Skip to main content

Musnad Syafi’i 766

مسند الشافعي 766: أَخْبَرَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ مُحَمَّدٍ، عَنْ جَعْفَرِ بْنِ مُحَمَّدٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ إِلَى مَكَّةَ عَامَ الْفَتْحِ فِي رَمَضَانَ فَصَامَ حَتَّى بَلَغَ كُرَاعَ الْغَمِيمِ فَصَامَ النَّاسُ مَعَهُ، فَقِيلَ لَهُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ النَّاسَ قَدْ شَقَّ عَلَيْهِمُ الصِّيَامُ، فَدَعَا بِقَدَحٍ مِنْ مَاءٍ بَعْدَ الْعَصْرِ فَشَرِبَ وَالنَّاسُ يَنْظُرُونَ، فَأَفْطَرَ بَعْضُ النَّاسِ وَصَامَ بَعْضٌ، فَبَلَغَهُ أَنَّ نَاسًا صَامُوا فَقَالَ: «أُولَئِكَ الْعُصَاةُ» قَالَ الشَّافِعِيُّ: وَفِي حَدِيثِ الثِّقَةِ عَنِ الدَّرَاوَرْدِيِّ، عَنْ جَعْفَرِ بْنِ مُحَمَّدٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَابِرٍ قَالَ: ” خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَامَ الْفَتْحِ فِي رَمَضَانَ إِلَى مَكَّةَ فَصَامَ وَأَمَرَ النَّاسَ أَنْ يُفْطِرُوا وَقَالَ: «تَقَوُّوا لِعَدُوِّكُمْ» . فَقِيلَ: إِنَّ النَّاسَ أَبَوْا أَنْ يُفْطِرُوا حِينَ صُمْتَ، فَدَعَا بِقَدَحٍ مِنْ مَاءٍ فَشَرِبَ، ثُمَّ سَاقَ الْحَدِيثَ

Musnad Syafi’i 766: Abdul Aziz bin Muhammad mengabarkan kepada kami dari Ja’far bin Muhammad, dari ayahnya, dari Jabir : Bahwa Rasulullah berangkat menuju Makkah pada tahun kemenangan di bulan Ramadhan, namun beliau tetap berpuasa hingga sampai di Qura’ Al Ghamim. Orang-orang pun ikut berpuasa bersama beliau, lalu dikatakan kepada beliau, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya orang-orang merasa berat dengan puasanya.” Maka beliau meminta sebuah wadah berisi air sesudah ashar, lalu beliau minum, sementara orang-orang melihatnya. Maka sebagian orang juga berbuka, sedangkan sebagian yang lain tetap berpuasa. Ketika sampai berita kepada beliau bahwa orang-orang ada yang tetap berpuasa, maka beliau bersabda, “Mereka adalah orang-orang yang durhaka.” Asy-Syafi’i dalam hadis dari orang yang terpercaya mengatakan dari Ad-Darawardi, dari Ja’far bin Muhammad, dari ayahnya, dari Jabir, ia mengatakan: Rasulullah berangkat pada tahun kemenangan kota Makkah menuju Makkah di bulan Ramadhan. Beliau tetap berpuasa, namun beliau memerintahkan kepada orang- orang untuk berbuka dan bersabda, “Perkuatlah diri kalian untuk menghadapi musuh-musuh kalian!” Lalu dikatakan, “Sesungguhnya orang-orang menolak berbuka melihat engkau tetap berpuasa.” Lalu beliau meminta sebuah wadah (berisi air) dan minum, hingga akhir hadis. 14

Musnad Syafi’i 765

مسند الشافعي 765: أَخْبَرَنَا مَالِكٌ، عَنْ سُمَيٍّ، مَوْلَى أَبِي بَكْرٍ، عَنْ أَبِي بَكْرِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ بَعْضِ، أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ النَّاسَ فِي سَفَرِهِ عَامَ الْفَتْحِ بِالْفِطْرِ وَقَالَ: «تَقَوُّوا لِعَدُوِّكُمْ» . فَصَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. قَالَ أَبُو بَكْرٍ، يَعْنِي ابْنَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ: قَالَ الَّذِي حَدَّثَنِي: لَقَدْ رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْعَرْجِ يَصُبُّ فَوْقَ رَأْسِهِ الْمَاءَ مِنَ الْعَطَشِ، أَوْ مِنَ الْحَرِّ، فَقِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ طَائِفَةً مِنَ النَّاسِ صَامُوا حِينَ صُمْتَ، فَلَمَّا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْكَدِيدِ دَعَا بِقَدَحٍ فَشَرِبَ فَأَفْطَرَ النَّاسُ

Musnad Syafi’i 765: Malik mengabarkan kepada kami dari Sumay maula Abu Bakar, dari Abu Bakar bin Abdurrahman, dari sebagian sahabat Rasulullah : Dalam perjalanan Nabi pada tahun kemenangan kota Makkah, beliau memerintahkan orang-orang untuk berbuka, dan beliau bersabda, “Perkuatlah diri kalian untuk menghadapi musuh-musuh kalian.” Sementara Nabi sendiri tetap berpuasa. Abu Bakar (yakni Ibnu Abdurrahman) mengatakan bahwa orang yang menceritakan hadis ini kepadanya berkata, “Sesungguhnya aku melihat Nabi di Al ‘Arj menuangkan air di atas kepalanya karena kehausan atau kepanasan. Kemudian dikatakan, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya segolongan orang masih tetap berpuasa ketika melihat engkau berpuasa’. Ketika Rasulullah sampai di Kadid, beliau memerintahkan agar diberi sebuah wadah (berisi air), lalu beliau minum, kemudian orang-orang pun ikut berbuka.”13

Musnad Syafi’i 764

مسند الشافعي 764: أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ صَفْوَانَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، عَنْ أُمِّ الدَّرْدَاءِ، عَنْ كَعْبِ بْنِ عَاصِمٍ الْأَشْعَرِيِّ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «لَيْسَ مِنَ امْبِرِّ امْصِيَامُ فِي امْسَفَرِ»

Musnad Syafi’i 764: Sufyan mengabarkan kepada kami dari Az-Zuhri, dari Shafwan bin Abdullah dari Ummu Ad-Darda’, dari Ka’b bin Ashim Al Asy’ari bahwa Rasulullah pernah bersabda, “Bukan merupakan suatu kebajikan melakukan puasa dalam perjalanan.”

Musnad Syafi’i 763

مسند الشافعي 763: أَخْبَرَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ مُحَمَّدٍ، عَنْ عُمَارَةَ بْنِ غَزِيَّةَ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَعْدِ بْنِ مُعَاذٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ جَابِرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ: كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَمَانَ غَزْوَةِ تَبُوكَ، وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسِيرُ بَعْدَ أَنْ أَضْحَى إِذَا هُوَ بِجَمَاعَةٍ فِي ظِلِّ شَجَرَةٍ فَقَالَ: «مَا هَذِهِ الْجَمَاعَةُ؟» قَالُوا: رَجُلٌ صَائِمٌ، جَهَدَهُ الصَّوْمُ، أَوْ كَلِمَةً نَحْوَهَا، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَيْسَ مِنَ الْبِرِّ الصَّوْمُ فِي السَّفَرِ»

Musnad Syafi’i 763: Abdul Aziz bin Muhammad mengabarkan kepada kami dari Umarah bin Ghaziyah, dari Muhammad bin Abdurrahman, dari Abdullah bin Sa’d bin Muadz, ia mengatakan, Jabir bin Abdullah mengatakan: Dahulu di masa perang Tabuk kami bersama Rasulullah , beliau melanjutkan perjalanannya sesudah waktu dhuha, tiba-tiba beliau melihat segolongan orang berada di bawah naungan sebuah pohon. Maka beliau bertanya, “Apa yang terjadi pada segolongan orang ini?” Mereka menjawab, “Seorang lelaki yang kepayahan karena puasa.” Atau dengan kalimat yang serupa. Lalu Rasulullah bersabda, “Melakukan puasa dalam perjalanan bukanlah suatu kebajikan.” 12

Musnad Syafi’i 762

مسند الشافعي 762: أَخْبَرَنَا مَالِكٌ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ عَامَ الْفَتْحِ فِي رَمَضَانَ فَصَامَ حَتَّى بَلَغَ الْكَدِيدَ ثُمَّ أَفْطَرَ فَأَفْطَرَ النَّاسُ مَعَهُ، وَكَانُوا يَأْخُذُونَ بِالْأَحْدَثِ فَالْأَحْدَثِ مِنْ أَمْرِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Musnad Syafi’i 762: Malik mengabarkan kepada kami dari Az-Zuhri, dari Ubaidullah bin Abdullah dari Ibnu Abbas: Bahwa Rasulullah berangkat pada tahun kemenangan Makkah di bulan Ramadhan, maka beliau berpuasa hingga tiba di Kadid, kemudian berbuka dan orang- orang pun ikut berbuka bersama beliau. Mereka selalu mengamalkan hal yang paling baru dari perkara yang dibuat Rasulullah .11

Musnad Syafi’i 761

مسند الشافعي 761: أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ عُرْوَةَ، عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: «أَوَّلُ مَا فُرِضَتِ الصَّلَاةُ رَكْعَتَيْنِ رَكْعَتَيْنِ، فَزِيدَ فِي صَلَاةِ الْحَضَرِ وَأُقِرَّتْ صَلَاةُ السَّفَرِ» . قُلْتُ: ” فَمَا شَأْنَ عَائِشَةَ كَانَتْ تُتِمُّ الصَّلَاةَ؟ قَالَ: إِنَّهَا تَأَوَّلَتْ مَا تَأَوَّلَ عُثْمَانُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ “

Musnad Syafi’i 761: Sufyan mengabarkan kepada kami dari Az-Zuhri, dan Urwah, dari Aisyah yang mengatakan: Mula-mula shalat difardhukan dua rakaat-dua rakaat, lalu ditambahkan shalat di tempat tinggal dan ditetapkanlah shalat dalam perjalanan (yakni tetap 2 rakaat). Maka aku bertanya, “Bagaimanakah dengan Aisyah itu, ternyata ia menyempurnakan shalatnya.” Urwah menjawab, “Sesungguhnya dia menakwilkan seperti takwil yang dilakukan oleh Utsman RA.10

Musnad Syafi’i 760

مسند الشافعي 760: أَخْبَرَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ، عَنْ أَيُّوبَ السَّخْتِيَانِيِّ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: «سَافَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ مَكَّةَ وَالْمَدِينَةِ آمَنَّا لَا يَخَافُ إِلَّا اللَّهَ، يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ»

Musnad Syafi’i 760: Abdul Wahab mengabarkan kepada kami dari Ayub As- Sukhtiyani, dari Muhammad bin Sirin, dari Ibnu Abbas , ia mengatakan: Rasulullah pernah mengadakan perjalanan antara kota Makkah dan Madinah dalam keadaan aman, beliau tidak merasa takut kecuali kepada Allah, dan beliau melakukan shalat 2 rakaat. 9

Musnad Syafi’i 759

مسند الشافعي 759: أَخْبَرَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُحَمَّدٍ، عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ، عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ، أَنَّ رَجُلًا، قَرَأَ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ السَّجْدَةَ فَسَجَدَ، فَسَجَدَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، ثُمَّ قَرَأَ آخَرُ عِنْدَهُ السَّجْدَةَ فَلَمْ يَسْجُدْ، فَلَمْ يَسْجُدِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَرَأَ فُلَانٌ عِنْدَكَ السَّجْدَةَ فَسَجَدَتْ، وَقَرَأْتُ عِنْدَكَ السَّجْدَةَ فَلَمْ تَسْجُدْ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «كُنْتَ إِمَامًا فَلَوْ سَجَدْتَ سَجَدْتُ»

Musnad Syafi’i 759: Ibrahim bin Muhammad mengabarkan kepada kami dari Zaid bin Aslam, dari Atha’ bin Yasar: Bahwa Seorang lelaki membaca surah As-Sajadah di dekat Nabi , maka Nabi sujud. Kemudian ada lelaki lain yang membaca As-Sajdah di dekat beliau, lalu ia tidak bersujud, maka Nabi pun tidak sujud. Maka lelaki yang kedua ini berkata, “Wahai Rasulullah Fulan telah membaca surah As-Sajadah di dekatmu, kemudian engkau sujud. Aku juga membaca surah As-Sajdah di dekatmu, tetapi engkau tidak sujud?” Nabi menjawab, “Kamu adalah imam. Seandainya kamu sujud, niscaya aku pun sujud.”8

Musnad Syafi’i 742

مسند الشافعي 742: أَخْبَرَنَا مَالِكٌ، عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، أَنَّهُ قَالَ: «لِكُلِّ مُطْلَقَةٍ مُتْعَةٌ، إِلَّا الَّتِي فُرِضَ لَهَا الصَّدَاقُ وَلَمْ يُدْخَلْ بِهَا، فَحَسْبُهَا نِصْفُ الْمَهْرِ»

Musnad Syafi’i 742: Malik mengabarkan kepada kami dari Nafi’ dari Abdullah bin Umar bahwa ia berkata, “Setiap orang yang dicerai mendapatkan mut’ah (pemberian karena ditalak) kecuali yang diwajibkan kepadanya mengembalikan mahar dan belum digauli, sebab hitungannya adalah setengah mahar. 741

Musnad Syafi’i 741

مسند الشافعي 741: أَخْبَرَنَا مُسْلِمٌ، عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ، عَنْ عَطَاءٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، وَابْنِ الزُّبَيْرِ، أَنَّهُمَا قَالَا: «لَا يَلْحَقُ الْمُخْتَلِعَةَ الطَّلَاقُ فِي الْعِدَّةِ؛ لِأَنَّهُ طَلَّقَ مَا لَا يَمْلِكُ»

Musnad Syafi’i 741: Muslim mengabarkan kepada kami, dari Ibnu Juraij dari Atha dari ibnu Abbas dan Ibnu Az-Zubair, bahwa keduanya pernah berkata, “Tidak selayaknya seorang yang meminta khulu’ dicerai saat iddah, karena ia melakukannya pada saat ia tidak memiliki kekuasaan.” 740