Skip to main content

Mustadrak Hakim 362

المستدرك 362: حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ إِسْحَاقَ، أَنْبَأَ مُحَمَّدُ بْنُ شَاذَانَ الْجَوْهَرِيُّ، وَأَخْبَرَنِي أَحْمَدُ بْنُ سَهْلٍ الْفَقِيهُ، بِبُخَارَى، ثنا صَالِحُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ حَبِيبٍ، قَالَا: ثنا سَعِيدُ بْنُ سُلَيْمَانَ الْوَاسِطِيُّ، ثنا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُؤَمَّلِ، حَدَّثَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ، عَنْ عَطَاءٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «قَيِّدُوا الْعِلْمَ» قُلْتُ: وَمَا تَقْيِيدُهُ؟ قَالَ: «كِتَابَتُهُ»

Al Mustadrak 362: Abu Bakar bin Ishaq menceritakan kepada kami, Muhammad bin Syadzan Al Jauhari memberitakan (kepada kami). Ahmad bin Sahi Al Faqih mengabarkan kepadaku di Bukhara, Shalih bin Muhammad bin Habib menceritakan kepada kami, keduanya berkata: Sa’id bin Sulaiman Al Wasithi menceritakan kepada kami, Abdullah bin Al Muammal menceritakan kepada kami, Ibnu Juraij menceritakan kepada kami dari Atha’, dari Abdullah bin Amr bin Al Ash, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ikatlah (dokumentasikanlah) ilmu” Aku lalu bertanya, “Bagaimana cara mengikatnya?” Beliau menjawab, “Dengan tulisan.”

Mustadrak Hakim 378

المستدرك 378: حَدَّثَنَا أَبُو مُحَمَّدٍ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ مُوسَى الْعَدْلُ، ثنا الْفَضْلُ بْنُ مُحَمَّدٍ الشَّعْرَانِيُّ، ثنا مُسَدَّدٌ، ثنا إِسْمَاعِيلُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، ثنا ابْنُ عَوْنٍ، أَخْبَرَنِي مُسْلِمُ بْنُ أَبِي عِمْرَانَ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ التَّيْمِيِّ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَمْرِو بْنِ مَيْمُونٍ، قَالَ: مَا أَخْطَأَنِي – وَقَالَ ابْنُ عَوْنٍ قَلَّ مَا أَخْطَأَنِي – عَشِيَّةَ خَمِيسٍ إِلَّا أَتَيْتُ فِيهَا ابْنَ مَسْعُودٍ فَمَا سَمِعْتُهُ لِشَيْءٍ، يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى إِذَا كَانَ ذَاتَ عَشِيَّةٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «فَنَظَرْتُ إِلَيْهِ فَإِذَا هُوَ مَحْلُولٌ أَزْرَارُ قَمِيصِهِ، مُنْتَفِخٌ أَوْدَاجُهُ، مُغْرَوْرِقَةٌ عَيْنَاهُ» ، ثُمَّ قَالَ: هَكَذَا أَوْ فَوْقَ ذَا أَوْ قَرِيبٌ مِنْ ذَا، أَوْ كَمَا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Al Mustadrak 378: Abu Muhammad Abdullah bin Muhammad bin Musa Al Adi menceritakan kepada kami, Al Fadhl bin Muhammad Asy- Sya’rani menceritakan kepada kami, Musaddad menceritakan kepada kami, Ismail bin Ibrahim menceritakan kepada kami, Ibnu Aun menceritakan kepada kami, Muslim bin Abu Imran mengabarkan kepadaku dari Ibrahim At-Taimi, dari ayahnya, dari Amr bin Maimun, dia berkata, “Dia tidak menyalahkanku.” Ibnu Aun lalu berkata, “Katakanlah, ‘Setiap kali dia menyalahiku pada Kamis petang, aku pasti mendatangi Ibnu Mas’ud. Ternyata aku tidak mendengarnya berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,” hingga pada suatu petang dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. ‘Kemudian aku melihatnya lagi, ternyata kancing-kancing bajunya telah dilepas dan tepi-tepinya menggelembung sedangkan kedua air matanya menetes’.” Dia lalu berkata, “Beginilah, atau di atas inilah, atau dekat dengan ini sabda Rasulullah atau seperti yang disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Mustadrak Hakim 347

المستدرك 347: حَدَّثَنَا أَبُو الْعَبَّاسِ مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوبَ، أَنْبَأَ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ الْحَكَمِ، أَنْبَأَ ابْنُ وَهْبٍ، قَالَ: سَمِعْتُ سُفْيَانَ بْنَ عُيَيْنَةَ، يُحَدِّثُ، عَنْ بَيَانٍ، عَنْ عَامِرٍ الشَّعْبِيِّ، عَنْ قَرَظَةَ بْنِ كَعْبٍ، قَالَ: خَرَجْنَا نُرِيدُ الْعِرَاقَ فَمَشَى مَعَنَا عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ إِلَى صِرَارٍ فَتَوَضَّأَ ثُمَّ قَالَ: «أَتَدْرُونَ لِمَ مَشَيْتُ مَعَكُمْ؟» قَالُوا: نَعَمْ، نَحْنُ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَشَيْتَ مَعَنَا، قَالَ: «إِنَّكُمْ تَأْتُونَ أَهْلَ قَرْيَةٍ لَهُمْ دَوِيٌّ بِالْقُرْآنِ كَدَوِيِّ النَّحْلِ فَلَا تَبْدُونَهُمْ بِالْأَحَادِيِثِ فَيَشْغَلُونَكُمْ، جَرِّدُوا الْقُرْآنَ، وَأَقِلُّوا الرِّوَايَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَامْضُوا وَأَنَا شَرِيكُكُمْ» فَلَمَّا قَدِمَ قَرَظَةُ قَالُوا: حَدَّثَنَا، قَالَ: نَهَانَا ابْنُ الْخَطَّابِ «هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحُ الْإِسْنَادِ، لَهُ طُرُقٌ تُجْمَعُ وَيُذَاكَرُ بِهَا وَقَرَظَةُ بْنُ كَعْبٍ الْأَنْصَارِيُّ صَحَابِيٌّ سَمِعَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمِنْ شَرْطِنَا فِي الصَّحَابَةِ أَنْ لَا نَطْوِيهِمْ، وَأَمَّا سَائِرُ رُوَاتِهِ فَقَدِ احْتَجَّا بِهِ»

Al Mustadrak 347: Abu Al Abbas Muhammad bin Ya’qub menceritakan kepada kami, Muhammad bin Abdullah bin Abdul Hakam memberitakan (kepada kami), Ibnu Wahab memberitakan (kepada kami), dia berkata: Aku mendengar Sufyan bin Uyainah menceritakan dari Bayan, dari Amir Asy-Sya’bi, dari Qarazhah bin Ka’ab, dia berkata: Kami keluar untuk pergi ke Irak, lalu Umar bin Khaththab berjalan bersama kami menuju Shirar (nama sumur tua sejarak 3 mil dari kota Madinah menuju Irak) kemudian dia berwudhu. Setelah itu dia bertanya, “Tahukah kalian alasanku ikut berjalan bersama kalian?” Mereka menjawab, “Ya, karena kami adalah para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Umar berkata, “Sesungguhnya kalian akan mendatangi negeri yang penduduknya ketika membaca Al Qur’an suaranya seperti dengungan lebah. Oleh karena itu, janganlah kalian memulai mereka dengan meriwayatkan hadis, karena itu akan membuat kalian sibuk oleh mereka. Murnikanlah Al Qur’an dan sedikitlah meriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pergilah, dan aku akan menjadi sekutu kalian.” Ketika Qarazhah telah sampai, mereka berkata, “Ceritakanlah kepada kami (tentang hadis Nabi SAW).” Dia berkata, “Ibnu Al Khaththab melarang kami.” Hadis ini sanadnya shahih dan memiliki beberapa jalur periwayatan yang bisa dihimpun, sehingga mudah diingat. Qarazhah bin Ka’ab Al Anshari adalah seorang sahabat yang pernah mendengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antara syarat yang kami tetapkan tentang sahabat adalah tidak meninggalkan mereka. Tentang seluruh periwayatnya, maka Al Bukhari dan Muslim berhujjah dengannya.

Mustadrak Hakim 348

المستدرك 348: حَدَّثَنِي عَلِيُّ بْنُ عِيسَى بْنِ إِبْرَاهِيمَ، ثنا أَحْمَدُ بْنُ نَجْدَةَ، ثنا يَحْيَى بْنُ عَبْدِ الْحَمِيدِ، ثنا إِسْرَائِيلُ، عَنْ عُثْمَانَ بْنِ أَبِي زُرْعَةَ، عَنْ عَامِرِ بْنِ سَعْدٍ الْبَجَلِيِّ، قَالَ: دَخَلْتُ عَلَى قَرَظَةَ بْنِ كَعْبٍ وَأَبِي مَسْعُودٍ وَزَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ فَإِذَا عِنْدَهُمْ جَوَارِي يُغَنِّينَ، فَقُلْتُ لَهُمْ: أَتَفْعَلُونَ هَذَا وَأَنْتُمْ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا: «إِنْ كُنْتَ تَسْمَعُ وَإِلَّا فَامْضِ فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَخَّصَ لَنَا فِي اللَّهْوِ فِي الْعُرْسِ، وَفِي الْبُكَاءِ عِنْدَ الْمَيِّتِ»

Al Mustadrak 348: Ali bin Isa bin Ibrahim menceritakan kepadaku, Ahmad bin Najdah menceritakan kepada kami, Yahya bin Abdul Hamid menceritakan kepada kami, Israil menceritakan kepada kami dari Utsman bin Abu Zur’ah, dari Amir bin Sa’ad Al Bajali, dia berkata: Aku menemui Qarazhah bin Ka’ab, Abu Mas’ud, dan Zaid bin Tsabit. Ternyata di hadapan mereka ada dua orang yang sedang bernyanyi, maka aku berkata kepada mereka, “Apakah kalian melakukan ini padahal kalian para sahabat Rasulullah ?” Mereka berkata, “Jika kamu mau mendengarkan (silakan), tapi jika tidak maka silakan pergi, karena Rasulullah memberi keringanan kepada kami tentang bersenang-senang ketika ada acara pengantin dan menangis ketika ada yang meninggal.”

Mustadrak Hakim 349

المستدرك 349: حَدَّثَنَا أَبُو الْعَبَّاسِ مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوبَ، أَنْبَأَ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ الْحَكَمِ، أَنْبَأَ ابْنُ وَهْبٍ، أَخْبَرَنِي سَعِيدُ بْنُ أَبِي أَيُّوبَ، عَنْ بَكْرِ بْنِ عَمْرٍو، عَنْ عَمْرِو بْنِ أَبِي نُعَيْمَةَ، عَنْ أَبِي عُثْمَانَ مُسْلِمِ بْنِ يَسَارٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، بِأَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «مَنْ قَالَ عَلَيَّ مَا لَمْ أَقُلْ، فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ، وَمَنِ اسْتَشَارَهُ أَخُوهُ فَأَشَارَ عَلَيْهِ بِغَيْرِ رِشْدَةٍ فَقَدْ خَانَهُ، وَمَنْ أَفْتَى بِفُتْيَا غَيْرِ ثَبْتٍ فَإِنَّمَا إِثْمُهُ عَلَى مَنْ أَفْتَاهُ» . تَابَعَهُ يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ، عَنْ بَكْرِ بْنِ عَمْرٍو

Al Mustadrak 349: Abu Al Abbas Muhammad bin Ya’qub menceritakan kepada kami, Muhammad bin Abdullah bin Abdul Hakam mengabarkan kepada kami, Ibnu Wahab memberitakan (kepada kami). Sa’id bin Abu Ayyub mengabarkan kepadaku dari Bakar bin Amr, dari Amr bin Abu Nu’aimah, dari Abu Utsman Muslim bin Yasar, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa berkata atas namaku tentang sesuatu yang tidak aku katakan, maka bersiap-siaplah menempati tempat duduknya di neraka. Barangsiapa dimintai pendapat oleh saudaranya lalu dia memberi pendapat dengan tidak benar, maka dia telah berkhianat padanya. Barangsiapa berfatwa dengan fatwa yang tidak benar, maka dosanya ditanggung oleh orang yang memberi fatwa.” Hadis ini diperkuat oleh Yahya bin Ayyub dari Bakar bin Amr.

Mustadrak Hakim 350

المستدرك 350: أَخْبَرْنَاهُ أَبُو جَعْفَرٍ مُحَمَّدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الْبَغْدَادِيُّ، ثنا يَحْيَى بْنُ عُثْمَانَ بْنِ صَالِحٍ السَّهْمِيُّ، حَدَّثَنِي أَبِي، ثنا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ، عَنْ بَكْرِ بْنِ عَمْرٍو، عَنْ عَمْرِو بْنِ أَبِي نُعَيْمَةَ، رَضِيعِ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ مَرْوَانَ وَكَانَ امْرَأَ صِدْقٍ، عَنْ مُسْلِمِ بْنِ يَسَارٍ، قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ، يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ قَالَ عَلَيَّ مَا لَمْ أَقُلْ، فَلْيَتَبَوَّأْ بُنْيَانَهُ فِي جَهَنَّمَ، وَمَنْ أَفْتَى بِغَيْرِ عِلْمٍ كَانَ إِثْمُهُ عَلَى مَنْ أَفْتَاهُ، وَمَنْ أَشَارَ عَلَى أَخِيهِ بِأَمْرٍ يَعْلَمُ أَنَّ الرُّشْدَ فِي غَيْرِهِ فَقَدْ خَانَهُ» . «هَذَا حَدِيثٌ قَدِ احْتَجَّ الشَّيْخَانِ بِرُوَاتِهِ غَيْرِ هَذَا، وَقَدْ وَثَّقَهُ بَكْرُ بْنُ عَمْرٍو الْمَعَافِرِيُّ وَهُوَ أَحَدُ أَئِمَّةِ أَهْلِ مِصْرَ وَالْحَاجَةُ بِنَا إِلَى لَفْظَةِ التَّثَبُّتِ فِي الْفُتْيَا شَدِيدَةٌ»

Al Mustadrak 350: Abu Ja’far Muhammad bin Muhammad bin Abdullah Al Baghdadi mengabarkan kepada kami, Yahya bin Utsman bin Shalih As-Sahmi menceritakan kepada kami, ayahku menceritakan kepadaku, Yahya bin Ayyub menceritakan kepada kami dari Bakar bin Amr, dari Amr bin Abu Nu’aimah —saudara sepersusuan Abdul Malik bin Marwan, orang yang jujur—, dari Muslim bin Yasar, dia berkata: Aku mendengar Abu Hurairah berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa berkata atas namaku tentang sesuatu yang tidak aku katakan, maka bersiap-siaplah menempati tempat tinggalnya di neraka Jahanam. Barangsiapa berfatwa tanpa ilmu, maka dosanya ditanggung oleh orang yang memberi fatwa. Barangsiapa memberi pendapat kepada saudaranya dengan pendapat yang dia tahu bahwa yang sebenarnya tahu adalah orang lain, maka dia telah berkhianat padanya.” Al Bukhari dan Muslim berhujjah dengan para periwayatnya untuk selain hadis ini. Bakar bin Amr Al Ma’afiri, salah seorang Imam penduduk Mesir, telah menganggapnya tsiqah. Jadi, kita sangat perlu berhati-hati agar bisa memberi fatwa dengan benar.

Mustadrak Hakim 351

المستدرك 351: حَدَّثَنَا أَبُو الْعَبَّاسِ مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوبَ، أَنْبَأَ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ الْحَكَمِ، أَنْبَأَ ابْنُ وَهْبٍ، أَخْبَرَنِي سَعِيدُ بْنُ أَبِي أَيُّوبَ، عَنْ أَبِي هَانِئٍ الْخَوْلَانِيٍّ، عَنْ مُسْلِمِ بْنِ يَسَارٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «سَيَكُونُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ نَاسٌ مِنْ أُمَّتِي يُحَدِّثُونَكُمْ بِمَا لَمْ تَسْمَعُوا أَنْتُمْ وَلَا آبَاؤُكُمْ فَإِيَّاكُمْ وَإِيَّاهُمْ» . «هَذَا حَدِيثٌ ذَكَرَهُ مُسْلِمٌ فِي خِطْبَةِ الْكِتَابِ مَعَ الْحِكَايَاتِ وَلَمْ يُخَرِّجَاهُ فِي أَبْوَابِ الْكِتَابِ، وَهُوَ صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِهِمَا جَمِيعًا، وَمُحْتَاجٌ إِلَيْهِ فِي الْجَرْحِ وَالتَّعْدِيلِ وَلَا أَعْلَمُ لَهُ عِلَّةً»

Al Mustadrak 351: Abu Al Abbas Muhammad bin Ya’qub menceritakan kepada kami, Muhammad bin Abdullah bin Abdul Hakam memberitakan (kepada kami), Ibnu Wahab memberitakan (kepada kami), Sa’id bin Abu Ayyub mengabarkan kepadaku dari Abu Hani Al Khaulani, dari Muslim bin Yasar, dari Abu Hurairah, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Nanti pada akhir zaman akan ada orang-orang dari umatku yang menuturkan sesuatu yang tidak pernah didengar oleh kalian dan bapak-bapak kalian, maka berhati-hatilah kalian dan berhati-hatilah mereka.” Hadis ini disebutkan oleh Muslim dalam Muqaddimah kitabnya dengan hikayat-hikayat, tapi Al Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkannya dalam kitab keduanya. Hadist ini shahih sesuai syarat Al Bukhari dan Muslim. Selain itu, hadis ini perlu di-jarh dan di-ta’dil. Sejauh yang aku ketahui, dia tidak ber-illat.

Mustadrak Hakim 352

المستدرك 352: حَدَّثَنَا أَبُو الْعَبَّاسِ مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوبَ، ثنا حَسَنُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ عَفَّانَ، ثنا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ نُمَيْرٍ، عَنِ الْأَعْمَشِ، عَنْ عُمَارَةَ بْنِ عُمَيْرٍ، وَمَالِكِ بْنِ الْحَارِثِ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ يَزِيدَ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ: «الِاقْتِصَادُ فِي السُّنَّةِ، أَحْسَنُ مِنَ الِاجْتِهَادِ فِي الْبِدْعَةِ» . رَوَاهُ الثَّوْرِيُّ، عَنِ الْأَعْمَشِ، عَنْ مَالِكِ بْنِ الْحَارِثِ.

Al Mustadrak 352: Abu Al Abbas Muhammad bin Ya’qub menceritakan kepada kami, Hasan bin Ali bin Affan menceritakan kepada kami, Abdullah bin Numair menceritakan kepada kami dari Al A’masy, dari Umarah bin Umair dan Malik bin Al Harits, dari Abdurrahman bin Yazid, dari Abdullah, dia berkata, “Hemat (berhati-hati dalam menyampaikan) Sunnah lebih baik daripada berijtihad dalam (membuat) bid’ah.” Ats-Tsauri meriwayatkannya dari Al A’masy, dari Malik bin Al Harits.

Mustadrak Hakim 353

المستدرك 353: أَخْبَرَنَا أَبُو الْعَبَّاسِ مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ الْمَحْبُوبِيُّ، ثنا أَحْمَدُ بْنُ سَيَّارٍ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ، ثنا سُفْيَانُ، عَنِ الْأَعْمَشِ، عَنْ مَالِكِ بْنِ الْحَارِثِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ، مِثْلَهُ. «هَذَا حَدِيثٌ مُسْنَدٌ صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِهِمَا، وَلَمْ يُخَرِّجَاهُ» إِنَّمَا أَخْرَجَا فِي هَذَا النَّوْعِ حَدِيثَ أَبِي إِسْحَاقَ، عَنْ أَبِي الْأَحْوَصِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ «وَإِنَّمَا هُمَا اثْنَتَانِ الْهَدْيُ وَالْكَلَامُ، فَأَفْضَلُ الْكَلَامِ كَلَامُ اللَّهِ، وَأَحْسَنُ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ» الْحَدِيثَ

Al Mustadrak 353: Abu Al Abbas Muhammad bin Ahmad Al Mahbubi mengabarkan kepada kami, Ahmad bin Sayyar menceritakan kepada kami, Muhammad bin Katsir menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami dari Al A’masy, dari Malik bin Al Harits, dari Abdullah, dengan redaksi yang serupa. Hadis ini musnad dan shahih sesuai syarat Al Bukhari dan Muslim, tapi keduanya tidak meriwayatkannya. Untuk bahasan ini keduanya hanya meriwayatkan hadis Abu Ishaq dari Abu Al Ahwash, dari Abdullah, “Sesungguhnya keduanya hanyalah petunjuk dan perkataan, perkataan paling utama (paling baik) adalah perkataan Allah, sedangkan petunjuk yang paling baik adalah petunjuk Muhammad .”

Mustadrak Hakim 354

المستدرك 354: حَدَّثَنَا أَبُو الْعَبَّاسِ مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوبَ، ثنا الرَّبِيعُ بْنُ سُلَيْمَانَ، ثنا شُعَيْبُ بْنُ اللَّيْثِ، ثنا اللَّيْثُ، وَأَخْبَرَنِي عَمْرُو بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ مَنْصُورٍ الْعَدْلُ، وَأَحْمَدُ بْنُ يَعْقُوبَ الثَّقَفِيُّ، قَالَا: ثنا عُمَرُ بْنُ حَفْصٍ السَّدُوسِيُّ، ثنا عَاصِمُ بْنُ عَلِيٍّ، ثنا اللَّيْثُ بْنُ سَعْدٍ، أَخْبَرَنِي سَعِيدُ بْنُ أَبِي سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيُّ، عَنْ أَخِيهِ عَبَّادِ بْنِ أَبِي سَعِيدٍ، أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ، يَقُولُ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدْعُو فَيَقُولُ: ” اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْأَرْبَعِ: مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ، وَقَلَبٍ لَا يَخْشَعُ، وَنَفْسٍ لَا تَشْبَعُ، وَدُعَاءٍ لَا يُسْمَعُ «.» هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ وَلَمْ يُخَرِّجَاهُ فَإِنَّهُمَا لَمْ يُخَرِّجَا عَبَّادَ بْنَ أَبِي سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيَّ، لَا لِجَرْحٍ فِيهِ بَلْ لِقِلَّةِ حَدِيثِهِ وَقِلَّةِ الْحَاجَةِ إِلَيْهِ “. وَقَدْ رَوَاهُ مُحَمَّدُ بْنُ عَجْلَانَ، عَنْ سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَلَمْ يَذْكُرْ أَخَاهُ عَبَّادًا

Al Mustadrak 354: Abu Al Abbas Muhammad bin Ya’qub menceritakan kepada kami, Ar-Rabi’ bin Sulaiman menceritakan kepada kami, Al Asy’ats bin Al-Laits menceritakan kepada kami, Al-Laits menceritakan kepada kami. Amr bin Muhammad bin Manshur Al Adi dan Ahmad bin Ya’qub Ats-Tsaqafi mengabarkan kepadaku, keduanya berkata: Umar bin Hafsh As-Sadusi menceritakan kepada kami, Ashim bin Ali mengabarkan kepadaku, Al-Laits bin Sa’ad menceritakan kepada kami, Sa’id bin Abu Sa’id Al Maqburi mengabarkan kepadaku dari saudaranya Abbad bin Abu Sa’id, bahwa dia mendengar Abu Hurairah berkata: Rasulullah berdoa, “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari empat hal, (yaitu): ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyu, jiwa yang tidak pernah tenang, dan doa yang tidak terkabul.” Hadis ini shahih, tapi Al Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkannya. Keduanya tidak meriwayatkan Abbad bin Abu Sa’id Al Maqburi bukan karena dia dinilai cacat, tapi karena hadisnya sedikit dan tidak terlalu dibutuhkan. Muhammad bin Ajian meriwayatkan dari Sa’id Al Maqburi, dari Abu Hurairah, tanpa menyebutkan saudaranya Abbad.