Skip to main content

Mustadrak Hakim 471

المستدرك 471: وَمِنْهَا مَا أَخْبَرَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ مُوسَى، أَنْبَأَ مُحَمَّدُ بْنُ أَيُّوبَ، أَنْبَأَ إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُوسَى، وَيَحْيَى بْنُ الْمُغِيرَةِ، قَالَا: ثنا جَرِيرٌ، عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ عُمَيْرٍ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى، عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ، أَنَّهُ كَانَ قَاعِدًا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَاءَهُ رَجُلٌ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا تَقُولُ فِي رَجُلٍ أَصَابَ مِنَ امْرَأَةٍ لَا تَحِلُّ لَهُ فَلَمْ يَدَعْ شَيْئًا. . . «وُضُوءًا حَسَنًا ثُمَّ قُمْ فَصَلِّ» ، قَالَ: وَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ {أَقِمِ الصَّلَاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ} [هود: 114] الْآيَةَ، قَالَ: فَقَالَ: ” هِيَ لِي خَاصَّةً أَمْ لِلْمُسْلِمِينَ عَامَّةً؟ قَالَ: «بَلْ لِلْمُؤْمِنِينَ عَامَّةً» . «هَذِهِ الْأَحَادِيثُ وَالَّتِي ذَكَرْتُهَا أَنَّ الشَّيْخَيْنِ اتَّفَقَا عَلَيْهَا غَيْرَ أَنَّهَا مُخَرَّجَةٌ فِي الْكِتَابَيْنِ بِالتَّفَارِيقِ، وَكُلُّهَا صَحِيحَةٌ دَالَّةُ عَلَى أَنَّ اللَّمْسَ الَّذِي يُوجِبُ الْوُضُوءَ دُونَ الْجِمَاعِ»

Al Mustadrak 471: Diantaranya adalah hadis yang dikabarkan kepadaku oleh Abdullah bin Muhammad bin Musa, Muhammad bin Ayyub memberitakan (kepada kami), Ibrahim bin Musa dan Yahya bin Al Mughirah memberitakan (kepada kami), keduanya berkata: Jarir menceritakan kepada kami dari Abdul Malik bin Umair, dari Abdurrahman bin Abu Laila, dari Mu’adz bin Jabal, bahwa ketika dia sedang duduk di dekat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, datanglah seorang laki-laki, dia lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapat engkau tentang laki-laki yang menyentuh perempuan yang tidak halal baginya dan tidak meninggalkan apa pun […] (berwudhulah) dengan wudhu yang baik kemudian berdiri dan shalatlah!” Mu’adz bin Jabal berkata, “Kemudian Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat, ‘Dan dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan daripada malam’” (Qs. Hud [11]: 114) Mu’adz berkata, “Rasulullah lalu bertanya (kepada Jibril), ‘Apakah dia hanya khusus untukku? Atau untuk seluruh kaum muslim?’ (Jibril berkata), ‘Justru dia untuk seluruh orang beriman’.” Hadis-hadis yang telah kami sebutkan ini menyimpulkan bahwa Al Bukhari dan Muslim sepakat terhadapnya, hanya saja dia disebutkan dalam dua kitab mereka secara terpisah, yang semuanya berstatus shahih. Ini menunjukkan bahwa menyentuh yang mewajibkan wudhu adalah perbuatan selain bersetubuh.

Mustadrak Hakim 472

المستدرك 472: أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الصَّفَّارُ، ثنا إِسْمَاعِيلُ بْنُ إِسْحَاقَ الْقَاضِي، ثنا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ، وَمُحَمَّدُ بْنُ الْفَضْلِ عَارِمٌ، وَحَدَّثَنِي عَلِيُّ بْنُ عُمَرَ الْحَافِظُ، وَاللَّفْظُ لَهُ، أَنْبَأَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ، ثنا خَلَفُ بْنُ هِشَامٍ، قَالُوا: ثنا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ، عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ، أَنَّ عُرْوَةَ، كَانَ عِنْدَ مَرْوَانَ بْنِ الْحَكَمِ فَسُئِلَ عَنْ مَسِّ الذَّكَرِ، فَلَمْ يَرَ بِهِ بَأْسًا، فَقَالَ: عُرْوَةُ: إِنَّ بُسْرَةَ بِنْتَ صَفْوَانٍ حَدَّثَتْنِي، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «إِذَا أَفْضَى أَحَدُكُمْ إِلَى ذَكَرِهِ فَلَا يُصَلِّ حَتَّى يَتَوَضَّأَ» فَبَعَثَ مَرْوَانُ حَرَسِيًّا إِلَى بُسْرَةَ فَرَجَعَ الرَّسُولُ، فَقَالَ: نَعَمْ. قَالَ هِشَامٌ: قَدْ كَانَ أَبِي يَقُولُ: «إِذَا مَسَّ ذَكَرَهُ أَوْ أُنْثَيَيْهِ أَوْ فَرْجَهُ فَلَا يُصَلِّي حَتَّى يَتَوَضَّأَ» . ” هَكَذَا سَاقَ حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ هَذَا الْحَدِيثَ وَذَكَرَ فِيهِ سَمَاعَ عُرْوَةَ مِنْ بُسْرَةَ، وَخَلَفُ بْنُ هِشَامٍ ثِقَةٌ، وَهُوَ أَحَدُ أَئِمَّةِ الْقُرَّاءِ، وَمِمَّا يَدُلُّ عَلَى صِحَّةِ رِوَايَةِ الْجُمْهُورِ مِنْ أَصْحَابِ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ، عَنْ هِشَامٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ بُسْرَةَ، مِنْهُمْ أَيُّوبُ بْنُ أَبِي تَمِيمَةَ السَّخْتِيَانِيُّ، وَقَيْسُ بْنُ سَعْدٍ الْمَكِّيُّ، وَابْنُ جُرَيْجٍ وَابْنُ عُيَيْنَةَ، وَعَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ أَبِي حَازِمٍ، وَيَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ، وَحَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ، وَمَعْمَرُ بْنُ رَاشِدٍ، وَهِشَامُ بْنُ حَسَّانَ، وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ أَبُو عَلْقَمَةَ، وَعَاصِمُ بْنُ هِلَالٍ الْبَارِقِيُّ، وَيَحْيَى بْنُ ثَعْلَبَةَ الْمَازِنِيُّ، وَسَعِيدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْجُمَحِيُّ، وَعَلِيُّ بْنُ الْمُبَارَكِ الْهُنَائِيُّ، وَأَبَانُ بْنُ يَزِيدَ الْعَطَّارُ، وَمُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الطُّفَاوِيُّ، وَعَبْدُ الْحَمِيدِ بْنُ جَعْفَرٍ الْأَنْصَارِيُّ. . . .، وَعَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ مُحَمَّدٍ الدَّرَاوَرْدِيُّ، وَيَزِيدُ بْنُ سِنَانٍ الْجَزَرِيُّ، وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ أَبِي الزِّنَادِ، وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ، وَحَارِثَةُ بْنُ هَرِمَةَ الْفُقَيْمِيُّ، وَأَبُو مَعْمَرٍ، وَعَبَّادُ بْنُ صُهَيْبٍ وَغَيْرُهُمْ. وَقَدْ خَالَفَهُمْ فِيهِ جَمَاعَةٌ فَرَوَوْهُ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ مَرْوَانَ، عَنْ بُسْرَةَ مِنْهُمْ سُفْيَانُ بْنُ سَعِيدٍ الثَّوْرِيُّ، وَرِوَايَةً عَنْ هِشَامِ بْنِ حَسَّانَ، وَرِوَايَةً عَنْ حَمَّادِ بْنِ سَلَمَةَ، وَمَالِكِ بْنِ أَنَسٍ، وَوَهْبِ بْنِ خَالِدٍ، وَسَلَامِ بْنِ أَبِي مُطِيعٍ، وَعُمَرَ بْنِ عَلِيٍّ الْمُقَدَّمِيِّ، وَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ إِدْرِيسَ وَعَلِيَّ بْنَ مُسْهِرٍ وَأَبِي أُسَامَةَ وَغَيْرِهِمْ. وَقَدْ ذُكِرَ الْخِلَافُ فِيهِ عَلَى هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ بَيْنَ أَصْحَابِهِ، فَنَظَرْنَا فَإِذَا الْقَوْمُ الَّذِينَ أَثْبَتُوا سَمَاعَ عُرْوَةَ مِنْ بُسْرَةَ أَكْبَرُ، وَبَعْضُهُمْ أَحْفَظُ مِنَ الَّذِينَ جَعَلُوهُ عَنْ مَرْوَانَ إِلَّا أَنَّ جَمَاعَةً مِنَ الْأَئِمَّةِ الْحُفَّاظِ أَيْضًا ذَكَرُوا فِيهِ مَرْوَانَ مِنْهُمْ مَالِكُ بْنُ أَنَسٍ وَالثَّوْرِيُّ وَنُظَرَاؤُهُمَا فَظَنَّ جَمَاعَةٌ مِمَّنْ لَمْ يُنْعِمِ النَّظَرَ فِي هَذَا الِاخْتِلَافِ أَنَّ الْخَبَرَ وَاهٍ لِطَعْنِ أَئِمَّةِ الْحَدِيثِ عَلَى مَرْوَانَ، فَنَظَرْنَا فَوَجَدْنَا جَمَاعَةً مِنَ الثِّقَاتِ الْحُفَّاظِ رَوَوْا هَذَا عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ مَرْوَانَ، عَنْ بُسْرَةَ، ثُمَّ ذَكَرُوا فِي رِوَايَاتِهِمْ أَنَّ عُرْوَةَ، قَالَ: ثُمَّ لَقِيتُ بَعْدَ ذَلِكَ بُسْرَةَ فَحَدَّثَتْنِي بِالْحَدِيثِ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمَا حَدَّثَنِي مَرْوَانُ عَنْهَا، فَدَلَّنَا ذَلِكَ عَلَى صِحَّةِ الْحَدِيثِ وَثُبُوتِهِ عَلَى شَرْطِ الشَّيْخَيْنِ، وَزَالَ عَنْهُ الْخِلَافُ وَالشُّبْهَةُ، وَثَبَتَ سَمَاعُ عُرْوَةَ مِنْ بُسْرَةَ فَمَنْ بَيْنِ مَا ذَكَرْنَا مِنْ سَمَاعِ عُرْوَةَ مِنْ بُسْرَةَ شُعَيْبُ بْنُ إِسْحَاقَ الدِّمَشْقِيُّ “

Al Mustadrak 472: Abu Abdillah Muhammad bin Abdullah Ash-Shaffar mengabarkan kepada kami, Ismail bin Ishaq Al Qadhi menceritakan kepada kami, Sulaiman bin Harb dan Muhammad bin A1 Fadhl Arim menceritakan kepada kami, Ali bin Umar Al Hafizh menceritakan kepadaku dengan redaksinya, Abu Abdillah Muhammad bin Abdul Aziz memberitakan (kepada kami), Khalaf bin Hisyam menceritakan kepada kami, mereka berkata: Hammad bin Zaid menceritakan kepada kami dan Hisyam bin Urwah, bahwa ketika Urwah sedang berada di dekat Marwan bin Al Hakam ditanya tentang menyentuh kemaluan laki-laki. Dia lalu berpendapat bahwa hal tersebut tidak apa-apa. Urwah kemudian berkata, “Busrah binti Shafwan menceritakan kepadaku bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Apabila salah seorang dari kalian menyentuh kemaluannya maka dia tidak boleh shalat sampai dia berwudhu terlebih dahulu’.” Demikianlah Hammad bin Zaid meriwayatkan hadis ini. Dia menyebutkan bahwa Urwah mendengar dari Busrah. Khalaf bin Hisyam merupakan periwayat yang tsiqah. Dia salah seorang imam Qurra’. Di antara hal yang menunjukkan keabsahan riwayat Jumhur dari kalangan teman-teman Hisyam bin Urwah dari Hisyam dari ayahnya, dari Busrah adalah: […] Ibnu Abi Tamimah As-Sakhtiyani, Qais bin Sa’ad Al Makki, Ibnu Juraij, Ibnu Uyainah, Abdul Aziz bin Abu Hazim, Yahya bin Sa’id, Hammad bin Salamah, Ma’mar bin Rasyid, Hisyam bin Hassan, Abdullah bin Muhammad Abu Alqamah, Ashim bin Hilal Al Bariqi, Yahya bin Tsa’labah Al Mazini, Sa’id bin Abdurrahman Al Jumahi, Ali bin Al Mubarak Al Hunai, Aban bin Yazid Ath-Aththar, Muhammad bin Abdurrahman Ath-Thafawi, Abdul Hamid bin Ja’far Al Anshari […] , Abdul Aziz bin Muhammad Ad-Darawardi, Yazid bin Sinan Al Jazari, Abdurrahman bin Abu Az-Zinad, Abdurrahman bin Abdul Aziz, Haritsah bin Haramah Al Fuqaimi, Abu Ma’mar, Abbad bin Shuhaib, dan yang lain. Segolongan periwayat menyalahi riwayat mereka. Mereka meriwayatkannya dari Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, dari Marwan, dari Busrah. Di antara mereka adalah Sufyan bin Sa’id Ats-Tsauri, suatu riwayat dari Hisyam bin Hassan, suatu riwayat dari Hammad bin Salamah, Malik bin Anas, Wahab bin Khalid, Sallam bin Abu Muthi’, Umar bin Ali Al Maqdami, Abdullah bin Idris, Ali bin Mushir, Abu Usamah, dan yang lain. Perselisihan tentang riwayat Hisyam bin Urwah di kalangan sahabatnya telah dibahas. Kemudian setelah kami menelitinya, ternyata orang-orang yang menyatakan kebenaran bahwa Urwah pernah mendengar dari Busrah, lebih besar, dan sebagian mereka lebih hapal daripada orang-orang yang menyatakan bahwa riwayat tersebut dari Marwan. Hanya saja, segolongan imam yang hafizh juga menyebutkan Marwan dalam riwayat mereka. Di antara mereka adalah Malik bin Anas, Ats-Tsauri, dan teman-teman keduanya. Hal ini menyebabkan segolongan ulama yang tidak melakukan penelitian secara mendalam menganggap hadis ini lemah karena para imam hadis meragukan Marwan. Padahal setelah kami teliti ternyata ada beberapa periwayat tsiqah hafizh yang meriwayatkan hadis ini dari Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, dari Marwan, dari Busrah. Kemudian mereka menyebutkan dalam riwayat mereka bahwa Urwah berkata, “Kemudian setelah itu aku menemui Busrah, lalu dia menceritakan kepadaku suatu hadis dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana yang diceritakan Marwan kepadaku.” Ini menunjukkan bahwa hadis ini shahih dan sesuai syarat Al Bukhari dan Muslim. Dengan demikian hilanglah perselisihan dan keraguan, serta memang benar Urwah pernah mendengar hadis dari Busrah. Di antara keterangan yang telah kami uraikan adalah, Urwah benar-benar mendengar dari Busrah adalah riwayat Syu’aib bin Ishaq Ad-Dimasyqi:

Mustadrak Hakim 441

المستدرك 441: أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ سَلَمَةَ الْعَنَزِيُّ، ثنا عُثْمَانُ بْنُ سَعِيدٍ الدَّارِمِيُّ، ثنا عَمْرُو بْنُ عَوْنٍ، وَوَهْبُ بْنُ بَقِيَّةَ الْوَاسِطِيَّانِ، قَالَا: ثنا خَالِدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «افْتَرَقَتِ الْيَهُودُ عَلَى إِحْدَى أَوِ اثْنَتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً، وَافْتَرَقَتِ النَّصَارَى عَلَى إِحْدَى أَوِ اثْنَتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً، وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً» . «هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِ مُسْلِمٍ، وَلَمْ يُخَرِّجَاهُ، وَلَهُ شَوَاهِدُ فَمِنْهَا»

Al Mustadrak 441: Ahmad bin Muhammad bin Salamah Al Anazi mengabarkan kepada kami, Utsman bin Sa’id Ad-Darimi menceritakan kepada kami, Amr bin Aun dan Wahab bin Baqiyyah Al Wasithiyyan menceritakan kepada kami, keduanya berkata: Khalid bin Abdullah menceritakan kepada kami dari Muhammad bin Amr, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang-orang Yahudi akan terpecah-belah menjadi 71 atau 72 kelompok, orang-orang Nasrani akan terpecah-belah menjadi 71 atau 72 kelompok, sedangkan umatku akan terpecah-belah menjadi 73 kelompok.” Hadis ini shahih sesuai syarat Muslim. Al Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkannya. Hadis ini memiliki beberapa syahid, diantaranya:

Mustadrak Hakim 457

المستدرك 457: وَحدثنا أَبُو بَكْرٍ مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ بَالَوَيْهِ، ثنا أَبُو الْمُثَنَّى الْعَنْبَرِيُّ، قَالَا: ثنا أَبُو عَمْرٍو الضَّرِيرُ، ثنا حَسَّانُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ مَسْرُوقٍ الثَّوْرِيُّ، عَنْ أَبِي نَضْرَةَ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «مِفْتَاحُ الصَّلَاةِ الْوُضُوءُ، وَتَحْرِيمُهَا التَّكْبِيرُ، وَتَحْلِيلُهَا التَّسْلِيمُ» . «هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحُ الْإِسْنَادِ عَلَى شَرْطِ مُسْلِمٍ، وَلَمْ يُخَرِّجَاهُ، وَشَوَاهِدُهُ عَنْ أَبِي سُفْيَانَ، عَنْ أَبِي نَضْرَةَ كَثِيرَةٌ، فَقَدْ رَوَاهُ أَبُو حَنِيفَةَ وَحَمْزَةُ الزَّيَّاتُ، وَأَبُو مَالِكٍ النَّخَعِيُّ وَغَيْرَهُمْ، عَنْ أَبِي سُفْيَانَ وَأَشْهُرُ إِسْنَادٍ فِيهِ حَدِيثُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عَقِيلٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْحَنَفِيَّةِ، عَنْ عَلِيٍّ، وَالشَّيْخَانِ قَدْ أَعْرَضَا عَنْ حَدِيثِ ابْنِ عَقِيلٍ أَصْلًا»

Al Mustadrak 457: Abu Bakar Muhammad bin Ahmad bin Balawaih menceritakan kepada kami, Abu Al Mutsanna Al Anbari menceritakan kepada kami, keduanya berkata: Abu Amr Adh-Dharir menceritakan kepada kami, Hassan bin Ibrahim menceritakan kepada kami dari Sa’id bin Masruq Ats-Tsauri, dari Abu Nadhrah, dari Abu Sa’id, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pembuka shalat adalah wudhu, permulaannya (tanda masuknya) adalah takbir, dan akhirnya (tanda selesainya) adalah salam.” Sanad hadis ini shahih sesuai syarat Muslim, tapi Al Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkannya. Syahid hadis ini berasal dari Sufyan, dari Abu Nadhrah, tergolong banyak. Abu Hanifah, Hamzah Az-Zayyat, Ibnu Malik An- Nakha’i, dan yang lain meriwayatkannya dari Abu Sufyan. Sedangkan sanad yang paling terkenal adalah hadis Abdullah bin Muhammad bin Aqil dari Muhammad bin Al Hanafiyah, dari Ali. Akan tetapi Al Bukhari dan Muslim menolak hadis Ibnu Aqil.

Mustadrak Hakim 442

المستدرك 442: مَا أَخْبَرَنَا أَبُو الْعَبَّاسِ قَاسِمُ بْنُ قَاسِمٍ السَّيَّارِيُّ بِمَرْوَ، ثنا أَبُو الْمُوَجَّهِ مُحَمَّدُ بْنُ عَمْرٍو الْفَزَارِيُّ، ثنا يُوسُفُ بْنُ عِيسَى، ثنا الْفَضْلُ بْنُ مُوسَى، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو، حَدَّثَنِي أَبُو سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «تَفَرَّقَتِ الْيَهُودُ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِينَ فِرْقَةً، وَالنَّصَارَى مِثْلُ ذَلِكَ، وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً»

Al Mustadrak 442: Abu Al Abbas Qasim bin Qasim As-Sayyari mengabarkan kepada kami di Marwa, Abu Al Muwajjih Muhammad bin Umar Al Fazari menceritakan kepada kami, Yusuf bin Isa menceritakan kepada kami, Al Fadhl bin Musa menceritakan kepada kami dari Muhammad bin Amr, Abu Salamah menceritakan kepadaku dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Umat Yahudi akan pecah menjadi 71 kelompok, umat Nasrani juga demikian, sedangkan umatku akan pecah menjadi 73 kelompok”

Mustadrak Hakim 458

المستدرك 458: حَدَّثَنَا أَبُو الْعَبَّاسِ مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوبَ، ثنا الْحَسَنُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ عَفَّانَ، ثنا أَبُو أُسَامَةَ، وَأَخْبَرَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُوسَى، ثنا إِسْمَاعِيلُ بْنُ قُتَيْبَةَ، ثنا أَبُو بَكْرٍ، وَعُثْمَانُ، ابْنَا أَبِي شَيْبَةَ، قَالَا: ثنا أَبُو أُسَامَةَ، وَأَخْبَرَنِي أَبُو الْوَلِيدِ الْفَقِيهُ، ثنا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ شِيرَوَيْهِ، ثنا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، أَنْبَأَ أَبُو أُسَامَةَ، ثنا الْوَلِيدُ بْنُ كَثِيرٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ جَعْفَرِ بْنِ الزُّبَيْرِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، عَنِ الْمَاءِ يَكُونُ بِأَرْضِ الْفَلَاةِ وَمَا يَنُوبُهُ مِنَ السِّبَاعِ وَالدَّوَابِّ، فَقَالَ: «إِذَا كَانَ الْمَاءُ قُلَّتَيْنِ لَمْ يُنَجِّسْهُ شَيْءٌ» . «هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِ الشَّيْخَيْنِ، فَقَدِ احْتَجَّا جَمِيعًا بِجَمِيعِ رُوَاتِهِ وَلَمْ يُخَرِّجَاهُ، وَأَظُنُّهُمَا وَاللَّهُ أَعْلَمُ لَمْ يُخَرِّجَاهُ لِخِلَافٍ فِيهِ عَلَى أَبِي أُسَامَةَ عَلَى الْوَلِيدِ بْنِ كَثِيرٍ»

Al Mustadrak 458: Abu Al Abbas Muhammad bin Ya’qub menceritakan kepada kami, Al Hasan bin Ali bin Affan menceritakan kepada kami, Abu Usamah menceritakan kepada kami. Abdullah bin Musa mengabarkan kepadaku, Ismail bin Qutaibah menceritakan kepada kami, Abu Bakar dan Utsman, dua putra Abu Syaibah menceritakan kepada kami, keduanya berkata: Abu Usamah menceritakan kepada kami. Abu Al Walid Al Faqih mengabarkan kepadaku, Abdullah bin Muhammad bin Syairawaih menceritakan kepada kami, Ishaq bin Ibrahim menceritakan kepada kami, Abu Usamah memberitakan (kepada kami), Al Walid bin Katsir menceritakan kepada kami dari Muhammad bin Ja’far bin Az-Zubair, dari Abdullah bin Abdullah bin Umar, dari ayahnya, dia berkata, ’’Rasulullah pernah ditanya tentang air yang berada di daerah padang pasir yang sering didatangi binatang buas dan binatang melata (untuk minum, membuang kotoran, dsb), beliau lalu menjawab, “Apabila air mencapai dua qullah, maka tidak ada sesuatu pun yang membuatnya berubah menjadi najis” Hadis ini shahih sesuai syarat Muslim. Al Bukhari dan Muslim sama-sama berhujjah dengan seluruh periwayatnya, tapi Al Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkannya. Aku menduga keduanya tidak meriwayatkannya lantaran ada perdebatan tentang riwayat Abu Usamah dari Al Walid bin Katsir.

Mustadrak Hakim 443

المستدرك 443: وَمِنْهَا مَا حَدَّثَنَا أَبُو الْعَبَّاسِ مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوبَ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ الصَّغَانِيُّ، ثنا أَبُو الْيَمَانِ الْحَكَمُ بْنُ نَافِعٍ الْبَهْرَانِيُّ، ثنا صَفْوَانُ بْنُ عَمْرٍو، عَنِ الْأَزْهَرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، عَنْ أَبِي عَامِرٍ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ لُحَيٍّ، قَالَ: حَجَجْنَا مَعَ مُعَاوِيَةَ بْنِ أَبِي سُفْيَانَ، فَلَمَّا قَدِمْنَا مَكَّةَ، أُخْبِرَ بِقَاصٍّ يَقُصُّ عَلَى أَهْلِ مَكَّةَ مَوْلًى لِبَنِي فَرُّوخٍ، فَأَرْسَلَ إِلَيْهِ مُعَاوِيَةُ فَقَالَ: أُمِرْتَ بِهَذِهِ الْقِصَصِ؟ قَالَ: لَا، قَالَ: فَمَا حَمَلَكَ عَلَى أَنْ تَقُصَّ بِغَيْرِ إِذْنٍ، قَالَ: نُنْشِئُ عِلْمًا عَلَمَنَاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ، فَقَالَ مُعَاوِيَةُ: لَوْ كُنْتُ تَقَدَّمْتُ إِلَيْكَ لَقَطَعْتُ مِنْكَ طَائِفَةً، ثُمَّ قَامَ حِينَ صَلَّى الظُّهْرَ بِمَكَّةَ، فَقَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ أَهْلَ الْكِتَابِ تَفَرَّقُوا فِي دِينِهِمْ عَلَى اثْنَتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً، وَتَفْتَرِقُ هَذِهِ الْأُمَّةُ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلَّا وَاحِدَةً وَهِيَ الْجَمَاعَةُ، وَيَخْرُجُ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ تَتَجَارَى بِهِمْ تِلْكَ الْأَهْوَاءُ كَمَا يَتَجَارَى الْكَلْبُ بِصَاحِبِهِ، فَلَا يَبْقَى مِنْهُ عِرْقٌ وَلَا مَفْصِلٌ إِلَّا دَخَلَهُ، وَاللَّهِ يَا مَعْشَرَ الْعَرَبِ لَئِنْ لَمْ تَقُومُوا بِمَا جَاءَ بِهِ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَغَيْرُ ذَلِكَ أَحْرَى أَنْ لَا تَقُومُوا بِهِ» . «هَذِهِ أَسَانِيدُ تُقَامُ بِهَا الْحُجَّةُ فِي تَصْحِيحِ هَذَا الْحَدِيثِ، وَقَدْ رُوِيَ هَذَا الْحَدِيثُ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ وَعَمْرِو بْنِ عَوْفٍ الْمُزَنِيِّ بِإِسْنَادَيْنِ تَفَرَّدَ بِأَحَدِهِمَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ زِيَادٍ الْأَفْرِيقِيُّ، وَالْآخَرُ كَثِيرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْمُزَنِيُّ، وَلَا تَقُومُ بِهِمَا الْحُجَّةُ»

Al Mustadrak 443: Hadis yang diceritakan kepada kami dari Abu Al Abbas Muhammad bin Ya’qub, Muhammad bin Ishaq Ash-Shaghani menceritakan kepada kami, Abu Al Yaman Al Hakam bin Nafi’ Al Bahrani menceritakan kepada kami, Shafwan bin Amr menceritakan kepada kami dari Al Azhar bin Abdullah, Abu Amir Abdullah bin Yahya menceritakan kepada kami, dia berkata: Kami menunaikan haji bersama Mu’awiyah bin Abu Sufyan. Ketika kami tiba di Makkah, dia diberitahukan bahwa ada tukang cerita yang suka menuturkan cerita (mendongeng) kepada penduduk Makkah, yaitu maula-nya bani Farukh, maka Mu’awiyah mengirim utusan untuk menemuinya, kemudian dia bertanya, “Apakah kamu disuruh menuturkan cerita- cerita ini?” Orang tersebut menjawab, “Tidak.” Dia bertanya lagi, “Lalu apa yang mendorongmu menuturkan cerita tanpa izin?” Orang i tersebut menjawab, “Untuk menumbuhkan ilmu yang telah diajarkan Allah kepada kami.” Mu’awiyah lalu berkata, “Seandainya tujuanku datang ini untuk menemuimu, maka pasti aku musnahkan sekelompok orang dari golonganmu.” Dia lalu berdiri dan menunaikan shalat Zhuhur di Makkah. Mu’awiyah lanjut berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Ahli Kitab telah pecah menjadi 72 kelompok, dan umatku ini akan pecah menjadi 73 kelompok, semuanya masuk neraka kecuali satu, yaitu jamaah. Akan keluar pada umatku nanti suatu kaum yang memperturutkan hawa nafsunya seperti mengalirnya penyakit rabies pada penderitanya, yang tidak satu peluh atau persendian kecuali akan dimasukinya (oleh penyakit tersebut). Wahai bangsa Arab, demi Allah, jika kalian tidak melakukan apa yang dibawa Muhammad , maka untuk selain beliau kalian lebih patut untuk tidak melakukannya.” Ini merupakan sanad-sanad yang biasa dijadikan hujjah untuk menilai shahih hadis ini. Hadis ini diriwayatkan dari Abdullah bin Amr bin Al Ash dan Amr bin Auf Al Muzani dengan dua sanad, salah satunya ada yang menyendiri dalam periwayatannya, yaitu Abdurrahman bin Ziyad Al Afriqi, sementara yang lainnya Katsir bin Abdullah Al Muzani. Keduanya tidak bisa dijadikan hujjah. Hadis Abdullah bin Amr adalah:

Mustadrak Hakim 459

المستدرك 459: كَمَا أَخْبَرْنَاهُ دَعْلَجُ بْنُ أَحْمَدَ السِّجْزِيُّ، بِبَغْدَادَ، ثنا بِشْرُ بْنُ مُوسَى، ثنا الْحُمَيْدِيُّ ثنا أَبُو أُسَامَةَ، وَحدثنا عَلِيُّ بْنُ عِيسَى، ثنا الْحُسَيْنُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ زِيَادٍ، وَإِبْرَاهِيمُ بْنُ أَبِي طَالِبٍ، قَالَا: ثنا مُحَمَّدُ بْنُ عُثْمَانَ بْنِ كَرَامَةَ، ثنا أَبُو أُسَامَةَ، ثنا الْوَلِيدُ بْنُ كَثِيرٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبَّادِ بْنِ جَعْفَرٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، عَنِ الْمَاءِ وَمَا يَنُوبُهُ مِنَ الدَّوَابِّ وَالسِّبَاعِ، فَقَالَ: «إِذَا كَانَ الْمَاءُ قُلَّتَيْنِ لَمْ يَحْمِلِ الْخَبَثَ» . «وَهَكَذَا رَوَاهُ الشَّافِعِيُّ فِي» الْمَبْسُوطِ «، عَنِ الثِّقَةِ، وَهُوَ أَبُو أُسَامَةَ بِلَا شَكٍّ فِيهِ»

Al Mustadrak 459: Seperti hadis yang dikabarkan kepada kami dari Da’laj bin Ahmad As-Sajzi di Baghdad, Bisyr bin Musa menceritakan kepada kami, Al Humaidi Abu Usamah menceritakan kepada kami. Ali bin Isa menceritakan kepada kami, Al Husain bin Muhammad bin Ziyad dan Ibrahim bin Abu Thalib menceritakan kepada kami, keduanya berkata: Muhammad bin Utsman bin Karamah menceritakan kepada kami, Abu Usamah menceritakan kepada kami, Al Walid bin Katsir menceritakan kepada kami dari Muhammad bin Abbad bin Ja’far, dari Abdullah bin Abdullah bin Umar, dari ayahnya, dia berkata: Rasulullah ditanya tentang air yang sering didatangi binatang melata dan binatang buas (untuk minum, membuang kotoran, dsb). Beliau menjawab, “Apabila air mencapai dua qullah, maka tidak akan membawa kotoran (najis [sehingga tetap suci])” Demikianlah yang diriwayatkan oleh Asy-Syafi’i dalam Al Mabsuth, dari seorang periwayat tsiqah, yaitu Abu Usamah, tanpa diragukan lagi.

Mustadrak Hakim 444

المستدرك 444: فَأَخْبَرَنَاهُ عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْحَكِيمِيُّ بِبَغْدَادَ، ثنا الْعَبَّاسُ بْنُ مُحَمَّدٍ الدُّورِيُّ، ثنا ثَابِتُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْعَابِدُ، ثنا سُفْيَانُ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ زِيَادٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ يَزِيدَ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَيَأْتِيَنَّ عَلَى أُمَّتِي مَا أَتَى عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ مِثْلًا بِمِثْلٍ حَذْوَ النَّعْلِ بِالنَّعْلِ، حَتَّى لَوْ كَانَ فِيهِمْ مَنْ نَكَحَ أُمَّهُ عَلَانِيَةً كَانَ فِي أُمَّتِي مِثْلَهُ، إِنَّ بَنِي إِسْرَائِيلَ افْتَرَقُوا عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِينَ مِلَّةً، وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلَّا مِلَّةً وَاحِدَةً» فَقِيلَ لَهُ: مَا الْوَاحِدَةُ؟ قَالَ: «مَا أَنَا عَلَيْهِ الْيَوْمَ وَأَصْحَابِي»

Al Mustadrak 444: Ali bin Abdullah Al Hakimi mengabarkannya kepada kami di Baghdad, Al Abbas bin Muhammad bin Ad-Duri menceritakan kepada kami, Tsabit bin Muhammad Al Abid menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami dari Abdurrahman bin Ziyad, dari Abdullah bin Yazid, dari Abdullah bin Amr, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh akan datang pada umatku sesuatu yang pernah terjadi pada bani Israil dengan mengikutinya sama persis, seukuran sandal demi sandal Seandainya ada dari mereka yang menikahi ibunya secara terang-terangan, maka pada umatku pun akan ada yang melakukannya. Sesungguhnya bani Israil terpecah-belah menjadi 71 kelompok, sedangkan umatku akan terpecah-belah meryadi 73 kelompok, yang semuanya masuk neraka, kecuali satu.” Beliau lalu ditanya, “Apakah yang satu itu?” Beliau menjawab, “Yaitu seperti yang aku lakukan sekarang ini dan yang dilakukan para sahabatku.” Hadis Amr bin Auf Al Muzani adalah:

Mustadrak Hakim 460

المستدرك 460: حَدَّثَنَاهُ أَبُو الْعَبَّاسِ مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوبَ، أَنْبَأَ الرَّبِيعِ بْنِ سُلَيْمَانَ، وَأَخْبَرَنِي أَبُو الْحُسَيْنِ بْنُ يَعْقُوبَ الْحَافِظُ، ثنا أَبُو جَعْفَرٍ أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ سَلَامَةَ الْفَقِيهَ، بِمِصْرَ، ثنا إِسْمَاعِيلُ بْنُ يَحْيَى الْمُزَنِيُّ، قَالَا: ثنا الشَّافِعِيُّ، وَقَالَ الرَّبِيعُ: أَنْبَأَ الشَّافِعِيُّ، أَنْبَأَ الثِّقَةُ، عَنِ الْوَلِيدِ بْنِ كَثِيرِ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبَّادِ بْنِ جَعْفَرٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ، عَنْ أَبِيهِ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: ” إِذَا كَانَ الْمَاءُ قُلَّتَيْنِ لَمْ يَحْمِلْ نَجِسًا – أَوْ قَالَ: خَبَثًا – «.» هَذَا خِلَافٌ لَا يُوهِنُ هَذَا الْحَدِيثَ، فَقَدِ احْتَجَّ الشَّيْخَانِ جَمِيعًا بِالْوَلِيدِ بْنِ كَثِيرٍ وَمُحَمَّدِ بْنِ عَبَّادِ بْنِ جَعْفَرٍ، وَإِنَّمَا قَرْنَهُ أَبُو أُسَامَةَ إِلَى مُحَمَّدِ بْنِ جَعْفَرٍ، ثُمَّ حَدَّثَ بِهِ مَرَّةً عَنْ هَذَا وَمَرَّةً عَنْ ذَاكَ وَالدَّلِيلُ عَلَيْهِ “

Al Mustadrak 460: Abu Al Abbas Muhammad bin Ya’qub menceritakannya kepada kami, Ar-Rabi’ bin Sulaiman memberitakan (kepada kami). Abu Al Husain bin Ya’qub Al Hafizh mengabarkan kepadaku, Abu Ja’far Ahmad bin Muhammad bin Salamah Al Faqih menceritakan kepada kami di Mesir, Ismail bin Yahya Al Muzani menceritakan kepada kami, keduanya berkata: Asy-Syafi’i menceritakan kepada kami, Ar-Rabi’ berkata: Asy-Syafi’i mengabarkan kepada kami, seorang periwayat tsiqah memberitakan (kepada kami) dari Al Walid bin Katsir, dari Muhammad bin Abbad bin Ja’far, dari Abdullah bin Abdullah bin Umar, dari ayahnya, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila air mencapai dua qullah, maka tidak akan membawa najis atau kotoran” Ini merupakan perselisihan yang tidak menjadikan hadis ini dha’if, karena Al Bukhari dan Muslim sama-sama berhujjah dengan Al Walid bin Katsir dan Muhammad bin Abbad bin Ja’far […]. Abu Usamah hanya menghubungkannya (yaitu Muhammad bin Abbad bin Ja’far) kepada Muhammad bin Ja’far, kemudian dia pada satu sisi meriwayatkan darinya (Muhammad bin Abbad bin Ja’far), sedangkan pada sisi lain meriwayatkan dari yang satunya lagi (Muhammad bin Ja’far). Dalilnya adalah: