Skip to main content

Sunan Daruquthni 4550

سنن الدارقطني 4550: نا أَحْمَدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُحَمَّدٍ الْوَكِيلُ , نا الْحُسَيْنُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ الْأَسْوَدِ , نا إِسْحَاقُ بْنُ سُلَيْمَانَ الرَّازِيُّ , عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ يَحْيَى , عَنِ الزُّهْرِيِّ , عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ , عَنْ أَبِيهِ , أَنَّهُ فَدَى يَمِينَهُ بِعَشَرَةِ آلَافِ دِرْهَمٍ , ثُمَّ قَالَ: «وَرَبِّ هَذَا الْمَسْجِدِ وَرَبِّ هَذَا الْقَبْرِ لَوْ حَلَفْتُ لَحَلَفْتُ صَادِقًا وَذَلِكَ أَنَّهُ شَيْءٌ افْتَدَيْتُ بِهِ يَمِينِي»

Sunan Daruquthni 4550: Ahmad bin Abdullah bin Muhammad Al Wakil menceritakan kepada kami, Al Husain bin Ali bin Al Aswad menceritakan kepada kami, Ishaq bin Sulaiman Ar-Razi menceritakan kepada kami dari Mu’awiyah bin Yahya, dari Az-Zuhri, dari Muhammad bin Jubair bin Muth’im, dari ayahnya, bahwa dia pernah menebus sumpahnya dengan sepuluh ribu dirham, kemudian berkata, “Demi Rabb masjid ini. Demi Rabb kuburan ini. Seandainya aku bersumpah, maka aku bersumpah dengan jujur. Demikian itu, karena aku pernah menebus sumpahku.”

Sunan Daruquthni 4551

سنن الدارقطني 4551: حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُبَشِّرٍ , نا أَحْمَدُ بْنُ سِنَانٍ , نا بِشْرٌ , وَعَمْرُو بْنُ عَوْنٍ , قَالَا: نا هُشَيْمٌ , نا يَعْلَى بْنُ عَطَاءٍ , عَنْ إِسْمَاعِيلَ بْنِ جَسْتَاسٍ , عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو , «أَنَّهُ قَضَى فِي كَلْبِ الصَّيْدِ أَرْبَعُونَ دِرْهَمًا , وَفِي كَلْبِ الْغَنَمِ شَاةٌ , وَفِي كَلْبِ الزَّرْعِ فِرْقٌ مِنْ طَعَامٍ , وَفِي كَلْبِ الدَّارِ فِرْقٌ مِنْ تُرَابٍ , حَقٌّ عَلَى الَّذِي قَتَلَ أَنْ يُعْطِيَ وَحَقٌّ عَلَى صَاحِبِ الْكَلْبِ أَنْ يَأْخُذَ مَعَ مَا نَقَصَ مِنَ الْأَجْرِ»

Sunan Daruquthni 4551: Ali bin Abdullah bin Mubasysyir menceritakan kepada kami, Ahmad bin Sinan menceritakan kepada kami, Bisyr bin Mubasysyir dan Amr bin Aun menceritakan kepada kami, keduanya berkata: Husyaim menceritakan kepada kami, Ya’la bin Atha‘ menceritakan kepada kami dari Ismail bin Jistas, dari Abdullah bin Amr, bahwa dia memutuskan (tebusan) pada binatang buruan dengan empat puluh dirham, pada anjing penjaga ternak kambing dengan kambing, pada anjing penjaga tanaman dengan satu faraq makanan, pada anjing penjaga rumah dengan satu faraq tanah. Adalah hak orang yang membunuhnya untuk memberi dan hak si pemilik anjing untuk menerima walaupun ada pengurangan pahala.

Sunan Daruquthni 4552

سنن الدارقطني 4552: حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ جَعْفَرِ بْنِ قَرِينٍ الْعُثْمَانِيُّ , نا مُحَمَّدُ بْنُ فَضَالَةَ , نا كَثِيرُ بْنُ أَبِي صَابِرٍ , نا عَطَاءُ بْنُ مُسْلِمٍ , عَنْ عُمَرَ بْنِ قَيْسٍ , عَنِ الزُّهْرِيِّ , عَنْ عُرْوَةَ , عَنْ عَائِشَةَ , قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مِنْ بَنَى فِي رِبَاعِ قَوْمٍ بِإِذْنِهِمْ فَلَهُ الْقِيمَةُ , وَمَنْ بَنَى بِغَيْرِ إِذْنِهِمْ فَلَهُ النَّقْضُ»

Sunan Daruquthni 4552: Musa bin Ja’far bin Qurain Al Utsmani menceritakan kepada kami, Muhammad bin Fadhalah menceritakan kepada kami, Katsir bin Abu Shabir menceritakan kepada kami, Atha’ bin Muslim menceritakan kepada kami dari Umar bin Qais, dari Az-Zuhri, dari Urwah, dari Aisyah, dia berkata, “Rasulullah bersabda, ‘Barangsiapa membangun di lahan suatu kaum dengan seizin mereka, maka dia berhak terhadap harganya, dan barangsiapa membangun tanpa seizin mereka, maka dia boleh merobohkannya’.”

Sunan Daruquthni 4553

سنن الدارقطني 4553: حَدَّثَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ , نا يُوسُفُ بْنُ مُوسَى , نا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُوسَى , نا مُحَمَّدُ بْنُ رَاشِدٍ , عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ مُوسَى , عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ , عَنْ أَبِيهِ , عَنْ جَدِّهِ , أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «رَدَّ شَهَادَةِ الْخَائِنِ وَالْخَائِنَةِ وَذِي الْغِمْرِ عَلَى أَخِيهِ , وَرَدَّ شَهَادَةَ الْقَانِعِ لِأَهْلِ الْبَيْتِ وَأَجَازَهَا عَلَى غَيْرِهِمْ»

Sunan Daruquthni 4553: Al Husain bin Ismail menceritakan kepada kami, Yusuf bin Musa menceritakan kepada kami, Ubaidullah bin Musa menceritakan kepada kami, Muhammad bin Rasyid menceritakan kepada kami dari Sulaiman bin Musa, dari Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, bahwa Nabi SAW menolak kesaksian seorang laki-laki pengkhianat, kesaksian seorang wanita pengkhianat serta kesaksian orang yang mempunyai permusuhan terhadap saudaranya. Beliau juga menolak kesaksian seseorang terhadap keluarganya, namun dibolehkan untuk orang lain.’

Sunan Daruquthni 4554

سنن الدارقطني 4554: حَدَّثَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ , نا عِيسَى بْنُ أَبِي حَرْبٍ , نا يَحْيَى بْنُ أَبِي بُكَيْرٍ , نا أَبُو جَعْفَرٍ الرَّازِيُّ , عَنْ آدَمَ بْنِ فَائِدٍ , عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ , عَنْ أَبِيهِ , عَنْ جَدِّهِ , قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَا تَجُوزُ شَهَادَةُ خَائِنٍ وَلَا خَائِنَةٍ وَلَا مَحْدُودٍ فِي الْإِسْلَامِ وَلَا مَحْدُودَةٍ وَلَا ذِي غِمْرٍ عَلَى أَخِيهِ»

Sunan Daruquthni 4554: Al Husain bin Ismail menceritakan kepada kami, Isa bin Abu Harb menceritakan kepada kami, Yahya bin Abu Bukair menceritakan kepada kami, Abu Ja’far Ar-Razi menceritakan kepada kami dari Adam bin Faid, dari Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, dia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Tidak boleh diterima kesaksian seorang laki-laki pengkhianat, kesaksian seorang wanita pengkhianat, kesaksian lakilaki terhukum dalam Islam, kesaksian wanita terhukum, dan tidak pula kesaksian seseorang yang mempunyai permusuhan dengan saudaranya.'”

Sunan Daruquthni 4555

سنن الدارقطني 4555: نا أَحْمَدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُحَمَّدِ الْوَكِيلُ , نا أَبُو بَدْرٍ , وَعَبَّادُ بْنُ الْوَلِيدِ , قَالَا: نا حَبَّانُ بْنُ هِلَالٍ , نا عَبْدُ الْوَاحِدِ بْنُ زِيَادٍ , حَدَّثَنِي يَزِيدُ بْنُ أَبِي زِيَادٍ الْقُرَشِيُّ , نا الزُّهْرِيُّ , عَنْ عُرْوَةَ , عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا تَرْفَعُهُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , قَالَ: «لَا تَجُوزُ شَهَادَةُ خَائِنٍ وَلَا خَائِنَةٍ وَلَا مَجْلُودٍ حَدًّا وَلَا ذِي غِمْرٍ عَلَى أَخِيهِ وَلَا الْقَانِعِ مِنْ أَهْلِ الْبَيْتِ لَهُمْ». يَزِيدُ هَذَا ضَعِيفٌ لَا يُحْتَجُّ بِهِ

Sunan Daruquthni 4555: Ahmad bin Abdullah bin Muhammad Al Wakil menceritakan kepada kami, Abu Badr dan Abbad bin Al Walid menceritakan kepada kami, keduanya berkata: Habban bin Hilal menceritakan kepada kami, Abdul Wahid bin Ziyad menceritakan kepada kami, Yazid bin Abu Ziyad Al Qurasyi menceritakan kepadaku, Az-Zuhri menceritakan kepada kami dari Urwah, dari Aisyah RA, dia menisbatkan ini kepada Nabi SAW, beliau bersabda, “Tidak boleh diterima kesaksian seorang laki-laki pengkhianat, kesaksian seorang wanita pengkhianat, kesaksian seseorang yang dicambuk sebagai hukuman, kesaksian seseorang yang mempunyai permusuhan dengan saudaranya, dan tidak pula kesaksian seseorang dengan keluarganya.” Yazid adalah perawi dha’if, dan riwayatnya tidak dapat dijadikan hujjah.

Sunan Daruquthni 4556

سنن الدارقطني 4556: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ الْفَارِسِيُّ , نا الْحَسَنُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ خَلَفٍ الدِّمَشْقِيُّ , نا سُلَيْمَانُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ , نا عَبْدُ الْأَعْلَى بْنُ مُحَمَّدٍ , نا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ , نا الزُّهْرِيُّ , عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيِّبِ , عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ , أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطَبَ , فَقَالَ: «أَلَا لَا تَجُوزُ شَهَادَةُ الْخَائِنِ وَلَا الْخَائِنَةِ وَلَا ذِي غِمْرٍ عَلَى أَخِيهِ وَلَا الْمَوْقُوفِ عَلَى حَدٍّ». يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ هُوَ الفَارِسِيُّ مَتْرُوكٌ , وَعَبْدُ الْأَعْلَى ضَعِيفٌ

Sunan Daruquthni 4556: Muhammad bin Ismail Al Farisi menceritakan kepada kami, Al Hasan bin Ali bin Khalaf Ad-Dimasyqi menceritakan kepada kami, Sulaiman bin Abdurrahman menceritakan kepada kami, Abdul A’la bin Muhammad menceritakan kepada kami, Yahya bin Sa’id menceritakan kepada kami, Az-Zuhri menceritakan kepada kami dari Sa’id bin Al Musayyab, dari Abdullah bin Umar, bahwa Rasulullah SAW pernah berkhutbah, lalu beliau berkata, “Tidak boleh diterima kesaksian seorang laki-laki pengkhianat, kesaksian seorang wanita pengkhianat, kesaksian seseorang yang mempunyai permusuhan dan saudaranya, dan tidak pula kesaksian seseorang yang tengah menjalani hukuman.” Yahya bin Sa’id adalah Al Farisi, riwayatnya ditinggalkan, sedangkan Abdul A’la adalah perawi dha‘if.

Sunan Daruquthni 4541

سنن الدارقطني 4541: نا أَبُو بَكْرٍ , نا يُوسُفُ , نا حَجَّاجٌ , عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ , حَدَّثَنِي ابْنُ شِهَابٍ , عَنْ عُرْوَةَ , عَنْ عَائِشَةَ , أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ عَلَيْهَا مَسْرُورًا تَبْرُقُ أَسَارِيرُ وَجْهِهِ , فَقَالَ: «أَلَمْ تَسْمَعِي مَا قَالَ مُجَزِّزٌ الْمُدْلِجِيُّ لِزَيْدٍ وَأُسَامَةَ وَرَأَى أَقْدَامَهُمَا؟ , إِنَّ هَذِهِ الْأَقْدَامُ بَعْضُهَا مِنْ بَعْضٍ»

Sunan Daruquthni 4541: Abu Bakar menceritakan kepada kami, Yusuf menceritakan kepada kami, Hajjaj menceritakan kepada kami dari Ibnu Juraij, Ibnu Syihab menceritakan kepadaku, dari Urwah, dari Aisyah, bahwa Rasulullah SAW pernah masuk ke tempatnya dengan riang gembira, tampak sinar kesenangan pada garis-garis wajahnya, lalu beliau berkata, “Apa engkau belum mendengar apa yang dikatakan oleh Mujazziz Al mudliji tentang Zaid dan Usamah ketika dia melihat Zaid dan Usamah, ‘Sesungguhnya kaki-kaki ini sebagiannya dari sebagian yang lain’.”

Sunan Daruquthni 4557

سنن الدارقطني 4557: حَدَّثَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ , نا يُوسُفُ بْنُ مُوسَى , نا يَحْيَى بْنُ الضُّرَيْسِ , أَخْبَرَنِي الْمُثَنَّى بْنُ الصَّبَّاحِ , عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ , عَنْ أَبِيهِ , عَنْ جَدِّهِ , أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , قَالَ: «لَا تَجُوزُ شَهَادَةُ خَائِنٍ وَلَا خَائِنَةٍ وَلَا مَوْقُوفٍ عَلَى حَدٍّ وَلَا ذِي غِمْرٍ عَلَى أَخِيهِ»

Sunan Daruquthni 4557: Al Husain bin Ismail menceritakan kepada kami, Yusuf bin Musa menceritakan kepada kami, Yahya bin Adh-Dhurais menceritakan kepada kami, Al Mutsanna bin AshShabbah menceritakan kepadaku, dari Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, bahwa Nabi SAW bersabda, “Tidak boleh diterima kesaksian seorang laki-laki pengkhianat, kesaksian seorang wanita pengkhianat, kesaksian seseorang yang tengah menjalani hukuman, dan tidak pula kesaksian seseorang yang mempunyai permusuhan dengan saudaranya.”

Sunan Daruquthni 4542

سنن الدارقطني 4542: نا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ جَعْفَرِ بْنِ خُشَيْشٍ , نا يُوسُفُ بْنُ مُوسَى , نا جَرِيرٌ , عَنْ مَنْصُورٍ , عَنْ مُجَاهِدٍ , عَنْ يُوسُفَ بْنِ الزُّبَيْرِ مَوْلَى الزُّبَيْرِ , عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِ , قَالَ: كَانَ لِزَمْعَةَ جَارِيَةٌ يَطَئُهَا وَكَانَتْ تُظَنُّ بِرَجُلٍ آخَرَ أَنَّهُ يَقَعُ عَلَيْهَا , فَمَاتَ زَمْعَةُ وَهِيَ حُبْلَى فَوَلَدَتْ غُلَامًا يُشْبِهُ الرَّجُلَ الَّذِي كَانَتْ تَظُنُّ بِهِ فَذَكَرَتْهُ سَوْدَةُ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , فَقَالَ: «أَمَّا الْمِيرَاثُ فَلَهُ , وَأَمَّا أَنْتِ فَاحْتَجِبِي مِنْهُ فَلَيْسَ لَكِ بِأَخٍ»

Sunan Daruquthni 4542: Abdullah bin Ja’far bin Khusyaisy menceritakan kepada kami, Yusuf bin Musa menceritakan kepada kami, Jarir menceritakan kepada kami dari Manshur, dari Mujahid, dari Yusuf bin Az-Zubair maula Az-Zubair, dari Abdullah bin Az-Zubair, dia berkata, “Zam’ah pernah mempunyai budak perempuan yang telah digaulinya, sementara budak perempuan itu mengira ada laki-laki lain yang telah menggaulinya. Kemudian Zam’ah meninggal, sementara budak perempuan itu hamil lalu melahirkan seorang anak yang menyerupai orang yang diduga telah menggaulinya. Kemudian Saudah (binti Zam’ah) menyampaikan hal itu kepada Rasulullah SAW, maka beliau pun bersabda, ‘Tentang warisan, ia memperolehnya tapi engkau, berhijablah darinya, karena dia bukan saudaramu.”