Skip to main content

Mustadrak Hakim 435

المستدرك 435: أَخْبَرَنَا أَبُو حَامِدٍ أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ شُعَيْبٍ الْفَقِيهُ، ثنا سَهْلُ بْنُ عَمَّارٍ، ثنا مُحَاضِرُ بْنُ الْمُوَرِّعِ، ثنا سَعْدُ بْنُ سَعِيدٍ الْأَنْصَارِيُّ، عَنْ عَمْرِو بْنِ أَبِي عَمْرٍو، عَنِ الْمُطَّلِبِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «مَنْ كَانَ هَيِّنًا لَيِّنًا قَرِيبًا حَرَّمَهُ اللَّهُ عَلَى النَّارِ» . «هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِ مُسْلِمٍ، وَلَمْ يُخَرِّجَاهُ»

Al Mustadrak 435: Abu Hamid Ahmad bin Muhammad bin Syu’aib Al Faqih mengabarkan kepada kami, Sahal bin Ammar menceritakan kepada kami, Muhadhir bin Al Muwarri’ menceritakan kepada kami, Sa’ad bin Sa’id Al Anshari menceritakan kepada kami dari Amr bin Abu Amr, dari Al Muthalib, dari Abu Hurairah , dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Barangsiapa bersikap lunak dan lemah lembut, serta dekat (dengan orang-orang), maka Allah akan mengharamkannya masuk neraka.” Hadis ini shahih sesuai syarat Muslim, tapi Al Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkannya.

Mustadrak Hakim 436

المستدرك 436: أَخْبَرَنَا أَبُو مُحَمَّدٍ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَاقَ الْفَاكِهِيُّ، بِمَكَّةَ، ثنا أَبُو يَحْيَى بْنُ أَبِي مَسَرَّةَ، ثنا أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْمُقْرِئُ، ثنا سَعِيدُ بْنُ أَبِي أَيُّوبَ، عَنْ بَكْرِ بْنِ عَمْرٍو، عَنْ مُسْلِمِ بْنِ يَسَارٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ أَفْتَى النَّاسَ بِغَيْرِ عِلْمٍ كَانَ إِثْمُهُ عَلَى مَنْ أَفْتَاهُ» . «هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِ الشَّيْخَيْنِ، وَلَمْ يُخَرِّجَاهُ وَلَا أَعْرِفُ لَهُ عِلَّةً»

Al Mustadrak 436: Abu Muhammad Abdullah bin Muhammad bin Ishaq Al Fakihi mengabarkan kepada kami di Makkah, Abu Yahya bin Abu Maisarah menceritakan kepada kami, Abu Abdurrahman Al Muqri menceritakan kepada kami, Sa’id bin Abu Ayyub menceritakan kepada kami dari Bakar bin Amr, dari Muslim bin Yasar, dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa memberi fatwa kepada masyarakat tanpa ilmu, maka dosanya ditanggung oleh orang yang memberi fatwa tersebut.” Hadis ini shahih sesuai syarat Al Bukhari dan Muslim, tapi keduanya tidak meriwayatkannya. Selain itu, aku tidak mengetahui hadis ini memiliki illat.

Mustadrak Hakim 405

المستدرك 405: فَحَدَّثَنَاهُ عَلِيُّ بْنُ حَمْشَاذَ، أَنْبَأَ مُحَمَّدُ بْنُ غَالِبٍ، أَنَّ حَفْصَ بْنَ عُمَرَ الْعُمَرِيَّ، حَدَّثَهُمْ قَالَ: ثنا مُعَاوِيَةُ بْنُ سَلَّامٍ، عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ، وَحَدَّثَنِي زَيْدُ بْنُ سَلَّامٍ، أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا سَلَّامٍ، يَقُولُ: حَدَّثَنِي الْحَارِثُ الْأَشْعَرِيُّ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «إِنَّ اللَّهَ أَمَرَنِي بِخَمْسٍ أَعْمَلُ بِهِنَّ» – فَذَكَرَ الْحَدِيثَ بِطُولِهِ – «وَأَمَّا حَدِيثُ أَبَانَ بْنِ يَزِيدَ، عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ»

Al Mustadrak 405: Ali bin Hamsyad menceritakannya kepada kami Muhammad bin Ghalib memberitakan (kepada kami), bahwa Hafsh bin Umar Al Umari menceritakan kepada mereka, dia berkata’ Mu’awiyah bin Salam menceritakan kepada kami dari Yahya bin Abi Katsir. Zaid bin Salam menceritakan kepadaku: Dia mendengar Abu Sallam berkata: Al Harits Al Asy’ari menceritakan kepadaku bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah memerintahkanku untuk melakukan lima hal.” Dia lalu menyebutkan hadisnya dengan redaksinya yang panjang. Hadis Aban bin Yazid dari Yahya bin Abi Kalsir adalah:

Mustadrak Hakim 406

المستدرك 406: فَحَدَّثَنَاهُ عَلِيُّ بْنُ حَمْشَاذٍ، ثنا تَمِيمُ بْنُ مُحَمَّدٍ، ثنا هُدْبَةُ بْنُ خَالِدٍ، ثنا أَبَانُ بْنُ يَزِيدَ، ثنا يَحْيَى بْنُ أَبِي كَثِيرٍ، أَنَّ زَيْدًا، حَدَّثَهُ، أَنَّ أَبَا سَلَّامٍ حَدَّثَهُ أَنَّ الْحَارِثَ الْأَشْعَرِيَّ، حَدَّثَهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «إِنَّ اللَّهَ أَمَرَ يَحْيَى بْنَ زَكَرِيَّا بِخَمْسٍ يَعْمَلُ بِهِنَّ، وَأَمَرَ بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنْ يَعْمَلُوا بِهِنَّ» – فَذَكَرَ الْحَدِيثَ -، وَقَالَ فِيهِ: «إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُنِي بِخَمْسٍ» – فَذَكَرَهُ بِطُولِهِ – ” هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ عَلَى مَا أَصَّلْنَاهُ فِي الصَّحَابَةِ، إِذَا لَمْ نَجِدْ لَهُمْ إِلَّا رَاوِيًا وَاحِدًا، فَإِنَّ الْحَارِثَ الْأَشْعَرِيَّ صَحَابِيٌّ مَعْرُوفٌ، سَمِعْتُ أَبَا الْعَبَّاسِ مُحَمَّدَ بْنَ يَعْقُوبَ، يَقُولُ: سَمِعْتُ الدُّورِيَّ، يَقُولُ: سَمِعْتُ يَحْيَى بْنَ مَعِينٍ، يَقُولُ: الْحَارِثُ الْأَشْعَرِيُّ لَهُ صُحْبَةٌ، وَلِهَذِهِ اللَّفْظَةُ مِنَ الْحَدِيثِ شَاهِدٌ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ “

Al Mustadrak 406: Ali bin Hamsyad menceritakannya kepada kami, Tamim bin Muhammad menceritakan kepada kami, Hudbah bin Khalid menceritakan kepada kami, Aban bin Yazid menceritakan kepada kami, Yahya bin Abi Katsir menceritakan kepada kami bahwa Zaid menceritakan kepadanya bahwa Abu Salam menceritakan kepadanya bahwa Al Harits Al Asy’ari menceritakan kepadanya, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah memerintahkan Yahya bin Zakaria untuk melakukan lima hal dan memerintahkan bani lsrail untuk melakukannya.” Dia lalu menyebutkan hadisnya. Beliau juga bersabda, “Sesungguhnya Allah memerintahkanku untuk melakukan lima hal.” Dia lalu menyebutkan hadis dengan redaksinya yang panjang. Hadis ini shahih, yang telah kami sumberkan kepada sahabat ketika kami tidak menemukan kecuali seorang periwayat, karena Al Hants Al Asy’ari merupakan seorang sahabat yang terkenal. Aku mendengar Abu Al Abbas Muhammad bin Ya’qub berkata: Aku mendengar Ad-Duri berkata: Aku mendengar Yahya bin Ma’in berkata: Al Hants Al Asy’ari adalah seorang sahabat. Redaksi Hadis ini memiliki syahid dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu:

Mustadrak Hakim 407

المستدرك 407: حَدَّثَنَاهُ أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي دَارِمٍ الْحَافِظُ، بِالْكُوفَةِ، ثنا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ غَنَّامِ بْنِ حَفْصِ بْنِ غِيَاثٍ، حَدَّثَنِي أَبِي، ثنا أَبُو بَكْرِ بْنُ عَيَّاشٍ، عَنْ عَاصِمٍ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ مُعَاوِيَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ شِبْرًا دَخَلَ النَّارَ» . «الْحَدِيثُ الْخَامِسُ فِيمَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ الْإِجْمَاعَ حُجَّةٌ»

Al Mustadrak 407: Abu Bakar bin Abu Darim Al Hafizh menceritakannya kepada kami di Kufah, Abdullah bin Ghannam bin Hafsh bin Ghiyats menceritakan kepada kami, ayahku menceritakan kepadaku, Abu Bakar bin Ayyasy menceritakan kepada kami dari Ashim, dan Abu Shalih, dari Mu’awiyah, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa memisahkan diri dari jamaah, meski satu jengkal, maka dia akan masuk neraka.’ Hadis kelima yang menunjukkan bahwa ijmak merupakan hujjah adalah :

Mustadrak Hakim 408

المستدرك 408: أَخْبَرَنَا أَبُو بَكْرٍ مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ حَاتِمٍ الدَّارَبَرْدِيِّ، بِمَرْوَ، ثنا أَحْمَدُ بْنُ عِيسَى الْمُزَنِيُّ، ثنا الْعَقَبِيُّ، وَحدثنا أَبُو بَكْرِ بْنُ إِسْحَاقَ الْفَقِيهُ، وَاللَّفْظُ لَهُ، أَنْبَأَ أَبُو الْمُثَنَّى، ثنا الْعَقَبِيُّ، ثنا أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ: «مَنْ فَارَقَ أُمَّةً، أَوْ عَادَ أَعْرَابِيًّا بَعْدَ هِجْرَتِهِ فَلَا حُجَّةَ لَهُ» . ” قَدِ اتَّفَقَ الشَّيْخَانِ عَلَى إِخْرَاجِ حَدِيثِ غَيْلَانَ بْنِ جَرِيرٍ، عَنْ زِيَادِ بْنِ رِيَاحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ فَمَاتَ مَاتَ مَوْتَةً جَاهِلِيَّةً» وَهَذَا الْمَتْنُ غَيْرُ ذَاكَ. الْحَدِيثُ السَّادِسُ فِيمَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ الْإِجْمَاعَ حُجَّةٌ “

Al Mustadrak 408: Abu Bakar Muhammad bin Ahmad bin Halim Ad-Darabardi mengabarkan kepada kami di Marwa, Ahmad bin Isa Al Muzani menceritakan kepada kami, Al Aqabi menceritakan kepada kami. Abu Bakar bin Ishaq Al Faqih menceritakan kepada kami dengan redaksinya, Abu Al Mutsanna memberitakan (kepada kami), Al Aqabi menceritakan kepada kami, Usamah bin Zaid menceritakan kepada kami dari ayahnya, dari kakeknya, dari Ibnu Umar, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa memisahkan diri dari umat (jamaah), atau kembali menjadi Arab badui setelah dia berhijrah, maka tidak ada hujjah lagi baginya.” Al Bukhari dan Muslim sepakat meriwayatkan hadis Ghailan bin Jarir dari Ziyad bin Rayyah, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ قِيدَ شِبْرٍ فَقَدْ خَلَعَ رِبْقَةَ الْإِسْلَامِ مِنْ عُنُقِهِ “Barangsiapa memisahkan diri clari jamaah lalu dia meninggal, maka dia meninggal dalam kondisi jahiliyah.” Redaksi ini bukanlah redaksi yang itu (yang lainnya). Hadis keenam yang menunjukkan bahwa ijmak merupakan hujjah adalah:

Mustadrak Hakim 409

المستدرك 409: أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوبَ الْحَافِظُ، ثنا حَامِدُ بْنُ أَبِي حَامِدٍ الْمُقْرِئُ، ثنا إِسْحَاقُ بْنُ سُلَيْمَانَ الْقَارِئُ، ثنا كَثِيرُ بْنُ أَبِي كَثِيرٍ أَبُو النَّضْرِ، عَنْ رِبْعِيِّ بْنِ حِرَاشٍ، قَالَ: أَتَيْتُ حُذَيْفَةَ بْنَ الْيَمَانِ لَيَالِيَ سَارَ النَّاسُ إِلَى عُثْمَانَ، فَقَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ: «مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ وَاسْتَذَلَّ الْإِمَارَةَ لَقِيَ اللَّهَ وَلَا حُجَّةَ لَهُ» . تَابَعَهُ أَبُو عَاصِمٍ، عَنْ كَثِيرٍ

Al Mustadrak 409: Abu Abdillah Muhammad bin Ya’qub Al Hafizh mengabarkan kepada kami, Hamid bin Abi Hamid Al Muqri’ menceritakan kepada kami, Ishaq bin Sulaiman Al Qari’ menceritakan kepada kami, Katsir bin Abu Katsir Abu An-Nadhr menceritakan kepada kami dari Rib’i bin Hirasi, dia berkata: Aku pernah mendatangi Hudzaifah bin Al Yaman pada malam-malam ketika orang-orang melakukan peijalanan untuk mendatangi Utsman. Dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa memisahkan diri dari jamaah dan menghinakan pemerintah, maka dia akan bertemu Allah dalam keadaan tidak mempunyai hujjah lagi terhadapnya,” Abu Ashim mempunyai mutabi’ dari Katsir.

Mustadrak Hakim 410

المستدرك 410: أَخْبَرَنَا أَبُو الْعَبَّاسِ مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ الْمَحْبُوبِيُّ، بِمَرْوَ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ مُعَاذٍ، ثنا أَبُو عَاصِمٍ، ثنا كَثِيرُ بْنُ أَبِي كَثِيرٍ، حَدَّثَنِي رِبْعِيُّ بْنُ حِرَاشٍ، أَنَّهُ أَتَى حُذَيْفَةَ بْنَ الْيَمَانِ بِبُرُودَةَ، وَكَانَتْ أُخْتُهُ تَحْتَ حُذَيْفَةَ: يَا رِبْعِيُّ، مَا فَعَلَ قَوْمُكَ؟ وَذَلِكَ زَمَنَ خَرَجَ النَّاسُ إِلَى عُثْمَانَ، قَالَ: قَدْ خَرَجَ مِنْهُمْ نَاسٌ، قَالَ: فِيمَنِي مِنْهُمْ، فَقَالَ حُذَيْفَةُ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ: «مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ، وَاسْتَذَلَّ الْإِمَارَةَ لَقِيَ اللَّهَ وَلَا حُجَّةَ لَهُ عِنْدَ اللَّهِ» . «هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ فَإِنَّ كَثِيرَ بْنَ أَبِي كَثِيرٍ كُوفِيٌّ سَكَنَ الْبَصْرَةَ» . رَوَى عَنْهُ يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ الْقَطَّانُ، وَعِيسَى بْنُ يُونُسَ وَلَمْ يُذْكَرْ بِجَرْحٍ. «الْحَدِيثُ السَّابِعُ فِيمَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ الْإِجْمَاعَ حُجَّةٌ»

Al Mustadrak 410: Abu Al Abbas Muhammad bin Ahmad Al Mahbubi mengabarkan kepada kami di Marwa, Muhammad bin Mu’adz menceritakan kepada kami, Abu Ashim menceritakan kepada kami, Katsir bin Abu Katsir menceritakan kepada kami, Rib’i bin Hirasy menceritakan kepadaku bahwa dia mendatangi Hudzaifah bin Al Yaman di Barudah. Saat itu saudara perempuannya menjadi istri Hudzaifah. Hudzaifah berkata, “Wahai Rib’i, apakah yang dilakukan kaummu?” Saat itu orang-orang keluar untuk memberontak terhadap Utsman. Rib’i berkata, “Ada beberapa orang yang keluar (untuk memberontak). Di antara mereka ada orang Yaman.” Hudzaifah lalu berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barangsiapa memisahkan diri dari jamaah dan menghinakan pemerintah, maka dia akan menemui Allah dalam keadaan tidak memiliki hujjah di hadapan-Nya.” Hadis ini shahih, karena Katsir bin Abu Katsir adalah orang Kufah yang tinggal di Bashrah. Yahya bin Sa’id Al Qaththan dan Isa bin Yunus meriwayatkan darinya, dan tidak ada yang menilainya cacat. Hadis ketujuh yang menunjukkan bahwa ijmak merupakan hujjah adalah :

Mustadrak Hakim 411

المستدرك 411: أَخْبَرَنَا أَبُو مُحَمَّدٍ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ إِسْحَاقَ بْنِ إِبْرَاهِيمَ الْفَاكِهِيُّ، بِمَكَّةَ، ثنا أَبُو يَحْيَى عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ زَكَرِيَّا بْنِ أَبِي مَسَرَّةَ، ثنا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يَزِيدَ الْمُقْرِئُ، ثنا حَيْوَةُ، أَخْبَرَنِي أَبُو هَانِئٍ، أَنَّ أَبَا عَلِيٍّ الْجَنْبِيَّ عَمْرَو بْنَ مَالِكٍ، حَدَّثَهُ، عَنْ فَضَالَةَ بْنِ عُبَيْدٍ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: ” ثَلَاثَةٌ لَا تَسْأَلْ عَنْهُمْ: رَجُلٌ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ وَعَصَى إِمَامَهُ فَمَاتَ عَاصِيًا، وَأَمَةٌ أَوْ عَبْدٌ آبِقٌ مِنْ سَيِّدِهِ فَمَاتَ، وَامْرَأَةٌ غَابَ عَنْهَا زَوْجُهَا وَقَدْ كَفَاهَا مُؤْنَةَ الدُّنْيَا فَتَبَرَّجَتْ بَعْدَهُ فَلَا تَسْأَلْ عَنْهُمْ «.» هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِ الشَّيْخَيْنِ فَقَدِ احْتَجَّا بِجَمِيعِ رُوَاتِهِ وَلَمْ يُخَرِّجَاهُ، وَلَا أَعْرِفُ لَهُ عِلَّةً. الْحَدِيثُ الثَّامِنُ عَلَى أَنَّ الْإِجْمَاعَ حُجَّةٌ “

Al Mustadrak 411: Abu Muhammad Abdullah bin Ishaq bin Ibrahim Al Fakihi mengabarkan kepada kami di Makkah, Abu Yahya Abdullah bin Ahmad bin Zakaria bin Abu Masarrah menceritakan kepada kami, Abdullah bin Yazid Al Muqri’ menceritakan kepada kami, Haiwah menceritakan kepada kami, Abu Hani’ mengabarkan kepadaku, Abu Ali Al Janbi Amr bin Malik menceritakan kepadanya dari Fadhalah bin Ubaid, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Ada tiga kelompok orang yang kamu tidak perlu bertanya tentang mereka (karena mereka termasuk orang-orang yang celaka), yaitu: (1) Laki-laki yang memisahkan diri dari jamaah dan mendurhakai imamnya, lalu dia meninggal dalam keadaan durhaka (memberontak). (2) Budak perempuan atau budak laki-laki yang menghilang dari tuannya, lalu dia meninggal. (3) Perempuan yang ditinggal pergi suaminya padahal suaminya telah memberinya ongkos dunia (nafkah) secara cukup, tapi dia justru menikah lagi setelaknya. Janganlah kamu bertanya tentang mereka’.” Hadis ini shahih sesuai syarat Al Bukhari dan Muslim. Keduanya sama-sama berhujjah dengan seluruh periwayatnya, tapi keduanya tidak meriwayatkannya. Sejauh yang aku ketahui, hadis ini tidak memiliki illat. Hadis kedelapan yang menunjukkan bahwa ijmak merupakan hujjah adalah:

Mustadrak Hakim 412

المستدرك 412: أَخْبَرَنَا أَبُو الْعَبَّاسِ مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ الْمَحْبُوبِيُّ، ثنا سَعِيدُ بْنُ مَسْعُودٍ، ثنا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ، أَنْبَأَ الْعَوَّامُ بْنُ حَوْشَبٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ السَّائِبِ الْأَنْصَارِيِّ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «الصَّلَاةُ الْمَكْتُوبَةُ إِلَى الصَّلَاةِ الْمَكْتُوبَةِ الَّتِي بَعْدَهَا كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا، وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ، وَالشَّهْرُ إِلَى الشَّهْرِ – يَعْنِي مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ إِلَى شَهْرِ رَمَضَانَ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا» ثُمَّ قَالَ بَعْدَ ذَلِكَ: «إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ» فَعَرَفْتُ أَنَّ ذَلِكَ مِنْ أَمْرٍ حَدَثَ، فَقَالَ: «إِلَّا مِنَ الْإِشْرَاكِ بِاللَّهِ وَنَكْثِ الصَّفْقَةِ وَتَرْكِ السُّنَّةِ» قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ: أَمَّا الْإِشْرَاكُ بِاللَّهِ فَقَدْ عَرَفْنَاهُ، فَمَا نَكْثُ الصَّفْقَةِ وَتَرْكُ السُّنَّةِ؟ قَالَ: ” أَمَّا نَكْثُ الصَّفْقَةِ: أَنْ تَبَايَعَ رَجُلًا بِيَمِينِكَ، ثُمَّ تَخْتَلِفَ إِلَيْهِ فُتَقَابِلَهُ بِسَيْفِكَ، وَأَمَّا تَرْكُ السُّنَّةِ: فَالْخُرُوجُ مِنَ الْجَمَاعَةِ «.» هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِ مُسْلِمٍ، فَقَدِ احْتَجَّ بِعَبْدِ اللَّهِ بْنِ السَّائِبِ بْنِ أَبِي السَّائِبِ الْأَنْصَارِيِّ، وَلَا أَعْرِفُ لَهُ عِلَّةً. الْحَدِيثُ التَّاسِعُ فِي أَنَّ الْإِجْمَاعَ حُجَّةٌ “

Al Mustadrak 412: Abu Al Abbas Muhammad bin Ahmad Al Mahbubi Mengabarkan kepada kami, Sa’id bin Mas’ud menceritakan kepada kami, Yazid bin Harun menceritakan kepada kami, Al Awwam bin Hausyab memberitakan (kepada kami) dan Abdullah bin As-Saib Al Anshari, dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Shalat wajib sampai shalat wajib berikutnya merupakan penghapus dosa di antara keduanya Jum ‘at sampai Jum ‘at (berikutnya) dan dari satu bulan sampai ke bulan berikutnya (yaitu dari bulan Ramadhan sampai bulan Ramadhan berikutnya) merupakan penghapus dosa di antara keduanya.” Beliau bersabda setelah itu, “Kecuali sebab tiga hal (dosa)” Aku pun mengetahui bahwa penghapus dosa tersebut untuk sesuatu (dosa) yang telah teijadi. Beliau bersabda, “Kecuali dosa syirik kepada Allah, melanggar transaksi, dan meninggalkan Sunnah.” Aku lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, tentang syirik kepada Allah (menyekutukan Allah), kami telah mengetahuinya, namun apa yang dimaksud dengan melanggar transaksi dan meninggalkan Sunnah?” Beliau menjawab, “Adapun melanggar transaksi adalah kamu membaiat seorang laki-laki dengan tangan kananmu tapi kemudian kamu menentangnya dan menghadapinya dengan pedangmu. Sedangkan (yang dimaksud) meninggalkan Sunnah adalah keluar (memisahkan diri) dari jamaah?” Hadis ini shahih sesuai syarat Muslim. Muslim berhujjah dengan Abdullah bin As-Sa’ib bin Abu As-Sa’ib Al Anshari. Sejauh yang aku ketahui, hadis ini tidak memiliki illat. Hadis kesembilan yang menunjukkan bahwa ijmak merupakan hujjah adalah: