang cukur yang melakukannya, bukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jadi, perbuatan disandarkan pada perintah sebagaimana disandarkan pada pelaku. Dalam riwayat Abdullah bin Amr yang telah kami sebutkan, “Setiap langkah akan menghapus keburukan (dosa)”, perbuatan disandarkan pada perbuatan. Jadi, bukannya langkah itu sendiri yang menghapus keburukan, akan tetapi Allahlah yang memberi karunia kepada hamba-Nya akibat perbuatan tersebut.”

Shahih Ibnu Hibban 2008

صحيح ابن حبان 2008: أَخْبَرَنَا عِمْرَانُ بْنُ مُوسَى بْنِ مُجَاشِعٍ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا عَبْدَةُ بْنُ سُلَيْمَانَ، عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ، عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ الْمَكِّيِّ، أَنَّهُ حَدَّثَهُ أَنَّ عَبْدَ اللهِ بْنَ الزُّبَيْرِ، كَانَ يَقُولُ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ‏:‏ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ، وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ، لاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ، لَهُ الْمَنُّ، وَلَهُ النِّعْمَةُ، وَلَهُ الْفَضْلُ وَالثَّنَاءُ الْحَسَنُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ، وَيَقُولُ كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ هَؤُلاَءِ الْكَلِمَاتِ دُبُرَ كُلِّ صَلاَةٍ‏.‏

Shahih Ibnu Hibban 2008: Imran bin Musa bin Mujasyi mengabarkan kepada kami, dia berkata: Utsman bin Abi Syaibah menceritakan kepada kami, dia berkata: Abdat bin Sulaiman menceritakan kepada kami dari Hisyam bin Urwah, dari Abu Az-Zubair Al Makki, dia diceritakan sebuah hadis: Bahwa Abdullah bin Az-Zubair setiap selesai shalat membaca, “Laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariika lah, lahul mulku wa lahul hamdu, wa huwa alaa kulli syai’in qadiir, laa haula wa laa quwwata illaa billaah, laa na’budu illaa iyyaahu, lahul mannu wa lahun ni’matu, wa lahul fadhlu wats-tsanaa’ul hasanu, laa ilaaha illallaahu mukhlishiina lahud diina wa lau karihal kaafiruun.” (Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, Yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya segala kerajaan dan bagi-Nya segala pujian. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan [pertolongan] Allah. Kami tidak menyembah kecuali kepada-Nya. Bagi-Nya karunia, nikmat, anugerah, dan sanjungan yang baik. Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, dengan memurnikan ibadah kepada-Nya, sekalipun orang- orang kafir membencinya). Rasulullah membaca doa ini setiap selesai shalat. 394 [5:12]

Shahih Ibnu Hibban 2024

صحيح ابن حبان 2024: أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ بْنِ خُزَيْمَةَ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُثْمَانَ الْعِجْلِيُّ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللهِ بْنُ مُوسَى، عَنْ شَيْبَانَ، عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ عُمَيْرٍ، عَنْ مُصْعَبِ بْنِ سَعْدٍ، وَعَمْرِو بْنِ مَيْمُونٍ الأَوْدِيِّ، قَالاَ‏:‏ كَانَ سَعْدٌ يُعَلِّمُ بَنِيهِ هَؤُلاَءِ الْكَلِمَاتِ كَمَا يُعَلِّمُ الْمَكْتَبُ الْغِلْمَانَ، يَقُولُ‏:‏ إِنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَتَعَوَّذُ بِهِنَّ بَعْدَ كُلِّ صَلاَةٍ‏:‏ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْبُخْلِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ أُرَدَّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدُّنْيَا، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ‏.‏

Shahih Ibnu Hibban 2024: Muhammad bin lshaq bin Khuzaimah mengabarkan kepada kami, dia berkata; Muhammad bin Utsman Al Ijli menceritakan kepada kami, dia berkata Ubaidillah bin Musa menceritakan kepada kami dari Syaiban, dari Abdul Malik bin Umair, dari Mush’ab bin Sa’id dan Amr bin Maimun Al Audi, 416 keduanya berkata; Sa’d mengajarkan doa ini kepada putra-putranya sebagaimana sekolah mengajarkan kepada anak-anak: Sesungguhnya Rasulullah setelah selesai shalat memohon perlindungan kepada Allah dari sesuatu dengan berdoa, “Allahumma inni a’uddzu bika minal bukhli wa a’uudzu bika minal jubni, wa a’uudzu bika min an uradda ila ardzalil umri, wa a’uudzu bika min fitnatil dunyaa, wa a’uudzu bika min adzaabil qabri” (Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari sifat bakhil, aku berlindung kepada-Mu dari sifat penakut, aku berlindung kepada-Mu dari dikembalikannya ke usia yang terhina, dan aku berlindung kepuda-Mu dari fitnah dunia dan siksa kubur), 417 [5:12]

Shahih Ibnu Hibban 2040

صحيح ابن حبان 2040: أَخْبَرَنَا أَبُو خَلِيفَةَ، حَدَّثَنَا مُسَدَّدُ بْنُ مُسَرْهَدٍ، عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ، عَنِ التَّيْمِيِّ، عَنْ أَبِي عُثْمَانَ، عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ، قَالَ‏:‏ كَانَ رَجُلٌ لاَ أَعْلَمُ أَحَدًا مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ مِمَّنْ يُصَلِّي الْقِبْلَةَ يَشْهَدُ الصَّلاَةَ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَبْعَدَ جِوَارًا مِنَ الْمَسْجِدِ مِنْهُ، فَقِيلَ‏:‏ لَوِ ابْتَعْتَ حِمَارًا تَرْكَبُهُ فِي الرَّمْضَاءِ، أَوِ الظَّلْمَاءِ، فَقَالَ‏:‏ مَا يَسُرُّنِي أَنَّ مَنْزِلِي بِلِزْقِ الْمَسْجِدِ، فَذُكِرَ ذَلِكَ للنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ‏:‏ أَنْطَاكَ اللَّهُ ذَلِكَ كُلَّهُ، أَوْ أَعْطَاكَ اللَّهُ مَا احْتَسَبْتَ‏.‏

Shahih Ibnu Hibban 2040: Abu Khalifah mengabarkan kepada kami, Musaddad bin Musarhad menceritakan kepada kami dari Yahya bin Sa’id, dari At-Taimi, dari Abu Utsman, dari Ubay bin Ka’b, dia berkata, “Ada seorang laki-laki, yang sejauh pengetahuanku tidak ada orang Madinah yang shalat menghadap kiblat bernama Nabi yang rumahnya lebih jauh dari masjid daripada orang tersebut. Dia ditanya, ‘Mengapa kamu tidak membeli keledai untuk kamu kendarai di tengah padang pasir menyengat (pada waktu siang hari) atau di kegelapan malam?’ Dia menjawab, ‘Aku tidak suka bila rumahku dekat masjid’. Hal tersebut lalu disampaikan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau bersabda, “Semoga Allah memberimu semua itu, atau akan memberikan kepadamu apa yang kamu harapkan (berupa pahala dan kebaikan)’.” 431 [3:9]

Shahih Ibnu Hibban 2009

صحيح ابن حبان 2009: أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ الْحَسَنِ الْمَدَائِنِيُّ، بِمِصْرَ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَصْبَغَ بْنِ الْفَرَجِ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا أَبِي، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا الْمُنْذِرُ بْنُ عَبْدِ اللهِ، عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ، عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ الْمَكِّيِّ، أَنَّهُ حَدَّثَهُ، أَنَّ عَبْدَ اللهِ بْنَ الزُّبَيْرِ، كَانَ يَقُولُ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ‏:‏ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ، وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ، لاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ، لَهُ الْمَنُّ، وَلَهُ النِّعْمَةُ، وَلَهُ الْفَضْلُ وَالثَّنَاءُ الْحَسَنُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ وَيَقُولُ‏:‏ كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ هَؤُلاَءِ الْكَلِمَاتِ دُبُرَ كُلِّ صَلاَةٍ‏.‏

Shahih Ibnu Hibban 2009: Ahmad bin Al Hasan Al Madaini mengabarkan kepada kami di Mesir, dia berkata: Muhammad bin Ashbagh bin Al Faraj menceritakan kepada kami, dia berkata: Ayahku menceritakan kepada kami, dia berkata: Al Mundzir bin Abdullah menceritakan kepada kami dari Hisyam bin Urwah, dari Abu Az-Zubair Al Makki, dia menceritakan kepadanya: Abdullah bin Az-Zubair setiap selesai shalat membaca, “Laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariika lah, lahul mulku wa lahul hamdu, wa huwa alaa kulli ‘in qadiir, laa haula walaa quwwata illaa billaah, laa na’budu illaa iyyaahu, lahul mannu wa lahun ni’matu,wa lahul fadhlu wats-tsanaa’ul hasanu, laa ilaaha illallaahu mukhlishiina lahud diina wa lau karihal kaafiruun.” (Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, Yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya segala kerajaan dan bagi-Nya segala pujian. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan [pertolongan] Allah. Kami tidak menyembah kecuali kepada-Nya. Bagi-Nya karunia dan nikmat serta anugerah dan sanjungan yang baik. Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, dengan memurnikan ibadah kepada-Nya, sekalipun orang- orang kafir membencinya). Rasulullah membaca doa ini setiap selesai shalat (setelah salam). 396 [5:12]