Skip to main content

Mustadrak Hakim 565

المستدرك 565: حَدَّثَنَاهُ أَبُو بَكْرٍ مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ بَالَوَيْهِ، ثنا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ، حَدَّثَنِي أَبِي، وَحدثنا أَبُو عَلِيٍّ الْحُسَيْنُ بْنُ عَلِيٍّ الْحَافِظُ، أَنْبَأَ مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى الْقَطِيعِيُّ، وَحَدَّثَنَا أَبُو عَلِيٍّ، ثنا عَلِيُّ بْنُ الْعَبَّاسِ بْنِ الْوَلِيدِ الْبَجَلِيُّ، ثنا أَحْمَدُ بْنُ الْمِقْدَامِ، قَالُوا: ثنا مُحَمَّدُ بْنُ بَكْرٍ، ثنا شُعْبَةُ، عَنْ سِمَاكِ بْنِ حَرْبٍ، عَنْ عِكْرِمَةَ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: أَرَادَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَتَوَضَّأَ مِنْ إِنَاءٍ فَقَالَتِ امْرَأَةٌ مِنْ نِسَائِهِ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي قَدْ تَوَضَّأْتُ مِنْ هَذَا، فَتَوَضَّأَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وقَالَ: «الْمَاءُ لَا يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ» قَدِ احْتَجَّ الْبُخَارِيُّ بِأَحَادِيثِ عِكْرِمَةَ، وَاحْتَجَّ مُسْلِمٌ بِأَحَادِيثِ سِمَاكِ بْنِ حَرْبٍ، وَهَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ فِي الطَّهَارَةِ، وَلَمْ يُخْرِجَاهُ، وَلَا يُحْفَظُ لَهُ عِلَّةٌ

Al Mustadrak 565: Abu Bakar Muhammad bin Ahmad bin Balawaih menceritakan kepada kami, Abdullah bin Ahmad bin Hanbal menceritakan kepada kami, ayahku menceritakan kepadaku. Abu Ali Al Husain bin Ali Al Hafizh menceritakan kepada kami, Muhammad bin Ishaq memberitakan (kepada kami), Muhammad bin Yahya Al Qathi’i menceritakan kepada kami. Abu Ali menceritakan kepada kami, Ali bin Al Abbas bin Al Walid Al Bajali menceritakan kepada kami, Ahmad bin Al Miqdam menceritakan kepada kami, mereka berkata: Muhammad bin Bakar menceritakan kepada kami, Syu’bah menceritakan kepada kami dari Simak bin Harb, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, dia berkata, “Ketika Nabi hendak berwudhu dari sebuah bejana, lalu salah seorang dari istrinya berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku telah berwudhu dengan air ini’. Nabi pun berwudhu dengannya, lalu bersabda, ‘‘Air itu, tidak ada sesuatu pun yang membuatnya najis’.” Al Bukhari berhujjah dengan hadis-hadis Ikrimah, sementara Muslim berhujjah dengan hadis-hadis Simak bin Harb. Ini merupakan sanad yang shahih tentang Thaharah, tapi keduanya tidak meriwayatkannya. Selain itu, hadis ini juga tidak ber-illat.

Mustadrak Hakim 566

المستدرك 566: حَدَّثَنَا أَبُو سَعِيدٍ إِسْمَاعِيلُ بْنُ أَحْمَدَ الْجُرْجَانِيُّ، أَنْبَأَ مُحَمَّدُ بْنُ الْحَسَنِ الْعَسْقَلَانِيُّ، ثنا حَرْمَلَةُ بْنُ يَحْيَى، أَنْبَأَ ابْنُ وَهْبٍ، أَخْبَرَنِي عَمْرُو بْنُ الْحَارِثِ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي هِلَالٍ، عَنْ عُتْبَةَ وَهُوَ ابْنُ أَبِي حَكِيمٍ، عَنْ نَافِعِ بْنِ جُبَيْرٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ، أَنَّهُ قِيلَ لِعُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ، حَدِّثْنَا عَنْ شَأْنِ سَاعَةِ الْعُسْرَةِ، فَقَالَ عُمَرُ: خَرَجْنَا إِلَى تَبُوكَ فِي قَيْظٍ شَدِيدٍ، فَنَزَلْنَا مَنْزِلًا أَصَابَنَا فِيهِ عَطَشٌ حَتَّى ظَنَنَّا أَنَّ رِقَابَنَا سَتَنْقَطِعُ، حَتَّى أَنَّ الرَّجُلَ لَيَنْحَرُ بَعِيرَهُ، فَيَعْصِرُ فَرْثَهُ فَيَشْرَبُهُ وَيَجْعَلُ مَا بَقِيَ عَلَى كَبِدِهِ، فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ قَدْ عَوَّدَكَ فِي الدُّعَاءِ خَيْرًا فَادْعُ لَهُ، فَقَالَ: «أَتُحِبُّ ذَلِكَ؟» قَالَ: نَعَمْ، فَرَفَعَ يَدَيْهِ فَلَمْ يُرْجِعْهُمَا حَتَّى قَالَتِ السَّمَاءُ، فَأَظَلَّتْ ثُمَّ سَكَبَتْ فَمَلئُوا مَا مَعَهُمْ، ثُمَّ ذَهَبْنَا نَنْظُرُ فَلَمْ نَجِدْهَا جَازَتِ الْعَسْكَرَ. «هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِ الشَّيْخَيْنِ وَلَمْ يُخَرِّجَاهُ، وَقَدْ ضَمَّنَهُ سُنَّةً غَرِيبَةً، وَهُوَ أَنَّ الْمَاءَ إِذَا خَالَطَهُ فَرْثُ مَا يُؤْكَلُ لَحْمُهُ لَمْ يُنَجِّسْهُ، فَإِنَّهُ لَوْ كَانَ يُنَجِّسُ الْمَاءَ لَمَا أَجَازَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَجْعَلَهُ عَلَى كَبِدِهِ حَتَّى يُنَجِّسَ يَدَيْهِ»

Al Mustadrak 566: Abu Sa’id Ismail bin Ahmad Al Juijani menceritakan kepada kami, Muhammad bin Al Hasan Al Asqalani memberitakan (kepada kami), Harmalah bin Yahya menceritakan kepada kami, Ibnu Wahb memberitakan (kepada kami). Amr bin Al Harits mengabarkan kepadaku dari Sa’id bin Abu Hilal, dari Utbah —yaitu Ibnu Abu Hakim—, dari Nafi’ bin Jubair, dari Abdullah bin Abbas, bahwa Umar bin Khaththab ditanya, “Ceritakanlah kepada kami tentang saat-saat kalian sedang sangat susah.” Umar berkata, “Kami keluar menuju Tabuk pada musim kemarau yang sangat panas, lalu kami beristirahat di suatu tempat. Saat itu kami sangat kehausan, sehingga kami merasa leher-leher kami hampir putus. Bahkan sampai ada seorang laki-laki yang menyembelih untanya lalu memeras kotorannya, kemudian meminumnya, sementara sisanya dia masukkan ke dalam perutnya (dimakan). Abu Bakar lalu berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah telah membekali engkau untuk berdoa dalam kebaikan (yaitu memberi fasilitas doa, dan bila beliau berdoa tentang kebaikan maka akan dikabulkan), maka berdoalah kepada Allah’. Nabi balik bertanya, ‘Apakah kalian menyukai ini’. Dia menjawab, ‘Ya’. Beliau pun mengangkat kedua tangannya, dan tidak sampai beliau menariknya kembali, tiba-tiba langit sudah mendung dan turun hujan, menuangkan airnya, hingga memenuhi apa saja yang bersama mereka. Kami kemudian pergi melihat-lihat, ternyata kami dapatkan bahwa hujan tersebut tidak sampai melewati kamp (tenda-tenda peristirahatan).” Hadis ini shahih sesuai syarat Al Bukhari dan Muslim, tetapi keduanya tidak meriwayatkannya. Hadis ini mengandung Sunnah yang aneh, yaitu apabila air bercampur dengan kotoran binatang yang dagingnya boleh dimakan, maka air tersebut tidak menjadi najis, karena seandainya najis, tentu Rasulullah tidak akan membolehkan seorang muslim pun memasukkannya ke dalam perutnya, yang akan menjadikan tangannya najis.

Mustadrak Hakim 551

المستدرك 551: حَدَّثَنَا أَبُو الْعَبَّاسِ مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوبَ، ثنا بَكَّارُ بْنُ قُتَيْبَةَ الْقَاضِي، بِمِصْرَ، ثنا صَفْوَانُ بْنُ عِيسَى، ثنا الْحَسَنُ بْنُ ذَكْوَانَ، عَنْ مَرْوَانَ الْأَصْفَرِ، قَالَ: رَأَيْتُ ابْنَ عُمَرَ أَنَاخَ رَاحِلَتَهُ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ، ثُمَّ جَلَسَ يَبُولُ إِلَيْهَا، فَقُلْتُ: يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ، أَلَيْسَ قَدْ نُهِيَ عَنْ هَذَا؟ قَالَ: «إِنَّمَا نُهِيَ عَنْ ذَلِكَ فِي الْفَضَاءِ، فَإِذَا كَانَ بَيْنَكَ وَبَيْنَ الْقِبْلَةِ شَيْءٌ يَسْتُرُكَ فَلَا بَأْسَ» . «هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِ الْبُخَارِيِّ، فَقَدِ احْتَجَّ بِالْحَسَنِ بْنِ ذَكْوَانَ، وَلَمْ يُخَرِّجَاهُ» . وَلَهُ شَاهِدٌ عَنْ جَابِرٍ «صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِ مُسْلِمٍ»

Al Mustadrak 551: Abu Al Abbas Muhammad bin Ya’qub menceritakan kepada kami, Bakkar bin Qutaibah Al Qadhi menceritakan kepada kami di Mesir, Shafwan bin Isa menceritakan kepada kami, Al Hasan bin Dzakwan menceritakan kepada kami dari Marwan Al Ashfar, dia berkata: Aku melihat Ibnu Umar menderumkan untanya dengan menghadap kiblat, kemudian dia duduk dan kencing dengan menghadapnya. Aku lantas bertanya, “Wahai Abu Abdurrahman, bukankah ini dilarang?” Dia menjawab, “Sesungguhnya yang dilarang adalah jika berada di padang pasir, sedangkan jika antara kamu dengan kiblat terdapat sesuatu yang menutupimu maka tidak apa- apa.” Hadis ini shahih sesuai syarat Al Bukhari. Dia berhujjah dengan Al Hasan bin Dzakwan. Al Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkannya. Hadis ini memiliki syahid dari riwayat Jabir yang shahih sesuai syarat Muslim, yaitu:

Mustadrak Hakim 552

المستدرك 552: حَدَّثَنَا أَبُو عَلِيٍّ الْحُسَيْنُ بْنُ عَلِيٍّ الْحَافِظُ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ، ثنا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ بْنِ سَعِيدٍ، ثنا أَبِي، عَنِ ابْنِ إِسْحَاقَ، حَدَّثَنِي أَبَانُ بْنُ صَالِحٍ، عَنْ مُجَاهِدٍ، عَنْ جَابِرٍ، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ «نَهَانَا أَنْ نَسْتَدْبِرَ الْقِبْلَةَ أَوْ نَسْتَقْبِلَهَا بِفُرُوجِنَا إِذَا أَهْرَقْنَا الْمَاءَ، ثُمَّ رَأَيْنَاهُ قَبْلَ مَوْتِهِ وَهُوَ يَبُولُ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ»

Al Mustadrak 552: Abu Ali Al Husain bin Ali Al Hafizh menceritakan kepada kami, Muhammad bin Ishaq menceritakan kepada kami, Muhammad bin Rafi’ menceritakan kepada kami, Ya’qub bin Ibrahim bin Sa’id menceritakan kepada kami, ayahku menceritakan kepada kami dari Ibnu Ishaq, Aban bin Shalih menceritakan kepadaku dari Mujahid, dari Jabir, dia berkata, “Dulu Rasulullah melarang kami membelakangi kiblat atau menghadap kepadanya dengan kemudian kami (ketika kencing) saat menyiram air. Namun kemudian kami melihat beliau kencing dengan menghadap kiblat.”

Mustadrak Hakim 553

المستدرك 553: حَدَّثَنَا أَبُو حَفْصٍ عُمَرُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْفَقِيهُ بِبُخَارَى، ثنا صَالِحُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ حَبِيبٍ الْحَافِظُ، ثنا أَبُو كَامِلٍ، ثنا يُوسُفُ بْنُ خَالِدٍ، عَنِ الضَّحَّاكِ بْنِ عُثْمَانَ، عَنْ عِكْرِمَةَ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «ثَمَنُ الْكَلْبِ خَبِيثٌ وَهُوَ أَخْبَثُ مِنْهُ» . «هَذَا حَدِيثٌ رُوَاتُهُ كُلُّهُمْ ثِقَاتٌ، فَإِنْ سَلِمَ مِنْ يُوسُفَ بْنِ خَالِدٍ السَّمْتِيِّ فَإِنَّهُ صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِ الْبُخَارِيِّ، وَقَدْ خَرَّجْتُهُ لِشِدَّةِ الْحَاجَةِ إِلَيْهِ، وَقَدِ اسْتَعْمَلَ مِثْلَهُ الشَّيْخَانِ فِي غَيْرِ مَوْضِعٍ يَطُولُ بِشَرْحِهِ الْكِتَابُ»

Al Mustadrak 553: Abu Hafsh Umar bin Muhammad Al Faqih menceritakan kepada kami di Bukhara, Shalih bin Muhammad bin Habib Al Hafizh menceritakan kepada kami, Abu Kamil menceritakan kepada kami, Yusuf bin Khalid menceritakan kepada kami dari Adh- Dhahhak bin Utsman, dari Daimah, dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Harga anjing najis, dan dia lebih najis darinya (yaitu bahwa anjing itu sendiri lebih najis daripada jual beli anjing)” Semua periwayat hadis ini tsiqah. Jika jalur periwayatan dari Yusuf bin Khalid As-Samti selamat (benar), maka dia shahih sesuai syarat Al Bukhari. Aku meriwayatkannya karena dia sangat diperlukan (untuk dijelaskan). Hadis serupa dipergunakan oleh Al Bukhari dan Muslim pada pembahasan yang lain secara panjang lebar dalam Syarh-nya.

Mustadrak Hakim 554

المستدرك 554: حَدَّثَنَا أَبُو الْعَبَّاسِ مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوبَ، أَنْبَأَ الْعَبَّاسُ بْنُ الْوَلِيدِ بْنِ مَزْيَدٍ الْبَيْرُوتِيُّ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ شُعَيْبِ بْنِ شَابُورَ، حَدَّثَنِي عُتْبَةُ بْنُ أَبِي حَكِيمٍ، عَنْ طَلْحَةَ بْنِ نَافِعٍ، أَنَّهُ حَدَّثَهُ، قَالَ: حَدَّثَنِي أَبُو أَيُّوبً، وَجَابِرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، وَأَنَسُ بْنُ مَالِكٍ الْأَنْصَارِيُّونَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي هَذِهِ الْآيَةِ {فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَنْ يَتَطَهَّرُوا، وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ} [التوبة: 108] فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «يَا مَعْشَرَ الْأَنْصَارِ، إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَثْنَى عَلَيْكُمْ خَيْرًا فِي الطُّهُورِ فَمَا طُهُورُكُمْ هَذَا؟» قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، نَتَوَضَّأُ لِلصَّلَاةِ، وَالْغُسْلُ مِنَ الْجَنَابَةِ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «هَلْ مَعَ ذَلِكَ غَيْرُهُ؟» قَالُوا: لَا، غَيْرَ أَنَّ أَحَدَنَا إِذَا خَرَجَ مِنَ الْغَائِطِ أَحَبَّ أَنْ يَسْتَنْجِيَ بِالْمَاءِ، قَالَ: «هُوَ ذَاكَ» . ” هَذَا حَدِيثٌ كَبِيرٌ صَحِيحٌ فِي كِتَابِ الطَّهَارَةِ، فَإِنَّ مُحَمَّدَ بْنَ شُعَيْبِ بْنِ شَابُورَ، وَعُتْبَةَ بْنَ أَبِي حَكِيمٍ مِنْ أَئِمَّةِ أَهْلِ الشَّامِ، وَالشَّيْخَانِ إِنَّمَا أَخَذَا مُخَّ الرِّوَايَاتِ، وَمِثْلُ هَذَا الْحَدِيثِ لَا يُتْرَكُ لَهُ، قَالَ إِبْرَاهِيمُ بْنُ يَعْقُوبَ: مُحَمَّدُ بْنُ شُعَيْبٍ أَعْرَفُ النَّاسِ بِحَدِيثِ الشَّامِيِّينَ، وَلَهُ شَاهِدٌ بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ “

Al Mustadrak 554: Abu Al Abbas Muhammad bin Ya’qub menceritakan kepada kami, Al Abbas bin Al Walid bin Mazid Al Bairuti memberitakan (kepada kami), Muhammad bin Syu’aib bin Syabur menceritakan kepada kami, Utbah bin Abu Hakim menceritakan kepadaku dari Thalhah bin Nafi’, bahwa dia menceritakan kepadanya, dia berkata: Abu Ayyub, Jabir bin Abdullah dan Anas bin Malik, mereka semua orang-orang Anshar menceritakan kepadaku dari Rasulullah tentang ayat, “Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih.” (Qs. At-Taubah [9]: 108) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai orang-orang Anshar, sesungguhnya Allah memuji kalian yang baik dalam bersuci. Apakah bersuci yang kalian lakukan?” Mereka menjawab, “Wahai Rasulullah, kami berwudhu untuk shalat dan mandi junub.” Rasulullah lalu bertanya, “Adakah selain itu yang kalian lakukan’?” Mereka menjawab, “Tidak ada, hanya saja apabila salah seorang dari kami selesai buang air besar, maka dia suka beristinja dengan air.” Nabi lalu bersabda, “Itulah yang dimaksud.” Hadis ini shahih, yang terkenal tentang kitab Thaharah, karena Muhammad bin Syu’aib bin Syabur dan Utbah bin Abu Hakim merupakan salah seorang Imam penduduk Syam, dan Al Bukhari serta Muslim […] hanya mengambil inti dari riwayat-riwayat ini. Hadis seperti ini tidak ditinggalkan. Ibrahim bin Ya’qub berkata, “Muhammad bin Syu’aib merupakan orang yang paling mengetahui hadis orang-orang Syam.” Hadis ini memiliki syahid dengan sanad yang shahih.

Mustadrak Hakim 555

المستدرك 555: أَخْبَرْنَاهُ أَحْمَدُ بْنُ سَلْمَانَ الْفَقِيهُ، بِبَغْدَادَ، ثنا إِسْمَاعِيلُ بْنُ إِسْحَاقَ الْقَاضِي، ثنا إِسْمَاعِيلُ بْنُ أَبِي أُوَيْسٍ، ثنا أَبِي، عَنْ شُرَحْبِيلَ بْنِ سَعْدٍ، عَنْ عُوَيْمِ بْنِ سَاعِدَةَ الْأَنْصَارِيِّ، ثُمَّ الْعِجْلِيِّ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ لِأَهْلِ قُبَاءَ: «إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَحْسَنَ الثَّنَاءَ عَلَيْكُمْ فِي الطُّهُورِ» وَقَالَ: {فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَنْ يَتَطَهَّرُوا} [التوبة: 108] حَتَّى انْقَضَتِ الْآيَةُ، فَقَالَ لَهُمْ: «مَا هَذَا الطُّهُورُ. . . . .»

Al Mustadrak 555: Ahmad bin Salman Al Faqih mengabarkannya kepada kami di Baghdad, Ismail bin Ishaq Al Qadhi menceritakan kepada kami, Ismail bin Abu Uwais menceritakan kepada kami, ayahku menceritakan kepada kami dari Syurahbil bin Sa’ad, dari Uwaim bin Sa’idah Al Anshari, kemudian Al Ijli, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada penduduk Quba’, “Sesungguhnya Allah memuji dengan kebaikan segala perbuatan kalian dalam bersuci.” Beliau lalu membaca ayat, “Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri…” Beliau lalu bertanya kepada mereka, “Bersuci apakah yang kalian lakukan […]?”

Mustadrak Hakim 556

المستدرك 556: أَبِي، عَنِ ابْنِ إِسْحَاقَ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى بْنِ حِبَّانَ الْأَنْصَارِيُّ، ثُمَّ الْمَازِنِيُّ مَازِنُ بَنِي النَّجَّارِ، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ، قَالَ: قُلْتُ لَهُ: أَرَأَيْتَ وُضُوءَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ لِكُلِّ صَلَاةٍ طَاهِرًا كَانَ، أَوْ غَيْرَ طَاهِرٍ، عَنْ مَنْ هُوَ؟ قَالَ: حَدَّثَتْهُ أَسْمَاءُ بِنْتُ زَيْدِ بْنِ الْخَطَّابِ، أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ حَنْظَلَةَ بْنِ أَبِي عَامِرٍ الْغَسِيلَ، حَدَّثَهَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كان أَمَرَ بِالْوُضُوءِ عِنْدَ كُلِّ صَلَاةٍ طَاهِرًا كَانَ، أَوْ غَيْرَ طَاهِرٍ، فَلَمَّا شَقَّ ذَلِكَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «أَمَرَ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ صَلَاةٍ وَوَضَعَ عَنْهُمُ الْوُضُوءَ إِلَّا مِنْ حَدَثٍ» . وَكَانَ عَبْدُ اللَّهِ يَرَى أَنَّ بِهِ قُوَّةً عَلَى ذَلِكَ فَفَعَلَهُ حَتَّى مَاتَ. «هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِ مُسْلِمٍ، وَلَمْ يُخَرِّجَاهُ» إِنَّمَا اتَّفَقَا عَلَى حَدِيثِ عَلْقَمَةَ بْنِ مَرْثَدٍ، عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ بُرَيْدَةَ، عَنْ أَبِيهِ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، «كَانَ يَتَوَضَّأُ لِكُلِّ صَلَاةٍ، فَلَمَّا كَانَ عَامُ الْفَتْحِ صَلَّى الصَّلَوَاتِ كُلَّهَا بِوَضُوءٍ وَاحِدٍ»

Al Mustadrak 556: […J ayahku dari Abu Ishaq, dari Muhammad bin Yahya bin Hibban Al Anshari, kemudian Al Mazini, Mazin bani An- Najjar, dari Ubaidillah bin Abdullah bin Umar, dia berkata: Aku berkata kepadanya, “Bagaimana menurutmu tentang wudhu yang dilakukan Abdullah bin Umar untuk setiap shalat, baik dia dalam keadaan suci maupun tidak suci? Dari siapakah dia mendapatkannya?” Dia berkata, “Asma binti Zaid bin Al Khaththab menceritakan bahwa Abdullah bin Hanzhalah bin Abu Amir Al Ghasil menceritakan kepadanya bahwa Rasulullah menyuruh berwudhu untuk setiap shalat, baik dalam keadaan suci maupun tidak suci. Kemudian ketika beliau melihat hal tersebut memberatkan (umatnya), beliau pun menyuruh untuk bersiwak setiap akan shalat dan meninggalkan wudhu kecuali bagi yang berhadats. Sedangkan yang dilakukan Abdullah adalah karena dia merasa mampu melakukannya, maka dia melakukannya sampai wafat’ Hadis ini shahih sesuai syarat Muslim, namun Al Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkannya. Keduanya hanya sepakat pada hadis Alqamah bin Martsad dari Sulaiman bin Buraidah, dari ayahnya, bahwa Nabi berwudhu untuk setiap shalat, tapi pada tahun penaklukan Makkah, beliau menunaikan seluruh shalat dengan satu wudhu.

Mustadrak Hakim 541

المستدرك 541: حَدَّثَنَا أَبُو الْعَبَّاسِ، ثنا إِبْرَاهِيمُ بْنُ مَرْزُوقٍ، ثنا وَهْبُ بْنُ جَرِيرٍ، وَأَبُو دَاوُدَ، وَحَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ إِسْحَاقَ، أَنْبَأَ إِسْمَاعِيلُ بْنُ إِسْحَاقَ الْقَاضِي، ثنا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ، وَحَفْصُ بْنُ عَمْرِو بْنِ مُرَّةَ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَلَمَةَ، قَالَ: دَخَلْنَا عَلَى عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَا وَرَجُلَانِ رَجُلٌ مِنَّا، وَرَجُلٌ مِنْ بَنِي أَسَدٍ، قَالَ: فَبَعَثَهُمَا لِحَاجَةٍ وَقَالَ: «إِنَّكُمَا عِلْجَانِ فَعَالِجَا عَنْ دِينِكُمَا» ، قَالَ: ثُمَّ دَخَلَ الْمَخْرَجَ ثُمَّ خَرَجَ، فَدَعَا بِمَاءٍ فَغَسَلَ يَدَيْهِ، ثُمَّ جَعَلَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ، فَكَأَنَّا أَنْكَرْنَا فَقَالَ: «كَأَنَّكُمَا أَنْكَرْتُمَا، كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْضِي الْحَاجَةَ، وَيَقْرَأُ الْقُرْآنَ، وَيَأْكُلُ اللَّحْمَ، وَلَمْ يَكُنْ يَحْجُبُهُ عَنْ قِرَاءَتِهِ شَيْءٌ لَيْسَ الْجَنَابَةُ.» هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحُ الْإِسْنَادِ، وَالشَّيْخَانِ لَمْ يَحْتَجَّا بِعَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَلَمَةَ، فَمَدَارُ الْحَدِيثِ عَلَيْهِ، وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَلَمَةَ غَيْرُ مَطْعُونٍ فِيهِ “

Al Mustadrak 541: Abu Al Abbas menceritakan kepada kami, Ibrahim bin Marzuq menceritakan kepada kami, Wahb bin Jarir dan Abu Daud menceritakan kepada kami. Abu Bakar bin Ishaq menceritakan kepada kami, Ismail bin Ishaq Al Qadhi memberitakan (kepada kami), Sulaiman bin Harb dan Hafsh bin Amr bin Murrah menceritakan kepada kami dari Abdullah bin Salamah, dia berkata, “Kami menemui Ali bersama dua orang laki-laki, yang satu dari golongan kami dan yang satunya lagi dari bani Asad.” Abdullah bin Salamah berkata lebih lanjut, “Dia lalu mengutus keduanya untuk suatu urusan, ‘Kalian berdua tampak sangat serius. Bersungguh-sungguhlah kalian (dalam menjalankan) ajaran agama kalian’. Dia kemudian keluar dan menyuruh agar dibawakan air, lalu dia membasuh kedua tangannya, kemudian membaca Al Qur’an. Kami seakan-akan mengingkarinya, maka dia berkata, ‘Kelihatannya kalian mengingkarinya. Rasulullah pernah menunaikan hajatnya, membaca Al Qur’an, dan makan daging. Tidak ada sesuatu pun yang menghalangi beliau untuk membacanya selain jinabat’.” Sanad hadis ini shahih. Al Bukhari dan Muslim tidak berhujjah dengan Abdullah bin Salamah. Inti hadisnya ada padanya, dan Abdullah bin Salamah bukan orang yang dianggap cacat.

Mustadrak Hakim 557

المستدرك 557: حَدَّثَنَا أَبُو الْعَبَّاسِ مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوبَ، ثنا أَحْمَدُ بْنُ عَبْدِ الْجَبَّارِ، ثنا يُونُسُ بْنُ بُكَيْرٍ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ، حَدَّثَنِي صَدَقَةُ بْنُ يَسَارٍ، عَنِ ابْنِ جَابِرٍ وَهُوَ عَقِيلُ بْنُ جَابِرٍ سَمَّاهُ سَلَمَةُ الْأَبْرَشُ، عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ: خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي غَزْوَةِ ذَاتِ الرِّقَاعِ مِنْ نَخْلٍ فَأَصَابَ رَجُلٌ مِنَ الْمُسْلِمِينَ امْرَأَةً مِنَ الْمُشْرِكِينَ، فَلَمَّا انْصَرَفَ رَسُولُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَافِلًا أَتَى زَوْجُهَا وَكَانَ غَائِبًا، فَلَمَّا أُخْبِرَ الْخَبَرَ حَلَفَ لَا يَنْتَهِي حَتَّى يُهْرِيقَ فِي أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَمًا، فَخَرَجَ يَتْبَعُ أَثَرَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَنَزَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْزِلًا، فَقَالَ: «مَنْ رَجُلٌ يَكْلَؤُنَا لَيْلَتَنَا هَذِهِ» فَانْتُدِبَ رَجُلٌ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ، وَرَجُلٌ مِنَ الْأَنْصَارِ، فَقَالَا: نَحْنُ يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ: «فَكُونَا بِفَمِ الشِّعْبِ» قَالَ: وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَصْحَابُهُ قَدْ نَزَلُوا إِلَى الشِّعْبِ مِنَ الْوَادِي، فَلَمَّا أَنْ خَرَجَ الرَّجُلَانِ إِلَى فَمِ الشِّعْبِ، قَالَ الْأَنْصَارِيُّ لِلْمُهَاجِرِيِّ: أَيُّ اللَّيْلِ أَحَبُّ إِلَيْكَ أَنْ أَكْفِيَكَهُ؟، قَالَ: اكْفِنِي أَوَّلَهُ، فَاضْطَجَعَ الْمُهَاجِرِيُّ، وَقَامَ الْأَنْصَارِيُّ يُصَلِّي، قَالَ: وَأَتَى زَوْجُ الْمَرْأَةِ فَلَمَّا رَأَى شَخَصَ الرَّجُلِ عَرَفَ أَنَّهُ رَبِيَّةُ الْقَوْمِ، قَالَ: فَرَمَاهُ بِسَهْمٍ فَوَضَعَهُ فِيهِ، قَالَ: فَنَزَعَهُ فَوَضَعَهُ وَثَبَتَ قَائِمًا يُصَلِّي، ثُمَّ رَمَاهُ بِسَهْمٍ آخَرَ فَوَضَعَهُ فِيهِ، فَنَزَعَهُ فَوَضَعَهُ وَثَبَتَ قَائِمًا يُصَلِّي، ثُمَّ عَادَ لَهُ الثَّالِثَةَ فَوَضَعَهُ فِيهِ فَنَزَعَهُ فَوَضَعَهُ، ثُمَّ رَكَعَ ثُمَّ أَهَبَّ صَاحِبَهُ، فَقَالَ: اجْلِسْ فَقَدْ أَثْبَتُ فَوَثَبَ، فَلَمَّا رَآهُمَا الرَّجُلُ عَرَفَ أَنَّهُ قَدْ نَذَرَ بِهِ، فَهَرَبَ، فَلَمَّا رَأَى الْمُهَاجِرِيُّ مَا بِالْأَنْصَارِيِّ مِنَ الدِّمَاءِ، قَالَ: سُبْحَانَ اللَّهِ، أَفَلَا أَهْبَبْتَنِي أَوَّلَ مَا رَمَاكَ، قَالَ: كُنْتُ فِي سُورَةٍ أَقْرَؤُهَا فَلَمْ أُحِبَّ أَنْ أَقْطَعَهَا حَتَّى أُنْفِذَهَا، فَلَمَّا تَابَعَ عَلَيَّ الرَّمْيَ رَكَعْتُ فَآذَنْتُكَ، وَايْمُ اللَّهِ لَوْلَا أَنْ أُضَيِّعَ ثَغْرًا، أَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِحِفْظِهِ لَقُطِعَ نَفَسِي قَبْلَ أَنْ أَقْطَعَهَا، أَوْ أُنْفِذَهَا «.» هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحُ الْإِسْنَادِ، فَقَدِ احْتَجَّ مُسْلِمٌ بِأَحَادِيثِ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَاقَ، فَأَمَّا عَقِيلُ بْنُ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الْأَنْصَارِيُّ فَإِنَّهُ أَحْسَنُ حَالًا مِنْ أَخَوَيْهِ مُحَمَّدٍ وَعَبْدِ الرَّحْمَنِ، وَهَذِهِ سُنَّةٌ ضَيِّقَةٌ قَدِ اعْتَقَدَ أَئِمَّتُنَا بِهَذَا الْحَدِيثِ أَنَّ خُرُوجَ الدَّمِ مِنْ غَيْرِ مَخْرَجِ الْحَدَثِ لَا يُوجِبُ الْوُضُوءَ “

Al Mustadrak 557: Abu Al Abbas Muhammad bin Ya’qub menceritakan kepada kami, Ahmad bin Abdul Jabbar menceritakan kepada kami, Yunus bin Bukair menceritakan kepada kami, Muhammad bin Ishaq menceritakan kepada kami, Shadaqah bin Yasar menceritakan kepadaku dari Ibnu Jabir —yaitu Aqil bin Jabir, yang diberi nama Salamah Al Abrasi—, dari Jabir bin Abdullah, dia berkata: Kami keluar bersama Rasulullah pada perang Dzatur Riqa’ di sebuah pohon kurma, lalu salah seorang tentara muslim menyetubuhi istri seorang laki-laki musyrik. Ketika Rasulullah pulang, suami dari perempuan tersebut datang setelah sebelumnya dia tidak ada (pergi). Ketika dia diberitahu kabar tersebut, dia bersumpah tidak akan berhenti (untuk balas dendam) sampai darah mengalir pada sahabat-sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia lantas keluar mengikuti jejak Rasulullah hingga beliau berhenti di suatu tempat. Beliau bersabda, “Siapakah yang mau menjaga kami malam ini?” Tampillah seorang laki-laki Muhajirin dan seorang laki-laki Anshar. Keduanya berkata, “Kami, wahai Rasulullah.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tetaplah kalian berada di mulut jalanan bukit ini.” Rasulullah kemudian berhenti di suatu di jalanan di lembah. Ketika keduanya keluar menuju mulut jalan, orang Anshar berkata kepada orang Muhajirin, ((Malam apakah yang lebih kamu sukai agar aku berjaga-jaga?” Orang Muhajirin berkata, “Biarkan aku beristirahat terlebih dahulu.” Orang Muhajirin tersebut pun tidur, sementara orang Anshar berdiri untuk menunaikan shalat.” Lalu datanglah suami dari perempuan yang disetubuhi tadi. Ketika dia melihat kondisi laki-laki tersebut, dia tahu bahwa orang tersebut merupakan penjaga (yang menjaga), maka dia memanahnya dengan anak panah hingga menancap di tubuhnya. Tapi laki-laki tersebut mencabutnya lalu membuangnya seraya tetap berdiri menunaikan shalat. Kemudian dia memanahnya dengan anak panah yang lain, tapi laki-laki tersebut mencabutnya kembali lalu membuangnya dan tetap berdiri shalat. Kemudian dia mengulanginya untuk ketiga kalinya, tapi laki-laki tersebut mencabutnya lagi dan membuangnya, lalu ruku, kemudian membangunkan temannya. Temannya tersebut lalu berkata, “Duduklah, karena aku telah siap (menggantikan).” Dia kemudian duduk. Ketika laki-laki tersebut (suami dari perempuan yang disetubuhi) melihat keduanya, dia baru tahu bahwa keduanya telah beijanji (untuk saling bergantian berjaga), maka dia pun lari. Ketika orang Muhajirin melihat kondisi orang Anshar yang penuh darah, dia berkata, “Subhanallah, mengapa kamu tidak membangunkanku ketika kamu dipanah untuk pertama kali?” Dia menjawab, “Aku sedang membaca suatu surah dan aku tidak ingin memotongnya sebelum aku selesai membacanya. Ketika serangan panah terus-menerus menimpaku, aku pun ruku, lalu memberitahumu. Demi Allah, seandainya tidak karena takut akan kehilangan batas wilayah yang Rasulullah perintahkan agar aku menjaganya, pastilah nyawaku sudah terenggut sebelum aku memotongnya atau menyelesaikannya.” Sanad hadis ini shahih. Muslim berhujjah dengan hadis- hadis Muhammad bin Ishaq. Aqil bin Jabir bin Abdullah Al Anshari lebih baik kondisinya daripada kedua saudaranya (Muhammad dan Abdurrahman). Ini merupakan Sunnah yang sempit, karena para imam kita berkeyakinan berdasarkan hadis ini, bahwa keluarnya darah tanpa adanya hadats tidak mewajibkan wudhu.